PENDAHULUAN
Di masa sekarang, kebersihan dan bau badan merupakan hal utama dalam penampilan seseorang. Bau tubuh tidak sedap sering kali membuat seseorang tidak percaya diri (Putra et al. 2023). Aroma tidak sedap dapat disebabkan oleh produksi keringat yang berlebihan, sehingga di bagian tubuh tertentu muncul bakteri karena kondisi yang lembab. Beberapa bakteri floral kulit penyebab bau badan ialah Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus aureus, dan Staphylococcus hominis (Dewi et al. 2019). Namun menurut Kumar et al. (2019) Staphylococcus epidermidis dapat menyebabkan bau badan pada populasi yang lebih luas, sedangkan Staphylococcus hominis hanya ditemukan pada ketiak anak-anak. Staphylococcus epidermidis ditemukan paling banyak di permukaan kulit.
Bakteri gram negatif dan positif memiliki tingkat ketahanan yang berbeda karena memiliki penyusun dinding sel yang berbeda, sehingga antibiotik dapat memiliki aktivitas yang berbeda di antara kedua bakteri tersebut (Rini dan Rohmah 2020). Selain bakteri gram positif seperti Staphylococcus spp, ada pula bakteri gram negatif yang juga dapat menghasilkan senyawa berbau tidak sedap salah satunya adalah Pseudomonas aeruginosa, bakteri ini terkadang menyerang manusia dan menyebabkan infeksi ketika pertahanan inangnya tidak normal. Seperti pada bagian tubuh yang terlalu lembab hingga iritasi (Sulastri et al. 2016). Kedua bakteri tersebut dapat menyebabkan bau badan yang dapat mempengaruhi hubungan sosial seseorang, oleh karena itu permasalahan bau badan harus diatasi.
Produk kosmetik yang dipercaya dapat mengatasi bau badan yang disebabkan oleh keringat yang bercampur dengan bakteri adalah deodoran (Sabrina et al. 2022). Ada banyak bentuk sediaan deodoran, salah satunya adalah deodoran spray yang digunakan dengan cara disemprotkan pada bagian tubuh tertentu. Sistem delivery deodoran spray tidak melibatkan adanya kontak antara deodoran dengan kulit pengguna sehingga higienisnya lebih terjaga (Oktaviana et al. 2019). Dalam formulasi deodoran zat aktif yang dibutuhkan adalah senyawa antimikroba agar
dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang menyebabkan bau badan. Namun, saat ini banyak deodoran komersial yang menggunakan antibiotik sintetik seperti tetrasiklin, klindamisin dan eritromisin yang dapat menyebabkan resistensi pada penggunaan jangka Panjang (Destriawan et al. 2023).
Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki keanekaragaman hayati dengan berbagai kandungan metabolit sekunder yang berpotensi sebagai sumber senyawa antimikroba (Mustapa, 2014). Setyani et al. (2021) menyatakan bahwa senyawa bioaktif yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri adalah flavonoid, fenol, alkaloid dan saponin. Salah satunya adalah tumbuhan kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.). Menurut Naveed et al. (2023), tumbuhan kupukupu (Bauhinia purpurea L.) sering digunakan dalam pengobatan tradisional, dikarenakan tingginya kandungan senyawa fenolik dan antioksidan. Marimuthu and Dhanalakshmi (2014) menyatakan bahwa kandungan fitokimia pada daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) lebih tinggi dibandingkan pada bunga. Didukung dengan penelitian Thamizhvanan et al. (2023) yang menyatakan bahwa daun kupu-kupu memiliki aktivitas antioksidan dan total fenolik yang tinggi. Tingginya kandungan senyawa fitokimia pada daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) menunjukkan potensi menjadi agen antibakteri.
