PENDAHULUAN
Rasa nyeri merupakan tanda adanya kerusakan jaringan dalam tubuh. Nyeri dapat disebabkan oleh rangsangan mekanis atau bahan kimia yang dapat merusak jaringan dan melepaskan mediator nyeri seperti prostaglandin, bradikinin, histamin, serotonin (Lara dkk. 2021). Obat pereda nyeri memang efektif dalam mengatasi nyeri, namun obat kimia memiliki efek samping, termasuk sakit maag dan penyakit saluran cerna lainnya. Berdasarkan hal tersebut untuk menghindari efek samping dari obat kimia, dapat menggunakan pengobatan tradisional. Pemanfaatan tanaman sebagai pengobatan tradisional yang diyakini memiliki efektivitas analgesik dan efek sampingnya lebih rendah. Hal ini dapat menggunakan tanaman dari famili Zingiberaceae dimana tanaman dari famili tersebut telah terbukti menjadi agen hipoalgesik yang efektif secara klinis daripada obat antiinflamasi non-steroid.
Tanaman temu blenyeh yang termasuk dalam famili Zingiberaceae mengandung berbagai metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, triterpenoid dan steroid. Menurut penelitian Pramiastuti dan Murti (2022) keberadaan senyawa-senyawa ini dalam ekstrak temu blenyeh menjadi bermanfaat untuk mengobati berbagai penyakit seperti batuk, infeksi kulit, abses, sakit perut dan gatal-gatal pada kulit. Selain itu, temu blenyeh juga menunjukkan aktivitas farmakologis yang meliputi sifat antikanker, antioksidan dan berpotensi sebagai agen terapeutik (Suprihatin dkk. 2020).
Berdasarkan uraian diatas maka tanaman temu blenyeh diduga memiliki efek analgesik. Oleh karena itu, perlu adanya pembuktian dengan cara dilakukan pengujian tentang efektivitas analgesik ekstrak temu blenyeh (Curcuma purpurascens Blume) dengan hewan uji.
METODE
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian merupakan timbangan analitik (Ohaus), blender (philips), alatalat gelas seperti gelas ukur (Pyrex), beaker glass (Pyrex), tabung reaksi (Pyrex), cawan petri, tabung reaksi, batang pengaduk, cawan, kandang mencit, mortir, stamper, sonde oral, spuit dispossable 1 mL (Onemed), stopwatch, toples kaca, kain flanel, rotary evaporator (Biobase), pipet tetes.
Bahan yang digunakan pada penelitian temu blenyeh, etanol 70%, akuades, pereaksi Mayer, pereaksi Wagner, asam asetat glasial 1%, serbuk magnesium, FeCl3 5%, HCl 2%, nutrient agar, potato dextrose agar, NaCL, Na CMC, H2SO4 pekat, mencit putih jantan yang berusia 8-12 minggu dan memiliki bobot 20-40 gram.
Pembuatan ekstrak
Ekstrak kental diproses melalui metode maserasi. Serbuk temu blenyeh sebanyak 500 gram direndam dengan etanol 70%, proses ekstraksi dilakukan selama 72 jam. Setelah itu disaring yang bertujuan untuk memisahkan filtrat dan residu. Residu yang tersisa kemudian dapat direndam kembali dengan pelarut yang sama untuk proses remaserasi. Filtrat yang terkumpul diuapkan dengan waterbath sehingga diperoleh ekstrak kental (Amellia dkk. 2015).
Standardisasi Ekstrak
Uji parameter spesi?ik
Uji parameter spesifik dilakukan dengan pengamatan organoleptis pada ekstrak. Pengamatan organoleptis menggunakan pancaindra dengan mengamati bentuk, warna, dan rasa (Depkes RI 2017).
Susut pengeringan
Botol timbang yang telah dipanaskan kemudian dimasukkan ekstrak sebanyak 1 gram. dan dipanaskan dalam oven pada suhu 37ºC selama 30 menit (Depkes RI 2017).
Bebas pelarut
Pengujian bebas pelarut yang dilakukan dengan mencampurkan larutan ekstrak dengan asam sulfat kemudian menambahkan asam asetat dan menutupnya dengan kapas. Selanjutnya dipanaskan sampai mencapai titik didih. Hasil positifnya jika tidak tercium bau ester (Zulfiah dkk. 2020).
Firsty, dkk.
