1. Home
  2. Archives
  3. Vol 49 (2024) Issue 2
  4. Articles

The Role Pharmacist of in Identifying and Reducing the Incidence of Drug-related Problems in Hospitalized Patients Using Stress Ulcer Prophylaxis

Abstract

Intervensi apoteker dalam managemen tim multidisiplin dapat mencegah maupun menurunkan masalah terkait obat atau drug-related problems (DRPs) yang berdampak terhadap perbaikan luaran klinis dan kualitas hidup pasien. Terapi stress ulcer prophylaxis (SUP) seringkali diberikan pada pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit dan ditemukan adanya DRPs dari penggunanan obat tersebut. Review ini bertujuan untuk mengkaji intervensi apoteker dalam menurunkan drug-related problems (DRPs) pada pasien rawat inap yang mendapatkan terapi stress ulcer prophylaxis (SUP). Review ini merupakan narrative review dengan menggunakan artikel dari database Pubmed maupun Google Scholar yang mengulas intervensi apoteker dalam mencegah maupun menurunkan DRPs, yakni biaya pengobatan, pemilihan terapi, hingga efek samping dari penggunaan terapi SUP pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Delapan artikel yang memenuhi kriteria inklusi dimasukkan ke dalam kajian ini. Mayoritas studi melaporkan bahwa intervensi apoteker melalui pencocokan penggunaan SUP dengan pedoman dari American Society of Health-System Pharmacists (ASHP) mampu untuk menurunkan biaya pengobatan, menurunkan penggunaan SUP yang tidak diperlukan terutama pada pasien yang tanpa faktor risiko, dan menurnkan terjadiya efek samping terkait Clostridium difficile associated diarrhea (CDAD) akibat penggunaan obat golongan proton pump inhibitors. Intervensi apoteker berhubungan dengan penurunan penggunan terapi SUP yang tidak sesuai, penurunan biaya pengobatan, dan penurunan insiden efek samping obat pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengidentifikasi intervensi apoteker yang paling cost-effective. Kata Kunci: DRP; Stress Ulcer Prophylaxis; Apoteker; Rawat Inap

PENDAHULUAN

Stress ulcer merupakan kerusakan mukosa lambung yang seringkali ditemukan pada pasien dengan penyakit kritis atau pasien dengan trauma berat yang dicirikan adanya perdarahan akut atau perforasi saluran pencernaan bagian atas. Kerusakan lapisan lambung sebagai lesi dapat menyebabkan komplikasi berupa perdarahan masif yang meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas pasien (Li dkk., 2022). Pasien yang dirawat di ruang intensive care unit (ICU) memiliki risiko terjadinya stress-related mucosal disease (SRMD) yang dapat berkembang menjadi ulcer dan perdarahan. SRMD ditemukan sekitar 75% sampai 100% pada pasien dengan penyakit kritis dalam waktu 24 jam di perawatan ICU. Selain itu, prevalensi perdarahan saluran cerna berkisar antara 5,6%-9,0% dan dikaitkan dengan meningkatnya risiko kematian dan lama perawatan di rumah sakit (Faisal dkk., 2020).

Terapi acid suppressant seringkali diberikan untuk mencegah progresi potensial dari SRMD menjadi perdarahan saluran cerna, yang dikenal dengan stress ulcer prophylaxis (SUP). Terapi farmakologi seperti proton pump inhibitor (PPI), H2 blocker, dan agen pelindung mukosa lambung seperti sukralfat dapat digunakan sebagai terapi untuk SUP (Purnomo dkk., 2022). Terdapat beberapa studi yang membandingkan penggunaan H2 blocker dengan PPI untuk terapi SUP. Beberapa studi tersebut melaporkan bahwa PPI lebih baik dalam menurunkan perdarahan saluran cerna dibandingkan H2 blocker (Aramesh dkk., 2022). Peresepan dan penggunaan SUP seringkali melebihi dari rekomendasi panduan klinik. Selain itu, penggunaan SUP masih sering ditemukan pada saat pasien yang sudah dipindah dari perawatan ICU ke ruang perawatan biasa maupun saat pasien keluar rumah sakit tanpa indikasi yang jelas. Pemakaian yang berlebihan dari SUP berpotensi besar menimbulkan drug-related problems (DRPs), seperti meningkatkan risiko efek samping dan biaya pengobatan (Buendgens & Tacke, 2017).

