1. Home
  2. Archives
  3. Vol 47 (2022) Issue 1
  4. Articles

PERKEMBANGAN TERAPI AKUPUNKTUR "GI" DI UPT LAYANAN KESEHATAN BUMI MEDIKA GANESA ITB

Abstract

Akupunktur “GI” merupakan salah satu teknik akupunktur yang dikembangkan berdasarkan teknik akupunktur klasik dan didasarkan pada penggabungan metode pengobatan tradisional Timur dan ilmu kedokteran Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil pasien akupunktur GI di UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB. Penelitian ini merupakan suatu studi deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 85 responden. Pengumpulan data dilaksanakan dari bulan Januari sampai dengan Maret 2018. Data diperoleh melalui metode wawancara, pengisian kuesioner dan data pasien atau rekam medis yang ada di UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB dari tahun 2004 sampai tahun 2017. Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah pasien akupunktur di UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2004 hanya 53 pasien, pada tahun 2017 naik menjadi 1694 pasien. Responden yang datang untuk menjalani terapi akupunktur memiliki usia, jenis kelamin, latar belakang pekerjaan dan keluhan atau penyakit yang bervariasi. Dapat disimpulkan bahwa terapi akupunktur GI di UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB terus berkembang serta dapat diterima dan dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.

Keywords

PENDAHULUAN

Akupunktur merupakan pengobatan tradisional dari Cina yang telah dipraktikkan selama kurang lebih 2500 tahun (WHO, 2002). Pada awalnya orang-orang melihat akupunktur sebagai praktik yang aneh dimana jarum ditusukkan ke tubuh untuk tujuan terapeutik. Akupunktur baru mencapai dunia Barat sekitar 300 tahun yang lalu, ketika petugas medis Eropa yang dipekerjakan oleh perusahaan Dutch East Indies Tranding Company di Jawa melihat orang-orang Jepang sedang melakukan praktik akupunktur (Baldry, 2005).

Diperkirakan akupunktur telah masuk ke Indonesia seiring dengan kedatangan perantau Cina yang datang ke Indonesia, sekitar abad XI. Tahun 1963 Departemen Kesehatan melakukan penelitian dan pengembangan pengobatan timur termasuk akupunktur yang kemudian diadakan secara resmi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). RSCM dicatat sebagai rumah sakit pertama yang membuka pelayanan akupunktur di Indonesia.

Akupunktur adalah teknik memasukkan dan memanipulasi jarum-jarum ke titik tertentu tubuh kita untuk penyembuhan suatu sakit atau untuk tujuan terapi (Ismail, 2009). Terapi akupunktur didasarkan pada kepercayaan bahwa mahluk hidup memiliki energi vital, yang disebut "qi". Energi ini bersirkulasi melewati 12 energi tak terlihat dan diketahui sebagai garis meridian pada tubuh. Ketidakseimbangan pada aliran "qi" dipercaya sebagai penyebab penyakit (Guan et al. 2006) dan akupunktur akan membantu memulihkan kembali pola energi tersebut sehingga penyakit dapat disembuhkan (Ismail, 2009). Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap efektivitas akupunktur adalah sensitivitas tubuh, postur tubuh yang tepat ketika diterapi, faktor psikologis, kondisi mental pasien, keadaan lingkungan, area stimulasi, serta teknis menusuk, meliputi kekuatan jari praktisi, ukuran, sudut serta kedalaman jarum (Guan et al. 2006).

Akupunktur dapat membantu menyambuhkan penyakit atau gejala seperti : meredakan rasa sakit, relaksasi otot tegang, memperbaiki mikrosirkulasi, menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan

konsentrasi lemak dalam darah, mengurangi hipersensitivitas kulit dan membran mukus, meringankan depresi mental, menstimulasi berbagai kelenjar termasuk kelenjar hormon, meningkatkan respon daya tahan tubuh dan resistensi terhadap mikroorganisme, menstimulasi pembakaran lemak serta mempunyai efek hipnosis (Ismail, 2009).

