1. Home
  2. Archives
  3. Vol 42 (2017) Issue 2
  4. Articles

KARAKTERISASI DAN PEMURNIAN ZEOLIT ALAM LAMPUNG SEBAGAI KANDIDAT ANTIDOTUM KERACUNAN TIMBAL

Abstract

Indonesia memiliki kelimpahan zeolit yang berpotensi dapat dikembangkan sebagai zeolit yang berderajat farmasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan zeolit olahan dengan karakteristik yang cocok sebagai bahan baku farmasi. Zeolit alam diproses dengan cara pencucian menggunakan masing-masing larutan HCl, aquabidest, dan EDTA lalu diikuti dengan pemanasan pada 350 °C. Sebelum dan sesudah pengolahan sampel zeolit dikarakterisasi menggunakan berbagai metode instrumental. Selanjutnya, zeolit olahan diuji kemampuannya untuk menjerap parasetamol dan timbal. Hasil analisis menunjukkan bahwa komposisi sampel zeolit > 91% berjenis klinoptilolit dengan kandungan utama unsur Si, Al dan K. Setelah pencucian dengan larutan HCl 1 M, EDTA 0,1 M dan aquabidest, kadar As dalam masing-masing sampel zeolit 4,12 ± 0,75 ppm, < 0,1 ppm dan 11,8 ± 0,56 ppm dan kadar Pb untuk seluruh sampel < 1 ppm, sedangkan Cd dari semua sampel < 1 ppm. Tidak ada perubahan struktur dalam sampel zeolit yang teramati setelah proses pencucian dan pemanasan. Zeolit yang dicuci dengan larutan EDTA mampu menjerap Pb dalam cairan lambung buatan tanpa pepsin secara efektif dengan penurunan kadar hingga 89% namun tidak mampu menjerap parasetamol secara efektif. Disimpulkan bahwa hasil proses zeolit menunjukkan karakteristik yang cocok sebagai kandidat bahan baku farmasi. Zeolit yang diberi perlakuan dengan EDTA mampu menjerap Pb secara efektif sehingga berpeluang digunakan sebagai antidot lokal dalam kasus keracunan Pb akut.Kata kunci: zeolit, klinoptilolit, logam berat. CHARACTERIZATION AND PURIFICATION OF NATURAL LAMPUNG ZEOLITE AS A CANDIDATE OF ANTIDOTE OF LEAD INTOXICATIONABSTRACTIndonesia has the abundance potential of zeolites having possibility to be developed as pharmaceutical grade zeolites. This research aimed to obtain processed zeolite showing suitable characteristics as pharmaceutical ingredient. Natural zeolite was processed by means of washing using dilute HCl, aquabidest and EDTA solutions, respectively and subsequently followed by heating at 350 oC. Prior and after processing, the zeolite samples were characterized using various instrumental methods. Furthermore, the processed zeolite was tested for its ability to adsorb paracetamol and lead. The analysis results confirmed that the composition of zeolite samples were > 91% of clinoptilolite mainly composed of Si, Al and K. After washing with 1 M HCl, 0.1 M EDTA and aquabidest, the level of As in each of zeolite samples were 4.12 ± 0.75 ppm, < 0.1 ppm and 11.8 ± 0.56 ppm and those of Pb were all < 1 ppm, while those of Cd from all samples were < 1 ppm, respectively. No structural changes in zeolite samples were observed after washing and heating treatment. EDTA treated zeolite was able to adsorb Pb in artificial gastric fluid without pepsin effectively up to 89% reduction but failed to adsorb paracetamol effectively. It was concluded that processed natural zeolite was suitable as a pharmaceutical ingredient. EDTA-treated zeolite was able to adsorb Pb effectively and hence could be possibly applied as local antidote in the case of acute Pb intoxication.Keywords: zeolite, clinoptilolite, heavy metals.

