PENDAHULUAN
Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah akibat kegagalan dalam sekresi insulin, kecacatan fungsi insulin, atau kombinasi keduanya. Diabetes adalah penyakit jangka panjang yang ditandai dengan ketidakmampuan tubuh untuk memproses karbohidrat, lemak, dan protein, yang mengakibatkan meningkatnya kadar glukosa dalam darah (Irmawati et al. 2022). Saat ini, bertambahnya jumlah penderita diabetes dipengaruhi oleh pola hidup yang kurang sehat, riwayat keluarga dengan diabetes, usia ≥45 tahun, ras, riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir >4000 g atau riwayat diabetes gestasional dan berat lahir rendah (Kurniawan et al. 2023). Berdasarkan Federasi Diabetes Internasional (IDF), tingkat prevalensi diabetes di seluruh dunia adalah 1,9% (Hestiana 2017). Prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 8,5%, di mana diabetes tipe 2 adalah jenis diabetes yang paling umum ditemukan (Husain et al. 2022). Diabetes tipe 2 ditandai oleh kekurangan insulin relatif yang disebabkan oleh disfungsi sel β pankreas serta resistensi insulin di organ target, masalah dalam sekresi insulin, masalah dalam kerja insulin, atau kombinasi dari keduanya. Ketidakmampuan sel β pankreas dalam memproduksi insulin yang memadai untuk menghadapi peningkatan resistensi insulin pada diabetes tipe 2 dikenal sebagai ominous octet (Widiasari et al. 2021).
Estimasi jumlah penderita diabetes di Indonesia diproyeksikan akan mencapai 21,3 juta jiwa pada tahun 2030. Karena masyarakat sekarang cemas tentang efek samping obat-obatan, pengobatan herbal menjadi pilihan alternatif untuk menurunkan kadar gula darah (Kurniawan et al. 2023). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 80% populasi di Asia dan Afrika menggunakan pengobatan tradisional untuk layanan kesehatan dasar. Bagian tanaman yang dimanfaatkan terdiri dari bunga, daun, batang, buah, dan akar karena bagian-bagian ini mengandung senyawa yang berfungsi mencegah, mengurangi, dan menyembuhkan penyakit (Rissa 2022). Di Indonesia, masyarakat menggunakan daun salam untuk mengatasi diabetes dengan merebus beberapa helai daun salam dalam dua
gelas air (Sinata et al. 2023). Daun salam kaya akan flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan yang dapat mencegah penyakit degeneratif seperti diabetes, yang berkaitan dengan stres oksidatif akibat penuaan organ dengan cara menghambat kerusakan sel beta pankreas (Dafriani et al. 2018). Widiastuti et al. (2023) menunjukkan bahwa ekstrak etanol dari daun salam dapat mengoptimalkan penurunan kadar glukosa darah pada tikus yang mendapatkan streptozotosin dengan dosis 62,5 mg/kg berat badan. Kurniawan et al. (2023) juga mengindikasikan bahwa air rebusan daun salam mampu menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan (p = 0,001).
Granul efervesen memiliki kelarutan yang baik dalam air serta menyegarkan seperti minuman ringan saat ditelan. Sediaan efervesen memiliki rasa yang enak dan efektif menutupi rasa pahit, sehingga mengurangi persepsi bahwa isinya adalah produk obat (Yulianti et al. 2020). Produksi granul efervesen dapat dilakukan melalui teknik granulasi kering tanpa melalui penambahan cairan dalam proses granulasi yang dapat memicu reaksi efervesen (Dewi et al. 2014). Berdasarkan paparan yang telah disebutkan, formulasi granul efervesen yang mengandung ekstrak daun salam melalui metode granulasi kering dapat menjadi inovasi obat diabetes dari bahan alam yang memudahkan dan menarik minat pasien DM tipe 2 dalam pengobatan dengan pemberian secara oral.
METODE
Bahan
Bahan pada penelitian ini terdiri dari daun salam, etanol 70% (kualitas farmasetik), asam sitrat (kualitas farmasetik), (kualitas farmasetik), asam tartrat (kualitas farmasetik), natrium bikarbonat (kualitas farmasetik), magnesium stearat (kualitas farmasetik), laktosa (kualitas farmasetik), talkum (kualitas farmasetik), PVP K-30 (kualitas farmasetik), dan aspartam (kualitas farmasetik). Daun salam diambil dari Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Instrumen
Timbangan digital (OHAUS), ayakan ukuran 18 mesh, jangka sorong, oven, mesin pencetak tablet, moisture analyzer (Radwag), friability tester, flowability tester, dan hardness tester.
