Pendahuluan
Pada awalnya fungsi utama jaringan adiposa diketahui sebagai cadangan energi jangka panjang yang akan dimobilisasi dalam bentuk asam lemakuntuk didistribusikan ke jaringan lain pada saat tubuh kekurangan asupan kalori. Kemudian sejalan dengan perkembangan ilmu dan penemuan para pakar, ditemukan dan dikenali beberapa sinyal yang berasal dari sel lemak. Beberapa molekul yang sebelumnya dikenal sebagai sinyal yang bukan berasal dari jaringan adiposa sekarang diketahui dan ternyata diproduksi oleh sel lemak. Jaringan adiposa sekarang dianggap sebagai organ endokrin yang aktif, selain mengatur masa lemak dan homeostasis nutrisi, juga mengeluarkan sejumlah mediator bioaktif (Rabe et al. 2008).
Jaringan adiposa mengeluarkan sejumlah adipositokin, termasuk resistin, adiponektin, leptin, Tumor Necrosis Factor-α (TNF-α) dan interleukin-6 (IL-6), semuanya telah dianggap memberikan peran aktif pada regulasi metabolisme dan resistensi insulin. Beberapa studi telah menyebutkan adanya hubungan
antara adipositokin dengan tingkat toleransi glukosa, tetapi penentuan mekanisme yang tepat pada manusia masih belum jelas (Luo et al. 2012).
Kadar serum resistin meningkat dengan meningkatnya berat badan. Tingkat serum resistin ditemukan lebih tinggi secara signifikan pada subjek yang obesitas, dan berkorelasi positif dengan Body Mass Index (BMI) (Azuma 2003). Studi epidemiologi juga menunjukan bahwa resistin memainkan peran yang penting pada resistensiinsulin dan diabetes mellitus tipe 2 pada manusia (Park 2013). Resistin ini ditemukan oleh Steppan dan kawan kawan, dan telah disebutkan dapat menyebabkan resistensi insulin serta memainkan peranan dalam hubungan antara obesitas dan resistensi insulin pada tikus (Luo et al. 2012). Studi pada hewan menunjukkan bahwakadarresistin yang tinggi dapat menyebabkan peradangan, angiogenesis, dan proliferasi sel otot polos, serta semua proses yang relevan dengan patogenesis asma (Sood dan Shore 2013).
Resistin merupakan salah satu adipositokin yang dihasilkan di jaringan adiposa yang memiliki
*Penulis korespondensi, e-mail: nurpalahrianti@yahoo.co.id
mekanisme bertolak belakang dengan leptin. Kalau pada leptin akan meningkatkan sensitivitas insulin dan menekan nafsu makan, sedangkan resistin cenderung dapat menyebabkan obesitas dan meningkatkan resistensi insulin. Resistin dapat mengurangi kerja insulin dalam menjalankan mekanisme kerja glukosa dalam tubuh dengan cara menghambat pengambilan glukosa yang dirangsang oleh insulin dan membloking diferensiasi adiposit, akibatnya akan mengurangi sensitivitas insulin yang akhirnya akan memunculkan efek resistensi (Marfianti 2006).
Obesitas berhubungan dengan pola makan, terutama bila mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi kalori, tinggi garam dan rendah serat. Selain itu terdapat faktor lain yang mempengaruhi seperti faktor demografi, faktor sosiokultur, faktor biologi dan perilaku. Sleep Online Clinic menyebutkan bahwa kurang tidur merupakan salah satu penyebab terjadinya obesitas. Terdapat faktor yang mendasari kaitan kurang tidur bisa membuat bobot tubuh melonjak. Diduga saat kurang tidur bisa mengganggu hormon ghrelin dan leptin. Keduanya adalah hormon yang mengatur rasa lapar dan selera makan. Pada saat kurang tidur, tubuh akan bereaksi seperti kondisi kurang makan, kadar leptin akan turun dan kadar ghrelin melonjak. Sehingga, akan terasa lapar dan membangkitkan nafsu makan serta akan membuat berat badan melonjak.
