PENDAHULUAN
Insomnia merupakan gangguan tidur yang umum dialami oleh orang dewasa dan merupakan suatu faktor risiko penyebab melemahnya kesehatan baik secara fisik maupun mental (Sexton et al. 2020). Insomnia dikarakterisasikan dengan keluhan subjektif mengenai ketidakpuasan terhadap kualitas dan durasi tidur, kesulitan untuk menginisiasi tidur pada jam tidur, atau terbangun di tengah malam. Insomnia juga mencakup keluhan subjektif akan gejala pada siang hari seperti kelelahan, kehabisan energi, mengalami masalah pada fungsi kognitif seperti gangguan konsentrasi, perhatian, dan memori serta gangguan suasana hati sepert lekas marah dan disforia. Beberapa faktor seperti usia lanjut, jenis kelamin perempuan, mendengkur, kurangnya aktivitas fisik, nocturnal micturition (buang air kecil di malam hari), sering menggunakan obat hipnotik, menstruasi, keluhan insomnia pada periode sebelumnya, stress, dan gangguan psikiatrik merupakan faktor risiko penyebab insomnia (Mai dan Buysse, 2008). Sebuah studi cross-sectional pada suatu komunitas dengan jumlah sampel diperkirakan mencapai 31.432 orang dilakukan pada usia 15 tahun ke atas di Indonesia. Hasilnya, 55,7% partisipan terindikasi tidak mengalami insomnia, 33,3% mengalami subthreshold insomnia, dan 11% lainnya mengalami gejala klinis insomnia (Peltzer dan Pengpid, 2019).
Hingga saat ini, penanganan insomnia dapat dilakukan secara farmakologi dan non farmakologi. Secara non farmakologi, intervensi untuk menangani insomnia berupa terapi cognitivebehavioral, terapi yang paling umum berupa terapi kontrol stimulus, sleep restriction, relaksasi, terapi kognitif, paradoxical intention, dan edukasi terhadap higienitas agar tercapai kualitas tidur yang diinginkan (Dipiro et al. 2011). Obat-obatan yang memiliki aktivitas hipnotik yang dilegalkan oleh FDA untuk menangani insomnia adalah obat golongan benzodiazepin, antihistamin (seperti hidroksizin dan difenhidramin), antidepresan TCA (seperti doxepin), dan agonis reseptor melatonin (ramelteon). Selain obat-obatan tersebut, terdapat barbiturat (secobarbital, butalbital), dan kloral hidrat sudah disetujui oleh FDA tetapi tidak direkomendasikan karena toksisitas potensialnya
(Mai dan Buysse, 2008). Penggunaan obat-obatan tersebut memiliki efek samping yang berbahaya seperti anterograde amnesia, kerusakan motorik, sulit berkonsentrasi, pengurangan fungsi kognitif, dan ataxia (Dipiro et al. 2011). Di antara obatobatan tersebut, benzodiazepin dan barbiturat diperoleh melalui proses sintesis secara kimia. Oleh karena itu, untuk meminimalkan efek samping yang diakibatkan oleh pemakaian obatobat tersebut, perlu dicari alternatif berupa obat herbal yang berasal dari tumbuhan yang memiliki aktivitas hipnotik sedatif tetapi efek sampingnya lebih rendah.
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki biodiversitas terkaya di dunia. Kekayaan tanaman di Indonesia mencapai 28.000 jenis tanaman dan 7500 diantaranya adalah tanaman obat yang merupakan 10% tanaman obat di seluruh dunia (Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, 2014). Tumbuhan obat yang dimiliki Indonesia sangat melimpah namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Untuk itu, diperlukan pengumpulan data tumbuhan obat Indonesia yang memiliki efek hipnotik sedatif agar pengobatan insomnia dapat diupayakan menggunakan obat herbal sehingga efek samping yang diberikan minimal namun tetap berkhasiat. Beberapa tumbuhan yang sudah dikenal memiliki efek hipnotik sedatif yaitu kangkung air (Ipomoea aquatica Forssk.), kangkung darat (Ipomoea reptans Poir.), pala (Myristica fragrans Houtt.), valerian (Valeriana officinalis L.), dan beberapa tumbuhan lainnya. Kandungan fitokimia yang terdapat di dalam tumbuhan tersebut yaitu flavonoid, fenol, tanin, saponin, fitosterol, minyak mineral, dan glikosida (Jakaria et al. 2017). Kangkung air mengandung polifenol seperti mirisetin, kuersetin, luteolin, apigenin, dan kaempferol (Nagendra Prasad et al. 2008). Biji pala mengandung minyak volatil, asam lemak seperti asam laurat, asam miristat, asam palmitat, asam stearat, dan asam oleat, saponin, sterol, sabinen, sineol, dan miristisin (Haaz et al. 2010). Berikutnya, akar valerian mengandung iridoid, seskuiterpen seperti asam valerenat, minyak volatil seperti isoeugenil valerenat, valeranon, dan kriptofaurinol, alkaloid piridin seperti aktinidin, dan valerianin, dan derivat asam kafeat yaitu asam klorogenat. Aktivitas farmakologi yang dimiliki akar valerian yaitu sedatif, ansiolitik, spasmolitik, dan relaksan otot, (Haaz et al. 2010).
METODE
Studi literatur ini meninjau literatur yang memuat tumbuhan Indonesia dengan aktivitas hipnotik sedatif melalui bukti khasiat empiris dan data uji klinis yang berpotensi untuk mengobati insomnia.
Pendekatan Seleksi Literatur
Sumber informasi yang digunakan berupa buku (Cabe Puyang dan Materia Medika Indonesia) untuk pustaka empiris dan artikel ilmiah yang termuat pada mesin pencari (search engine) yaitu Pubmed dan Google Scholar untuk pustaka empiris dan pustaka uji klinis. Pencarian literatur dilakukan menggunakan istilah atau kata kunci sebagai berikut: ȋDzedaiedz OR "hypnotic*") AND ("extract" OR "plant" OR "herbal edicie̺ OR ̺adiial ediciedz OR ̺adiial herbal medicine"). Selanjutnya, kata kunci yang digunakan pada kolom pencarian Google Scholar berupa ("sedative" OR "hypnotic*") AND (Indonesia*) AND ("extract" OR "plant" OR "herbal medicine" OR "traditional medicine" OR "traditional herbal medicine").
Kriteria Inklusi dan Kriteria Eksklusi
Artikel dipilih berdasarkan relevansi data menggunakan kriteria inklusi sebagai berikut: artikel merupakan artikel original, menggunakan Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia, rentang tahun publikasi mulai dari 2010 hingga 2021, artikel tidak berbayar, artikel menyatakan bahwa tumbuhan asli Indonesia, serta termasuk ke dalam bukti empiris dan uji klinis. Rentang tahun 2010 hingga 2021 dipilih untuk mempermudah proses skrining artikel dan mempercepat proses penelitian. Selain artikel ilmiah, buku (Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang dan Materia Medika Indonesia) juga digunakan sebagai sumber informasi yang tahun terbitnya sebelum 2010, sehingga sumber informasi yang digunakan lebih komprehensif.
