PENDAHULUAN
Deϐisiensi vitamin D diakui sebagai salah satu masalah kesehatan dunia. Deϐisiensi vitamin D sering dikaitkan dengan peningkatan resiko penyakit kronis (Hossein‐nezhad dan Holick 2013). Sinar matahari merupakan sumber terbesar vitamin D dan Indonesia merupakan negara tropis yang terletak di ekuator yang terpapar sinar matahari sepanjang tahun. Namun gaya hidup yang cenderung menghindari matahari, bekerja dalam ruangan, penggunaan tabir surya dapat mengakibatkan terjadinya deϐisiensi vitamin D (Yosephin 2014). Di Asia, bahkan di negara tropis, prevalensi deϐisiensi vitamin D telah diperkirakan antara 35% sampai 57% (Ho‐Pham dan Nguyen 2012).
Di negara‐negara beriklim tropis di Asia, seperti di Indonesia, vitamin D paling mudah didapatkan dari sinar matahari langsung namun kenyataannya justru diperkirakan mengalami deϐisiensi antara 35 ‐57% (Ho‐Pham dan Nguyen 2012). Di India, meskipun terletak dekat khatulistiwa namun deϐisiensi vitamin D menjadi hal yang lazim. Hal ini dapat disebabkan faktor seperti musim, durasi, waktu paparan sinar matahari, pakaian, dan pigmentasi kulit mungkin menjadi kontributor terjadinya deϐisiensi vitamin D. Modernisasi juga membawa perubahan pada gaya hidup dan pola makan menjadi rendah vitamin D. Selain itu, meningkatnya polusi mencegah sinar matahari mencapai bumi yang berakibat terhalangnya paparan sinar matahari di kulit manusia (Harsh et al. 2016).
Asupan dan pola makan seseorang dapat dipengaruhi oleh gaya hidup seseorang. Penelitian sebelumnya oleh Istiningtyas (2010) pada mahasiswa di kota Semarang, tingkat pengetahuan yang tinggi tentang gaya hidup sehat mempunyai perilaku yang sehat yaitu sebanyak 60,2% sedangkan untuk tingkat pengetahuan rendah mempunyai perilaku tidak sehat sebanyak 63,8%. Data tersebut menunjukkan ada hubungan signiϐikan antara pengetahuan gaya hidup sehat dengan perilaku hidup sehat. Kesadaran akan pentingnya vitamin D harus diterapkan sejak dini untuk mencegah terjadinya deϐisiensi vitamin D. Perilaku konsumsi makanan yang salah pada masa remaja menyebabkan ketidakseimbangan antara konsumsi gizi dengan kecukupan gizi yang dianjurkan (Loliana dan Nadhiroh 2015). Nutrisi dalam jumlah memadai dan sesuai dengan kebutuhan akan memberikan energi bagi tubuh untuk dapat tumbuh dan berkembang serta memperbaiki jaringan rusak (Leech et al. 2015, Hunter 2011). Keadaan kesehatan gizi tergantung tingkat konsumsi. Tingkat konsumsi ditentukan oleh kualitas serta kuantitas makanan. Kualitas makanan menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan tubuh di dalam susunan makanan dan perbandingannya yang satu terhadap yang lain. Kuantitas menunjukkan jumlah masing‐masing zat gizi terhadap kebutuhan tubuh (Skerrett dan Willett 2012). Penilaian konsumsi pangan merupakan salah satu cara mengetahui dan menelusuri pangan baik dari jenis, sumber maupun jumlah pangan yang dikonsumsi (Leech et al. 2015).
