1. Home
  2. Archives
  3. Vol 50 (2025) Issue 2
  4. Articles

PENGARUH VARIASI KONSENTRASI EKTRAK DAUN TEH HIJAU (Camellia sinensis (L.) Kuntze) TERHADAP MUTU FISIK SEDIAAN EYE CREAM

Abstract

Penuaan dini pada area sekitar mata ditandai dengan munculnya kerutan, garis halus, kantung mata dan lingkaran hitam akibat paparan sinar ultraviolet (UV), radikal bebas, dan penurunan produksi kolagen. Daun teh hijau (Camellia sinensis (L.) Kuntze) diketahui mengandung antioksidan tinggi, terutama katekin seperti epigallocatechin gallate (EGCG), sehingga berpotensi digunakan sebagai agen anti aging untuk memperlambat proses penuaan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi ekstrak daun teh hijau terhadap mutu fisik sediaan eye cream serta menentukan formula terbaik. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan empat formula eye cream, yaitu formula 0 (0% ekstrak), formula 1 (0,5% ekstrak), formula 2 (5% ekstrak), dan formula 3 (10% ekstrak). Evaluasi mutu fisik meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, tipe krim, dan uji sentrifugasi. Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA dan dibandingkan dengan standar mutu fisik eye cream. Hasil menunjukkan adanya perbedaan signifikan (p < 0,05) pada parameter pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat antar formula. Formula 1 (0,5%) memenuhi seluruh parameter mutu fisik yang sesuai standar, termasuk homogenitas merata, pH sesuai kulit, viskositas dan daya sebar optimal, serta tidak terjadi pemisahan fase. Disimpulkan bahwa formula 1 merupakan formula terbaik.

Keywords

PENDAHULUAN

Seiring bertambahnya usia, kulit mengalami perubahan fisiologis yang disebut penuaan dan tidak dapat dihindari (Xie et al. 2015). Penyebabnya terdiri dari faktor intrinsik meliputi genetik, metabolisme sel dan perubahan hormonal (Yusharyahya 2021). Selain itu, faktor ekstrinsik seperti paparan sinar matahari merupakan faktor utama penyebab penuaan kulit. Radiasi ultraviolet dari sinar matahari mempercepat kerusakan kulit dengan meningkatkan produksi Reactive Oxygen Species (ROS) yang merusak kolagen dan memicu peningkatan melanin (Okwani et al. 2020).

Secara alami, kulit menghasilkan enzim seperti elastase dan kolagenase. Namun, paparan sinar UV dan ROS dapat mempercepat aktivasi elastase yang mendegradasi elastin, komponen utama serat elastis bersama kolagen di bawah epidermis. Aktivasi ini merusak protein matriks seperti elastin, kolagen, proteoglikan, dan keratin, sehingga memicu kerutan. Selain itu, sinar UV juga mengaktifkan enzim tirosinase yang meningkatkan produksi melanin (Aji et al. 2021). Kerusakan ini paling tampak di area periorbital, terutama bawah mata, yang menunjukkan tanda penuaan lebih cepat seperti kerutan, garis halus, kantung mata, dan lingkaran hitam, karena kulit di area tersebut lebih tipis dan sensitif (Chandra 2020, Okwani et al. 2020). Meski penuaan tidak dapat dicegah, perawatan yang tepat dapat memperlambat prosesnya (Damayanti 2017). Salah satunya dengan penggunaan eye cream yang diformulasikan sebagai produk anti aging.

Eye cream merupakan sediaan krim yang diformulasikan untuk mengurangi kerutan, kekeringan, meningkatkan kelembapan kulit, serta menyamarkan lingkaran hitam di bawah mata (Rachmawati 2024). Bentuknya yang semi padat mempermudah aplikasi, nyaman digunakan, tidak lengket, mudah dibersihkan, dan mampu menempel lebih lama di kulit dibandingkan gel, salep, atau pasta (Tari dan Indriani 2023). Selain bentuk sediaan, efektivitas skincare juga ditentukan oleh bahan aktifnya. Bahan alami dari tumbuhan lebih aman dan efek sampingnya lebih rendah (Suwarno et al. 2024). Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini menggunakan ekstrak daun

teh hijau (Camellia sinensis (L.) Kuntze) sebagai bahan aktif dalam formulasi eye cream.

Teh hijau (Camellia sinensis (L.) Kuntze) memiliki potensi kuat sebagai anti-aging karena kandungan antioksidan utamanya, yaitu epigallocatechin-3 gallate (EGCG) (Fadhilah et al. 2021). EGCG diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang 100 kali lebih kuat dari vitamin C dan 25 kali dari vitamin E (Wijayanti et al. 2023), serta nilai IC50 sebesar 2,352 ppm yang menunjukkan potensi dan keamanannya (Cantika dan Priani, 2023). Antioksidan bekerja dengan menetralkan radikal bebas, mengurangi peroksidasi lipid, dan meningkatkan regenerasi sel, sehingga membantu menjaga elastisitas kulit dan memperlambat proses penuaan (Zalukhu et al. 2016, Haerani et al. 2018).

EGCG juga mampu menghambat pembentukan melanin dan kolagenase, serta meningkatkan produksi kolagen, baik dalam uji in vitro maupun in vivo, sehingga efektif mengurangi kerutan (Damayanti 2021). Formulasi topikal seperti krim, emulgel, dan masker berbasis ekstrak teh hijau telah terbukti mendukung efek anti aging (Dewi 2021, Mulyani et al. 2022).

