PENDAHULUAN
Diabetes melitus merupakan salah satu kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa dalam darah (hiperglikemia) akibat kelainan sekresi insulin atau gangguan kerja insulin. Kondisi ini dapat berujung pada berbagai komplikasi serius yang mempengaruhi kualitas hidup penderita, bahkan menyebabkan kecacatan atau kematian (Hotimah et al. 2023). Salah satu komplikasi yang umum terjadi pada penderita diabetes melitus adalah luka gangrene (Simatupang 2023). Gangren merupakan kondisi kematian jaringan yang disebabkan oleh gangguan pada pembuluh darah (nekrosis iskemik), akibat mikroemboli aterotrombotik serta penyakit pembuluh darah perifer yang sering menyertai penderita diabetes melitus (Hotimah et al. 2023). Bagian tubuh yang paling rentan terhadap gangren adalah ekstremitas atas dan bawah, terutama jari tangan dan kaki, meskipun dalam beberapa kasus, gangren juga dapat menyerang otot dan organ dalam (Widyastuti et al. 2023).
Menurut laporan dari International Diabetes Federation (IDF), prevalensi diabetes melitus di dunia mencapai 415 juta penderita (Dhillon et al. 2022). Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat keenam dunia dalam jumlah penderita diabetes melitus (Laili 2024). Dari angka tersebut, sekitar 15% penderita diabetes mengalami luka gangren, dengan tingkat amputasi dan kematian yang masih tinggi, yaitu sebesar 32,5% (Santoso et al. 2022). Diperkirakan setiap tahun terdapat satu juta pasien dengan luka gangren yang menjalani amputasi ekstremitas bawah (85%), dengan tingkat kematian tahunan berkisar antara 15-40% dan meningkat hingga 39-89% dalam periode lima tahun (Maimunah et al. 2023).
Luka gangren dapat disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya neuropati diabetik, trauma, deformitas kaki, tekanan berlebih pada telapak kaki, serta gangguan vaskular (Kartika 2020). Selain itu, tekanan yang tinggi atau gesekan yang berulang juga dapat memicu kerusakan kulit dan menyebabkan abrasi, yang pada akhirnya meningkatkan risiko amputasi (Sharma et al. 2022). Oleh karena itu, langkah pencegahan dan pengobatan dini menjadi sangat penting dalam mengurangi dampak luka gangren pada penderita diabetes. Salah satu pendekatan yang mulai dikembangkan adalah pemanfaatan bahan alami, seperti ramuan tradisional Madura yang menggunakan daun biduri (Calotropis gigantea L.) sebagai agen bioaktif alami dalam pengobatan luka gangrene (Aladejana et al. 2024).
Daun biduri (Calotropis gigantea L.) merupakan tanaman herbal yang memiliki berbagai kandungan metabolit sekunder dengan potensi terapeutik dalam penyembuhan luka, termasuk luka gangren. Daun ini mengandung senyawa flavonoid, saponin, dan tannin yang memiliki sifat antiinflamasi, antibakteri, dan antioksidan. Flavonoid dalam daun biduri berperan dalam mempercepat regenerasi jaringan dengan merangsang pembentukan kolagen serta meningkatkan suplai darah ke area luka (Nazar et al. 2024). Saponin berfungsi sebagai antiseptik alami yang membantu membersihkan luka dan mencegah infeksi, sedangkan kandungan tannin memiliki efek astringen yang dapat mempercepat proses penyembuhan dengan mengurangi eksudasi dan memperbaiki jaringan yang rusak. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa ekstrak daun biduri memiliki aktivitas antimikroba yang efektif melawan bakteri penyebab infeksi pada luka gangren, seperti Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa (Sewidan et al. 2020).