Sebagaimana hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Oliveira et al. (2022) menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, Entrobacter aerogenes, Klebsiella pneumoniae, Escherchia coli, dan Pseudomonas aeruginosa. Pada penelitian Sholihah (2017) Ekstrak etanol dan infusa daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) juga memiliki aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus pyogenes dan ekstrak metanol daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) juga memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Bacillus subtilis Negi et al. (2012). Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan formulasi dan uji aktivitas antibakteri sediaan deodoran spray dari ekstrak etanol daun kupukupu (Bauhinia purpurea L.) terhadap
Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa.
METODE
Karakterisasi Simplisia
Karakterisasi simplisia diawali dengan pengujian makroskopis dengan pengamatan langsung dan pemeriksaan mikroskopis dengan bantuan mikroskop. Kemudian dilanjutkan penetapan kadar air dengan metode azeotrop, penetapan kadar abu total dan kadar abu tak larut asam dengan metode gravimetri, serta penentuan kadar sari larut air dan larut etanol yang merujuk pada farmakope herbal (2008).
Pembuatan Ekstrak Etanol
Ekstraksi serbuk simplisia daun kupu-kupu dilakukan dengan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) ditimbang 500 gram kemudian dimasukkan ke dalam wadah maserasi. Dituang secara perlahan 75 bagian pelarut etanol 96%, yaitu sebanyak 3750 ml ke dalam wadah maserasi yang berisi serbuk simplisia daun kupu-kupu hingga terendam semua bagian sampel, tutup rapat selama 5 hari dan lindungi dari cahaya. Sambil sering diaduk, lalu diperas hingga diperoleh maserat (maserat I). Lalu ampas yang diperoleh dibilas dengan 25 bagian etanol 96% sebanyak 1250 ml, dipindahkan ke dalam wadah tertutup (maserat I dan maserat II), lalu dimaserasi selama 2 hari. kemudian dituangkan sehingga diperoleh ekstrak cair, lalu dipekatkan dengan cara diuapkan pada rotary evaporator dengan suhu tidak lebih dari 50°C hingga diperoleh ekstrak kental (Depkes RI, 1979).
Skrining Fitokimia
Skrining fitokimia dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya senyawa kimia hasil dari metabolisme sekunder tumbuhan uji yang memiliki efek biologis terhadap kesehatan, senyawa metabolit sekunder yang diuji berupa alkaloid, flavonoid, tannin, saponin, steroid dan glikosida yang merujuk pada Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Ditjen POM (2000).
Pembuatan Deodoran Spray
Tahap awal pembuatan deodoran spray dimulai dengan melarutkan Ekstrak (sesuai dengan formulasi pada Tabel 1) dengan alkohol 70% pada beaker glass, kemudian ditambahkan propilenglikol dan diaduk hingga homogen. Ditambah gliserin perlahan-lahan ke dalam campuran dan diaduk hingga homogen, lalu ditambahkan dengan akuades sampai batas 100 mL dan di aduk hingga tercampur merata atau homogen. Sediaan yang telah tercampur dimasukkan ke dalam botol spray (Kurniasih 2021).
Tabel 1. Formulasi Deodoran Spray
| FORMULA (%) | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bahan | F0 | F1 | F2 | F3 | Standar | Fungsi | Literatur | |
| Ekstrak daun Kupu | - | 10% | 15% | 20% | - | Zat Aktif | Harda et al. | |
| kupu | 2023 | |||||||
| Propilenglikol | 5% | 5% | 5% | 5% | 5-80% | Kosolven | Rowe et al. 2009 | |
| Gliserin | 10% | 10% | 10% | 10% | 30% | Humektan | Rowe et al. 2009 | |
| Alkohol 70% | 20 ml | 20 ml | 20 ml | 20 ml | 60% | Pelarut | Rowe et al. 2009 | |
| Aquades | Ad 100 | Ad 100 | Ad 100 | Ad 100 | 90% | diluean | Rowe et al. 2009 | |
| mL | mL | mL | mL | |||||
Ket: setiap formulasi dibuat sediaan deodoran spray 100 mL
Evaluasi Deodoran Spray
Evaluasi sediaan dilakukan untuk melihat nilai dan kualitas dari sediaan yang dihasilkan. Evaluasi yang dilakukan pada sediaan deodoran spray berupa uji organoleptis, Uji kejernihan, uji pH, uji stabilitas
sediaan dengan cycling test, analisis keamanan dan penerimaan produk.