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa formulasi eye cream berbahan ekstrak alami seperti daun jamun (Parate dan Bajpai 2020), kulit jeruk nipis (Rachmawati 2024) dan buah mundu (Amalia 2024) memiliki mutu fisik yang baik. Penelitian ini memiliki keterbaruan pada penggunaan ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis) sebagai bahan aktif dalam eye cream, yang sebelumnya lebih sering digunakan dalam masker clay, masker sheet, dan krim.

Ekstrak teh hijau terbukti memiliki aktivitas anti aging, antioksidan, dan pencerah kulit. Studi menunjukkan bahwa konsentrasi 0,5% mampu menjaga viabilitas sel di atas 90% dan menekan produksi melanin serta enzim pemicu penuaan (Chaikul et al. 2020). Masker sheet dengan konsentrasi 5% meningkatkan kadar air kulit dan mengurangi kerutan (Husna 2019), sedangkan masker clay 10% memberikan hasil terbaik setelah 4 minggu (Saragi 2019).

Berdasarkan data tersebut, penelitian ini mengevaluasi pengaruh konsentrasi ekstrak teh hijau (0,5%, 5%, dan 10%) terhadap mutu fisik eye cream untuk menentukan formulasi terbaik yang memenuhi seluruh uji mutu fisik sediaan eye cream.

BAHAN DAN METODE

1. Alat

kertas perkamen, sudip, cawan krus,x cawan porselen, cawan petri, kertas mm blok, plat kaca, oven, neraca analitik (Ohaus PA323), pipet tetes, vial, beaker glass (Pyrex), kaca arloji, mortar, stemper, gelas takar (Iwaki), batang pengaduk, pipet ukur (Pyrex), sendok stainless steel, pH meter (Hanna instrument), viscometer Brookfield (NDJ-8S), waterbath (B-One model DWB-6H-18L), centrifuge, ayakan mesh 40, dan botol eye cream roller 30 g.

2. Bahan

Ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis (L.) Kuntze)etanol 96% (Teknis), asam stearat (PT. Sumi Asih), lanolin (Wujiang), setil alkohol (Ecogreen Oleochemicals), gliserin (Wilfarin), trietanolamin (Petronas), propilen glikol (SK Picglobal), natrium benzoat (Wuhan), aquades (Brataco), Metilen biru (ROFA).

3. Determinasi Tanaman

Determinasi dilakukan di UPT Laboratorium Herbal Materia Medica Batu.

4. Standarisasi Simplisia

  • 1) Uji Organoleptik
  • Uji organoleptik dilakukan dengan mengamati bentuk, warna, bau, dan rasa (Nurfita et al. 2021).
  • 2) Penetapan Kadar Sari Larut Air dan Etanol Sebanyak 5 g serbuk simpilisia di maserasi dengan 100 mL pelarut masing-masing selama 24 jam, disaring, diuapkan 20 mL filtrat pada oven suhu 105°C, dan ditimbang hingga berat konstan.

Rumus:

Kadar sari larut air & etanol = () () 100 20 100% (Yana et al. 2022)

3) Penetapan Susut Pengeringan

Menimbang 2 g serbuk simplisia, dikeringkan dalam oven pada suhu 105°C, ditimbang hingga berat konstan.

Rumus:

Susut pengeringan (%) = −ℎ ℎ 100%.... (Yana et al. 2022)

5. Pembuatan Ekstrak

Maserasi 1.750 g serbuk simplisia daun teh hijau dengan etanol 96% (1:10) selama 24 jam dengan pengadukan berkala. Maserat disaring, diuapkan menggunakan rotary vacuum evaporator pada suhu 50°C, lalu dikeringkan dalam oven hingga diperoleh ekstrak kental daun teh hijau.

6. Standarisasi Ekstrak

1) Uji Organoleptik

Pemeriksaan warna, aroma, rasa, dan kekonsistenan ekstrak (Octavia et al. 2023).

2) Kadar % Rendemen

Rendemen dihitung untuk mengetahui jumlah ekstrak yang dihasilkan dari berat awal simplisia, sekaligus menggambarkan jumlah senyawa bioaktif yang terekstraksi.

Rumus:

Rendemen (%) = ℎ 100%..... (Kusuma dan Aprileili, 2022)

3) Kadar Air

Sebanyak 10 g ekstrak dikeringkan dalam oven pada suhu 105°C selama 5 jam. Penimbangan dilakukan tiap satu jam hingga selisih dua pengukuran berturut-turut tidak lebih dari 0,25%.

Rumus:

Kadar air (%)= \[\frac{p-(q-r)}{p}\] x100.... (Yana et al. 2022)

keterangan:

p = bobot ekstrak awal (g)

q = bobot cawan + ekstrak setelah kering (g)

r = bobot cawan kosong (g)

7. Pembuatan Sediaan Eye cream

Fase minyak (asam stearat, lanolin, setil alkohol) dan fase air (gliserin, trietanolamin, propilen glikol, aquades) dipanaskan terpisah (75°C) pada waterbath. Fase minyak dicampur ke fase air dalam mortir sambil diaduk. Setelah suhu ruang, ditambahkan natrium benzoat dan ekstrak teh

hijau, diaduk homogen, lalu dikemas kedalam botol eye cream roller. Formulasi sediaan eye cream dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Formulasi sediaan eye cream ekstrak daun teh hijau

BahanFormula (%)
F0F1F2F3Khasiat
Ekstrak kental daun teh hijau00,5510Zat aktif
Asam stearate10101010Emulgator
Lanolin2222Emolien
Setil alcohol2222Emolien
Gliserin10101010Emolien
Trietanolamin4444Emulgator
Natrium benzoate0,20,20,20,2Pengawet
Propilen glikol4444Humektan
AquadesAd 100Ad 100Ad 100Ad 100Pelarut

8. Evaluasi Mutu Fisik Sediaan Eye cream

1) Uji Organoletik

Mengamati warna, bau dan tekstur eye cream (Arziyah et al. 2022).