Dalam pengobatan luka gangren, penggunaan daun biduri sebagai terapi alternatif pada penderita diabetes melitus dapat menjadi solusi potensial untuk mendukung pengobatan konvensional dan mengurangi risiko amputasi. Daun biduri memiliki aktivitas antiinflamasi dan antibakteri yang membantu mempercepat penyembuhan luka dengan menghambat pertumbuhan bakteri serta meredakan peradangan pada area yang terinfeksi. Selain itu, penelitian oleh Santana et al. (2024) melaporkan bahwasanya ekstrak daun biduri berpotensi digunakan dalam biosensor sederhana yang sensitif terhadap perubahan pH pada luka gangren, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai indikator non-invasif untuk memantau proses penyembuhan (Khan et al. 2024). Dengan teknologi ini, pasien dapat mengawasi perkembangan luka mereka secara lebih efektif, mencegah komplikasi
serius, mengurangi risiko amputasi, serta meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes melitus dengan perawatan yang lebih terkontrol.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode systematic review sesuai dengan panduan Preferred Reporting Items for Literature Reviews and Meta-Analysis (PRISMA). Sumber data diperoleh dari berbagai database, seperti Sciencedirect, Google Scholar, BioMed, dan Pubmed. Pencarian artikel menggunakan kata kunci "Calotropis gigantea", "diabetes mellitus", dan "gangrene", menghasilkan sejumlah literatur pada tahap awal.
Artikel yang ditemukan kemudian disaring berdasarkan kriteria inklusi, yaitu (1) literatur peer-reviewed; (2) tersedia dalam bentuk full text berbahasa Inggris atau berasal dari jurnal internasional bertipe research article; serta (3) diterbitkan dalam lima tahun terakhir (2020– 2025). Penyaringan lanjutan dilakukan untuk memilih literatur yang paling sesuai dengan tujuan literature review, sehingga diperoleh artikel yang lebih spesifik. Seleksi kelayakan dilakukan dengan mempertimbangkan indeks Scimago Journal Rank (SJR) minimal Quartile 1 (Q1) hingga Quartile 2 (Q2), kemudian dilanjutkan dengan critical appraisal menggunakan instrumen Joanna Briggs Institute (JBI) dengan cut-off 50%, hingga diperoleh artikel yang memenuhi kriteria.
Artikel yang telah diseleksi dianalisis menggunakan pendekatan PICO (Population, Intervention, Comparison, Outcome). Tahapan penelitian ini meliputi identifikasi masalah, pencarian data, serta penyaringan artikel dalam dua tahap dimulai dengan peninjauan abstrak, kemudian menganalisis keseluruhan jurnal untuk memastikan relevansinya hingga tahap ekstraksi data.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pencarian literatur didapatkan sebanyak 5 artikel yang bersumber dari Sciencedirect (n=1), Google Scholar (n=2), BioMed (n=1), dan Pubmed (n=1). Kemudian dilakukan analisis secara mendalam melalui proses systematic review
berdasarkan PRISMA memiliki tahapan seperti identification, screening, eligibility, dan included yang terdapat pada Gambar 1. Selanjutnya, dilakukan analisis secara mendalam, diikuti dengan pembahasan untuk memperoleh kesimpulan yang sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil penelitian yang diperoleh dari artikel ilmiah akan disajikan dalam Tabel 1.
Artikel pertama berjudul Healing of Leprosy-Associated Chronic Plantar Wounds with a Novel Biomembrane Containing Latex Proteins from Calotropis procera oleh Nunes et al.(2024) meneliti efektivitas biomembran berbasis Calotropis procera dalam penyembuhan luka kronis pada pasien lepra. Studi ini merupakan Randomized Controlled Trial (RCT) dengan total 23 pasien, terdiri dari kelompok intervensi (n=15, menggunakan BioMemCpLP), kelompok kontrol positif (n=5, menggunakan silver sulfadiazine), dan kelompok kontrol negatif (n=3, menggunakan perban hidrokoloid). Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomembran BioMemCpLP mempercepat penyembuhan luka secara signifikan (p=0,036), di mana 88% luka sembuh dalam 56 hari, dibandingkan hanya 6% pada kelompok kontrol. Hal ini membuktikan bahwa Calotropis procera memiliki potensi tinggi sebagai terapi alternatif dalam penyembuhan luka kronis akibat infeksi lepra (Nunes et al. 2024).
