Pendahuluan
Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang paling umum terjadi. Prevalensi hipertensi di Indonesia menurut Riskesdas 2013 adalah 26,5%. Prevalensi hipertensi meningkat dengan bertambahnya usia. Menurut Riskesdas 2008, hipertensi merupakan penyebab kematian utama ketiga di Indonesia untuk semua usia (6,8%), setelah stroke (15,4%) dan tuberkulosis (7,5%). Menurut WHO, prevalensi hipertensi pada orang dewasa > 25 tahun adalah 32,5 % pada pria dan 29,3 % pada wanita (WHO 2012).
Terapi non-farmakologi merupakan komponen penting dalam pengobatan pasien hipertensi. Perubahan pola hidup tersebut dapat memudahkan pengaturan tekanan darah (Brunton et al. 2011). Terapi farmakologi diberikan pada pasien yang tidak berhasil diterapi dengan terapi non-farmakologi atau pasien hipertensi tahap 1 dan 2 serta pasien yang memiliki faktor resiko kardiovaskular tambahan, terutama yang memiliki target tekanan darah kurang dari 130/80 mmHg atau 120/80 mmHg yang belum dapat mencapai target tersebut. Terapi farmakologi melibatkan obat antihipertensi yang bekerja dengan cara menurunkan resistensi perifer, cardiac output, atau kedua-duanya.
Penggunaan obat herbal untuk menangani berbagai penyakit semakin meningkat selama dekade terakhir. Alasan utama terjadinya fenomena tersebut adalah obat herbal merupakan alternatif pengobatan yang lebih murah dengan efek samping yang lebih sedikit. Adanya kandungan berbagai komponen aktif yang diketahui memiliki efek terapeutik tertentu di dalam obat herbal menjadi alasan lain penggunaan obat herbal dalam mengobati penyakit (Disi et al. 2015).
Tanaman yang digunakan secara tradisional untuk menurunkan tekanan darah sangat banyak. Akan tetapi, belum semua tanaman terbukti efek antihipertensinya secara ilmiah. Di sisi lain, beberapa tanaman sudah terbukti efek antihipertensi atau hipotensinya pada manusia diantaranya umbi bawang putih (Allium sativum L.), Crataegus spp., kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.), ginseng (Panax
quinquefolius L.), putik bunga safran/kuma-kuma (Crocus sativus L.), dan biji jintan hitam (Nigella sativa L.) (Disi et al. 2015). Selain itu, umbi lapis kucai (Allium schoenoprasum L.) (Amalia 2008), herba seledri (Apium graveolens L.), dan daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus (Blume) Miq.) pun telah melewati tahap uji klinis.
Pembuktian efek antihipertensi dari suatu tanaman dapat dilakukan melalui pengujian praklinis baik secara in vivo maupun in vitro. Pengujian secara in vivo dilakukan di dalam tubuh makhluk hidup (hewan percobaan) sedangkan pengujian in vitro dilakukan di laboratorium menggunakan tabung reaksi atau alat gelas lainnya (vitro = kaca), pada kondisi percobaan terkontrol (menyerupai kondisi fisiologis) (WebMD 2008, Cohen 2003). Dari pengujian tersebut, dapat diketahui efek dan mekanisme kerja tanaman yang diuji.
Binahong merupakan tanaman yang mulai banyak diteliti. Berbagai macam efek binahong telah diteliti, baik secara in vitro, in vivo, maupun ex vivo. Salah satu efek binahong yang telah diteliti adalah efek antihipertensi. Ekstrak etanol daun binahong telah terbukti dapat menurunkan kecepatan denyut jantung pada model hewan hipertensi yang diinduksi adrenalin (Garmana et al. 2016). Ekstrak, fraksi etil asetat, dan fraksi air dapat menurunkan tekanan darah pada model hewan hipertensi yang diinduksi dengan deksametason (Garmana 2017). Pada penelitian ini, akan dikaji mekanisme kerja lebih lanjut dari efek vasodilatasi ekstrak etanol daun binahong dan fraksinya.