Masalah terkait obat atau yang lebih dikenal dengan drug-related problems (DRPs) merupakan kejadian yang tidak diinginkan dari pasien yang disebabkan oleh penggunaan obat dan secara aktual maupun potensial berpotensi mengganggu

keberhasilan terapi. DRP merupakan masalah penting dalam sistem pelayanan kesehatan di seluruh negara (Tharanon dkk., 2022). The American Society of Health-System Pharmacists (ASHP) pada tahun 1999 telah membuat pedoman penggunaan SUP yang mana pedoman tersebut memuat deskripsi yang antara kriteria pasien dengan faktor risiko stress ulcer, pemilihan obat, dan durasi pengobatan (ASHP, 1999). Meskipun demikian, masih ditemukan penggunaan SUP yang tidak tepat di sejumlah rumah sakit di beberapa negara termasuk di Indonesia. Studi menunjukkan bahwa sekitar 75% pasien mendapatkan terapi SUP selama perawatan di ICU dan 14,4%-42% diantaranya tidak memiliki risiko stress ulcer (Rauch dkk., 2021).

Pelayanan kefarmasian merupakan strategi utama untuk mengidentifikasi dan memecahkan DRP yang meliputi rekonsilisasi pengobatan, review pengobatan, dan integrasi apoteker ke dalam tim tenaga kesehatan (Deawjaroen dkk., 2022). Studi di sejumlah negara menunjukkan bahwa integrasi layanan kefarmasian oleh apoteker dalam layanan pasien terbukti menurunkan DRP dan memperbaiki keamanan pasien (Jarab dkk., 2023; Lekpittaya dkk., 2024). Intervensi apoteker bersama dengan tim kesehatan lainnya dapat meningkatkan luaran klinis dan kualitas hidup pasien dengan mengoptimalkan penggunaan obat (Eldooma dkk., 2023; Xu dkk., 2021).

Meskipun sejumlah studi telah melaporkan dampak intervensi apoteker terhadap penggunaan SUP yang rasional, akan tetapi data yang didapatkan masih bervariasi. Hal ini dikarenakan setiap rumah sakit memiliki pedoman klinis yang bervariasi terkait jenis dan lama penggunaan SUP. Selain itu, intervensi apoteker yang berbeda-beda antar studi (klarifikasi indikasi penggunaan SUP, pemberian edukasi dan kampanye kewaspadaan penggunaan SUP, kajian pasien terhadap penggunaan SUP, dan penyesuaian dosis) juga menyebabkan perbedaan hasil penelitian. Studi systematic review terdahulu telah melaporkan bahwa intervensi apoteker mampu menurunkan penggunaan SUP yang tidak tepat selama pasien menjalani perawatan di rumah sakit. Akan tetapi, studi tersebut tidak mengikutsertakan studi yang dilakukan di Indonesia dan tidak melaporkan

penurunan insiden efek samping SUP setelah dilakukan kajian oleh apoteker (Xu dkk., 2021).

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dibuat review yang mengkaji peran apoteker dalam layanan farmasi klinis untuk mengidentifikasi maupun menurunkan drug-related problems pada pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit dan mendapatkan terapi SUP. Pemahaman yang baik terkait karakteristik DRPs pada penggunaan SUP selama dirawat di rumah sakit dapat memberikan peningkatan wawasan tentang jenis pelayanan kefarmasian yang diperlukan dalam mendeteksi, memecahkan, dan mencegah DRPs, serta mampu untuk mengoptimalkan intervensi secara individual untuk menjamin keamanan pasien dan efikasi pengobatan.

METODE

Strategi Pencarian

Studi ini merupakan review artikel dengan jenis narrative review. Tujuan dari atudi ini ialah mengkaji peran apoteker dalam mencegah maupun menurunkan DRPs pada pasien rawat inap yang menggunakan terapi SUP. Artikel yang digunakan dalam studi ini berasal dari database Pubmed dan Google Scholar dengan kata kunci apoteker, drugrelated problems (DRPs), stress ulcer prophylaxis, rawai inap, dan intervensi untuk mencari artikel berbahasa Indonesia. Kata kunci pharmacists, drugrelated problems (DRPs), stress ulcer prophylaxis, hospitalized patients, dan intervention digunakan untuk mencari artikel berbahasa Inggris. Artikel yang digunakan dalam studi ini menggunakan artikel yang ditulis dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris dan dipublikasikan antara tahun 2015 hingga 2024.