2) Uji Homogenitas

Mengoleskan sediaan eye cream pada sekeping kaca kemudian ditutup dengan keping kaca lainya lalu diamati homogenitasnya (Tungadi et al. 2023).

3) Uji pH

Sebanyak 1 g sediaan eye cream dilarutkan dalam 10 ml aquadest, lalu diukur pH-nya dengan mencelupkan elektroda hingga nilai stabil terbaca (Rahayu et al. 2023).

4) Uji Viskositas

Uji viskositas eye cream menggunakan viskometer Brookfield pada kecepatan 60 rpm menggunakan spindle nomor 4 (Ikhsan et al. 2023).

5) Uji Daya Sebar

Menempatkan 0,5 g sampel di antara dua cawan petri, diberi beban 125 g selama 1 menit, lalu diukur diameter sebarannya (Tungadi et al. 2023).

6) Uji Tipe Krim

Uji tipe eye cream dilakukan dengan metode dispersi zat warna menggunakan methylen blue. Jika warna terdispersi merata, maka tipe krim adalah M/A (minyak dalam air). Jika terbentuk butiran biru, maka termasuk tipe A/M (air dalam minyak) (Nurfita et al. 2021).

7) Uji Daya Lekat

Sebanyak 0,1 g sediaan krim diletakkan pada permukaan gelas objek yang digunakan dalam alat uji. Selanjutnya, gelas objek ditutup dan diberi tekanan menggunakan beban seberat 1 kg selama 5 menit. Setelah itu, beban diturunkan dan tuas ditarik dengan menggunakan beban sebesar 80 g (Sari and Fitrianingsih 2020). dicatat waktu pisah.

8) Uji Sentrifugasi

Sebanyak 5 g sediaan eye cream dimasukkan ke dalam tabung sentrifugasi, lalu diputar pada 3000 rpm selama 30 menit. Setelah itu, diamati apakah terjadi pemisahan fase pada masing-masing formula (Rachmawati 2024) (Rachmawati 2024).

9) Analisis Data

Analisis data dilakukan secara deskriptif dan statistic. Analisis deskriptif digunakan untuk membandingkan parameter mutu fisik dengan referensi. Analisis statistik dilakukan dengan uji One-Way ANOVA (p < 0,05) untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi ekstrak terhadap mutu fisik sediaan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Determinasi

Tanaman yang digunakan telah melalui proses identifikasi di UPT Laboratorium Herbal Materia Medica Batu dan dikonfirmasi sebagai Camellia sinensis (L.) Kuntze dari famili Theaceae.

Penyiapan Bahan Uji

Simplisia daun teh hijau diperoleh dari Singosari, Malang. Setelah disortasi, daun dihaluskan dengan blender dan diayak mesh 40 hingga diperoleh serbuk seragam yang siap digunakan untuk standarisasi dan ekstraksi.

Hasil Standarisasi Simpilisia Daun Teh Hijau

Secara organoleptik, serbuk berwarna hijau, berbau khas, dan pahit karena mengandung senyawa fenol, polifenol, dan katekin (Ardila 2020).

Kadar sari larut air sebesar 22,4% dan etanol 27,1% memenuhi standar FHI menandakan senyawa aktif bersifat semi-polar seperti katekin yang lebih larut dalam etanol (Amini et al. 2019, Gunawan et al. 2024).

Hasil susut pengeringan sebesar 6,55% juga sesuai standar maksimal 10% (Kemenkes RI 2017), menunjukkan kadar air rendah yang mendukung kestabilan dan mencegah kerusakan senyawa aktif (Wibowo and Tutik 2024). Hasil standarisasi simpilisia daun teh hijau dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Standarisasi Simpilisia Daun Teh Hijau

ParameterHasil
(%)
Syarat
(Kemenkes RI
2017)
Kadar sari larut air22,4Tidak kurang dari
8,4
Kadar sari larut
etanol
27,1Tidak kurang dari
4,5
Susut pengeringan6,55Tidak lebih dari 10

Ekstraksi Simpilisia Daun Teh Hijau

Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi suhu ruang tanpa pemanasan untuk menjaga stabilitas senyawa aktif seperti EGCG (Ulandari et al. 2019). Etanol 96% dipilih karena sifat amfipatiknya, efektivitas ekstraksi, dan penetrasi sel yang baik (Handoyo 2020, Amini et al. 2019). Etanol juga menghasilkan rendemen lebih tinggi dibandingkan etil asetat dan air (Riyani et al., 2022).

Sebanyak 1750 g serbuk disari dengan 17,5 liter etanol (1:10) untuk hasil optimal (Sutomo et al. 2021). Maserasi dilakukan selama 24 jam dengan pengadukan berkala untuk mempercepat proses ekstraksi dan untuk mencegah oksidasi senyawa

aktif (Alviola et al. 2023, Asworo and Widwiastuti 2023).