Percobaan
Pembuatan ekstrak dan fraksi
Lima kg simplisia diekstraksi dengan etanol 96 % menggunakan alat reluks selama 2 jam kemudian disaring. Residu diekstraksi kembali dua kali dengan etanol 96 %. Filtrat yang diperoleh disatukan kemudian dipekatkan dengan rotavapor. Kemudian pemekatan ekstrak dilajutkan di atas tangas air bersuhu 50°C sampai diperoleh ekstrak kental. Fraksinasi dilakukan dengan metode ekstraksi cair-cair dengan pelarut n-heksana dan etil asetat. Sebanyak 100 gram
ekstrak dimasukkan dalam 500 mL aquadest mendidih lalu diaduk dan disaring dalam keadaan panas. Filtrat yang diperoleh didinginkan lalu dimasukkan ke dalam corong pisah, ditambahkan n-heksana dengan perbandingan volume 1:1, dan dikocok perlahan. Fraksi n-heksana dipisahkan, sedangkan lapisan air diekstraksi kembali dengan menggunakan n-heksana sampai 3 kali. Lapisan air kemudian diekstraksi lebih lanjut dengan menambahkan etil asetat dengan perbandingan volume 1:1, dilakukan sebanyak 3 kali dan diperoleh fraksi etil asetat. Lapisan air yang tersisa merupakan fraksi air. Fraksi n-heksana dan fraksi etil asetat dipekatkan dengan rotavapor, sedangkan fraksi air dikeringkan dengan alat freeze dryer.
Pengujian Efek Vasodilatasi secara Ex Vivo
Kelinci albino lokal jantan dengan bobot 2-3 kg digunakan dalam percobaan ini. Kelinci dimasukkan dalam chamber lalu dialiri gas karbon dioksida 100% selama 2-3 menit. Setelah dilakukan konfirmasi kematian, kelinci dibedah, lalu diisolasi aortanya. Aorta dibersihkan dari jaringan lain yang menempel lalu dimasukkan dalam dapar Kreb's dan dipotong-potong dengan lebar ± 3 mm.
Untuk menguji efek perintangan reseptor alfa pada pembuluh darah, cincin aorta ditempatkan dalam organ bath yang terhubung pada alat kimograf lalu diinduksi dengan norepinefrin agar terjadi kontraksi. Setelah itu, zat uji diteteskan pada organ bath dan diamati terjadinya relaksasi. Zat yang diuji adalah ekstrak etanol daun binahong (1,57 mg/mL), fraksi air (0,64 mg/mL), fraksi etil asetat (0,03 mg/mL), dan fraksi nheksana (0,004 mg/mL). Terazosin (1,41 μg/mL) digunakan sebagai pembanding (Sukandar et al. 2016).
Apabila terjadi relaksasi akibat pemberian zat uji, dilanjutkan dengan pengujian keterlibatan NO dalam vasodilatasi tersebut dengan cara menambahkan metilen biru (100 μM) sebelum pemberian norepinefrin pada cincin aorta (Hassan et al. 2013). Untuk menguji adanya efek perintangan kanal kalsium, digunakan kalium klorida (KCl) 80 mM sebagai induktor kontraksi pada cincin aorta (Woode et al. 2013, Iwalokun et al. 2011). Ekstrak, fraksi, atau pembanding (nifedipin 7,05 μg/ml) ditambahkan setelah terjadi kontraksi.
Parameter yang diamati adalah waktu relaksasi dan % relaksasi. Waktu relaksasi merupakan waktu yang diperlukan untuk mencapai relaksasi 100%, dihitung sejak penambahan ekstrak atau fraksi atau obat pembanding. Nilai persen relaksasi dihitung menggunakan persamaan berikut ini:
% relaksasi = \[\frac{delta\ amplitudo}{amplitudo} \times 100\%\]
Pengujian Efek Inhibisi Angiotensin Converting Enzyme (ACE) secara In Vitro
Pengujian secara in vitro dilakukan dengan mengukur absorbansi yang dihasilkan dari reaksi zat uji dengan substrat Hipuril-L-histidil-L-leusin (HHL) dan ACE lalu ditentukan aktivitas inhibisi enzimnya. Sejumlah 50 µl zat uji ditambahkan dengan 150 µL larutan HHL 8 mM dalam dapar Na-borat (pH 8,3) lalu ditambahkan 50 µL larutan ACE (25 mU/mL) dan diinkubasi pada 37ºC selama 1 jam. Reaksi enzimatis dihentikan dengan penambahan 250 µL HCl 1M. Hasil reaksi berupa asam hipurat diekstraksi dengan 1,7 mL etil asetat. Sebanyak 1 mL lapisan etil asetat diambil lalu diuapkan pada tangas air. Hasilnya dilarutkan dengan 3 mL aquadeion lalu diukur absorbansinya dengan spektrofotometri uv-sinar tampak pada panjang gelombang 228 nm (Muthia et al. 2017, Mao and Li 2015, Jamhari et al. 2013, Prasanna et al. 2012). Persen inhibisi dihitung melalui persamaan:
Aktivitas inhibisi ACE (%) = \[100 - [100 \text{ x}]\]
(C - D)/(A - B)] dengan A = hasil absorbansi dengan ACE, tanpa inhibitor ACE (komposisi: ACE+substrat); B = hasil absorbansi tanpa ACE dan tanpa inhibitor ACE (komposisi: substrat); C = hasil absorbansi dengan ACE dan inhibitor ACE (komposisi: ACE+substrat+sampel); dan D = hasil absorbansi dengan inhibitor ACE, namun tanpa substrat (komposisi: sampel+ACE).
