PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara dengan hutan tropis terluas kedua di dunia dan mempunyai tanaman yang sangat beragam sehingga dikenal sebagai salah satu dari tujuh negara "megabiodiversity". Distribusi tanaman berbunga di hutan tropis Indonesia lebih dari 30.000 spesies dari total sekitar 12% tanaman berbunga dari 250.000 spesies di seluruh dunia. Keanekaragaman spesies yang begitu besar menyimpan potensi tanaman kaya nutrisi untuk dieksplorasi dan digunakan. Pusat Pemantauan Konsevasi Dunia menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara dimana banyak jenis tanaman obat dapat ditemui, bahkan jumlah tanaman yang telah digunakan mencapai 2.518 spesies (Purwadi et al., 2015)
Salah satu tanaman yang berkhasiat sebagai obat dan sering digunakan oleh masyarakat Indonesia adalah bawang putih (Andayani & Kurniawan, 2017). Bawang putih yang dipanaskan selama 5-45 haripada suhu 70°C dengan kelembaban relatif 70- 80% tanpa pengolahan tambahan apapun disebut dengan bawang hitam (Wang et al., 2012).
Berdasarkan kajian etnomedisin yang dilakukan oleh Badan Litbang Kesehatan pada tahun 2015 di etnis Osing Provinsi Jawa Timur, bawang putih sering kali digunakan sebagai obat untuk mengatasi asam urat (Purwadi et al., 2015) yang dapat menyebabkan peradangan atau inflamasi (Sumarya & Suanda, 2021).
Inflamasi atau peradangan merupakan rangkaian peristiwa yang dikenal sebagai respon terhadap rangsangan berbahaya, infeksi, trauma, atau cedera pada jaringan hidup. Inflamasi dapat disebabkan oleh adanya aktivasi enzim, pelepasan mediator, ekstravasasi cairan, migrasi sel, kerusakan jaringan, dan proses perbaikan. Proses terjadinya inflamasi dimulai dengan terlepasnya sel darah putih sebagai tindakan perlindungan terhadap cedera. Sel darah putih ini mensintesis beberapa biomolekul dan melepaskannya setelah cedera yang menyebabkan pembengkakan dan kemerahan (Lalrinzuali et al., 2016).
Inflamasi dapat diatasi dengan pemberian antiinflamasi. Antiinflamasi terdiri dari dua kelompok obat yaitu kelompok steroid dan nonsteroid.
Kelompok obat steroid bekerja dengan menghambat enzim fosfolipase A2 sehingga pembentukan prostaglandin juga terhambat, sedangkan kelompok non steroid bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase. Penggunaan jangka panjang dari antiinflamasi steroid dapat menimbulkan berbagai macam efek iritasi saluran cerna, kerusakan ginjal, depresi, pusing, dan peradangan pada pankreas (Dewi et al., 2015). Sedangkan antiinflamasi nonsteroid dapat menyebabkan efek samping pada saluran gastrointestinal (Saputri & Zahara, 2016).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi bawang putih segar dan bawang hitam pada tikus putih yang diinduksi karagenan serta melihat dosis yang paling efektif sebagai antiinflamasi dari bawang putih segar dan bawang hitam.
METODE
Alat dan bahan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi freeze dryer, pletismometer, alat suntik, sonde oral, panci infusa, timbangan analitik (Ohaus AR 3130® ), timbangan hewan, alat-alat gelas (Iwaki® , Pyrex® ), dan inkubator (Memmert® ). Sementara bahan-bahan yang digunakan adalah bawang putih (No. determinasi: 3110/1T1.C11.2 /TA.00/2022), bawang hitam, lambda karagenan 1%, aquadest, natrium diklofenak (Renadinac® ), dan NaCl fisiologis 0,9%.
Hewan Uji
Hewan uji yang digunakan adalah tikus putih jantan galur Wistar dengan bobot badan 150-200 gram yang berumur 2 bulan dalam kondisi sehat (Luliana et al., 2017). Hewan uji diperoleh dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung.
Penyiapan Bahan
Penyiapan bahan dilakukan dengan meliputi pengumpulan bahan, determinasi, dan pengolahan bahan. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari daerah Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung. Determinasi bahan dilakukan di Herbarium Bandungense, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung. Pengolahan bahan meliputi sortasi basah, kemudian dilakukan pencucian menggunakan air bersih yang mengalir, selanjutnya umbi dirajang dan dikeringkan menggunakan lemari pengering simplisia dengan suhu 40°C. Simplisia yang sudah kering kemudian dilakukan sortasi kering dan dihaluskan dengan derajat kehalusan tertentu lalu disimpan dalam wadah yang bersih dan tertutup rapat (Depkes RI, 1985).