Pemberian informasi kepada masyarakat di usia muda dalam pencegahan terjadinya penyakit pernafasan di masa mendatang, menjadi tugas tenaga kesehatan terutama apoteker. Peran apoteker dalam penatalaksanaan penyakit pernafasan yaitu dalam pemantauan pengobatan, juga ditujukan pada memberikan komunikasi, informasi dan edukasi kepada pasien (Binfar 2007). Oleh karena itu penelitian ini hendak mengetahui bagaimana pola hidup mahasiswa farmasi yang akan menjadi calon apoteker dibandingkan mahasiswa lainnya (nonfarmasi ). Diharapkan dengan gaya hidup sehat sejak dini maka seorang calon apoteker seharusnya dapat menjadi teladan agar dapat memberikan perannya secara maksimal dalam pengobatan pasien seperti melalui pelayanan kefarmasian. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan asupan makan yang mengandung vitamin D dan kecenderungan resiko deϐisiensi vitamin D pada mahasiswa farmasi dibandingkan non kesehatan (nonfarmasi).
BAHAN DAN METODE
Desain Penelitian
Desain penelitian ini adalah cross sectional (non‐ experimental) untuk mengetahui perbedaan frekuensi makanan yang mengandung vitamin D pada mahasiswa farmasi dan nonfarmasi. Asupan makanan yang mengandung vitamin D merupakan jumlah total vitamin D yang berasal dari makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh responden dalam kurun waktu 1 bulan terakhir dan diukur menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ). Uji etik nomor 034/KE/V/2017 dilakukan di Universitas Surabaya.
Populasi dan Sampel
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa fakultas farmasi dan mahasiswa nonfarmasi dengan status aktif dari suatu universitas swasta di Surabaya. Sampel dalam penelitian adalah yang memenuhi kriteria sebagai berikut: Bersedia terlibat dalam penelitian; tidak menjalani diet khusus (contoh: vegetarian); dan tidak mengalami gangguan saluran pencernaan . Pengambilan sampel dilakukan secara quota sampling (non‐probability sampling) yaitu teknik pengambilan sampel secara quotum atau jatah. Apabila jumlah populasi (N) diketahui maka teknik pengambilan sampel dapat menggunakan rumus
sebagai berikut:
\[n = \frac{N}{N \cdot d^2 + 1}\]
N=jumlah populasi; n=jumlah sampel; d²=presisi (tingkat kepercayaan 95%). Berdasarkan data mahasiswa aktif, didapatkan jumlah total mahasiswa aktif sebanyak 11980 mahasiswa sehingga jumlah minimal sampel yang diperoleh yaitu sebanyak 100 orang untuk masing-masing kelompok.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah sebuah kampus swasta di Surabaya, Penelitian ini dilakukan pada bulan September-Desember 2017.
Metode Pengumpulan Data
Pada penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode survei dengan alat bantu kuisioner. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data primer yang didapat secara langsung dari subyek melalui pemberian kuesioner kepada responden. Komponen utama dari kuesioner FFQ adalah daftar makanan, frekuensi makanan dalam waktu tertentu dan porsi makanan yang dikonsumsi. Pemilihan daftar makanan dalam kuesioner FFQ menggunakan daftar makanan yang mengandung vitamin D. Frekuensi makan hitung dalam waktu berapa kali makanan yang telah dikonsumsi tiap hari, minggu dan bulan. Sedangkan porsi makanan dihitung berdasarkan ukuran rumah tangga dari masing-masing jenis makanan.
Metode Pengolahan Data
Setelah data terkumpul selanjutnya dilakukan pengolahan data dengan cara sebagai berikut:
- Editing data merupakan langkah untuk meneliti kelengkapan data yang diperoleh melalui wawancara meliputi mengecek nama dan kelengkapan identitas pengisi, mengecek nama, isian data kemudian diperbaharui.
- Data hasil wawancara dihitung asupan vitamin D perbahan makanan yang konversikan dalam asupan perhari (URT dalam gram dikalikan frekuensi makan) dengan menggunakan nutrisurvey lalu ditotal jumlah asupan vitamin D dari seluruh bahan makanan yang telah dikonsumsi.