Artikel kedua berjudul Evaluation of the Phytochemical, Antioxidant, Enzyme Inhibition, and Wound Healing Potential of Calotropis gigantea (L.) Dryand oleh Alafnan et al. (2021) meneliti efek ekstrak etanolik daun Calotropis gigantea terhadap penyembuhan luka eksisi dan luka bakar pada tikus. Studi eksperimental sejati ini menggunakan tujuh tikus albino wistar sebagai sampel. Hasil analisis fitokimia menggunakan UHPLC-MS menunjukkan bahwa ekstrak daun Calotropis gigantea mengandung flavonoid dan fenolik tinggi, yang berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan kuat serta efek inhibisi terhadap enzim tertentu. Secara signifikan (p=0,001, p<0,05), ekstrak ini mempercepat penyembuhan luka eksisi dan luka bakar pada tikus, menjadikannya kandidat potensial untuk aplikasi medis dalam penyembuhan luka gangren (Alafnan et al. 2021).

Gambar 1. Diagram PRISMA
Tabel 1. Ekstraksi data (n=5)
| No. | Judul, Peneliti, Tahun Publikasi | Sampel, Instrumen, dan Desain Penelitian | Hasil |
|---|---|---|---|
| 1. | Healing of leprosy-associated | Dalam penelitian ini, total sampel | Biomembran BioMemCpLP berbasis |
| chronic plantar wounds with a | adalah n=23 pasien, di mana | Calotropis procera secara signifikan | |
| novel biomembrane containing latex proteins from Calotropis | kelompok intervensi (BioMemCpLP) terdiri dari n=15 | dengan nilai p=0.036 (p<0,05) mempercepat penyembuhan luka | |
| procera | pasien, kontrol positif (silver | plantar kronis pada pasien lepra, | |
| sulfadiazine) n=5 pasien, dan | dengan 88% luka sembuh dalam 56 hari | ||
| M. O. Nunes, N. M. N. Alencar, | kontrol negatif (perban | dibandingkan hanya 6% pada kelompok | |
| M. A. A. Pontes, P. G. B. Silva, L. | hidrokoloid) n=3 pasien | kontrol | |
| M. A. Rabelo, J. V. Lima-Filho, T. F. G. Souza, M. G. G. Almeida, | Perban biomembran BioMemCpLP | ||
| dan M. V. Ramos | berbasis Calotropis procera | ||
| 2024 | Randomized Controlled Trial(RCT) | ||
| 2. | Evaluation of the | Tujuh tikus albino wistar jantan | Ekstrak etanolik daun Calotropis |
| Phytochemical, Antioxidant, | berusia tujuh minggu (180-200 g) | gigantea mengandung flavonoid dan | |
| Enzyme Inhibition, and Wound | fenolik tinggi, menunjukkan aktivitas | ||
| Healing Potential of Calotropis | Uji fitokimia menggunakan | antioksidan yang kuat, efek inhibisi | |
| gigantea (L.) Dryand: A Source | UHPLC-MS untuk | terhadap enzim tertentu, serta secara |
| No. | Judul, Peneliti, Tahun Publikasi | Sampel, Instrumen, dan Desain Penelitian | Hasil |
|---|---|---|---|
| of a Bioactive Medicinal Product Ahmed Alafnan, Swathi Sridharagatta, Hammad Saleem, Umair Khurshid, Abdulhakeem S. Alamri, Nafees Ahemad, dan Sirajudheen Anwar | mengidentifikasi metabolit sekunder. True Eksperimental | signifikan dengan nilai p=0.001 (p<0,05) meningkatkan penyembuhan luka eksisi dan luka bakar pada tikus, menjadikannya kandidat potensial untuk aplikasi medis. | |
| 3. | 2021 Sustainable Development of Chitosan/Calotropis procera Based Hydrogels to Stimulate Formation of Granulation Tissue and Angiogenesis in Wound Healing Applications Muhammad Zahid, Maria Lodhi, Zulfiqar Ahmad Rehan, Ahmed Mukhtar, Ayman EL Sabagh, Robert Adamski, dan Dorota Siuta 2021 | Hidrogel berbasis kitosan yang mengandung ekstrak lateks Calotropis procera, diuji pada membran koroalantois embrio ayam (Chick Chorioallantoic Membrane/CAM). Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), Scanning Electron Microscopy (SEM), Swelling Analysis, Thermogravimetric Analysis (TGA), dan uji biologis menggunakan CAM assay. | Hidrogel berbasis kitosan dan Calotropis procera menunjukkan peningkatan pembentukan jaringan granulasi dan angiogenesis yang signifikan pada model membran koroalantois, dengan formulasi 60:40 kitosan-lateks memberikan hasil terbaik dalam penyembuhan luka. |
