PENDAHULUAN
Dismenorea didefinisikan sebagai adanya kram menyakitkan berasal dari rahim yang terjadi selama menstruasi dan merupakan salah satu penyebab paling umum dari nyeri panggul dan gangguan menstruasi (Petraglia et al., 2017). Wanita dengan dismenorea memiliki kadar prostaglandin yang tinggi, yang mencapai puncak selama 2 hari pertama menstruasi (Nie et al., 2020). Sejak tahun 1980-an, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) telah menjadi pilihan terapi untuk dismenorea (Nie et al., 2020). Beberapa OAINS ini telah menjadi obat bebas atau swamedikasi, yang bisa didapatkan tanpa resep dokter. Selain itu, terapi non farmakologi dengan terapi komplementer, salah satunya seperti pengobatan herbal dalam mengatasi nyeri karena menstruasi, juga semakin gencar disebarkan.
Banyak cara dalam menyampaikan informasi mengenai terapi atau pengobatan suatu penyakit, salah satunya melalui iklan. Dalam peraturan BPOM No 2 tahun 2021 tentang Pedoman Pengawasan Periklanan Obat Bab 1 Pasal 1 , iklan adalah setiap keterangan atau pernyataan mengenai obat dalam bentuk gambar, tulisan, atau bentuk lain yang dilakukan dengan berbagai cara pemasaran dan/atau perdagangan obat. Di Indonesia, iklan untuk obat bebas diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 386/MENKES/SK/IV/1994 tentang Pedoman Periklanan Obat Bebas, Obat Tradisional, Alat Kesehatan, Kosmetika, Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga dan Makanan-Minuman. Obat yang dapat diiklankan kepada masyarakat adalah obat yang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku tergolong dalam obat bebas atau obat bebas terbatas, kecuali dinyatakan lain.
Iklan mengenai terapi farmakologi dismenorea meliputi obat OAINS dan terapi non farmakologi berupa terapi komplementer, sudah banyak disebarluaskan, melalui berbagai media. Mulai dari iklan pada TV (visual) hingga pada media audiovisual. Didukung dengan berkembangnya teknologi yang memungkinkan arus informasi menjadi cepat dan mudah dijangkau, iklan mengenai terapi dismenorea menjadi lebih mudah untuk diakses oleh para wanita yang membutuhkan informasi tersebut. Informasi terapi dismenorea yang didapatkan melalui iklan dapat mempengaruhi persepsi dan perilaku wanita khususnya berusia subur yang sering mengalami dismenorea. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh iklan terhadap persepsi dan perilaku dalam usaha mengatasi dismenorea, serta mengevaluasi pengaruh karakteristik demografi, durasi dan intensitas nyeri yang dirasakan terhadap persepsi dan perilaku dalam usaha mengatasi dismenorea.
METODOLOGI
Populasi penelitian ini merupakan wanita Indonesia dalam usia subur yaitu 18-49 tahun pada tahun 2022 yaitu 72.709.722 jiwa. Jumlah sampel dihitung dengan software Epi-Info; confidence level sebesar 95%, margin of error (e) sebesar 5%; dan proporsi sebesar 70%. Setelah dihitung, maka didapatkan jumlah minimal responden sebesar 323 responden. Adapun jumlah responden akhir yang terkumpul sebesar 342 responden. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah wanita subur (mengalami menstruasi), mengalami nyeri menstruasi/dismenorea, berusia 18-49 tahun. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah responden yang menjawab 'Tidak' pada pernyataan mengenai pernah mengalami nyeri menstruasi serta yang tidak menjawab kuesioner secara lengkap.
Data dan Sumber Data
Sumber data merupakan data primer yang didapatkan melalui kuesioner yang disebarkan secara daring menggunakan Google Form. Kuesioner pada penelitian ini terdiri dari pertanyaan data demografi (nama/inisial, umur, domisili, no hp, pekerjaan, pendidikan terakhir, penghasilan per bulan). Informasi lain yang didapatkan dari kuesioner yaitu sumber informasi terapi dismenorea, sumber iklan terapi dismenorea, pernyataan-pernyataan evaluasi pengaruh iklan terhadap persepi dan perilaku dalam mengatasi dismenorea. Semua poin pertanyaan pada penilaian persepsi dan perilaku diukur dalam skala Likert (nilai 5 untuk Sangat Setuju, 4 untuk Setuju, 3 untuk Netral, 2 untuk Tidak Setuju, dan 1 untuk Sangat Tidak Setuju).
Bhekti Pratiwi, dkk.
Izin Etik Penelitian
Penelitian ini mendapatkan izin penelitian dari Komisi Etik Penelitian Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung dengan No.02/KEPK/EC/ III/2022.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan secara daring pada Januari-April 2022 dan pengambilan data selama bulan Maret-April 2022.
Validitas dan Reliabilitas
Kuesioner diuji validitas dan reliabilitas pada 30 responden dengan menggunakan aplikasi SPSS versi 25.0. Validitas kuesioner menggunakan uji Corrected Item Total Correlation dimana pernyataan-pernyataan pada kuesioner dikatakan valid jika memiliki nilai r hitung > r tabel (N = 30; r tabel = 0,361). Semua pernyataan pada kuesioner persepsi dan perilaku dinyatakan valid. Untuk uji reliabilitas, digunakan nilai Cronbach alpha. Rentang penerimaan adalah 0,70 dan 0,90 atau lebih tinggi (Esmail, 2019). Hasil uji reliabilitas pada semua pernyataan persepsi (N = 11) sebesar 0,851 dan pada semua pernyataan perilaku (N = 12) sebesar 0,899 sehingga dapat dinyatakan bahwa kuesioner reliabel.
