PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara yang terkenal memiliki keanekaragaman tumbuhan yang tinggi. Tumbuhan yang ada di Indonesia sebanyak 50.000 dengan 7.500 tumbuhan diantaranya digunakan sebagai bahan obat tradisional (Setiyono et al 2023). Salah satu tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional adalah nanas (Ananas comosus (L.) Merr).
Masyarakat telah banyak menggunakan nanas secara tradisional. Secara empiris, nanas digunakan untuk mengatasi sembelit, mual-mual, wasir, flu, anemia, gangguan saluran kemih, dan berbagai penyakit kulit (Yusuf et al 2020). Selain itu, kulit dan daun nanas digunakan sebagai obat cacing oleh masyarakat di Desa Lendang Nangka, Lombok Timur (Rosyantari et al 2022).
Kulit nanas memiliki kandungan senyawa-senyawa yang berkhasiat (Reiza et al 2019). Kulit nanas mengandung senyawa seperti bromelin, tannin dan flavonoid yang memiliki aktivitas antimikroba (Baitariza et al 2020). Selain itu juga kandungan bromelin pada nanas memiliki efek terapeutik seperti antiinflamasi, antitumor, modulasi sitokin, imunitas, menghambat agregasi platelet, dan memiliki aktivitas fibrinolisis (Susanto 2021).
Kulit nanas telah digunakan secara empiris dan memiliki banyak efek terapeutik, namun informasi terkait standardisasi farmakognostik kulit nanas masih belum tersedia. Standardisasi dan pengendalian mutu dari kulit nanas harus ditetapkan untuk memverifikasi validitas dan efektifitas dari kulit nanas. Standardisasi farmakognostik ditetapkan untuk mencegah adanya pemalsuan bahan baku yang akan digunakan sebagai obat tradisional (Ahmed et al 2022). Standardisasi farmakognostik dapat menjamin kualitas, keamanan dan khasiat dari kulit nanas (Ekayanti et al 2017). Selain itu, studi mengenai standardisasi farmakognostik berguna untuk penyusunan monografi dalam rangka identifikasi (Majid et al 2021). Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini untuk mengevaluasi berbagai parameter farmakognostik, seperti organoleptik, botani dan fisik dari kulit nanas.
METODE PENELITIAN
Desain penelitian ini adalah eksperimental laboratorium. Studi meliputi penentuan organoleptik, pH, bilangan asam, profil fluoresensi, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, dan bobot jenis serbuk jus kulit nanas. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakologi Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Mataram
Alat dan bahan
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah alat gelas laboratorium, ayakan, blender, dehidrator, kertas pH universal, neraca analitik, dan oven.
Bahan yang digunakan adalah aquades, asam asetat p.a (Merck), asam asetat glasial p.a (Merck), asam klorida p.a (Merck), asam nitrat (Merck), asam sulfat (Merck), diklorometan (Merck), dimetil sulfoksida (Merck), eter (Merck), etil asetat (Merck), kalium hidroksida (Merck), kloroform (Merck), kulit nanas, metanol (Merck), petroleum eter (Merck), dan toluena (Merck).
Pengambilan sampel
Sampel buah nanas diambil pada bulan Maret 2023 dari Desa Lendang Nangka Utara, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan koordinat S 8˚34'38,7012" (LAT), E 116˚26'3,53508" (LONG) dan ketinggian: 446 m a.s.l. Sampel tanaman dilakukan uji determinasi di Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP Universitas Mataram.
Pembuatan serbuk jus kulit nanas
Buah nanas yang telah matang dicuci bersih, dikupas untuk diambil bagian kulit. Kulit buah nanas dipotong kecil-kecil kemudian dijus. Sejumlah 25 gram kulit nanas diblender dengan 100 mL aquades sehingga diperoleh konsentrasi 25% b/v. Jus kulit nanas dikeringkan menggunakan dehidrator dengan suhu 40˚C selama 2 x 24 jam sehingga diperoleh serbuk jus kulit nanas. Serbuk jus kulit nanas kemudian diayak dengan ayakan mesh 35. Prosedur ini merupakan modifikasi dari penelitian Rosyantari et al. (2022).
Pengamatan organoleptik serbuk jus kulit
Pengamatan organoleptik dilakukan dengan cara serbuk jus kulit nanas dilarutkan dengan aquades dengan konsentrasi 25% kemudian warna, bau dan rasa larutan serbuk jus kulit nanas diamati (Rosyantari et al. 2022).