| 4. | Phytomodulatory Proteins Isolated from Calotropis procera Latex Promote Glycemic Control by Improving Hepatic Mitochondrial Function in HepG2 Cells Keciany Alves de Oliveira, Hygor Nunes Araújo, Paula Alexandre de Freitas, Márcio Viana Ramos, Leonardo Reis Silveira, Ariclecio Cunha de Oliveira | Randomized Controlled Trial(RCT) 24 ekor tikus Swiss jantan sehat, dibagi secara acak menjadi dua kelompok: kelompok kontrol (n = 6) dan kelompok fraksi CpPII (CpPII, n = 6). Western blotting, PCR real-time, spektrofotometri. Randomized Controlled Trial(RCT) | Protein latisifer CpPII dari Calotropis procera menurunkan kadar glukosa puasa, meningkatkan toleransi glukosa, dan menghambat produksi glukosa hati melalui aktivasi AMPK/PPAR, serta terbukti signifikan dapat menyembukan luka diabetic. |
| 5. | 2021 Healing Rate in Diabetic Foot Ulcers Treated with Biomembrane and Hydrocolloid Powder: Randomized Clinical Trial Manuela de Mendonça Figueirêdo Coelho, Luciana Catunda Gomes de Menezes, Shérida Karanini Paz de Oliveira. 2021 | 8 pasien dengan ulkus kaki diabetik, yang dibagi menjadi kelompok eksperimen (n=4) dan kelompok kontrol (n=4). Biomembran berbasis protein lateks Calotropis procera (BioMem CpLP) pada kelompok eksperimen. Randomized Controlled Trial(RCT) | Biomembran Calotropis procera menunjukkan tingkat penyembuhan luka yang sebanding dengan bubuk hidrokolloid pada pasien dengan ulkus kaki diabetik setelah 30 dan 60 hari (p=0,002 dan p=0,005), menjadikannya alternatif efektif dan berbiaya rendah. |
Artikel ketiga berjudul Sustainable Development of Chitosan/Calotropis procera-Based Hydrogels to Stimulate Formation of Granulation Tissue and Angiogenesis in Wound Healing Applications oleh Zahid et al. (2021) meneliti hidrogel berbasis kitosan dan Calotropis procera dalam meningkatkan pembentukan jaringan granulasi dan angiogenesis, faktor penting dalam proses penyembuhan luka. Studi Randomized Controlled Trial (RCT) ini menggunakan model membran koroalantois embrio ayam (CAM assay) dengan metode analisis FTIR, SEM, Swelling Analysis, dan TGA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hidrogel berbasis kitosan dan Calotropis procera secara signifikan meningkatkan angiogenesis dan pembentukan jaringan granulasi, terutama pada formulasi 60:40 kitosan-lateks, yang menunjukkan efektivitas terbaik dalam penyembuhan luka gangren (Zahid et al. 2021).
Artikel keempat berjudul Phytomodulatory Proteins Isolated from Calotropis procera Latex Promote Glycemic Control by Improving Hepatic Mitochondrial Function in HepG2 Cells oleh Oliveira et al. (2021) meneliti efek protein latisifer CpPII dari Calotropis procera terhadap kontrol glikemik dan fungsi mitokondria. Studi Randomized Controlled Trial (RCT) ini menggunakan 24 ekor tikus Swiss jantan, yang dibagi menjadi kelompok kontrol (n=6) dan kelompok perlakuan (n=6, diberikan CpPII). Hasil penelitian menunjukkan bahwa CpPII menurunkan kadar glukosa puasa, meningkatkan toleransi glukosa, serta menghambat produksi glukosa hati melalui aktivasi AMPK/PPAR. Efek ini penting dalam penyembuhan luka diabetik, yang merupakan penyebab utama gangren pada penderita diabetes (Oliveira et al. 2021).