Saat ini akupunktur telah berkembang dengan berbagai metode penusukan, seperti teknik akupunktur klasik, akupunktur biomedikal, akupunktur GI, dan lain-lain. Penelitian ini berfokus pada akupunktur GI yang merupakan salah satu metode baru yang dikembangkan dan dipraktikkan oleh subdivisi akupunktur di UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB sejak tahun 2004. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien akupunktur GI di UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB dari tahun 2004 hingga 2017.

METODE

Variabel independen dalam penelitian ini adalah terapi akupunktur GI. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekuder. Untuk mendapatkan data sekunder, dilakukan studi pendahuluan untuk mengetahui jumlah pasien yang menjalani terapi akupunktur. Data sekunder berasal dari data pasien meliputi nama, usia, jenis kelamin dan tanggal kedatangan pasien di UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB dari tahun 2004 sampai 2017. Selanjutnya, untuk mendapatkan data primer, dilakukan pengumpulan data pada sejumlah pasien dengan menggunakan metoda accidental sampling, yaitu pengambilan sampel yang dilakukan secara spontan kepada orang yang ditemui saat pengambilan data dan kemudian akan dijadikan sebagai responden, untuk mengetahui jenis penyakit yang diterapi dengan akupunktur beserta tingkat kesembuhannya dengan jumlah sampel sebanyak 85 responden. Data diperoleh melalui metode wawancara dan pengisian kuesioner yang berisi pertanyaan terbuka terkait data demografi, gaya hidup dan efektivitas terapi akupunktur GI yang dirasakan responden. Data primer dan data sekunder yang telah diperoleh kemudian diolah dan dianalisis secara deskriptif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perkembangan Akupunktur GI

Akupunktur "GI" merupakan salah satu teknik akupunktur yang dikembangkan berdasarkan teknik akupunktur klasik dan didasarkan pada penggabungan metode pengobatan tradisional Timur dan ilmu kedokteran Barat. Teknik akupunktur ini akan menghasilkan metode lebih sederhana dengan karakteristik titik penusukan yang lebih sedikit namun lebih dalam dibandingkan dengan teknik akupunktur klasik Nama akupunktur GI merupakan singkatan dari Ganesha Indonesia. Teknik yang disebut sebagai tusuk jarum ala Indonesia ini ditemukan oleh Gunawan Ismail dengan menggunakan prinsip pemijatan dengan titik utama 2 di leher, 3 di perut dan 2 di tungkai bawah (Ismail, 2009).

UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB pertama kali membuka subdivisi akupunktur pada tahun 2004. Akupunktur GI merupakan salah satu metode baru yang dikembangkan dan dipraktikkan oleh subdivisi akupunktur di UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB. Subdivisi ini dikepalai oleh Gunawan Ismail yang merupakan penemu akupunktur GI (Ganesha Indonesia) atau yang disebut sebagai tusuk jarum ala Indonesia. Pada tahun 2010 Gunawan Ismail meninggal dunia, kemudian dr.Felesia Fanty menggantikan Gunawan Ismail sebagai kepala subdivisi akupunktur di UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB sampai sekarang.

5

Gambar 1. Jumlah pasien akupunktur di UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB

Pada awal pembukaan subdivisi akupunktur di UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB, biaya terapi akupunktur bersifat sukarela dengan harapan bahwa terapi akupunktur ini dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, karena selama ini terapi akupunktur dianggap sebagai terapi yang mahal sehingga masyarakat menengah ke bawah merasa segan untuk berobat ke klinik akupunktur. Seiring dengan meningkatnya jumlah pasien yang datang, jumlah tim akupunktur pun harus ditambah dan hal ini menyebabkan keuangan menjadi tidak seimbang. Oleh karena itu, pada tahun 2014 mulai ditetapkan biaya untuk penggantian jarum dengan nominal seminimal mungkin dan biaya terapi yang tetap sukarela.

