Pendahuluan
Terminalia catappa L. atau dikenal dengan nama ketapang, banyak digunakan dalam pengobatan tradisional antara lain bagian daun, akar, batang sebagai pengkelat, bijinya sebagai pelancar ASI, kulit kayunya sebagai peluruh air seni, tonik jantung, dan obat sakit kuning, daunnya sebagaipeluruh keringat, obat sakit kepala, dan obat kudis, akarnya sebagai obat pada pendarahan, radang selaput lendir usus, dan disentri. Daun ketapang yang telah gugur digunakan sebagai obat cacing (Heyne 1950).
Daun ketapang terbukti sebagai antibakteri Staphylococcus (Malik 1993) dan aprodisiaka (Ratnasooriya dan Dharmasiri 2000). Dari penelitan sebelumnya diketahui bahwa ekstrak simplisia ketapang memiliki aktivitas antibakteri terhadap Pseudomonas aeruginosa, dan antijamur terhadap
Pytyrosporum ovale (Suganda et al. 2004). Selain itu, ketapang juga memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, Eschericia coli, Pseudomonas vulgaris, dan Salmonella typhi (Pawar dan Pal 2002). Namun demikian, informasi mengenai aktivitas antimikroba dari kulit batang ketapang (Terminalia catappa L.) sejauh ini belum diketahui.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji aktivitas antimikroba ekstrak etanol dari kulit batang ketapang segar dan kulit batang yang dikeringkan. Ekstrak yang menunjukan aktivitas mikroba lebih baik difraksinasi untuk ditentukan aktivitas antimikroba fraksi.
Percobaan
Bahan
Serbuk simplisia dari kulit batang ketapang (Terminalia catappa L.) sebagian dikeringkan untuk
* Penulis korespondensi. E-mail: komar@fa.itb.ac.id
dijadikan serbuk simplisia dan sebagian diekstraksi dalam keadaan segar, etanol 95%, air suling, Nutrient Agar (NA-Difco®), Nutrient Broth (NB- Difco®), Saboraud Dextrose Agar (SDA-Difco®), Saboraud Dextrose Broth (SDB- Difco®), cakram kertas berdiameter 6 mm, kapas berlemak, aluminium foil, antibiotik pembanding (tetrasiklin HCl dan ketokonazol).
Alat
Alat refluks, corong pisah, alat penggiling simplisia, serangkaian alat destilasi, cawan Petri, kawat Öse, vortex, pembakar Bunsen, tabung reaksi, mikropipet, autoklaf, inkubator (TEW IL-80EN dan Ambi-Hi-Low Chamber tipe IL70), spektrofotometer UV-Vis (Spectronic 21D), kuvet.
Mikroba Uji
Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Candida albicans, Aspergillus niger, dan Mycrosporum gypseum yang diperoleh dari PT Biofarma Bandung.
Prosedur
Ekstraksi dan Fraksinasi
Kulit batang Terminalia catappa L, baik simplisia segar maupun yang telah dikeringkan diekstraksi dengan cara refluks menggunakan etanol 95%. Kemudian ekstrak difiltrasi dan filtrat digenapkan volumenya dengan menggunakan etanol 95% hingga diperoleh ekstrak etanol dengan konsentrasi 10% (b/v). Selanjutnya dilakukan pengujian aktivitas antimikroba terhadap ekstrak yang diperoleh.
Fraksinasi dilakukan terhadap ekstrak yang memiliki aktivitas antimikroba paling baik. Ekstrak pekat ditambahkan air panas, lalu disaring dalam keadaan panas. Filtrat yang diperoleh selanjutnya diekstraksi cair-cair berturut-turut dengan n-heksan, kloroform, dan etil asetat sehingga diperoleh fraksi pelarut tersebut dan fraksi air.Fraksi dipekatkan dan ditimbang, kemudian dilarutkan dalam etanol 95% dan diuji aktivitas antimikroba fraksi.