Keywords

Pendahuluan

Zeolit alam mulai dikenal dan dipelajari di Indonesia sejak awal dekade '80-an. Ekspor zeolit alam pun meningkat secara bertahap seiring dengan berkembangnya pasar zeolit internasional dan globalisasi sistem informasi. Indonesia termasuk negara yang memiliki potensi zeolit alam cukup besar, dan mengundang perhatian pengusaha asing untuk investasi di bisnis zeolit (Kusdarto 2008). Zeolit alam termasuk ke dalam sumber daya alam yang tidak terbarukan dari hasil pertambangan. Adanya peraturan menteri perdagangan RI no. 4 tahun 2014 tentang larangan ekspor sumber daya alam tidak terbarukan yang belum diolah secara maksimal telah memberikan peluang untuk mengembangkan sepenuhnya potensi zeolit hingga mencapai daya guna dan nilai jual yang maksimum. Di balik semua itu, Indonesia sebenarnya memiliki potensi kelimpahan zeolit yang dapat dijadikan bahan baku obat dalam industri farmasi. Namun, adanya logam-logam berat yang terkandung dalam zeolit alam dapat menjadi salah satu masalah keamanannya jika belum dioptimalkan untuk penggunaan dalam bidang farmasi (Magdalena 2005) .

Zeolit yang berjenis klinoptilolit sudah dikomersialkan di sektor kosmetik oleh beberapa perusahaan yang menggunakan mineral terutama dalam pembuatan scrub, juga pada produksi deodoran dengan aksi antimikroba (Cerri et al. 2004). Selain itu zeolit hasil pemurnian telah dikembangkan sebagai antasida (Fuentes et al. 2006), sebagai terapi chelating agent (Karampahtsis 2012, Beltcheva et al. 2015) dan telah diketahui dapat memiliki kapasitas penjerapan dengan histamin dengan mekanisme sebagai antagonis kimia (Selvam et al. 2014).

Zeolit klinoptilolit memiliki rumus umum (M+x, D2+y) [Al(x+2y).Sin (x+2y)O2n]. mH2O, dimana M merupakan kation yang monovalen dan D adalah kation divalen. Terdapat atom silikon yang bermuatan 4+ dalam tetrahedra SiO4 dan alumunium yang bermuatan 3+, kekurangan muatan dalam tetrahedra tersebut digantikan oleh kation, sehingga hal inilah yang mendasari sifat tukar kation (Estiaty 2008). Selain sifat sifat

penukar kation, zeolit pun memiliki sifat sebagai penjaring molekuler, dan adsorben. Morfologi kristalnya terdiri atas rongga-rongga yang berhubungan ke segala arah, hingga memiliki luas permukaan yang besar. Mineral zeolit mempunyai luas permukaan beberapa ratus meter persegi untuk setiap gram berat (Fatimah et al. 2010).

Penggunaan zeolit alam sebagai produk kesehatan membutuhkan analisis rinci pada komposisi kimia, kemurnian, dan sifat tukar kation karena mineral-mineral yang terkandung pengotor yang tidak diinginkan dan zeolit alam dapat memiliki jenis yang berbeda-beda. Bioaksesibilitas dari senyawa berbahaya yang dilepaskan oleh zeolit berjenis klinoptilolit dapat dievaluasi menggunakan uji simulasi transit dalam saluran pencernaan (Cerri et al. 2015).

Zeolit klinoptilolit dinilai aman dengan tidak adanya hewan percobaan yang mati pada penilaian toksisitas akut LD50 dengan dosis 20000 mg/kg (MSDS Zeolite product, 2014). Berdasarkan IARC monograph (1997), zeolit klinoptilolit dan mordenit termasuk ke dalam senyawa yang tidak berbahaya.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan Zeolit Alam Lampung hasil pemurnian yang menunjukkan karakteristik yang cocok sebagai bahan baku farmasi dan bermanfaat dalam bidang farmasi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah nilai guna zeolit alam Indonesia dan pembendaharaan keilmuan mengenai zeolit alam dalam bidang farmasi.

Percobaan

Bahan

Zeolit Alam Lampung, Larutan HCl 1 M, EDTA 0,1 M, aquabidest, alkohol, Parasetamol, Pb (NO3)2, simulasi cairan asam lambung buatan tanpa pepsin .

Alat

Labu erlenmeyer, mechanical shaker, pengaduk plastik, magnetic stirrer, neraca analitik, oven, furnace, cawan platina, cawan porselen, mortar dan pestle, kertas saring whatmann no. 41 dan 42, screening-325 mesh, kuas, pH meter, desikator, spatula, krustang, gelas teflon, batang pengaduk, labu ukur, klem, pipet ukur, pipet tetes, mikropipet, lemari asam, hot plate. dan peralatan gelas yang biasa digunakan di Laboratorium.