Kriteria Inklusi dan Eksklusi

Kriteria inklusi pada studi ini ialah (a) pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit, (b) dirawat di ICU maupun non-ICU, (b) mendapatkan regimen stress ulcer prophylaxis. (c) adanya identifikasi drug-related problems (DRPs) terkait penggunaan SUP, (d) terdapat intervensi apoteker terkait DRPs dari penggunaan SUP, dan (e) artikel terindeks Scopus maupun Web of Science untuk artikel berbahasa Inggris dan artikel terindeks SINTA untuk berbahasa Indonesia. Kriteria eksklusi pada studi ini ialah: (a) artikel yang ditulis dalam bentuk review atau laporan kasus dan (b) artikel tidak dapat diakses secara lengkap (full text).

Ekstraksi Data

Setiap studi yang memenuhi kriteria inklusi akan dirangkum dalam bentuk tabel yang meliputi nama penulis, tahun terbit artikel, negara, perawatan di ICU atau non-ICU, jenis intervensi apoteker, dan ringkasan hasil studi. Hasil dari studi akan disajikan secara deskriptif atau sintesis naratif, dikarenakan hasil studi yang tergolong heterogen. Narrative review bertujuan untuk merangkum bukti klinis dan mengidentifikasi karakteristik penelitian, oleh karena itu pada studi tidak dilakukan penilaian kualitas studi seperti halnya pada systematic review.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Studi tentang intervensi apoteker dalam mengidentifikasi dan menurunkan terjadinyaDRPs terkait penggunaan SUP seperti ditunjukkan pada tabel 1. Satu artikel ditulis dalam bahasa Indonesia dan delapan artikel ditulis dalam bahasa Inggris.

Berdasarkan hasil yang ditampilkan pada tabel 1, ditemukan lima studi yang melaporkan bahwa intervensi apoteker mampu menurunkan biaya pengobatan terkait SUP setelah dilakukan evaluasi menggunakan pedoman ASHP. Meskipun ASHP telah menentukan pasien dengan faktor risiko tertentu yang dapat diberikan SUP, akan tetapi pada pedoman tersebut belum mencantumkan dengan detail bagaimana cara mengantisipasi efek samping dari SUP, lama terapi, dan target pH lambung setelah pemberian SUP (ASHP, 1999). Selain itu, kompleksitas regimen pada pasien yang rawat inap khususunya di ICU serta keparahan penyakit, menyebabkan banyak rumah sakit yang memberikan SUP meskipun tanpa indikasi yang jelas seperti yang diatur dalam ASHP.