Pengujian Aktivitas Antibakteri
Sebanyak 10 mL NA steril yang telah dicairkan dituangkan ke dalam cawan petri yang sudah berisi 50 μL suspensi bakteri uji. Campuran dihomogenkan dan dibiarkan memadat.
Cakram kertas steril diletakkan di atas media tersebut dan ditetesi sejumlah 10 μL larutan uji. Sebelum inkubasi, dilakukan prainkubasi selama 30 menit pada suhu kamar. Selanjutnya cawan petri yang sudah diinokulasi diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Diameter hambat pertumbuhan yang dihasilkan dihitung dalam millimeter (mm) dan etanol 95% digunakan sebagai pembanding.
Pengujian Aktivitas Antifungi
Sebanyak 10 mL Media SDA steril yang telah dicairkan dituangkan ke dalam cawan petri yang sudah berisi 100 μL suspensi fungi uji, kemudian dihomogenkan dan dibiarkan memadat. Cakram kertas steril diletakkan di atas media tersebut dan ditetesi sejumlah 10 μL larutan uji. Dilakukan prainkubasi selama 30 menit pada suhu kamar, selanjutnya diinkubasi pada suhu 24 ºC selama 1-2 hari untuk Candida albicans, dan selama 3-5 hari untuk Microsporum gypseum dan Aspergillus niger. Diameter hambat pertumbuhan yang dihasilkan dihitung dalam mm dan etanol 95% digunakan sebagai pembanding.
Hasil dan Pembahasan
Dari hasil penelitian terhadap ekstrak etanol simplisia segar (ES) dan ekstrak etanol simplisia kering (EK) kulit batang ketapang, diketahui bahwa EK aktif terhadap S.aureus dan C.albicans. Sedangkan ES hanya aktif terhadap C. albicans. EK memiliki spektrum kerja yang lebih luas karena bisa berfungsi sebagai antibakteri maupun antifungi sedangkan ES hanya berfungsi sebagai antifungi (Tabel 1).
Tabel 1. Hasil Pengujian Aktivitas Antibakteri EK 10% dan ES 10% terhadap beberapa Mikroba
| Diameter Hambatan | |||
|---|---|---|---|
| Jenis Ekstrak (b/v) | EK 10% | ES 10% | |
| Escherechia coli | - | - | |
| Staphylococcus | 19,33 ± | 23,67 ± | |
| aureus | 1,53 | 0,58 | |
| Microsporum | - | - | |
| gypseum | |||
| Aspergillus niger | - | - | |
| Candida albicans | - | 7,67 ± 0,58 | |
| Escherechia coli | - | - | |
Pengujian aktivitas antimikroba dilanjutkan pada EK dengan konsentrasi yang lebih kecil untuk ditentukan nilai KHM ekstrak. Hasil pengujian aktivitas EK ditampilkan pada Tabel 2. Dari pengujian ini diperoleh bahwa KHM ekstrak EK adalah 200 μg/cakram terhadap S. aureus dan 300 μg/cakram terhadap C. albicans.
EK selanjutnya difraksinasi berturut-turut hingga diperoleh fraksi n-heksan, kloroform, etil asetat, dan air dengan masing-masing nilai rendemen yang diperoleh adalah 0,075%; 0,31%; 1,27% dan 32,25%. Berdasarkan hasil ini dapat dikatakan bahwa komponen terbesar dari EK merupakan senyawa polar karena berada dalam fraksi air.