Prosedur Penelitian
1. Determinasi Tanaman
Determinasi tanaman salam dilakukan di Laboratorium Terpadu FMIPA Universitas Negeri Semarang (UNNES).
2. Pembuatan Serbuk Simplisia Daun Salam Sebanyak 10 kg daun salam segar dikumpulkan, disortir dari kotoran (sortasi basah), dan dicuci menggunakan air. Pengeringan daun salam dilakukan di bawah sinar matahari dan menutupnya dengan kain berwarna hitam. Setelah kering, daun ditandai jika mudah hancur saat diremas, kemudian daun salam dihaluskan menggunakan blender hingga menjadi serbuk kering. Serbuk simplisia disimpan di dalam wadah kering yang tertutup rapat di tempat yang terlindung dari sinar matahari (Rahayu et al. 2021).
3. Pembuatan Ekstrak Daun Salam
Serbuk simplisia daun salam direndam dengan perbandingan serbuk dan pelarut 1:10. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan pelarut etanol 70% dan waktu perendaman selama 72 jam. Ekstrak yang dihasilkan diuapkan menggunakan penangas air pada suhu 50°C agar diperoleh ekstrak kental (Widiastuti et al. 2023). Rendemen ekstrak diperoleh dengan menggunakan Persamaan (1).
Rendemen ekstrak (%) = () () 100................. (1)
4. Identifikasi Ekstrak Daun Salam
A. Pemeriksaan Organoleptis
Pemeriksaan organoleptis meliputi bentuk, bau, dan warna ekstrak daun salam.
B. Identifikasi Senyawa Flavonoid
1) Uji Wilstatter
Sebanyak 1 mL ekstrak etanol dari daun salam dicampurkan dengan 2 tetes HCl 2N kemudian dikocok dengan kuat. Setelah itu, 0,1 g serbuk magnesium ditambahkan dan dikocok dengan kuat sehingga terbentuk buih. Hasil uji positif ditunjukkan dengan larutan akan menunjukkan warna jingga (Lumowa et al. 2018).
2) Uji NaOH 10%
Pada 1 mL ekstrak etanol dari daun salam, ditambahkan 2 tetes NaOH 10% dan dikocok dengan kuat. Hasil uji positif ditunjukkan dengan pembentukan warna kuning, merah, coklat, atau hijau (Handayani et al., 2020).
1. Formulasi Granul Efervesen Ekstrak Daun Salam
Tiga formula granul efervesen dari ekstrak daun salam dibuat dengan variasi konsentrasi PVP K-30. Formula granul efervesen merupakan hasil pengembangan dari formula yang terdapat dalam penelitian Ningrum (2022) serta Haryono & Noval (2022). Formula granul efervesen ekstrak daun salam dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Formulasi Granul Efervesen Ekstrak Daun Salam
| Formula | F1 | F2 | F3 | Khasiat |
|---|---|---|---|---|
| Ekstrak Daun Salam | 1% | 1% | 1% | Antidiabetes |
| Asam Sitrat | 2% | 2% | 2% | Asam |
| Asam Tartrat | 19% | 19% | 19% | Asam |
| Natrium Bikarbonat | 31% | 31% | 31% | Basa |
| PVP K-30 | 2% | 4% | 5% | Pengikat |
| Mg Stearat | 1% | 1% | 1% | Lubrikan |
| Talkum | 1,75% | 1,75% | 1,75% | Glidan |
| Aspartam | 2% | 2% | 2% | Pemanis |
| Laktosa | ad 500 mg | ad 500 mg | ad 500 mg | Pengisi |
2. Pembuatan Granul Efervesen Ekstrak Daun Salam
Pembuatan granul efervescen dilakukan di ruangan dengan RH sekitar 40% pada suhu sekitar 25°C menggunakan metode granulasi kering. Ekstrak kental etanol dari daun salam dikeringkan menggunakan aerosil sebesar 20% dari ekstrak, menghasilkan ekstrak kering daun salam. Dalam proses pembuatan tablet efervesen terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian asam dan bagian basa. Pada komponen asam terdapat ekstrak kering daun salam, asam sitrat, asam tartrat, PVP K-30, PVP K-30, laktosa, dan aspartam. Komponen asam dihancurkan hingga merata, lalu campuran dimasukkan ke dalam oven selama ±1 jam pada suhu ±60°C. Setelah itu, campuran komponen asam diambil dari oven dan dicampurkan dengan komponen basa yang terdiri dari natrium
bikarbonat, talkum, dan Mg-stearat, kemudian diayak menggunakan ayakan ukuran 18 mesh. Campuran komponen asam dan basa di-slugging, dihancurkan, dan disaring menggunakan ayakan ukuran 18 mesh. Granul yang dihasilkan akan melalui pengujian yang mencakup uji kadar air, uji waktu alir, uji sudut diam, dan effervescent cessation time.
