PENDAHULUAN
Hipertensi merupakan penyakit tekanan darah tinggi, ditandai dengan tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg (Dipiro et al. 2023). Hipertensi adalah salah satu penyakit yang disebut sebagai silent killer karena asimptomatik (tanpa gejala) dan pasien merasa baik-baik saja (Aspiani 2019). Pada umumnya, pasien akan menyadari telah terkena hipertensi ketika sudah terjadi komplikasi. Kondisi ini tentu saja berbahaya bagi pasien karena dapat menyebabkan kematian (Pristianty et al. 2023, Udjianti 2010).
Prevalensi hipertensi dari tahun ke tahun semakin meningkat di dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) pada 2023 tercatat prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 30,8%, dan sebesar 10,7% menyerang pada kelompok usia 18-24 tahun. Terdapat data sebesar 12,8% pasien hipertensi mengalami kematian, salah satu faktornya adalah ketidakpatuhan pada pengobatan hipertensi (Rahajeng et al. 2017). Hasil SKI 2023 menunjukkan bahwa hanya 1,3% pasien kelompok usia 18-59 tahun yang melakukan pengobatan sesuai petunjuk dan sebesar 5,46% pasien kelompok usia di atas 60 tahun yang melakukan pengobatan sesuai petunjuk. Angka kematian yang berkaitan erat dengan penyakit hipertensi menempati posisi paling atas dibandingkan dengan penyakit lainnya. Salah satu faktor kematian pada kasus hipertensi disebabkan oleh kekambuhan dan komplikasi dari hipertensi, sehingga kondisi tersebut semakin memperparah keadaan pasien. Hal ini diakibatkan ketidakpatuhan pasien pada pengobatan, sehingga tidak dapat mencapai target terapi (Burnier dan Egan 2019).
Kepatuhan merupakan istilah yang mengacu pada sejauh mana pasien melaksanakan tindakan dan pengobatan yang direkomendasikan oleh dokter atau tenaga kesehatan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan adalah tingkat pengetahuan pasien terhadap penyakit hipertensi. Faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien di antaranya adalah kesadaran, motivasi, dan pengetahuan pasien. Pengetahuan merupakan hasil pengindraan atau rasa tahu seseorang terhadap suatu objek. 6 tingkat pengetahuan yang dipaparkan oleh Notoatmodjo yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi (Notoatmodjo 2012). Tingkat pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu pendidikan, informasi atau media masa, sosial, budaya, ekonomi, lingkungan, pengalaman dan usia (Ahmad et al. 2020).
Terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka komplikasi hipertensi, seperti dengan meningkatkan pengetahuan individu, kelompok, sampai masyarakat tentang penyakit hipertensi (Wawan and Dewi 2011). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Mathavan, pengetahuan tentang kesehatan seharusnya memberi pengaruh pada perilaku kesehatan (Mathavan and Pinatih 2017), maka pengetahuan juga merupakan salah satu komponen penting dalam mengontrol hipertensi dan pengendalian penyakit yang lebih baik oleh pasien. Pengetahuan pasien tentang hipertensi merupakan determinan independen yang signifikan dari kepatuhan yang baik (Jankowska-Polańska et al. 2016).
Tujuan dari literature review ini untuk memberikan gambaran tentang pengaruh tingkat pengetahuan seseorang terhadap kepatuhan pengobatannya berdasarkan dari beberapa jurnal yang telah didapatkan dengan harapan dapat memberikan informasi tentang hubungan antara pengetahuan yang dimiliki seseorang dengan keberhasilan terapinya.
METODE
Strategi Pencarian Pustaka
Strategi bantuan yang digunakan untuk mencari data pada literature review ini menggunakan dua database, yaitu PubMed dan Google Scholar dengan menggunakan kata kunci "hypertension, knowledge, medication adherence, medication compliance". Literatur yang diperoleh sebanyak 14 artikel yang digunakan sebagai sumber pustaka utama untuk literature review ini.