Kurang tidur kronis dapat mengurangi kapasitas orang dewasa muda untuk melakukan fungsi metabolisme dasar, seperti pengolahan dan penyimpanan karbohidrat atau mengatur sekresi hormon. Pengurangan masa tidur dari standar delapan menjadi empat jam tidur setiap malam menghasilkan perubahan mencolok dalam toleransi glukosa dan perubahan fungsi endokrin yang merupakan tahap awal dari diabetes (Wicaksono dan Rehatta 2008).
Menurut Wicaksono dan Rehatta (2008) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa efek kurang tidur adalah manifestasi dari tipe 2 diabetes mellitus. Kurang tidur dapat menyebabkan penurunan sensitivitas insulin. Kemudian, dapat membuat resistensi insulin dan kadar glukosa darah meningkat. Diabetes mellitus adalah suatu kondisi kronis yang ditandai dengan gangguan metabolisme glukosa mengakibatkan hiperglikemia karena baik defisiensi sekresi insulin, resistensi insulin atau keduanya (Wicaksono dan Rehatta 2008).
Berdasarkan beberapa hal diatas, ada beberapa pendapat tentang kurang tidur dapat menjadi salah satu resiko terjadinya obesitas dan diabetes, serta adanya kaitan tentang resistin yang dapat menyebabkan resistensi insulin serta memainkan peranan dalam hubungan antara obesitas dan resistensi insulin yang mengarah pada timbulnya sindroma metabolik, maka peneliti bermaksud untuk menentukan kadar resistin serum danbeberapa parameter klinik yang terkait dengan sindroma metabolik serta menentukan hubungannyapada kondisi normal (tidur cukup) dan kurang tidur.
Percobaan
Sampel, Bahan dan Alat
Bahan uji berupa serum yang diambil dari subjek dengan kriteria kurang tidur sebanyak 32 sampel dan kriteria tidur cukup sebanyak 20 sampel sebagai kontrol, dimana kriteria subjek kurang tidur merupakan sampel yang memiliki skor lebih dari 6 dan kriteria tidur cukup memiliki skor kurang atau sama dengan 5 yang diukur menggunakan Pitssburgh Sleep Quality Index (PSQI). Bahan pereaksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kit reagen resistin, kit reagen glukosa dan kit reagen kolesterol HDL. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: peralatan pengambilan darah seperti kapas alkohol, tourniquet dan vacuttainer, sentrifuga, tabung serum, mikropipet, tip kuning, tip biru, Auto Analyzer Modular P-800, Microplate Reader, Washer, Wells (sumur-sumur) dan peralatan gelas lain yang digunakan di laboratorium.
Pengambilan Sampel
Sampel darah sebanyak 4 mL dimasukkan ke dalam tabung vacuttainer tanpa antikoagulan. Darah yang telah diambil disimpan pada suhu kamar selama 30-45 menit sampai darah membeku lalu disentrifuga pada kecepatan 3000 rpm selama 15 menit. Serum yang terbentuk dimasukkan ke dalam 3 tabung serum, masing-masing sebanyak 0,5 mL untuk pengukuran resistin, glukosa, kolesterol HDL. Di simpan pada suhu -20°C (masing-masing diberi identitas: nama, jenis kelamin, tanggal dan jenis sampel serum).
Penentuan Konsentrasi Resistin
Sebelum dilakukan pemeriksaan, sampel serum diencerkan 5 kali dengan cairan pengencer dengan cara sebanyak 60 µL sampel ditambah dengan 240 µL kalibrator pengencer. Ke dalam microplate dimasukkan 100 µL pengencer, kemudian tambahkan 100 µL standar, kontrol atau sampel pada sumur, tutup dengan adhesive strip yang disediakan dan diinkubasi selama 2 jam. Larutan di setiap sumur dikeluarkan dan cuci, proses pencucian diulang sebanyak 3 kali untuk total pencucian empat kali. Pencucian dilakukan dengan dapar pencuci menggunakan autowasher, setelah pencucian terakhir sisa dapar pencuci dihilangkan dengan cara dihisap atau didekantasi. Sebanyak 200 µL konjugat resistin ditambahkan pada setiap sumur, tutup dengan adhesive strip yang disediakan dan inkubasi selama 2 jam pada suhu kamar. Proses pencucian diulangi seperti sebelumnya lalu tambahkan 200 µL larutan substrat pada setiap sumur, diinkubasi selama 30 menit pada suhu kamar dan lindungi dari cahaya. Setelah 30 menit, 50 µL larutan penghenti ditambahkan pada setiap sumur. Warna di dalam sumur akan berubah dari biru menjadi kuning. Jika warna di dalam sumur menjadi hijau atau perubahan warna tidak muncul seragam, plate diketuk secara lembut untuk memastikan pencampuran menyeluruh. Absorban dari setiap sumur ditentukan dalam waktu 30 menit dengan menggunakan mikroplate reader pada panjang gelombang 450 nm.
