PENDAHULUAN
Tanaman obat merupakan biodiversitas yang melimpah di Indonesia. Obat herbal lebih disukai dibandingkan obat yang berasal dari bahan baku sintetik karena efek sampingnya relatif lebih sedikit (Garakia et al. 2020). Tanaman obat memiliki suatu senyawa yang berpotensi untuk alternatif berbagai penyakit yang dikenal sebagai metabolit sekunder. Senyawa metabolit sekunder yang umumnya banyak ditemukan dalam tanaman adalah golongan senyawa fenolik dan flavonoid yang diketahui memiliki aktivitas perlindungan terhadap radikal bebas, anti-inflamasi, antimikroba, vasodilatasi, antiiskemia dan efek antikanker (Arifin dan Ibrahim 2018).
Salah satu tanaman yang dilaporkan memiliki kandungan fenolik dan flavonoid adalah Rambutan (Chigurupati et al. 2019). Tanaman Rambutan mudah ditemukan juga tersebar di berbagai daerah, selain dikenal sebagai buah yang lezat tetapi juga memiliki potensi sebagai sumber senyawa bioaktif terutama pada bagian daunnya. Secara empiris daun rambutan digunakan untuk mengobati sariawan dan mengatasi diare. Berdasarkan penelitian Putri et al. (2021) menyebutkan bahwa daun rambutan memiliki manfaat sebagai antibakteri dan antioksidan.
Pemilihan pelarut etil asetat dalam penelitian ini karena beberapa penelitian menunjukkan bahwa pelarut etil asetat dapat menarik golongan senyawa fenol dan flavonoid, karena senyawa flavonol yang ditemukan dalam daun rambutan dapat larut dengan mudah dalam pelarut semi polar seperti etil asetat (Aminah 2021). Berdasarkan hasil penelitian Sukowati (2019) ekstrak etil asetat daun rambutan dengan metode refluks memiliki kadar total flavonoid yang lebih tinggi dibanding pelarut lain, dengan nilai 9,59 g QE/100 g. Pada penelitian Putri et al. (2021) menyebutkan bahwa daun rambutan yang diekstraksi dengan metode cara dingin yaitu maserasi menggunakan pelarut etil asetat dapat meredam radikal DPPH dengan nilai 61%. Sedangkan Sukowati (2019), menggunakan metode cara panas yaitu refluks memberikan nilai 68% inhibisi terhadap DPPH. Metode cara panas soklet dipilih pada penelitian ini, karena terjadi proses penyarian yang berulang-ulang dengan jumlah pelarut yang cenderung tetap. Proses soklet ini memungkinkan ekstraksi berulang tanpa pelarut bersentuhan langsung dengan sumber panas, juga kemampuannya dalam menjaga aktivitas biologis senyawa tanpa mengurangi kualitasnya selama proses ekstraksi (Maryam et al. 2023).
Pernelitian ini bertujuan mengetahui golongan senyawa metabolit sekunder secara kualitatif serta penetapan kadar total flavonoid dan fenol menggunakan metode spketrofotometri UV-Vis pada ekstrak daun rambutan (Nephelium lappaceum L.).
METODE PENELITIAN
Alat dan Bahan
Pada penelitian ini alat menggunakan Rotary evaporator (IKFR 10®), neraca analitik (Fujitso®), vortex (Blonex®), dan Spektrofotometer UV–Vis. Bahan yang digunakan berupa simplisia daun rambutan (Nephelium lappaceum L.), etil asetat, metanol p.a (Merck®), aquadest, amil alkohol (Merck®), asam galat (Merck®), asam asetat glasial (CH3COOH) (Merck®), besi (III) klorida (FeCl3) (Merck®), HCl Pekat (Merck®), magnesium (Merck®), kuersetin (Merck®), pereaksi Mayer (Nitra Kimia®), pereaksi Dragendroff (Nitra Kimia®), Pereaksi Wagner (Nitra Kimia®), asetat anhidrat (CH3COOH) (Merck®), gelatin, kloroform (CHCl3), alumunium klorida (AlCl3) (Merck®), natrium karbonat (Na2CO3) (Merck®), reagen Folin Ciocalteu (Merck®), dan daun rambutan yang diperoleh dari Kota Martapura, Kalimantan Selatan.