Jumlah pasien akupunktur di UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB pada tahun 2004 berjumlah 53 pasien. Pada tahun 2005 bertambah menjadi 323 pasien kemudian naik menjadi 2129 pasien pada tahun 2013 lalu mengalami penurunan pada tahun 2014 sampai 2016 dan mulai meningkat lagi pada tahun 2017 sebanyak 1694 pasien. Adanya penurunan angka kunjungan pasien untuk pelayanan akupunktur kemungkinan dipengaruhi oleh pengaruh pemasaran, kualitas pelayanan dan loyalitas. Ketiga faktor ini berpengaruh terhadap kunjungan pasien di salah satu klinik akupunktur di Yogyakarta pada tahun 2012 (Krisnawati dan Mufdillah, 2012). Pada tahun 2018 dari bulan

Januari sampai Maret 2018 tercatat sebanyak 517 pasien yang melakukan terapi akupunktur di UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB

(gambar 1) dan mayoritas pasien yang mejalani terapi akupunktur adalah pasien perempuan di setiap tahunnya (gambar2).

3

Gambar 2. Jumlah pasien akupunktur di UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB berdasarkan jenis kelamin

Data Karakteristik Responden Akupunktur

Dari hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas responden adalah pasien lama yang sudah menjalani terapi akupunktur lebih dari 3x yaitu sebanyak 78 pasien (91,8%), bahkan ada pasien yang masih rutin menjalani terapi akupunktur sejak subdivisi akupunktur di UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB dibuka yaitu sejak tahun 2004.

Mayoritas responden yang mejalani terapi akupunktur adalah perempuan, yaitu sebanyak 64 responden (75,3%). Usia responden bervariasi, dari 18 sampai 79 tahun. Pasien yang datang untuk menjalani terapi akupunktur mempunyai latar belakang pekerjaan yang berbeda-beda, yang berarti status ekonomi mereka pun berbeda-beda, ada yang menengah ke atas dan ada yang menengah ke bawah, mulai dari mahasiswa (1,2%), pegawai negeri sipil (16,5%), pegawai swasta (7,1%), wiraswasta (12,9%), pensiunan (16,5%) dan yang paling banyak adalah ibu rumah tangga (52,9%). Jika dilihat dari data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa mayoritas pasien yang menjalani terapi akupunktur adalah ibu rumah tangga yang mungkin memiliki waktu luang yang lebih banyak daripada karyawan atau wiraswasta.

Data Kebiasaan atau Gaya Hidup Responden

Tabel 2 dibawah ini menunjukkan kebiasaan atau gaya hidup responden sehari-hari. Dari data tersebut dapat menunjukkan bahwa lebih dari setengah dari total responden (n=85) mempunyai kebiasaan atau gaya hidup yang baik. Responden yang rutin melakukan olahraga sebanyak 53 responden (62,4%) dan makan teratur sebanyak 70 responden (82,4%). Responden yang merokok sebanyak 10 responden (11,8%), mengkonsumsi alkohol sebanyak 1 responden (1,2%), dan minum minuman berkafein seperti teh atau kopi sebanyak 53 responden (62,4%). Responden yang memiliki durasi tidur singkat atau sering terbangun di malam hari ada sebanyak 33 responden (38,8%) dan responden yang rutin mengkonsumsi obat sebanyak 52 responden (61,2%).

Tabel 1. Data karakteristik responden

Ka–eg'"iJ—mlahΨ
Pasien
Lama ȋε͵x terapiȌ͹ͺͻͳ,ͺ
Baru ȋpertama kali terapiȌ͹ͺ,ʹ
Jenis Kelamin
Perempuan͸Ͷ͹ͷ,͵
Laki-lakiʹͳʹͶ,͹
Usia
Remaja akhir ȋͳ͹-ʹͷ tahunȌ͵͵,ͷ
Dewasa awal ȋʹ͸-͵ͷ tahunȌ͵͵,ͷ
Dewasa akhir ȋ͵͸-Ͷͷ tahunȌͳͳͳʹ,ͻ
Lansia awal ȋͶ͸-ͷͷ tahunȌʹʹʹͷ,ͻ
Lansia akhir ȋͷ͸-͸ͷ tahunȌʹͲʹ͵,ͷ
Manula ȋε͸ͷ tahunȌʹ͸͵Ͳ,͸
Pekerjaan
Sekolah/Mahasiswaͳͳ,ʹ
PensiunͳͶͳ͸,ͷ
PNS/TNI/POLRI/BUMN͸͹,ͳ
Pegawai swasta͸͹,ͳ
Wiraswasta/pedagang/jasaͳͳͳʹ.ͻ
BuruhͲͲ
IRTͶͷͷʹ,ͻ
Lainnyaʹʹ,Ͷ
TOTALͺͷͳͲͲ