Penentuan Konsentrasi Glukosa dan Kolesterol HDL
Penentuan konsentrasi glukosa dan kolesterol HDL dilakukan dengan alat Auto Analyzer Modular P 800. Prosedur pengerjaan sesuai dengan manual petunjuk pennggunaan alat.
Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini diawali dengan penyebaran formulir data identitas dan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) pada calon subjek penelitian setelah mengisiinformed consent, yang hasilnya didapat dua kelompok subjek yaitu kelompok kualitas tidur normal (cukup) dan kelompok kurang tidur. Variabel yang diperiksa pada awal penelitian adalah berat badan, tinggi badan dan tekanan darah, kemudian diukur konsentrasi resistin, glukosa darah dan kolesterol HDL. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan terhadap 52 subyek yang terbagi dalam dua kelompok, 20 subyek dengan kualitas tidur cukup (normal) dengan skor PSQI ≤ 5 dan 32 subyek dengan kualitas tidur kurang dengan nilai skor PSQI > 5. Karakteristik subyek penelitian dapat dilihat pada Tabel 1 dan 2.
Hasil pengukuran parameter tekanan darah, konsentrasi resistin, glukosa dan kolesterol HDL diperoleh data seperti tertera pada Tabel 3 dan Tabel 4.
Tabel 1. Karakteristik Subyek Penelitian Kualitas Tidur Normal (n=20)
| Rentang | Rerata±SD | Uji K-S | |
| Usia (Tahun) | 18 - 58 | 29,85±12,06 | 0,189 |
| Jenis Kelamin:Laki-laki | 7 | - | - |
| Perempuan | 13 | - | - |
| Tinggi Badan (cm) | 144 - 168 | 159,55±6,71 | 0,696 |
| Berat Badan (kg) | 38 - 71 | 55,35±10,27 | 0,821 |
| Body Mass Index | 18,89 – 26,35 | 21,62±2,82 | 0,897 |
Tabel 2. Karakteristik Subyek Penelitian Kualitas Tidur Kurang (n=32)
| Rentang | Rerata±SD | Uji K-S | |
| Usia (Tahun) | 20 - 54 | 29,91±9,01 | 0,436 |
| Jenis Kelamin: Laki-laki | 21 | ||
| Perempuan | 11 | ||
| Tinggi Badan (cm) | 150 - 173 | 161,69±7,56 | 0,758 |
| Berat Badan (kg) | 38 - 85 | 60,06±13,16 | 0,760 |
| Body Mass Index | 15,82 – 31,22 | 22,84±4,08 | 0,659 |
Tabel 3. Karakteristik Hasil Pemeriksaan Subyek Tidur Normal (n=20)
| Rentang | Rerata ± SD | Nilai Rujukan | Uji K-S(p) | |
|---|---|---|---|---|
| TDS (mmHg) | 98 – 130 | 113,5±10,08 | < 140mmHg | 0,855 |
| TDD (mmHg) | 60 – 93 | 75,35±9,47 | < 90mmHg | 0,883 |
| Resistin (ng/mL) | 0,85 – 21,76 | 9,05±4,61 | 6,39 – 26,4ng/mL | 0,313 |
| Glukosa (mg/dL) | 70 – 127 | 92,35±15,02 | < 140 mg/dL | 0,299 |
| Kolesterol HDL (mg/dL) | 34 – 81 | 51,75±12,74 | > 40 mg/dL | 0,451 |
Keterangan: Distribusi data normal p>0,05; TDS = Tekanan Darah Sistolik; TDD = Tekanan Darah Diastolik; SD = Standar Deviasi.