Prosedur

Pemurnian Zeolit Alam Lampung

Zeolit yang telah lolos pengayak -325 mesh dibagi menjadi tiga bagian masing-masing 10 g, Proses awal yang dilakukan pertama-tama yakni, pada 10 g zeolit alam ditambahkan 100 mL HCl 1 M, dicuci dengan aquabidest sampai bebas asam (pH filtrat = pH aquabidest). , kemudian pada 10 g zeolit alam lainnya ditambahkan 100 mL aquabidest, , dan sebanyak 10 g zeolit alam bagian lainnya ditambahkan dalam 100 mL larutan EDTA 0,1 M, diaduk dengan magnetic stirrer selama dua jam pada suhu 60 °C. Setelah terjadi reaksi kesetimbangan heterogen antara zeolite dengan masing-masing larutan pencuci, selanjutnya sampel difiltrasi dan dikalsinasi pada suhu 350 °C selama dua jam di dalam furnace.

Analisis Instrumen

Zeolit alam asal Lampung sebelum dan sesudah melalui proses pemurnian dikarakterisasi dengan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS), X ray diffraction (XRD), Scanning Electron Microscope (SEM), dan Thermogravimetric Analysis (TGA) untuk melihat perubahan kandungan fasa mineralnya dan kadar logam berat yang terkandung dalam zeolit alam teraktivasi.

Penentuan Kadar Logam Berat dalam Uji Simulasi

Setelah 100 mL larutan simulasi cairan lambung tanpa pepsin mencapai suhu 37 °C dalam magnetic stirrer , sebanyak dua ppm Pb nitrat (Pb(NO3)2) didispersikan ke dalam larutan. Kemudian ditambahkan masing-masing 0,653 g sampel zeolit dan karbon aktif ke tiap labu. Zeolit maupun karbon aktif akan menjerap Pb berdasarkan waktu kontak. Pengamatan kadar dilakukan dengan mengambil cuplikan (10 ml) dari campuran larutan (Pb(NO3)2) dengan zeolit maupun karbon aktif pada interval waktu yang berbeda (menit ke-0, -15, -30, -60, -120 ) dan disaring menggunakan kertas saring Whatman. Filtrat diambil untuk pengukuran kadar Pb yang tidak terjerap dengan adsorben (zeolit dan karbon aktif) menggunakan AAS.

Penentuan Kadar Parasetamol dalam Uji Simulasi

Sebanyak 50 mg parasetamol didispersikan dalam labu erlenmeyer yang mengandung 100 mL larutan simulasi cairan lambung tanpa pepsin setelah mencapai suhu 37 °C dalam magnetic stirrer. Setelah parasetamol terlarut selama 10 menit, ditambahkan masing-masing 0,653 g sampel zeolit dan karbon aktif ke tiap labu. Zeolit maupun karbon aktif akan menjerap parasetamol berdasarkan waktu kontak. Pengamatan kadar dilakukan dengan mengambil cuplikan (10 ml) dari campuran reaksi pada interval waktu yang berbeda (menit ke-0, -15, -30, -60, -120 ) dan disaring menggunakan kertas saring Whatman, Filtrat diambil untuk pengukuran kadar parasetamol yang tidak terjerap dengan adsorben (zeolit dan karbon aktif) menggunakan spektrofotometer UV/Vis.

Hasil dan Pembahasan

Sebelum dilakukan pengolahan untuk mendapatkan zeolit yang memenuhi persyaratan sebagai bahan baku farmasi, karakteristik awal zeolit alam perlu diketahui untuk memastikan apakah pengolahan dapat meningkatkan kualitas zeolit alam tersebut tanpa mengubah strukturnya. Setiap zeolit akan memiliki bentuk kristal yang berbeda sesuai dengan jenisnya, jika mordenit maka foto SEM akan memperlihatkan bentuk seperti jarum. Sedangkan klinoptilolit berbentuk kubus atau balok (Ashutosh 2014), apabila zeolit terlihat berserat maka dapat dimungkinkan adanya fase mineral non zeolit yang tergabung dalam sampel. Pada Gambar 1, hasil analisis SEM zeolit alam asal Lampung, dari hasil perbesaraan 5000x dan 20000x terlihat bahwa zeolit alam asal Lampung tidak berbentuk jarum, sebagaimana yang ditunjukkan dalam literatur (Milić et al. 2014), sampel tersebut berjenis Cli-Heu (Clinoptilolite-Heulandite), jenis zeolite tersebut tidak bisa dibedakan hanya dari foto SEM tetapi perlu dilakukan perhitungan rasio Si/Al (Milić et al. 2014). Hal tersebut dapat dikonfirmasi juga dengan dilengkapi dari data difraktogram pada analisis XRD.

