PENDAHULUAN
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan suatu penyakit yang ada di Indonesia dan menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang paling sering ditemui oleh masyarakat dan sulit untuk ditanggulangi. DBD menjadi penyakit endemik yang ada di setiap provinsi yang terus meningkat dan menyebar di masyarakat sehingga menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Jumlah orang yang terjangkit penyakit DBD banyak dijumpai terutama di daerah tropis (Farasari, 2018).
Jenis nyamuk sebagai vektor penyakit yang dapat menimbulkan masalah kesehatan adalah nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk Aedes aegypti merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus dangue yang merupakan faktor penyebab demam berdarah. Peran vektor dalam penyebaran suatu penyakit menjadi masalah serius untuk ditangani terutama nyamuk.
Salah satu upaya pengendalian terhadap penyakit demam berdarah adalah melakukan pengendalian terhadap vektor dari penyakit tersebut. Masyarakat telah berupaya untuk mencegah gigitan nyamuk Aedes aegypti, salah satunya dengan menggunakan penolak serangga (insect repellent). Repellent serangga adalah zat yang memiliki bau yang tidak disukai oleh serangga sehingga mampu mengusir. Repellent dipilih karena harganya terjangkau dan mudah diaplikasikan pada permukaan kulit tubuh yang bersangkutan. Namun demikian, jenis bahan aktif yang digunakan tidak selalu aman untuk diaplikasikan ke tubuh terutama untuk kulit (Nurfany & purwati, 2020).
Repellent sebagai pengusir serangga yang dapat digunakan diantaranya adalah N,N-Dietil-mtoluamida (DEET) yang dapat memberikan perlindungan pada tubuh terhadap nyamuk Aedes aegypti. Berbagai jenis spray anti nyamuk yang beredar di Indonesia berbahan aktif DEET merupakan bahan kimia sintesis yang jika digunakan dalam jangka lama dapat menyebabkan iritasi terhadap kulit. Berdasarkan pemaparan diatas, maka perlu dilakukan penelitian untuk menemukan insektisida dari bahan alami yang lebih aman dan efektif untuk digunakan.
Salah satu jenis bahan alami adalah daun kemangi (Ocimum x africanum Lour.). Penelitian yang dilakukan oleh Isnindar dkk (2012) menunjukkan bahwa ekstrak daun kemangi (Ocimum x africanum Lour.) memiliki efektivitas sebagai repellent. Kemangi tumbuh dengan baik di daerah tropis dan dapat hidup liar di tanah yang kering dan terdapat sinar matahari (Huda & Putri, 2021). Kandungan senyawa kimia pada daun kemangi (Ocimum x africanum Lour.) yang memiliki potensi sebagai lavarsida adalah saponin, tannin, flavonoid, dan alkaloid.
Berdasarkan penelitian tersebut ekstrak daun kemangi dapat digunakan sebagai repellent dalam formulasi sediaan farmasi berbentuk spray/ semprot, bakar, lotion atau elektrik (Farasari, 2018). Namun, sebagai upaya untuk mempermudah dalam penggunaannya maka dibuat sediaan formulasi spray. Spray merupakan salah satu sediaan farmasi yang mudah dan efektif digunakan selain itu memiliki keuntungan yang ringan untuk di aplikasikan di kulit, meminimalisir kontaminasi oleh udara luar dengan menggunakan wadah yang tertutup rapat, serta mengurangi iritasi oleh pemakaian pada formulasi.
Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan sediaan spray repellent nyamuk yang baik dengan menggunakan ekstrak daun kemangi sebagai bahan aktifnya.
METODE PENELITIAN
Determinasi Tanaman
Tanaman kemangi yang diperoleh dari petani di desa Karang Rejo Metro Utara dideterminasi di Laboratorium Biologi FMIPA Universitas Lampung.
Preparasi Sampel
Daun kemangi yang digunakan dipetik secara manual di Karang Rejo Metro Utara, sampel yang diambil berasal dari tempat yang sama. Daun Kemangi yang diambil adalah kemangi yang masih segar, berwarna hijau segar dan masih utuh (Aini dkk, 2017). Daun kemangi yang telah dipetik secara manual kemudian dicuci dengan air menglir untuk menghilangkan kotoran. Selanjutnya, diangin anginkan hingga kering sempurna. Setelah itu diserbukkan dan ditimbang berat bobotnya.