Metode
Pengolahan Serbuk Simplisia
Sebanyak 2 kg daun rambutan dikumpulkan kemudian dilakukan proses sortasi basah dilanjutkan dengan proses pencucian dengan tujuan menghilangkan pengotor menempel pada daun rambutan. Daun rambutan kemudian dipotong menjadi bagian kecil, pengeringan dilakukan dengan diletakkan didalam ruangan tanpa terkena cahaya matahari langsung dengan dianginkan. Kemudian dihaluskan menggunakan blender, diayak dengan nomor mesh 40.
Pembuatan Ekstrak
Simplisia sebanyak 60 gram (serbuk) dimasukkan ke dalam kertas saring dan kemudian dibalut dengan benang. Setelah itu, soklet diletakkan dalam labu alas bulat. Rasio antara serbuk simplisia dan pelarut yang digunakan adalah 1:7, sehingga ditambahkan sebanyak 420 mL pelarut pelarut etil asetat yang selanjutnya dipanaskan pada suhu 50°C sampai pelarut yang menetes pada siklus terlihat bening. Ekstrak cair yang didapatkan kemudian diakukan pemekatan pada rotary evaporator dengan suhu 50°C, lalu dilakukan penguapan ekstrak pada waterbath menggunakan suhu 50˚C sehingga diperoleh ekstrak dengan bobot tetap. Dihitung rendemen ekstrak dengan rumus:
% Rendemen Simplisia = \[\frac{Bobot\ ekstrak}{Bobot\ simplisia\ awal} \times 100\%\]
Penapisan Fitokimia Ekstrak Etil Asetat Daun Rambutan (Nephelium lappaceum L.)
Uji Fenol
Sampel ditimbang 0,1 gram, dilarutkan dengan pelarut etanol, juga penambahan larutan FeCl3 1 % (2 tetes). Hasil yang diperoleh berwarna hijau atau biru kehitaman, maka sampel positif mengandung golongan senyawa fenolik (Norhayati et al. 2024).
Uji Flavonoid
Sampel ditimbang 0,1 gram dilarutkan dengan pelarut etanol, dan ditambah serbuk magnesium sebanyak 2 mg, HCl pekat 1 mL, kemudian ditambahan amil alkohol sebanyak 2 mL (Ramadhan et al. 2020). Hasil positif jika menunjukkan perubahan warna menjadi merah, jingga atau kuning.
Uji Alkaloid
Sampel 0,1 gram dilarukan dalam larutan HCl 2N. Selanjutnya, larutan ini dibagi menjadi tiga bagian dalam tabung reaksi terpisah yang masing-masing diberi pereaksi Mayer, pereaksi Dragendorff, dan pereaksi Wagner. Sampel dianggap mengandung alkaloid jika menghasilkan endapan putih, merahjingga, dan coklat sesuai dengan urutan reaksi tersebut (Norhayati et al. 2024).
Uji Tanin
Sampel 0,1 gram dilarutkan kedalam etanol, lalu tambahkan gelatin 1%. Sampel positif jika terbentuk endapan putih (Norhayati et al. 2024).
Uji Saponin
Sampel sebanyak 0,1 gram ditambahkan aquadest 10 mL, gojok dalam waktu 10 detik lalu didiamkan selama kurun waktu 10 menit. Kemudian tambahkan HCl 2 N sebanyak 1 mL. Sampel positif jika terbentuk buih yang stabil (Norhayati et al. 2024).