Artikel yang memenuhi kriteria eksklusi berikut: uji pada tumbuhan yang dikombinasi, uji pada tumbuhan yang menggunakan studi dengan komputasi, serta skripsi, dan tesis dikeluarkan dari sumber informasi. Pustaka pencarian keluarga (family) tumbuhan dilakukan menggunakan situs International Plant Name Index/IPNI dan The Plant List. Pustaka yang digunakan untuk mengkonfirmasi bahwa tumbuhan merupakan asli
Indonesia adalah situs SIOBA, buku Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang Jilid 1, Farmakope Herbal Indonesia, dan Materia Medika Indonesia.
Analisis Data
Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dan dilakukan pembuatan tabel hasil penelitian tumbuhan yang memiliki efek hipnotik sedatif. Dilakukan penentuan frekuensi dan persentase famili dan bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan secara empiris. Hasilnya disajikan dalam bentuk tabel dan diagram batang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Melalui penelusuran seluruh pustaka, diperoleh 34 pustaka yang memuat bukti khasiat empiris dengan rincian 32 diantaranya adalah artikel ilmiah yang dimuat pada situs Pubmed dan Google Scholar dan 2 lainnya adalah buku (Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang Jilid 1 dan Materia Medika Indonesia Jilid II). Selanjutnya, untuk pustaka uji klinis, didapatkan 6 pustaka uji klinis berupa artikel yang dipublikasikan pada situs pencari Pubmed dan Google Scholar. Enam pustaka tersebut memuat 4 tumbuhan Indonesia yaitu Viola odorata L., Mimosa pudica L., Passiflora incarnata, dan Valeriana officinalis.
Famili Tumbuhan Indonesia dengan Aktivitas Hipnotik-Sedatif berdasarkan Khasiat Empiris
Tabel 1 memaparkan tumbuhan Indonesia yang memiliki aktivitas hipnotik sedatif dari pustaka empiris Cabe Puyang dan Materia Medika Indonesia, sedangkan tabel 2 memaparkan mengenai tumbuhan Indonesia yang memiliki aktivitas hipnotik sedatif dan secara empiris dimanfaatkan di berbagai negara dari sumber referensi berupa artikel ilmiah. Dari hasil penelusuran pustaka empiris, didapatkan famili tumbuhan yang memiliki khasiat hipnotik sedatif terbanyak adalah pada famili Lamiaceae dengan jumlah empat tumbuhan yaitu Moschosma polystachyum L., Ocimum basilicum L., Ocimum sanctum L., dan Leucas lavandulifolia Smith (Cabe Puyang, 1985). Kemudian disusul oleh famili Solanaceae dengan jumlah tiga tumbuhan yaitu Nicotiana tabacum L. (Rahul, 2013), Solanum torvum Swartz (Darko, 2010), dan Physalis angulata L. (Rengifo-Salgado dan Vargas-Arana, 2013).
Tabel 1. Tumbuhan Indonesia dengan Aktivitas Hipnotik Sedatif berdasarkan Khasiat Empiris
| N'Ǥ Nama Famili | Nama La–i | Nama L'kal | Bagia | Refe"e•i | ||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Tumbuhan Indonesia dengan bukti empiris mampu menangani sulit tidur ȋinsomniaȌ | ||||||
| ͳ. | Convolvulaceae | I'''ea "e'–a• Poir | Kangkung darat | Daun dan Batang | Cabe Puyang | |
| ʹ. | Myristicaceae | M›"i•–ica f"ag"a• Houtt | Pala | Buah | Cabe Puyang | |
| ͵. | Lamiaceae | M'•ch'•a ''l›•–ach›— L. | Sangket | Daun | Cabe Puyang | |
| Ͷ. | Valerianaceae | Vale"iaa ha"d™ickii Wall | Lompong hutan | Akar | Cabe Puyang | |
| ͷ. | Apiaceae | H›d"'c'–›le a•ia–ica L./ Ce–ella a•ia–ica ȋL.Ȍ Urban | Daun | Cabe Puyang | ||
| . | Apiaceae | F'eic—l— ˜—lga"e Mill | Adas | Buah | Cabe Puyang | |
| . | Asteraceae | Bl—ea bal•aife"a L. | Sembung | Daun | Cabe Puyang | |
| ͺ. | Convolvulaceae | Me""eia ea"gia–a Hall. f | Kaki kuda hutan | Daun | Cabe Puyang | |
| ͻ. | Caricaceae | Ca"ica 'a'a›a L. | Pepaya | Buah | Cabe Puyang | |
| ͳͲ. | Lamiaceae | Le—ca• la˜ad—lif'lia Smith | Daun setan/Lenglengan | Daun | Cabe Puyang | |
| ͳͳ. | Euphorbiaceae | E—'h'"bia hi"–a L. | Patikan kebo | Herba | MMI II | |
| Tumbuhan Indonesia dengan bukti empiris memiliki efek menenangkan/meredakan ȋsedatifȌ | ||||||
| ͳ. | Convolvulaceae | I'''ea "e'–a• Poir | Kangkung darat | Daun dan Batang | Cabe Puyang | |
| ʹ. | Zingiberaceae | Zigibe" ca••——a" Roxb | Bengle Rimpang | Cabe Puyang | ||
| ͵. | Apocynaceae | Ra—˜'lfia •e"'e–ia L. Benth ex Kurz | Pule pandak Akar | Cabe Puyang | ||
| Ͷ. | Lamiaceae | Le—ca• liif'lia Spreng/ Le—ca• la˜ad—lif'lia Sm. | Daun | Cabe Puyang | ||
| ͷ. | Lamiaceae | M'•ch'•a ''l›•–ach›— L. | Sangket | Daun | Cabe Puyang | |
| . | Lamiaceae | Oci— ba•ilic— L. | Selasih | Daun | Cabe Puyang | |
| . | Lamiaceae | Oci— •ac–— L. | Kemangi Daun | Cabe Puyang | ||
| ͺ. | Lauraceae | Li–•ea 'd'"ife"a Val | Trawas Daun dan kulit kayu | Cabe Puyang | ||
| ͻ. | Moraceae | A"–'ca"'—• he–e"''h›ll—• Lam. | Nangka Kayu | Cabe Puyang | ||