Analisis data
Analisis dilakukan untuk melihat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen yaitu sumber iklan terapi dismenorea, umur, pekerjaan, pendidikan terakhir dan penghasilan perbulan terhadap persepsi dan perilaku responden dalam mengatasi dismenorea. Metode analisis statistik yang digunakan adalah non parametrik yaitu Kruskal-Wallis pada semua analisis pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dan korelasi Spearman Rank pada pengaruh sumber iklan terhadap persepsi dan perilaku.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Total responden berjumlah 342 orang yang merupakan wanita dalam usia subur dalam rentang 18-49 tahun. Seluruh responden yang disertakan dalam penelitian ini merupakan responden yang mengalami nyeri menstruasi dan mengisi secara penuh kuesioner, proses seleksi data dilakukan seperti pada Gambar 1. Karakteristik responden ditampilkan pada Tabel 1. Sudah sejalan dengan penelitian ini, dimana usia remaja 17-25 tahun (80,41%) ditemukan paling besar prevalensinya dalam studi ini, prevalensi dismenorea diprakirakan tinggi, bervariasi sebesar 45-93% wanita usia subur, dan paling tinggi pada usia remaja (Petraglia et al., 2017).

Gambar 1. Seleksi Sampel
Tabel 1. Demografi Responden
| Karakteristik (n = 342) | Jumlah | Persentase |
|---|---|---|
| (n) | (%) | |
| Umur(tahun) | ||
| 17-25 | 275 | 80,41 |
| 26-35 | 23 | 6,72 |
| 36-45 | 32 | 9,36 |
| 46-55 | 12 | 3,51 |
| Pekerjaan | ||
| Pelajar/Mahasiswa | 252 | 73,68 |
| Pegawai Negri/Swasta | 42 | 12,28 |
| Wiraswasta | 5 | 1,46 |
| Ibu rumah tangga | 32 | 9,36 |
| Lainnya | 11 | 3,22 |
| Pendidikan Terakhir | ||
| SD/Sederajat | 0 | 0 |
| SMP/Sederajat | 1 | 0,29 |
| SMA/Sederajat | 218 | 63,74 |
| Diploma (D1/D2/D3/D4) | 16 | 4,68 |
| Strata (S1/S2/S3) | 107 | 31,29 |
| Penghasilan Perbulan | ||
| Belum bekerja | 229 | 66,96 |
| <5.000.000 | 77 | 22,51 |
| 5.000.000-10.000.000 | 23 | 6,73 |
| 10.000.000-15.000.000 | 8 | 2,34 |
| 15.000.000-35.000.000 | 4 | 1,17 |
| >35.000.000 | 1 | 0,29 |
| Domisili Provinsi | ||
| Wilayah Indonesia Bagian Barat | 331 | 96,78 |
| Wilayah Indonesia Bagian Tengah | 11 | 3,22 |

Gambar 2. Sumber Informasi Terapi Dismenorea
Keterangan:
responden dapat memilih lebih dari satu sumber terapi dismenorea Iklan merupakan suatu bentuk informasi produk maupun jasa dari produsen kepada konsumen maupun penyampaian pesan dari sponsor melalui suatu media (Lukitaningsih, 2013).
Sumber informasi terapi dismenorea banyak diakses responden dari internet/media sosial (46.70%). Sebaran informasi terapi dismenorea ditampilkan pada Gambar 2. Pada bagian ini, responden bisa memilih lebih dari satu sumber
satu atau lebih sumber informasi mengenai terapi nyeri menstruasi yang dirasakan. Informasi mengenai terapi dismenorea seringkali didapatkan melalui internet/media sosial (46,70%) dan rekomendasi teman/kerabat/keluarga (40,68%).
Bhekti Pratiwi, dkk.
Hasil ini menunjukkan bahwa dalam mengatasi dismenorea, responden cenderung mendapatkan informasinya melalui internet/media sosial dan rekomendasi dari pihak lain yang dipercayai. Internet sebagai media digital telah menawarkan berbagai kemudahan seiring perkembangan zaman (Ardina, 2017). Kemudahan dalam mengakses informasi yang diperlukan, salah satunya informasi terapi dismenorea, membuat responden cenderung menggunakan internet.
Pada bagian sumber iklan terapi dismenorea, responden bisa memilih lebih dari satu sumber iklan, diantaranya papan reklame, kemasan pada produk, artikel pada platform digital, televisi/radio/serupa, media sosial, maupun sumber lainnya. Diberikan juga contoh-contoh produk obat dismenorea seperti Kiranti®, Feminax®, Panadol Menstrual®, Sangobion Femine®, dsb, sehingga bisa membantu responden dalam mengingat iklan terapi/obat dismenorea yang pernah dijumpai. Data pada Gambar 3 dan Tabel 2 menunjukkan bahwa responden paling banyak melihat iklan terapi dismenorea pada media sosial (39,56%). Selain itu, televisi/radio/serupa (23,55%) dan artikel pada platform digital (18,52%) juga menjadi sumber yang banyak dijumpai dalam mempromosikan iklan terapi dismenorea. Penelitian Ariyanti et al.
(2018) menyebutkan bahwa sumber informasi yang mempengaruhi informan dalam memilih obat-obatan yaitu mendapat pengaruh dari iklan media elektronik. Selain itu, sebagian orang juga menganggap obat yang diiklankan melalui media elektronik sebagai obat dengan merek terkenal sehingga baik untuk dikonsumsi. Banyaknya sumber iklan terapi dismenorea yang dijumpai oleh responden kemudian dihitung (Tabel 3) dengan memberikan skor 1 pada setiap pilihan sehingga jika responden menjawab 2 maka akan dihitung total skornya adalah 2, dan seterusnya. Total skor pada pilihan sumber iklan adalah 6. Hasil tersebut menunjukkan bahwa responden paling banyak menemukan satu jumlah sumber iklan terapi dismenorea (46,49%). Responden yang mengakses 2 dan 3 sumber iklan juga cukup banyak yaitu 29,24% dan 17,25%. Tetapi, tidak ada responden yang mengakses 6 sumber iklan terapi dismenorea. Bimantoro dan Herawati (2013) menyebutkan efek penampilan suatu iklan terhadap kesadaran merek bergantung daya jangkau, frekuensi, dan dampak penampilan. Daya jangkau dan frekuensi iklan berbeda-beda pada setiap individu. Jika iklan ditampilkan pada jumlah yang sesuai, maka tujuan kesadaran merek dapat tercapai, tetapi jika berlebihan konsumen justru menjadi tidak simpatik terhadap iklan tersebut.