Tabel 1. Rangkuman Studi terkait Peran Apoteker dalam Penggunaan SUP

NoPenulis/Tahun/
Negara
PasienJenis Intervensi ApotekerRingkasan Hasil
1Pratiwi dkk.,
/2020/Indonesia
(Pratiwi dkk., 2020)
Rawat inap non
ICU
Mencocokan penggunaan SUP
dengan pedoman ASHP yang
telah
dimodiQikasi
oleh
Zeitoun
Terjadi
penurunan
yang
signiQikan
biaya
pengobatan
dari
USD
2411
sebelum intervensi menjadi USD 1899
setelah intervensi, P-value < 0,000.
2Buckley dkk.,
/2015/USA
(Buckley dkk., 2015).
Rawat inap ICU
dan non-ICU
a.
Mencocokan
penggunaan
SUP
dengan
pedoman
ASHP
maupun
pedoman
rumah
sakit
b.
Penyesuaian
dosis
dan
jenis
SUP
dengan memberikan
rekomendasi kepada
dokter
a.
Terjadi
penurunan
yang
signiQikan penggunaan SUP
yang kurang tepat terhadap
pasien
yang
dipindahkan
dari ICU ke ruang perawatan
biasa dari 67,8% sebelum
intervensi
menjadi
38,9%
setelah
intervensi,
P-value
0,001
b.
Terjadi
peningkatan
yang
signiQikan
penggunaan
H2
blocker
dibandingkan
PPI
dari
17,6%
sebelum
intervensi
menjadi
89,1%
setelah intervensi
c.
Terjadi
penurunan
yang
signiQikan biaya pengobatan
per pasien dari penggunaan
SUP dari USD 19,92 sebelum
intervensi menjadiUSD6,37,
P-value 0,001
3Masood dkk., /
2018/USA
(Masood dkk., 2018)
Pasien rawat
inap ICU dan
non-ICU
a.
Mencocokan
penggunaan
SUP
dengan
pedoman
ASHP
b.
Pemberian
edukasi
kepada sfaf medis
c.
Penyesuaian
jenis
dan
durasi
penggunaan
SUP
dengan memberikan
rekomendasi kepada
dokter
a.
Terjadi
penurunan
inappropriate
patient-days
dari 294 sebelum intervensi
menjadi
82
setelah
intervensi
b.
Terjadi
penurunan
penggunaan
SUP
yang
kurang
tepat
per
100
patient-days
dari
26,75
sebelum intervensi menjadi
7,14 setelah intervensi
c.
Terjadi
penurunan
biaya
pengobatan
terkait
penggunaan SUP dari USD
2433
sebelum
intevensi
menjadi USD 239,80 setelah
intervensi
4Octavia dkk.,
/2024/Indonesia
(Octavia dkk., 2024)
Pasien rawat
inap ICU dan
non-ICU
a.
Mencocokan
penggunaan
SUP
dengan
pedoman
ASHP
dan
Stress
Ulcer
Prophylaxis
Clinical
Guidelines
from
Stanford
Hospital and Clinics
b.
Pemberian
edukasi
kepada sfaf medis
a.
Sebesar
83,2%
pasien
mendapatkan
SUP
yang
tidak sesuai
b.
Terjadi
penurunan
biaya
pengobatan terkait SUP yang
signiQikan
dari
Rp.
19.933.582
sebelum
intervensi
menjadi
Rp.
6.240.384
setelah
intervensi, P-value < 0,05
NoPenulis/Tahun/
Negara
PasienJenis Intervensi ApotekerRingkasan Hasil
5Anstey
dkk.,/2019/Australia
(Anstey dkk., 2019)
Pasien rawat
inap ICU
a.
Mencocokan
penggunaan SUP
dengan pedoman
ASHP
b.
Penyesuaian jenis
penggunaan SUP
dengan memberikan
rekomendasi kepada
dokter
a.
Terjadi
penurunan
yang
signiQikan
pemberian
SUP
tanpa indikasi saat pasien
keluar
rumah
sakit
dari
42,4%
sebelum
intervensi
menjadi
7,7%
setelah
intervensi, p-value 0,001
b.
Terjadi
penurunan
CDAD
akibat penggunaan SUP dari
1,8%
sebelum
intervensi
menjadi
0,4%
setelah
intervensi
c.
Biaya yang dapat dihemat
sebesar AUD S 16,59 juta /
tahun dari penggunaan SUP
yang tepat
6Mohmoudi
dkk.,/2019/Iran
(Mahmoudi dkk.,
2019)
Pasien rawat
inap ICU dan
non-ICU
a.
Mencocokan
penggunaan
SUP
dengan
pedoman
ASHP
b.
Penyesuaian
jenis
dan
durasi
penggunaan
SUP
dengan memberikan
rekomendasi kepada
dokter
a.
Sebesar 31,1% pasien tidak
memiliki faktor risiko untuk
berkembang
menjadi
perdarahan
saluran
cerna
sehingga tidak memerlukan
SUP
b.
Sebesar
92,7%
pasien
mendapatkan
SUP
dengan
dosis yang tidak tepat
c.
Sebesar
57,3%
pasien
mendapatkan
SUP
dengan
rute pemberian yang tidak
tepat
d.
Sebesar
46,6%
pasien
mendapatkan
SUP
dengan
frekuensi
pemberian
yang
tidak tepat
e.
Biaya yang dapat dihemat
sebesar > USD 216.000 per
tahun
setelah
intervensi
(menghentikan
SUP
yang
tidak sesuai)
7Hammond
dkk.,/2017/USA
(Hammond dkk.,
2017)
Pasien rawat
inap ICU
Edukasi kepada staf medisa.
Lebih
banyak
penggunaan
SUP yang tidak tepat (23%)
pada kelompok yang tidak
diberikan intervensi edukasi
dibandingkan
yang
diberikan edukasi (11%), p
value 0,012.
b.
Dosis SUP yang tidak tepat
lebih rendah (3,1%) pada
kelompok
yang
tidak
diberikan intervensi edukasi
dibandingkan
yang
diberikan edukasi (4,4%), p
value 0,128
8Suharjono dkk.,
/2019/Indonesia
(Suharjono dkk.,
2020)
Pasien rawat
inap yang
menjalani
prosedur
a.
Mencocokan
penggunaan
SUP
dengan
pedoman
ASHP
a.
Sekitar
48%
penggunaan
SUP
tidak
memenuhi
kriteria ASHP

Putra, dkk.