Kriteria Inklusi dan Ekslusi
Literature review artikel ini menggunakan 14 artikel sebagai sumber pustaka. Dilakukan skrining dan seleksi pada artikel awal yang telah didapatkan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Kriteria inklusi yaitu artikel full
paper yang dipublikasi dalam 15 tahun terakhir yang memberi gambaran tentang tingkat pengetahuan dan kepatuhan pasien terhadap terapi hipertensi serta faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan pasien. Artikel yang digunakan adalah artikel dari jurnal nasional yang terakreditasi dan jurnal internasional yang bereputasi. Kriteria eksklusi diantaranya jurnal yang berbayar atau yang hanya dapat diakses abstraknya saja. Hasil pencarian ditemukan sebanyak 79 artikel yang kemudian diseleksi menjadi 14 artikel utama sebagaimana tercantum pada Tabel 1.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengetahuan Hipertensi
Tingkat pengetahuan seseorang tentang kesehatan akan menimbulkan kesadaran dan pemahaman tentang penyakit tersebut, kemudian akan mendorong pada perilaku yang lebih baik dalam menangani penyakitnya. Pengetahuan dapat diperoleh melalui pendidikan formal, pelayanan kesehatan, radio, televisi, media dan sarana informasi lainnya, bahkan pengalaman. Hal ini sejalan penelitian yang dilakukan oleh Pirasath et al. yang menjelaskan pasien menyampaikan bahwa sumber informasi untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pasien terkait penyakitnya adalah peran tenaga kesehatan, media massa, poster, dan materi yang disajikan dalam bentuk video (Pirasath et al., 2020).
Pengukuran Pengetahuan
Pengetahuan seseorang dapat diukur dan dievaluasi melalui instrumen kuesioner, baik yang dikembangkan sendiri oleh peneliti atau menggunakan instrumen yang telah divalidasi sebelumnya. Instrumen untuk mengukur pengetahuan yang telah divalidasi sebelumnya dan digunakan secara luas, seperti Hypertension Fact Questionnaire (HFQ) dan Hypertension Knowledge-Level Scale (HK-LS). Instrumen Hypertension Fact Questionnaire (HFQ) terdiri dari 15 poin pertanyaan yang menilai pengetahuan pasien terkait pengertian hipertensi, etiologi, dan manajemen terapinya (Dhrik et al. 2023, Olowe and Ross 2017, Saleem et al. 2011). Sedangkan instrumen Hypertension Knowledge-Level Scale (HK-LS) terdiri dari 22 poin pertanyaan yang menilai pengetahuan pasien mengenai pengertian
hipertensi, pola hidup, terapi, kepatuhan obat, diet, dan komplikasi hipertensi (Abdulloh et al. 2024, Jankowska-Polańska et al. 2016, Paczkowska et al. 2021, Pristianty et al. 2023). Dapat terlihat bahwa instrumen HK-LS menilai lebih banyak dimensi dibandingkan HFQ. Selain adanya kuesioner yang telah dikenal secara luas, pengembangan kuesioner mandiri oleh peneliti biasanya melingkupi dimensi yang sama, seperti pengertian hipertensi, etiologi, terapi, dan bahkan memungkinkan peneliti untuk memperluas cakupan dimensi yang dapat dimasukkan.
Komponen Pengetahuan
Dimensi pengetahuan yang menjadi parameter ukur dari beberapa studi yang diulas dan dikaji pada literature review ini adalah definisi, etiologi, faktor risiko, kepatuhan pada rencana terapi, target terapi, terapi nonfarmakologi (pola hidup, diet), dan komplikasi (Barreto et al. 2014, Jankowska-Polańska et al. 2016, Malik et al. 2014, Pirasath et al. 2020, Pristianty et al. 2023, Saleem et al. 2011). Pengetahuan pasien terhadap terapi nonfarmakologi (pola hidup dan diet) dan kepatuhan pada rencana pengobatan memberikan dampak pada kepatuhan pasien (Jankowska-Polańska et al. 2016, Paczkowska et al. 2021). Dimensi pengetahuan yang terkait dengan kepatuhan pasien adalah pengetahuan mengenai terapi hipertensi yang bersifat jangka panjang dan peran terapi nonfarmakologi (Barreto et al. 2014). Dari beberapa studi terlihat bahwa tidak hanya dari aspek terapi farmakologi, pengetahuan terkait aspek terapi nonfarmakologi dan rencana terapi jangka panjang memainkan peran penting dalam kepatuhan pasien hipertensi.