Ekstraksi daun kemangi menggunakan metode perkolasi berdasarkan metode (Evita dkk, 2021). Proses perkolasi terdiri dari tahapan pengembangan bahan, tahapan perendaman, dan tahapan perkolasi sebenarnya (penetesan atau penampungan hasil perkolat) sampai diperoleh ekstrak. Sebanyak 600 gram serbuk simplisia ditambahkan pelarut etil asetat sebanyak 6 L hingga simplisia terendam dalam alat perkolator, kemudian didiamkan selama ± 3 jam. Perkolat dibiarkan menetes dengan kecepatan 1 mL per menit dan ditambahkan berulang-ulang pelarut hingga perkolat menetes jernih. Hasil dari ekstraksi disaring kemudian di evaporasi pada suhu 40°C menggunakan rotary evaporator sampai diperoleh ekstrak kental.
Penetasan Telur Dan Pengembangan Larva Aedes aegypti
Telur nyamuk Aedes aegypti yang diperoleh dari Loka Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Pangandaran. Penetasan telur diawali dengan meletakkan telur nyamuk ke dalam nampan yang berisi plastik yang diisi dengan air pada suhu 26– 28°C hingga telur menetas. Saat telur sudah menetas dan tumbuh menjadi larva Instar 1, diberikan makanan ikan (pellet) sebanyak kurang lebih 0,5 gram.
Nyamuk akan berkembang menjadi pupa pada hari ke-5 sampai ke-6 pembiakan, selanjutnya pupa tersebut dipindahkan ke dalam wadah gelas plastik dengan menggunakan pipet. 50 ekor pupa diisi ke masing-masing gelas dan diletakkan ke kandang nyamuk dengan suhu 26–28° hingga pupa tumbuh dan berkembang menjadi nyamuk dewasa.
Pembuatan Sediaan Spray
Formulasi sediaan spray ekstrak daun kemangi (Ocimum x africanum Lour.) dapat dilihat pada Tabel 1
Tabel 1. Rencana Formulasi Sediaan spray
| Bahan | Fungsi | Konsentrasi % | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| F1 | F2 | F3 | K- | K+ | ||
| Ekstrak etil asetat | Zat aktif | 5% | 5% | 5% | - | Spray komersial |
| Propilen glikol | Kosolven | 5% | 10% | 15% | 5% | |
| Propyl paraben | Pengawet | 0,04% | 0,04% | 0,04% | 0,04% | |
| Metil paraben | Pengawet | 0,2% | 0,2% | 0,2% | 0,2% | |
| Etanol | Pelarut | 20% | 20% | 20% | 20% | |
| Akuades | Pelarut | Ad 50 ml | Ad 50 ml | Ad 50 ml | Ad 50 ml |
Pembuatan sediaan spray dengan menggunakan fase A dan B untuk formulasi dan kontrol negatif:
- a. Fase (A) dengan mencampur metilparaben dan propilparaben dilarutkan dengan propilenglikol.
- b. Fase (B) ekstrak etil asetat daun kemangi (Ocimum x africanum Lour.) dilarutkan dengan etanol aduk hingga homogen.
- c. Selanjutnya fase (A) dan (B) di campur dan aduk hingga homogen. Lalu ditambahkan akuades.
Evaluasi Fisik Sediaan Spray
A. Uji Organoleptik
Pemeriksaan organoleptik meliputi pengamatan terhadap bentuk, warna, bau dari sediaan spray yang telah dibuat (Mardiyah dkk, 2021)
B. Uji pH
Pengukuran derajat keasaman menggunakan pH meter. Pengukuran dilakukan pada suhu ruang (Ulfa dkk, 2021)
C. Uji Viskositas
Uji viskositas bertujuan untuk mengetahui tingkat kekentalan suatu sediaan. Pengukuran viskositas ini menggunakan Viskometer Ostwald.
D. Uji Iritasi (Patch Test)
Uji iritasi sediaan ini dilakukan pada 9 sukarelawan. Sampel sediaan spray disemprotkan pada kulit lengan atas selama 15 menit lalu dilihat ada atau tidaknya iritasi (alergi). (Utami dkk, 2021).
