1. Home
  2. Archives
  3. Vol 1 (2012) Issue 1
  4. Articles

Ketelitian Model Kinematik untuk Memprediksi Karakteristik Longsor (Studi Kasus : Zona Longsor di Ciloto-Puncak, Jawa Barat)

Abstract

. The geodetic approach based on extraterrestrial survey measurements can be used to study phenomenon, especially to monitoring of material movement characteristic. Landslide is one of prominent catastrophe that continuously affecting in Indonesia, especially in rainy season. In mountainous terrain and areas of steep slope of Indonesia, landslides are frequent, especially where land cover has been removed. Landslides destroy not only environment and property, but usually also cause deaths. Landslide mitigation is therefore very crucial and should be done properly. The velocity and acceleration of several monitored point covering the landslide zone area can be estimated using the geodetic approach. Knowing the relation among these three variables in spatial and temporal domain will be useful for identifying the characteristics of landslide. This information can then be used for better strategy of landslide hazard mitigation. Accuracy of the use of kinematic models for prediction of avalanche characteristics need to be validated so that mitigation will be done correctly. Validation is done by doing a comparison between model predictions and the size of the data and statistical tests for the feasibility of prediction of each point of the GPS monitor. Validation is known that the predicted results at some GPS monitor point is not suitable for use. With the vector of the movement of materials, we know the direction and scalar, velocity and acceleration of material displacement. The movement of landslide materials at Ciloto Zone dominated north-west to south-easterly direction and speed to slow very slow (creep). Keywords: accuracy, characteristics, kinematic model, landslide.

1 Pendahuluan

Longsor merupakan bencana alam yang sering mengancam morfologi lereng di kawasan berbukit atau pegunungan, khususnya di musim hujan. Bencana longsor menyebabkan kerugian besar dalam perekonomian, bahkan mengancam keselamatan manusia. Berdasarkan laporan tentang bencana longsor dari Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (2005) diketahui bahwa Indonesia memiliki ± 918 lokasi rawan longsor yang tersebar di 11 propinsi, yaitu Jawa Tengah 327 lokasi, Jawa Barat 276 lokasi, Sumatera Barat 100 lokasi, Sumatera Utara 53 lokasi, Yogyakarta 30 lokasi, Kalimantan Barat 23 lokasi dan sisanya tersebar di Nusa Tenggara Timur, Riau, Kalimantan Timur, Bali, dan Jawa Timur. Dalam kurun waktu tahun 2003 – 2005 telah terjadi 103 kejadian bencana longsor, seperti pada Tabel 1.

Tabel 1 Daftar Kejadian dan Korban Bencana Longsor Tahun 2003 – 2005

No.PropinsiJml.Korban JiwaRumahRumahRumahLhn PertanianJln
KejadianTewasLukaHancurRusakTerancamRusak (Ha)Terputus
(m)
1.Jawa Barat7716610819817512290140705
2.Jawa Tengah151793122200175
3.Jawa Timur13--27-70-
4.Sumatera Barat563251614-54060
5.Sumatera Utara3126-1408-80
6.Sulawesi Selatan133210----
7.Papua135-----
Jumlah10341114925618542498751920

Sumber : Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral

Dengan demikian pemantauan terhadap perilaku material penyusun lereng penting dilakukan sebagai upaya meminimalis bencana longsor. Metode-metode yang ada untuk memantau perilaku material penyusun lereng dengan menghitung faktor keamanan (factor of safety) sebagai nilai yang menyatakan kestabilan lereng. Perhitungan tersebut menggunakan besaran-besaran fisik, seperti geometrik lereng, ketahanan material penyusun lereng, hidrogeologi, cuaca, stratigrafi, dan struktur batuan geologi. Penggunaan besaran fisik dapat menghasilkan suatu keluaran yang realistik dalam mewakili fenomena longsor. Tetapi pengukuran besaran fisik di lapangan berkaitan dengan keberagaman material dan kondisi alam sehingga memerlukan perangkat yang relatif mahal dan tidak mudah pengadaannya.