Kadar air
Ekstrak sebanyak 1 gram dan menempatkannya pada piringan alumunium foil di mosture analyzer. Selanjutnya suhu diatur pada suhu 1050C, lalu alat ditutup dan ditunggu hingga berbunyi(Zulfiah dkk. 2020). Syarat pengujian <10% (Depkes RI 2017).
Kadar abu total
Uji kadar abu total dilakukan dengan menimbang sebanyak 1 gram ekstrak. Kemudian dipanaskan hingga terbentuk abu dengan memijarkannya selama sekitar 6 jam pada suhu 6000C di dalam tanur hingga pengabuan selesai. Setelah pengabuan selesai kemudian diletakan dalam eksikator sampai suhu seperti semula dan ditimbang kembali. Syarat abu total yang baik 0,4% (Depkes RI 2017).
Kadar abu tidak larut asam
Pengujian ini dilakukan dengan melarutkan abu total dalam asam klorida sebanyak 25 mL. Setelah itu, abu yang tidak larut dalam asam dipisahkan menggunakan kertas saring yang bebas abu dan dicuci dengan air panas. Abu yang telah disaring kemudian dipanaskan dalam krus sampai mencapai bobot yang konstan. Syarat kyang baik tidak lebih 0,1% (Depkes RI 2017).
Cemaran mikroba
Pengenceran 10-1 dibuat menggunakan sebanyak 1 gram ekstrak diencerkan larutan NaCl. Kemudian tiga tabung reaksi disiapkan dan masing-masing diisi dengan larutan NaCl. Pengenceran awal 10-1 diambil 1 mL larutan dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi pertama. Larutan tersebut dikocok hingga homogen untuk menghasilkan pengenceran 10-2. Langkah selanjutnya dilakukan untuk mendapatkan pengenceran 10-3 dan 10-4 (Depkes RI 2000)
Penentuan angka lempeng total dilakukan dengan mengambil 1 mL dari tiap pengenceran, tuang pada media NA (Nutrient Agar) yang masih cair. Kemudian ratakan suspensi agar lalu dinginkan hingga memadat. Setelah itu, media disimpan selama 24 jam pada suhu 370C. Setelah mengamati dan menghitung berapa banyak koloni bakteri yang tumbuh, hasilnya dikalikan dengan faktor
pengenceran. Syarat ≤105 CFU/gram (Depkes RI 2000).
Penentuan kapang khamir
Penentuan angka kapang/khamir mengambil 1 mL dari setiap pengenceran, tuang pada media PDA (Potato Dextrose Agar) yang masih cair. Kemudian ratakan suspensi agar lalu dinginkan hingga memadat. Setelah itu media disimpan selama selama 3-5 hari pada suhu 37°C. Setelah mengamati dan dan menghitung berapa banyak kapang/khamir tumbuh. Syarat ≤104 CFU/gram (Depkes RI 2000).
Bobot jenis
Penentuan bobot jenis menggunakan piknometer. Piknometer ditimbang dahulu, lalu diisi dengan akuades kemudian ditimbang. Akuades kemudian dikeluarkan dari piknometer dan dikeringkan. Selanjutnya, ekstrak yang telah diencerkan 5 % dan ditimbang kembali. Hitung nilai bobot jenis (Depkes RI 2017).
Skrining Fitokimia
Pengujian ?lavonoid
Ekstrak ditambahkan logam magnesium secukupnya dan diencerkan dengan 4 tetes asam klorida pekat. Adanya senyawa flavonoid larutan merah atau jingga (Pramiastuti dan Murti 2022).
Pengujian Alkaloid
Ekstrak ditambahkan 5-10 tetes HCl 2%. Larutan dibagi menjadi dua, larutan pertama tambahkan 2- 3 tetes reagen mayer terbentuknya endapan putih atau kekuningan. Larutan kedua ditambahkan 2-3 tetes reagen dragendroff terbentuk endapan merah bata, merah atau jingga (Pramiastuti dan Murti 2022).
Pengujian Saponin
Ekstrak ditambahkan dengan 10 mL air panas. Ditambahkan HCl 2N 2-3 tetes, lalu dikocok hingga terbentuk buih dan diamkan selama 10 menit.Hasil uji saponin maka buih setinggi 1-3 cm (Saubari dkk. 2020).