Uji Steroid-Triterpenoid
Untuk identifikasi steroid dan terpenoid, sampel 0,1 g dilarutkan dalam etanol, di mana kemudian dicampur dengan 2 mL kloroform, 10 tetes asetat anhidrat, dan 3 tetes H₂SO₄ pekat melalui dinding tabung reaksi (metode Lieberman-Burchard) (Ramadhan et al. 2020). Sampel yang positif mengandung steroid (warna hijau-biru), sedangkan sampel yang mengandung terpenoid (warna merah atau ungu).
Penetapan Kadar Total Fenol dan Flavonoid
Uji Kadar Total Fenol
Asam galat terlebih dahulu ditimbang dalam jumlah 10 mg kemudian dimasukkan pada labu ukur ukuran 10 mL, dan tambahkan metanol p.a sampai tanda batas sehingga diperoleh konsentrasi larutan induk yakni 1000 ppm, Pada penentuan panjang gelombang maksimum, larutan induk asam galat diencerkan menjadi 50 ppm, ditambahkan reagen Folin-Ciocalteau sebanyak 5 mL. (dengan perbandingan 1:10 aquadest) dan diamkan selama 5 menit, kemudian ditambahkan 4 mL Na2CO3 1M campur sampai homogen, diamkan menggunakan suhu kamar dan jauhkan dari cahaya selama 50 menit. Pengukuran absorbansi menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang berkisar antara 400-800 nm. Setelah didapatkan panjang gelombang maksimum, kemudian dilakukan pengukuran kurva baku dari larutan induk 1000 ppm yang diencerkan menjadi 30, 40, 50, 60 dan 70 ppm kedalam labu ukur. Setiap konsentrasi ditambahkan 5 mL reagen Folin-Ciocalteu (perbandingan aquadest 1:10), kemudian larutan Na2CO3 M sebanyak 4 mL, kemudian dihomogenkan dan diamkan pada suhu kamar serta jauhkan dari cahaya selama 50 menit. Absorbansi diukur pada panjang gelombang maksimum 750 nm, kemudian dibuat kurva kalibrasi untuk melihat konsentrasi asam galat yang diperoleh (Sayakti and Hidayatullah 2023).
Ekstrak etil asetat daun rambutan konsentrasi 1000 ppm diencerkan ke 100 ppm. Dipipet larutan sampel dan standar sebanyak 0,5 mL ke dalam vial, dilanjutkan dengan penambahan 5 mL reagen Folin-Ciocalteu (perbandingan aquadest 1:10), kemudian 4 mL larutan Na2CO3 1 M juga ditambahkan ke dalam vial, dikocok sampai homogen, diamkan menggunakan suhu kamar dan jauhkan dari cahaya selama 50 menit. dilakukan pengukuran serapan dengan menggunakan λ maksimum 750 nm. Lakukan 3 kali replikasi dengan tujuan kadar fenol yang diperoleh akurat.
Uji Kadar Total Flavonoid
Kuersetin terlebih dahulu ditimbang dalam jumlah 10 mg, dilarutkan dengan menggunakan pelarut metanol p.a ad 10 mL pada labu ukur 10 mL, sehingga diperoleh hasil konsentrsi larutan induk 1000 ppm. Larutan induk 1000 ppm dipipet sebanyak 1 mL, ditambahkan metanol p.a 10 mL pada labu ukur 10 mL ad sampai tanda batas agar terbentuk konsentrasi 100 ppm. Pada penentuan panjang gelombang maksimum, larutan kuersetin konsentrasi 100 ppm diambil dengan mikropipet sebanyak 1 mL, ditambahkan dengan 1 mL AlCl3 10% dan 8 mL asam asetat 5%, lalu diinkubasi selama 30 menit. Pembacaan absorbansi dengan Spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang berkisar antara 400-450 nm. Setelah didapatkan panjang gelombang maksimum, kemudian dilakukan pengukuran kurva baku dari larutan induk kuersetin 1000 ppm yang diencerkan menjadi konsentrasi 30, 40, 50, dan 60 ppm dalam labu ukur. Dari setiap konsentrasi yang telah dipipet sebanyak 1 mL, ditambahkan dengan 1 mL larutan AlCl3 10% dan larutan asam asetat 5% 8 mL. Campuran dibiarkan selama 30 menit pada suhu kamar, ukur absorbansi menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 415 nm (Rahmati et al. 2020).