Gambar 1. Hasil analisis SEM zeolit alam asal Lampung.

Tabel 1 menampilkan hasil analisis komponen utama zeolit alam asal Lampung. Komposisi mineral zeolit di dominasi oleh silikon dan alumunium, sebagai rangka utama pembentuk mineral zeolit. Telah diketahui mineral zeolit alam tersusun dari struktur dasar yang berbentuk tetrahedra (SiO4)4-. Ion Si4+ dalam struktur tersebut dapat tergantikan oleh ion Al3+ dan membentuk struktur tetrahedra (AlO4)5-. Untuk menjaga kenetralan, muatan negatif dinetralkan oleh kation yang bebas bergerak di dalam struktur dan dapat dipertukarkan (Estiaty 2008). Kation yang paling dominan dilihat dari hasil analisis adalah kalium.

Tabel 1. Komponen Utama Zeolit Alam Lampung

KomponenKomposisi (%)Metode
SiO263,8842,1563Gravimetri
Al2O311,4070,2938Volumetri
Fe2O30,5730,0212AAS
MnO0,0040,0002AAS
MgO0,0630,0018AAS
CaO0,0310,0010AAS
K2O3,7960,0361AAS
Na2O1,7890,0720AAS
P2O50,4160,0129Spektrofotometri
TiO25,6940,2574Spektrofotometri
LOI*15,6970,2371Gravimetri

Ket: * Loss of ignition (Susut pemijaran) pada 1000 oC

Berdasarkan data dalam Tabel 1 di atas, dapat dihitung bahwa sampel zeolit memiliki rasio Si/Al 5,6 yang bersesuaian dengan jenis klinoptilolit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa zeolit alam

Lampung berjenis klinoptilolit yang kaya akan kalium. Selain kalium, dari hasil analisis kimia didapatkan pula unsur natrium, kalsium dan magnesium. Unsur logam tersebut selain berasal dari zeolit, juga dapat terkandung dalam fasa mineral non zeolit yang terdapat dalam struktur zeolit dan dapat dipertukarkan.

Hasil analisis TGA pada sampel zeolit alam Lampung sebelum dan sesudah perlakuan, yang ditunjukkan dalam Gambar 2 yang memperlihatkan bahwa zeolit alam Lampung sebelum perlakuan (z-raw) memiliki nilai susut pemijaran 15% pada suhu 1000 oC lost of ignition (LOI) hal ini berkesesuaian dengan hasil analisis pada Tabel 1, sedangkan zeolit yang telah diberi perlakuan dengan larutan EDTA dan HCl memiliki nilai LOI sebesar 9% karena sudah mengalami proses kalsinasi pada suhu 350 oC sebelumnya. Kecenderungan pola susut bobot ketiga sampel zeolit tersebut memiliki kesamaan yang menunjukkan bahwa sifat fisikokimia ketiga sampel tersebut tidak mengalami perubahan setelah pencucian. Zeolit alam asal Lampung yang memiliki susut pemijaran sebesar 15% terbilang cukup tinggi bila dibandingkan dengan jenis zeolite lainnya, yang menandakan bahwa zeolit tersebut memiliki potensi daya jerap sebagai adsorben (Estiaty et al. 2002). Tingginya nilai LOI menandakan semakin tinggi daya serap dari zeolit yang menandakan bahwa zeolit tersebut berkualitas baik atau memiliki kemurniannya tinggi (Estiaty et al. 2002).

12

Gambar 2. Hasil analisis TGA Zeolit Lampung.