Pengukuran Kepatuhan Pengobatan
Kepatuhan menjadi tolak ukur yang penting dalam pengobatan, terutama pengobatan penyakit kronis seperti hipertensi yang membutuhkan terapi jangka panjang. Kepatuhan seseorang juga dapat diukur melalui instrumen kuesioner. Instrumen untuk mengukur kepatuhan dapat dikembangkan sendiri maupun menggunakan instrumen yang telah divalidasi dan digunakan secara luas, seperti Medication Adherence Questionnaire (MAQ), Selfefficacy for Approriate Medication Use (SEAMS), Brief Medication Questionnaire (BMQ), The Hill-Bone Compliance Scale, The Medication Adherence
Rating Scale (MARS), dan lainnya. MAQ merupakan salah satu kuesioner yang paling banyak digunakan. Kuesioner ini dikembangkan oleh Morisky yang kemudian dikenal dengan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS) (Culig dan Leppée 2014). Kuesioner MMAS mengukur kepatuhan pasien dengan mengidentifikasi batasan dan kebiasaan kepatuhan pasien yang menjalani terapi jangka panjang, melalui 4-8 poin pertanyaan, yang selanjutnya pasien akan dikategorikan tingkat kepatuhannya (Jankowska-Polańska et al. 2016).
Hubungan Pengetahuan dengan Kepatuhan
Seseorang dengan pengetahuan yang baik akan melaksanakan terapi dengan patuh dan berusaha mengurangi faktor-faktor risiko pada penyakitnya (Mathavan dan Pinatih 2017). Pasien yang memiliki sikap yang buruk berkorelasi terhadap kepatuhan yang buruk pula. Pasien yang memahami penyakit dan pengobatannya memiliki kecenderungan untuk bersikap sesuai dengan pemahamannya, sehingga kepatuhan pasien juga akan meningkat. Sikap yang baik dalam mengikuti terapi hipertensinya akan mencegah kesalahpahaman yang dapat mengakibatkan pasien menjadi tidak patuh (Wahyuni et al. 2019).
Terdapat beberapa penjelasan yang bertentangan pada beberapa studi. Pengetahuan yang baik belum tentu membuat pasien akan memiliki perilaku yang baik, karena perilaku melibatkan beberapa faktor yang dipengaruhi oleh kondisi emosi, sosial, biologis, dan kebudayaan (Barreto et al. 2014). Hal serupa dijelaskan pada penelitian yang dilakukan Pirasath et al. bahwa mayoritas pasien memiliki pengetahuan yang cukup terkait hipertensi, namun hanya beberapa yang memiliki motivasi untuk berubah sesuai pengetahuan yang dimiliki. Hasil studi menunjukkan tingkat pengetahuan pasien terkait penyakit hipertensi cukup baik, yaitu sebanyak 69,9% pasien yang memiliki tingkat pengetahuan baik. Namun, sebanyak 84,5% pasien yang memiliki kepatuhan yang rendah. Hal ini dikarenakan pasien belum memiliki motivasi untuk meningkatkan kepatuhannya (Pirasath et al. 2020).