Ekstrak daun rambutan konsentrasi 1000 ppm diambil 1 mL dan ditambah AlCl3 10% sebanyak 1
mL, serta 8 mL asam asetat 5%. Larutan didiamkan dalam kurun waktu 30 menit, ukur absorbansi dengan spektrofotometri UV-Vis pada λ 415 nm. Sampel dibuat dalam tiga kali replikasi (Muthia et al. 2020).
Analisis Data
Analisis data dengan persamaan regresi linear yang dihasilkan dari program Microsoft Excel, setelah kurva kalibrasi didapatkan, maka dilakukan perhitungan kadar total fenolik dan flavonoid.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian ini daun rambutan yang diambil merupakan daun yang muda karena kandungan kimia seperti flavonoid dan fenol yang diperoleh lebih optimal (Lestari dan Juwitaningtyas 2023). Sampel daun rambutan yang sudah dikumpulkan kemudian melalui beberapa tahap pengolahan seperti sortasi basah untuk memisahkan kotoran serta benda asing, yang dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan tanah dan kontaminan lain yang masih ada pada permukaan daun, lalu masuk ke proses perajangan dengan gunting untuk mempercepat proses pengeringan (Lestari dan Juwitaningtyas 2023). Daun rambutan selanjutnya dikeringkan di dalam ruangan yang terhindar dari matahari langsung selama sepuluh hari hingga daun menjadi kering dan rapuh saat digenggam. Pengeringan bertujuan agar simplisia yang diperoleh dapat bertahan lama dan terhindar dari pertumbuhan jamur atau mikroorganisme (Widayanti et al. 2023).
Simplisia yang telah melewati proses pengeringan kemudian disortasi kering untuk memastikan tidak ada kotoran atau benda asing yang tidak diinginkan menempel pada simplisia. Simplisia kering kemudian dihaluskan menggunakan blander untuk mendapatkan serbuk, setelah daun rambutan diolah menjadi serbuk, kemudian diayak menggunakan ayakan mesh 40, yang bertujuan untuk memperkecil ukuran partikel sehingga kontak permukaan partikel dengan penyari semakin besar sehingga dapat menyari ekstrak secara optimal (Ni'am et al. 2023). Serbuk simplisia kering dengan %rendemen simplisia yang didapatkan yaitu 17,95%.
Hidayati et al.
Metode ekstraksi yang dipilih adalah metode cara panas soklet dikarenakan lebih efisien dan waktu yang digunakan lebih cepat (Mahardika dan Putera 2023).Proses ekstraksi ini menggunakan etil asetat sebagai pelarutnya, karena merupakan pelarut semi polar yang dapat menarik senyawa metabolit sekunder polar hingga non-polar (Aminah 2021). Bobot ekstrak yang didapatkan sebesar 7,4305 g dengan rendemen 12,38% b/b. Diperoleh hasil
rendemen ekstrak etil asetat daun Rambutan bisa dilihat pada Tabel 1.