Pengujian Tanin
Ekstrak ditambahkan 1-2 tetes FeCl3 5%. Uji tanin dianggap positif jika larutan berubah menjadi berwarna hijau kehitaman atau biru tua (Hardiyanti dkk. 2022).
Pengujian Triterpenoid dan Steroid
Pengujian ini dengan penambahan asam asetat anhidrat dan asam sulfat pekat dengan hati-hati melalui dinding tabung. Hasil positif triterpenoid jika larutan berwarna ungu sedangkan hasil positif steroid jika terbentuk warna hijau kebiruan (Hardiyanti dkk. 2022).
Pengujian Analgesik
Pembuatan Na CMC 1%
Serbuk 1 gram Na CMC kemudian dilarutkan 10 mL air hangat dan aduk hingga mengembang. Setelah itu homogenkan dan tambahkan akuades volume 100 mL (Sumonda dkk. 2021).
Pembuatan asam asetat 1 %
Mengambil 0,1 mL asam asetat glasial pekat dilarutkan akuades sampai volume 10mL. Larutan diberikan secara intraperitonial sebanyak 0,1 m L/ 20 gram BB (Fadhilla, G., A dnyana, I. K.&Chaniago, R. 2020).
Pembuatan suspensi antalgin 500 mg
Tablet antalgin 500 mg ditimbang satu per satu dan dihaluskan sampai menjadi serbuk, kemudian diambil sesuai dosis 1,3 mg/20 gram BB dan dilarutkan dalam larutan Na-CMC 1%, sampai volume 10mL (Dewi & Salim, 2018).
Uji efek analgesik
Pengujian efektivitas analgesik dilakukan dengan cara mengaklimatisasikan hewan uji selama 1 bulan. Hewan uji yang digunakan sebanyak 25 ekor mencit putih jantan galur swiss webster. Kemudian dibagi ke dalam 5 perlakuan yang berbeda, selanjutnya ditimbang satu per satu hewan uji. Sampel diberikan secara oral meliputi ekstrak temu blenyeh yang diberikan dalam dosis 50 mg/kg BB, 100 mg/kg BB, dan 150 mg/kg BB. Sebagai kontrol negatif, akuades diberikan 0,2 mL/ 20 gram BB, sedangkan antalgin 500mg diberikan
1,3 mg/ 20 gram BB sebagai kontrol positif. Larutan asam asetat 1% yang digunakan sebagai penginduksi diberikan secara intraperitoneal dengan volume 0,1 mL/20 gram. Mencit yang sudah diinduksi didiamkan selama 5 menit sebelum pengamatan perilaku. Sampel uji diberikan 30 menit sebelum induksi. Geliat ditandai dengan perilaku mencit dimana kedua kaki ditarik kebelakang dan perut menempel pada lantai (Bajuber dkk. 2020).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembuatan ekstrak temu blenyeh menggunakan metode maserasi. Proses maserasi dengan melibatkan perendaman serbuk temu blenyeh dalam pelarut etanol 70%. Pemilihan pelarut etanol 70% karena bersifat polar, sehingga dapat mengekstraksi atau memisahkan senyawa polar hingga non polar, etanol dengan konsentrasi 70% sangat efektif menghasilkan bahan aktif, namun hanya dengan jumlah kecil zat pengganggu yang terdapt dalam ekstraknya (Depkes RI, 1986). Maserasi dilakukan dengan merendam 500 gram serbuk temu blenyeh direndam 1500 mL etanol 70% selama tiga hari pada suhu kamar dengan dilakukan pengadukan satu kali sehari. Setelah tiga hari filtrat dipisahkan dari residunya, lalu filtrat di uapkan menggunakan penangas air, setelah mendapatkan ekstrak kental, kemudian menghitung persentase rendemen ekstrak, pada pembuatan ekstrak kental yang telah dilakukan diperoleh rendemen ekstrak sebesar 26,6%. Hal ini sesuai dengan persyaratan karena hasil rendemen lebih dari 11% yang mengacu pada persyaratan rendemen ekstrak kental rimpang kunyit yang terdapat pada Farmakope Herbal Indonesia karena kunyit masih satu genus dengan temu blenyeh (Depkes RI 2017 ).