Gambar 3. Sumber Iklan Terapi Dismenorea
Keterangan:
responden dapat memilih lebih dari satu sumber iklan terapi dismenorea
Tabel 2. Sumber Iklan Terapi Dismenorea yang Dijumpai
| Sumber Iklan Terapi Dismenorea | n | % | |
|---|---|---|---|
| Media Sosial | 252 | 39,56 | |
| Televisi/radio/serupa | 150 | 23,55 | |
| Artikel pada platform digital | 118 | 18,52 | |
| Kemasan pada produk | 80 | 12,56 | |
| Lainnya | 19 | 2,98 | |
| Papan reklame | 18 | 2,83 |
Tabel 3. Jumlah Sumber Iklan yang Dijumpai
| Jumlah Sumber Iklan yang Dijumpai | n | % |
|---|---|---|
| 1 | 159 | 46,49 |
| 2 | 100 | 29,24 |
| 3 | 59 | 17,25 |
| 4 | 22 | 6,43 |
| 5 | 2 | 0,58 |
| 6 | 0 | 0 |
Tabel 4. Variabel Dimensi Persepsi
| Kode | Dimensi Persepsi |
|---|---|
| A1 | Mengetahui mengenai terapi nyeri haid |
| A2 | Mengetahui iklan mengenai pengobatan/terapi nyeri haid |
| A3 | Iklan terapi nyeri haid ditemui pada berbagai media seperti TV, media sosial, radio, dsb |
| A4 | Iklan terapi nyeri haid yang ditemui pada umumnya memiliki tampilan secara visual maupun audio atau aspek lainnya yang memikat |
| A5 | Iklan terapi nyeri haid membuat lebih tahu mengenai terapi nyeri haid |
| A6 | Mampu menyaring informasi yang penting bagi kondisi yang alami dari iklan terapi nyeri haid |
| A7 | Informasi yang disampaikan pada iklan terapi nyeri haid dapat diingat |
| A8 | mengetahui peraturan resmi iklan, misalnya pernah mencari mengenai UU yang mengatur iklan khususnya untuk terapi nyeri haid |
| A9 | Iklan dapat meningkatkan pengetahuan seseorang mengenai terapi nyeri haid |
| A10 | Iklan merupakan sumber informasi terpercaya mengenai terapi nyeri haid |
| A11 | Iklan sebagai alat penyedia informasi mengenai manfaat dan risiko terapi nyeri haid |
Tabel 5. Distribusi Jawaban Dimensi Persepsi
| Jawaban (%) | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Kode | Sangat Tidak Setuju | Tidak Setuju | Netral | Setuju | Sangat Setuju |
| A1 | 1,75 | 9,94 | 27,19 | 40,06 | 21,05 |
| A2 | 0,88 | 9,36 | 18,71 | 48,83 | 22,22 |
| A3 | 1,46 | 6,73 | 14,62 | 41,23 | 35,96 |
| A4 | 1,75 | 11,40 | 26,61 | 38,89 | 21,35 |
| A5 | 1,46 | 7,60 | 17,84 | 45,32 | 27,78 |
| A6 | 0,88 | 4,97 | 14,62 | 47,66 | 31,87 |
| A7 | 2,34 | 12,87 | 21,64 | 43,27 | 19,88 |
| A8 | 26,02 | 30,12 | 21,05 | 15,79 | 7,02 |
| A9 | 0,88 | 4,09 | 18,42 | 43,27 | 33,33 |
| A10 | 4,39 | 16,37 | 32,75 | 34,80 | 11,70 |
| A11 | 1,75 | 7,02 | 22,51 | 44,74 | 23,98 |
Persepsi dan Perilaku Responden dalam Mengatasi Dismenorea
Persepsi merupakan proses pengenalan mengenai sesuatu hal melalui pancaindera. Pada penelitian ini, dilihat bagaimana persepsi wanita usia subur dalam mengatasi dismenorea. Beberapa pertanyaan terkait persepsi disusun pada Tabel 4, dengan distribusi jawaban disajikan pada Tabel 5.
Proses pembentukan persepsi melalui lima tahapan yaitu mulai dari adanya stimulasi atau seleksi, pengelompokkan, interpretasi-evaluasi, penyimpanan, dan pengingatan kembali
(Desvianto et al., 2013). Pada pernyataan pengetahuan mengenai terapi dismenorea dan iklan terapi dismenorea, responden paling banyak menjawab setuju (40,06%; 48,83%). Responden juga mengaku setuju bahwa iklan yang ditemui umumnya merupakan iklan yang dapat ditemui diberbagai media serta memiliki tampilan yang menarik secara visual, audio, atau sebagainya (41,23%; 38,89%). Informasi yang disampaikan pada iklan membuat responden menjadi lebih tahu (45,32%) dan responden mampu menyeleksi informasi yang dianggap penting dalam iklan (47,66%). Informasi yang penting ini dapat diingat kembali oleh responden (43,27%). Namun, responden paling banyak berpendapat bahwa tidak mengetahui mengenai pengetahuan tentang peraturan resmi yang mengatur iklan khususnya terapi dismenorea (30,12%). Meskipun demikinan, responden setuju bahwa iklan dapat meningkatkan pengetahuan terapi dismenorea (43,27%), dapat menjadi sumber terpercaya mengenai terapi dismenorea (34,80%) dan dapat digunakan sebagai alat penyedia manfaat serta risiko terapi dismenorea (44,74%).