| ͳͲ. | Papaveraceae | A"ge'e Mešicaa L. | Jaruju | Biji | Cabe Puyang | |
| ͳͳ. | Rubiaceae | M'"ida ci–"if'lia L. | Mengkudu Daun | Cabe Puyang | ||
| ͳʹ. | Valerianaceae | Vale"iaa ha"d™ickii Wall | Lompong hutan Akar | Cabe Puyang | ||
| Tumbuhan Indonesia dengan bukti empiris memiliki efek memudahkan tidur nyenyak ȋsoporifikȌ | ||||||
| ͳ. | Lamiaceae M'•ch'•a ''l›•–ach›— L. | Sangket | Daun | Cabe Puyang | ||
| ʹ. | Valerianaceae | Vale"iaa ha"d™ickii Wall | Lompong hutan | Akar | Cabe Puyang | |
| ͵. | Convolvulaceae | I'''ea "e'–a• Poir | Kangkung darat | Daun dan Batang | Cabe Puyang | |
| Ͷ. | Myristicaceae | M›"i•–ica f"ag"a• Houtt. | Pala | Buah | Cabe Puyang | |
| ͷ. | Apiaceae | F'eic—l— ˜—lga"e Mill | Adas | Buah | Cabe Puyang | |
| . | Apiaceae | H›d"'c'–›le a•ia–ica L./ Ce–ella a•ia–ica ȋL.Ȍ Urban | Kaki-kuda/Pegagan | Daun dan akar | Cabe Puyang | |
| N'Ǥ | Nama Famili | Nama La–i | Nama L'kal | Bagia | Refe"e•i |
|---|---|---|---|---|---|
| . | Asteraceae | Bl—ea bal•aife"a D.C | Sembung | Daun | Cabe Puyang |
Tabel 2. Tumbuhan Indonesia dengan Aktivitas Hipnotik Sedatif berdasar Khasiat Empiris yang dimanfaatkan di Berbagai Negara
| N'Ǥ | Famili | Nama La–i | Nama L'kal | Bagia | Nega"a | Refe"e•i |
|---|---|---|---|---|---|---|
| ͳ. | Passifloraceae | Pa••ifl'"a ed—li• Sims | Markisa | Daun, sulur, dan batang | Amerika | ȋWohlmuth et al., ʹͲͳͲȌ |
| Kolumbia | ȋLaura Gonzales et al., ʹͲͳͻȌ | |||||
| ʹ. | Acoraceae | Ac'"—• cala—• L. | Jeringau | Rimpang | India | ȋPattanaik et al., ʹͲͳ͵Ȍ |
| Malaysia | ȋKhatun et al., ʹͲͳͳȌ | |||||
| ͵. | Valerianaceae | Vale"iaa | Valerian | Akar | Kanada | ȋYeo et al., ʹͲͳ͵Ȍ |
| 'fficiali• L. | India | ȋSharma et al., ʹͲͳ͵Ȍ | ||||
| Ͷ. | Pandanaceae | Pada—• aa"›llif'li—• Roxb. | Pandan wangi | Daun | Indonesia | ȋSujarwo et al., ʹͲͳͷȌ |
| ͷ. | Annonaceae | A'a —"ica–a L. | Sirsak | Daun | Indonesia | ȋSuratman et al., ʹͲͳͷȌ |
| . | Convolvulaceae | I'''ea a"—a–ica Forssk. | Kangkung air | Daun dan batang | Filipina | ȋJunilla et al., ʹͲͳ͵Ȍ |
| . | Moringaceae | M'"iga 'leife"a Lam. | Kelor | Daun | Indonesia | ȋPratama Putra et al., ʹͲͳȌ |
| ͺ. | Asteraceae | S›ed"ella 'difl'"a ȋL.Ȍ Gaertn | Legetan | Herba | Ghana | ȋAmoateng et al., ʹͲͳȌ |
| ͻ. | Paeoniaceae | Pae'ia lac–ifl'"a Pall. | Peoni tiongkok | Akar | China | ȋZhao et al., ʹͲͳȌ |
| ͳͲ. | Leguminosae | E"›–h"ia ˜a"iega–a L. | Daun dadap ayam | Daun dan bunga | India | ȋA. Kumar et al., ʹͲͳͲȌ |
| ͳͳ. | Acanthaceae | J—•–icia geda"—••a Burm. F. | Gandarusa | Akar, batang, dan daun | India | ȋPutri et al., ʹͲʹͲȌ |
| ͳʹ. | Zingiberaceae | Kae'fe"ia galaga | Kencur | Rimpang | India | ȋAjay Kumar, ʹͲʹͲȌ |
| ͳ͵. | Malvaceae | Hibi•c—• | Rosela | Daun | Bangladesh | ȋIslam, ʹͲͳͻȌ |
| •abda"iffa L. | India | ȋMishra et al., ʹͲͳͺȌ | ||||
| ͳͶ. | Apocynaceae | Ra—˜'lfia •e"'e–ia L. Benth | Pule pandak | Akar dan rimpang | India | ȋKumari et al., ʹͲͳ͵Ȍ |
| ͳͷ. | Euphorbiaceae | E—'h'"bia hi"–a L. | Patikan kebo | Herba | Amerika | ȋSangam et al., ʹͲͳͷȌ |
| Filipina | ȋLinfang et al., ʹͲͳʹȌ | |||||
| ͳ. | Poaceaea | C›b'''g' ci–"a–—• Stapf. | Serai | Daun | Brazil | ȋRonicely et al., ʹͲͳͶȌ |
| ͳ. | Myrtaceae | E—geia ca"›''h›lla–a Thunberg/ S›œ›gi— a"'a–ic— ȋL.Ȍ Merr. | Cengkeh | Bunga | Turki | ȋSingh et al., ʹͲͳʹȌ |
| N'Ǥ | Famili | Nama La–i | Nama L'kal | Bagia | Nega"a | Refe"e•i |
|---|---|---|---|---|---|---|
| ͳͺ. | Lamiaceae | Le—ca• la˜ad—lif'lia Sm. | Lenglengan | Herba | India | ȋMakhija et al., ʹͲͳͳȌ |
| ͳͻ. | Meliaceae | Aœadi"ach–a idica A. Juss | Mimba | Daun dan kulit batang | India | ȋRahul, ʹͲͳ͵Ȍ |
| ʹͲ. | Solanaceae | Nic'–iaa –abac— L. | Tembakau | Daun | India | ȋRahul, ʹͲͳ͵Ȍ |
| ʹͳ. | Apocynaceae | Ca–ha"a–h—• "'•e—• L. | Tapak dara | Daun, biji, dan batang | India | ȋPandey et al., ʹͲͳͳȌ |
| ʹʹ. | Solanaceae | S'la— –'"˜— | Takokak | Daun | India | ȋDarko, ʹͲͳͲȌ |
| Swartz | Indonesia | ȋPeranginangin et al., ʹͲͳ͵Ȍ | ||||
| ʹ͵. | Cucurbitaceae | Lagea"ia •ice"a"ia Molina | Labu air | Buah | India | ȋAmit Kumar et al., ʹͲͳʹȌ |
| ʹͶ. | Bixaceae | Biša '"ellaa L. | Kesumba | Daun | India | ȋGupta, ʹͲͳȌ |
| ʹͷ. | Apiaceae | Ce–ella a•ia–ica ȋL.Ȍ Urban | Pegagan | Herba | India | ȋVishwavidyalaya , ʹͲͳȌ |
| ʹ. | Solanaceae | Ph›•ali• ag—la–a L. | Ceplukan | Daun | Brazil | ȋRengifo-Salgado and Vargas Arana, ʹͲͳ͵Ȍ |