NoPenulis/Tahun/
Negara
PasienJenis Intervensi ApotekerRingkasan Hasil
operasi
pembedahan
non ICU
b.
Review penggunaan
SUP
dengan
pedoman
klinis
di
rumah
sakit
b.
Sebesar
96,67%
penggunaan omeperazol IV
termasuk
kategori
tidak
tepat rute pemberian
setempatc.
Biaya
yang
dikeluarkan
sebesar
USD
69,02
untuk
penggunaan
SUP
yang
berlebihan
9Ogasawara
dkk.,/2020/Jepang
(Ogasawara dkk.,
2020)
Rawat inap ICUa.
Review berdasarkan
kriteria pasien yang
perlu diberikan SUP
b.
Penyesuaian
jenis
penggunaan
SUP
dengan memberikan
rekomendasi kepada
a.
Terjadi
penurunan
yang
signiQikan presentase pasien
yang mendapatkan SUP, dari
100%
sebelum
intervensi
menjadi
38%
setelah
intervensi, p-value 0,0001
b.
Presentase
pasien
dengan
dokterperdarahan
cerna
bagian
atas
sebelum
dan
setelah
intervensi,
masing-masing
sebesar 4 % (95% CI: 0,5-
13,7%)

Keterangan: ASHP: American Society of Health-System Pharmacists; SUP: Stress Ulcer Prophylaxis; ICU: Intensive Care Unit; PPI: Proton Pump Inhibitor; CDAD: Clostridium dif<icile associated diarrhea; IV: intravena

Meskipun sejumlah studi telah melaporkan peran apoteker dalam mengidentifikasi dan menurunkan terjadinya DRPs terkait penggunaan terapi SUP, akan tetapi hasil yang disajikan masih bervariasi yang diakibatkan oleh sejumlah perbedaan, diantaranya yaitu karakteristik pasien antar negara, indikasi yang menyebabkan pasien dirawat di ICU, regimen selain acid suppressant, dan perbedaan intervensi apoteker.

Studi di RSUD Dr. Soetomo oleh Suharjono dkk., melaporkan bahwa sebesar 48% pengunaan terapi profilaksis stress ulcer tidak memenuhi kriteria ASHP dan tergolong dalam kriteria penggunaan obat yang berlebihan. Selain itu, sebesar 30,8% total biaya pengobatan merupakan biaya untuk terapi profilaksis stres ulcer (Suharjono dkk., 2020). Pemberian terapi SUP yang berlebihan dapat menimbulkan efek samping potensial yang meliputi diare akibat infeksi bakteri Clostridium difficile, pneumonia, malabsorpsi, osteoporosis, dan fraktur hip (Veettil dkk., 2022). Oleh karena itu, apoteker sebagai tim tenaga kesehatan memiliki andil untuk mendukung tercapainya penggunaan terapi SUP yang rasional.

Dua studi di Indonesia melaporkan bahwa intervensi apoteker berupa kajian farmakoterapi penggunaan SUP dengan pedoman ASHP dan edukasi kepada staf

medis secara signifikan mampu untuk menurunkan biaya pengobatan terkait penggunaan terapi SUP (Pvalue < 0,05)(Pratiwi dkk., 2020;Octavia dkk., 2024). Hal tersebut juga didukung oleh lima studi pada review ini di sejumlah negara yang juga melaporkan bahwa intervensi apoteker mampu untuk menurunkan biaya pengobatan (Buckley dkk., 2015; Masood dkk., 2018; Anstey dkk., 2019; Mahmoudi dkk., 2019; Suharjono dkk., 2020).Hal ini disebabkan terjadi penurunan jenis dan durasi penggunaan SUP yang disesuaikan dengan kondisi pasien yang memerlukan penggunaan SUP. Penggunaan SUP direkomendasikan untuk pasien dengan satu faktor risiko mayor dan setidaknya memiliki dua faktor risiko minor (Aramesh dkk., 2022). Seperti yang dilaporkan oleh Suharjono dkk., bahwa omeprazole yang diberikan secara IV, lebih dari 90% termasuk tidak tepat rute pemberian (Suharjono dkk., 2020). Halinidisebabkanpasiendalamstuditersebut secara keseluruhan dapat makan secara per oral dan tidak dirawat di ruangan ICU yang memerlukan bantuan enteral feeding. Pasien yang tidak memiliki gangguan pencernaan, ileus paralitik, maupun malabsorpsi, maka obat dapat diberikan secara per oral.

Biaya pengobatan PPI relatif lebih mahal dibandingkan dengan H2 blocker, meskipun secara efikasi sebagai terapi SUP tidak ditemukan perbedaan signifikan diantara kedua obat tersebut.