3. Evaluasi Granul Ekstrak Daun Salam
A. Uji Kadar Air
Sebanyak ±2 g granul efervesen diletakkan di atas piring aluminium di dalam moisture analyzer dan alat ditutup. Secara otomatis, alat mengukur kadar air granul. Kadar air granul efervesen yang memenuhi syarat berada pada rentang 2-4% (Lynatra et al. 2018).
B. Uji Waktu Alir
Sebanyak ±100 g granul efervesen dialirkan melalui sebuah corong pada alat flowability tester. Granul efervesen dinyatakan memiliki kecepatan alir yang baik apabila waktu alir granul efervesen ≥10 gram/detik, (Lynatra et al. 2018).
C. Uji Sudut Diam
Pengujian ini setelah uji waktu alir. Tinggi (h) tumpukan granul dan jari-jari (r) dari alas tumpukan diukur, kemudian sudut diam dihitung berdasarkan Persamaan (2)
\[\tan \alpha = \frac{tinggi\ dari\ kerucut\ granul\ yang\ terbentuk\ (cm)}{jari-jari\ permukaan\ kerucut\ (cm)}....\] (2)
D. Uji Effervescent Cessation Time Sekitar ±5 g granul efervesen per formula dicampurkan dalam 200 mL akuades pada suhu 15-25°C. Lamanya pelarutan diukur dengan stopwatch dari saat granul dimasukkan ke dalam akuades hingga seluruh granul larut dan gelembunggelembung di sekitar wadah mulai menghilang. Granul efervesen dianggap baik jika memiliki waktu larut ≤5 menit (Nursanty et al. 2022).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Langkah awal dalam sebelum dilakukan preparasi simplisia adalah determinasi tanaman salam. Determinasi bertujuan untuk memverifikasi apakah ciri morfologi tanaman terpilih sesuai dengan yang dideskripsikan dalam penelitian. Hasil determinasi tanaman mengkonfirmasi bahwa tanaman yang digunakan sebagai bahan penelitian adalah tanaman salam (Syzygium polyanthum (Wigh) Walpers). Daun salam yang terkumpul menjalani prosedur sortasi basah untuk membuang kontaminan seperti tanah, rumput, dan serangga. Selanjutnya, daun salam dikeringkan di bawah sinar matahari, ditutup dengan kain hitam untuk menjaga stabilitas senyawa yang terkandung. Proses pengeringan ini berlangsung selama empat hari hingga daun salam mencapai keadaan kering, yang ditandai dengan daun patah saat diremas. Tujuan dari pengeringan daun adalah untuk menurunkan kandungan air pada daun salam agar dapat mencegah perkembangan mikroba yang tidak diinginkan. Ekstraksi etanol dari daun salam dilakukan dengan metode maserasimenggunakan etanol 70%. Metode ini dipilih karena sederhana dan tidak memerlukan pemanasan, sehingga mengurangi risiko degradasi metabolit sekunder yang sensitif terhadap pemanasan. Karena senyawa flavonoid bersifat polar, penggunaan pelarut polar seperti etanol 70% memudahkan perolehan rendemen ekstrak yang relatif tinggi.
Filtrat dipekatkan dengan penangas air pada suhu ±50°C. Pemekatan pada suhu demikian tidak hanya bertujuan untuk menghilangkan etanol 70% sebagai pelarut maserasi, namun juga menghindari degradasi senyawa flavonoid karena pengaruh panas. Kehadiran flavonoid dalam ekstrak daun salam dibuktikan melalui uji Wilstatter dan uji NaOH 10%. Dalam uji Wilstatter, ekstrak daun salam berwarna cokelat berubah menjadi larutan jingga yang berbuih setelah bereaksi dengan serbuk Mg dan HCl pekat. Keberadaan serbuk Mg dan HCl pekat dapat mengubah inti benzopiron dalam struktur flavonoid menjadi garam flavilium yang berwarna merah atau oranye. Serbuk Mg dan HCl juga bereaksi menghasilkan gelembung gas H2 (Dewi et al. 2021). Pada ekstrak daun salam yang direaksikan dengan NaOH 10%, terjadi perubahan warna larutan dari cokelat menjadi warna cokelat
kekuningan. Hal ini terjadi karena terbentuknya senyawa asetofenon saat sampel direaksikan dengan NaOH. Ekstrak kental daun salam yang diperoleh berbentuk cairan kental, berbau khas daun salam dan berwarna coklat tua. Rendemen ekstrak yang diperoleh daun salam sebesar 22,757%. Rendemen ekstrak daun salam dinyatakan baik karena nilainya tidak kurang dari 18,2% (Depkes RI 2017).