Ekstrak etil asetat daun rambutan dilakukan uji penapisan fitokimia, yang mencakup analisis terhadap golongan flavonoid, fenol, alkaloid, tanin, saponin, steroid, dan triterpenoid dengan terjadi secara kualitatif. Hasil dari uji penapisan fitokimia pada ekstrak etil asetat daun rambutan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 1. Data Rendemen Ekstrak Etil Asetat Daun Rambutan
| Ekstrak (g) | Bobot Serbuk (g) | Bobot Ekstrak (g) | Rendemen (%) |
|---|---|---|---|
| Daun Rambutan | 60 | 7,43 | 12,38 |
Tabel 2. Hasil Skrining Fitokimia Eksrak Etil Asetat Daun Rambutan
| Uji | Pereaksi | Hasil |
|---|---|---|
| Flavonoid | Mg + HCl Pekat + Amil akohol | (+) |
| Fenol | FeCl 1% | (+) |
| Alkaloid | Meyer | (+) |
| Wagner | (+) | |
| Dragendroff | (+) | |
| Tanin | Gelatin 1% | (+) |
| Saponin | Aquadest Panas +HCl | (+) |
| Steroid | Kloroform + Lieberman Burchard | (+) |
| Triterpenoid |
Keterangan : (+) = Mengandung senyawa uji (−) = Tidak mengandung senyawa uji
Penapisan Fitokimia
Hasil dari penapisan fitokimia pada sampel menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat dari daun rambutan mengandung golongan flavonoid, fenol, alkaloid, tanin, saponin, dan steroid, namun tidak terdeteksi adanya terpenoid. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Chigurupati et al. (2019) bahwa hasil penapisan fitokimia terhadap ekstrak etanol 70% daun rambutan dengan metode maserasi. Pada uji flavonoid, penambahan magnesium dan HCl pekat akan menghasilkan senyawa struktur senyawa flavonoid tereduksi sehingga warna merah atau jingga dihasilkan sebagai reaksi positif (Sulistyarini et al. 2020).
Gambar 1. Reaksi uji flavonoid.
Gambar 2. Reaksi fenol dengan FeCl3.
Pengujian fenol dilakukan dengan reagen FeCl3. Senyawa fenolik pada sampel akan bereaksi dengan ion Fe3+ dalam pereaksi FeCl3 dan membentuk reaksi kompleks yang ditandai larutan berwarna biru gelap kehitaman (Norhayati et al. 2024). Pemeriksaan kandungan alkaloid dilakukan dengan 3 pereaksi. Penambahan HCl 2 N bertujuan untuk menarik senyawa alkaloid. Pada pereaksi Mayer, ion logam K+ dari kalium tetraiodomerkurat (II) akan berinteraksi dengan alkaloid membentuk kompleks dan membentuk endapan (Norhayati et al. 2024). Pada pereaksi Wagner terbentuknya endapan diakibatkan pasangan elektron bebas dari atom nitrogen pada alkaloid akan menggantikan ion I- (Agustina et al. 2016). Sampel terbentuk endapan warna coklat karena nitrogen tidak membentuk ikatan kovalen koordinat pada K+ yang merupakan ion logam pada pereaksi dragendorff (Norhayati et al. 2024).
\[\text{[rumus tidak dapat ditampilkan dengan baik — lihat PDF asli]}\]
Gambar 3. Reaksi alkaloid dengan pereaksi mayer.
Identifikasi golongan senyawa saponin adalah dengan penambahan aquadest dan HCl 2N. Penambahan aquadest pada sampel ekstrak karena saponin memiliki gugus hidrofilik dan hidrofobik, sehingga setelah dikocok saponin akan membentuk buih karena air yang berikatan dengan gugus hidrofil dan gugus hidrofob berikatan dengan udara (Norhayati et al. 2024). Penambahan HCl 2N akan meningkatkan kepolaran yang ditunjukkan buih yang terbentuk akan lebih stabil (Varma 2016).
Pada pemeriksaan uji tanin dilakukan dengan menambahkan gelatin 1%. Endapan putih yang terbentuk karena adanya ikatan hidrogen dari tanin dan protein gelatin (Norhayati et al. 2024). Pada uji steroid/terpenoid menunjukkan terbentuknya warna hijau sehingga sampel terindentifikasi positif steroid. Turunan asetil yang terbentuk dikarenakan penambahan asetat anhidrat, dan H2SO4 pekat yang ditambahkan akan
menghidrolisis air dan membentuk reaksi dengan turunan asetil, sehingga dapat terbentuk larutan berwarna. Terbentuknya perubahan itu dikarenakan proses oksidasi dan pembentukan ikatan rangkap terkonjugasi pada senyawa steroid/triterpenoid (Sulistyarini et al. 2020).
\[I_2\] + \(I^-\) \(I_3\) \(I_3\) + \(I_4\) \(I_5\) \(I_5\) + \(I_5\) Coklat Kalium-Alkaloid endapan
Gambar 4. Reaksi alkaloid dengan pereaksi wagner.
\[\text{[rumus tidak dapat ditampilkan dengan baik — lihat PDF asli]}\]
Gambar 5. Reaksi alkaloid dengan pereaksi dragendroff.