Dasar pengkategorian pada penelitian ini menggunakan nilai median. Sebelumnya telah diuji normalitas variabel persepsi dan perilaku dimana didapatkan hasil bahwa data tidak terdistribusi normal. Oleh karena itu, penentuan kategori pada setiap variabel menggunakan median (Rachmani et al., 2020). Untuk variabel persepsi, jika data <
median maka dikategorikan "Kurang", sedangkan jika data ≥ median maka dikategorikan "Baik". Untuk variabel perilaku, jika data < median maka dikategorikan "Negatif", sedangkan jika data ≥ median maka dikategorikan "Positif". Nilai median untuk data persepsi sebesar 41 sedangkan untuk data perilaku sebesar 45.
Pernyataan dalam dimensi persepsi dikategorikan menjadi persepsi Baik dan Kurang. Sebesar 51,46% responden memiliki persepsi baik dalam mengatasi dismenorea sedangkan sebesar 48,54% memiliki persepsi yang kurang. Dalam penelitian ini juga diukur perilaku responden dalam mengatasi dismenorea. Adapun dimensi perilaku responden dikategorikan menjadi Positif dan Negatif. Sebesar 53,51% responden memiliki perilaku positif dalam mengatasi dismenorea sedangkan sebesar 46,49% memiliki perilaku negatif. Distribusi kategori persepsi dan perilaku responden dapat dilihat pada Tabel 8.
Pengaruh Profil Iklan
Iklan terapi dismenorea mempunyai berbagai macam komponen yang ditujukan untuk memikat responden agar menjadi lebih perhatian terhadap produk yang diiklankan dengan tujuan dapat mempengaruhi responden untuk membeli atau menggunakan produknya. Pertanyaan tentang pengaruh profil iklan pada perilaku responden disusun pada Tabel 6, dengan distribusi jawaban disajikan pada Tabel 7.
Tabel 6. Dimensi Pengaruh Profil Iklan
| Kode | Dimensi Pengaruh Profil Iklan |
|---|---|
| B1 | Pengaruh visual iklan atau aspek lainnya dalam pembelian produk |
| B2 | Pengaruh iklan yang trend dalam mendapatkan produk terapi |
| B3 | Pengaruh reputasi produsen dalam membeli produk terapi |
| B4 | Pengaruh manfaat yang diberikan melalui iklan dalam membeli produk terapi |
| B5 | Pengaruh iklan yang informatif, tepat, dan menarik dalam meningkatkan perhatian wanita dalam mengatasi |
| nyeri haid |
Tabel 7. Distribusi Jawaban Dimensi Pengaruh Profil Iklan
| Jawaban (%) | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Kode | Sangat Tidak Setuju | Tidak Setuju | Netral | Setuju | Sangat Setuju |
| B1 | 3,80 | 12,57 | 26,32 | 36,55 | 20,76 |
| B2 | 4,39 | 20,18 | 26,32 | 32,16 | 16,96 |
| B3 | 2,92 | 6,14 | 12,28 | 33,04 | 45,61 |
| B4 | 3,22 | 16,67 | 23,68 | 35,38 | 21,05 |
| B5 | 4,97 | 12,28 | 29,82 | 31,58 | 21,35 |
Tabel 8. Distribusi Kategori Persepsi dan Perilaku Mengatasi Dismenorea
| Variabel | n | % |
|---|---|---|
| Persepsi Mengatasi Dismenorea | ||
| Baik | 176 | 51,46 |
| Kurang | 166 | 48,54 |
| Perilaku Mengatasi Dismenorea | ||
| Positif | 183 | 53,51 |
| Negatif | 159 | 46,49 |
Beberapa komponen dalam iklan digunakan untuk menarik konsumen agar menggunakan atau membeli produk maupun layanan yang dipromosikan. Tito dan Gabriella (2019) menyebutkan komponen iklan yang dapat menjadi daya tarik adalah peran pendukung, bahasa, musik, gambar, bahan pembicaraan, kepercayaan, dan informatif. Pada penelitian ini, responden paling banyak setuju bahwa pengaruh visual iklan atau aspek lainnya dapat membuat responden membeli produk (36,55%). Trend atau iklan yang sedang menjadi bahan pembicaraan juga memiliki pengaruh yang cukup besar dalam mempengaruhi pembelian produk (32,16%). Reputasi produsen menjadi bahan pertimbangan yang besar dalam membeli produk (45,61%). Responden juga setuju bahwa iklan yang memberikan manfaat produk (35,38%) dan berisi informasi yang tepat pada meningkatkan perhatian wanita dalam mengatasi nyeri haid (31,58%).
Pengaruh Sumber Iklan terhadap Persepsi dan Perilaku Mengatasi Dismenorea
Pada penelitian ini, dianalisis pengaruh sumber iklan terhadap persepsi dan perilaku mengatasi dismenorea. Berdasarkan hasil analisis statistik pada Tabel 9 menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan atau ada korelasi iklan terapi obat dismenorea dengan persepsi responden dalam mengatasi dismenorea (p <0,05). Terpaan iklan dapat mempengaruhi persepsi seseorang terkait apa yang dipromosikan. Terpaan dapat diartikan sebagai kegiatan mendengar, melihat, dan membaca pesan di media ataupun mempunyai perhatian terhadap pesan tersebut yang terjadi pada individu maupun kelompok (Febrida dan Oktavianti, 2020). Terbentuknya suatu persepsi dimulai dari adanya sinyal yang didapatkan dari pancaindera yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan, dan rasa. Setelah itu, terjadi
proses pemberian makna, interpretasi dari stimuli dan sensasi yang diterima oleh individu, dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor internal maupun eksternal masing-masing individu tersebut (Fuady et al., 2017). Dari teori pembentukan persepsi tersebut, maka tujuan iklan terapi dismenorea untuk dapat mempengaruhi individu menerima pesan iklan agar produk dapat dikenali, dapat dikatakan berhasil.