Pembuatan Bawang Hitam
Sebanyak 2 kg bawang putih dibungkus alumunium foil dan dimasukkan ke dalam alat penanak nasi. Untuk menghindari kerusakan bentuk pada bawang hitam yang diperoleh, dilakukan penataan yang rapih dan tidak saling tindih. Selanjutnya alat penanak nasi ditutup dan diatur dalam mode tetap hangat (suhu 67°C) lalu dibiarkan selama 7 hari. Setelah 7 hari, bawang Putih yang sudah menjadi hitam dikeluarkan dan dipilih yang memiliki kulit siung yang tidak gosong (Wiratma et al., 2017; Yudhayanti et al., 2020).
Pembuatan Ekstrak
Bawang putih segar dan bawang hitam yang telah dikeringkan dan dibuat serbuk kemudian diekstraksi dengan metode infusa menggunakan pelarut air dengan perbandingan 1:10 yang dilakukan selama 15 menit dengan waktu dimulai ketika sudah berada pada suhu 90°C. Setelah itu, hasil rebusan disaring hingga diperoleh filtrat. Filtrat yang diperoleh pada bawang putih segar dan bawang hitam kemudian dikeringkan menggunakan alat pengering beku (Luliana et al., 2017).
Pemeriksaan Karakteristik Simplisa
Pemeriksaan karakteristik simplisia dilakukan untuk mendapatkan sediaan yang terjamin kualitasnya. Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan meliputi pemeriksaan kadar air, susut pengeringan, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar abu total, dan kadar abu tidak larut asam (Kementerian Kesehatan RI & Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2017).
Penapisan Fitokimia
Penapisan fitokimia bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam simplisia dan ekstrak kering bawang putih segar dan bawang hitam. Penapisan fitokimia dilakukan meliputi penentuan senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid/triterpenoid dan kuinon (Harborne, 1987).
Uji Aktivitas Antiinflamasi
Pengujian aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan membagi 6 kelompok secara acak yang terdiri dari kelompok kontrol (suspensi serbuk gom arab 1%), kelompok pembanding (natrium diklofenak 50 mg/70kg BB), kelompok uji I (infusa bawang putih 100 mg/kg BB), kelompok uji II (infusa bawang putih 300 mg/kg BB), kelompok uji III (infusa bawang hitam 100 mg/kg BB), dan kelompok uji IV (infusa bawang hitam 300 mg/kg BB) dimana masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus. Sebelum percobaan, tikus dipuasakan selama 18 jam namun tetap diberikan air minum. Setiap tikus diberi tanda pada ekor untuk membedakan tikus satu dengan tikus yang lain dan diberi tanda dengan menggunakan spidol pada kaki kiri belakang tikus agar pada saat dimasukan ke dalam pletismometer selalu sama. Kemudian dilakukan pengukuran pada telapak kaki kiri tikus dan dinyatakan sebagai volume awal (V0). Selanjutnya, tikus diberikan sediaan oral dan setelah 30 menit setiap kelompok perlakuan diiinduksi dengan suspensi karagenan 1% b/v sebanyak 0,2 ml. Kemudian dilakukan pengukuran volume edema dengan melihat pergeseran skala pada alat setiap satu jam sekali selama 6 jam dan setelah 24 jam sebagai Vt(Saputri & Zahara, 2016; Isrul et al., 2020). Persentase radang dan inhibisi radang dapat dihitung dengan rumus berikut:
\[Persenradang = \frac{Vt - V0}{V0} \times 100\%\]
Dimana:
Vt = Volume radang setelah waktu t
V0 = Volume awal kaki tikus
\[Perseninhibisiradang = \frac{a-b}{a} \times 100\%\]
Dimana:
a = Rata-rata persen radang kelompok kontrol
b = Rata-rata persen radang kelompok perlakuan uji atau pembanding
Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji ANOVA (Analisis of Variance) satu arah untuk melihat adanya perbedaan kemudian dilanjutkan dengan uji LSD (Least Significant Difference) untuk melihat perbedaan secara nyata dari masingmasing kelompok perlakuan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemeriksaan Karakteristik Simplisia
Pemeriksaan karakteristik simplisia bawang putih segar dan bawang hitam bertujuan untuk menentukan kualitas atau standar mutu simplisia sehingga simplisia tersebut layak untuk digunakan. Hasil pemeriksaan meliputi kadar air, susut pengeringan, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar abu total, dan kadar abu tidak larut asam pada bawang putih memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Farmakope Herbal Indonesia (Kementerian Kesehatan RI & Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2017). Berdasarkan hasil yang diperoleh pada bawang hitam, belum ada standar mutu pada pemeriksaan karakteristik simplisianya, namun jika dilihat berdasarkan standar mutu pada bawang putih seluruh pemeriksaannya memenuhi persyaratan
sesuai dengan standar Farmakope Herbal Indonesia (FHI) (Kementerian Kesehatan RI & Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2017).
