PENDAHULUAN
Keanekaragaman tumbuhan di dunia merupakan sumber terbesar yang digunakan sebagai jamu dan masih sekitar 60-80% penduduk dunia mengandalkan obat-obatan nabati yang telah digunakan sejak zaman dahulu sebagai obat tradisional. (Muthukrishnan and Sivakkumar 2018). Beberapa penduduk dunia dan khususnya di Indonesia telah menggunakan obat tradisional untuk mengobati penyakit dengan pengolahan secara turun-menurun. Indonesia menjadi salah satu negara dengan kekayaan alam hingga berbagai jenis tumbuhan yang banyak digunakan sebagai obat tradisional. (Syahruni and Nur 2015).
Beberapa tanaman telah banyak dikembangkan menjadi obat tradisional salah satunya adalah tanaman kesambi (Schleichera oleosa. L). Tanaman kesambi yang merupakan keluarga dari Sapindaceae memiliki senyawa fitokimia seperti alkaloid, saponin, fenolik dan tannin, flavonoid, dan fitosterol (Bhatia 2013; Muthukrishnan dan Sivakkumar 2018) yang memiliki khasiat mulai dari batang, kulit batang, buah hingga daun kesambi yang digunakan sebagai obat kanker, antimikroba, antioksidan, peradangan kulit, jerawat, analgesic, antibiotic dan beberapa penyakit lainnya (Bhatia 2013; Ghosh et al. 2011; Hanifah 2020; Kyaw et al. 2019; Thind et al. 2010).
Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam berbagai tanaman, termasuk di dalamnya tanaman obat. Flavonoid termasuk senyawa fenolik yang kaya akan gugus hidroksil dan dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan. Rao et al (2007) menyatakan bahwa efek antioksidan pada tanaman terutama disebabkan oleh senyawa fenolik, salah satunya flavonoid. Aktivitas antioksidan lazim dihubungkan dengan manfaatnya dalam terapi penyakit degeneratif, termasuk di dalamnya kanker (Birt.et al. 2001). Senyawa flavonoid diduga sangat bermanfaat dalam makanan karena berupa senyawa fenolik, senyawa ini yang bersifat antioksidan kuat. Banyak kondisi penyakit yang diketahui bertambah parah oleh adanya radikal bebas superoksida dan hidroksil, dan flavonoid memiliki kemampuan untuk menghilangkan secara efektif spesies pengoksidasi yang merusak ini. Oleh karena itu, makanan yang kaya flavonoid dianggap penting untuk mengobati penyakitpenyakit, seperti kanker dan penyakit jantung (Heinrich.et al. 2010).
METODE PENELITIAN
Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian merupakan bahan kimia dengan analytical grade yaitu aluminium korida (Merck, Germany), aquadest (Onemed, Indonesia), asam asetat (Merck, Germany), etanol 7 4± (Bratachem, Indonesia), HCl pekat (Merck, Germany, kuersetin (Sigma Aldrich), etanol p.a (JT-Baker), Etil Asetat (Merck, Germany), serbuk magnesium sulfat (Sigma Aldrich, Germany), natrium asetat (Sigma Aldrich, Germany) dan sampel ekstrak daun kesambi (Schleichera oleosa L.) yang diperoleh dari Desa Sicini, Dusun Siriya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.
Proses Ekstraksi
Ekstraksi dengan Hidrolisis
Hadjmohammadi dan Sharifi, (2009)
Ekstraksi Tanpa Proses Hidrolisis
Sebanyak 75 gram serbuk simplisia dimasukkan ke dalam labu alas bulat dan ditambahkan 350 mL etanol 70% dan selanjutnya sampel direfluks selama 3 jam pada suhu 60OC. Kemudian, filtrat disaring dan diuapkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental etanol 70%.
Dilakukan prosedur yang sama dengan menggunakan pelarut etil asetat untuk memperoleh ekstrak etil asetat.
Analisis Kualitatif
Sebanyak 0,1 gram ekstrak etanol dan etil asetat daun kesambi dimasukkan kedalam tabung reaksi kemudian ditambahkan HCl 1 mL dan serbuk magnesium sulfat 10 mg lalu dihomogenkan. Sampel yang mengandung flavonoid memberikan warna merah bata.