Hasil dan Pembahasan
Pengujian Efek Vasodilatasi secara Ex Vivo
Pada penelitian sebelumnya, diketahui bahwa ekstrak etanol daun binahong dan ketiga fraksinya diketahui memiliki efek antihipertensi pada model hewan hipertensi yang diinduksi deksametason (Garmana 2017). Induksi dengan deksametason dapat menyebabkan gangguan fungsional pada sel otot polos pembuluh darah sehingga meningkatkan resistensi perifer pada pembuluh darah (Ong et al. 2009). Secara umum, obat-obat yang menyebabkan vasodilatasi dapat mengantagonis hipertensi akibat pemberian deksametason. Efek vasodilatasi dapat dicapai melalui beberapa cara, diantaranya melalui peningkatan kadar nitrit oksida, inhibisi reseptor α1 pada pembuluh darah, inhibisi enzim ACE atau reseptor AT1 pada pembuluh darah, atau inhibisi saluran kalsium. Efek penurunan resistensi perifer pun dapat dihubungkan dengan efek antioksidan yang dimiliki oleh ektrak etanol daun binahong. Sifat antioksidan ekstrak etanol daun binahong dapat meredam superoksida yang terbentuk saat terjadi stres oksidatif pada pembuluh darah.
Untuk mengkaji mekanisme kerja lebih lanjut dari efek vasodilatasi ekstrak etanol dan fraksi daun binahong, dilakukan pengujian secara ex vivo pada aorta kelinci dengan menggunakan induktor yang berbeda-beda yaitu norepinefrin, norepinefrin dengan pretreatment metilen biru, dan kalium klorida. Induktor tersebut akan menyebabkan kontraksi pada cincin aorta kelinci.
Kontraksi otot polos pada pembuluh darah dapat terjadi melalui beberapa signaling pathway. Proses utama pada kontraksi otot polos adalah peningkatan kalsium intraselular yang kemudian akan berikatan dengan kalmodulin sehingga MLC (myosin light chain) kinase teraktivasi dan memfosforilasi myosin rantai pendek sehingga dapat berikatan dengan aktin dan terjadi kontaksi otot polos pada pembuluh darah (Tortora and Derrickson 2012, Webb 2003). Peningkatan konsentrasi kalsium intraselular dapat dicapai melalui pelepasan kalsium intraselular dari tempat penyimpanan (misalnya retikulum sarkoplasma dan mitokondria), masuknya ion kalsium melalui voltage-operated Ca2+ channels, atau masuknya kalsium melalui receptor-operated Ca2+ channels (Hassan et al. 2013).
Norepinefrin menyebabkan vasokonstriksi terutama melalui aktivasi kanal kalsium yang diperantarai reseptor (receptor-operated Ca2+ channels). Norepinefrin dapat berikatan dengan reseptor α1 (large arteries) atau reseptor α2 (small arteries and arterioles) (Loscalzo et al. 2015) di pembuluh darah. Reseptor α1 terhubung dengan protein Gq yang mengaktifkan kontraksi otot melalui jalur tranduksi sinyal IP3 (inositol 1,4,5-trisfosfat) yang dihasilkan dari aktivitas fosfolipase C. IP3 berikatan dengan reseptor pada retikulum sarkoplasma dan menyebabkan dilepaskannya ion kalsium ke dalam sitoplasma (Webb 2003).
Hasil percobaan menunjukkan bahwa baik ekstrak maupun fraksi daun binahong dapat merelaksasi cincin aorta yang berkontraksi akibat pemberian norepinefrin. Efek vasodilatasi kuat dimiliki oleh ekstrak atau fraksi bila terjadi relaksasi otot >50% (Victório et al. 2009, Badyal et al. 2003). Efek relaksasi otot pada ekstrak lebih kuat daripada fraksi. Hal ini terlihat dari nilai persen relaksasi ekstrak yang lebih besar daripada fraksi (Tabel 1).