E. Uji Hedonik (Uji Kesukaan)
Pada uji hedonik ini, para panelis memberikan tanggapan pribadinya suka atau tidak suka. Tingkat kesukaan merupakan skala hedonik, yang diubah ke dalam skala numerik dengan angka (4-1) dengan penilaian naik/turun tingkat kesukaan. Rentang nilai skala numerik hedonik adalah sangat suka (SS) nilai 4, suka (S) nilai 3, tidak suka (TS) nilai 2, dan sangat tidak suka (STS) nilai 1.
Langkah-Langkah Uji Efektivitas Anti Nyamuk
Pengujian dilakukan pada 6 orang sukarelawan, yang sebelumnya diharuskan untuk mencuci tangan hingga bagian lengan dengan menggunakan air mengalir dan dilarang untuk menggunakan wewangian jenis apapun.
Bagian lengan terlebih dahulu di semprot dengan spray antinyamuk kemudian dimasukkan ke dalam kurungan berukuran panjang 40 cm, lebar 35 cm, dan tinggi 40 cm yang berisi 50 ekor nyamuk dewasa (umur 2-5 hari). Lengan dimasukkan ke dalam kandang uji selama 5 menit, setiap 1 jam yang dilakukan berulang terhadap seluruh formulasi selama 6 jam. Uji efikasi ditetapkan berdasarkan persen penolakan nyamuk terhadap lengan uji yang menggunakan produk antinyamuk spray, dan dibandingkan dengan lengan kontrol yang tidak menggunakan apapun. Daya tolak nyamuk (daya proteksi) dihitung dengan rumus:
Daya proteksi = \[\frac{k-r}{k}\]x 100%
Keterangan:
K = Jumlah nyamuk yang hinggap pada lengan kontrol (-) R = Jumlah nyamuk yang hinggap pada lengan uji (formula). (Akbar dkk, 2020).
ANALISIS DATA
Pada penelitian ini digunakan analisis data SPSS. Analisis bivariat digunakan untuk mencari hubungan antar variabel. Pada penelitian ini digunakan uji repeated measures ANOVA untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan jumlah nyamuk yang hinggap antar formulasi spray ekstrak daun kemangi dan dengan kontrol positif. Syarat uji anova diharuskan data terdistribusi normal dan homogen antar kelompok perlakuan dengan taraf kepercayaan 95% atau menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,05).
ASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil determinasi tanaman yang dilakukan di laboratorium botani FMIPA Universitas Lampung menunjukkan hasil bahwasanya sampel yang digunakan adalah benar tanaman Kemangi (Ocimum x africanum Lour).
Tabel 2. Hasil ekstraksi Daun Kemangi
| Berat Serbuk (g) | Pelarut (L) | Berat Ekstrak (g) | Rendemen (%) |
|---|---|---|---|
| 600 | 6 | 64,7 | 10,78 |
Tabel 3. Hasil Uji Organoleptik
| Formula | Organoleptik | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| Bentuk | Warna | Aroma | |||
| F1 | Cair | Kuning bening | Khas ekstrak | ||
| F2 | Cair | Kuning kehijauan | Khas ekstrak | ||
| F3 | Cair | Kuning kehijauan pekat | Khas ekstrak | ||
| K- | Cair | Bening | Khas ekstrak | ||
Tabel 4. Hasil Uji pH, Uji Viskositas, dan Uji Iritasi
| Formula | pH | Viskositas | Iritasi |
|---|---|---|---|
| F1 | 5,6 | 1, 9045 cP | Tidak mengiritasi |
| F2 | 5,3 | 2,0885 cP | Tidak mengiritasi |
| F3 | 5,5 | 2,5315 cP | Tidak mengiritasi |
| K- | 6,5 | 1,8646 cP | Tidak mengiritasi |
| Syarat | 4,5 -6,5 | 1,27–1,87 cP | |
| ( SNI No. 06-2588) | (Kurniasih dkk, | ||
| 2021) |
Tabel 5. Hasil Uji Hedonic
| Jenis Uji | F1 | F2 | F3 |
|---|---|---|---|
| Tekstur | 64 | 56 | 53 |
| Warna | 64 | 53 | 51 |