Terdapat suatu teori terkait model kepercayaan kesehatan atau Health Belief Model yang menyatakan bahwa perilaku kesehatan pasien
dipengaruhi oleh sikap dan kepercayaan pasien (Saleem et al. 2011, Yanti et al. 2020). Model ini menjelaskan lebih lanjut bahwa manfaat yang dirasakan dan batasan yang terdapat pada layanan kesehatan berperan penting dalam mencapai keberhasilan terapi. Pada studi yang dilakukan oleh Saleem et al., pasien membuat keputusan sendiri terkait pengelolaan pengobatannya sehingga menyebabkan pasien tidak patuh. Pasien terlihat tidak nyaman dengan pengobatannya (69,6%) dan menggunakan pengobatan hanya ketika pasien merasakan sakit (93,0%) (Saleem et al. 2011). Hal ini tentunya dapat mempengaruhi kepatuhan pasien, terbukti sebanyak 64,7% pasien memiliki kepatuhan yang rendah karena pasien tidak mengetahui kebutuhan dan manfaat terapi jangka panjang dari kondisinya. Pasien menggunakan obat sesuai dengan kepercayaan dan hal yang dirasakan (Saleem et al. 2011). Selain itu, studi yang dilakukan oleh Malik et al. menunjukkan hal yang sama, yaitu alasan terbesar pasien tidak patuh adalah karena pasien menggunakan obat hanya ketika merasa tekanan darahnya meningkat. Pasien tidak mengetahui tujuan terapi jangka panjang dari hipertensi dan tidak sadar bahwa peningkatan tekanan darah seringkali bersifat asimptomatik (Abdulloh et al. 2024, Malik et al. 2014). Pengetahuan pasien yang rendah sehingga pasien tidak dapat membedakan mitos dan fakta terkait penyakit, tidak memiliki semangat untuk mengontrol penyakit, harapan rendah terhadap hasil pengobatan, dan ketidakmampuan pasien untuk menghadapi situasi efek samping pengobatan, dapat berdampak pula pada kepatuhan pasien (Barreto et al. 2014).
Faktor Penyebab Ketidakpatuhan
Salah satu dimensi penyebab ketidakpatuhan pasien terhadap pengobatannya adalah penilaian pasien terhadap sistem pelayanan kesehatan. Hal ini juga terlihat pada penelitian yang dilakukan oleh Pirasath et al. yang menunjukkan salah satu alasan terbanyak pasien tidak patuh karena kurangnya akses terhadap layanan terkait biaya, yaitu sebanyak 14,9% (Pirasath et al. 2020, Suhadi 2014). Peningkatan layanan kesehatan, seperti meningkatkan akses pasien terhadap fasilitas layanan kesehatan dapat meningkatkan promosi kesehatan dan aktivitas lain yang mendukung langkah pencegahan penyakit (Barreto et al. 2014).
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Suhadi pada 2014, intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi dimensi sistem kesehatan dan sosioekonomi ini adalah dengan dilakukan pelatihan keterampilan edukasi pada tenaga kesehatan, perbaikan hubungan dokter dan pasien, dan asuransi kesehatan untuk memudahkan akses terhadap suplai obat (Suhadi 2014).
Studi yang dilakukan oleh Malik et al. menyatakan bahwa sebanyak 15,9% pasien menjadi tidak patuh karena pengobatan hipertensi yang memakan waktu lama (Malik et al. 2014, Ramadhani and Nasution 2023). Selain jangka waktu yang panjang, kompleksitas regimen pengobatan juga kerap menjadi masalah yang menyebabkan ketidakpatuhan pasien. Penyederhanaan regimen pengobatan dapat meningkatkan kepatuhan pasien (Barreto et al. 2014, Ramadhani and Nasution 2023, Suhadi 2014). Selain itu, banyaknya obat yang dikonsumsi (polifarmasi) juga mepengaruhi kepatuhan pasien (Pirasath et al. 2020). Salah satu rekomendasi intervensi untuk meningkatkan kepatuhan dari studi yang dilakukan oleh Suhadi adalah penyederhanaan regimen pengobatan. Selain itu, banyaknya obat yang dikonsumsi (polifarmasi) juga mepengaruhi kepatuhan pasien (Ghembaza et al. 2014, Pirasath et al. 2020). Penyederhanaan regimen terapi tentunya tetap berada di bawah pengawasan dokter sebagai profesional kesehatan. Pasien dapat mengomunikasikan dengan dokter terkait ketidaknyamanan yang dirasakan, termasuk regimen yang terlalu kompleks.