Gambar 6. Reaksi uji saponin.
Gambar 7. Reaksi uji tanin.
Hidayati et al.
Gambar 8. Reaksi uji steroid.
\[\text{[rumus tidak dapat ditampilkan dengan baik — lihat PDF asli]}\]
Gambar 9. Reaksi kimia fenol dengan pereaksi folinciocalteu.
Penetapan Kadar Total Fenol dan Flavonoid
Prinsip pada pengukuran kadar total fenol menggunakan reagen Folin-Ciocalteu. Reagen Folin-Ciocalteu dapat dideteksi pada gelombang sinar tampak (visible) karena terdiri dari asam fosmolibdat dan asam fosfotungstat yang berwarna kuning yang tereduksi menjadi senyawa polifenol yaitu molybdenum-tungsten yang berwarna biru (Ahmad et al. 2019). Asam galat merupakan turunan asam hidroksibenzoat, salah satu fenol alami yang stabil digunakan sebagai larutan standar (Supriningrum et al. 2018). Larutan asam galat berwarna kuning ketika bereaksi dengan reagen Folin-Ciocalteu, reaksi tersebut masih bersifat asam, diperlukan penambahan larutan Na2CO3 berfungsi untuk membuat suasana basa agar mempercepat reaksi sehingga terjadi disosiasi dalam senyawa fenol hingga menjadi ion fenolat dan menghasilkan warna biru (Ramadhan dan Forestryana 2021).
Tabel 3. Kadar Total Fenol Ekstrak Etil Asetat Daun Rambutan (Nephelium lappaceum L.)
| Sampel | Absorbansi Sampel | GAE (%b/b) | x̄GAE (%b/b) ±SD |
|---|---|---|---|
| Replikasi 1 | 0,306 | 44,1617 | |
| Replikasi 2 | 0,298 | 42,9852 | 43,76±0,55 |
| Replikasi 3 | 0,306 | 44,1617 |
Tabel 4. Kadar Total Flavonoid Ekstrak Etil Asetat Daun Rambutan
| Sampel | Absorbansi Sampel | QE (%b/b) | x̄QE (%b/b) ±SD |
|---|---|---|---|
| Replikasi 1 | 0,690 | 8,2105 | |
| Replikasi 2 | 0,679 | 8,0657 | 8,1490±0,06111 |
| Replikasi 3 | 0,687 | 8,1710 |
Panjang gelombang maksimum yang diperoleh adalah 750 nm. Pengukuran absorbansi kurva asam galat dapat dilihat pada Gambar 10. Persamaan regresi linear yang diperoleh dari kurva baku penelitian ini adalah y = 0,0068x + 0,0057, dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,9973. Hasil penetapan kadar total fenol ekstrak adalah 43,7695±0,5546 mg GAE/g atau 43,76%. Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Sukowati (2019), kadar fenol total yang diperoleh dari ekstrak etil asetat daun rambutan metode refluks sebesar 14,42%. Perbedaan ini dapat disebabkan karena metode ekstraksi yang dilakukan berbeda, dimana pada proses refluks terjadi pemanasan secara langsung, sehingga senyawa kimia mengalami kerusakan atau perubahan struktur akibat paparan panas selama proses refluks (Maryam et al. 2023). Penelitian Vinca (2023) menghasilkan kadar fenol total yang didapatkan dari ekstrak metanol 80% daun rambutan dengan metode soklet sebesar 22,61%. Perbedaan kadar total fenol yang diperoleh dapat dikarenakan perbedaan proses pengeringan simplisia, dimana pada penelitian tersebut proses pengeringan dilakukan dengan sinar matahari. Penurunan kadar fenol karena paparan langsung dari sinar terjadi karena sinar ultraviolet mengakibatkan rusaknya senyawa metabolit sekunder pada simplisia seperti fenol dan flavonoid. Hal ini disebabkan karena terjadinya aktivasi enzim oksidatif seperti peroksidase dan polifenoloksidase yang menyebabkan hilangnya kompleks fenol (Apsari et al. 2021).