Analisis Kuantitatif
Pembuatan Larutan Kurva Baku
Pembuatan seri larutan kuersetin dengan cara dipipet dari larutan stok 100 \(\mu\)g/mL sebanyak 0,1; 0,2; 0,3; 0,4, dan 0,5 mL. Masing-masing dimasukkan ke dalam labu ukur 5 mL dan ditambahkan 0,2 mL AlCl<sub>3</sub> (10 %b/v), 0,1 mL natrium asetat 1 M dan dicukupkan dengan etanol p.a hingga 5 ml sehingga diperoleh konsentrasi 2; 4; 6; 8 dan 10 \(\mu\)g/mL, campuran dihomogenkan dan diinkubasi selama 30 menit pada suhu ruang. Masing-masing konsentrasi kuersetin yang diperoleh kemudian diukur serapannya pada panjang gelombang 450 nm. Selanjutnya dibuat kurva hubungan antara serapan terhadap konsentrasi (Do et al. 2014)
Penentuan Kadar Flavanoid Total
Analisis kadar flavonoid pada masing-masing sampel dilakukan dengan cara menimbang sampel sebanyak 10 mg dan dilarutkan dengan etanol p.a hingga 10 mL. Masing-masing sampel dipipet sebanyak 0,2 mL ke dalam labu ukur 5 mL dan ditambahkan 0,2 mL AlCl<sub>3</sub> (10 %b/v), 0,1 mL natrium asetat 1 M dan dicukupkan volumenya dengan etanol p.a hingga 5 mL. Kemudian dihomogenkan lalu diinkubasi selama 30 menit pada suhu ruang. Masing-masing sampel diukur serapannya pada panjang gelombang 450 nm (Do et al. 2014).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian ini dilakukan analisis kadar flavonoid total pada ekstrak etanol dan ekstrak etil asetat daun kesambi (S. oleosa L.) dengan atau tanpa hidrolisis secara spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui pengaruh proses hidrolisis terhadap kadar flavonoid total yang terkandung dalam daun kesambi (S. oleosa L.) dan diduga memiliki banyak aktivitas farmakologi dalam pencegahan maupun pengobatan penyakit.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun kesambi (S. oleosa L.) berasal dari Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan. Simplisia daun kesambi diekstraksi menggunakan
metode refluks, dengan etanol 70% dan etil asetat sebagai larutan penyari. Pelarut etanol dan etil asetat dilaporkan memiliki kemampuan untuk menyari senyawa flavonoid dan polifenol dengan rentang polaritas yang luas mulai dari polar hingga non polar (Dai and Mumper 2010; Do et al. 2014; Nguyen et al. 2020). Pada proses ekstraksi tersebut dilakukan penambahan asam asetat yang bertujuan untuk menghidrolisis senyawa flavonoid terglikosilasi dalam masing-masing sampel. Hidrolisis dilakukan untuk memutuskan ikatan antara glikosida (gula) dengan senyawa flavonoid. Hasil yang diperoleh diperbandingkan dengan ekstrak tanpa adanya proses menggunakan asam. Data pada tabel 1 merupakan persen rendemen dari masing-masing ekstrak vang diperoleh dari hasil refluks.
Masing-masing ekstrak yang diperoleh selanjutnya dilakukan pengujian identifikasi senyawa flavonoid secara kualitatif sebagai indetifikasi awal adanya kandungan senyawa flavonoid. Ekstrak etanol dan etil asetat setelah penambahan HCl pekat 1 mL dan ditambahkan serbuk magnesium sufat 10 mg lalu dihomogenkan hingga terjadi perubahan warna merah kecoklatan. Gambar 1 menunjukkan hasil analisis kualitatif ekstrak etanol 70% dan etil asetat yang mengandung flavonoid ditandai dengan warna merah kecoklatan.
Penentuan kadar flavonoid total dari ekstrak etanol dan etil asetat dilakukan dengan menggunakan persamaan regresi linear kurva
Tabel 1. Rendemen ekstrak etanol dan etil asetat
| Sampel | Bobot | Rendemen | ||
|---|---|---|---|---|
| Pelarut | Simplisia (g) | Ekstrak (g) | (%) | |
| Etanol 70% | Ekstrak tanpa hidrolisis | 75 | 3,5 | 4,6 |
| Ekstrak yang dihidrolisis | 75 | 2,8 | 3,7 | |
| Etil Asetat | Ekstrak tanpa hidrolisis | 75 | 3,68 | 4,9 |
| Ekstrak yang dihidrolisis | 75 | 1,78 | 2,4 | |
Gambar 1. Uji kualitatif ekstrak etanol daun kesambi (A) dan uji kualitatif ekstrak etil asetat daun kesambi (B).