Tabel 2. Hasil Pengujian Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Simplisia Kering
| Jenis Ekstrak | Konsentrasi | Diameter Hambatan | |
|---|---|---|---|
| (b/v) | (μg/cakram) | S.aureus | C.albicans |
| EK 9% | 900 | 17,58 ± 2,01 | 12,98 ± 0,53 |
| EK 8% | 800 | 17,67 ± 1,24 | 12,03 ± 0,43 |
| EK 7% | 700 | 16,75 ± 0,93 | 11,40 ± 1,37 |
| EK 6% | 600 | 15,35 ± 0,75 | 10,72 ± 1,12 |
| EK 5% | 500 | 15,30 ± 0,61 | 9,63 ± 1,48 |
| EK 4% | 400 | 14,40 ± 0,89 | 8,43 ± 0,20 |
| EK 3% | 300 | 11,63 ± 1,24 | 7,13 ± 0,23 |
| EK 2% | 200 | 7,88 ± 0,68 | - |
| EK 1% | 100 | - | - |
| EK 0,1% | 10 | - | - |
Tabel 3. Hasil Pengujian Aktivitas Antimikroba Fraksi 5% (b/v)
| Konsentrasi | Diameter Hambatan (mm) | ||
|---|---|---|---|
| Jenis Fraksi | (μg/cakram) | S.aureus | C.albicans |
| Fraksi n-heksan | 500 | 18,33 ± 3,79 | - |
| Fraksi kloroform | 500 | 9,00 ± 1,00 | - |
| Fraksi etil asetat | 500 | 21,00 ± 1,73 | 10,00±1,00 |
| Fraksi air | 500 | 17,33 ± 2,08 | 8,33 ± 0,58 |
Tabel 4. Hasil Pengujian Antimikroba Fraksi terhadap S.aureus
| Konsentrasi Fraksi | Diameter Hambatan (mm) | |||
|---|---|---|---|---|
| (μg/cakram) | n-heksan | kloroform | Etil asetat | Air |
| 400 | 10,17 ± 2,25 | 8,30 ± 0,26 | 18,32 ± 2,71 | 14,90 ± 2,21 |
| 300 | 10,13 ± 0,72 | 7,53 ± 0,34 | 16,13 ± 2,00 | 13,43 ± 1,36 |
| 200 | 10,07 ± 2,62 | 7,50 ± 0,10 | 15,68 ± 0,32 | 12,28 ± 0,35 |
| 100 | 9,15 ± 2,12 | - | 13,97 ± 2,29 | 10,77 ± 0,93 |
| 50 | 8,38 ± 0,68 | - | 12,48 ± 1,61 | 10,20 ± 1,04 |
| 10 | - | - | - | - |
Pengujian aktivitas antimikroba terhadap fraksi dilakukan dengan konsentrasi fraksi sebesar 5% (b/v). Hasil pengujian aktivitas antimikroba fraksi 5% (b/v) dapat dilihat pada Tabel 3.
Selanjutnya, dilakukan pengujian aktivitas antimikroba masing-masing fraksi dengan konsentrasi yang lebih kecil terhadap S. aureus dan C. albicans. Hasil pengujian ditampilkan pada Tabel 4 dan 5.
Berdasarkan data KHM fraksi diperoleh bahwa fraksi etil asetat merupakan fraksi yang memiliki spektrum kerja yang luas karena aktif terhadap bakteri maupun fungi uji dan paling aktif karena memiliki KHM paling rendah yaitu 50 μg/cakram baik terhadap S. aureus maupun terhadap C. albicans.
Masing-masing fraksi ditentukan kesetaraannya dengan antimikroba pembanding, yaitu tetrasiklin sebagai antibiotik, dan ketokonazol sebagai antijamur.
Tabel 5. Hasil Pengujian Antimikroba Fraksi terhadap C.albicans
| Konsentrasi | Diameter Hambatan (mm) | |
|---|---|---|
| Fraksi (μg/cakram) | Etil asetat | Air |
| 400 | 11,92 ± 1,24 | 9,45 ± 0,75 |
| 300 | 9,20 ± 0,38 | 9,38 ± 0,30 |
| 200 | 8,77 ± 1,57 | 8,32 ± 0,28 |
| 100 | 7,40 ± 0,74 | 7,80 ± 0,57 |
| 50 | 7,37 ± 0,20 | - |
| 10 | - | - |
Fraksi etil asetat dan fraksi air memiliki potensi yang lebih tinggi sebagai antibakteri daripada sebagai antifungi karena memiliki nilai kesetaraan terhadap tetrasiklin HCl yang lebih besar daripada nilai kesetaraan terhadap ketokonazol. Fraksi n-heksan dan fraksi kloroform hanya memiliki potensi sebagai antibakteri. Dari keempat fraksi tersebut maka fraksi etil asetat merupakan fraksi yang memiliki potensi antimikroba yang paling tinggi karena memiliki nilai
kesetaraan yang paling tinggi baik terhadap tetrasiklin HCl (1,27x10-3μg) maupun terhadap ketokonazol (2,1x10-4μg). Berdasarkan data hasil kesetaraan fraksi dengan antibiotik pembanding, semua fraksi yang diuji dalam penelitian ini memiliki aktivitas antimikroba yang lebih lemah dibandingkan dengan pembanding.