Berikutnya, disusul oleh famili Convolvulaceae, Valerianaceae, Apiaceae, Asteraceae, Zingiberaceae, dan Apocynaceae dengan jumlah dua tumbuhan berkhasiat hipnotik sedatif (Cabe Puyang, 1985). Terdapat juga famili dengan jumlah satu tumbuhan yaitu Myristicaceae, Caricaceae (Cabe Puyang, 1985), Euphorbiaceae (MMI, 1978), Moraceae, Papaveraceae, Rubiaceae (Cabe Puyang, 1985), Passifloraceae (Wohlmuth et al, 2010), Acoraceae (Pattanaik, 2013), Pandanaceae (Sujarwo et al, 2015), Annonaceae (Suratman et al, 2015), Moringaceae (Pratama Putra et al, 2017), Paeoniaceae (Zhao et al, 2016), Leguminosae (A. Kumar et al, 2010), Acanthaceae (Putri et al, 2020), Malvaceae (Islam, 2019; Mishra et al, 2018), Poaceae (Ronicely et al, 2014), Myrtaceae (Singh et al, 2012), Meliaceae (Rahul, 2013), Cucurbitaceae (Amit Kumar et al, 2012), dan Bixaceae (Gupta, 2016).
Bagian Tumbuhan yang dimanfaatkan untuk Pengobatan Insomnia berdasar Bukti Khasiat Empiris
Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan bervariasi, mulai dari akar, batang, daun, bunga, buah, biji, kulit kayu, kayu, herba, dan rimpang. Selain penggunaan tunggal, terdapat pula penggunaan kombinasi 2 atau 3 bagian tumbuhan. Dari 41 tumbuhan yang didapat, bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan adalah daun dengan persentase 41,46% atau sejumlah 17 tumbuhan yaitu pada Centella asiatica
(L.) Urban, Merremia emarginata Hall. F, Leucas lavandulifolia Sm., Moschosma polystachyum L., Ocimum basilicum L., Ocimum sanctum L., Morinda citrifolia L., Pandanus amaryllifolius, Annona muricata L., Moringa oleifera Lam., Hibiscus sabdariffa L., Cymbopogon citratus Stapf., Nicotiana tabacum L., Solanum torvum Swartz, Bixa orellana L., dan Physalis angulata L. Bagian tumbuhan yang paling umum digunakan untuk penanganan insomnia yaitu kombinasi 2 bagian tumbuhan dengan jumlah 12,19% atau sejumlah 5 tumbuhan yaitu pada Ipomoea reptans Poir dengan kombinasi daun dan batang, Litsea odorifera Val dengan kombinasi daun dan kulit kayu, Erythrina variegata L. dengan kombinasi daun dan bunga, Rauvolfia serpentina L. Benth dengan kombinasi akar dan rimpang, dan Azadirachta indica A. Juss dengan kombinasi daun dan kulit batang,.
Tumbuhan Indonesia dengan Aktivitas Hipnotik Sedatif berdasar Data Uji Klinis
erdapat empat tumbuhan yang diujikan kepada manusia (uji klinis) dan terbukti memiliki aktivitas hipnotik sedatif yaitu Viola odorata L., Mimosa pudica L., Passiflora incarnata, dan Valeriana officinalis yang secara rinci terdapat pada tabel 3. Tumbuhan yang pertama yaitu Viola odorata L. Terdapat dua pengujian terhadap aktivitas hipnotik sedatif bunga Viola odorata. Pengujian pertama dilakukan terhadap 50 pasien insomnia
kronis selama 1 bulan dengan pemberian intranasal minyak esensial bunga Viola odorata dosis 33 mg/tetes dan dipantau efikasi klinisnya pada hari ke-15 dan ke-30. Hasilnya, terjadi peningkatan kualitas tidur yang signifikan pada pasien insomnia kronis dibanding pada saat sebelum menerima treatment. Beberapa pasien mengalami efek samping ringan dan tidak serius (Feyzabadi et al., 2014).
Tabel 3. Tumbuhan dengan Aktivitas Hipnotik Sedatif berdasar Data Uji Klinis
| N'Ǥ | Nama T—mb—ha | Be–—k Sediaa da Bagia ›ag dimafaa–ka | D'•i• | Me–'de Uji | Ke•im'—la | Refe"e•i |
|---|---|---|---|---|---|---|
| ͳ. | Vi'la 'd'"a–a L. ȋRumsari/ antananȌ | Minyak esensial bunga | ͵͵ mg/ tetes | Uji klinis dengan metode evaluasi pretest-posttest pada ͷͲ pasien insomnia kronis | Terjadi peningkatan kualitas tidur signifikan dibandingkan sebelum menerima terapi | ȋFeyzabadi et al., ʹͲͳͶȌ |
| - | RCT dengan metode evaluasi pretest-posttest, dilakukan pada Ͳ dewasa tua yang memiliki kualitas tidur rendah | Terjadi peningkatan durasi tidur yang signifikan | ȋHejazian et al., ʹͲͳͺȌ | |||
| ʹ. | Mi'•a '—dica L. ȋPutri maluȌ | Rebusan daun | ʹͲͲ ml | Uji klinis dilakukan pada ͶͲ perempuan '"ee''a—•e | Terjadi peningkatan rata rata durasi tidur harian pada kelompok Mi'•a '—dica L. | ȋHartini et al., ʹͲͳȌ |
| ͵. | Pa••ifl'"a ica"a–aȀ Pa••ifl'"a ed—li• ȋMarkisaȌ | Teh daun, batang, biji, dan bunga | ʹ g/ʹͷͲ mL | Uji klinis d'—ble blid dan terkontrol placebo dilakukan untuk memantau peningkatan kualitas tidur pada Ͷͳ partisipan | Terjadi peningkatan kualitas tidur secara signifikan | ȋNgan and Conduit, ʹͲͳͳȌ |
| Ͷ. | Vale"iaa 'fficiali• ȋValerianȌ | Kapsul ȋdengan merk dagang Sedamin̺Ȍ Akar | ͷ͵Ͳ mg | RCT dengan e–'de c"'•• '˜e"ǡ 'laceb' c'–"'lled, dan d'—ble blid dilakukan pada ͵ͻ pasien yang menjalani hemodialisis | Penurunan gangguan kualitas tidur, depresi, dan skor ašie–› lebih signifikan pada kelompok plasebo ȋfase ͳȌ, tetapi pada fase ʹ lebih signifikan pada kelompok uji | ȋNobahar et al., ʹͲʹͳȌ |
| RCT dengan metode 'laceb' c'–"'lled, dan –"i'le blid dilakukan pada ͳͲͲ wanita ''•–Ǧ e''a—•e yang menderita insomnia | Terjadi peningkatan kualitas tidur pada ͵ͲΨ kelompok uji dan ͶΨ kelompok plasebo | ȋTaavoni et al., ʹͲͳͳȌ |
Sukandar et al.
