PENDAHULUAN
Hiperlipidemia merujuk pada kondisi kadar lipid dalam darah yang abnormal, terutama kolesterol LDL (low-density lipoprotein) dan trigliserida yang tinggi. Hiperlipidemia dapat terjadi akibat faktor genetik atau gaya hidup tidak sehat dan sering dikaitkan dengan risiko penyakit kardiovaskular seperti aterosklerosis, yang dapat menyebabkan komplikasi seperti penyakit jantung koroner dan stroke (Liu et al., 2022).
Prevalensi hiperlipidemia secara global diperkirakan mencapai lebih dari 40% pada orang dewasa, dengan angka 2,16-5,30 juta kematian di negara bagian Asia dan Eropa (Martin et al., 2024). Di Indonesia tahun 2023 prevalensi hiperlipidemia pada populasi dewasa mencapai sekitar 18,9%, faktor risiko utama meliputi konsumsi makanan berlemak, kurangnya olahraga, dan tingginya prevalensi obesitas (Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, 2023). Salah satu terapi hiperlipidemia adalah golongan statin, efek samping penggunaan golongan ini dapat mengakibatkan rabdomiolisis dan gangguan fungsi hati(Ramkumar et al., 2016). Oleh karena itu, perlu adanya penemuan obat baru yang lebih aman dan berkhasiat seperti pemanfaatan dari bahan alam.
Kelor (Moringa oleifera) dikenal sebagai tanaman dengan banyak manfaat kesehatan, seperti mempercepat penyembuhan luka, mengatasi gangguan hati, penyakit jantung, dan peradangan (Pareek et al., 2023). Tanaman ini tersebar di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia. Biji kelor kaya akan nutrisi seperti protein, karbohidrat, saponin, fenol, flavonoid (Unuigbe et al., 2015). Selain itu, biji kelor juga mengandung vitamin A, vitamin B, vitamin C, vitamin E, serta berbagai mineral (Gopalakrishnan et al., 2016). Komponen nutrisi utama dalam biji kelor adalah lemak, yang mencapai 36,7% (Leone et al., 2016).
Biji kelor mengandung asam lemak seperti asam oleat, asam palmitat, dan asam stearat, dengan asam oleat sebagai komponen yang dominan. Konsentrasi asam oleat dalam minyak biji kelor bahkan lebih tinggi daripada minyak zaitun (Rahman et al., 2014; Riskah et al., 2019). Diet yang mengandung asam oleat terbukti membantu menurunkan kadar kolesterol serum, sehingga
mengurangi risiko penyakit kardiovaskular dengan menurunkan kolesterol LDL dan meningkatkan HDL (Aritzah et al., 2024). Minyak biji kelor juga memiliki kandungan fitosterol, yang diketahui memiliki pengaruh dalam metabolisme kolesterol dengan menurunkan kadar LDL di dalam darah, sehingga berpotensi mencegah penyakit jantung yang terlibat dalam metabolisme kolesterol (Abdulkarim et al., 2005; Cabral & Klein, 2017).
Biji kelor juga mengandung senyawa fitokimia, seperti alkaloid, saponin, tannin, fenol, flavonoid, dan terpenoid, yang berkontribusi pada penurunan kolesterol (Anudeep & Radha, 2018). Selain itu, serat pangan larut dalam minyak kelor dapat membantu mengurangi kolesterol dengan melalui pengikatan asam empedu di saluran pencernaan (Sinulingga, 2020). Konsumsi bahan herbal seperti kelor juga dapat menjadi terapi kuratif untuk menurunkan kadar trigliserida. Sebagai tanaman herbal yang melimpah di Indonesia, kelor sering dimanfaatkan untuk kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak air kelor mengandung senyawa seperti tanin, flavonoid, alkaloid, dan terpenoid (Siahaan et al., 2023), yang memberikan manfaat antimikroba, antioksidan, antikanker, antidabetes (Amalia et al., 2017; M. Guli et al., 2024), anti-inflamasi (Singh, 2018), antifungi (Upadhyay et al., 2015), dan pengobatan luka (Mishra et al., 2011). Selain itu, kelor memiliki efek hipolipidemik, yang membantu memperbaiki profil lipid pada hiperlipidemia (Mehta et al., 2003). Studi menunjukkan ekstrak daun kelor mampu menurunkan trigliserida dan LDL secara signifikan, sekaligus meningkatkan HDL (Pareek et al., 2023). Senyawa fenolik dan flavonoid dalam kelor juga berperan penting dalam regulasi lipid. Flavonoid seperti kuersetin dan kaempferol bisa menghambat enzim HMG-CoA reduktase yang terhubung dalam sintesis lipid di hati (Divya et al., 2024), menurunkan trigliserida, mengurangi penyerapan kolesterol, dan meningkatkan ekskresi kolesterol melalui feses (Rajanandh et al., 2012). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar trigliserida pada hewan jantan galur wistar yang diberikan minyak biji kelor dalam berbagai dosis.