Untuk mengetahui komposisi mineral dari zeolit, dilakukan karakterisasi XRD. Hasil karakterisasi XRD menyatakan bahwa Zeolit Alam Lampung

Kartasasmita et al.

berjenis klinoptilolit. Hal ini sesuai dengan hasil analisis SEM, dan analisis unsur utama dengan AAS, selain itu zeolit memiliki sedikit kandungan clay montmorilonit dan sedikit kuarsa yang umum terdapat pada bahan alam geologis. Sebagaimana yang tercantum dalam Tabel 3 kuarsa adalah senyawa SiO2 yang merupakan mineral oksida yang jumlahnya dibatasi untuk zeolit pada penggunaaan farmasi negara Kuba (Fuentes et al. 2006). Berbagai perlakuan pemanasan telah mengurangi komposisi kuarsa, sehingga dapat

meningkatkan kualitas zeolit.

Pada Tabel 2 memperlihatkan zeolit alam yang belum dimurnikan (z-raw) dibandingkan dengan zeolit hasil pemurnian dengan berbagai perlakuan menunjukkan bahwa metode pencucian tidak mengalami perubahan struktur karena difraksi zeolit terlihat tetap dan hanya ada perubahan pada intensitas difraktogramnya saja, yang diinterpretasikan sebagai perubahan kuantitas fasa mineral klinoptilolit.

Tabel 2. Hasil Analisis Kuantitatif Berbagai Sampel Zeolit Menggunakan XRD.

5

Mon: Montmorilonit ZL 200 = zeolit raw yang dipanaskan 200 oC Cli: klinoptilolit ZL 300 = zeolit raw yang dipanaskan 300 oC

Tabel 4 memperlihatkan bahwa dari keempat perlakuan berbeda pada Zeolit Alam Lampung, hanya zeolit yang dimurnikan dengan EDTA saja yang memenuhi syarat kandungan logam berat dibandingkan dengan persyaratan FDA Kuba yang tertera dalam tabel 3 (Fuentes et al. 2006). Kadar arsen yang tinggi pada zeolit alam membutuhkan pemurnian atau purifikasi untuk memenuhi standar kriteria yang telah ditetapkan. EDTA dapat membentuk ikatan yang kuat dengan logam-logam membentuk kompleks logam-EDTA. Uji penjerapan dilakukan untuk menilai potensi manfaat zeolit alam teraktivasi sebagai kandidat

antidotum keracunan timbal.

Tabel 3. Syarat Keamanan Bahan Baku Zeolit Untuk Farmasi Negara Kuba.

Toxic elementsNRIB 1152[ppm]
F< 10
Pb< 10
As< 3
Cd< 2
Hg< 5
Mineral PhasesNRIB 1152[%]
CLI-HEU> 50.0 ± 10
MOR< 20.0 ± 5
Total zeolite> 60 ± 10
Calcite< 15 ± 5
Quartz+ feldspar+
montmorillonite+ Fe oxides
< 25.0 ± 10

Total non-zeolite 40 ± 10

Sumber: Fuentes et al. 2006. Antacid drug based on purified

natural clinoptilolite

Tabel 4. Kandungan Logam Berat dalam Sampel Zeolit Alam Lampung.

Hasil AkhirArsenTimbalKadmium
Z-HCl4,12ppm ±0,75< 1 ppm<1ppm
Z-EDTA< 0,1ppm< 1 ppm<1ppm
Z-Aquabidest11,80ppm ±0,56< 1 ppm<1ppm
Z Raw35,00ppm ±0,191,42
ppm ± 0,2
<1ppm
Syarat NRIB
Cuba
< 3 ppm<10 ppm<2ppm

Hasil yang terlihat pada Gambar 3, zeolit yang dicuci dengan EDTA memiliki kemampuan penjerapan logam berat Pb yang sangat signifikan yaitu 89% dengan waktu yang singkat (15 menit) pada cairan simulasi asam lambung tanpa pepsin dan tidak meningkat drastis lagi penjerapannya hingga waktu dua jam. Sementara untuk zeolit alam Lampung tanpa pemurnian memiliki kemampuan menjerap logam berat Pb hingga 69%. Mekanisme penjerapannya berdasarkan penarikan kation positif dari Pb untuk memenuhi kekurangan muatan negatif pada zeolit dan juga dapat dimungkinkan adanya reaksi tukar kation antara zeolit dan logam berat yang bersifat irreversible karena zeolit diketahui memiliki selektivitas tukar kation, sehingga dalam tubuh, zeolit dapat bekerja sebagai antagonis kimia untuk beragam senyawa logam berat (Karampahtsis 2012). Sedangkan karbon aktif derajat farmasi yang digunakan tidak memiliki

kemampuan yang signifikan untuk menjerap logam berat Pb padahal karbon aktif umumnya dapat menjerap logam berat, sehingga perlu dicari penyebab dari terganggunya penjerapan Pb oleh karbon aktif di dalam simulasi cairan asam lambung.