Uji Aktivitas Antibakteri
Uji aktivitas antibakteri diawali dengan pembuatan media uji, sterilisasi alat dan bahan, dan pembuatan suspensi bakteri uji yaitu Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa. Pengujian aktivitas dilakukan dengan metode difusi agar dengan cara meletakkan paper disc yang telah berisi sampel di atas media agar yang telah diinokulasi bakteri uji. Sampel uji yang digunakan yaitu formulasi tanpa ekstrak (F0) sebagai kontrol negatif, deodoran spray yang ada di pasaran sebagai kontrol positif dan ketiga formulasi deodoran spray sebagai larutan uji di atas permukaan medium yang telah terinokulasi bakteri. Kemudian diinkubasi selama 1x24 jam. Apabila hasil inkubasi menunjukkan zona bening di sekitar kertas cakram, menunjukkan adanya efek hambatan larutan uji terhadap bakteri uji. zona bening yang ada merupakan zona hambat, dapat diukur menggunakan jangka sorong (Oktaviana 2019).
ANALISIS DATA
Data yang diperoleh pada evaluasi nilai pH dan stabilitas nilai pH serta hasil pengukuran diameter zona hambat deodoran spray ekstrak etanol daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) dari masingmasing formula dengan tiga kali pengulangan dianalisis dengan menggunakan uji One way Annova.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Determinasi Tumbuhan
Proses determinasi daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keaslian jenis daun kupu-kupu yang digunakan untuk penelitian. Berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan di Laboratorium Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau pada tanggal 17 Januari 2024 menunjukkan bahwa tanaman yang diteliti adalah benar tumbuhan kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.).
Karakterisasi Daun Kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.)
Pemeriksaan karakterisasi simplisia merupakan tahap penting dalam menjamin keseragaman mutu dari bahan alam yang diformulasikan dalam suatu sediaan farmasi sehingga terjamin efek farmakologisnya. Hasil pemeriksaan Makroskopis simplisia daun Kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) dapat dilihat pada Tabel 2. Pemeriksaan mikroskopis serbuk simplisia dapat dilihat pada Gambar 1. Penetapan kadar air bertujuan untuk mengetahui besaran air yang terkandung dalam simplisia yang dapat mempengaruhi daya awet simplisia. Pemeriksaan kadar abu total dapat memberikan gambaran kandungan senyawa anorganik baik internal maupun eksternal sehingga dapat menetapkan tingkat pengotor suatu bahan oleh logam dan silikat sedangkan abu tak larut asam menunjukkan pengotor dari abu yang berasal dari tanah atau pasir (Ditjen POM 2000). Penentuan kadar sari terlarut bertujuan untuk memberikan gambaran awal jumlah kandungan senyawa yang terlarut atau tersari dalam pelarut tertentu berdasarkan polaritasnya masing-masing (Depkes RI 2000). Hasil dari penetapan kadar air, kadar abu total, kadar abu tak larut asam, kadar sari larut etanol dan air dari simplisia (Tabel 3) dinyatakan memenuhi syarat sesuai sesuai Materia Medika Indonesia.