Penapisan Fitokimia
Penapisan fitokimia dilakukan pada simplisia serta ekstrak bawang putih segar dan bawang hitam untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder. Simplisia dan ekstrak dari bawang putih dan bawang hitam positif mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, dan kuinon. Senyawa metabolit sekunder yang diduga memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi adalah flavonoid. Flavonoid bekerja dengan menghambat enzim fosfolipase, siklooksigenase dan lipoksigenase yang berperan dalam produksi prostanoid, leukotrien dan prostaglandin sebagai mediator inflamasi (Suwandi et al., 2021).
Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Karakteristik Simplisia Bawang Putih dan Bawang Hitam
| Pemeriksaan | Simplisia bawang putih | Simplisia bawang hitam | ||
|---|---|---|---|---|
| Hasil (%) | Standar FHI (%) | Hasil (%) | ||
| Kadar air | 4 | Tidak lebih dari 10 | 2 | |
| Susut pengeringan | 4,60 | Tidak lebih dari 10 | 3,91 | |
| Kadar sari larut air | 50,55 | Tidak kurang dari 5 | 62,44 | |
| Kadar sari larut etanol | 48,67 | Tidak kurang dari 4 | 49 | |
| Kadar abu total | 0,31 | Tidak lebih dari 3 | 0,51 | |
| Kadar abu tidak larut asam | 0,14 | Tidak lebih dari 1 | 0,13 | |
Keterangan:
FHI = Farmakope Herbal Indonesia
Tabel 2. Hasil Penapisan Fitokimia Simplisia dan Ekstrak Bawang Putih dan Bawang Hitam
| Bawang Putih | Bawang Hitam | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| Pemeriksaan | Simplisia | Ekstrak | Simplisia | Ekstrak | |
| Alkaloid | + | + | + | + | |
| Flavonoid | + | + | + | + | |
| Saponin | + | + | + | + | |
| Kuinon | + | + | + | + | |
| Tanin | - | - | - | - | |
| Steroid/Triterpenoid | - | - | - | - | |
Keterangan:
Pengujian Aktivitas Antiinflamasi
Pengujian aktivitas antiinflamasi infusa bawang putih segar dan bawang hitam dilakukan dengan metode pembengkakan telapak kaki tikus buatan (paw edema) yang dimodifikasi dengan cara penyuntikan induksi suspensi karagenan 1% dalam larutan NaCl 0,9% pada telapak kaki tikus
secara intraplantar. Aktivitas antiinflamasi ditunjukkan oleh kemampuannya dalam menekan peradangan sehingga mengurangi volume pembengkakan pada telapak kaki tikus yang diinduksi karagenan. Hasil rata-rata persentase radang setiap kelompok dari tiap waktu pengamatan dapat dilihat pada tabel 3.