Koefisien korelasi yang didapatkan dari pengaruh sumber iklan terhadap persepsi (r = 0,128) tergolong rendah. Hal ini bisa terjadi karena adanya pengaruh dari dimensi terpaan iklan yaitu frekuensi. Eksplorasi dimensi terpaan iklan terdiri dari frekuensi iklan, durasi iklan, dan intensitas iklan (Septian et al., 2018). Jika dilihat dari frekuensi sumber iklan yang diakses, responden lebih banyak mengakses 1 sumber. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa meskipun iklan berpengaruh secara signifikan terhadap persepsi responden tetapi hubungan antara kedua variabel tersebut rendah karena kurangnya sumber iklan yang diakses. Pernyataan ini juga didukung dengan hasil korelasi yang didapatkan merupakan korelasi yang positif sehingga ketika banyaknya sumber iklan yang diakses maka pengaruh terhadap terbentuknya persepsi responden juga akan meningkat. Dilakukan uji lanjutan untuk melihat perbedaan antar kelompok jumlah sumber iklan dalam mempengaruhi persepsi (tabel 15). Terdapat perbedaan pada kelompok jumlah sumber iklan yang diakses 1 dan 4, serta 2 dan 4. Dalam hal ini memberikan makna bahwa banyaknya sumber iklan yang diakses memberikan perbedaan yang signifikan terhadap persepsi yang dibentuk oleh iklan.
Hasil analisis statisik (p >0,05) di Tabel 10 menunjukkan tidak ada korelasi atau tidak ada pengaruh jumlah sumber iklan terhadap perilaku responden dalam mengatasi dismenorea. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Dimara dan Margawati (2012) yang menunjukkan tidak ada pengaruh iklan terhadap perilaku konsumsi obat. Penelitian yang dilakukan oleh Tiwari (2017) juga menunjukkan bahwa sebanyak 84,5% dari 400 responden di Nepal tidak merasa dipengaruhi oleh iklan obat OTC (over the counter) ketika ingin membeli obat. Iklan obat bisa digunakan dalam memberikan informasi obat seperti siapa yang memproduksi, dimana bisa
mendapatkan produk tersebut, dan sebagainya, tetapi tidak begitu efektif dalam mengubah perilaku seseorang dalam membeli obat. Pernyataan serupa juga dikemukakan oleh WHO (2006) bahwa tingkat penggunaan obat swamedikasi tidak dipengaruhi oleh iklan, tetapi edukasi, perhatian tenaga kesehatan, dan pemahaman mengenai tren dalam lingkungan yang lebih maju tersebut, lebih berperan.
Tabel 9. Pengaruh Jumlah Sumber Iklan dengan Kategori Persepsi Mengatasi Dismenorea
| Jumlah Sumber Iklan | Persepsi Mengatasi Dismenorea | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Baik | Kurang | r | p | |||
| n | % | n | % | |||
| 1 | 72 | 21,05 | 87 | 25,44 | ||
| 2 | 50 | 14,62 | 50 | 14,62 | ||
| 3 | 35 | 10,23 | 24 | 7,02 | 0,128 | 0,044 |
| 4 | 17 | 4,97 | 5 | 1,46 | ||
| 5 | 2 | 0,58 | 0 | 0 | ||
| 6 | 0 | 0 | 0 | 0 | ||
Tabel 10. Pengaruh Jumlah Sumber Iklan dengan Kategori Perilaku
| Jumlah Sumber | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Iklan | Positif | Negatif | r | p | ||
| n | % | n | % | |||
| 1 | 79 | 23,09 | 80 | 23,39 | ||
| 2 | 52 | 15,21 | 48 | 14,04 | ||
| 3 | 36 | 10,53 | 23 | 6,73 | 0,083 | 0,153 |
| 4 | 14 | 4,09 | 8 | 2,34 | ||
| 5 | 2 | 0,59 | 0 | 0 | ||
| 6 | 0 | 0 | 0 | 0 |
Pengaruh Profil Demografi terhadap Persepsi dan Perilaku Mengatasi Dismenorea
Karakteristik responden seperti umur, pendidikan terakhir, dan penghasilan per bulan dianalisis untuk mengetahui apakah karateristikkarakteristik ini mempengaruhi persepsi dan perilaku responden dalam mengatasi dismenorea.
A. Pengaruh Umur terhadap Persepsi dan Perilaku Mengatasi Dismenorea
Pada penelitian ini, semua responden berusia 18- 49 tahun yang dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan Depkes RI. Pada umur direntang 17- 25 tahun, sebanyak 142 (41,52%) responden memiliki persepsi yang kurang mengenai penanganan dismenorea yang dibentuk dari iklan terapi dismenorea. Sementara pada responden dengan kelompok umur 26-35 tahun cenderung memilki persepsi yang baik. Begitu juga dengan responden dengan kelompok usia 36-45 tahun dan 46-55 tahun. Selanjutnya, usia responden dianalisis secara statistik untuk mengetahui pengaruh umur terhadap persepsi responden mengenai penanganan dismenorea. Nilai signifikansi yang dihasilkan sebesar 0,057 (p>0,05) sebagaimana tertera dalam Tabel 11, sedikit lebih besar daripada nilai p 0,05. Dilihat dari hasil tersebut, dikatakan bahwa tidak terdapat pengaruh umur terhadap persepsi responden. Hasil yang didapatkan ini berbeda dengan teori Neiss et al. (2009) menjelaskan bahwa perbedaan umur menghasilkan persepsi emosional yang berbeda yaitu pada usia dewasa cenderung memiliki kontrol emosi yang lebih baik dan pandangan yang lebih positif. Persepsi seseorang dilatarbelakangi oleh pengalaman, motivasi, dan ekspekstasi. Pengalaman dan motivasi wanita dalam mengatasi dismenorea berbeda-beda sebab
dilansir oleh Lestari et al. (2018) , dismenorea kerap dialami oleh perempuan pada rentang usia 18-25 tahun lalu semakin berkurang dengan pertambahan usia. Karena dismenorea lebih banyak dirasakan oleh wanita pada rentang usia tertentu, maka terapi dismenorea juga lebih banyak ditujukan pada kelompok usia tertentu. Atas dasar inilah, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel.