Uji klinis kedua dilakukan dengan metode evaluasi pretest-posttest dan bersifat randomized dilakukan pada 60 dewasa tua yang memiliki kualitas tidur rendah. Kelompok dibagi menjadi 2, kelompok intervensi (minyak esensial Viola odorata intranasal) dan kelompok plasebo (parafin) selama 6 bulan. Setiap 15 hari diberikan kuesioner untuk mengetahui pengaruh dari pemberian minyak esensial Viola odorata terhadap kualitas tidur. Hasilnya, pemberian minyak esensial Viola odorata secara efektif meningkatkan durasi tidur pada dewasa tua. Dari kedua uji klinis tersebut dapat disimpulkan bahwa minyak esensial bunga Viola odorata secara signifikan dapat meningkatkan durasi dan kualitas tidur. Kandungan kimia yang dominan terdapat dalam minyak esensial bunga Viola odorata adalah monoterpen dan seskuiterpen (Hejazian et al., 2018). Studi lain menyatakan bahwa terdapat juga melatonin yang mungkin
menyebabkan aktivitas hipnotik dari tumbuhan ini. Bukti tersebut sedikit banyaknya dapat menjelaskan mekanisme minyak esensial bunga Viola odorata dapat meningkatkan kualitas tidur (Ansari et al., 2010).
Tumbuhan yang kedua adalah Mimosa pudica L. Uji klinis dilakukan pada 40 perempuan premenopause. Kelompok 1 menerima rebusan daun putri malu dan kelompok 2 menerima rebusan kangkung (Ipomoea reptans) selama 7 hari kemudian ditentukan durasi tidur per hari pada masing-masing kelompok. Hasilnya, rata-rata durasi tidur per hari perempuan premenopause yang mengonsumsi rebusan putri malu lebih lama dibanding kelompok yang menerima rebusan kangkung. Tumbuhan Mimosa pudica diketahui mengandung melatonin. Melatonin diketahui dapat meningkatkan kualitas tidur (Hartini et al., 2017).

Gambar 1. Data jumlah famili tumbuhan indonesia dengan aktivitas hipnotik sedatif berdasarkan khasiat empiris
9,75 41,46 2,44 9,75 4,88 7,32 2,44 2,44 12,19 7,32 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 akar daun bunga buah herba rimpang kayu biji kombinasi 2 bagian kombinasi 3 bagian Persentase (%)
Persentase Bagian Tumbuhan yang dimanfaatkan
Gambar 2. Persentase bagian tumbuhan yang dimanfaatkan berdasarkan data khasiat empiris
Tumbuhan yang ketiga adalah Passiflora incarnata dengan nama sinonim Passiflora edulis. Uji klinis double blind dan terkontrol plasebo dilakukan terhadap 41 partisipan dengan rentang usia 18-35 tahun. Dua kelompok tersebut diberikan teh Passiflora incarnata selama 7 hari dan dilihat bagaimana kualitas tidurnya. Hasilnya, enam dari sepuluh partisipan menyatakan bahwa kualitas tidurnya meningkat secara signifikan. Passiflora incarnata mengandung senyawa golongan alkaloid dan flavonoid (Ingale and Hivrale, 2010). Passiflora incarnata juga diketahui mengandung sejumlah besar GABA (Carratù et al., 2008) dan dapat menginduksi reseptor GABAA (Elsas et al., 2010).
Pada mamalia, ritme sirkadian seperti siklus tidur/bangun diatur oleh jam sirkadian sentral yang terletak di SCN (suprachiasmatic nucleus), hipotalamus. SCN terdiri dari ribuan neuron yang mengatur ritme sirkadian. Neuron ini saling menyinkronkan satu sama lain dan menghasilkan suatu osilasi yang kuat dan stabil (Ono et al., 2018).
Salah satu neurotransmitter yang terletak di SCN adalah GABA. GABA sebagai neurotransmitter inhibitori dan glutamat sebagai neurotransmitter eksitatorik saling berosilasi dalam memberikan efek pada ritme sirkadian bergantung pada kondisi lingkungan, misalnya cahaya. Mekanisme GABA dalam ritme sirkadian tertera pada Gambar 4. Untuk dapat memberikan efek inhibitorik, GABA harus berikatan dengan suatu reseptor yang disebut reseptor GABA. GABA dapat terikat pada tiga jenis reseptor, yaitu GABA-A, GABA-B, dan GABA-C. Akan tetapi, GABA memberikan efek inhibitorik yang paling cepat dengan cara mengaktifkan reseptor GABA-A, menyebabkan masuknya ion klorida yang bermuatan negatif dan hiperpolarisasi neuron yang berfungsi untuk mencegah terjadinya potensial aksi. Induksi reseptor GABA-A menimbulkan efek hipnotik sedatif melalui peningkatan durasi waktu rata-rata pembukaan saluran ion karena terjadi konformasi bentuk reseptor (Olsen, 1998). Ilustrasi reseptor GABA-A terdapat pada Gambar 3.