Tabel 4. Karakteristik Hasil Pemeriksaan Subyek Kurang Tidur (n=32)
| Rentang | Rerata ± SD | Nilai Rujukan | Uji K-S(p) | |
|---|---|---|---|---|
| TDS (mmHg) | 100 - 148 | 116,06±10,66 | < 140 mmHg | 0,733 |
| TDD (mmHg) | 60 - 102 | 78,56±10,15 | < mmHg | 0,784 |
| Resistin (ng/dL) | 3,65 – 57,29 | 18,34±14,92 | 6,39 – 26,4ng/mL | 0,054 |
| Glukosa (mg/dL) | 61 - 124 | 92,66±15,88 | < 140 mg/dL | 0,233 |
| Kolesterol HDL (mg/dL) | 30 - 86 | 46,38±11,07 | > 40 mg/dL | 0,315 |
Ket: Distribusi data normal p>0,05; TDS = Tekanan Darah Sistolik; TDD = Tekanan Darah Diastolik, SD = Standar Deviasi
Tabel 5. Korelasi antara Konsentrasi Resistin Serum dengan Beberapa Parameter Klinik pada Subyek Tidur Normal
| Konsentrasi Resistin Serum | ||
|---|---|---|
| Variabel | R | P |
| Body Mass Index | 0,121 | 0,612 |
| TD Sistolik (mmHg) | 0,064 | 0,789 |
| TD Diastolik (mmHg) | 0,125 | 0,600 |
| Konsentrasi serum glukosa (mg/dL) | -0,367 | 0,111 |
| Konsentrasi serum kolesterol HDL (mg/dL) | -0,110 | 0,645 |
Keterangan:p< 0,05 = mempunyai korelasi yang signifikan, R = tingkat keeratan
Tabel 6. Korelasi antara Konsentrasi Resistin Serum dengan Beberapa Parameter Klinik pada Subyek Kurang Tidur
| Konsentrasi resistin serum | |||
|---|---|---|---|
| Variabel | R | P | |
| Body Mass Index | 0,029 | 0,877 | |
| TD Sistolik (mmHg) | -0,050 | 0,784 | |
| TD Diastolik (mmHg) | -0,071 | 0,700 | |
| Konsentrasi serum glukosa (mg/dL) | 0,180 | 0,323 | |
| Konsentrasi serum kolesterol HDL (mg/dL) | 0,399 | 0,024 | |
Keterangan: p< 0,05 = mempunyai korelasi yang signifikan, R = tingkat keeratan
Tabel 7. Hasil Uji Beda pada Subyek Penelitian
| Kurang tidur (n = 32) | Normal (n = 20) | p value | |
|---|---|---|---|
| Resistin (ng/dL) | 18,34±14,92 | 9,05±4,61 | 0,010 |
| Body Mass Index | 22,84±4,08 | 21,62±2,82 | 0,247 |
| TDS (mmHg) | 116,06±10,66 | 113,50±10,08 | 0,394 |
| TDD (mmHg) | 78,56±10,15 | 75,35±9,47 | 0,260 |
| Glukosa (mg/dL) | 92,66±15,88 | 92,35±15,02 | 0,945 |
| Kolesterol HDL (mg/dL) | 46,38±11,07 | 51,75±12,74 | 0,114 |
Keterangan: Terdapat perbedaan p<0,05; TDS = Tekanan Darah Sistolik; TDD = Tekanan Darah Diastolik.
Korelasi antara Resistin dengan Beberapa Parameter Klinik pada Subyek Tidur Normal.
Analisis korelasi pada data hasil pemeriksaan pada subyek dengan tidur normal sebagai kontrol
ditampilkan pada Tabel 5. Hasil ini menunjukan bahwa terdapat korelasi positif diantara konsentrasi resistin dengan parameter BMI, Tekanan darah Sistolik dan Tekanan Darah Diastolik, serta terdapat korelasi negatif dengan parameter kadar glukosa dan kadar kolesterol HDL. Namun korelasi tersebut tidak signifikan ditunjukan dengan nilai P untuk semua parameter nilainya diatas 0,05.