Untuk variabel perilaku penanganan dismenorea dari iklan terapi dismenorea, dapat dilihat bahwa perilaku responden lebih banyak dalam kategori negatif (40,35%). Hanya berselisih 1 responden dengan perilaku positif pada kelompok usia 17-25 tahun. Pada kelompok usia lainnya, di setiap kelompokkelompok tersebut dapat dilihat persentase paling banyak adalah perilaku positif. Analisis statistik kemudian dilakukan untuk melihat hubungan umur dengan perilaku respon-den dalam usaha mengatasi
dismenorea ber-dasarkan iklan terapi dismenorea. Didapatkan hasil yang signifikan yaitu sebesar 0,021 (p<0,05). Hasil ini menunjukkan adanya pengaruh umur dalam perilaku responden mengatasi dismenorea. Hal serupa dilaporkan dalam penelitian Farotimi et al. (2015) yang menunjukkan adanya hubungan antara umur dengan perilaku mencari pengobatan dismenorea. Penelitian yang dilakukan oleh Pradini (2020) menyebutkan bahwa perilaku penanganan dismenorea dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap, kedua faktor ini yang mempengaruhi baiknya perilaku dalam melakukan penanganan dismenorea. Pengetahuan bisa didapatkan dari berbagai sumber informasi mengenai dismenorea, salah satunya adalah iklan. Uji lanjutan dilakukan untuk melihat perbedaan antar kelompok usia terhadap perilaku (tabel 16). Dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan bermakna antar kelompok umur 17-25 tahun dengan kelompok umur 26-35 tahun dalam perilaku mengatasi dismenorea.
Tabel 11. Pengaruh Umur terhadap Persepsi dan Perilaku
| Persepsi | ||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Umur | Baik | Kurang | p | Positif | Negatif | p | ||||
| n | % | n | % | n | % | n | % | |||
| 17-25 tahun | 133 | 38,89 | 142 | 41,52 | 137 | 40,06 | 138 | 40,35 | ||
| 26-35 tahun | 14 | 4,09 | 9 | 2,63 | 16 | 4,68 | 7 | 2,05 | ||
| 36-45 tahun | 19 | 5,56 | 13 | 3,80 | 0,057 | 20 | 5,85 | 12 | 3,51 | 0,021 |
| 46-55 tahun | 10 | 2,92 | 2 | 0,58 | 10 | 2,92 | 2 | 0,58 |
B. Pengaruh Pekerjaan terhadap Persepsi dan Perilaku Mengatasi Dismenorea
Pekerjaan responden terbagi menjadi beberapa jenis yaitu pelajar/mahasiswa, pegawai negri/swasta, wiraswasta, ibu rumah tangga, dan lainnya yang terdiri dari freelance, guru, honorer, jobseeker, PPNPN, dan pengangguran. Pada Tabel 12, kelompok profesi pelajar/mahasiswa, lebih banyak responden yang memiliki persepsi yang kurang (38,01%) daripada persepsi dengan kategori baik (35,67%). Untuk kelompok pekerjaan pegawai negri/swasta, cenderung memiliki persepsi dalam kategori baik, begitupula halnya dengan wiraswasta, dan ibu rumah tangga, sementara untuk pekerjaan lainnya, selisih satu responden dimana lebih banyak responden yang memiliki persepsi dengan kategori kurang dalam
usaha penanganan dismenorea. Untuk variabel perilaku, pada semua kelompok pekerjaan, responden cenderung memiliki perilaku dengan kategori positif. Analisis statistik antara variabel profesi dengan kedua variabel dependen dilakukan sehingga didapatkan hasil yang tidak signifikan. Artinya tidak ada pengaruh pekerjaan terhadap persepsi (p>0,05) dan perilaku (p>0,05) responden dalam mengatasi dismenorea. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kordi et al. (2013), stress yang ditimbulkan oleh pekerjaan dapat mempengaruhi keparahan dari dismenorea. Tetapi, pada penelitian ini, hasil tidak sejalan. Hal ini bisa disebabkan karena tingkatan stress yang timbul dari pekerjaan responden berbeda-beda sehingga belum dapat dilihat signifikansi antara setiap pekerjaan dengan persepsi dan perilaku mengatasi dismenorea.