Gambar 1. Hasil Uji Mikroskopis Serbuk Simplisia (1= berkas pembuluh, 2= epidermis bawah)
Tabel 2. Hasil Uji Makroskopis simplisia
| No | Parameter | Hasil |
|---|---|---|
| 1 | Bentuk | Berbentuk sayap kupu-kupu, bulat dengan dua lengkungan simetris dikedua sisi, dengan Panjang daun |
| 18-20 cm dan lebar daun 15-25 cm. | ||
| 2 | Warna | Hijau Kecoklatan |
| 3 | Rasa | Pahit |
| 4 | Bau | Khas |
Tabel 3. Hasil Karakterisasi Simplisia
| No | Parameter | Kadar Simplisia | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | Hasil | Syarat MMI | Ket | ||
| 1 | Kadar air | 2% | 4% | 4% | 3,3% | < 10% | MS |
| 2 | Kadar abu total | 4,55% | 2,05% | 4,45% | 3,68% | <4,9% | MS |
| 3 | Kadar abu tidak larut asam | 0,55% | 0,75% | 0,35% | 0,55% | <1,7% | MS |
| 4 | Kadar sari larut air | 23,8% | 23,6% | 25,9% | 24,43% | >15% | MS |
| 5 | Kadar sari larut etanol | 5,5% | 9,1% | 7,4% | 7,3% | >4,5% | MS |
Hasil Pembuatan Deodoran Spray
Deodoran Spray adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk menyerap keringat, menutupi bau badan atau mengurangi bau badan yang digunakan dengan cara disemprotkan pada bagian tubuh tertentu (Puspita et al. 2020). Sediaan yang telah dibuat dibedakan dalam empat formulasi yang berbeda yaitu F0 sebagai blanko tanpa penambahan ekstrak, F1 digunakan ekstrak sebesar 10%, F2 digunakan ekstrak 15%, dan F3 20% ekstrak (Gambar 2). Eksipien yang digunakan adalah propilenglikol, gliserin, alkohol 70%, parfum, dan aquades.
Gambar 2. Hasil Pembuatan Deodoran Spray
Hasil Evaluasi Deodoran Spray
Evaluasi sediaan dilakukan untuk melihat nilai dan kualitas dari sediaan yang dihasilkan. Evaluasi yang dilakukan pada sediaan deodoran spray berupa uji organoleptis, Uji kejernihan, uji pH dan uji stabilitas sediaan. Hasil uji organoleptis dapat dilihat pada Tabel 5 dan hasil uji kejernihan dapat dilihat pada Tabel 6. Hasil uji pH menunjukkan penurunan nilai ph pada setiap peningkatan konsentrasi ekstrak (Gambar 3), namun masih dalam rentang pH normal kulit yaitu 4,5 - 6,5 seperti yang terlihat pada Tabel 7. Stabilitas adalah kemampuan suatu produk untuk mempertahankan sifat dan karakteristiknya agar sama dengan yang dimilikinya saat dibuat dalam batasan yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan. Uji stabilitas dilakukan dengan metode cycling test selama enam siklus di mana satu siklus dilakukan dengan cara sediaan disimpan di dalam suhu lemari pendingin 4° ± 2°C selama 24 jam kemudian diletakkan ke suhu 40° ± 2°C selama 24 jam sehingga setiap siklus terdiri atas dua hari. Setelah satu siklus selesai dilihat apakah ada perubahan pada organoleptik, pH, dan homogenitas dari sediaan. Hasil Uji stabilitas terhadap fisik sediaan dapat dilihat pada Tabel 8 dan uji stabilitas terhadap nilai pH pada Gambar 4 tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan sehingga dinyatakan sediaan deodoran spray ekstrak daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.).
Humaira et al.
Hasil uji keamanan sediaan yang dilakukan pada penelitian ini adalah uji iritasi sediaan. Pengujian iritasi dilakukan dengan teknik patch test yaitu tempel terbuka yang dilakukan dengan mengoleskan sediaan (F0, F1, F2, dan F3) pada bagian punggung tangan 10 sukarelawan. Lalu diamati gejala atau reaksi yang timbul pada kulit, seperti yang terlihat pada Tabel 9 bahwa sediaan deodoran spray tidak memberikan efek iritasi pada 10 suka relawan. Uji tingkat kesukaan dilakukan dengan uji hedonik yaitu tanggapan yang diberikan dengan tingkatan kesukaan atau tingkatan ketidak sukaannya dalam bentuk skala hedonik. Dalam penelitian ini dilakukan uji hedonik dengan menggunakan 20 orang panelis dewasa, di mana parameter yang menjadi perhatian adalah aroma dan warna tekstur dari sediaan. kemudian panelis diberikan lembar kuesioner dan mengisi kuesioner berdasarkan pengamatan yang dilakukan dengan skala 1-5. Dengan kategori penilaian 5 (Sangat Suka), 4 (Suka), 3 (Biasa Saja), 2 (Tidak Suka), dan 1 (Sangat Tidak Suka). Berdasarkan Tabel 10 tidak terlihat perbedaan yang signifikan terhadap aroma dan tekstur sediaan antara setiap formulasi, namun memiliki perbedaan yang signifikan pada parameter warna, yang menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak memiliki pengaruh pada nilai penerimaan warna sediaan deodoran spray.