Komunikasi dengan profesional kesehatan dapat mempengaruhi kepatuhan pasien, karena melalui komunikasi tersebut pasien dapat meningkatkan kepatuhan dan kesadaran terhadap pengobatannya (Wahyuni et al. 2019). Pemeliharaan komunikasi pasien dengan profesional kesehatan dapat dijaga melalui kehadiran pasien di layanan kesehatan tingkat pertama, karena dengan kunjungan tersebut pasien dapat berinteraksi dengan profesional kesehatan, memeriksakan tekanan darah secara rutin, dan pasien memiliki kesempatan lebih untuk mengakses informasi sehingga pasien dapat lebih patuh terhadap pengobatannya (Barreto et al. 2014). Pasien dengan tingkat pengetahuan rendah
tidak mengetahui materi terapi nonfarmakologi yang dapat mendukung keberhasilan terapi, termasuk diet yang tepat untuk pasien hipertensi (Jankowska-Polańska et al. 2016) Pada penelitian yang dilakukan oleh Jankowska-Polańska, sebanyak 63% pasien yang memiliki pengetahuan yang rendah, karena pasien kurang mendapatkan informasi, terutama informasi terkait diet dan komplikasi hipertensi (Jankowska-Polańska et al. 2016). Oleh karena itu, apabila komunikasi antara pasien dengan profesional kesehatan dapat ditingkatkan, maka dapat meningkatkan pengetahuan pasien yang berujung pada peningkatan kepatuhan pasien terhadap pengobatannya.
Peningkatan Pengetahuan dan Kepatuhan terhadap Keberhasilan Terapi
Upaya peningkatan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengobatannya terbukti dapat meningkatkan pengetahuan pasien karena pasien menjadi lebih perhatian terhadap pengobatannya (Ramli et al. 2012). Hal ini dapat dicapai melalui peran apoteker dalam pelayanan kepada pasien, yaitu konseling, sebagai bagian terintegrasi dari pelayanan kefarmasian. Pada studi yang dilakukan oleh Olowe et al pada 2017 dan Ampofo et al. pada 2020, profesional kesehatan, khususnya apoteker, sebaiknya meningkatkan pendekatan konseling yang menarik dan inovatif pada pasien untuk meningkatkan keberhasilan dalam mengubah kebiasaan kepatuhan pasien (Ampofo et al. 2020, Ardiansyah et al. 2023, Olowe and Ross 2017).
Luaran yang diharapkan dari pengelolaan hipertensi adalah tekanan darah yang terkontrol. Pemeriksaan tekanan darah secara berkala menjadi salah satu tolak ukur yang dapat digunakan untuk menggambarkan keberhasilan dan kepatuhan pengobatan pasien. Pengetahuan pasien terhadap pentingnya pengukuran tekanan darah secara berkala dapat mempengaruhi kepatuhan pasien. Pasien dengan tingkat pengetahuan rendah memiliki tekanan darah yang tinggi (56,5%) dan hanya sekitar 35% pasien yang melakukan pengukuran terhadap tekanan darahnya secara berkala karena tidak memiliki alat pengukur tekanan darah di rumah (Malik et al. 2014). Sebuah studi menunjukkan bahwa
Hasyul et al.
pengukuran tekanan darah secara berkala dan buku edukasi pasien memiliki pengaruh yang positif terhadap pengetahuan pasien (Bowry et al. 2011).
Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang berbahaya apabila terapinya tidak dilaksanakan dengan baik dan benar. Pasien harus patuh pada pengobatan dan memperhatikan pola hidup demi mencegah kekambuhan dan komplikasi yang akan memperparah keadaan kesehatan pasien. Langkah dalam memperbaiki pola hidup dan diet dapat dilakukan dengan cara mengurangi konsumsi garam berlebih, mengentikan konsumsi fast food atau junk food, tidur teratur dan olah raga. Hal ini juga bertujuan untuk menjaga tekanan darah pasien (Dipiro et al. 2017). Selain itu, peran keluarga dan orang sekitar sangat penting bagi kepatuhan, kesadaran dan emosional pasien karena peran dan dukungan keluarga serta orang terdekat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan. Keluarga dan orang sekitar memiliki fungsi sebagai sistem pendukung bagi anggota keluarga yang sakit. Dukungan dapat berupa mengingatkan saat waktunya minum obat atau kontrol kesehatan (Dhrik et al. 2023, Utari 2017).