Standardisasi ekstrak merupakan proses untuk memastikan ekstrak harus memenuhi persyaratan, agar memiliki nilai parameter yang tetap, selain itu juga untuk memastikan keamanan dan kualitas standar mutu yang telah ditetapkan berdasarkan parameter spesifik dan non-spesifik (Wijanarko dkk.. 2020). Hasil standarisasi ekstrak temu blenyeh dapat dilihat pada Tabel 1. Standardisasi ekstrak dilakukan secara spesifik dengan pemeriksaan sampel secara orgaleptis, hasil yang diperoleh ektrak temu blenyeh berwarna coklat
kehitaman, bentuknya kental, memiliki aroma khas temu blenyeh dan rasa pahit. Dalam pengujian parameter non-spesifik ektrak temu blenyeh pada uji kadar air dan susut pengeringan memperoleh
hasil 4,92% dan 1,46%. Pengujian kadar air dan susut pengeringan memenuhi syarat karena tidak melebihi 10% (Depkes RI 2017).
Tabel. 1 Hasil Standardisasi Ekstrak Temu Blenyeh
| Parameter | Hasil | Standar | |
|---|---|---|---|
| Kadar air | 4,92% | ≤ 10% | |
| Susut pengeringan | 1,46% | ≤ 10% | |
| Kadar abu total | 0,40% | 0,40% | |
| Kadar abu tidak larut asam | 0,10% | 0,10% | |
| Bebas pelarut | tidak bau ester | tidak bau ester | |
| Bobot jenis | 0,90 g/mL | 1 g/mL | |
| Cemaran mikroba | - | ≤105 | |
| Angka kapang/khamir | 5,50 × 104 CFU/g | 1 × 104 CFU/g | |
Pada penelitian ini pengujian kadar abu total menghasilkan 0,40% yang artinya memenuhi syarat karena ≤ 0,40% sedangkan pada kadar abu tidak larut dalam asam menghasilkan 0,10%. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak temu blenyeh telah memenuhi syarat karena 0,10% parameter abu tidak larut asam (Depkes RI 2017). Hasil uji bebas pelarut menunjukkan bahwa ekstrak temu blenyeh bebas pelarut, karena tidak adanya bau ester. Bobot jenis ekstrak temu blenyeh pada penelitian ini diperoleh sebesar 0,90 g/mL, standar parameter ini mengacu pada ekstrak rimpang lempuyung gajah yang masih satu famili dimana diperoleh nilai bobot jenis sebesar 1 g/mL. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang tidak terlalu signifikan (Hanwar dkk. 2019). Cemaran mikroba dengan metode ALT menunjukkan hasil negatif, karena koloni yang dihasilkan kurang dari range 25-250, sehingga tidak dihitung. Dalam penggunaan CPOTB produksi obat tradisional lebih bernilai karena koloni yang dihasilkan lebih sedikit (Dwisari, 2021) pengamatan uji angka kapang khamir yang dilakukan pada penelitian ini hasil diperoleh sebesar 5,50 × 104 CFU/g, sehingga pengujian ini ekstrak temu blenyah tidak memenuhi syarat karena menurut BPOM syarat angka kapang khamir kurang dari 1 × 104 CFU/g.
Penapisan fitokimia merupakan pengujian untuk mengetahui keberadaan dan jenis senyawa kimia yang dapat memberikan efek farmakologis pada ekstrak temu blenyeh. Hasil penapisan fitokimia ekstrak temu blenyeh dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan penapisan fitokimia dengan reagen pada ekstrak temu blenyeh memiliki kandungan metabolit sekunder seperti saponin, flavonoid, tanin, alkaloid, dan triterpenoid, namun uji steroid ini menunjukkan hasil negatif yang artinya ekstrak temu blenyeh tidak mengandung senyawa metabolit sekunder steroid. Tidak teridentifikasinya senyawa metabolit sekunder steroid karena tidak terjadi perubahan warna biru kehitaman. Adanya senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak temu blenyeh diduga mempunyai efektivitas analgesik, sehingga keberadaan senyawa metabolit sekunder pada ekstrak dapat berguna untuk menguji efek analgesik.