Tabel 1. Pengaruh pemberian ekstrak etanol atau fraksi daun binahong pada cincin aorta yang diinduksi dengan norepinefrin.
| Perlakuan | % | Waktu |
|---|---|---|
| relaksasi | (menit) | |
| Norepinefrin 2,9 x 10-3 mM | 0,0 ± 0,0 | 52,9 ± |
| 3,0 | ||
| Terazosin 1,41 μg/mL | 100 ± 0,0 | 15,3 ± |
| 1,1* | ||
| Ekstrak etanol 1,57 mg/mL | 60,9 ± 1,4 | 24,2 ± |
| 0,7* | ||
| Fraksi n-heksana 0,004 | 39,2 ± 3,8 | 39,3 ± |
| mg/mL | 1,9* | |
| Fraksi etil asetat 0,03 mg/mL | 48,2 ± 3,8 | 32,1 ± |
| 6,3* | ||
| Fraksi air 0,64 mg/mL | 52,5 ± 4,7 | 33,6 ± |
| 4,9* |
* = berbeda bermakna terhadap perlakuan norepinefrin, n=3
Berdasarkan parameter waktu, dapat dilihat bahwa baik ekstrak maupun fraksi dapat mengantagonis kontraksi akibat norepinefrin sehingga waktu yang diperlukan untuk kembali ke kondisi awal (relaksasi 100%) lebih pendek. Hasil pengujian ini sejalan dengan penelitian Sukandar (2016). Hasil pengujian secara statistik menunjukkan bahwa nilai persen relaksasi aorta yang diberi terazosin, ekstrak atau fraksi berbeda bermakna terhadap aorta yang diberi norepinefrin saja. Efek relaksasi ini dapat terjadi karena inhibisi pada reseptor adrenergik, inhibisi masuknya ion kalsium melalui voltage-operated Ca2+ channels, atau akibat pengaruh vasodilator endogen seperti senyawa NO.
Selanjutnya, dilakukan pengujian mekanisme vasodilatasi lainnya yaitu keterlibatan senyawa NO atau EDRF (Endothelium-derived relaxing factor) (Loscalzo 2013) pada relaksasi cincin aorta. Untuk mengetahui hal tersebut, digunakan metilen biru yang berperan sebagai inhibitor enzim guanilat siklase. Pada kondisi normal, keberadaan NO akan menstimulasi enzim guanilat siklase untuk menghasilkan cGMP yang selanjutnya akan mengaktifkan PKG yang menghambat influks kalsium melalui voltageoperated Ca2+ channels atau pengeluaran kalsium yang diperantarai IP3 sehingga terjadi relaksasi otot (Zhao et al. 2015).
Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol maupun fraksi daun binahong menunjukkan vasodilatasi yang lemah. Berdasarkan parameter waktu, dapat dilihat bahwa pemberian ekstrak etanol maupun fraksi tidak mempercepat kembalinya cincin aorta ke kondisi awal (Tabel 2).
Tabel 2. Pengaruh pemberian ekstrak etanol atau fraksi daun binahong pada cincin aorta yang diinduksi dengan norepinefrin dengan pretreatment metilen biru.
| Perlakuan | % relaksasi | Waktu (menit) |
|---|---|---|
| Norepinefrin – metilen biru | 0,0 ± 0,0 | 23,8 ± 1,4 |
| Ekstrak etanol 1,57 mg/mL | 21,4 ± 4,1 | 26,9 ± 4,0 |
| Fraksi n-heksana 0,004 mg/mL | 30,7 ± 4,5 | 25,1 ± 2,1 |
| Fraksi etil asetat 0,03 mg/mL | 21,6 ± 3,1 | 33,4 ± 4,8 |
| Fraksi air 0,64 mg/mL | 23,8 ± 5,1 | 34,9 ± 4,0 |
Hal ini menunjukkan adanya pengaruh NO pada relaksasi akibat pemberian ekstrak atau fraksi. Pengujian in vivo pada tikus menunjukkan bahwa pemberian ekstrak dan fraksi air dapat meningkatkan kadar NO pada serum tikus (Garmana 2017). Pada fraksi etil asetat, pengujian in vivo tidak menunjukkan peningkatan kadar NO yang signifikan. Hal ini mungkin disebabkan oleh terbentuknya senyawa yang tidak aktif akibat metabolisme di dalam tubuh tikus sehingga peningkatan kadar NO akibat pemberian fraksi etil asetat tidak signifikan.