Pada uji simulasi untuk senyawa organik dengan parasetamol, hasil yang terlihat pada Gambar 4 menunjukkan bahwa zeolit yang dicuci dengan EDTA dan zeolit alam raw tidak memiliki daya jerap terhadap parasetamol. Parasetamol memiliki harga yang relatif murah dan ketersediaannya yang mudah, sehingga sering menjadi penyebab keracunan obat (Mafull et al. 2014). Karbon aktif memiliki kemampuan penjerapan parasetamol hingga 78% dalam waktu dua jam, sedangkan zeolit tidak mampu menjerap molekul parasetamol secara signifikan. Zeolit mempunyai sifat sebagai penyaring

1

Gambar 3. Penurunan kadar Pb dalam media cairan asam lambung simulasi menggunakan karbon aktif dan zeolit.

3

Gambar 4. Penurunan kadar Parasetamol dalam media cairan asam lambung simulasi menggunakan karbon aktif dan zeolit.

molekul, tetapi dalam studi ini zeolit tidak mampu menjerap molekul parasetamol hal ini disebabkan karena berbagai faktor seperti ukuran molekul, pori, dan disosiasi larutan, sehingga zeolit kurang sesuai untuk digunakan sebagai penjerap senyawa organik parasetamol.

Kesimpulan

Berdasarkan data keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa zeolit alam Lampung yang menunjukkan karakteristik yang cocok sebagai kandidat antidotum keracunan timbal telah berhasil diperoleh. Zeolit alam Lampung telah berhasil dikarakterisasi dengan baik dan terbukti berjenis klinoptilolit dengan kandungan sebesar > 91 %, memiliki komposisi unsur utama Si, Al yang diikuti dengan kalium. Analisis termal menunjukkan bahwa Zeolit Alam Lampung memiliki kualitas yang baik.

Metode pencucian dengan larutan EDTA 0,1 M dan pemanasan pada 350 oC dapat mengurangi kadar As, Pb, dan Cd secara efektif sebagai kontaminan dalam sampel zeolit sehingga memenuhi syarat untuk dipakai sebagai kandidat antidotum keracunan timbal.

Zeolit yang dicuci dengan EDTA mampu menjerap Pb dalam simulasi cairan lambung buatan tanpa pepsin secara efektif dengan penurunan kadar Pb dari 2,10 ppm hingga 0,23 ppm atau setara dengan pengurangan \(\pm\) 89%. Maka, zeolit hasil pemurnian mungkin dapat digunakan sebagai antidotum lokal dalam kasus keracunan Pb akut.

Ucapan Terima Kasih

Penelitian ini terselenggara atas kerjasama antara Sekolah Farmasi ITB dengan Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