+ = Terdeteksi
= Tidak terdeteksi
Tabel 3. Rata-rata Persen Radang (%) Telapak Kaki Tikus Setiap Waktu Pengamatan
| Kelompok | Rata-rata persen radang (%) telapak kaki tikus setiap waktu pengamatan (jam) | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Perlakuan | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 24 |
| Kontrol PGA 1% | 112 ±17,89 | 148 ±26,83 | 192 ±22,80 | 228 ±41,47 | 244 ±43,36 | 268 ±33,47 | 100 ±24,49 |
| Natrium diklofenak 50 mg/70kg BB | 72 ±30,33* | 84 ±29,66* | 92 ±30,33* | 100 ±42,43* | 88 ±41,47* | 64 ±47,75* | 32 ±22,80* |
| Infusa bawang putih 100 mg/kg BB | 100 ±28,28 | 132 ±22,80 | 148 ±26,83* | 140 ±61,64* | 100 ±20,00* | 76 ±29,66* | 64 ±29,66 |
| Infusa bawang putih 300 mg/kg BB | 88 ±26,08 | 136 ±32,86 | 160 ±40,00 | 140 ±20,00* | 100 ±24,49* | 84 ±26,08* | 40 ±31,62* |
| Infusa bawang hitam 100 mg/kg BB | 84 ±26,08 | 116 ±47,75 | 168 ±41,47 | 136 ±26,08* | 128 ±43,82* | 88 ±33,47* | 56 ±32,86* |
| Infusa bawang hitam 300 mg/kg BB | 96 ±16,73 | 96 ±26,08* | 124 ±32,86* | 116 ±21,91* | 100 ±20,00* | 88 ±17,89* | 52 ±22,80* |
Keterangan:
* = berbeda bermakna terhadap kelompok kontrol (p<0,05)

Gambar 1. Rata-rata persen inhibisi radang (%) Setiap Waktu Pengamatan
Keterangan:
Pembanding = Natrium diklofenak 50 mg/70KgBB IBP 100 mg/KgBB = Infusa bawang putih 100 mg/KgBB IBP 300 mg/KgBB = Infusa bawang putih 300 mg/KgBB IBH 100 mg/KgBB= Infusa bawang hitam 100 mg/KgBB IBH 300 mg/KgBB= Infusa bawang hitam 300 mg/KgBB
Berdasarkan data tabel 3 menunjukkan bahwa sediaan natrium diklofenak memiliki aktivitas antiinflamasi yang ditandai dengan menurunkan persen radang berbeda bermakna secara statistik dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05) pada semua titik pengamatan. Dengan demikian, maka metode yang digunakan dapat dinyatakan valid dan dapat digunakan dalam pengujian aktivitas antiinflamasi. Kemudian infusa bawang putih 100
mg/kg BB menunjukkan hasil yang berbeda bermakna secara statistik terhadap kelompok kontrol (p<0,05) yaitu pada jam ke-3 sampai jam ke-6. Infusa bawang putih 300 mg/kg BB dan infusa bawang hitam 100 mg/kg BB juga menunjukkan hasil yang berbeda bermakna secara statistik terhadap kelompok kontrol (p<0,05) pada jam ke-4 sampai jam ke-6 dan setelah 24 jam. Infusa bawang hitam 300 mg/kg BB menunjukkan
hasil yang berbeda bermakna terhadap kelompok kontrol (p<0,05) pada jam ke-2 sampai jam ke-6 dan setelah 24 jam. Hal tersebut menunjukkan bahwa setiap dosis dari infusa bawang putih dan bawang hitam memiliki aktivitas antiinflamasi yang dapat dilihat berdasarkan kemampuannya dalam menekan peradangan sehingga mengurangi volume radang yang disebabkan oleh penyuntikan induksi karagenan 1% secara intraplantar.
Persen inhibisi radang menunjukkan kemampuan pembanding dan sediaan uji dalam menekan volume radang yang disebabkan oleh proses inflamasi. Persen inhibisi radang dihitung dengan membandingkan rata-rata kelompok kontrol dan rata-rata kelompok pembanding atau sediaan uji.
Berdasarkan nilai persen inhibisi radang dapat dikatakan bahwa pembanding natrium diklofenak dan sediaan uji dapat menekan peradangan dengan baik. Hasil yang diperoleh menunjukkan kelompok pembanding mampu menghambat radang terbesar pada jam ke-6 yaitu sebesar 75,98% dan terkecil pada jam ke-1 sebesar 35,9% dengan rata-rata persen inhibisi radang yaitu sebesar 55,36%. Infusa bawang putih 100 mg/kg BB mampu menghambat radang terbesar pada jam ke-6 sebesar 70,50% dan terkecil pada jam ke-1 sebesar 10,38% dengan rata-rata persen inhibisi yaitu sebesar 33,97%. Infusa bawang putih 300 mg/kg BB mampu menghambat radang terbesar pada jam ke-6 sebesar 67,43% dan terkecil pada jam ke-1 sebesar 21,05% dengan rata-rata persen inhibisi yaitu sebesar 37,21%. Infusa bawang hitam 100 mg/kg BB mampu menghambat radang terbesar pada jam ke-6 sebesar 66,09% dan terkecil pada jam ke-1 sebesar 25% dengan rata-rata persen inhibisi yaitu sebesar 35,08%. Infusa bawang hitam 300 mg/kg BB mampu menghambat radang terbesar pada jam ke-6 sebesar 67,83% dan terkecil pada jam ke-1 sebesar 13.05% dengan rata-rata persen inhibisi yaitu sebesar 42,38%.