Gambar 3. Reseptor GABA-A tampak depan (diadaptasi dari (Chuang and Reddy, 2018)

Gambar 4. Peran GABA pada ritme sirkadian (diadaptasi dari Ruan et al., 2021)
Tumbuhan yang terakhir yaitu Valeriana officinalis. Terdapat dua pengujian terhadap aktivitas hipnotik sedatif akar valerian. Pengujian pertama adalah uji klinis dengan desain studi randomized, placebo controlled, double blind, dan cross over dilakukan pada 39 pasien yang menjalani hemodialisis. Kelompok uji mengonsumsi kapsul valerian (Sedamin®) 1 jam sebelum tidur selama 1 bulan. Sedangkan kelompok kontrol menerima plasebo yang mengandung 50 mg starch. Setelah 1 bulan periode washout, kelompok uji dan kontrol
ditukar (cross over) dan berikutnya dijalankan prosedur serupa. Setelah menjalani uji klinis, pasien diberikan kuesioner untuk menentukan pengaruh kapsul valerian terhadap kualitas tidur, anxiety, dan depresi. Hasilnya, pada fase 1, gangguan kualitas tidur, depresi, dan skor anxiety pada kedua kelompok mengalami penurunan. Tetapi, penurunan yang lebih signifikan adalah kelompok placebo. Pada fase 2 (setelah dilakukan cross over), gangguan kualitas tidur, depresi, dan skor anxiety pada kedua kelompok mengalami
penurunan. Tetapi, penurunan yang lebih signifikan adalah kelompok uji. Pengujian kedua adalah uji klinis dengan metode randomized, placebo controlled, dan triple blind yang dilakukan pada 100 wanita post-menopause yang menderita insomnia. Kelompok uji dan plasebo mengonsumsi kapsul valerian ataupun plasebo 2 kali sehari selama 4 minggu. Sekitar 30% partisipan pada kelompok uji dan 4% partisipan pada kelompok plasebo melaporkan adanya peningkatan kualitas tidur. Terdapat perbedaan bermakna pada kedua kelompok (Taavoni et al., 2011)(Lin et al., 2019).
Meskipun mekanisme pasti mengenai bagaimana akar valerian dapat mengatasi gangguan tidur masih belum diketahui, tumbuhan ini diyakini memiliki interaksi yang penting dengan neurotransmitter GABA. Hal tersebut didukung oleh bukti-bukti bahwa valerian dapat menginhibisi uptake dan menstimulasi pelepasan GABA. Selain itu, akar valerian juga diidentifikasi sebagai agonis parsial reseptor adenosin dan serotonin. Valerian juga dikonfirmasi sebagai agonis parsial reseptor 5-hidroksitriptamin 2A (5- HT2A) yang berakibat pada meningkatnya pelepasan melatonin (Nobahar et al., 2021).
Berdasarkan data uji klinis, urutan tumbuhan yang memiliki efektivitas dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah dinilai berdasarkan efek yang dihasilkan dan dosis adalah Viola odorata, Valeriana officinalis, Mimosa pudica, dan Passiflora incarnata. Viola odorata dinilai memiliki efektivitas paling tinggi karena Viola odorata dapat meningkatkan durasi dan kualitas tidur pada pasien insomnia kronis dengan dosis terkecil dibandingkan dengan tiga tumbuhan lainnya (33 mg/tetes minyak esensial). Berikutnya, Valeriana officinalis dapat meningkatkan kualitas tidur serta menurunkan skor ansietas dan depresi dengan dosis 530 mg/kapsul. Pada urutan ketiga, terdapat Mimosa pudica yang dapat meningkatkan rata-rata durasi tidur harian dengan dosis 200 ml rebusan. Pada urutan terakhir, terdapat Passiflora incarnata yang dapat meningkatkan kualitas tidur dengan dosis 2 g/250 mL.
KESIMPULAN
Berdasarkan kajian seluruh literatur yang memuat bukti khasiat empiris, didapatkan 41 tumbuhan
Indonesia yang memiliki aktivitas hipnotik sedatif. Berdasarkan kajian seluruh pustaka penelitian uji klinis, didapatkan 4 tumbuhan Indonesia yang memiliki aktivitas hipnotik sedatif yaitu Viola odorata L., Mimosa pudica L., Passiflora incarnata, dan Valeriana officinalis. Mekanisme umum yang dimiliki oleh tumbuhan tersebut dalam memberikan efek hipnotik sedatif adalah sebagai agonis reseptor GABA.
Kekuatan dan Keterbatasan Penelitian
Kekuatan dari penelitian ini adalah digunakannya berbagai sumber bukti empiris dari literatur yang komprehensif (buku dan artikel ilmiah) dalam mengumpulkan data tumbuhan Indonesia yang dapat menangani gangguan tidur. Selain itu, didapatkan pula data tumbuhan Indonesia yang memiliki aktivitas hipnotik sedatif berdasarkan data uji klinis sehingga kombinasi kedua data tersebut dapat digunakan untuk menentukan tumbuhan yang memiliki aktivitas hipnotik sedatif paling efektif. Keterbatasan dari penelitian ini adalah adanya kemungkinan selection bias pada proses pencarian artikel karena hanya mengikutsertakan artikel yang tidak berbayar sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa jika artikel berbayar diikutsertakan maka data yang diperoleh akan lebih lengkap. Selain itu, pada penelitian ini juga tidak diikutsertakan pustaka atau artikel yang bersumber dari grey literature seperti laporan ilmiah yang tidak dipublikasi, tesis, dan lain-lain. Jika pustaka tersebut diikutsertakan maka dapat memperkaya hasil penelitian.
Implikasi Praktis dan Kegunaan Penelitian
Implikasi praktis dari penelitian ini adalah untuk dapat digunakan sebagai acuan bagi peneliti di masa depan yang akan melakukan uji pre klinis ataupun uji klinis mengenai aktivitas hipnotik sedatif tumbuhan Indonesia sehingga selanjutnya dapat dilakukan pengujian di laboratorium ataupun uji klinis dengan desain studi yang lebih komprehensif misalnya dengan desain randomized controlled trial dan dengan jumlah partisipan yang memadai. Kegunaan dari hasil penelitian ini adalah untuk menginventarisasikan data tumbuhan Indonesia yang memiliki aktivitas hipnotik sedatif dan diharapkan di masa depan pengobatan insomnia dapat diupayakan menggunakan obat
herbal sehingga efek samping yang diberikan minimal namun tetap berkhasiat.
DAFTAR PUSTAKA
Amoateng, P., Adjei, S., Osei-safo, D., Kukuia, K. K. E., Bekoe, E. O., Karikari, T. K., and Kombian, S. B, 2017, Extract of Synedrella nodiflora (L) Gaertn exhibits antipsychotic properties in murine models of psychosis, BMC Complement Altern Med 17(1): 1Ȃ14. https://doi.org/10.1186/s12906-017-1901-2
Ansari, M., Kh, R., Yasa, N., Vardasbi, S., Naimi, S. M., and Nowrouzi, A, 2010, Measurement of melatonin in alcoholic and hot water extracts of Tanacetum parthenium, Tripleurospermum disciforme and Viola odorata, Daru 18(3): 173Ȃ178.