Hal ini didukung studi oleh Silviarizka dkk., yang dilakukan di RSUD Dr. Margono Soekarjo, menyatakan bahwa ranitidin lebih cost effective dibandingkan omeprazole, sehingga ranitidin lebih disarankan sebagai SUP dibandingkan omeprazol (Silviarika dkk., 2019). Pemilihan obat SUP yang lebih murah akan menghemat biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit. Pilihan obat yang lebih murah dengan efektifitas yang baik dapat mendukung terwujudnya penggunaan obat yang rasional.

Lima studi melaporkan bahwa intervensi mampu untuk menurunkan penggunaan SUP yang tidak rasional (Buckley dkk., 2015; Hammond dkk., 2017; Masood dkk., 2018; Anstey dkk., 2019; Ogasawara dkk., 2020). Buckley dkk., merekomendasikan penggunaan H2 blocker dibandingkan PPI sebagaiterapi SUP (Buckley dkk., 2015). Selain itu, juga ditemukan durasi penggunaan SUP yang secara signifikan lebih singkat setelah diberikan intervensi apoteker (Pvalue 0,001), seperti yang dilaporkan oleh Anstey et al (Anstey dkk., 2019). Seperti diketahui bahwa penggunaan PPI jangka panjang menyebabkan berbagai macam efek samping. Studi meta-analisis oleh Veettil dkk., melaporkan bahwa pasien yang menggunakan jangka panjang PPI, 27% lebih berisiko untuk terkena infeksi pneumonia dan 17% lebih berisiko untuk terkena penyakit kardiovaskular (Veettil dkk., 2022). Selain itu, intervensi apoteker secara signifikan juga menurunkan penggunaan dosis SUP yang tidak tepat (P-value 0,012) (Hammond dkk., 2017). Apoteker dapat memberikan rekomendasi kepada dokter untuk menghentikan sedini mungkin penggunaan PPI jika tidak ditemukan gangguan pencernaan setelah pemberian PPI maupun menurunkan dosis dan frekuensi pemberian PPI. Penghentian sedini mungkin dari PPI berhubungan dengan risiko rehospitalization dan angka mortalitas yang lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan PPI sejak awal masuk rumah sakit hingga pasien keluar rumah sakit (Veettil dkk., 2022).

Dua studi melaporkan bahwa intervensi apoteker mampu untuk menurunkan insiden efek samping terkait SUP, yaitu CDAD (Anstey dkk., 2019; Ogasawara dkk., 2020). CDAD dapat terjadi akibat perubahan pH lambung dari penggunaan ranitidin

maupun PPI yang menyebabkan perubahan komposisi flora normal di intestin. CDAD merupakan kondisi serius dengan angka mortalitas sampai dengan 25%, terutama pada pasien lansia. Pasien dengan CDAD akan diberikan antibiotik yang dapat berdampak terhadap peningkatan rawat inap dan biaya pengobatan (Hung dkk., 2021). Selain itu, presentase pasien dengan perdarahan cerna bagian atas sebelum dan setelah pemberian intervensi apoteker, masing-masing sebesar 4 % (95% CI: 0,5- 13,7%) (Ogasawara dkk., 2020). Hal ini dikarenakan pada studi tersebut hampir sebagian besar tidak memiliki faktor risiko perdarahan saluran cerna, sehingga tidak memerlukan penggunaan PPI. Oleh karena itu, setelah penghentian penggunaan SUP, tidak ditemukan peningkatan kasus perdarahan saluran cerna.

Peran utama pada sistem layanan kefarmasian untuk mencegah dan menurunkan DRP terkait SUP ialah mengembangkan dan mengimplementasikan protokol, pedoman, dan formularium terkait penggunaan obat yang aman dan efektif serta berfokus kepada keamanan pasien dan perbaikan hasil layanan kesehatan. Formularium rumah sakit disusun oleh tim medis dan tenaga kesehatan termasuk apoteker. Apoteker dapat merekomendasikan terapi SUP yang terbukti cost effective termasuk merekomendasikan lama pemberian SUP untuk mencegah timbulnya efek samping.