Artikel terakhir berjudul Healing Rate in Diabetic Foot Ulcers Treated with Biomembrane and Hydrocolloid Powder: Randomized Clinical Trial oleh Coelho et al. (2021) membandingkan efektivitas biomembran berbasis protein lateks Calotropis procera (BioMem CpLP) dengan bubuk hidrokoloid dalam penyembuhan ulkus kaki diabetik. Studi Randomized Controlled Trial (RCT) ini melibatkan 8 pasien, yang dibagi dalam kelompok eksperimen (n=4, menerima BioMem CpLP) dan kelompok kontrol (n=4, menerima
bubuk hidrokoloid). Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomembran Calotropis procera memiliki tingkat penyembuhan luka yang sebanding dengan bubuk hidrokoloid, dengan hasil yang signifikan setelah 30 hari (p=0,002) dan 60 hari (p=0,005), menjadikannya alternatif efektif dan berbiaya rendah untuk penyembuhan luka gangren akibat diabetes (Coelho et al. 2021).
Berdasarkan lima studi tersebut, Calotropis gigantea terbukti memiliki potensi besar dalam penyembuhan luka gangren akibat berbagai kondisi, seperti lepra, luka eksisi, luka bakar, dan ulkus kaki diabetik. Senyawa aktif seperti flavonoid dan fenolik dalam tanaman ini memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi yang mempercepat regenerasi jaringan, meningkatkan angiogenesis, menghambat infeksi, serta mengurangi stres oksidatif dan peradangan (Aladejana et al. 2024).
Salah satu inovasi terbaru dalam pemanfaatan Calotropis gigantea adalah pengembangan biosensor alami berbasis ramuan Madura untuk deteksi dini ulkus gangren pada penderita diabetes melitus. Biosensor ini dikombinasikan dengan teknologi wearable, memungkinkan pemantauan real-time terhadap suhu, penanda biokimia, serta kondisi luka menggunakan biosensor silikon nanowire (SiNW) (Zhong et al. 2024). Algoritma kecerdasan buatan (ResNet-18) membantu menilai tingkat penyembuhan luka, sementara teknologi nirkabel memungkinkan pemantauan jarak jauh, sehingga mempercepat respons medis dan mencegah komplikasi serius (Qi et al. 2024).
Dengan kombinasi antara terapi tradisional dan teknologi modern, risiko amputasi akibat gangren dapat diminimalkan melalui deteksi dini dan pemantauan luka yang lebih efektif. Inovasi ini tidak hanya menawarkan pendekatan holistik dan berbasis alam, tetapi juga membuka peluang baru dalam pengembangan sistem pemantauan luka berbasis teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan luka kronis.
KESIMPULAN
Berdasarkan literatur yang ditinjau, ekstrak Calotropis gigantea menunjukkan potensi besar sebagai agen penyembuhan luka gangren melalui aktivitas antiinflamasi, antioksidan, dan kemampuannya merangsang angiogenesis, yang berperan penting dalam regenerasi jaringan luka kronis. Senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenolik dalam Calotropis gigantea membantu menghambat infeksi, mengurangi stres oksidatif, dan mempercepat proses penyembuhan. Selain itu, pengembangan biosensor sederhana berbasis ekstrak Calotropis gigantea yang mampu mendeteksi perubahan pHluka berpotensi menjadi solusi inovatif untuk pemantauan non-invasif. Pemanfaatan ekstrak ini sebagai ramuan tradisional Madura juga membuka peluang pendekatan terapi berbasis kearifan lokal. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengoptimalkan formulasi, memastikan keamanan, dan mengevaluasi efektivitas klinisnya agar dapat dimanfaatkan sebagai terapi komplementer yang mendukung pengobatan konvensional dan menurunkan risiko amputasi pada penderita gangren.
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat-Nya yang telah memampukan kami menyelesaikan penelitian dan karya ilmiah ini dengan baik. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada orang tua kami atas dukungan moril dan materiil yang tiada henti. Kami mengapresiasi Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang atas fasilitas yang diberikan, serta orang tua, dosen pembimbing, dan teman-teman yang telah mendukung kami, walaupun tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