Semakin bertambahnya dosis semakin tinggi pula persen penghambatannya sehingga aktivitas antiinflamasinya semakin besar. Sediaan uji infusa bawang hitam 300 mg/KgBB memiliki persen inhibisi radang terbesar dibanding sediaan uji bawang putih segar. Hal tersebut diduga terjadi karena pada bawang hitam mengalami
peningkatan kandungan S-allyl cysteine (SAC) dan flavonoid dibandingkan dengan bawang putih segar biasa. Kandungan S-allyl cysteine (SAC) pada bawang hitam dapat meningkat hingga lima sampai enam kali lebih tinggi pada saat proses fermentasi dibandingkan dengan bawang putih segar (Bae et al., 2014). SAC dan flavonoid diduga berperan dalam aktivitas antiinflamasi bawang putih ataupun bawang hitam.
Ekstrak air bawang hitam juga telah dibuktikan memiliki aktivitas antiinflamasi dengan menghambat produksi nitrit oksida (NO) dan sitokin proinflamasi, termasuk TNFα dan prostaglandin serta menekan ekspresi NO sintase dan COX-2 (Tran et al., 2019).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa infusa bawang putih segar dosis 100 dan 300 mg/kg BB serta infusa bawang hitam dosis 100 dan 300 mg/kg BB memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi. Infusa bawang hitam 300 mg/KgBB memiliki aktivitas antiinflamasi yang paling besar dan lebih cepat dibandingkan infusa bawang putih.
DAFTAR PUSTAKA
Andayani D, Kurniawan, R. (2017). Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol Bawang Putih Tunggal (Allium sativum L.) terhadap Jamur (Candida Albicans). Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, 2(1), 15–19. https://doi. org/10.31227/osf.io/gucwn
Bae SE, Cho SY, Won YD, Lee SH, Park HJ. (2014). Changes in S-allyl cysteine contents and physicochemical properties of black garlic during heat treatment. LWT - Food Science and Technology, 55(1), 397–402. https://doi.org/10.1016/j.lwt.2013. 05.006
Depkes RI. (1985). Cara Pembuatan Simplisia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1985. 7– 22.
Dewi AATS, Puspawati N, Suarya P. (2015). Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Eter Kulit Batang Tenggulun (Protium javanicum Burm) Terhadap Edema Pada Tikus Wistar. Jurnal Kimia, 9, 13–19.
Harborne J. (1987). Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan (K. Padmawinata & I. Soediro (eds.); 2nd ed.). Penerbit ITB.
Isrul M, Dewi C, Wahdini V. (2020). Uji Efek Antiinflamasi Infusa Daun Bayam Merah (Marantus tricolor L.) Terhadap Tikus Putih (Rattus norvegicus) Yang Diinduksi Karagenan. Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia, 6(2), 97–103.
Kementerian Kesehatan RI, & Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan. (2017). Farmakope Herbal Indonesia. Kementerian Kesehatan RI (2nd ed.).
Lalrinzuali K, Vabeiryureilai M, Jagetia GC. (2016). Investigation of the Anti-Inflammatory and Analgesic Activities of Ethanol Extract of Stem Bark of Sonapatha Oroxylum indicum in Vivo. International Journal of Inflammation, 2016. https://doi.org/ 10.1155/2016/8247014
Luliana S, Susanti R, Agustina E. (2017). Uji Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Air Herba Ciplukan (Physalis angulata L.) terhadap Tikus Putih (Rattus norvegicus L.) Jantan Galur Wistar yang Diinduksi Karagenan. Trad Med J, 22(3), 199–205.
Purwadi, Kriswiyanti E, Aliffiati, Wahyuni IGAS, Ningsih DP. (2015). Riset Khusus Eksplorasi Pengetahuan Lokal Etnomedisin dan Tumbuhan Obat Berbasis Komunitas Di Indonesia (Etnis Osing Provinsi Jawa Timur). Kementerian Kesehatan RI Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Obat Dan Obat Tradisional, 1–35.