Maserat disaring, lalu diuapkan menggunakan rotary evaporator pada suhu 50°C untuk menghindari kerusakan senyawa termolabil (Masykuroh and Ummah 2024), kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu yang sama hingga diperoleh ekstrak kental.

Hasil Standarisasi Ekstrak

Ekstrak kental teh hijau (Camellia sinensis (L.) Kuntze) berwarna hijau tua, kental, dan berbau khas. Kekentalan menandakan pelarut berhasil diuapkan, warna hijau tua berasal dari klorofil A dan B (Hidayati et al. 2021), aroma khas menunjukkan senyawa volatil tetap stabil selama ekstraksi.

Rendemen sebesar 30,4% jauh melampaui standar minimum 7,8% (Kemenkes RI 2017), mengindikasikan efisiensi ekstraksi yang tinggi (Nahor et al. 2020). Kadar air ekstrak 2,7% juga telah memenuhi standar (<16%), menunjukkan kestabilan dan daya simpan yang baik. Hasil standarisasi ekstrak daun teh hijau dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Standarisasi Ekstrak Daun Teh Hijau

ParameterHasil
(%)
Syarat
(Kemenkes RI
2017)
Kadar %
rendemen
30,4Tidak kurang dari
7,8
Kadar air2,7Tidak kurang dari
16,0

Hasil Evaluasi Mutu Fisik Sediaan Eye cream

Hasil evaluasi mutu fisik sediaan eye cream ekstrak daun teh hijau yang meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, tipe krim, daya lekat, dan uji sentrifugasi disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan Tabel 4, secara keseluruhan terdapat perbedaan pada seluruh parameter uji mutu fisik seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak.

Perbedaan karakteristik fisik terlihat pada Gambar 1. Gambar tersebut menunjukkan hasil uji organoleptik sediaan eye cream. formula tanpa ekstrak (F0) dan formula dengan ekstrak teh hijau (F1–F3). F0 berwarna putih susu, stabil, dan

Sulistiawati et al.

memiliki tekstur semi solid (Rachmawati 2024). Penambahan ekstrak teh hijau pada F1 (0,5%) menyebabkan warna menjadi hijau kekuningan, sementara F2 (5%) dan F3 (10%) menunjukkan

warna coklat kehijauan dengan tekstur yang semakin encer. Perubahan warna ini disebabkan oleh oksidasi senyawa aktif seperti EGCG (Dai et al. 2017).

Tabel 4. Hasil Evaluasi Mutu Fisik Sediaan Eye cream Ekstrak Daun Teh Hijau

ParameterFormulasi
F0F1F2F3
WarnaPutih susuPutih kekuninganCoklat kehijauanCoklat kehijauan
BauBau khasBau khasBau khasBau khas
TeksturSemi solidSemi solidSemi solidSemi solid
(kental)(kental)(sedikit encer)(lebih encer)
HomogenitasHomogenHomogenHomogenHomogen
PH5,16,07,69,2
Viskositas (m.pas)9096847030661736
Daya sebar (cm)4,25,46,16,8
Tipe krimMinyak dalam airMinyak dalam airMinyak dalam airMinyak dalam air
(M/A)(M/A)(M/A)(M/A)
Daya lekat (detik)108,433,311,24
SentrifugasiTidak memisahTidak memisahMemisahMemisah

Keterangan: setiap formula dibuat triplo dan di uji mutu fisiknya; nilai pada tabel merupakan rata-rata dari tiga kali pengujian

Keterangan: Gambar merupakan hasil uji organoleptik sediaan eye cream. (a) F0 (0% ekstrak daun teh hijau), (b) F1 (0,5% ekstrak daun teh hijau), (c) F2 (5% ekstrak daun teh hijau), (d) F3 (10% ekstrak daun teh hijau)

Gambar 1. Hasil Uji Organoleptik Sediaan Eye Cream

Hasil uji homogenitas menunjukkan Semua formula memiliki tekstur homogen tanpa partikel kasar, menandakan distribusi bahan aktif merata (Zam Zam and Musdalifah 2022). Uji pH menunjukkan bahwa F0 (5,1) dan F1 (6,0) berada dalam rentang aman untuk kulit(4,5–6,5)(Tungadi et al. 2023), namun F2 (7,6) dan F3 (9,2) melebihi batas dan berpotensi menyebabkan iritasi. Kenaikan pH ini disebabkan karena interaksi antara katekin dan trietanolamin (Sheskey et al. 2020). Hasil ANOVA menunjukkan pengaruh signifikan variasi ekstrak terhadap pH (p < 0,05).

Viskositas menurun seiring meningkatnya konsentrasi ekstrak, dari 9.096 mPa·s (F0) menjadi 1.736 mPa·s (F3). Penurunan ini disebabkan oleh interaksi senyawa asam-basa dalam formula dan hidrasi gliserin (Arief et al. 2023). Hanya F0, F1, dan F2 yang masih memenuhi standar viskositas (Tungadi et al. 2023). Hasil ANOVA menunjukkan perbedaan viskositas antar formula yang signifikan (p < 0,05).