Dalam memantau pergerakan material longsor, pengukuran geodetik dapat lebih murah, praktis, dan mampu mencakup area yang lebih luas. Tetapi pemanfaatan metode geodetik belum dikembangkan hingga mampu berperan untuk mengetahui perilaku material penyusun lereng atau karakteristik dari suatu fenomena longsor sehingga dapat memberikan kontribusi dalam rangka mitigasi bencana longsor. Perilaku material penyusun lereng dapat diketahui melalui status vektor perpindahan posisi titik pantau geodesi, kecepatan, dan percepatan. Arah dan besar perpindahan titik pantau geodesi, kecepatan, dan percepatan dapat dijadikan masukan bagi penentuan strategi mitigasi bencana longsor.

2 Area Studi dan Pengumpulan Data

Area studi yang dipilih adalah zona longsor pada lereng seluas ± 40 hektar yang berada pada posisi geografis 1070000 – 1070020 BT dan 064240 – 064300 LS, yang berada pada kilometer 88.1 jalur jalan Cianjur – Puncak di Kampung Baru – Puncak Desa Ciloto Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Dalam Sugalang [13], kawasan puncak Ciloto dibagi menjadi lima unit morfologi, yaitu unit I yang meliputi area kompleks Gunung Lemo, unit II meliputi area kompleks Pondok Cikoneng, Gunung Mas, Gunung Gedogan, dan Gunung Joglok, unit III meliputi area Puncak, Jember, dan sekitarnya, unit IV meliputi area kompleks Sindanglaya, dan unit V merupakan lereng perbukitan area Cempaka, Tugu, dan sekitarnya, dapat dilihat pada gambar 1. Dengan adanya pembagian morfologi ini maka arah aliran air tanah dapat diketahui, termasuk area akumulasi air. Unit I dan II berperan sebagai area infiltrasi air dengan curah hujan tinggi dan unit III, IV, dan V merupakan area aliran air yang bersifat lokal. Zona longsor berada pada unit morfologi III, seperti pada gambar 2. Pada unit III, air tanah akan terakumulasi. Air tanah tersebut akan merembes melalui lapisan batuan permeabel (lapisan pasir) dan mencapai unit IV. Sebelum mencapai unit IV, air tanah akan melewati unit III. Hal ini akan meningkatkan tekanan air pori, sebagai ilustrasi dapat dilihat pada gambar 3. Oleh sebab itu yang paling mungkin mengalami longsor adalah unit III. Kondisi ini sebagai salah satu penyebab terjadinya longsor.

Gambar 1 Morfologi di Sekitar Zona Longsor

2

Gambar 2 Aliran Air di Sekitar Zona Longsor 13

Pemantauan terhadap zona longsor Ciloto dilakukan dengan survei GPS (2002 – 2005). Penentuan lokasi pemasangan titik-titik pantau GPS ini mengacu pada informasi geologi mengenai peta daerah longsor, hasil analisis obstruksi pengamatan satelit GPS, dan faktor kestabilan titik pantau yang sudah ada, dapat dilihat pada gambar 3. Berdasarkan jarak terhadap gawir utama, posisi titik GPS1, GPS2, GPS3, GPS4 dan GP13 berada pada bagian atas zona longsor, titik GPS5, GPS6, GPS7, GPS9, GP10, M010 berada pada bagian tengah zona longsor dan titik GPS8, GP11, GP12 berada pada bagian bawah zona longsor, dekat di sungai Cijember.

Gambar 3 Sebaran Titik-Titik Pantau GPS

Survei GPS yang dilakukan menggunakan metode statik differensial dengan alat receiver geodetik frekuensi ganda (dual frequency), lama survei berkisar antara 4 – 6 jam dengan interval perekaman data per 30 detik dan sudut elevasi 15° sehingga terhindar dari multipath/sinyal pantulan (lihat tabel 2).