Gambar 3. Grafik Nilai ph Deodoran Spray terhadap Konsentrasi Ekstrak

Gambar 4. Grafik Stabilitas Nilai pH Terhadap Siklus Pengujian
Hasil Uji Aktivitas Antibakteri
Deodoran adalah salah satu produk yang dipercaya dapat mengatasi bau badan yang disebabkan oleh keringat yang bercampur dengan bakteri (Sabrina et al. 2022). Mekanisme kerja produk deodoran adalah menghambat pertumbuhan bakteri bau tak sedap dengan menggunakan agen bakteriostatik
antimikroba (Teerasumran et al. 2023). Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan uji In-vitro sediaan deodoran spray ekstrak etanol daun kupukupu terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa untuk melihat efektivitas sediaan deodoran spray ekstrak etanol daun kupu-kupu dalam menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau badan Pada penelitian ini digunakan dua bakteri dengan golongan gram yang berbeda, yaitu Staphylococcus epidermidis bakteri gram positif dan Pseudomonas aeruginosa bakteri gram negatif. Hal ini dilakukan peneliti untuk melihat kemampuan deodoran spray ekstrak etanol daun kupu-kupu terhadap kedua golongan bakteri, karena perbedaan komposisi dinding sel antara bakteri Gram positif dan negatif sehingga memiliki ketahanan yang berbeda (Rini and Rohmah 2020).
Berdasarkan Gambar 5 dapat dilihat diameter zona hambat terus meningkat seiring meningkatnya
konsentrasi ekstrak daun kupu-kupu pada sediaan deodoran spray. Adanya perbedaan tingkat hambatan dari berbagai konsentrasi disebabkan karena makin tinggi konsentrasi ekstrak etanol daun kupu-kupu maka kandungan bahan aktifnya juga akan makin besar sehingga luas zona hambatan yang terbentuk juga makin besar. Perbedaan ukuran zona hambat antara kedua bakteri dapat terlihat jelas pada Gambar 6, hal ini dipengaruhi oleh penyusun dinding sel dari bakteri tersebut. Bakteri Staphylococcus epidermidis menunjukkan hasil diameter hambat yang lebih kuat dibandingkan Pseudomonas auruginosa, hal ini dikarenakan bakteri Pseudomonas aurugenosa mempunyai dinding sel yang lebih tebal dibandingkan Staphylococcus epidermidis. Sel Pseudomonas aurugenosa dilapisi oleh kapsul tebal yang berfungsi melindungi selnya dari zat-zat yang bersifat toksik. Pseudomonas aureugenisa kaya akan lipid yang mengelilingi dinding sel-sel (Veronica et al. 2021).

Gambar 5. Grafik Diameter Zona Hambat Terhadap Formulasi Deodoran Spray
Gambar 6. Zona Hambat (1=Pseudomonas aeruginosa, 2= Staphylococcus epidermidis)
Adanya aktivitas antibakteri dari ekstrak daun kupu-kupu disebabkan oleh metabolit sekunder yang dimiliki daun kupu-kupu (Tabel 4). Berbagai kelompok bahan fitokimia seperti alkaloid, kumarin, flvonoid, isoflavonoid, dan terpenoid (Harda et al. 2023). Dan menurut Setyani (2021) Senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas antibakteri adalah flavonoid, alkaloid dan saponin. dapat memberikan
Humaira et al.
efek sebagai antimikroba. Berdasarkan hasil analisis menggunakan SPSS One Way ANNOVA diperoleh nilai probabilitas sebesar 0,001 < 0,05 yang menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri dari setiap formulasi memiliki perbedaan yang signifikan. Berdasarkan uji lanjutan post hoc menunjukkan bahwa formula 1 dan formula 2 tidak memiliki perbedaan yang signifikan sedangkan formula 3 dan formula memiliki perbedaan yang signifikan antara formula lainnya (Tabel 11).