Daya sebar meningkat secara bertahap, dari 4,2 cm (F0) hingga 6,8 cm (F3), sesuai dengan kecenderungan bahwa viskositas rendah meningkatkan daya sebar (Arief et al. 2023). Seluruh formula memenuhi standar (4–7 cm) (Baskara et al. 2020). Perbedaan daya sebar signifikan (p < 0,05).

Semua formula merupakan tipe emulsi minyak dalam air (M/A), sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2 yang menampilkan hasil uji tipe krim

sediaan eye cream. Hal ini dibuktikan dari pewarnaan metilen biru yang menyebar merata pada seluruh formula (Zam Zam dan Musdalifah 2022). Tipe emulsi ini sesuai untuk sediaan eye cream karena mudah diserap oleh kulit dan mudah dibersihkan (Oktaviani 2024).

Daya lekat terbaik dimiliki F0 (10 detik) dan F1 (8,43 detik). F2 (3,31 detik) dan F3 (1,24 detik) tidak memenuhi standar minimum >4 detik (Tungadi et al. 2023). Penurunan daya lekat berbanding lurus dengan viskositas yang menurun (Arief et al. 2023). ANOVA menunjukkan hasil signifikan (p < 0,05).

Uji sentrifugasi pada Gambar 3. menunjukkan F0 dan F1 stabil (tidak terjadi pemisahan fase).

Sebaliknya, F2 dan F3 menunjukkan pemisahan, dimana fase air berada dibagian bawah dan fase minyak dibagian atas Hal ini sesuai degan prinsip densitas, bahwa Partikel dengan densitas lebih kecil akan berada di atas sedangkan partikel dengan densitas lebih besar akan berada dibawah (Dewi et al. 2024). Pemisahan fase pada konsentrasi konsentrasi ekstrak yang tinggi juga disebabkan oleh viskositas sediaan eye cream. Menurut Hukum Stokes, kecepatan pemisahan fase berbanding terbalik dengan viskositas semakin rendah viskositas, maka semakin cepat terjadinya pemisahan (Ermawati dan Putri 2022). Oleh karena itu, penurunan viskositas pada formula dengan ekstrak tinggi menyebabkan kestabilan fisiknya menurun, yang ditunjukkan dengan terjadinya pemisahan fase selama uji sentrifugasi.

Keterangan: Gambar merupakan hasil uji tipe krim dari tiga kali pengujian. (a) F0 (0% ekstrak daun teh hijau), (b) F1 (0,5% ekstrak daun teh hijau), (c) F2 (5% ekstrak daun teh hijau), (d) F3 (10% ekstrak daun teh hijau)

Gambar 2. Hasil Uji Tipe Krim Sediaan Eye Cream

Keterangan: Gambar merupakan hasil uji sentrifugasi sediaan eye cream. (a) F0 (0% ekstrak daun teh hijau), (b) F1 (0,5% ekstrak daun teh hijau), (c) F2 (5% ekstrak daun teh hijau), (d) F3 (10% ekstrak daun teh hijau).

Gambar 3. Hasil Uji Sentrifugasi Sediaan Eye Cream

KESIMPULAN

Berdasarkan uji One-Way ANOVA, variasi konsentrasi ekstrak daun teh hijau berpengaruh signifikan terhadap mutu fisik sediaan eye cream, meliputi pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat (p < 0,05). Peningkatan konsentrasi ekstrak menyebabkan penurunan viskositas dan daya lekat, serta peningkatan pH dan daya sebar. Formula terbaik eye cream ekstrak daun teh hijau adalah F1 (0,5% ekstrak) karena memenuhi seluruh parameter mutu fisik sediaan eye cream.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
73th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