Pengamatan mikroskopik serbuk jus kulit nanas
Pengamatan mikroskopik dilakukan dengan cara serbuk jus kulit nanas diletakkan pada kaca preparat kemudian diteteskan kloral hidrat. Selanjutnya kaca preparat ditutup dengan penutup kaca preparat kemudian dipanaskan di atas Bunsen dan diamati dengan mikroskop (Handayani et al. 2019).
Penentuan bobot jenis
Serbuk jus kulit nanas dilarutkan dengan aquades dengan konsentrsasi 25% untuk penentuan bobot jenis. Piknometer bersih dan kering digunakan untuk menetapkan bobot piknometer dan bobot air yang baru dididihkan pada suhu 25°C. Suhu larutan serbuk jus kulit nanas diatur 20°C dan dimasukkan ke dalam piknometer. Diatur suhu piknometer yang telah diisi hingga 25°C dan ekstrak yang lebih dapat dibuang. Bobot piknometer kosong dikurangkan dengan piknometer yang berisi. Bobot jenis ekstrak cair adalah hasil yang diperoleh dengan membagi bobot ekstrak dengan bobot air dalam piknometer (Suhendy et al. 2022).
Pengukuran pH
Serbuk jus kulit nanas dilarutkan aquades hingga diperoleh konsetrasi 1% b/v dan 10% b/v. pH pada kedua larutan diukur menggunakan indikator pH universal (Kaur et al. 2018).
Penentuan kadar sari larut air
Serbuk jus kulit nanas dengan ukuran 5/18 ditimbang sebanyak 5 g secara saksama. Hasil penimbangan dimasukkan dalam labu bersumbat (labu Erlenmeyer yang ditutup dengan alufoil) ditambahkan 100 mL air jenuh kloroform. Selanjutnya, larutan dikocok berkali-kali selama 6 jam pertama kemudian dibiarkan selama 12 jam. Hasil disaring kemudian sejumlah 20 mL filtrat diuapkan hingga kering dalam cawan dangkal beralas datar yang telah dipanaskan 105°C dan ditara, sisa dipanaskan pada suhu 105°C hingga
bobot tetap. Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali. Kadar sari larut air dihitung dengan rumus berikut (Handayani, Kadir, dan Masdiana 2018):
\[Kadar\,sari = (\frac{\textit{Cawan ekstrak konstan-cawan kosong}}{\textit{bobot awal penimbangan}})x\,100\%\]
Penentuan kadar sari larut etanol
Serbuk jus kulit nanas dengan ukuran 5/18 ditimbang sejumlah 5 g secara saksama. Hasil penimbangan dimasukkan dalam labu bersumbat (labu Erlenmeyer yang ditutup dengan alufoil) ditambahkan 100 mL etanol 95%. Selanjutnya, larutan dikocok berkali-kali selama 6 jam pertama kemudian dibiarkan selama 12 jam. Hasil disaring, kemudian sejumlah 20 mL filtrat diuapkan hingga kering dalam cawan dangkal yang telah dipanaskan 105°C dan ditara, sisa dipanaskan hingga bobot tetap. Replikasi dilakukan sebanyak 2 kali. Kadar sari larut etanol dihitungdengan rumus berikut (Handayani et al., 2018):
\[Kadar \, sari = \left(\frac{\textit{Cawan ekstrak konstan-cawan kosong}}{\textit{bobot awal penimbangan}}\right) \times 100\%\]
Penentuan bilangan asam
Bilangan asam ditentukan dengan cara sebagai berikut. Sejumlah 1 gram serbuk jus kulit nanas dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 250 mL, kemudian ditambahkan 25 mL etanol 90% v/v. Indikator fenolftalein ditambahkan ke dalam larutan. Larutan dititrasi menggunakan KOH 0,1 N. Volume KOH 0,1 N yang dibutuhkan dicatat untuk menetralkan asam pada serbuk jus kulit nanas. Nilai bilangan asam dapat diperoleh dengan persamaan berikut (Hamidu dan Jonah 2015):
Bilangan asam = \[\left(\frac{5,61 \times Volume \ KOH}{Berat \ sampel}\right)\]
Uji fluoresensi
Uji fluoresensi serbuk jus kulit nanas dilakukan dengan cara sejumlah serbuk ditempatkan pada plat tetes kemudian ditambahkan berbagai reagen seperti dimetil sulfoksida, eter, metanol, air, asam nitrat, asam klorida, asam asetat glasial, asam sulfat, petroleum eter, kloroform, toluena, asetat, diklorometan dan etil asetat. Serbuk pada plat tetes diamati pada sinar tampak sinar, UV 254 nm dan sinar UV 366 nm (Dash et al. 2021).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sampel buah nanas yang diperoleh dari Desa Lendang Nangka Utara, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat merupakan jenis tanaman nanas dengan spesies Ananas comosus (L.) Merr. dibuktikan dengan surat keterangan determinasi Nomor 1715/UN.F5/J3.4.PP/2023 dari Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP Universitas Mataram.