Tabel 4. Hasil Skrining Fitokimia
| Hasil | |||
|---|---|---|---|
| No | Parameter | Simplisia | Ekstrak |
| 1 | Alkaloid | + | + |
| 2 | Flavonoid | + | + |
| 3 | Tannin | + | + |
| 4 | Saponin | + | + |
| 5 | Steroid | + | + |
| 6 | Glikosida | + | + |
Keterangan: (+) memberi reaksi; (-) tidak memberi reaksi
Tabel 5. Hasil Uji Organoleptik Deodoran spray
| Hasil Uji Organoleptis | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| No | Formula | Warna | Aroma | Bentuk | |||
| 1 | F0 (Tanpa ekstrak) | Bening | Tidak berbau | Cair | |||
| 2 | F1 (Ekstrak 10%) | Hijau kekuningan | Bau khas | Cair | |||
| 3 | F2 (Ekstrak 15%) | Coklat kekuningan | Bau khas | Cair | |||
| 4 | F3 (Ekstrak 20%) | Coklat tua | Bau khas | Cair | |||
Tabel 6. Hasil Uji Kejernihan Deodoran Spray
| No | Formula | Kejernihan |
|---|---|---|
| 1 | F0 (Tanpa ekstrak) | Jernih |
| 2 | F1 (Ekstrak 10%) | Jernih |
| 3 | F2 (Ekstrak 15%) | Jernih |
| 4 | F3 (Ekstrak 20%) | Jernih |
Tabel 7. Hasil Uji Nilai pH Deodoran Spray
| No | Formula | pH | Keterangan | |
|---|---|---|---|---|
| 1 | F0 (Tanpa ekstrak) | 6,36 | MS | |
| 2 | F1 (Ekstrak 10%) | 5,72 | MS | |
| 3 | F2 (Ekstrak 15%) | 5,18 | MS | |
| 4 | F3 (Ekstrak 20%) | 4,98 | MS | |
Ket: MS (Memenuhi Syarat); TMS (Tidak Memenuhi Syarat)
Tabel 8. Hasil Uji Stabilitas Fisik Deodoran Spray
| Siklus | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| F | Parameter | I | II | III | IV | V | VI |
| Warna | Bening | Bening | Bening | Bening | Bening | Bening | |
| Aroma | TB | TB | TB | TB | TB | TB | |
| F0 | Bentuk | Cair | Cair | Cair | Cair | Cair | Cair |
| Kejernihan | Jernih | Jernih | Jernih | Jernih | Jernih | Jernih | |
| F1 | Warna | HK | HK | HK | HK | HK | HK |
| Aroma | BK | BK | BK | BK | BK | BK | |
| Bentuk | Cair | Cair | Cair | Cair | Cair | Cair | |
| Kejernihan | Jernih | Jernih | Jernih | Jernih | Jernih | Jernih | |
| Warna | CK | CK | CK | CK | CK | CK | |
| Aroma | BK | BK | BK | BK | BK | BK | |
| F2 | Bentuk | Cair | Cair | Cair | Cair | Cair | Cair |
| Kejernihan | Jernih | Jernih | Jernih | Jernih | Jernih | Jernih | |
| Warna | CT | CT | CT | CT | CT | CT | |
| Aroma | BK | BK | BK | BK | BK | BK | |
| F3 | Bentuk | Cair | Cair | Cair | Cair | Cair | Cair |
| Kejernihan | Jernih | Jernih | Jernih | Jernih | Jernih | Jernih |
Ket: TB (Tidak Berbau); HK (Hijau Kekuningan); CK (Coklat kekuningan); BK (Berbau Khas); CT (Coklat Tua)
Tabel 9. Hasil Uji Tingkat Keamanan (Iritasi)