Tabel 12. Pengaruh Pekerjaan terhadap Persepsi dan Perilaku
| Persepsi | ||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Pekerjaan | Baik | Kurang | Positif | Negatif | p | |||||
| | % | | % | p | | % | | % | ||
| Pelajar/Mahasiswa | 122 | 35,67 | 130 | 38,01 | 127 | 37,13 | 125 | 36,55 | ||
| Pegawai Negri/Swasta | 27 | 7,89 | 15 | 4,39 | 25 | 7,31 | 17 | 4,97 | ||
| Wiraswasta | 3 | 0,88 | 2 | 0,58 | 0,394 | 4 | 1,17 | 1 | 0,29 | 0,139 |
| Ibu rumah tangga | 19 | 5,56 | 13 | 3,80 | 21 | 6,14 | 11 | 3,22 | ||
| Lainnya | 5 | 1,46 | 6 | 1,75 | 6 | 1,75 | 5 | 1,46 | ||
C. Pengaruh Pendidikan terakhir terhadap Persepsi dan Perilaku Mengatasi Dismenorea
Pada variabel persepsi, terdapat 1 responden yang memiliki pendidikan terakhir SMP/Sederajat yang memiliki persepsi tinggi (0,29%), serta tidak ada responden yang memiliki pendidikan terakhir di SD/Sederajat. Responden paling banyak memiliki tingkat pendidikan terakhir di SMA/Sederajat. Pada tingkat ini, persepsi responden paling banyak pada kategori kurang (32,46%), sedangkan pada tingkat pendidikan Diploma (D1/D2/D3/D4), responden lebih banyak memiliki persepsi yang baik (2,63%). Di tingkat Strata (S1/S2/S3), juga demikian yaitu lebih banyak yang memiliki persepsi baik (17,25%) dalam penanganan dismenorea dari iklan. Pada variabel perilaku, responden dengan pendidikan terakhir SMP/Sederajat juga memiliki perilaku yang positif (0,29%). Responden dengan pendidikan terakhir SMA/Sederajat cenderung memilki perilaku yang negatif (33,04%). Sedangkan responden dengan pendidikan terakhir Diploma (D1/D2/D3/D4) lebih banyak yang memiliki perilaku yang positif (3,51%), begitupula pada responden dengan pendidikan terakhir Diploma (D1/D2/D3/D4) yaitu 19,01% dan dengan Strata (S1/S2/S3) yaitu 19,01%. Variabel pendidikan terakhir kemudian dianalisis secara statistik untuk melihat hubungannya dengan persepsi dan perilaku dalam mengatasi dismenorea. Tidak ditemui hasil yang signifikan antara hubungan pendidikan terakhir dengan persepsi maupun perilaku (p>0,05) (Tabel 13).
Dilihat dari kecenderungan jumlah responden dari setiap kelompok pendidikan terakhir dalam kategori persepsi dan perilaku, dapat dikatakan bahwa semakin meningkatnya pendidikan seseorang, maka persepsi semakin baik dan perilaku positif. Semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi pengetahuan yang didapatkan. Pengetahuan merupakan hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya dan faktor yang mempengaruhi persepsi penanganan terhadap dismenorea, dilansir oleh Sari et al. (2021). Pengetahuan yang dipersepsikan dapat membentuk suatu sikap. Dari hal tersebut, dikatakan bahwa tingkat pendidikan seharusnya akan mempengaruhi persepsi maupun perilaku seseorang. Namun, hasil penelitian yang didapatkan tidak sesuai dimana tidak ada pengaruh tingkat pendidikan terhadap persepsi dan perilaku seseorang. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewi (2019) bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap sikap mengatasi dismenorea primer. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi sikap tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan, namun masih banyak faktor lain seperti kepercayaan, tradisi.
Tabel 13. Pengaruh Pendidikan Terakhir terhadap Persepsi dan Perilaku Mengatasi Dismenorea
| Pendidikan Terakhir | Persepsi | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Baik | Kurang | Positif | Negatif | p | ||||||
| n | % | n | % | n | % | n | % | |||
| SD/Sederajat | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | ||
| SMP/Sederajat | 1 | 0,29 | 0 | 0 | 1 | 0,29 | 0 | 0 | 0,074 | |
| SMA/Sederajat | 107 | 31,29 | 111 | 32,46 | 105 | 30,70 | 113 | 33,04 | ||
| Pendidikan Terakhir | Persepsi | Perilaku | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Baik | Kurang | Positif | Negatif | ||||||||
| n | % | n | % | p | n | % | n | % | p | ||
| Diploma (D1/D2/D3/D4) | 9 | 2,63 | 7 | 2,05 | 0,553 | 12 | 3,51 | 4 | 1,17 | ||
| Strata (S1/S2/S3) | 59 | 17,25 | 48 | 14,04 | 65 | 19,01 | 42 | 12,28 | |||
D. Pengaruh Penghasilan per bulan terhadap Persepsi dan Perilaku Mengatasi Dismenorea
Penghasilan per bulan dari responden pada penelitian ini terbagi menjadi beberapa kelompok tingkatan penghasilan yaitu belum bekerja atau tidak memiliki penghasilan, <5.000.000, 5.000.000-10.000.000, 10.000.000-15.000.000, 15.000.000-35.000.000, dan >35.000.000. Persentase kelompok penghasilan per bulan terbanyak pada variabel persepsi adalah belum bekerja. Pada kelompok ini, responden lebih banyak memiliki persepsi yang baik (33,63%) daripada kurang (33,33%). Pada kelompok <5.000.000, jumlah responden yang memiliki persepsi baik juga lebih banyak (11,70%) daripada kurang (10,82%). Begitupula pula dengan kelompok penghasilan lainnya selain kelompok penghasilan 15.000.000-35.000.000 dan >35.000.000. Pada kelompok penghasilan 15.000.000-35.000.000, jumlah responden yang memiliki persepsi kurang (0,58%) dan baik (0,58%) adalah sama. Analisis statistik dilakukan untuk melihat hubungan dengan antara penghasilan per bulan dengan persepsi responden dalam mengatasi dismenorea. Hasil yang didapatkan adalah tidak ada pengaruh atau hubungan signifikan antara kedua variabel ini (p>0,05) sebagaimana dijelaskan pada Tabel 14. Penelitian yang dilakukan oleh Borjigen et al. (2019) juga menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan penghasilan keluarga per bulan dengan sikap terhadap menstruasi. Hal ini bisa terjadi karena status ekonomi yang berbeda juga akan menyikapi penanganan dengan cara yang berbeda dan terdapat faktor lain yang lebih mempengaruhi misalnya pengalaman pribadi. Pada penelitian ini, informasi mengenai terapi dismenorea lebih banyak diakses melalui internet/media sosial dan rekomendasi teman/kerabat/keluarga.