| Aroma | 55 | 57 | 50 |
| Penampilan fisik | 59 | 54 | 46 |
| Total | 242 | 220 | 200 |
Keterangan:
F1 : Konsentrasi ekstrak 5% dengan propilenglikol 5% F2 : Konsentrasi ekstrak 5% dengan propilenglikol 10% F3 : Konsentrasi ekstrak 5% dengan propilenglikol 15% K- : Konsentrasi ekstrak 0% dengan propilenglikol 5%
Tabel 6. Hasil Uji Efektivitas Repellent
| Sediaan | Presentase Rata-Rata Daya Tolak Nyamuk Waktu (Jam) | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Jam ke-1 (%) | Jam ke-2 (%) | Jam ke-3 (%) | Jam ke-4 (%) | Jam ke-5 (%) | Jam ke-6 (%) | P (value) | |
| F1 | 99,22% | 96,36% | 92,45% | 85,57% | 82,49% | 76,59% | 0,000 |
| K+ | 100% | 100% | 97,11% | 97,08% | 94,91% | 91,93% | |
Keterangan:
FI : Konsentrasi ekstrak 5% dengan propilenglikol 5% K+ : konsentrasi ekstrak 0% dengan propilenglikol 5%
Tabel 7. Hasil Uji Repeated Measure ANOVA
| Variabel | Sig. |
|---|---|
| Waktu–Waktu | 0,000 |
| Waktu–Formula | 0,005 |
PEMBAHASAN
Ekstraksi daun kemangi menggunakan metode perkolasi. Proses perkolasi terdiri dari tahapan pengembangan bahan, tahapan perendaman, dan tahapan perkolasi sebenarnya (penetesan atau penampungan hasil perkolat) sampai diperoleh ekstrak. Keuntungan dari metode perkolasi yaitu pada proses penarikan zat dari tanaman lebih sempurna, dan kerugiannya adalah peralatan yang digunakan lebih mahal (Evita dkk, 2021).
Pelarut yang digunakan pada ekstraksi daun kemangi adalah etil asetat dikarenakan etil asetat memiliki toksisitas yang rendah yang sifatnya semipolar sehingga diharapkan dapat menarik senyawa yang bersifat polar maupun nonpolar dari daun kemangi. Hasil dari ekstraksi dengan metode perkolasi kemudian dievaporasi dengan rotary evaporator pada suhu 40°C. Rotary evaporator akan memisahkan ekstrak dari cairan penyarinya dengan pemanasan yang di percepat oleh putaran.
Penggunaan Rotary vacum evaporator sesuai dengan suhu yang tepat untuk mempertahankan senyawa aktif pada ekstrak. Suhu yang digunakan tidak boleh terlalu tinggi dan perputaran (rotary) tidak boleh terlalu cepat. Penguapan akan terjadi pada suhu yang lebih rendah dari titik didih pelarutnya karena dilakukan dalam keadaan vakum (Saputra dkk, 2021). Selanjutnya ekstrak di panaskan dengan menggunakan oven untuk menghilangkan sisa pelarut yang masih terdapat fitrat dengan suhu 30°C.
Setelah proses ekstraksi selesai, diperoleh hasil nilai rendemen diperoleh rendemen sebesar 10,78% (Tabel 2). Rendemen adalah perbandingan antara ekstrak yang diperoleh dengan simplisia awal. Perhitungan rendemen ini bertujuan untuk mengetahui berapa banyak sari daun kemangi yang larut dalam pelarut etil asetat. Jadi, semakin tinggi nilai rendemen yang didapatkan menunjukan bahwa semakin banyak nilai ekstraknya.
Sebelum melakukan uji efektivitas anti nyamuk, terlebih dahulu dibuat sediaan spray dengan tiga formulasi dengan variasi konsentrasi propilenglikol (5, 10 dan 15%). Konsentrasi ekstrak etil asetat untuk setiap formula adalah sama yaitu 5%. Kelompok lainnya adalah kontrol positif, dan kontrol negatif. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan sediaan spray yaitu zat aktif ekstrak daun kemangi, propilenglikol, metil paraben dan propil paraben (pengawet), etanol, dan akuades.