Analisis korelasi pada data hasil pemeriksaan pada subyek dengan tidur normal sebagai kontrol ditampilkan pada Tabel 5. Hasil ini menunjukan bahwa terdapat korelasi positif diantara konsentrasi resistin dengan parameter BMI, Tekanan darah Sistolik dan Tekanan Darah Diastolik, serta terdapat korelasi negative dengan parameter kadar glukosa dan kadar kolesterol HDL. Namun korelasi tersebut tidak signifikan ditunjukan dengan nilai P untuk semua parameter nilainya diatas 0,05.
Korelasi antara Resistin dengan Beberapa Parameter Klinik pada Subyek Kurang Tidur
Hasil pemeriksaan pada subyek kurang tidur dapat dilihat pada Tabel 6. Hasil penelitian menunjukan terdapat korelasi positif antara konsentrasi resistin dengan BMI, kadar glukosa dan kadar kolesterol HDL serta berkorelasi negatif dengan tekanan darah baik sistolik maupun diastolic. Dari kelima parameter hanya kadar kolesterol HDL yang korelasinya signifikan dengan kadar resistin serum dengan nilai p = 0,024.
Perbedaan Hasil Pemeriksaan Resistin dan Beberapa Parameter Klinik pada Subyek Normal dan Kurang Tidur
Dari hasil uji statistik menggunakan independent t-test seperti tertera pada Tabel 7, dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang signifikan untuk kadar resistin pada subyek dengan nilai p = 0,010, dimana kadar resistin pada subyek kurang tidur nilai rataratanya sebesar 18,34 lebih tinggi dari subyek normal yang didapat nilai sebesar 9,05. Sedangkan pada parameter lainnya yaitu BMI, TDS, TDD, Glukosa dan Kolesterol HDL jika dilihat dari rata-rata terdapat perbedaan pada subyek kurang tidur pada parameter BMI, TDS, TDD dan Glukosa rata-ratanya lebih tinggi dibanding subyek yang tidur normal, dan Kolesterol HDL nilai rata-rata lebih tinggi dibanding yang tidur normal, namun secara statistik perbedaan tersebut tidak signifikan karena nilainya p lebih besar dari 0,05.
Resistin merupakan hormon yang dihasilkan dari jaringan adiposa, dan terkait dengan obesitas, resistensi insulin juga aterosklerosis yang menjadi salah satu faktor resiko terjadinya penyakit kardiovaskuler. Pada kaitannya dengan resistensi insulin yang dapat mengarah kepada timbulnya diabetes tipe 2, resistin berperan dalam menghambatjalur signal insulin dalam jaringan dengan cara menghambat posforilasi dari jalur AMPK
hati. Resistin juga diduga bekerja sebagai antagonis insulin dan memodulasi salah satu langkah pada jalur signal insulin. Percobaan yang dilakukan sebelumnya pada mencit menunjukan bahwa resistin mengurangi kerja insulin dalam menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan perifer sehingga mengurangi sensitivitas jaringan perifer terhadap insulin terutama pada sel otot lurik, hepatosit dan adiposit.
Sedangkan peran resistin dalam kaitannya dengan aterosklerosis dan penyakit kardiovaskuler terjadi karena resistin merupakan salah satu mediator yang dapat mempromosikan terjadinya disfungsi endotel, proliferasi sel otot pembuluh darah, radang arteri dan pembentukan sel busa. Resistin juga dapat meningkatkan stress oksidatif pada arteri koroner dan aorta manusia, selain itu resistin meningkatkan ekspresi molekul adhesi antar molekul dan faktor proinflamasi sehingga dapat mempromosikan adhesi monosit pada vaskular sel endotel.