Physics 0.73
level 0
level 1
Chemistry 0.26
level 0

Institution Network

References

  1. Aji, A.P. et al. (2021) ‘Uji Aktifitas Serum Ekstrak Terpurifikasi Daun Apuh- Apuhan (Azolla Microphylla) Sebagai Antiaging’, Saintekes, 2(492), pp. 159–168. Available at: https://ejurnal.umri.ac.id/index.php/Semnasmipakes/article/download/2896/1591/.
  2. Alviola, A.B. et al. (2023) ‘Rasio Nilai Rendamen dan Lama Ekstraksi Maserat Etanol Daging Buah Burahol (Stelecocharpus burahol) Berdasarkan Cara Preparasi Simplisia’, Makassar Natural Product Journal, 1(3), pp. 176–184. Available at: https://journal.farmasi.umi.ac.id/index.php/mnpj.
  3. Amalia, A.P. (2024) Formulasi dan Uji Aktivitas Antioksidan Sediaan Krim Mata Ekstrak Buah Mundu (Garcinia Dulcis (Roxb.) Kurz), skripsi. Universitas Pancasila.
  4. Amini, H.M. et al. (2019) ‘Pengaruh Perbedaan Pelarut Ekstraksi Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb) Terhadap Aktivitas Antibakteri Staphylococus aures’, DIII Farmasi Politeknik Harapan bersama Tegal, (9), pp. 1–9.
  5. Ardila, tri tra (2020) Uji Total Fenol dan Aktivitas Antioksidan Daun Teh (Camellia Sinensis) Berdasarkan Tahun Pangkas Di Kebun Teh Wonosari Lawang, skripsi. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Available at: http://etheses.uin-malang.ac.id/24019/.
  6. Arief, M.O.V. et al. (2023) ‘Metode Ekstraksi Ampas Teh Hijau ( Camellia sinensis ( L .) Pengaruh terhadap Cutibacterium acnes dan Pembentukan Spot Cream’, Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia, 10, pp. 386–394. Available at: https://doi.org/10.20473/ jfiki.v10i32023.386-394.
  7. Arziyah, D. et al. (2022) ‘Jurnal Hasi Penelitian Dan Pengkajian Ilmiah Eksakta’, Jppie: Jurnal Hasi Penelitian Dan Pengkajian Ilmiah Eksakta, 01(02), pp. 105–109. Available at: http://jurnal.unidha.ac.id/index.php/jppie.
  8. Asworo, R.Y. and Widwiastuti, H. (2023) ‘Pengaruh Ukuran Serbuk Simplisia dan Waktu Maserasi terhadap Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Sirsak’, Indonesian Journal of Pharmaceutical Education, 3(2), pp. 256–263. Available at: https://doi.org/10.37311/ijpe.v3i2.19906. DOI: 10.37311/ijpe.v3i2.19906
  9. Cantika, F.M. and Priani, S.E. (2023) ‘Uji Aktivitas Antioksidan dan Inhibitor Tirosinase Ekstrak Etanol Daun Teh Hijau’, Jurnal Riset Farmasi, 3(2), pp. 113–120. Available at: https://doi.org/10.29313/jrf.v3i2.3262. DOI: 10.29313/jrf.v3i2.3262
  10. Chaikul, P. et al. (2020) ‘Anti-skin aging activities of green tea (Camellia sinensis (L) Kuntze) in B16F10 melanoma cells and human skin fibroblasts’, Journal Pre-proof, (July), pp. 1–26. Available at: https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.eujim.2020.101212 EUJIM 101212. DOI: 10.1016/j.eujim.2020.101212
  11. Chandra, R. (2020) ‘Aspek Dermatologi Penuaan Kulit Periorbital’, Cermin Dunia Kedokteran, 47(7), pp. 537–540. Available at: https://doi.org/10.55175/cdk.v47i9.920. DOI: 10.55175/cdk.v47i9.920
  12. Dai, Q. et al. (2017) ‘Effect of interaction of epigallocatechin gallate and flavonols on color alteration of simulative green tea infusion after thermal treatment’, Journal of Food Science and Technology, 54(9), p. 2928. Available at: https://doi.org/10.1007/s13197-017-2730-5. DOI: 10.1007/s13197-017-2730-5
  13. Damayanti (2017) ‘Penuaan Kulit dan Perawatan Kulit Dasar pada Usia Lanjut’, 29(1), pp. 73–80. Available at: https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/download/4155/2803/11845.
  14. Damayanti, L.T. (2021) Systematic Literature Review: Efek Antioksidan Teh Hijau (Camellia sinensis L.) Sebagai Antiaging, skripsi. universitas brawijaya. Available at: https://repository.ub.ac.id/id/eprint/184388/.
  15. Dewi, N.M.R.S. et al. (2024) ‘Formulasi dan Stabilitas Mikroemulsi Minyak Atsiri Serai Wangi ( Cymbopogon Nardus L .)’, Media Ilmiah dan Teknologi Pangan, 11(1), pp. 1–12.
  16. Dewi, O.D.P. (2021) Narrative Review: Evaluasi Sifat Fisik dan Stabilitas Formula Sediaan Topikal Teh Hijau (Camellia sinensis L.) sebagai Antioksidan, Proteksi UV, dan Antiaging bagi Kulit, skripsi. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Available at: https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/195670.
  17. Dominica, D. et al. (2025) ‘ORIGINAL ARTICLE Effect of palm leaf extract ( Elaeis Guineensis Jacq . ) addition on the viscosity of anti-acne sunscreen cream Pengaruh penambahan ekstrak kental daun kelapa sawit ( Elaeis Guineensis Jacq .) terhadap viskositas krim tabir surya antijera’, 1, pp. 181–186.