METODE PENLITIAN
Alat dan Bahan
Instrumen yang digunakan pada penelitian meliputi, Biosystem BA – 200 Bio Chemistry Analyzer, tabung, kuvet, mikro pipet, serta alat-alat pendukung lainnya. Bahan yang digunakan adalah minyak biji kelor yang diperoleh dari Javaplant, CMC Na, tablet Simvastatin, kloroform, pakan tinggi lemak, telur puyuh, akuades, tikus jantan galur Wistar berusia 8 hingga 12 minggu dengan bobot badan 180 hingga 200 gram sebanyak 30 ekor.
Metode
Rancangan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap pola searah. Dengan menggunakan desain penelitian Posttest Only Control Group yang melibatkan lima kelompok perlakuan: K1 (kontrol positif, simvastatin), K2 (kontrol negatif), K3 (minyak biji kelor sebanyak 3 ml), K4 (minyak biji kelor sebanyak 6 ml), dan K5 (minyak biji kelor sebanyak 9 ml), untuk kelompok 4 dan kelompok 5 pemberian minyak biji kelor diberikan secara berkala hingga volume pemberian mencapai 6 ml dan 9 ml dan pengukuran dilakukan
sesudah perlakuan. Tempat Pelaksanaan penelitian, pemeliharaan hewan coba dilakukan di Laboratorium Balai Vetereiner Prov. Kalimantan Selatan dilakukan adapatasi selama 7 hari sebelum dilakukan treatment dan perlakuan. Selanjutnya pemberian minyak biji kelor dilakukan selama 10 hari berturut-turut, dan pada hari ke-11 dilakukan pengambilan darah pada bagian jantung hewan coba setelah itu disentrifuga, diambil serumnya 10µl dimasukkan ke dalam kuvet. Sampel diperiksa dengan alat biosystem BA-200 Bio Chamestry Analyzer dengan panjang gelombang 400-800 nm di laboratorium Klinik Medika.
Pengolahan dan Analisis Data
Data hasil pemeriksaan kadar trigliserida dilakukan analisa data menggunakan SPSS Versi 25.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Hasil penelitian yaitu pemeriksaan kadar trigliserida tikus putih galur wistar dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Rerata Hasil Pemeriksaan Kadar Trigliserida
Keterangan:
K+ : Kontrol Positif (Simvastatin)
K- : Kontrol Negatif P : Perlakuan
Analisis Data
Hasil uji homogenitas nilai Sig yang didapatkan adalah 0.164 berarti dapat diartikan bahwa variansi data homogen dan memenuhi syarat untuk dilanjutkan uji ANOVA. Pada hasil Uji ANOVA didapatkan nilai signifikan 0.64 (>0,050) (tidak ada perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan.
Pembahasan
Berdasarkan data distribusi rerata hasil pemeriksaan kadar trigliserida setelah 10 hari perlakuan yang dapat dilihat pada Gambar 1, menunjukkan kadar rerata TG kontrol negatif (hewan coba yang tidak diberi minyak biji kelor, hanya saja diberi pakan tinggi lemak) sebesar 82,18 mg/dL dan kontrol positif 62,86 mg/dL. Kemudian pada pemberian minyak biji kelor dengan variasi yang berbeda, didapatkan hasil yaitu pada kelompok 3 sebanyak 3 ml (P1) sebesar 74,4 mg/dL, pada kelompok 4 dengan sebanyak 6 ml (P2) sebesar 61,2 mg/dL, dan paling rendah terdapat pada kelompok 5 dengan sebanyak 9 ml (P3) yaitu 50,6 mg/dL. Hal ini sama dengan penelitian sebelumnya menyebutkan pemberian serbuk daun kelor 500 mg/KgBB tidak dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan kadar trigliserida (Ariestiningsih et al., 2024).