Terkait dengan aktivitas kurang tidur, beberapa penelitian telah dilakukan dan hasilnya menunjukan bahwa kurang tidur dapat menjadi salah satu faktor resiko terjadinya obesitas. Hal ini terkait dengan hormon leptin dan ghrelin yang mengatur nafsu makan, penurunan kadar leptin dan peningkatan kadar ghrelin yang terjadi pada orang dengan gangguan tidur dapat meningkatkan nafsu makan dan rasa lapar sehingga memicu terjadinya overweight dan obesitas. Hal tersebut selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh William (2009) bahwa pada pekerja shift yang bekerja di industri memiliki BMI yang lebih tinggi dibanding pekerja siang biasa dan penelitian Chaput et al. (2006) yang menyebutkan bahwa durasi tidur ada kaitannya dengan obesitas dan peningkatan BMI.
Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan rata-rata kadar beberapa parameter klinik yang diperiksa antara subyek tidur cukup dengan subyek kurang tidur, namun yang signifikan secara statistik hanya konsentrasi resistin serum, hal ini menunjukan bahwa ada kaitan antara efek kurang tidur dengan adipokin khususnya resistin. Peningkatan sekresi resistin terjadi karena pada subyek kurang tidur terdapat penurunan tingkat leptin yang menyebabkan meningkatnya nafsu makan sehingga menyebabkan meningkatnya berat badan, selaras dengan penelitian Degawa-Yamauchi et al. (2003) yang menyebutkan bahwa terdapat korelasi positif antara resistin dengan BMI. Dengan meningkatnya nilai BMI tersebut jumlah jaringan adiposa semakin bertambah sehingga banyaknya adipokin yang diseksresikan semakin tinggi, salah satunya adalah resistin.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini diperoleh profil data yang terdistribusi normal untuk hasil pemeriksaan pada subyek menggunakan Kolmogorov-Smirnov yaitu Body Mass Index, tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, glukosa, kolesterol HDL dan resistin dengan p> 0,05. Uji korelasi dengan statistik korelasi Pearson menunjukkan tidak adanya korelasi antara konsentrasi serum resistin dengan beberapa parameter klinik yang diperiksa. Terdapat perbedaan hasil pemeriksaan antara subyek tidur normal dengan kurang tidur pada semua parameter, namun yang berbeda signifikan secara statistik hanya konsentrasi resistin serum (p=0,010). Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan rata-rata hasil pemeriksaan beberapa parameter pada subyek tidur normal dengan kurang tidur, terutama pada konsetrasi resistin namun tidak terdapat korelasi yang signifikan diantara resistin dengan beberapa parameter klinik yang diperiksa.
Daftar Pustaka
Chaput JP, Brunet M, Tremblay A, 2006, Relationship Between Short Sleeping Hours and Chilhood Overweight/Obesity, Int. J. Obes. (Lond.) 30(7): 1080-1085.
Degawa-Yamauchi M, Bovenkerk JE, Juliar BE, Watson W, Jones R, Zhu Q, Considine RV, 2003, Serum Resistin (FIZZ3) Protein is Increased in Obese Humans, J. Clin. Endocrinol. Metab. 88(11): 5452- 5455.
Luo R, Li X, Jiang R, Gao X, Lü Z, Hua W, 2012, Serum Concentration of Resistin and Adiponectin and Their Relationship to Insulin Resistance in Subject with Impaired Glucose Tolerance, The Journal of International Medical Research 40: 621.
Marfianti E, 2006, Perbedaan Kadar Resistin Pada Obes dengan Resistensi Insulin dan Obes Tanpa Resistensi Insulin, Jurnal Kesehatan Kedokteran Indonesia, JKKI – Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia 1(1).
Rabe K, Lehrke M, Parhofer KG, Broedl UC, 2008, Adipokines and Insulin Resistance, Mol. Med. 14 (11- 12): 741-751.
Sood A, Shore SA, 2013, Adiponectin, Leptin, and Resistin in Asthma: Basic Mechanisms through Population Studies, Hindawi Publishing Corporation Journal of Allergy, Article ID 785835, 1-15.
Wicaksono H, Rehatta NM, 2008, Efek Kebiasaan
Kurang Tidur Terhadap Manifestasi Diabetes Mellitus Tipe 2. Fakultas Kedoteran UNAIR.
Williams N, 2009, Obesity and Employment dalam Obesity and Diabetes, second edition. ISBN: 978-0- 479-51981-3, 285-287.