Dalam pembuatan granul efervesen, komponen utama yang digunakan meliputi sumber asam, sumber basa, bahan pengikat, bahan pengisi, bahan pelincir, bahan pelicin, serta pemanis. Sumber asam yang dipakai adalah asam sitrat dan asam tartarat. Asam sitrat yang digunakan sebagai asam tunggal akan menghasilkan sediaan efervesen yang rapuh, mudah menggumpal, dan produk akhirnya cenderung bersifat asin, sementara penggunaan asam tartrat sebagai asam tunggal dapat menghasilkan campuran yang lengket dan sulit untuk digranulasi (Aloenida et al. 2021). Gabungan asam sitrat dan asam tartrat memberikan manfaat sebagai dasar pada sediaan granul efervesen, karena asam sitrat yang mudah pecah berpadu dengan asam tartrat yang lengket, menghasilkan interaksi fisik yang bermanfaat. Asam tatrat meningkatkan rigiditas asam sitrat, sedangkan asam sitrat menurunkan gaya intramolekul dalam asam tartrat sehingga daya lekat antar molekul dalam asam tartrat akan turun. Hal tersebut akan berefek mudahnya asam sitrat untuk digranulasi dengan zat lain. campuran asam sitrat dan asam tartrat juga meningkatkan solubilitas obat dalam air yang sangat penting dalam sediaan tablet efervesen dan memperkuat ikatan partikel dalam tablet efervesen sehingga lebih keras dan stabil. Natrium bikarbonat sebagai basa akan bereaksi dengan senyawa asam dalam medium air menghasilkan senyawa asam karbonat yang tidak stabil dan membentuk senyawa karbondioksida (CO2) yang membantu melarutkan granul efervesen dalam air.
PVP K-30 adalah pengikat yang mampu menghasilkan granul dengan karakteristik alir yang optimal. PVP K-30 dapat memperkuat interaksi antar partikel, sehingga dapat menghasilkan massa padatan yang lebih padat. Massa yang padat yang terbentuk saat diayak akan
menghasilkan partikel granul yang berbentuk spheris. Laktosa berperan sebagai bahan pengisi. Laktosa memiliki karakteristik inert (tidak bereaksi) hampir terhadap semua jenis bahan obat. Di samping itu, laktosa juga memiliki stabilitas yang baik. Hal ini memungkinkan laktosa digunakan dalam pembuatan tablet dan granul efervesen tanpa kekhawatiran mengenai degradasi bahan aktif. Sediaan yang mengandung bahan pengisi laktosa biasanya menunjukkan kecepatan pelepasan obat yang optimal (Aprilia et al. 2021). Laktosa sangat mudah larut dalam air, sehingga obat yang bersentuhan dengan laktosa mengalami peningkatan hidrofilisitas di dalam air melalui ikatan hidrogen. Talkum berfungsi sebagai pelicin karena dapat meningkatkan kelancaran massa yang akan dikempa sehingga massa tersebut mampu mengisi die dengan jumlah yang seragam. Magnesium stearat berfungsi sebagai pelincir yang dapat memperbaiki sifat alir campuran serbuk dan mengurangi gesekan antar partikel sehingga campuran serbuk lebih mudah untuk mengalir masuk ke dalam die. Perhatian perlu diberikan pada penggunaan magnesium stearat, karena jika digunakan lebih dari 3% pada granul, dapat meningkatkan sifat hidrofobik granul tersebut. Peningkatan sifat hidrofobik akan menghambat proses pemecahan granul, sehingga obat sulit terdispersi dalam larutan air. Aspartam dipakai sebagai pemanis karena dapat berfungsi sebagai pengganti gula bagi penderita diabetes melitus (DM) (Maulana et al. 2018). Aspartam memiliki rasa manis yang sangat kuat tanpa menambah kalori, sehingga aman bagi penderita diabetes mellitus. Rasa manis aspartam sekitar 200 kali lebih kuat dibandingkan sukrosa dan ketahanan rasa manisnya cukup lama (Ropiqa et al. 2020).