Gambar 10. Kurva baku asam galat.
Gambar 11. Reaksi kimia pembentukan kompleks antara flavonoid-AlCl3.
Penentuan kadar total flavonoid ekstrak etil asetat daun rambutan dilakukan dengan metode kolorimetri menggunakan reagen AlCl3. Larutan standar yaitu kuersetin, adalah senyawa flavonoid yang umum ditemukan di berbagai tumbuhan dan berfungsi membentuk kompleks saat bereaksi dengan AlCl3 (Ramadhan dan Forestryana 2021). Penambahan AlCl3 menghasilkan kompleks stabil dengan gugus ortohidroksil pada cincin A dan B dari flavonoid, yang menyebabkan pergeseran spektrum ke daerah tampak, dicirikan dengan warna larutan yang menjadi lebih kuning (Ariani et al. 2022). Panjang gelombang maksimum yang terukur adalah 415 nm. Hasil pengukuran absorbansi dari kurva standar kuersetin disajikan dalam Gambar 12. Pada persamaan regresi linier diperoleh dari kurva baku dalam penelitian ini adalah y= 0,0076x+0,066, dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,9975.

Gambar 12. Kurva Baku Kuersetin
Kadar total flavonoid ekstrak etil asetat daun rambutan didapatkan sebesar 81,49 mgQE/gram atau 8,14%. Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sukowati (2019) ekstrak etil asetat daun rambutan metode refluks memiliki nilai kadar flavonoid dengan pelarut lain yaitu sebesar 9,59%, perbedaan ini dapat terjadi karena faktor perbedaan metode ekstraksi, juga perbedaan varietas tanaman rambutan. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pelarut etil asetat dengan metode ekstraksi panas antara soklet dan refluks yang sebelumnya dilakukan oleh Sukowati (2019) tidak jauh berbeda. Hal tersebut berkaitan dengan ekstraksi metode panas yang menghasilkan kadar flavonoid yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode lain (Fadlilaturrahmah et al. 2020).
Hasil penetapan kadar total fenol dan flavonoid ekstrak etil asetat daun rambutan dengan metode ekstraksi soklet ini menjelaskan bahwa dari penetapan kadar fenol yang dilakukan menunjukkan hasil nilai yang lebih besar daripada pelarut lain dengan metode ekstraksi yang sama. Adapun, pada perolehan kadar flavonoid ekstrak etil asetat metode sokletasi mendekati jumlah kadar flavonoid ekstrak etil asetat metode refluks. Hal ini menunjukkan pelarut etil asetat efektif dalam mengekstrak senyawa fenol dan flavonoid yang terkandung di dalam daun rambutan, dan memiliki potensi untuk dikembangkan serta dieksplorasi lebih lanjut terkait dengan aktivitas biologis yang dihasilkan.
KESIMPULAN
Ekstrak etil asetat dari daun rambutan (Nephelium lappaceum L.) yang diteliti mengandung senyawa golongan fenol, flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan steroid/terpenoid. Hasil analisis menunjukkan kadar total senyawa fenol dan flavonoid dalam ekstra etil asetat daun rambutan (Nephelium lappaceum L.), yang diukur dengan metode spektrofotometri UV-Vis, masing-masing adalah 437,695 mg GAE/gram (setara dengan 43,76%) untuk fenol dan 81,490 mg QE/gram (setara dengan 8,14%) untuk flavonoid. Oleh karena itu, penting untuk dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai potensi ekstrak etil asetat daun rambutan sebagai kandidat bahan obat yang berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut dalam dunia pengobatan.