- Coding merupakan langkah memberikan kode masing-masing iawaban nada untuk memudahkan pengolahan data. Tingkat konsumsi vitamin D: kode 1 ("Defisit') pada nilai <15 mikrogram; dan 2 ("Cukup") pada nilai ≥15 mikrogram. Berdasarkan rekomendasi Angka Kecukupan Gizi (AKG) dari Kementrian Kesehatan, kebutuhan harian vitamin D adalah 15 mikrogram atau setara dengan 600 IU (Peraturan Menteri Kesehatan
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Usia dan Jenis Kelamin
| Kelompok | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Karakteristik | Nonfarmasi ( n= 100 orang) | Farmasi (n = 100 orang) | |||||
| Frekuensi | Persentase (%) | Frekuensi | Persentase (%) | ||||
| Jenis kelamin | Laki-laki | 23 | 23 | 13 | 13 | ||
| Perempuan | 77 | 77 | 87 | 87 | |||
| Usia | 17-25 tahun | 100 | 100 | 100 | 100 | ||
| Fakultas Farmasi | Semester ≥7 | 25 | 25 | ||||
| Semester 5 | 25 | 25 | |||||
| Semester 3 | 25 | 25 | |||||
| Semester 1 | 25 | 25 | |||||
| Fakultas Nonfarmasi | Psikologi | 15 | 15 | ||||
| Bisnis dan Ekonomika | 25 | 25 | |||||
| Hukum | 20 | 20 | |||||
| Teknobiologi | 10 | 10 | |||||
| Teknik | 20 | 20 | |||||
| Industri Kreatif | 10 | 10 | |||||
RI, 2019).
4. Tabulasi merupakan proses penempatan data ke dalam bentuk tabel yang telah di beri kode sesuai dengan kebutuhan analisis.
Analisis Data
Data yang di peroleh kemudian dicek ulang, diedit, ditabulasi dan selanjutnya dianalisa secara analitik, setelah itu dianalisis dengan bantuan program software SPSS for windows versi 68 untuk mengetahui perbedaan asupan makanan makanan yang mengandung vitamin D pada mahasiswa farmasi dan nonfarmasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan September– Desember 2017. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan instrumen berupa kuesioner kepada subjek penelitian kelompok farmasi dan nonfarmasi. Kuesioner yang diberikan yaitu Semi Quantitative‐Food Frequency Questionaire (SQ‐FFQ). Data yang diperoleh dalam penelitian ini didapatkan melalui Food Frequency Questionnair e (FFQ).
Karakteristik Responden
Pada penelitian ini, responden yang diikutsertakan dengan rentang usia 17‐25 tahun. Dari total 200 responden, sebanyak 50% (100 orang) responden berada pada kategori nonfarmasi yang terdiri dari 23% (23 orang) responden dengan jenis kelamin laki‐laki, 77% (77 orang) responden dengan jenis kelamin perempuan, sedangkan sebanyak 50% (100 orang) responden berada pada kategori farmasi. Responden berjenis kelamin laki‐laki sebanyak 13% (13 orang) dan responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 87% (87 orang) (Tabel 1).
Tabel 2. Tabulasi Silang Status Vitamin D antara Kedua Kelompok
| Status Vitamin D | Kelompok Responden | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Farmasi (n = 100 orang) | Nonfarmasi (n = 100 orang) | |||||||
| (Deϐisiensi) | Frekuensi | (%) | Frekuensi | (%) | ||||
| Deϐisit | 85 | 85 | 82 | 82 | ||||
| Cukup | 15 | 15 | 18 | 18 | ||||
Distribusi Frekuensi Konsumsi Makanan
Berdasarkan Tabel S1 (suplemen), daftar makanan yang mengandung vitamin D yang paling banyak tidak pernah dikonsumsi adalah salmon (91,5%) sedangkan yang paling banyak dikonsumsi adalah telur (86,5%). Makanan yang paling banyak
dikonsumsi 1x sehari adalah susu (49%), sedangkan makanan yang dikonsumsi lebih dari 1x sehari adalah telur (11%) dan susu (5%). Dari daftar makanan yang paling banyak dikonsumsi 1‐ 3x seminggu adalah telur (28%). Makanan yang dikonsumsi 4‐6x per minggu yang paling banyak adalah telur (25%). Makanan yang dikonsumsi 1x per bulan yang paling banyak dikonsumsi adalah sarden (24,5%) sedangkan makanan yang dikonsumsi lebih dari 1x per bulan yang paling banyak dikonsumsi adalah udang (28%).