Studi pengkajian literatur ini berfokus pada korelasi antara pengetahuan terhadap kepatuhan pengobatan pasien hipertensi, sehingga kurang membahas intervensi masa kini yang telah dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan pasien. Penelitian selanjutnya dapat menggali intervensi perbaikan yang sudah ada dan pengaruhnya terhadap pengetahuan dan kepatuhan pengobatan pasien hipertensi.
KESIMPULAN
Literature review ini memberikan ulasan yang luas mengenai dimensi pengetahuan pasien hipertensi dan pengaruhnya pada tingkat kepatuhan pasien. Dari beberapa penelitian terdahulu menunjukkan adanya hubungan korelasi antara tingkat pengetahuan seseorang dengan kepatuhan pengobatan. Semakin baik tingkat pengetahuan seseorang, maka semakin patuh pula pasien terhadap pengobatannya, dan sebaliknya. Kepatuhan pasien dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti motivasi pengobatan, peran tenaga kesehatan, kemudahan akses layanan kesehatan, dan kompleksitas terapi, sehingga intervensi untuk meningkatkan kepatuhan pasien tidak terbatas pada peningkatan pengetahuan pasien.
Tabel 1. Hasil Pengkajian Literatur
| No. | Judul Penelitian | Sampel | Instrumen | Temuan | Pustaka |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Association between Knowledge and Drug Adherence in Patients with Hypertension in Quetta, Pakistan | 385 pasien | Kuesioner HFQ dan DAI-10 | Terdapat korelasi antara pengetahuan terkait hipertensi dan kepatuhan pengobatan (p<0,001). Sebanyak 64,7% pasien yang memiliki kepatuhan rendah, karena pasien tidak mengetahui keuntungan dari terapi jangka panjang untuk kondisi hipertensinya. | Saleem et al. 2011 |
| 2 | Knowledge about Hypertension and Factors Associated with The Non Adherence to Drug Therapy | 422 pasien | Kuesioner MAQ dan kuesioner pengetahuan yang dibuat dan divalidasi oleh peneliti | Sebanyak 42,65% pasien yang tidak patuh terhadap pengobatannya. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti tingkat pengetahuan pasien terhadap penyakitnya (pasien dengan tingkat pengetahuan rendah sebanyak 17,7%), terapi obat yang kompleks, dan ketidakpuasan pasien terhadap layanan kesehatan. | Barreto et al. 2014 |
| 3 | Impact of Patient Knowledge of Hypertension Complications on | 453 pasien | Girerd's Adherence Scale | Sebanyak 64,5% pasien yang memiliki tingkat kepatuhan | (Ghembaza et al., 2014) |
|---|---|---|---|---|---|
| Adherence to Antihypertensive Therapy | dan kuesioner pengetahuan yang dibuat dan divalidasi oleh peneliti | yang rendah terhadap pengobatannya. Terdapat korelasi antara pengetahuan terkait hipertensi dan kepatuhan pasien. Selain itu, penyakit komorbid, dan jumlah antihipertensi yang diresepkan mempengaruhi kepatuhan pasien. | |||
| 4 | Hypertension-related Knowledge, Practice, and Drug Adherence Among Inpatients of a Hospital in Samarkand, Uzbekistan | 209 pasien | Kuesioner MMAS-4 dan kuesioner pengetahuan yang dibuat dan divalidasi oleh peneliti | Tingkat pengetahuan terkait penyakit hipertensi secara signifikan berkorelasi dengan kepatuhan dan tekanan darah yang terkontrol. Sebanyak 35,5% pasien yang memiliki pengetahuan yang rendah. Pasien memiliki pengetahuan yang baik terhadap hipertensi secara umum, namun kurang pada pengetahuan terkait pengobatan hipertensinya. | Malik et al. 2014 |
| 5 | Relationship Between Patiens Knowledge and Medication Adherence Among Patiens with Hypertension | 233 pasien | Kuesioner HK-LS dan MMAS-8 | Pasien dengan pengetahuan terkait penyakit hipertensi yang rendah memiliki kepatuhan yang rendah pula, dan sebaliknya. Pengetahuan terkait penyakit merupakan penentu independen yang signifikan dari kepatuhan pasien (p<0,001). | Jankoswka Polanska et al. 2016 |