Carratù, B., Boniglia, C., Giammarioli, S., Mosca, M., and Sanzini, E, 2008, Free amino acids in botanicals and botanical preparations, J Food Sci, 73(5): 323Ȃ328. https://doi.org/10.1111/j.1750-3841.2008.00767.x
Chuang, S.-H., and Reddy, D. S, 2018, Genetic and Molecular Regulation of Extrasynaptic GABA-A Receptors in the Brain: Therapeutic Insights for Epilepsy, J Pharmacol Exp Ther 364(2): 180 LP Ȃ 197. https://doi.org/10.1124/jpet.117.244673
Darko, A, 2010, A survey of indigenous knowledge about food and medicinal properties of Solanum torvum in East Akim District of Eastern Region of Ghana, Ghana J Agric Sci, 43(1): 61Ȃ64.
Elsas, S. M., Rossi, D. J., Raber, J., White, G., Seeley, C. A., Gregory, W. L., Mohr, C., Pfankuch, T., and Soumyanath, A, 2010, Passiflora incarnata L. (Passionflower) extracts elicit GABA currents in hippocampal neurons in vitro, and show anxiogenic and anticonvulsant effects in vivo, varying with extraction method, Phytomedicine 17(12): 940Ȃ949. https://doi.org/10.1016/j.phymed.2010.03.002
Feyzabadi, Z., Jafari, F., Kamali, S. H., Ashayeri, H., Aval, S. B., Esfahani, M. M., and Sadeghpour, O, 2014, Efficacy of Viola odorata in treatment of chronic insomnia, Iran Red Crescent Med J, 16(12): e17511. https://doi.org/10.5812/ircmj.17511
Gupta, P, 2016, Bixa orellana: A Review on phytochemistry, traditional and Pharmacological Uses, World J Pharm Sci, 4(3): 500Ȃ510.
Haaz, S., Williams, K., Fontaine, K., and Allison, D, 2010, PDR for Herbal Medicines, Encyclopedia of Dietary Supplements, Second Edition, 52Ȃ59. https://doi.org/10.1201/b14669-9
Hartini, L., Destariyani, E., Serilaila, Mariati, Yanniarti, S., Ismiati, and Maigoda, T. C, 2017, Effectiveness of Giving Putri Malu Leaf ( Mimosa pudica Linn ) and Kangkung Leaf ( Ipomoea reptans ) in Overcoming Insomnia on Pre-menapousal Women, Int J Sci Basic Appl Res 36(4): 105Ȃ112.
Hejazian, M. S., Ganjloo, J., Ghorat, F., and Rastaghi, S, 2018, Effect of Viola odorata Nasal Drop on Sleep Quality of Older Adults, J Res Med Dent Sci, 6(2): 107Ȃ 111. https://doi.org/10.5455/jrmds.20186215
Ingale, A. G., and Hivrale, A. U, 2010, Pharmacological studies of Passiflora sp. and their bioactive compounds, Afr J Plant Sci 4(10): 417Ȃ426.
Islam, M, 2019, Food and Medicinal Values of Roselle (Hibiscus sabdariffa L . Linne Malvaceae Ȍ Plant Parts᩿: A Review, Open J Nutr Food Sci. 1 (1): 1003.
Jakaria, M., Clinton, C., Islam, M., Talukder, M., Islam, S., Tareq, S. M., and Shaikh Bokhtear, U, 2017, In vivo sedative and hypnotic activities of methanol extract from the leaves of Jacquemontia paniculata (Burm.f.) Hallier f. In Swiss Albino mice, J Basic Clin Physiol Pharmacol 28 (2): 115 Ȃ 121. https://doi.org/10.1515/jbcpp-2016-0073
Junilla, R., Tinia, S., Suhendra, A., Drg, J. P., Sumantri, S., Indonesia, B., and Stuart, M, 2013, Pengaruh Kangkung (Ipomoea aquatica) terhadap Waktu Reaksi Sederhana Wanita Dewasa, Tesis, Universitas Kristen Maranatha, Bandung.
Khatun, M. A., Harun-Or-Rashid, M., and Rahmatullah, M, 2011, Scientific validation of eight medicinal plants used in traditional medicinal systems of Malaysia: A review, Am J Sustain Agric 5(1): 67Ȃ75.
Kumar, A., Lingadurai, S., Jain, A., and Barman, N, 2010, Erythrina variegata Linn: A review on morphology, phytochemistry, and pharmacological aspects, Pharmacogn Rev 4(8): 147Ȃ152. https://doi.org/10.4103/0973-7847.70908
Kumar, A, 2020, Phytochemistry, pharmacological activities and uses of traditional medicinal plant Kaempferia galanga L. Ȃ An overview, J
Ethnopharmacol 253: 112667. https://doi.org/10.1016/j.jep.2020.112667
Kumar, Amit, Partap, S., Sharma, N. K., and Jha, K. K, 2012, Phytochemical, Ethnobotanical, and Pharmacological Profile of Lagenaria siceraria: A Review, J Pharmacogn Phytochem 1(3): 24Ȃ31.
Kumari, R., Rathi, B., Rani, A., and Bhatnagar, S, 2013, Rauvolfia serpentina L. Benth. ex Kurz.: Phytochemical, Pharmacological and Therapeutic Aspects, Int J Phar Sci Rev Res 23(2): 348Ȃ355.
Lin, S. S., Nie, B., Ye, R., Communication, S., Maroo, N., Hazra, A., Das, T., Lee, K., Tsai, Y., Lai, J., Lin, S. S., Id, M. W., Elayeh, E., Tubeileh, R., Hammad, E. A., Kim, G. H., Kim, Y., Yoon, S., Kim, S. J., Yi, S. S., Damjuti, W., Kwansang, J., Boonruab, J., Luo, H., Sun, S., Wang, Y. Y., and Wang, Y. Y, 2019, Effect of Thai traditional antinausea remedy on hypnotic and sedative activity in animal experimental models: Interaction with drugs acting at GABAA receptor, J Adv Pharm Technol Res 10(1): 85Ȃ89. https://doi.org/10.1002/fsn3.1341
Linfang, H., Shilin, C., and Meihua, Y, 2012, Euphorbia hirta (Feiyangcao): A review on its ethnopharmacology, phytochemistry and pharmacology, J Med Plants Res, 6(39): 5176Ȃ5185. https://doi.org/10.5897/jmpr12.206
Makhija, I. K., Chandrashekar, K. S., Richard, L., and Jaykumar, B, 2011, Phytochemical and pharmacological profile of Leucas lavandulaefolia: A review, Res J Med Plant, 5(5): 500Ȃ507. https://doi.org/10.3923/rjmp.2011.500.507
Mishra, S., Kumar Dash, D., Kumar Das, A., and Subhrajyoti Mishra, C, 2018, South Indian leafy vegetable Gongura (Hibiscus sabdariffa L.) as an important medicinal herb: a review, J Pharmacogn Phytochem 1.