Tabel 14. Pengaruh Penghasilan perbulan terhadap Persepsi dan Perilaku Mengatasi Dismenorea
| Persepsi | Perilaku | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Penghasilan | Baik | Kurang | p | Positif | Negatif | |||||
| perbulan | n | % | n | % | n | % | n | % | p | |
| Belum bekerja | 115 | 33,63 | 114 | 33,33 | 115 | 33,63 | 114 | 33,33 | ||
| <5.000.000 | 40 | 11,70 | 37 | 10,82 | 42 | 12,28 | 35 | 10,23 | ||
| 5.000.000- | 14 | 4,09 | 9 | 2,63 | 15 | 4,39 | 8 | 2,34 | ||
| 10.000.000 | ||||||||||
| 10.000.000- | 5 | 1,46 | 3 | 0,88 | 0,820 | 7 | 2,05 | 1 | 0,29 | 0,332 |
| 15.000.000 | ||||||||||
| 15.000.000- | 2 | 0,58 | 2 | 0,58 | 3 | 19,01 | 1 | 0,29 | ||
| 35.000.000 | ||||||||||
| >35.000.000 | 0 | 0 | 1 | 0,29 | 1 | 0,29 | 0 | 0 | ||
Tabel 15. Hasil Uji Lanjutan Pengaruh Sumber Iklan terhadap Persepsi Mengatasi Dismenorea
| Pasangan Kelompok | Nilai p | Keterangan |
|---|---|---|
| Jumlah Sumber Iklan | ||
| 1-2 | 0,571 | Tidak signifikan |
| 1-3 | 0,239 | Tidak signifikan |
| 1-4 | 0,007 | Signifikan |
| 1-5 | 0,122 | Tidak signifikan |
| 2-3 | 0,514 | Tidak signifikan |
| 2-4 | 0,022 | Signifikan |
| 2-5 | 0,150 | Tidak signifikan |
| Pasangan Kelompok Jumlah Sumber Iklan | Nilai p | Keterangan |
|---|---|---|
| 3-4 | 0,083 | Tidak signifikan |
| 3-5 | 0,200 | Tidak signifikan |
| 4-5 | 0,508 | Tidak signifikan |
Tabel 16. Hasil Uji Lanjutan Pengaruh Umur terhadap Perilaku Mengatasi Dismenorea
| Pasangan Kelompok | Nilai p | Keterangan |
|---|---|---|
| Umur | ||
| 17-25 tahun & 36-45 tahun | 0,057 | Tidak signifikan |
| 17-25 tahun & 26-35 tahun | 0,045 | Signifikan |
| 17-25 tahun & 46-55 tahun | 0,062 | Tidak Signifikan |
| 36-45 tahun & 26-35 tahun | 0,771 | Tidak signifikan |
| 36-45 tahun & 46-55 tahun | 0,566 | Tidak signifikan |
| 26-35 tahun & 46-55 tahun | 0,748 | Tidak signifikan |
Persentase kelompok penghasilan per bulan dalam kategori perilaku yang terbanyak adalah belum bekerja. Di kelompok ini, lebih banyak responden yang memiliki perilaku yang positif dalam mengatasi dismenorea (33,63%). Pada kelompok penghasilan per bulan <5.000.000 juga demikian yaitu sebanyak 12,28% responden berperilaku positif. Kelompok penghasilan per bulan lainnya masing-masing juga memiliki kecenderungan responden yang berperilaku positif. Penghasilan per bulan dengan perilaku dilihat hubungannya secara statistik. Didapatkan hasil tidak signifikan diantara keduanya (p> 0,05). Hasil ini sejalan dengan Ilmi et al. (2021) yang menyatakan tidak ada hubungan antara penghasilan dengan perilaku swamedikasi analgesik. Faktor lain seperti umur dan pendidikan. Selain itu, akses dalam memperoleh obat-obatan dismenorea semakin mudah sehingga dengan penghasilan yang rendah juga bisa memperoleh terapi dismenorea.
Pada penelitian ini, dapat dilihat bagaimana iklan mempengaruhi persepsi maupun perilaku dalam mengatasi dismenorea. Dalam melihat pengaruh ini, pada penelitian digunakan metode pengumpulan menggunakan platform online yaitu Google Form sehingga rentan terhadap bias karena data demografi tidak dapat divalidasi secara langsung dan digunakan skala likert dalam menganalisisnya sehingga dalam interpretasinya perlu dilakukan beberapa tahap pengolahan data hingga didapatkan data yang tersajikan secara baik. Meskipun demikian, penelitian ini mampu merepresentasikan bagaimana persepsi dan perilaku wanita atau sejauh mana iklan dapat mempengaruhi pemikiran atau keputusan dalam mengatasi dismenorea. Dengan penelitian ini juga, mampu memberikan gambaran kedepannya bagaimana pelaksanaan publikasi iklan maupun terapi dismenorea yang tepat dan bermanfaat bagi wanita. Hal ini dapat berguna bagi tenaga kesehatan maupun regulator seperti BPOM untuk menambah wawasan sehingga penerapan terapi dismenorea menjadi lebih optimal. Untuk penelitian selanjutnya, bisa dianalisis terkait dimensi terpaan iklan lainnya seperti durasi dan intensitas penayangan terhadap perilaku.
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh iklan terhadap persepsi wanita usia subur dalam mengatasi dismenorea, namun iklan tidak berpengaruh terhadap perilaku responden dalam usaha mengatasi dismenorea. Terdapat pengaruh karakteristik demografi berupa umur terhadap perilaku responden, sedangkan karakteristik pendidikan terakhir, pekerjaan dan penghasilan responden tidak berpengaruh baik terhadap persepsi maupun perilaku.