Biji kelor memiliki kandungan lemak yang cukup tinggi, yaitu lebih dari 40%, dan asam lemak tak jenuh tunggal MUFA (Monounsaturated Fatty Acid) yang melimpah dikenal memiliki stabilitas oksidatif yang baik bagi kesehatan(Salman et al., 2023). Asam lemak utama yang ditemukan di biji kelor adalah asam oleat, yaitu asam lemak tak jenuh tunggal MUFA yang bermanfaat dalam menurunkan kadar kolesterol serta memperbaiki profil lipid dalam darah (Leone et al., 2016). Selain itu, biji kelor juga mengandung senyawa penting seperti saponin, tanin, dan flavonoid. Saponin memiliki kemampuan untuk membentuk kompleks dengan kolesterol yang berasal dari makanan, sehingga menghambat penyerapan kolesterol tersebut di usus (Puspita & Irawan, 2021). Flavonoid dalam biji kelor juga mendukung peningkatan aktivitas enzim lipoprotein lipase, yang berperan dalam memecah trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol, yang kemudian dilepaskan ke aliran darah.
Pada penelitian sebelumnya, pemberian ekstrak saponin secara oral menunjukkan penurunan signifikan pada kadar trigliserida serum, LDL, kolesterol total, dan peningkatan HDL, tergantung dosis yang diberikan (Olalekan Elekofehinti et al., 2014). Saponin juga dapat mengurangi aktivitas enzim HMG-CoA reduktase, yang merupakan kunci dalam jalur biosintesis kolesterol (Tridiganita Intan Solikhah & Gahastanira Permata Solikhah, 2024). Selain itu, tanin bekerja dengan menghambat enzim yang sama, sehingga sintesis Apo B-100 menurun dan jumlah reseptor LDL di permukaan hati meningkat, yang pada akhirnya menurunkan kadar kolesterol LDL dan VLDL dalam darah (Mutia & Zairin Thomy, 2018).
Pembanding yang digunakan pada penelitian ini adalah simvastatin. Simvastatin berfungsi melalui penghambatan enzim HMG-CoA reduktase, yang bertugas dalam konversi HMG-CoA menjadi mevalonat, sehingga mampu menurunkan kadar LDL hingga 50% dan memengaruhi kadar trigliserida dalam darah (C. Vauthey et al., 2000). Mekalinsme kerja dari simvastatin dalam tubuh adalah dengan menghambat 3-hidroksi-3 metilglutaril HMG-CoA reductase juga bertanggung jawab untuk mengubah HMG-CoA reductase menjadi mevalonate yang prosesnya akan mengurangi kadar LDL hingga 50% dan selanjutnya akan mempengaruhi penurunan kadar trigliserida dalam darah (Liashari, 2021). Kerja dari obat simvastatin dengan dosis 0,18 mg menunjukan hasil dalam menurunkan kadar trigliserida pada kontrol positif dalam penelitian ini. Sebaliknya, minyak biji kelor yang diberikan sebanyak 6 ml per hari selama 10 hari berhasil menurunkan kadar trigliserida pada hewan coba yang diinduksi kuning telur puyuh. Minyak biji kelor ini bersifat kuratif untuk penurunan hiperlipidemia, tetapi masih ada kekurangan dalam penelitian ini yaitu tidak dilakukan pengukuran kadar trigliserida sebelum dilakukan perlakuan pemberian minyak biji kelor sehingga kadaranya hanya dibandingkan dengan kontrol negatif.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa tikus jantan galur Wistar yang mendapatkan diettinggi lemak selama 10 hari
memiliki kadar trigliserida yang tidak berbeda signifikan antar setiap perlakuan. Batasan dalam penelitian ini hanya mengukur trigliserida, diharapkan dapat mengukur parameter lipid lainnya.
UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Borneo Lestari atas dukungan yang diberikan. Kontrak: 043/UNBL/LP2M/PPM.08/0324, 18 Maret 2024.