Untuk mengkaji mekanisme lebih lanjut dari relaksasi aorta tersebut, dilakukan pengujian dengan menggunakan KCl sebagai induktor kontraksi cincin aorta. Pemberian KCl dapat mengaktifkan kanal kalsium yang bergantung pada potensial (voltage-operated Ca2+ channels) sehingga menyebabkan influks ion kalsium ke dalam sel otot (Xue et al. 2011). Hasil penelitian menunjukkan hanya nifedipin yang mempunyai efek vasodilator kuat, sedangkan ekstrak dan fraksi daun binahong memberikan efek lebih lemah (Tabel 3).
Tabel 3. Pengaruh pemberian ekstrak etanol atau fraksi daun binahong pada cincin aorta yang diinduksi dengan KCl.
| Perlakuan | % relaksasi | Waktu (menit) |
|---|---|---|
| KCl 80 mM | 0,0 ± 0,0 | 11,9 ± 0,8 |
| Nifedipin 7,05 μg/mL | 59,0 ± 6,1 | 5,8 ± 0,6* |
| Ekstrak etanol 1,57 mg/mL | 42,2 ± 6,7 | 10,1 ± 0,6 |
| Fraksi n-heksana 0,004 mg/mL | 20,4 ± 3,8 | 13,0 ± 1,4 |
| Fraksi etil asetat 0,03 mg/mL | 49,1 ± 2,4 | 10,5 ± 0,8 |
| Fraksi air 0,64 mg/mL | 35,8 ± 0,9 | 14,1 ± 2,0 |
* = berbeda bermakna terhadap perlakuan KCl, n=3
Berdasarkan parameter waktu, dapat dilihat bahwa hanya nifedipin yang mempercepat kembalinya cincin aorta ke kondisi awal secara signifikan. Pada EEDB dan fraksi etil asetat daun binahong, waktu relaksasi menurun namun tidak signifikan, sedangkan pada fraksi n-heksana dan fraksi air daun binahong waktu relaksasi
meningkat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol dan ketiga fraksi daun binahong, tidak bekerja dengan menghambat kanal kalsium. Berdasarkan parameter persen relaksasi, dapat dilihat bahwa EEDB dan fraksi etil asetat daun binahong memiliki persen relaksasi berturut-turut sebesar 42,2 dan 49,1 %, yang menunjukkan bahwa EEDB dan fraksi etil asetat memiliki efek penghambatan voltage-operated Ca2+ channels yang lemah. Efek tersebut dapat disebabkan oleh kandungan senyawa apigenin di dalam ekstrak etanol daun binahong atau fraksi etil asetat. Apigenin dapat menurunkan waktu relaksasi pada aorta kelinci yang diinduksi oleh KCl (Sukandar et al. 2016, Ko et al. 1991).
Hasil penelitian Lin (1997) menunjukkan bahwa EEDB dapat menurunkan kontraksi otot gastrik yang diinduksi oleh serotonin, prostaglandin, dan bradikinin tetapi tidak dapat menurunkan kontraksi otot gastrik yang diinduksi oleh barium klorida, kalium klorida, dan karbakol. Hasil penelitian Sukandar (2016) juga menunjukkan bahwa EEDB tidak memiliki efek penghambatan kanal kalsium. Pada penelitian tersebut, parameter yang digunakan untuk menilai efek hanya waktu relaksasi; tidak ditentukan nilai persen relaksasi.
Pengujian Efek Inhibisi ACE secara In Vitro
Salah satu mekanisme yang berperan dalam mengatasi hipertensi pada tikus yang diinduksi deksametason adalah inhibisi ACE. Pemberian deksametason pada tikus dapat menyebabkan peningkatan PRA (plasma renin activity) dan pembentukan angiotensinogen. Renin akan mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin I yang selanjutnya diubah menjadi angiotensin II oleh ACE. Dengan demikian, pemberian suatu senyawa ACEI dapat mengatasi hipertensi yang diinduksi deksametason (Safaeian et al. 2015, Olatunji and Soladoye 2008).