Tabel 2. Data kebiasaan atau gaya hidup responden

Ka–eg'"iYaTidak
J—mlahΨJ—mlahΨ
Minum Obatͷʹ͸ͳ,ʹ͵͵͵ͺ,ͺ
Olahragaͷ͵͸ʹ,Ͷ͵ʹ͵͹,͸
MerokokͳͲͳͳ,ͺ͹ͷͺͺ,ʹ
Minum Teh/Kopiͷ͵͸ʹ,Ͷ͵ʹ͵͹,͸
Minum Alkoholͳͳ,ʹͺͶͻͺ,ͺ
Memiliki durasi
tidur singkat atau
sering terbangun di
͵͵͵ͺ,ͺͷʹ͸ͳ,ʹ
malam hari
Makan Teratur͹Ͳͺʹ,Ͷͳͷͳ͹,͸

Gaya hidup berkaitan erat dengan status kesehatan. Dengan gaya hidup yang sehat, status kesehatan kita pun akan meningkat. Gaya hidup sehat dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang, melakukan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur dan istirahat yang cukup. Berdasarkan hasil penelitian Sabariah (2014), menunjukkan bahwa pola makan, aktivitas fisik, kebiasaan istirahat dan riwayat merokok berhubungan dengan status kesehatan lansia.

Data Keluhan Penyakit yang Dirasakan Responden

Menurut Riskesdas (2013), jenis penyakit dibedakan menjadi dua kelompok yaitu penyakit menular dan penyakit tidak menular. Penyakit menular terdiri dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, tuberkulosis paru, diare, malaria, demam berdarah, cikungunya, filiriasis, rabies, antraks, kusta, avian influenza, hepatitis dan HIV/AIDS. Sedangkan yang termasuk penyakit tidak menular adalah kanker, diabetes mellitus, sindrom metabolik, hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke, penyakit paru obstruksi kronis (PPOK), asma, osteoporosis, gagal ginjal kronik, talasemia, SLE/lupus, osteoarthritis, rhinitis kronis dan hipertiroid. Berdasarkan data yang diperoleh, keluhan atau penyakit yang diderita oleh pasien yang menjalani terapi akupunktur di UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB sangat bervariasi, seperti hipertensi, myalgia, hiperlipidemia, gastritis, obesitas, stroke, diabetes, osteoarthritis, asam urat, penyakit jantung, chepalgia, low back pain, cedera/trauma, vertigo, gangguan hormon, penyakit ginjal, prostat, tic facialis, bels palsy, psoriasis, tinitus, alergi dan glukoma (tabel 3), yang mana penyakit-penyakit tersebut termasuk dalam kelompok penyakit tidak menular.

Tabel 3. Data diagnosis utama

Pe›aki–ȀgejalaDiag'•i•Ψ
U–ama
Myalgiaʹʹʹͷ,ͺ
OsteoarthritisͻͳͲ,͸
L'™ back 'aiͻͳͲ,͸
Strokeͺͻ,Ͷ
Gastritis͸͹,ͳ
Cedera/traumaͷͷ,ͺ
Gangguan hormonͷͷ,ͺ
Hipertensi͵͵,ͷ
Penyakit jantung͵͵,ͷ
Tic faciali•͵͵,ͷ
Gangguan ginjalʹʹ,Ͷ
Diabetesʹʹ,Ͷ
Vertigoʹʹ,Ͷ
Prostatʹʹ,Ͷ
Bel• 'al•›ͳͳ,ʹ
Psoriasisͳͳ,ʹ
Tinitusͳͳ,ʹ
Alergiͳͳ,ʹ