Tabel 6. Data Kesetaraan Fraksi dengan Antimikroba Pembanding (dinyatakan dalam setiap 1 μg fraksi)
| Antibiotik Pembanding | |||
|---|---|---|---|
| Jenis Fraksi | Tetrasiklin HCl (μg) | Ketokonazol (μg) | |
| Fraksi n-heksan | 2,2 x 10-4 | - | |
| Fraksi kloroform | 0,6 x 10-4 | - | |
| Fraksi etil asetat | 1,27 x 10-3 | 2,1 x 10-4 | |
| Fraksi air | 4,8 x 10-4 | 1,4 x 10-4 | |
Kesimpulan
Ekstrak etanol simplisia segar (ES) kulit batang ketapang menunjukkan adanya aktivitas terhadap S.aureus. Ekstrak etanol simplisia kering (EK) kulit batang ketapang menunjukkan aktivitas terhadap S. aureus dan C.albicans. KHM EK adalah 200 μg/cakram terhadap S. aureus dan 300 μg/cakram terhadap C. albicans.
Fraksi n-heksan, fraksi kloroform, fraksi etil asetat, dan fraksi air dari EK menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap S. aureus dengan KHM masingmasing sebesar 50, 200, 50, dan 50 μg fraksi/cakram. Fraksi etil asetat dan fraksi air menunjukkan aktivitas antifungi terhadap C. albicans dengan KHM masingmasing 50 dan 100 μg fraksi/cakram.
Fraksi n-heksan, fraksi kloroform, fraksi etil asetat, dan fraksi air dengan berat masing-masing sebesar 1 μg setara dengan masing-masing 2,2x10-4 μg, 0,6x10-4 μg, 1,27x10-3 μg, dan 4,8x10-4 μg tetrasiklin HCl. Fraksi etil asetat dan fraksi air dengan berat masingmasing 1 μg setara dengan masing-masing 2,1x10-4 μg dan 1,4x10-4 μg ketokonazol.
Fraksi etil asetat merupakan fraksi yang paling aktif terhadap mikroba uji karena memiliki nilai KHM rendah dan memiliki nilai kesetaraan terhadap antibiotik pembanding yang tinggi. Semua jenis fraksi yang diuji dalam penelitian ini memiliki aktivitas antimikroba yang lebih lemah dibandingkan dengan antibiotik pembanding.
Daftar Pustaka
Heyne K, 1950, Tumbuhan Berguna Indonesia, Jil. 3, terjemahan Badan Litbang Kehutanan Jakarta, Yayasan Sarana Warna Jaya, Jakarta, 1502.
Malik A, 1993, Pemeriksaan Kandungan Kimia dan Aktivitas Antijamur Daun Terminalia catappa L. dan Daun Pluchea indica Less., Tesis Magister, Program Studi Farmasi, ITB, 7-10.
Pawar SP, Pal SC, 2002, Antimicrobial activity of extracts of Terminalia catappa root, Ind. J. Med. Sci. 56: 276-278.
Ratnasooriya WD, Dharmasiri, 2000, Effects of Terminalia catappa seeds on sexual behavior and fertility of male rats, Asian J. Androl. 2: 213-9.
Suganda AG, Sukandar EY, dan Hardhiko RS, 2004, Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol, Ekstrak Air Daun yang Dipetik dan Daun Gugur Pohon Ketapang (Terminalia catappa L.), Acta Pharm. Ind. 29(4): 129.