Gambar 2. Grafik hubungan konsentrasi baku (kuersetin) terhadap absorbansi .
baku kuersetin. Larutan standar dibuat dalam lima seri konsentrasi yaitu 2 μg/mL, 4 μg/mL, 6 μg/mL, 8 μg/mL, 10 μg/mL dengan prinsip penetapan kadar flavonoid berdasarkan absorbansi larutan pada panjang gelombang 450 nm. Kurva baku tampak pada gambar 2.
Penentuan kadar flavonoid total ditentukan dengan menggunakan metode aluminium klorida. Aluminium klorida akan bereaksi dengan senyawa flavonoid membentuk kompleks stabil dengan gugus karbonil pada C4 dan hidroksil pada C3 (flavonol), C5 flavonol dan flavon. Hal ini juga akan membentuk kompleks asam labil dengan hidroksil dalam posisi orto pada cincin B flavonoid sehingga akan terjadi perubahan warna menjadi kuning setelah penambahan natrium asetat (Sembiring et al. 2017).
Berdasarkan hasil pengukuran kadar flavonoid menggunakan spektrofotometri visible dengan panjang gelombang maksimal 450 nm diperoleh kadar total flavonoid pada (Tabel 2) untuk sampel ekstrak etanol daun kesambi tanpa hidrolisis 132±0,98 (mgEQ/g) sedangkan sampel yang dihidrolisis asam asetat sebesar 57±0,23 (mgEQ/ g) dan kadar total flavonoid untuk sampel ekstrak etil asetat tanpa hidrolisis sebesar 40,7±0,77 (mgEQ/g) sedangkan sampel yang dihidrolisis asam asetat sebesar 39,8±0,18 (mgEQ/g). Hasil penentuan kadar flavonoid menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kesambi memberikan kadar flavonoid yang besar dibandingkan dengan ekstrak etil asetat baik pada perlakuan tanpa hidrolisis maupun dengan perlakuan hidrolisis. Hal ini disebabkan konsentrasi air dalam pelarut organik meningkatkan polaritas dari pelarut pengekstraksi sehingga dapat membantu proses penarikan senyawa flavonoid dalam suatu sampel, yang mana diketahui bahwa flavonoid merupakan suatu senyawa yang polar sehingga lebih cenderung untuk tertarik pada pelarut organik polar berdasarkan prinsip like dissolved like (Do et al. 2014; Nguyen et al. 2020; Nur et al. 2019; Sembiring et al. 2017). Kadar flavonoid total pada
Tabel 2. Kadar flavonoid total pada ekstrak etanol dan etil asetat.
| Ekstrak | Perlakuan | Kadar flavonoid (mgEQ/g) | |||
|---|---|---|---|---|---|
| Sampel tanpa hidrolisis | 62,1±0,98 | ||||
| Etanol 70% | Sampel yang dihidrolisis | 57±0,23 | |||
| asam asetat | |||||
| Sampel tanpa | 40,7±0,77 | ||||
| hidrolisis | |||||
| Etil asetat | Sampel yang | 39,8±0,18 | |||
| dihidrolisis | |||||
| asam asetat | |||||
masing-masing ekstrak juga terdapat perbedaan berdasarkan pada perlakuan dengan atau tanpa hidrolisis. Masing-masing ekstrak menunjukkan adanya kadar flavonoid tertinggi diperlihatkan pada sampel tanpa adanya perlakuan hidrolisis dengan asam selama proses ekstraksi. Hal ini dapat dipengaruhi karena pada perlakuan hidrolisis dengan asam terdapat proses pemisahalan melalui ekstraksi cair-cair dengan etil asetat. Proses pemisahan tersebut kemungkinan flavonoid yang terhidrolisis tidak tertarik secara maksimal pada pelarut etil asetat sehingg mempengaruhi kadar akhir dari flavonoid totalnya. Namun berdasarkan uji statistik ANOVA satu arah menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan yang signifikan antara kadar flavonoid total tehadap perlakuan hidrolisis dari masingmasing ekstrak (p>0,05, n=3).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian penentuan kadar flavonoid total dari ekstrak Etanol dan Etil asetat daun kesambi (S. oleosa L.) dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol dan etil asetat tanpa hidrolisis memiliki kadar flavonoid berturut-turut 62,1±0,98 dan