Keterbatasan dari review ini ialah ditemukan heterogenitas dari hasil studi seperti jenis intervensi apoteker yang bervariasi dan perbedaan waktu dan definisi untuk menyatakan ketidaktepatan penggunaan SUP. Selain itu, belum dapat diidentifikasi secara seksama manakah dari intervensi apoteker yang paling sesuai dan paling efisien untuk dapat diterapkan dalam praktik klinis di rumah sakit untuk menurunkan penggunaan SUP yang tidak tepat.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari kajian ini ialah apoteker berperan penting dalam mengidentifikasi, mencegah, maupun menurunkan terjadi drug-related problems terkait terapi stress ulcer prophylaxis pada pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit. Intervensi apoteker

melalui pencocokan penggunaan terapi maupun melalui edukasi kepada tim medis mampu untuk menurunkan penggunaan stress ulcer prophylaxis yang tidak tepat selama pasien dirawat di rumah sakit, pindah dari ICU, saat pasien keluar rumah sakit serta intervensi apoteker mampu untuk menurunkan biaya pengobatan. Partisipasi apoteker dalam tim multidisiplin perawatan pasien merupakan hal yang kondusif untuk meningkatan efektifitas, keamanan, dan aspek ekonomi terhadap luaran pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Anstey MH, Litton E, Palmer RN, Neppalli S, Tan BJ, Hawkins DJ, Krishnamurthy RB, Jacques A, Sonawane RV, Chapman AR, & Norman R, 2019, Clinical and economic benefits of de-escalating stress ulcer prophylaxis therapy in the intensive care unit: A quality improvement study, Anaesthesia and Intensive Care, 47(6), 503–509, doi: org/10.1177/0310057X19860972.

Aramesh M, Hasanloie MAV, Aghlmand S, Sharifi H, 2022, Assessment of stress ulcer prophylaxis pattern in the intensive care unit patients, Journal of Critical and Intensive Care, 13(1), 8–11, doi: org/10.37678/dcybd.2021.2825.

ASHP Report, ASHP therapeutic guidelines on stress ulcer prophylaxis, 1998, Am J Health-Syst Pharm, 56: 347-379, academic.oup.com/ajhp/articleabstract/56/4/347/5150704.

Buckley MS, Park AS, Anderson CS, Barletta JF, Bikin DS, Gerkin RD, O'Malley CW, Wicks LM, Garcia-Orr R, Kane-Gill SL, 2015, Impact of a clinical pharmacist stress ulcer prophylaxis management program on inappropriate use in hospitalized patients, American Journal of Medicine, 128(8), 905–913, doi: org/10.1016/j.amjmed.2015.02.014.

Buendgens L, Tacke F, 2017, Do we still need pharmacological stress ulcer prophylaxis at the ICU? Journal of Thoracic Disease, 9(11):4201-4204, doi: org/10.21037/jtd.2017.09.121.

Deawjaroen K, Sillabutra J, Poolsup N, Stewart D, Suksomboon N, 2022, Characteristics of drugrelated problems and pharmacist's interventions in hospitalized patients in Thailand: a prospective observational study, Scientific Reports, 12(1), doi: org/10.1038/s41598-022-21515-7.

Eldooma I, Maatoug, M, Yousif M, 2023, Outcomes of pharmacist-led pharmaceutical care interventions within community pharmacies: narrative review, integrated pharmacy research and practice, Volume 12, 113–126, doi: org/10.2147/iprp.s408340.

Faisal W, Rotty L, Upper gastrointestinal bleeding in critically ill patients: Literature review, 2021, The Indonesia Journal of Gastroenterology, Hepatology and Digestive Endcoscopy, 22(3):226- 233.

Hammond DA, Killingsworth CA, Painter JT, Pennick RE, Chatterjee K, Boye B, Meena N, 2017, Impact of targeted educational interventions on appropriateness of stress ulcer prophylaxis in critically ill adults, Pharmacy Practice, 15(3), doi: org/10.18549/PharmPract.2017.03.948.

Hung YP, Lee JC, Tsai BY, Wu JL, Liu HC, Liu HC, Lin HJ, Tsai PJ, Ko WC, 2021, Risk factors of Clostridium difficile-associated diarrhea in hospitalized adults: Vary by hospitalized duration. Journal of Microbiology, Immunology and Infection, 54(2), 276–283, doi: org/10.1016/j.jmii.2019.07.004.

Jarab AS, Al-Qerem W, Alzoubi KH, Tharf M, Abu Heshmeh S, Al-Azayzih A, Mukattash TL, Akour A, Al Hamarneh YN, 2023, Patterns of drug-related problems and the services provided to optimize drug therapy in the community pharmacy setting. Saudi Pharmaceutical Journal, 31(9), doi: org/10.1016/j.jsps.2023.101746.