Jus kulit nanas konsentrasi 25% dibuat serbuk menggunakan dehidrator dengan suhu 40˚C selama 48 jam. Serbuk jus kulit nanas yang diperoleh dari ekstraksi 315,36 gram kulit nanas adalah sejumlah 69,95 gram dengan rendemen sebesar 22% b/b.
Pemeriksaan organoleptik merupakan pengenalan awal, subjektif dan sederhana untuk mengetahui sifat-sifat fisik yang khas ekstrak meliputi
pengamatan warna, bau dan rasa (Handayani et al. 2018). Sifat organoleptik yang diperoleh dari larutan serbuk jus kulit nanas adalah larutan cair berwarna kuning cokelat, bau khas nanas dan rasa asam. Hasil ini selaras dengan yang dilakukan Rosyantari et al. (2022) dengan hasil organoleptik serbuk kulit nanas yaitu berwarna kuning pucat, bau khas nanas dengan ambang bau sedang, dan memiliki rasa khas nanas serbuk dan jus kulit nanas diilustrasikan pada Gambar 1.
Analisis mikroskopik bertujuan memberikan rincian lengkap tentang karekteristik anatomi internal dan merupakan metode yang cepat, sederhana, dan murah (Kaur et al., 2018). Pada pengamatan mikroskopik serbuk jus kulit nanas dengan perbesaran 10x dapat diamati organ parenkim dengan idioblas hablur, berkas pembuluh dengan penebalan tangga dan jala, sel meristematik, hablur kalsium oksalat rafida, epidermis, sel batu, floem, dan serabut (Tabel 1).
Gambar 1. (a) Serbuk jus kulit nanas dan (b) jus kulit nanas
Tabel 1. Hasil pengamatan mikroskopik serbuk jus kulit nanas
| Nama organ sampel | Pustaka (MMI jilid V 1989) | Gambar sampel |
|---|---|---|
| Parenkim dengan idioblas hablur | ||
| Berkas pembuluh dengan penebalan tangga dan jala | ||
| Sel meristematik | ||
| Hablur kalsium oksalat rafida | ||
| Epidermis |
Bobot jenis adalah perbandingan antara massa ekstrak terhadap volume air yang diukur pada suhu ruangan yaitu 25˚C menggunakan alat piknometer yang telah terkalibrasi terlebih dahulu. Penentuan bobot jenis ekstrak dilakukan dengan tujuan untuk memberikan batasan tentang besarnya masa per satuan volume. Bobot jenis juga memberikan gambaran mengenai kemurnian dan kontaminasi pada bahan (Marpaung dan Septiyani 2020). Dari hasil pengukuran bobot jenis didapatkan bahwa bobot jenis ekstrak kering kulit nanas adalah 1,04 g/mL. Hasil ini menunjukkan adanya kandungan zat terlarut lain selain air.
Uji pH bertujuan untuk mengetahui nilai keasaman suatu produk di mana pH merupakan minus logaritma dari konsentrasi ion H+ (Dwiloka et al. 2022). pH larutan serbuk jus kulit nanas pada konsentrasi 1 % yakni 5, sedangkan pH ekstrak pada konsentrasi 10% yakni 4. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rosyantari et al. (2022) dengan nilai pH 4,37 pada konsentrasi ekstrak 10%. Nilai pH yang rendah pada nanas disebabkan karena nanas mengandung asam sitrat. Hal ini juga berpengaruh pada rasa asam pada nanas (Aprilliani et al. 2024).
Uji kadar sari dilakukan dengan tujuan untuk memberikan gambaran awal jumlah senyawa aktif yang bersifat polar (larut dalam air) dan senyawa aktif yang bersifat semi polar - polar (larut dalam etanol) (Warnis et al. 2021). Penetapan kadar sari larut air dan etanol pada simplisia digunakan untuk menentukan apakah serbuk jus kulit nanas dapat tersari dengan pelarut air atau etanol sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam bahan obat dalam bentuk rebusan (infusa) untuk sari larut air dan ekstrak untuk sari larut etanol (Handayani et al. 2018). Hasil dari pengujian kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol pada penelitian ini berturut-turut adalah 7,4 %b/b dan 5,3 %b/b (Tabel 2). Hasil ini menunjukkan bahwa metabolit sekunder dari serbuk jus kulit nanas paling banyak bersifat polar di bandingkan semi polar karena nilai kadar sari larut air lebih tinggi dibandingkan kadar sari larut etanol (Warnis et al. 2021).