| Formula | Sukarelawan | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| I | II | III | IV | V | VI | VII | VIII | IX | X | |
| F0 | - | - | - | - | - | - | - | - | - | - |
| F1 | - | - | - | - | - | - | - | - | - | - |
| F2 | - | - | - | - | - | - | - | - | - | - |
| F3 | - | - | - | - | - | - | - | - | - | - |
Ket: (-) Tidak menimbulkan reaksi; (+) Kulit memerah; (++) kulit memerah dan gatal; (+++) kulit membengkak
Tabel 10. Hasil Uji Tingkat Kesukaan (Hedonik)
| Parameter | Formula | Interval Nilai | Nilai | Ket | Sig |
|---|---|---|---|---|---|
| F0 | 3,1965 - 3,5053 | 3 | BS | ||
| F1 | 3,8711 - 4,1289 | 4 | S | ||
| Warna | F2 | 3,8759 - 4,2241 | 4 | S | 0,007 |
| F3 | 3,878 - 4,322 | 4 | S | ||
| F0 | 2,6979 - 3, 2021 | 3 | BS | ||
| F1 | 3,4439 - 3, 7561 | 3 | BS | ||
| Aroma | F2 | 3,3113 - 3, 5887 | 3 | BS | 0,030 |
| F3 | 3,5162 - 3, 9838 | 4 | S | ||
| F0 | 3,9139 - 4, 2807 | 4 | S | ||
| Tekstur | F1 | 4,169 - 4, 431 | 4 | S | |
| F2 | 4,1493 - 4, 4507 | 4 | S | 0,030 | |
| F3 | 4,2154 - 4, 4846 | 4 | S |
Ket: SS (Sangat Suka); S (Suka); BS (Biasa Saja); TS (Tidak Suka); STS (Sangat Tidak Suka)
Tabel 11. Hasil Uji Aktivitas Antibakteri
| Bakteri | Formula | P1 (mm) | P2 (mm) | P3 (mm) | Rata Rata | Kategori David and Stout | Sig |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| F0 (-) | 0 | 0 | 0 | 0 | - | ||
| F1 (10%) | 12,95 | 12,8 | 13 | 12,92 | Kuat | ||
| Staphylococcus Epidermidis | F2 (15%) | 13,85 | 13,7 | 13,9 | 13,82 | Kuat | 0,001 |
| F3 (20%) | 17,45 | 16,3 | 16,8 | 16,85 | Kuat | ||
| F (+) | 19,0 | 18,9 | 18,9 | 18,93 | Kuat | ||
| F0 (-) | 0 | 0 | 0 | 0 | - | ||
| F1 (10%) | 12,6 | 12,4 | 12,7 | 12,57 | Kuat | ||
| Pseudomonas Aeruginosa | F2 (15%) | 13,7 | 13,3 | 13,4 | 13,47 | Kuat | 0,001 |
| F3 (20%) | 15,35 | 15,1 | 15,5 | 15,32 | Kuat | ||
| F (+) | 17,15 | 17 | 17,4 | 17,18 | Kuat |
KESIMPULAN
Deodoran spray ekstrak etanol daun kupu-kupu tidak menunjukkan reaksi iritasi pada punggung tangan 20 suka relawan, sehingga dinyatakan aman. Penambahan ekstrak etanol daun kupukupu memberikan pengaruh pada nilai kesukaan deodoran spray yang dihasilkan. Deodoran spray ekstrak etanol daun kupu-kupu memiliki aktivitas antibakteri pada Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa dengan daya hambat yang dikategorikan kuat. Daya hambat yang terbentuk terus meningkat seiring bertambahnya konsentrasi yang menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kupu-kupu memberikan efek antibakteri pada sediaan deodoran spray.