Proses pembuatan granul efervesent dilakukan dengan teknik granulasi kering. Alasan pemilihan metode itu adalah untuk mencegah reaksi efervesens dini ketika komponen asam dan basa dicampurkan selama proses pembuatan granul. Sebelum melakukan slugging, komponen asam dan basa harus dicampurkan terlebih dahulu setelah komponen asam menjalani proses pengeringan. Proses pengeringan dilaksanakan untuk menurunkan kadar kelembaban agar reaksi efervesen yang prematur dapat dihindari. Slugging bertujuan untuk memproduksi granul secara
mekanis dan kemudian disaring ulang menggunakan ayakan ukuran 18 mesh. Pengayakan pada granul bertujuan untuk menyamakan ukuran granul sehingga granul dapat mengisi die dengan merata. Tahapan produksi granul efervesen dapat dilihat pada Gambar 1.
Kelembaban diperlukan untuk menciptakan ikatan antar partikel sehingga partikel yang satu dengan yang lainnya bersatu menjadi satu kesatuan yang lebih padat (Hasibuan et al., 2020). Kelembapan yang tinggi dapat memicu agregasi dan aglomerasi partikel-partikel kecil, sehingga membuat granul sulit untuk mengalir (Rani et al. 2020). Dari ketiga formula yang ada di Tabel 2, F3 memiliki kandungan air terendah dibandingkan dengan formula lainnya karena menggunakan pengikat PVP K-30 sebanyak 5%. Ini mungkin disebabkan oleh proses dari saat pembuatan sampai pengeringan granul. Walaupun ada variasi kadar air pada F1, F2, dan F3, semua formula tersebut memenuhi standar kadar air granul. Menurut literatur, kadar air granul yang sesuai adalah 2-4% (Kalalo et al. 2019).
Sudut diam merupakan sudut tetap yang terbentuk antara tumpukan partikel berbentuk kerucut dan bidang horizontal ketika sejumlah serbuk atau granul dituangkan ke dalam alat ukur (Maharesi et al. 2021). Pengujian sudut diam dilaksanakan dengan mengukur tinggi dan radius kerucut serbuk yang terbentuk selama pengujian waktu alir. Uji sudut diam berkaitan dengan waktu alir maupun
kecepatan alir. Kenaikan konsentrasi PVP K-30 berpengaruh terhadap sudut diam granul efervesen ekstrak daun salam. Berdasarkan Tabel 2, F2 dan F3 memiliki sudut diam paling kecil dibandingkan dengan F1 namun tetap memenuhi persyaratan. Sudut diam yang baik pada granul ≤ 30° (Nursanty et al. 2022). Semakin besar penambahan PVP K-30 maka sudut diam semakin kecil sehingga sehingga sifat aliran granul semakin optimal dan granul menjadi lebih mudah untuk dikempa. Sudut diam memiliki korelasi positif terhadap waktu alir granul.
Uji effervescent cessation time bertujuan untuk menentukan lamanya granul efervesen larut sepenuhnya dalam air. Effervescent cessation time juga menunjukkan periode reaksi efervesen dari granul efervesen saat dilarutkan dalam air. Granul efervesen yang berkualitas memiliki waktu larut ≤ 5 menit. Ciri fisik granul efervesen dari ekstrak daun salam dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2, F1 memiliki effervescent cessation time lebih cepat dibandingkan F2 dan F3. Hal ini disebabkan kosentrasi PVP K-30 pada F1 paling sedikit diantara F2 dan F3, sedangkan F2 mengandung PVP K-30 lebih sedikit dibandingkan F3. Penambahan konsentrasi PVP K-30 meningkatkan kekuatan ikatan antar granul sehingga granul dengan PVP K-30 lebih besar membutuhkan waktu yang lebih lama dalam pemecahan granul menjadi molekul dalam air. Meskipun demikian, F1, F2 dan F3 memenuhi persyaratan effervescent cessation time.
Gambar 1. Slugging dari Campuran Ekstrak, Asam dan Basa (1) dan Penghancuran Slugging untuk Pembuatan Granul sebelum Diayak (2)
Tabel 2. Karakteristik Fisik Granul Effervescent Ekstrak Daun Salam
| Formula | Kadar Air (%) | Waktu Alir (g/detik) | Sudut Diam (°) | Cessation time (menit) |
|---|---|---|---|---|
| P1 | 2,485 | 10,274 | 24,7 | 3,3 |
| P2 | 2,379 | 10,381 | 21,8 | 3,5 |
| Р3 | 2,283 | 12,766 | 21,8 | 4,1 |
KESIMPULAN
Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa granul efervesen yang mengandung ekstrak daun salam 1% dan PVP K-30 dengan variasi konsentrasi masing-masing 2, 4 dan 5% memenuhi persyaratan kadar air, waktu alir, sudut diam dan effervescent cessation time.