Nagendra Prasad, K., Shivamurthy, G. R., and Aradhya, S. M, 2008),Ipomoea aquatica, an underutilized green leafy vegetable: A review, Int J Bot 4(1): 123 Ȃ 129. https://doi.org/10.3923/ijb.2008.123.129
Ngan, A., and Conduit, R. ȋʹͲͳͳȌ: A Double - blind , Placebo - controlled Investigation of the Effects of Passiflora incarnata (Passion flower) Herbal Tea on Subjective Sleep Quality, Phytother Res 25(8):1153- 1159.
Nobahar, M., Tammadon, M. R., Naieni, Z. H., Ebrahimian, R. G., and Vafaei, A. A, 2021, The effects of Valerian on sleep quality, depression and state anxiety in hemodialysis patients: A randomized, double-blind, crossover, clinical trial, Oman Med J 36(2): 1Ȃ21. https://doi.org/10.5001/omj.2021.56
Ono, D., Honma, K. ichi, Yanagawa, Y., Yamanaka, A., and Honma, S, 2018, Role of GABA in the regulation of the central circadian clock of the suprachiasmatic nucleus, J Physiol Sci 68(4): 333Ȃ343. https://doi.org/10.1007/s12576-018-0604-x
Pandey, M., Debnath, M., Gupta, S., and Chikara, S. K, 2011, Phytomedicine: An ancient approach turning into future potential source of therapeutics, J Pharmacogn Phytother 3(2): 27Ȃ37.
Pattanaik, J., Sharma Ayurveda Mahavidhalya, D., Pradesh, U., Yogesh Kumar, I., Shankar Khatri, R., and Kumar, Y, 2013, Acorus calamus Linn.: A herbal tonic for central nervous system, J Sci Innov Res 2(5): 950Ȃ 954.
Peranginangin, J. M., Soemardji, A. A., I, K. A., and D, D. D, 2013, Therapeutic potency of Solanum torvum Swartz on benign prostatic hyperplasia treatment᩿: A review, Int J Res Phytochem Pharmacol 3: 121Ȃ127.
Pratama Putra, I., Dharmayudha, A., and Sudimartini, L, 2017, Identifikasi Senyawa Kimia Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa oleifera L) di Bali, Indones Med Veterinus 5(5): 464Ȃ473.
Putri, V. A., . Z., Asra, R., and Chandra, B, 2020, Overview of Phytochemical and Pharmacological of Gandarussa Extract (Justicia gendarussa Burm), EAS J Pharm Pharmacol 2(5): 180Ȃ185. https://doi.org/10.36349/easjpp.2020.v02i05. 003
Rahul, J, 2013, An ethnobotanical study of medicinal plants in Taindol village, district Jhansi, Region of Bundelkhand, Uttar Pradesh, India, J Med Plants Stud 1(5): 59Ȃ71.
Rengifo-Salgado, E., and Vargas-Arana, G, 2013, Physalis angulata L. (Bolsa mullaca): A review of its traditional uses, chemistry and pharmacology, Bol Estud Latinoam Caribe 12(5) 431Ȃ445.
Ronicely, P. R., Evandro, de C. M., Ricardo, H. S. dos S., Paulo, R. C., Rivanildo, D., and Adalberto, 2014, Influence of plant age on the content and composition of essential oil of Cymbopogon citratus (DC.) Stapf., J Med Plants Res 8(37): 1121Ȃ1126. https://doi.org/10.5897/jmpr2013.5549
Ruan, W., Yuan, X., and Eltzschig, H. K, 2021, Circadian rhythm as a therapeutic target, Nat Rev Drug Discov 20(4): 287Ȃ307. https://doi.org/10.1038/s41573- 020-00109-w
Sangam, S., Naveed, A., Athar, M., Prathyusha, P., Moulika, S., and Lakshmi, S, 2015, Botanical Description, Phytochemical Constituents and Pharmacological Properties of Euphorbia hirta Linn: A Review, Int J Health Sci Res 5(1): 156Ȃ164.
Sharma, M., Sahu, S., Khemani, N., and Kaur, R, 2013, Ayurvedic Medicinal Plants as Psychotherapeutic Agents-A Review, Int J Appl Biol Pharm Technol 4(2): 214Ȃ218.
Singh, J., Baghotia, A., and Goel, S. P, 2012, Eugenia caryophyllata Thunberg (Family Myrtaceae): A Review, Int J Res Phar Biomed Sci 3(4): 1469Ȃ1475.
Sujarwo, W., Keim, A. P., Savo, V., Guarrera, P. M., and Caneva, G, 2015, Ethnobotanical study of Loloh: Traditional herbal drinks from Bali (Indonesia) J Ethnopharmacol 169: 34Ȃ48. https://doi.org/10.1016/j.jep.2015.03.079
Suratman, Pitoyo, A., Mulyani, S., and Suranto, 2015, Assesment of genetic diversity among soursop (Annona muricata) populations from Java, Indonesia using RAPD markers, Biodiversitas J Biol Divers 16(2): 247Ȃ253. https://doi.org/10.13057/biodiv/d160220
Taavoni, S., Ekbatani, N., Kashaniyan, M., and Haghani, H, 2011, Effect of valerian on sleep quality in postmenopausal women: A randomized placebocontrolled clinical trial, Menopause 18(9): 951Ȃ955. https://doi.org/10.1097/gme.0b013e31820e9acf
Vishwavidyalaya, D. S, 2017, Holistic Health Potential of Indian Pennywort (Centella asiatica(L.), Int J Dev Res 07: 17725Ȃ17728.
Wohlmuth, H., Penman, K. G., Pearson, T., and Lehmann, R. P, 2010, Pharmacognosy and chemotypes of passionflower (Passiflora incarnata L.), Biol Pharm Bull 33(6): 1015Ȃ1018. https://doi.org/10.1248/bpb.33.1015
Yeo, Y. S., Nybo, S. E., Chittiboyina, A. G., Weerasooriya, A. D., Wang, Y. H., Góngora-Castillo, E., Vaillancourt, B., Buell, C. R., Dellapenna, D., Celiz, M. D., Daniel Jones, A., Wurtele, E. S., Ransom, N., Dudareva, N., Shaaban, K. A., Tibrewal, N., Chandra, S., Smillie, T., Khan, I. A., Coates, R. M., Watt, D. S., and Chappell, J. (2013): Functional identification of valerena-1,10-diene synthase, a terpene synthase catalyzing a unique chemical cascade in the biosynthesis of biologically active sesquiterpenes in Valeriana officinalis, J Biol Chem 288(5): 3163Ȃ3173. https://doi.org/10.1074/jbc.M112.415836
Zhao, D. D., Jiang, L. L., Li, H. Y., Yan, P. F., and Zhang, Y. L, 2016, Chemical components and pharmacological activities of terpene natural products from the genus Paeonia, Molecules 21(10): 1362. https://doi.org/10.3390/molecules21101362