Tabel 4. Data diagnosis penyerta

N'J—mlah diag'•i•
'e›e"–a
J—mlah
'a•ie
Ψ
ͳͲ diagnosisͳͺʹͳ,ʹ
ʹͳ diagnosisʹ͹͵ͳ,ͺ
͵ʹ diagnosisʹͲʹ͵,ͷ
Ͷ͵ diagnosisͳͳͳʹ,ͻ
ͷͶ diagnosisͺͻ,Ͷ
͸ͷ diagnosisͳͳ,ʹ

Dari jumlah pasien lama (78 responden), mayoritas responden rutin menjalani terapi akupunktur 1-2 kali per minggu, yaitu sebanyak 50 responden (64,1%). Dari hasil penelitian, sebanyak 67 responden (85,9%) merasakan keluhannya berkurang setelah menjalani terapi akupunktur, ada responden yang 1 kali terapi sudah merasa keluhannya berkurang, tetapi ada yang sampai lebih dari 24 kali terapi baru merasa keluhannya berkurang (tabel 5) dan 11 responden (14,1%) belum merasakan keluhannya berkurang setelah menjalani terapi akupunktur.

Tabel 5. Data penurunan keluhan berdasarkan frekuensi terapi

F"ek—e•iJ—mlahΨKel—haJ—mlah
ͳx͹ͳͲ,ͶHipertensiͶ
Diabetesʹ
Dislipidemiaͳ
Strokeͳ
Obesitasͳ
Gastritis͵
Penyakit jantungͳ
Myalgia͵
ʹx͵Ͷ,͸Dislipidemiaͳ
Gastritisͳ
Penyakit jantungͳ
Myalgiaͳ
Vertigoͳ
͵x͸ͺ,ͻHipertensiͶ
Dislipidemiaʹ
Obesitas͵
Gastritis͵
Myalgiaͳ
Vertigoͳ
Low back painͶ
Ͷx͵Ͷ,͸Hipertensiʹ
Dislipidemiaʹ
Strokeͳ
Gastritisͳ
Myalgiaͳ
Osteoarthitisͳ
Gangguan hormonͳ
ͷxʹʹ,ͻDiabetesͳ
Dislipidemiaͳ
Obesitasͳ
Myalgiaʹ
͸xͷ͹,ͷDiabetesͳ
Dislipidemiaʹ
Gastritisʹ
MyalgiaͶ
Gangguan hormonͳ
ͺxͻͳ͵,ͶHipertensi͵
Diabetesͳ
Dislipidemia͵
Strokeʹ
ObesitasͶ
Gastritisͳ
Penyakit jantungͳ
F"ek—e•iJ—mlahΨKel—haJ—mlah
Myalgiaʹ
Asam uratͳ
Osteoarthitis͵
ͳͲx͵Ͷ,͸Diabetesͳ
Dislipidemiaͳ
Gastritisʹ
Penyakit jantungͳ
Myalgiaʹ
Vertigoͳ
Gg.ginjalͳ
ͳʹxͶHipertensi͵
Dislipidemiaʹ
Strokeʹ
Gastritisͳ
Myalgiaͳ
Chepalgiaͳ
Vertigoͳ
ͳͶxͳͳ,ͷHipertensiͳ
Gastritisͳ
ͳ͸xʹʹ,ͻDislipidemiaʹ
Myalgiaͳ
Asam uratͳ
Chepalgiaͳ
εʹͶxʹʹ͵ʹ,ͺHipertensi͹
Diabetesͳ
DislipidemiaͶ
Strokeʹ
ObesitasͶ
Gastritisͻ
Penyakit jantungͳ
Myalgia͸
Psoriasisʹ
Bels palsyͳ
Osteoarthitis͵
ChepalgiaͶ
Gangguan ginjalͳ
Gangguan hormon͵
Low back painʹ
Tinitusͳ
T'–al͸͹ͳͲͲ