1
Citations
0.00
FWCIfield-weighted
15th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20231

Semantic Profile AI-classified research signals

Physics 0.76
level 0
level 1
Chemistry 0.30
level 0

Institution Network

References

  1. G. Cerri, M. Farina, A. Brundu, A. DakoviA, P. Giunchedi, E. Gavini, dan G. Rassu. 2015. Natural zeolites for pharmaceutical formulations: preparation and evaluation of a clinoptilolite-based material, Microporous and Mesoporous Materials. Italia: PII S13871811(15)00579-X doi: 10.1016/j.micromeso.2015.10.034 DOI: 10.1016/j.micromeso.2015.10.034
  2. Beltcheva M, Metcheva R, Topashka-Ancheva M, Popov N, dan Teodorova S. 2015. Zeolites versus Lead Toxicity. J Bioequiv Availab 7:012-029. doi: 10.4172/jbb.1000209 DOI: 10.4172/jbb.1000209
  3. Tiwari Ashutosh. 2014. Advanced Healthcare Materials. USA: Scrivener.
  4. Rey-Mafull, Tacoronte, Garcia R., Tobella, J., Llopiz, J., Iglesias, A. dan Hotza D. 2014. Comparative study of the adsorption of acetaminophen on activated carbons in simulated gastric fluid. USA. SpringerPlus doi: 10.1186/2193-1801-3-48 DOI: 10.1186/2193-1801-3-48
  5. Selvam.T, Schwieger, W., dan Dathe, W. 2014. Natural Cuban Zeolite for medical use and their histamine binding capacity. Jerman. doi :10.1180/claymin.2014.049.4.01 DOI: 10.1180/claymin.2014.049.4.01
  6. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. 2014. Farmakope Indonesia. Edisi ke 5. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.
  7. Subariyah I., Zakaria A., dan Purwamargapratala, Y. 2013. Karakterisasi Zeolit Alam Lampung Teraktivasi Asam Klorida dan Termodifikasi Asam Fosfat. Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah, ISSN: 1410-9565
  8. Emmanouil Karampahtsis. 2012. Zeolite: Investigation of the Effectiveness and Safety as an Oral Chelating Agent for Heavy Metals. A comparison between different commercially available preparation. Arizona: USA. doi : 10.1186/ISRCTN12861674 DOI: 10.1186/isrctn12861674
  9. Fatimah, D., Setiawan, I., Estiaty, L.M., Nurlela I., N., Yusianita, N., dan Nurbaeti, D. 2010. Pengolahan Mineral Silikat Alam Sebagai Bahan Dasar Industri Farmasi. Bandung : Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI.
  10. Kusdarto. 2008. Potensi Zeolit di Indonesia. Jurnal Zeolit Indonesia Vol. 7 No. 2. Pusat Sumber Daya Geologi, Badan Geologi Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral. Bandung : ISSN 1411-6723
  11. Estiaty, L. 2008. Impregnasi Logam Cu Terhadap Zeolit Alam Dengan Metode Aliran Kontinyu Sebagai Bahan Anti mikroba. Prosiding Pemaparan Hasil Penelitian Puslit Geoteknologi 2008 : Peran Riset Geoteknologi Dalam Mendukung Pembangunan Berwawasan Lingkungan. 64-65 Bandung.
  12. Rodrguez-Fuentes G, Denis AR, Barrios lvarez MA, dan Iraizoiz AC. 2006. Antacid drug based on purified natural clinoptilolite. Microporous Mesoporous Material : Elsevier. https://doi.org/10.1016/j.micromeso.2006.03.032 DOI: 10.1016/j.micromeso.2006.03.032
  13. Khasanah R.D. 2006. Studi Penggunaan Na2EDTA Dalam Desorpsi Ion Logam Kobalt (II) Pada Kitin Terdeasetilasi dari Limbah Cangkang Kepiting Hijau (Scylla Serrata) Dalam Medium Air. Skripsi. Jurusan Kimia FMIPA, Universitas Negeri Semarang.
  14. Magdalena, T. 2005. Purification Of Natural Zeolite-Clinoptilolite For Medical Application-Extraction Of Lead. Institute For Technology Of Nuclear And Other Mineral Raw Materials Belgrade J. Serb. Chem. Soc. 1335-1345. doi: 10.2298/JSC0511335T DOI: 10.2298/jsc0511335t
  15. Cerri. G., de
  16. Estiaty, L., Prijatama, H., Goto,Y., Szuciya, Zulkarnain,I., dan Fatimah, D. 2002. Zeolite From Cikancra Tasikmalaya, West Java: A Review Of Its Properties. Seminar IPTEK. Jakarta : Batan
  17. WHO, IARC. 1997. Silica, Some Silicates, Coal Dust and para-Aramid Fibrils. IARC monograph. Volume 68. Perancis . http://monographs.iarc.fr/ENG/Monographs/vol68/mono68-11.pdf
  18. Her. Ekspor Zeolit Lampung US$ 7,69 Juta. http://www.tekmira.esdm.go.id/currentissues/ ?p=1 602
  19. POM. Keracunan Timbal., http://www2.pom.go.id/public/siker/desc/produk/Timbal.pdf
  20. MSDS, Zeolite Product. 2014. http://www.zeolite-product.com/media/files/msds.pdf
  21. Hizmetleri, B, T. 2014. Zeolite (Clinoptilolite). Turki. http://www.gordeszeolite.com/zeolite--clinoptilolite-