Pengujian efektitivitas analgesik pada penelitian ini menggunakan metode geliat untuk menguji efektivitas analgesik pada ekstrak temu blenyeh. Dalam penelitian ini mencit putih jantan digunakan sebagai hewan uji karena responnya yang stabil dibandingkan dengan mencit betina. Hal ini disebabkan karena kondisi biologis mencit betina dapat dipengaruhi oleh masa siklus estrusnya yang dapat mempengaruhi respon terhadap perlakuan analgetik (Lara dkk. 2021). Pengujian efektivitas analgetik dalam penelitian ini menggunakan 25 ekor mencit putih jantan yang dikelompokkan menjadi 5 kelompok perlakuan. Hewan uji yang digunakan dilalukan aklimatisasi sebelum diberikan perlakuan, sebelum hewan uji diberikan perlakuan hewan uji selama 1 bulan dengan tujuan untuk memastikan bahwa mencit beradaptasi dengan lingkungan baru dan tidak mengalami stres sebelum dilakukan (Putra dkk. 2021).
Tabel. 2 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Temu Blenyeh
| Senyawa | Hasil Pengamatan | Syarat | Literatur | Ket |
|---|---|---|---|---|
| Flavonoid | Larutan warna jingga | Larutan jingga/merah | (Pramiastuti & Murti, 2022) | (+) |
| Saponin | Terbentuk busa 2 cm | Terbentuk busa setinggi 1-3 cm | (Saubari dkk. 2020) | (+) |
| Tanin | Larutan berwarna kehitaman | Larutan hijau kehitaman atau biru tua | (Hardiyanti dkk. 2022) | (+) |
| Alkaloid | (Pramiastuti & | (+) | ||
| Mayer | Terbentuk endapan kekuningan | Terbentuk endapan putih sampai kekuningan | Murti, 2022) | |
| Dragendroff | Terbentuk endapan jingga | Terbentuk endapan jingga, merah, atau merah bata | ||
| Triterpenoi dan | Larutan berwarna | Larutan warna ungu | (Hardiyanti dkk. 2022) | (+) |
| Steroid | ungu | (Triterpenoid), Hijau dan biru kehitaman (Steroid) | (-) |
Keterangan :
(+) : Adanya senyawa metabolit sekunder pada ekstrak temu blenyeh
(-) : Tidak adanya senyawa metabolit sekunder pada ekstrak temu blenyeh
Larutan sampel diberikan secara per oral yang terdiri dari kontrol negatif (aquadest), kontrol positif (antalgin tablet) dan dosis ekstrak temu blenyeh. Larutan sampel diberikan 30 menit sebelum pemberian larutan induksi. Tujuannya untuk memastikan efektivitas obat atau ekstrak temu blenyeh dalam memberikan efek perlindungan terhadap rasa sakit akibat larutan penginduksi (Afriati dkk. 2014). Penginduksi yang digunakan pada penelitian ini menggunakan asam asetat glasial 1%, dipilihnya asam asetat glasial sebagai iritan karena dapat merusakan sel jaringan lokal untuk sementara waktu dan juga menyebabkan nyeri akibat iritasi pada rongga perut dapat menyebabkan kaki ditarik ke belakang atau di regangakan sehingga menyebabkan perut menempel pada lantai (Thompson 1985).
Pemberian asam asetat dilakukan setelah 30 menit pemberian sampel secara intraperitoneal dan dibiarkan selama 5 menit. Selanjutnya dilakukan pengamatan geliat pada hewan uji setiap 10 menit
selama 1 jam. Hewan uji dinyatakan menggeliat ditandai dengan kakinya ditarik ke belakang dan perutnya menempel lantai (Bajuber dkk. 2020). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok mempunyai jumlah rata-rata yang bervariasi. Kontrol negatif (akuades) memperoleh jumlah rata-rata yang lebih besar dibandingan dosis lainnya, sedangkan jumlah rata- rata geliat yang sedikit pada kontrol positif dan dosis 150 mg/kg BB. Persentase proteksi geliat dapat dihitung menggunakan jumlah rata-rata yang diperoleh kemudian dibandingkan terhadap jumlah rata-rata geliat pada kontrol negatif. Persentase proteksi geliat bertujuan untuk melihat kemampuan suatu sampel dalam mengurangi respon nyeri yang diakibatkan oleh penginduksi nyeri (Suwandi dkk. 2021). Sedangkan persentase efektivitas analgesik untuk melihat keefektifan suatu dosis sampel yang diberikan (Sani dkk. 2022). Hasil rata-rata, % proteksi geliat dan % efektivitas analgesik dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel. 3 Hasil Rata-Rata, % Proteksi geliat dan % Efektivitas Analgesik Ekstrak Temu Blenyeh