Konsentrasi sampel yang dapat memberikan hambatan terhadap aktivitas enzim sebesar 50% disebut inhibition concentration 50 atau disingkat IC50. Nilai ini dapat digunakan untuk memperkirakan potensi inhibisi suatu senyawa. Hasil pengujian aktivitas inhibisi ACE dapat dilihat pada Tabel 4. Nilai IC50 EEDB, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi air berturut-turut adalah 20,76; 198,13; 115,77; dan 88,41 μg/mL sedangkan IC50 kaptopril adalah 1,63 μg/mL. Dengan demikian, potensi inhibisi terhadap ACE kaptopril > EEDB > fraksi air > fraksi etil asetat > fraksi n-heksana.
Tabel 4. Persen inhibisi ACE ekstrak etanol dan fraksi daun binahong.
| Zat uji | Konsentrasi (μg/mL) | % Inhibisi ACE | IC50 (μg/mL) |
|---|---|---|---|
| Kaptopril | 1 | 46,86 ± 2,27 | |
| 5 | 59,45 ± 1,39 | ||
| 10 | 62,65 ± 2,67 | 1,63 | |
| 50 | 79,61 ± 3,93 | ||
| 100 | 88,16 ± 2,96 | ||
| 6,25 | 26,72 ± 1,53 | ||
| Ekstrak | 12,5 | 36,45 ± 1,78 | |
| etanol daun | 25 | 56,91 ± 3,82 | 20,76 |
| binahong | 50 | 66,58 ± 2,56 | |
| 100 | 72,01 ± 4,67 | ||
| 25 | 7,67 ± 3,22 | 198,13 | |
| Fraksi n heksana | 50 | 20,01 ± 8,27 | |
| 100 | 26,40 ± 2,00 | ||
| 200 | 50,33 ± 7,10 | ||
| Fraksi etil asetat | 6,25 | 3,99 ± 1,28 | |
| 12,5 | 10,26 ± 2,06 | ||
| 25 | 37,40 ± 4,52 | 115,77 | |
| 50 | 39,10 ± 2,56 | ||
| 100 | 48,94 ± 3,39 | ||
| 200 | 53,35 ± 3,89 | ||
| Fraksi air | 6,25 | 30,11 ± 4,85 | |
| 12,5 | 33,33 ± 1,90 | ||
| 25 | 37,91 ± 8,41 | 88,41 | |
| 50 | 43,85 ± 2,56 | ||
| 100 | 51,82 ± 8,08 |
Efek ekstrak tanaman dalam menginhibisi ACE diperkirakan akibat keberadaan senyawa flavonoid yang dapat membentuk kompleks khelat pada sisi aktif ACE (Guerrero et al. 2012, Loizzo et al. 2007). Williams et al. (1997) menunjukkan bahwa komponen yang memiliki aktivitas inhibisi ACE paling aktif terdapat pada ekstrak atau fraksi polar dan sangat polar (Barbosa-Filho et al. 2006, Williams et al. 1997). Keberadaan beberapa gugus fungsional yang dapat berperan sebagai donor atau akseptor ikatan hidrogen, seperti gugus hidroksil dan karboksil, nampaknya meningkatkan potensi inhibisi ACE. Di sisi lain, keberadaan gugus metoksi akan menurunkan kemampuan inhibisinya (Shukor et al. 2013).
Hasil penelitian Guerrero et al. (2012) menunjukkan kekuatan relatif dari beberapa flavonoid yang memiliki efek inhibisi ACE. Nilai IC50 apigenin K dan rhoifolin (apigenin 7-Oglikosida) berturut-turut 196 dan 183 μM. Hasil penelitian Shimada (2014) menunjukkan bahwa asam ursolat memiliki IC50 sebesar 3,05 mM. Nilai IC50 ini lebih besar dibandingkan apigenin (2,93 mM) dan asam rosmarinat (1,67 mM).
Berdasarkan aktivitas inhibisi ACE, suatu senyawa dinyatakan mempunyai aktivitas lemah, sedang, dan kuat jika memiliki persen inhibisi berturutturut 30-50%, >50-80%, dan >80%. Senyawa yang memiliki persen inhibisi <30% pada konsentrasi 100 μg/ml dinyatakan tidak aktif (Martins et al. 2013). Dengan demikian, ekstrak etanol daun binahong merupakan inhibitor ACE sedang, fraksi etil asetat dan fraksi air merupakan inhibitor lemah sedangkan fraksi n-heksana tidak memiliki aktivitas inhibisi ACE. Walaupun aktivitas inhibisi ekstrak dan fraksi daun binahong tidak memiliki potensi seperti obat antihipertensi, tetapi Guerrero et al. (2012) menyatakan bahwa sampel uji yang memiliki aktivitas inhibisi ACE sedang dapat dipertimbangkan sebagai makanan fungsional (naturally functional foods) atau suplemen makanan.