Bilangan asam merupakan bilangan yang menunjukkan jumlah miligram KOH yang dibutuhkan untuk menetralkan asam lemak bebas (Purwaningsih 2015). Bilangan asam dilakukan untuk menentukan jumlah asam lemak bebas
dalam ekstrak (Sangi 2011). Dari hasil penentuan bilangan asam pada serbuk jus kulit nanas didapatkan bilangan asam sebesar 26,37 mgKOH/g.
Uji fluoresensi dilakukan pada sinar tampak dan dalam Cahaya UV pada panjang gelombang 254 nm dan 366 nm. Uji fluoresensi digunakan untuk mendeteksi senyawa kimia, senyawa kimia dalam ekstrak memiliki karakteristik fluoresensi pada sinar tampak dan radiasi UV. Analisis fluoresensi
menjadi salah satu parameter penting dalam menentukan kemurnian dan kualitas obat mentah (Dash et al. 2021). Dari hasil pengamatan yang didapatkan serbuk dengan penambahan reagen dimetil sulfoksida, eter, aquades, asam asetat glasial, petroleum eter, kloroform, toluene, asam asetat, diklorometan dan etil asetat dapat berfluoresensi. Namun serbuk dengan penambahan reagen metanol, asam nitrat, asam klorida dan asam sulfat tidak dapat berfluoresensi (Tabel 3).
Tabel 2. Hasil uji kadar sari larut etanol dan kadar sari larut air
| Kadar sari | Nilai kadar sari (% b/b) | Rata-rata ± SD (%b/b) |
|---|---|---|
| Kadar sari larut etanol | 5,323 | |
| 5,152 | 5,350 ± 0,17 | |
| 5,576 | ||
| Kadar sari larut air | 7,658 | |
| 7,556 | 7,446 ± 0,23 | |
| 7,124 |
Tabel 3. Hasil uji fluoresensi serbuk jus kulit nanas
| Penambahan reagen kimia pada serbuk jus kulit nanas | Sinar tampak | 254 nm | 366 nm |
|---|---|---|---|
| Serbuk jus kulit nanas + dimetil sulfoksida | Kuning kecokelatan | Biru | Biru |
| Serbuk jus kulit nanas + eter | Cokelat kehitaman | Biru | Biru |
| Serbuk jus kulit nanas + metanol | Cokelat kehitaman | Hitam | Biru |
| Serbuk jus kulit nanas + aquades | Cokelat | Biru | Biru |
| Serbuk jus kulit nanas + asam nitrat | Cokelat | Hitam | Biru |
| Serbuk jus kulit nanas + asam klorida | Kuning | Hitam | Hitam |
| Serbuk jus kulit nanas + asam asetat glasial | Cokelat | Biru | Biru |
| Serbuk jus kulit nanas + asam sulfat | Cokelat kehitaman | Hitam | Hitam |
| Serbuk jus kulit nanas + petroleum eter | Cokelat | Biru | Biru |
| Serbuk jus kulit nanas + kloroform | Cokelat | Biru | Biru |
| Serbuk jus kulit nanas + toluena | Cokelat | Biru | Biru |
| Serbuk jus kulit nanas + asam asetat | Cokelat | Biru | Biru |
| Serbuk jus kulit nanas + diklorometan | Cokelat | Biru | Biru |
| Serbuk jus kulit nanas + etil asetat | Cokelat | Biru | Biru |
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pemeriksaan organoleptik larutan serbuk jus kulit nanas berwarna berwarna kuning cokelat, berbau khas nanas dan rasa asam. Pada pengamatan mikroskopik dapat diamati parenkim dengan idioblas hablur, berkas pembuluh dengan penebalan tangga dan jala, sel meristematik, hablur kalsium oksalat rafida, epidermis, sel batu, floem, dan serabut. Nilai pH serbuk jus kulit nanas dengan konsentrasi 1% dan 10 % berturut-turut adalah 5 dan 4. Bobot jenis dari serbuk jus kulit nanas yaitu 1,04 g/mL. Kadar sari larut air serbuk jus kulit nanas sebesar 7,4 ± 0,23% dan kadar sari larut etanol serbuk jus kulit
nanas sebesar 5,3 ± 0,17%. Bilangan asam serbuk jus kulit nanas adalah 26,37 mgKOH/g. Serbuk jus kulit nanas berfluoresensi pada penambahan DMSO, eter, air, asam asetat glasial, petroleum eter, kloroform, toluene, asam asetat, diklorometan dan etil asetat.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terimakasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Mataram atas bantuan pendanaan melalui kegiatan penelitian dosen tahun 2023