Propilenglikol yang berfungsi sebagai kosolven. Variasi konsentrasi propilen glikol dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh perbedaan sifat fisik sediaan spray. Propilenglikol memiliki tingkat toksisitas yang rendah. Selain itu, propilenglikol juga berfungsi membantu agar spray dapat menempel lebih lama pada kulit sehingga efek repellent juga bertahan lebih lama.
Uji organoleptik meliputi bentuk, warna, dan bau dari sediaan spray ekstrak daun kemangi. Sediaan spray yang dihasikan memiliki bentuk cair, berwarna kuning hingga kuning kehijauan, dan bau khas ekstrak daun kemangi. Warna kuning kehijauan dihasilkan dari ekstrak daun kemangi. Hasil lengkap ditampilkan pada Tabel 3.
Nilai pH sediaan topikal berkaitan dengan rasa pada saat dioleskan ke kulit. Hasil uji pH untuk semua mememuhi persyaratan sediaan topikal SNI No. 06-2588 karena berada di antara 4,5–6,5 (Tabel 4), sehingga aman jika diaplikasikan pada kulit. pH sediaan yang baik untuk kulit adalah yang cenderung asam. Hal ini dikarenakan kulit memiliki acid mantle atau lapisan pelindung yang berfungsi sebagai proteksi pada permukaan kulit idealnya memiliki pH 5,5. Untuk orang dewasa, kondisi terbaik pH cenderung tergolong asam atau berada di kadar 4–6 (Rusmana, 2019).
Uji viskositas menunjukkan hasil secara berturutturut dari formula 1–3 memiliki viskositas yang semakin tinggi (Tabel 4). Hasil ini sesuai dengan penelitian Ulfa dkk (2021) dimana semakin tinggi nilai propilenglikol yang ditambahkan akan semakin tinggi nilai viskositasnya. Hasil ini lebih lanjut menunjukkan bahwa sediaan yang memenuhi standar adalah kontrol negatif, dengan viskositas sebesar 1,8646 cP.
Hasil pada uji iritasi menunjukkan bahwa tidak adanya gejala iritasi seperti kemerahan, gatalgatal, dan bengkak. Hal ini menunjukkan bahwa produk yang memiliki pH sesuai dengan pH kulit manusia, aman bagi kulit, atau tidak akan membuat gejala iritasi pada kulit (Utami dkk, 2021).
Uji kesukaan (uji hedonik) pada penelitian ini melibatkan 20 responden. Hasil, seperti pada Tabel 5, menunjukkan formula 1 merupakan formula yang paling disukai. Hal ini dikarenakan formula 1 tidak memiliki tekstur yang sekental formula 2 dan 3. Selain itu warna yang dihasilkan lebih menarik dibandingkan dengan formula 2 dan 3 yang memiliki warna lebih pekat. Demikian juga dengan aroma, formula 1 tidak menyengat seperti formula 2 dan 3.
Data daya tolak nyamuk formula 1 menunjukkan presentase repellent sebesar 99,22% pada jam ke 1 yang kemudian menurun sampai sekitar 80% pada jam ke 5, dan pada jam ke 6 daya tolak menjadi sebesar 76,59%. Daya tolak dinyatakan tidak efektif jika nilainya <80% setelah 6 jam pengujian (Kemenkes RI, 2000; WHO, 1981).
Daya tolak terhadap nyamuk atau efektivitas teramati menurun dengan seiring bertambahnya waktu. Penurunan daya tolak nyamuk dapat disebabkan karena terjadi penguapan ekstrak yang merupakan zat aktif. Berdasarkan hasil uji normalitas data Shapiro-wilk nilai signifikan yang diperoleh lebih dari 0,05 atau p>0.05 yang mengindikasikan bahwa data terdistribusi secara normal sehingga dapat dilanjutkan uji repeated measures ANOVA. Uji repeated measures ANOVA merupakan uji statistik dengan konsep sampel pengukuran berulang. Berdasarkan nilai signifikansi pada Greenhouse Geisser yaitu 0,000 dan 0,005 atau p<0,05, terdapat perbedaan bermakna antara sediaan formula 1 dengan spray komersial.