| 6 | A Study on Knowledge, Awareness, and Medication Adherence in Patients with Hypertension from a Tertiary Care Centre from Nothern Sri Lanka | 303 pasien | Kuesioner MMAS-8 dan kuesioner pengetahuan yang dibuat dan divalidasi oleh peneliti | Tingkat pengetahuan pasien terkait penyakit hipertensi cukup baik, yaitu sebanyak 69,9% pasien yang memiliki tingkat pengetahuan baik. Namun, sebanyak 84,5% pasien yang memiliki kepatuhan yang rendah. | Pirasath et al. 2017 |
| 7 | Knowledge, Adherence, and Control Among Patients with Hypertension Attending a Peri-urban Primary Health Care Clinic, KwaZulu-Natal | 348 pasien | Kuesioner HFQ dan MMAS-8 | Pengetahuan pasien terkait hipertensi sudah cukup baik, hanya sekitar 9,5% pasien yang memiliki pengetahuan yang kurang. Terdapat korelasi antara pengetahuan dan kepatuhan, di mana kepatuhan rendah hanya sekitar 32,5% pasien (p<0,00) | Olowe et al. 2017 |
| 8 | Adherence to Consuming Medication for Hypertension Patients at Primary Health Care in Medan City | 80 pasien | Kuesioner dibuat dan divalidasi oleh peneliti | Terdapat hubungan antara pengetahuan dan kepatuhan pasien, di mana sebesar 82,5% dengan tingkat pengetahuan rendah memperlihatkan kepatuhan yang rendah pula (58,7%), (p<0,05). | Wahyuni et al. 2019 |
| 9 | Impact of Patient Knowledge on Hypertension Treatment Adherence and Efficacy: A Single-Centre Study in Poland | 488 pasien | Kuesioner dibuat dan divalidasi oleh peneliti | Pengetahuan yang baik berkaitan dengan kontrol tekanan darah yang baik dan kepatuhan pengobatan (p<0,05). | Paczkowska et al. 2021 |
| 10 | Analysis of the Relationship between Hypertension Knowledge with Medication Compliance and Blood | 78 pasien | Kuesioner HK-LS dan ProMAS | Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dan kepatuhan minum obat (p 0,004). Namun, tidak terdapat | Dhrik et al. 2023 |
| Pressure Control in Hypertensive Patients | perbedaan signifikan antara nilai tekanan darah dengan tingkat kepatuhan (p 0,941). | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| 11 | Relationship between Knowledge and Adherence to Hypertension Treatment | 65 pasien | Kuesioner HK-LS dan ARMS | Tingkat pengetahuan pasien mayoritas baik (60%). Hubungan antara pengetahuan dan kepatuhan pengobatan lemah (p 0,007). | Pristianty et al. 2023 |
| 12 | The Relationship between Level of Knowledge and Adherence Therapy in Hypertensive Patients at Ramadhan Pharmacy in Yogyakarta City | 78 pasien | Kuesioner MARS | Terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan minum obat (p 0,017). | Ardiansyah et al. 2023 |
| 13 | Level of Knowledge of Hypertension Patients and Compliance with Treatment at Sirnajaya Health Center | 62 pasien | Kuesioner HK-LS dan MMAS-8 | Terdapat hubungan pengetahuan dan kepatuhan pengobatan (p<0,001). | Ramadhani dan Nasution 2023 |
| 14 | Knowledge about Hypertension and Its Relationship with Medication Adherence in the Hypertension Community | 220 pasien | Kuesioner HK-LS dan MMAS-8 | Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dan kepatuhan (p<0,05). | Abdulloh et al. 2024 |
Keterangan: HFQ: Hypertension Fact Questionnaire; DAI-10: Drug Attitude Inventory; MAQ-Q: Medication Adherence Questionnaire; MMAS: Morisky Medication Adherence Scale; HK-LS: Hypertension Knowledge Level Scale; ProMAS: Probabilistic Medication Adherence Scale; ARMS: Adherence to Refills and Medications Scale; MARS: Medication Adherence Report Scale