Saputri F, Zahara R. (2016). Uji Aktivitas Anti-Inflamasi Minyak Atsiri Daun Kemangi (Ocimum americanum L.) pada Tikus Putih Jantan yang Diinduksi Karagenan. Pharmaceutical Sciences and Research, 3(3), 107–119. https://doi.org/10.7454/psr.v3i3.3619
Sumarya IM, Suanda IW. (2021). Asam Urat menginduksi Respon Inflamasi Prroliferasi VSCM dan Disfungsi Sel Endotel. Widya Biologi, 12(1), 48–57.
Suwandi DW, Puspita T, Nuari DA, Hamdani S. (2021). Aktivitas Analgetika dan Antiinflamasi Ekstrak Etanol dan Fraksi Daun Jambu Mawar (Syzygium jambos L.) Secara In Vivo. Jurnal Sains Dan Kesehatan, 3(2), 218– 226.
Tran G, Pham T, Trinh N. (2019). Black Garlic and its Therapeutic benefits. Studies in Garlic. Intech Open, 13.http://dx.doi.org/10.1039/C7RA00172J%0Ahttp s://www.intechopen.com/books/advancedbiometric-technologies/liveness-detection-inbiometrics%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.colsurfa. 2011.12.014
Wang X, Jiao F, Wang QW, Wang J, Yang K, Hu RR, Liu HC, Wang HY, Wang YS. (2012). Aged Black Garlic Extract Induces Inhibition Of Gastric Cancer Cell Growth In Vitro And In Vivo. Molecular Medicine Reports, 5(1), 66–72. https://doi.org/10.3892/mmr.2011.588
Wiratma DY, Manurung K, Supartiningsih, Telaumbanua MF. (2017). Uji Aktivitas Ekstrak EtanoL Bawang Putih (Allium sativum L .) yang Dihitamkan Sebagai Anti Inflamasi yang Diinduksi Oleh Karagenan Terhadap Mus musculus. Farmanesia, 4(2), 38–43.
Purwadi, Kriswiyanti E, Aliffiati, Wahyuni IGAS, Ningsih DP. (2015). Riset Khusus Eksplorasi Pengetahuan Lokal Etnomedisin dan Tumbuhan Obat Berbasis Komunitas Di Indonesia (Etnis Osing Provinsi Jawa Timur). Kementerian Kesehatan RI Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Obat Dan Obat Tradisional, 1–35.
Saputri F, Zahara R. (2016). Uji Aktivitas Anti-Inflamasi Minyak Atsiri Daun Kemangi (Ocimum americanum L.) pada Tikus Putih Jantan yang Diinduksi Karagenan. Pharmaceutical Sciences and Research, 3(3), 107–119. https://doi.org/10.7454/ psr.v3i3.3619
Sumarya IM, Suanda IW. (2021). Asam Urat menginduksi Respon Inflamasi Prroliferasi VSCM dan Disfungsi Sel Endotel. Widya Biologi, 12(1), 48–57.
Suwandi DW, Puspita T, Nuari DA, Hamdani S. (2021). Aktivitas Analgetika dan Antiinflamasi Ekstrak Etanol dan Fraksi Daun Jambu Mawar (Syzygium jambos L.) Secara In Vivo. Jurnal Sains Dan Kesehatan, 3(2), 218– 226.
Tran G, Pham T, Trinh N. (2019). Black Garlic and its Therapeutic benefits. Studies in Garlic. Intech Open, 13. http://dx.doi.org/10.1039/C7RA00172J%0Ahttps:// www.intechopen.com/books/advanced-biometric-
Deden Winda Suwandi, dkk.
technologies/liveness-detection-in-biometrics%0A http://dx.doi.org/10.1016/j.colsurfa.2011.12.014
Wang X, Jiao F, Wang QW, Wang J, Yang K, Hu RR, Liu HC, Wang HY, Wang YS. (2012). Aged Black Garlic Extract Induces Inhibition Of Gastric Cancer Cell Growth In Vitro And In Vivo. Molecular Medicine Reports, 5(1), 66–72. https://doi.org/10.3892/ mmr.2011.588
Wiratma DY, Manurung K, Supartiningsih, Telaumbanua MF. (2017). Uji Aktivitas Ekstrak EtanoL Bawang Putih (Allium sativum L .) yang Dihitamkan Sebagai Anti Inflamasi yang Diinduksi Oleh Karagenan Terhadap Mus musculus. Farmanesia, 4(2), 38–43.