  18. Ermawati, D.E. and Putri, A.A. (2022) ‘Pengaruh Kecepatan Pencampuran Terhadap Sifat Fisik Lotion Nano-Ekstrak Etanol Kulit Buah Pisang (Musa balbisiana Colla) dan Daun Teh Hijau (Camellia sinensis L. Kuntze)’, Majalah Farmaseutik, 18(2), pp. 122–132. Available at: https://doi.org/10.22146/farmaseutik.v18i2.59209. DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i2.59209
  19. Fadhilah, Z.H. et al. (2021) ‘Review: Telaah Kandungan Senyawa Katekin dan Epigalokatekin Galat (EGCG) sebagai Antioksidan pada Berbagai Jenis Teh’, Jurnal Pharmascience, 8(1), pp. 31–44. Available at: https://doi.org/10.20527/jps.v8i1.9122. DOI: 10.20527/jps.v8i1.9122
  20. FHI (2017) farmakope herbal indonesia edisi edisi II, Kementerian kesehatan RI. Available at: https://doi.org/10.2307/jj.2430657.12. DOI: 10.2307/jj.2430657.12
  21. Gunawan, F.I. et al. (2024) ‘Kajian Metode Maserasi Ekstrak Daun Teh Hijau (Camellia sinensis) Dengan Berbagai Pelarut’, Jurnal Biology Science & Education, 13(1), pp. 66–75. Available at: https://jurnal.iainambon.ac.id/index.php/BS/article/view/7054/2174. DOI: 10.33477/bs.v13i1.7054
  22. Haerani, A. et al. (2018) ‘Antioksidan Untuk Kulit’, Farmaka, 16(2), pp. 135–151.
  23. Hidayati, R. et al. (2021) ‘Aplikasi Fosfat Pada Proses Ekstraksi Teh Hijau Untuk Minuman Teh Hijau Siap Minum’, Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 32(1), pp. 36–51. Available at: https://doi.org/10.6066/jtip.2021.32.1.36. DOI: 10.6066/jtip.2021.32.1.36
  24. Husna, R. (2019) ‘Formulasi Ekstrak Teh Hijau ( Camellia sinensis (L.) Kuntze) Merek B Sebagai Anti-Aging Dalam Sediaan Masker Sheet’, Medan: Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, pp. 17–19.
  25. Ikhsan, M.K. et al. (2023) ‘Formulasi Sediaan Krim Ekstrak Etanol Biji Kalabet (TRIGONELLA FOENUM-GRAECUM) dengan Basis Krim Tipe M/A dan Uji Aktivitas Antibakteri terhadap (STAPHYLOCOCCUS AUREUS)’, Kesehatan Tambusai, 4(September), pp. 3416–3428.
  26. Kusuma, A.E. and Aprileili, D.A. (2022) ‘Pengaruh Jumlah Pelarut Terhadap Rendemen Ekstrak Daun Katuk (Sauropus androgynus L. Merr)’, SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional, 1(2), pp. 125–135. Available at: https://doi.org/10.62018/sitawa.v1i2.22. DOI: 10.62018/sitawa.v1i2.22
  27. Li, N. et al. (2012) ‘Color and chemical stability of tea polyphenol (-)-epigallocatechin-3-gallate in solution and solid states’, Food Research International, 53(2), pp. 1–13. Available at: https://doi.org/10.1016/j.foodres.2012.11.019. DOI: 10.1016/j.foodres.2012.11.019
  28. Marta Lisnawati Zalukhu et al. (2016) ‘Proses Menua, Stres oksidatif, dan peran antioksidan. Cermin dunia kedokteran 245.’, Cermin Dunia Kedokteran, 43(10), pp. 733–736.
  29. Mulyani, L.N. et al. (2022) ‘Formulasi Masker Peel Off Nano dari Ekstrak Teh Hijau (Camelia sinensis) Pagar Alam Dengan Aktivitas Anti Aging’, Jurnal Farmasi Galenika, 9(3), pp. 119–134. Available at: https://journal.bku.ac.id/jfg/index.php/jfg/article/view/240. DOI: 10.70410/jfg.v9i3.240
  30. Nahor, E.M. et al. (2020) ‘Perbandingan Rendemen Ekstrak Etanol Daun Andong (Cordyline futicosa L.) Menggunakan Metode Ekstraksi Maserasi dan Sokhletasi’, Seminar Nasional Tahun 2020, pp. 40–44.
  31. Nurfita, E. et al. (2021) ‘Uji Stabilitas Formulasi Hand and Body Cream Ekstrak Etanol Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus lemairei)’, Jurnal Farmasi Dan Ilmu Kefarmasian Indonesia, 8(1), pp. 125–131. Available at: https://e-journal.unair.ac.id/JFIKI/article/download/21462/15364/115942. DOI: 10.20473/jfiki.v8i22021.125-131
  32. Octavia et al. (2023) ‘Identifikasi Organoleptik, dan Kelarutan Ekstrak Etanol Daun Pecut Kuda (Stachitarpeta jamaiensis (L.) Vahl) pada Pelarut dengan Kepolaran Berbeda’, Makasar Natural Product Journal, 4(21), pp. 203–211. Available at: https://journal.farmasi.umi.ac.id/indeks.php/mnpj.
  33. Oktaviani, A. (2024) Formulasi Dan Uji Aktivitas Antioksidan Sediaan Eye Cream Ekstrak Etanol Daun Tempuyung (Sonchus Arvensis L.) Menggunakan Metode Dpph (2,2-Difenil-1-Pikrihidazil), skripsi. Universitas Bhamada Slawi. Available at: http://repository.bhamada.ac.id/id/eprint.
  34. Okwani, Y. et al. (2020) ‘Formulasi Hydrogel Eye Mask Berbasis Ekstrak Limbah Kepala Udang Putih (Litopenaeus vannamei) Sebagai Suplemen dan Relaksasi Mata Lelah’, Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia, 6(2), pp. 111–117. Available at: https://doi.org/10.35311/jmpi.v6i2.63. DOI: 10.35311/jmpi.v6i2.63
  35. Parate, M.A. and Bajpai, N.D. (2020) ‘Formulation and Development of under Eye Cream by Using Aqueous Extract of Syzygium cumini’, International Journal of Pharmacy & Pharmaceutical Research, 17(3), pp. 344–354. Available at: www.ijppr.humanjournals.com.