Kesimpulan
Ekstrak etanol daun binahong memiliki efek vasodilatasi melalui jalur NO, inhibisi kanal kalsium (lemah), dan inhibisi ACE (sedang). Fraksi n-heksana tidak menunjukkan efek inhibisi kanal kalsium dan inhibisi ACE, tetapi menunjukkan efek vasodilatasi melalui jalur NO. Fraksi etil asetat menunjukkan efek vasodilatasi melalui jalur NO, inhibisi kanal kalsium (lemah), serta inhibisi ACE (lemah). Fraksi air menunjukkan efek vasodilatasi melalui jalur NO serta inhibisi ACE (lemah), tetapi tidak menunjukkan efek inhibisi kanal kalsium.
Daftar Pustaka
Amalia L, 2008, Kajian antihipertensi ekstrak etanol umbi lapis kucai (Allium schoenoprasum L.), Disertasi Doktor, Sekolah Farmasi ITB, Bandung.
Badyal DK, Dadhich AP, Lata H, 2003, Animal models of hypertension and effect of drugs, Indian J Pharmacol 35(6): 349-362.
Barbosa-Filho JM, Martins VKM, Rabelo LA, Moura MD, Silva MS, Cunha EVL, Souza MFV, Almeida RN, Medeiros IA, 2006, Natural products inhibitors of the angiotensin converting enzyme (ACE). A review between 1980 – 2000, Rev bras farmacogn 16(3): 421-446.
Brunton LL, Chabner BA, Knollmann BC (eds), 2011, Goodman & Gilman's The pharmacological basis of therapeutics, 12th edn, The McGraw-Hill Companies, Inc., New York.
Cohen BJ, 2003, Medical terminology: An illustrated guide, Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia.
Disi SSA, Anwar MA, Eid AH, 2015, Antihypertensive herbs and their mechanisms of action: Part I, Front Pharmacol 6: 323.
Garmana AN, 2017, Kajian mekanisme kerja binahong (Anredera cordifolia (Ten.) v. Steenis) sebagai antihipertensi, Disertasi Doktor, Sekolah Farmasi ITB, Bandung.
Garmana AN, Sukandar EY, Fidrianny I, 2016, Preliminary study of blood pressure lowering effect of Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) on Wistar rats, Int J Pharmacog Phytochem Res 8(2): 300-304.
Guerrero L, Castillo J, Quiñones M, Garcia-Vallvé S, Arola L, Pujadas G, Muguerza B, 2012, Inhibition of angiotensin-converting enzyme activity by flavonoids: Structure-activity relationship studies, PLoS One 7(11): 1-11.
Hassan HM, Eldin IMT, Ahmed EM, Mohamed AEH, Sirag N, 2013, Effects of methanolic extract of yohimbe bark (Pausinystalia yohimbe) on isolated rabbit aortic strip and rat uterus, Health 5(6):1016-1020.
Iwalokun BA, Hodonu SA, Nwoke S, Ojo O, Agomo PU, 2011, Evaluation of the possible mechanisms of antihypertensive activity of Loranthus micranthus: An African mistletoe, Biochem Res Int: 1-9.
Jamhari, Yusiati LM, Suryanto E, Cahyanto MN, Erwanto Y, Muguruma M, 2013, Comparative study on angiotensin converting enzyme inhibitory activity of hydrolysate of meat protein of Indonesian local livestocks, J Indonesian Trop Anim Agric 38(1): 27-33.
Ko FN, Huang TF, Teng CM, 1991, Vasodilatory action mechanisms of apigenin isolated from Apium graveolens in rat thoracic aorta, Biochim Biophys Acta 1115(1): 69-74.
Lin WC, Wu SC, Kuo SC, 1997, Inhibitory effects of ethanolic extracts of Boussingaultia gracilis on the spasmogen-induced contractions of the rat isolated gastric fundus, J Ethnopharmacol 56: 89- 93.
Loizzo MR, Said A, Tundis R, Rashed K, Statti GA, Hufner A, Menichini F, 2007, Inhibition of angiotensin converting enzyme (ACE) by flavonoids isolated from Ailanthus excelsa (Roxb) (Simaroubaceae), Phytother Res 21(1): 32-36.