Distribusi Hasil Analisis Data
Hasil analisis data tingkat konsumsi vitamin D pada kelompok responden farmasi dan nonfarmasi dapat dilihat pada Tabel S1 (suplemen). Berdasarkan tabel tersebut kelompok farmasi dengan kategori deϐisit sebanyak 85% (85 orang) dan 82% (82 orang)untuk kelompok nonfarmasi. Kategori cukup pada kelompok farmasi sebanyak 15% (15 orang) dan sebanyak 18% (18 orang) pada kelompok nonfarmasi (Tabel 2).
Hasil uji dengan metode chi square nilai p yang didapat adalah sebesar 0,568 (nilai p>0,05) Ho diterima sehingga dapat dikatakam bahwa tidak ada perbedaan asupan makanan yang mengandung vitamin D pada mahasiswa farmasi dan nonfarmasi (Tabel 3).
Perbandingan resiko antara kedua kelompok responden dapat di amati dari besaran nilai POR (Prevalance Odd Ratio) dimana nilai OR 5,688 dengan taraf signiϐikan CI 95% 0,588–2,632 menunjukkan bahwa kelompok responden farmasi dan nonfarmasi memiliki kecenderungan resiko yang sama (Tabel 4).
Vitamin D dapat dibentuk tubuh dengan bantuan sinar matahari. Bila tubuh mendapat cukup sinar matahari, konsumsi vitamin D melalui makanan tidak dibutuhkan. Karena dapat disintesis di dalam tubuh, vitamin D bukan vitamin, tapi suatu prohormon (Wacker dan Holick 2013, Mostafa dan Hegazy 2015). Makanan yang mengandung vitamin D termasuk beberapa ikan berlemak, minyak hati ikan, dan telur dari ayam yang telah diberi pakan mengandung vitamin D dan makanan yang diperkaya di negara dengan peraturan masing‐ masing. Berdasarkan lokasi geograϐis atau ketersediaan makanan, asupan vitamin D yang cukup mungkin tidak memadai pada skala global (Bendik et al. 2014).
Ada banyak penyebab terjadinya deϐisiensi vitamin D dimulai dari rendahnya asupan makanan bervitamin, rendahnya paparan sinar matahari, penggunaan sunscreen dan sebagainya. Selain kurangnya asupan makanan yang mengandung vitamin D, ada beberapa faktor penyebab deϐisiensi vitamin D seperti:
Tabel 3. Hasil Analisa Kecukupan Vitamin D antara Kedua Kelompok
| Kelompok responden | Status Vita Defisit | min D Cukup | Total | Uji Chi-Square | Kesimpulan |
|---|---|---|---|---|---|
| Farmasi (n = 100 orang) | 85 | 15 | 100 | \(H_0\) diterima, \(H_a\) ditolak | |
| Nonfarmasi | 82 | 18 | 100 | P = 0.568 | Tidak Terdapat perbedaan yang signifikan terhadap asupan makanan |
| (n = 100 orang) TOTAL | 167 | 22 | 200 | (P > 0.05) | yang mengandung vitamin D pada kelompok farmasi dan nonfarmasi |
| 16/ | 33 | 200 |
Tabel 4. Hasil Analisis Risiko Defisiensi Vitamin D Terkait Konsumsi Vitamin D pada Kelompok Responden Farmasi dan Nonfarmasi
| Kelompok Responden | Status Vitamir | Status Vitamin D | Ollput | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Defisiensi | Cukup | Total | Odd Ratio | Kesimpulan | |||
| Farmasi (n = 100 orang) | 85 | 15 | 100 | POR = 1,244 | Tidak terdapat perbedaan resiko yang | ||
| Nonfarmasi (n = 100 orang) | 82 | 18 | 100 | CI 95% (0,588-2,632) | signifikan pada kelompok responden farmasi dan non- | ||
| Total | 167 | 33 | 200 | farmasi. | |||
- Orang lanjut usia cenderung memiliki kulit yang lebih tipis dibandingkan dengan kulit usia muda. Tipisnya kulit akan berdampak pada penurunan jumlah prekusor vitamin D<sub>3</sub> 7-dihidrokolesterol yang merupakan media bagi sinar matahari untuk sintesis vitamin D di kulit (Wacker dan Holick 2013). Selain itu penurunan asupan makanan yang di perkaya vitamin D, rendahnya aktivitas fisik di luar ruangan meyebabkan berkurangnya paparan sinar matahari yang berdampak pada penurunan produksi sintesis vitamin D (Nimitphong dan Holick 2013).