SIMPULAN
Uji evaluasi fisik ekstrak daun kemangi (Ocimum x africanum Lour.) dalam sediaan spray pada F1 menghasilkan mutu fisik yang sesuai. Hal ini sesuai dengan parameter uji organoleptik, pH, dan uji viskositas. Didukung oleh uji hedonik yang dilakukan, menunjukkan bahwa FI merupakan formulasi yang paling banyak disukai oleh sukarelawan.
Formulasi spray ekstrak daun kemangi (Ocimum x africanum Lour.) belum memenuhi nilai efektivitas untuk digunakan sebagai repellent terhadap nyamuk Aedes aegypti karena memiliki nilai daya tolak <80% pada jam ke-6. Pada uji repeated measures ANOVA didapatkan nilai signifikansi <0,05 yang menunjukkan terdapat perbedaan jumlah nyamuk yang hinggap antara formula 1 dan spray komersial.
UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terimakasih disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam terselesaikannya penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Aini, R., Widiastuti, R., & Nadhifa, N. A. (2017). Uji Efektifitas Formula Spray Dari Minyak Atsiri Herba Kemangi (Ocimum sanctum L) Sebagai Repellent Nyamuk Aedes aegypti. Jurnal Ilmiah Manuntung, 2(2), 189. https://doi.org/10.51352/jim.v2i2.66
Evita, D., Nofita, & Ulfa, A. M. (2021). Efektivitas Ekstrak Etil Asetat Daun Kemangi Ocimum sanctum L .) Sebagai Larvasida Nyamuk Aedes aegypti
Farasari, R., & Azinar, M. (2018). Nyamuk, Model Buku Saku Dan Rapor Pemantauan Jentik Dalam Meningkatkan Perilaku Pemberantasan Sarang, Journal of Health Education Research, 6(3), 7–11.
Huda, C., & Putri, A. E. (2021). Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Blimbing Dalam Pembuatan Dan Pengaplikasian Anti Nyamuk Cair Ekstrak Daun Kemangi. [Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), 4, 1288–1292. https://doi.org/https://doi.org/10.33024/jkpm.v4i 6.3754.
Isnindar, Hervianto, W., & Pratiwi, L. (2012). Uji Efektivitas Losio Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum sanctum Linn.) Sebagai Repelan Terhadap Nyamuk Betina. Media Farmasi Indonesia, 7(2), 360–373.
Mardiyah, I., Marcelia, S., & Winahyu, D. A. (2021). Uji Efektivitas Ekstrak Etanol Kulit Pisang Kepok (Musa Paradisiaca) Dalam Sediaan Semprot Sebagai Pengusir Nyamuk Aedes aegypti. JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues, Volume 1, No.1, April, 2021: 10-18, 1(1), 10–18.
Nurfany, F. R., & Purwati. (2020). Uji Aktivitas Repellent Sediaan Gel Minyak Atsiri Herba Lemon Balm (Melissa officinalis L) Terhadap Nyamuk Aedes aegypti. Journal Archives Pharmacia, 2 Nomor 2, 2655–6073.
Panggabean, R., Nofita, & Ulfa, A. M. (2021). The Hepatoprotective Effects of Basil Leaf (Ocimum sanctum L.) Extract on Paracetamol Induced Liver Damage in Male Rat. Biomedical Journal of Indonesia, 7(2),
Rusmana, W. E. (2019). Formulasi Lotion Organik Ekstrak Kulit Manggis (Garcinia Mangostana L.) Dan Uji Efektivitas Terhadap Terhadap pH Kulit. Jurnal INFOKES-Politeknik Piksi Ganesha, 3, 102–115.
Saputra, R., Diharmi, A., & Edison. (2021). Teknik Ekstraksi Maserasi Secara Bertingkat Pada Anggur Laut(Caulerpa lentillifera). 1–8.
Utami Dyah, F., Setianto Budi, A., & Yuliani, S. (2021). Aktivitas Repellent Formulasi Sediaan Spray Kombinasi Minyak Atsiri Serai (Cymbopogon winterianus), Daun Kemangi (Ocimum basilicum) Dan Nilam (Pogostemon cablin) Beserta Uji Preferensinya. P-Issn: 2502-647x; E-Issn: 2503-1902. Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 6(1), 133–142.