Loscalzo J, 2013, The identification of nitric oxide as endothelium-derived relaxing factor, Circ Res 113(2): 100–103.
Loscalzo J, Libby P, Epstein JA, 2015, Basic biology of the cardiovascular system, In: Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Fauci AS, Longo DL, Loscalzo J (eds), Harrison's principles of internal medicine, McGraw-Hill Education, New York, 265e-4.
Mao S, Li C, 2015, Hypotensive and angiotensinconverting enzyme inhibitory activities of Eisenia fetida extract in spontaneously hypertensive rats, J Evid Based Complementary Altern Med: 1-7.
Martins MLL, Pacheco HP, Perini IG, Lenz D, Andrade TU, Endringer DC, 2013, In vivo hypotensive effect and in vitro inhibitory activity of some Cyperaceae species, Braz J Pharm Sci 49(4): 803-809.
Muthia R, Suganda AG, Sukandar EY, 2017, Angiotensin-I converting enzyme (ACE) inhibitory activity of several Indonesian medicinal plants, Res J Pharm Biol Chem Sci 8(1S): 192-199.
Olatunji LA, Soladoye AO, 2008, Oral contraceptive-induced high blood pressure is prevented by renin-angiotensin suppression in female rats but not by sympathetic nervous system blockade, Indian J Exp Biol 46: 749-754.
Ong SL, Zhang Y, Whitworth JA, 2009, Mechanisms of dexamethasone-induced hypertension, Curr Hypertens Rev 5: 61-74.
Prasanna R, Nandhini B, Praveesh BV, Angayarkanni J, Palaniswamy M, 2012, Novel angiotensin converting enzyme inhibitor from Aspergillus sp. by solid state fermentation, Int J Pharm Pharm Sci 4(4): 371-377.
Safaeian L, Ghasemi-Dehkordi N, Javanmard SH, Namvar H, 2015, Antihypertensive and antioxidant effects of a hydroalcoholic extract obtained from aerial parts of Otostegia persica (Burm.) Boiss., Res Pharm Sci 10(3):192–199.
Shimada A, Inagaki M, 2014, Angiotensin Iconverting enzyme (ACE) inhibitory activity of ursolic acid isolated from Thymus vulgaris, L., Food Sci Technol Res 20(3): 711-714.
Shukor N, Van Camp J, Gonzales GB, Staljanssens D, Struijs K, Zotti MJ, Raes K, Smagghe G, 2013, Angiotensin-converting enzyme inhibitory effects by plant phenolic compounds: A study of structure activity relationships, J Agric Food Chem 61(48): 11832–11839.
Sukandar EY, Ridwan A, Sukmawan YP, 2016, Vasodilatation effect of ethanolic extract of Anredera cordifolia, Sonchus arvensis L., and ursolic acid on isolated rabbit aortic and frog heart, Int J Pharm Pharm Sci 8(2): 145-149.
Tortora GJ, Derrickson B, 2012, Principles of anatomy and physiology, 13th edn, John Wiley & Sons, Inc., New Jersey.
Victório CP, Kuster RM, Moura RS, Lage CL, 2009, Vasodilator activity of extracts of field Alpinia purpurata (Vieill) K. Schum and A. zerumbet
(Pers.) Burtt et Smith cultured in vitro, Braz J Pharm Sci 45(3): 507-514.
Webb RC, 2003, Smooth muscle contraction and relaxation, Adv Physiol Educ 27(4): 201-206.
WebMD, 2008, Webster's New World™ Medical Dictionary, Wiley Publishing, Inc., Hoboken.
WHO, 2012, World health statistics 2012, WHO Press, Geneva.
Williams LAD, Gossell-Williams M, Barton EN, Fleischhacker R, 1997, Angiotensin converting enzyme inhibiting and anti-dipsogenic activities of Euphorbia hirta extracts, Phytother Res 11: 401- 402.
Woode E, Amissah F, Agyapong G, Ainooson GK, 2013, Myorelaxant effect of an alcoholic extract of Sphenocentrum jollyanum roots in rabbit aortic strip and corpus cavernosum, Pharmacologia 4(5): 371-382.
Xue YL, Shi HX, Murad F, Bian K, 2011, Vasodilatory effects of cinnamaldehyde and its mechanism of action in the rat aorta, Vasc Health Risk Manag 7:273-280.
Zhao Y, Vanhoutte PM, Leung SW, 2015, Vascular nitric oxide: Beyond eNOS, J Pharmacol Sci 129 (2): 83-94.