  36. Rachmawati, R. (2024) formulasi dan uji antioksidan sediaan eye cream ekstrak Kulit Jeruk Nipis ( Citrus Aurantiifolia ( Christm .) Swingle ), skripsi. universitas pancasila. Available at: http://perpus-farmasi.univpancasila.ac.id/?p=show_detail&id=12957.
  37. Rahayu, P. et al. (2023) ‘Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Krim Pelembap Dan Antioksidan Kombinasi Ekstrak Kulit Buah Manggis Garcinia Mangostana L Dan Lidah Buaya Aloe Vera L’, Sainsbertek Jurnal Ilmiah Sains & Teknologi, 3(2), pp. 52–65. Available at: https://doi.org/10.33479/sb.v3i2.234. DOI: 10.33479/sb.v3i2.234
  38. Saragi, T.M. (2019) Formulasi Sediaan Masker Clay yang Mengandung Ekstrak Teh Hijau (Camellia sinensis L.) Sebagai Anti-Aging.
  39. Sari, D.E.M. and Fitrianingsih, S. (2020) ‘Analisis Kadar Nilai Sun Protection Factor (SPF) pada Kosmetik Krim Tabir Surya yang Beredar di Kota Pati Secara In Vitro’, Cendekia Journal of Pharmacy, 4(1), pp. 69–79. Available at: https://doi.org/10.31596/cjp.v4i1.81. DOI: 10.31596/cjp.v4i1.81
  40. Sheskey, P.J. et al. (2020) Handbook of Pharmaceutical Excipients.
  41. Sutomo, S. et al. (2021) ‘Standardisasi Simplisia dan Ekstrak Daun Matoa (Pometia pinnata J.R Forst & G. Forst) Asal Kalimantan Selatan’, Jurnal Pharmascience, 8(1), p. 101. Available at: https://doi.org/10.20527/jps.v8i1.10275. DOI: 10.20527/jps.v8i1.10275
  42. Suwarno, K.N. et al. (2024) ‘Edukasi pemanfaatan bahan alam untuk kosmetik guna membangun kesadaran masyarakat’, BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(3), pp. 2014–2022. Available at: https://doi.org/https://doi.org/10.31949/jb.v5i3.9256. DOI: 10.31949/jb.v5i3.9256
  43. Tan, J. et al. (2020) ‘Browning of Epicatechin (EC) and Epigallocatechin (EGC) by Auto-Oxidation’, Journal of Agricultural and Food Chemistry, 68(47), pp. 13879–13887. Available at: https://doi.org/10.1021/acs.jafc.0c05716. DOI: 10.1021/acs.jafc.0c05716
  44. Tari, M. and Indriani, O. (2023) ‘Formulasi Dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Krim Ekstrak Sembung Rambat ( Mikania Micrantha Kunth )’, 15(1), pp. 192–211. DOI: 10.36729/bi.v15i1.1074
  45. Tungadi, R. et al. (2023) ‘Formulasi dan Evaluasi Stabilitas Fisik Sediaan Krim Senyawa Astaxanthin’, Indonesian Journal of Pharmaceutical Education, 3(1), pp. 117–124. Available at: https://doi.org/10.37311/ijpe.v3i1.14612. DOI: 10.37311/ijpe.v3i1.14612
  46. Ulandari, D.A.T. et al. (2019) ‘Pengaruh Suhu Pengeringan Terhadap Kandungan Komponen Bioaktif dan Karakteristik Sensoris Teh White Peony’, Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan (ITEPA), 8(1), pp. 36–47. Available at: https://doi.org/10.24843/itepa.2019.v08.i01.p05. DOI: 10.24843/itepa.2019.v08.i01.p05
  47. Wibowo, F.B. and Tutik, P.A. (2024) ‘Standarisasi Mutu Simpilisia Kulit Bawang Merah’, Analis Farmasi, 9(2), pp. 163–172. Available at: https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/analisfarmasi/article/view/11857/pdf.
  48. Wijayanti, A. et al. (2023) ‘Pengaruh Penambahan Ekstrak Teh Hijau (Camellia sinensis) dalam Diluter Tris Kuning Telur Terhadap Kualitas Spermatozoa Sapi Bali (Bos sondaicus) Setelah Pembekuan’, Jurnal Medik Veteriner, 6(1), pp. 66–74. Available at: https://doi.org/10.20473/jmv.vol6.iss1.2023.66-74. DOI: 10.20473/jmv.vol6.iss1.2023.66-74
  49. Xie, C. et al. (2015) ‘Anti-aging effect of transplanted amniotic membrane mesenchymal stem cells in a premature aging model of bmi-1 deficiency’, Scientific Reports, 5(February), pp. 1–18. Available at: https://doi.org/10.1038/srep13975. DOI: 10.1038/srep13975
  50. Yana, N.D. et al. (2022) ‘Analisis Parameter Spesifik dan Nonspesifik Simplisia Daun Bawang Merah (Allium cepa L.)’, KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 8(1), pp. 45–52. Available at: https://doi.org/10.22487/kovalen.2022.v8.i1.15741. DOI: 10.22487/kovalen.2022.v8.i1.15741
  51. Yusharyahya, S.N. (2021) ‘Mekanisme Penuaan Kulit sebagai Dasar Pencegahan dan Pengobatan Kulit Menua’, eJournal Kedokteran Indonesia, 9(2), p. 150. Available at: https://doi.org/10.23886/ejki.9.49.150. DOI: 10.23886/ejki.9.49.150
  52. Zam Zam, A.N. and Musdalifah, M. (2022) ‘Formulasi dan Evaluasi Kestabilan Fisik Krim Ekstrak Biji Lada Hitam (Piper nigrum L.) Menggunakan Variasi Emulgator’, Journal Syifa Sciences and Clinical Research, 4(2), pp. 304–313. Available at: https://doi.org/10.37311/jsscr.v4i2.14146. DOI: 10.37311/jsscr.v4i2.14146