- 2. Orang dengan kulit gelap memiliki melanin dalam jumlah besar di epidermis. Melanin akan bersaing dengan 7-dihidrokolesterol untuk penyerapan sinar UVB. Oleh karena itu, orang berkulit gelap kurang efisien memproduksi vitamin D dibandingkan kulit cerah. Untuk itu orang dengan warna kulit gelap membutuhkan 10-50 kali paparan sinar sinar matahari guna menghasilkan jumlah vitamin D yang sama dengan orang berkulit cerah (Brenner dan Hearing 2008, Cebulla 2013).
- 3. Orang yang hidup jauh di utara, seperti Boston, London atau Toronto lebih beresiko defisiensi vitamin D dikarenakan negara-negara tersebut lebih sedikit terpapar sinar matahari karena letaknya yang jauh dari khatulistiwa (Cebulla 2013).
- 4. Tabir surya mempunyai kemampuan untuk menyerap radiasi UVB yang menghambat interaksi antara paparan sinar matahari dengan prekusor vitamin \(D_3\) 7-dihidrokolesterol di kulit (Wacker dan Holick 2013).
- 5. Orang yang sering menghabiskan waktunya
- sehari-hari di dalam ruangan pada siang hari dan selalu menghindari aktivitas outdoor (Cebulla 2013) dapat beresiko mengalami defisiensi vitamin D. Kelompok usia 19-50 tahun berisiko mengalami defisiensi vitamin D karena penurunan aktivitas di luar ruangan serta perlindungan secara agresif terhadap paparan matahari seperti pemakain sunscreen dalam kesehariannya.
- 6. Polusi juga dapat menurunkan biosintesis vitamin D3 dengan menurunkan jumlah foton UVB yang tersedia untuk diserap oleh kulit. Hal ini biasanya terjadi di daerah perkotaan dengan tingkat polusi udara tinggi (Cebulla 2013).
- Penyebab defisiensi vitamin D terkait kondisi medis, seperti malabsorpsi lemak (Margulies et al. 2015), penggunaan obat antikonvulsan (Tantri et al. 2017), gangguan ginjal kronis (Jean et al. 2017), dan obesitas (Vanlint 2013).
Adapun beberapa keterbatasan dalam peneltian ini, adalah: adanya variabel yang dapat mempengaruhi hasil penelitian seperti, lingkungan atau tempat tinggal serta berat badan (obesitas/nonobesitas) di antara kedua kelompok responden yang dibandingkan; dan tidak ada pemeriksaan serum 25(OH)D untuk penetapan kadar vitamin D.
KESIMPULAN
Tidak terdapat perbedaan signifikan asupan makanan yang mengandung vitamin D pada kelompok responden farmasi dan nonfarmasi. Selain itu, kelompok responden farmasi memiliki kecenderungan resiko yang sama pada responden farmasi dan nonfarmasi.