Lekpittaya N, Kocharoen S, Angkanavisul J, Siriudompas T, Montakantikul P, Paiboonvong T, 2024, Drug-related problems identified by clinical pharmacists in an academic medical centre in Thailand, Journal of Pharmaceutical Policy and Practice, 17(1), doi: org/10.1080/20523211.2023.2288603.

Li H, Li N, Jia X, Zhai Y, Xue X, Qiao Y, 2022, Appropriateness and associated factors of stress ulcer prophylaxis for surgical inpatients of orthopedics department in a tertiary hospital: A

Cross-Sectional Study, Frontiers in Pharmacology, 13, doi: org/10.3389/fphar.2022.881063.

Mahmoudi L, Mohammadi R, Niknam R, 2019, Economic impact of pharmacist interventions on correction of stress-related mucosal damage prophylaxis practice, Clinico Economics and Outcomes Research, 11, 111–116, doi: org/10.2147/CEOR.S191304.

Masood U, Sharma A, Bhatti Z, Carroll J, Bhardwaj A, Sivalingam D, Dhamoon AS, 2018, A successful pharmacist-based quality initiative to reduce inappropriate stress ulcer prophylaxis use in an academic medical intensive care unit, Inquiry (United States), 55, doi: org/10.1177/0046958018759116.

Octavia M, Maziyyah N, Fauziyah RN, 2024, Appropriateness and cost of prophylaxis stress ulcer for inpatient in the internal medicine department in a government hospital: A Cross-Sectional Study, Borneo Journal of Pharmacy, 7(1), 104–111, doi: org/10.33084/bjop.v7i1.4080.

Ogasawara O, Kojima T, Miyazu, M, Sobue K, 2020, Impact of the stress ulcer prophylactic protocol on reducing the unnecessary administration of stress ulcer medications and gastrointestinal bleeding: a single-center, retrospective pre-post study, Journal of Intensive Care, 8(1), doi: org/10.1186/s40560- 020-0427-8.

Pratiwi H, Maharani L, Mustikaningtias I, 2020, Cost saving of stress ulcer prophylaxis used in Non-Intensive Care Unit (ICU) inpatients, Media Pharmaceutica Indonesiana, 3(1):17-22.

PurnomoHD, PrabowoH, Permatadewi CO,Hutami HT, Indiarso D, Prasetyo A, Hirlan H, 2022, Rationality of use and effectiveness of stress ulcer prophylaxis in critically ill patients: an experience from a tertiary intensive care unit, Journal of Biomedicine and Translational Research, 8(3), 138–144, doi: org/10.14710/jbtr.v8i3.16387.

Rauch J, Patrzyk M, Heidecke CD, Schulze T, 2021, Current practice of stress ulcer prophylaxis in a surgical patient cohort in a German university hospital, Langenbeck's Archives of Surgery, 406(8), 2849–2859, doi: org/10.1007/s00423-021- 02325-3.

Silviarizka R, Sholihat NK, Pratiwi H, 2019, Analisis efektfitas biaya penggunaan omeperazol vs ranitidin sebagai profilaksis tekanan ulser di ICU RSUD Dr. Margono Soekarjo Purwokerto, Acta Pharm Indo, 7(2):80-89.

Tharanon V, Putthipokin K, Sakthong, P, 2022, Drug-related problems identified during pharmaceutical care interventions in an intensive care unit at a tertiary university hospital, SAGE Open Medicine, 10, doi: org/10.1177/20503121221090881.

Veettil SK, Sadoyu S, Bald EM, Chandran VP, Khuu SAT, Pitak P, Lee YY, Nair AB, Antony PT, Ford AC, Chaiyakunapruk N, 2022, Association of protonpump inhibitor use with adverse health outcomes: A systematic umbrella review of meta-analyses of cohort studies and randomised controlled trials, British Journal of Clinical Pharmacology, 88(4), 1551–1566, doi: org/10.1111/bcp.15103.

Suharjono D, Padolo E, Ardianto C, Sumarno, Matulatan F, Alderman C, Suharjono, 2020, Analysis of the use and cost of stress ulcer prophylaxis for surgical inpatients, Journal of Basic and Clinical Physiology and Pharmacology, 30(6), doi: org/10.1515/jbcpp-2019-0306.

Xu P, Yi Q, Wang C, Zeng L, Olsen KM, Zhao R, Jiang M, Xu T, Zhang L, 2021, Pharmacist-led intervention on the inappropriate use of stress ulcer prophylaxis pharmacotherapy in intensive care units: A Systematic review, In Frontiers in Pharmacology (Vol. 12), Frontiers Media SA, doi: org/10.3389/fphar.2021.741724.