| Perlakuan | Jumlah rata-rata geliat | % Proteksi geliat | % Efektivitas analgesik |
|---|---|---|---|
| Kontrol negatif (Aquadest) | 74,60a | 0 | 0 |
| Kontrol positif (Antalgin) | 31,20 | 58,18 | 100,0 |
| Dosis 50 mg/kg BB | 41,40b | 44,50 | 76,48 |
| Dosis 100 mg/kg BB | 37,20c | 50,14 | 86,18 |
| Dosis 150 mg/kg BB | 31,60d | 57,64 | 99,07 |
Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf berbeda menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada taraf kepercayaan 5% (P≤0,05)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase proteksi geliat terbesar pada kontrol positif yang diperoleh sebesar 58,18%. Pada dosis 150 mg/kg BB esktrak temu blenyeh persentase proteksinya mendekati hasil pembandingnya yaitu kontrol positif yaitu sebesar 57,64%. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar hasil persentase proteksi yang diperoleh maka semakin kecil jumlah ratarata geliat dan begitupun sebaliknya. Pada persentase efektivitas analgesik yang diperoleh sebesar 76,48%; 86,18%; dan 99,07% menunjukkan bahwa ekstrak temu blenyeh memiliki efektivitas daya analgetik. Jika suatu sampel dapat menghambat geliat ≥ 50%, maka dapat dikatakan memiliki efektivitas analgetik. Hal ini karena pada ekstrak temu blenyeh mengandung senyawa metabolik sekunder yang dapat menghambat nyeri. Senyawa metabolik sekunder yang terdapat pada ekstrak temu blenyeh seperti flavonoid, alkaloid, tanin dapat berperan sebagai agen analgesik (Lara, dkk. 2021). Penurunan produksi prostaglandin akan terhenti pada enzim siklooksigenase karena adanya senyawa metabolit sekunder flavonoid (Lahamendu dkk., 2019). Selain itu alkaloid juga dapat berperan dengan menghambat proses dalam pembentukan prostaglandin pada COX (siklooksigenase) (Tamimi dkk. 2020). Sedangkan senyawa aktif tanin berperan dengan memicu penghambatan enzim fosfolipase, terjadinya COX (siklooksigenase) terhenti dan lipoksigan sehingga mengakibatkan pelepasan enzim lipomodulin (Pertiwi dkk. 2020).
Ekstrak temu blenyeh memiliki efek analgetik terbaik pada dosis 150 mg/kg BB, tetapi efeknya kurang efektif pada dosis 50 mg/kg BB. Suatu sampel dapat dikatakan memiliki efek analgesik yang kuat jika persentase efektivitas analgesik > 70%, sedangkan jika sampel persentase efektivitas analgesik < 70% maka dapat dikatakan sampel yang digunakan memiliki efek analgesik yang lemah (Sani dkk. 2022). Semakin tinggi dosis ekstrak temu blenyeh yang diberikan, maka semakin tinggi juga efektivitas analgesiknya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sumonda dkk.(2021), yang dilakukan pada ekstrak etanol rimpang lengkukas dengan rentang dosis 25 mg/kgBB, 50 mg/kgBB, dan 100 mg/kgBB.
Hasil uji normalitas dan homogenitas varian data dapat berdistribusi normal, dengan kata lain asumsi uji normalitas data telah terpenuhi dan mempunyai varian data yang homogen dengan nilai sig. 0,210. Uji ANOVA menunjukkan hasil yang signifikan dengan nilai sig. 0,001 yang artinya terdapat perbedaan jumlah rata-rata geliat tiap kelompok. Kemudian uji LSD pada perbandingan kontrol positif dengan dosis ekstrak temu blenyeh menunjukkan hasil yang efektif sebagai analgesik karena tidak memiliki perbedaan secara signifikan yang ditandai dengan nilai signifikansi lebih dari 0,05. Sedangkan hasil uji LSD terhadap kelompok negatif menunjukkan adanya perbedaan secara signifikan yang ditandai dengan nilai signifikansi kurang dari 0,05.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian, hasil uji efektivitas analgestik menunjukkan ekstrak temu blenyeh dengan dosis 150 mg/kg BB efektif sebagai analgesik. Hal ini ditunjukkan pada LSD terhadap kelompok negatif yang ditandai dengan nilai kurang dari 0,05 yang artinya memiliki perbedaan secara signifikan.