Tusuk jarum atau akupunktur dapat didefinisikan sebagai suatu pengobatan yang cara kerjanya didasarkan pada konsep self healing power, dimana tubuh mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Rangsangan yang ditimbulkan dari tusuk jarum hanya berupa stimulasi untuk melampaui ambang batas yang nantinya akan menstimulasi terjadinya self healing power tersebut. Kemampuan tubuh untuk menyembuhkan diri sendiri atau self healing power itu tidak sama pada setiap orang, hal ini terkait dengan derajat kebugaran atau kesehatan orang tersebut. Selain itu, self healing power juga bergantung pada cara hidup yang sehat, seperti adanya keseimbangan antara kerja dan istirahat, pola makan yang sehat, olahraga teratur dan pikiran yang tenang dapat meningkatkan kemampuan tubuh kita untuk menyembuhkan dirinya sendiri (Ismail, 2009). Hal inilah yang menyebabkan perbedaan hasil terapi yang dirasakan oleh responden.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, jumlah pasien akupunktur di UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB awalnya hanya 53 pasien pada tahun 2004 kemudian naik menjadi 2129 pasien pada tahun 2013 lalu mengalami penurunan pada tahun 2014 sampai 2016 dan mulai meningkat lagi pada tahun 2017 sebanyak 1694 pasien.

Responden yang menjalani terapi akupunktur di UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB paling banyak adalah perempuan sebanyak 64 responden (75,3%). Usia responden bervariasi, dari 18 sampai 79 tahun. Responden yang datang untuk menjalani terapi akupunktur mempunyai latar belakang pekerjaan yang berbeda-beda, maka dapat disimpulkan bahwa terapi akupunktur GI dapat diterima dan dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.

Keluhan atau penyakit yang diderita oleh responden sangat bervariasi, mulai dari hipertensi, myalgia sampai dengan glukoma, yang mana penyakit-penyakit tersebut termasuk dalam kelompok penyakit tidak menular. Responden merasakan keluhannya berkurang setelah menjalani terapi akupunktur, ada yang 1 kali terapi sudah merasa keluhannya berkurang, tetapi ada yang sampai lebih dari 24 kali terapi baru merasa keluhannya berkurang. Hal ini disebabkan karena kemampuan tubuh untuk menyembuhkan diri sendiri atau self healing power itu tidak sama pada setiap orang.

SARAN

UPT Layanan Kesehatan Bumi Medika Ganesa ITB subdivisi akupunktur dapat melakukan penyuluhan dan membuat selebaran atau leaflet terkait pencegahan terjadinya penyakit tidak menular.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

1
Citations
0.39
FWCIfield-weighted
64th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20241

Semantic Profile AI-classified research signals

Medicine 0.58
level 0
Gynecology 0.53
level 1

Institution Network

References

  1. Baldry PE, 2005, Acupuncture, Trigger Points and Musculoskeletal Pain, Third Edition, Elsevier Churchill Livingstone, USA.
  2. Guan YJ, JJ Xiang, Jin L, 2006, Contemporary Medical Acupuncture - A System Approach, Higher Education Press, Beijing.
  3. Ismail G, 2009, Sehat Tanpa Obat dengan Tusuk Jarum Ala Indonesia, Grasindo, Jakarta.
  4. Kemenkes. 2014. Indonesia Health Profile 2013. Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
  5. Lim MY, Huang J, Zhao B, Ha L. 2015. Current status of acupuncture and moxibustion in China. Chinese Medicine 1-5, DOI 10.1186/s13020-015-0041-1. DOI: 10.1186/s13020-015-0041-1
  6. Notoatmodjo S, 2010, Metodologi penelitian kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.
  7. Notoatmodjo S, 2010, Promosi kesehatan teori dan aplikasi, Rineka Cipta, Jakarta.
  8. Riskesdas. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
  9. Sabariah, 2014, Hubungan Gaya Hidup dengan Status Kesehatan Lanjut Usia di Wilayah Kerja Puskesmas Pasar Merah Medan Tahun 2014, tesis magister, Universitas Sumatera Utara, Medan.
  10. Sasokong, A. 2015. Sejarah Akupunktur Indonesia. https://www.kompasiana.com/akupunkturjaya/555478fd6523bd221e4af00b/sejarah-akupunktur-di-indonesia. (Accessed on 21 August 2018).
  11. WHO, 2002, Guidelines on Basic Training and Safety in Acupuncture, World Health Organization, Geneva.