Tabel 2 Strategi Survei GPS

Metode PengamatanStatik diferensial
Jenis AlatReceiver tipe Geodetik dual frequency
Data yang digunakanKode P dan Kode C/A
Gelombang Pembawa L1 dan L2
Lama Pengukuran4 – 6 jam
Interval Epok30 detik
Sudut Elevasi15 0

Survei GPS terhadap titik-titik pantau dilakukan secara periodik sebanyak 5 (lima) kala. Kala 1 dilakukan tanggal 21 – 22 Januari 2002, yang merupakan musim penghujan terhadap 15 titik pantau dengan 2 titik referensi, kala 2 dilakukan tanggal 4 – 5 April 2002, yang merupakan musim kemarau terhadap

15 titik pantau GPS yang diamati 15 buah, kala 3 dilakukan tanggal 10 Mei 2003, yang merupakan musim kemarau terhadap 12 titik pantau (3 titik pantau tidak diamati karena mempunyai obstruksi yang kurang bagus) dan 1 titik referensi, kala 4 dilakukan tanggal 14 – 15 Mei 2004, yang merupakan musim kemarau terhadap 12 titik pantau, dan terakhir kala 5 dilakukan tanggal 3 – 4 Juli 2005, yang merupakan musim kemarau terhadap 12 buah dan 1 titik referensi.

3 Metodologi

Pendekatan kerangka pikir yang digunakan dapat dilihat pada gambar berikut ini.

5

Gambar 4 Kerangka Pikir

Apabila data pengukuran atau pengamatan yang dilakukan hanya dua periode waktu maka prediksi sangat diperlukan sehingga upaya mitigasi tetap dapat dilakukan dengan tepat.

Perpindahan posisi titik pantau diperoleh dengan menghitung selisih dua koordinat dari dua kala yang berurutan sehingga dihasilkan vektor perpindahan posisi titik pantau dalam arah easting, northing, dan beda tinggi, yang disebut sebagai model statik.

\[d_i = x_i^{(1)} - x_i^{(2)} \tag{1}\]

Dalam Yalcinkaya dkk [15], untuk memperoleh nilai kecepatan dan percepatan perpindahan material lereng digunakan model kinematik yang diaplikasikan terhadap data survei GPS. Dari model statik kemudian dikembangkan menjadi model kinematik, yang merupakan fungsi dari perpindahan posisi, kecepatan, dan percepatan titik pantau. Apabila disajikan dalam bentuk persamaan, dapat dilihat pada persamaan berikut ini:

\[E_{j}^{(i)} = E_{j}^{(i-1)} + (t_{i} - t_{i-1})V_{Ej} + \frac{1}{2}(t_{i} - t_{i-1})^{2} a_{Ej}\] \[N_{j}^{(i)} = N_{j}^{(i-1)} + (t_{i} - t_{i-1})V_{Nj} + \frac{1}{2}(t_{i} - t_{i-1})^{2} a_{Nj}\] \[h_{j}^{(i)} = h_{j}^{(i-1)} + (t_{i} - t_{i-1})V_{hj} + \frac{1}{2}(t_{i} - t_{i-1})^{2} a_{hj}\] (2)

Persamaan [1] disusun berdasarkan parameter yang akan dicari maka dibentuk persamaan berikut :

\[E_{j}^{(i)} = E_{j}^{(i-1)} + (t_{i} - t_{i-1})V_{Ej} + \frac{1}{2}(t_{i} - t_{i-1})^{2} a_{Ej}\] \[N_{j}^{(i)} = N_{j}^{(i-1)} + (t_{i} - t_{i-1})V_{Nj} + \frac{1}{2}(t_{i} - t_{i-1})^{2} a_{Nj}\] \[h_{j}^{(i)} = h_{j}^{(i-1)} + (t_{i} - t_{i-1})V_{hj} + \frac{1}{2}(t_{i} - t_{i-1})^{2} a_{hj}\] \[V_{Ej}^{i} = V_{Ej} + \frac{1}{2}(t_{i} - t_{i-1})^{2} a_{Ej}\]

\[V_{Nj}^{i} = V_{Nj} + \frac{1}{2} (t_{i} - t_{i-1})^{2} a_{Nj}\] \[V_{hj}^{i} = V_{hj} + \frac{1}{2} (t_{i} - t_{i-1})^{2} a_{hj}\] \[a_{Ej}^{i} = a_{Ej}\] \[a_{Nj}^{i} = a_{Nj}\] \[a_{hi}^{i} = a_{hi}\] (3)

Kecepatan longsor titik pantau diperoleh dari perpindahan posisi dua kala dibagi dengan selang waktu antara dua kala survei GPS, sementara percepatan longsor titik pantau diperoleh dari perpindahan posisi dua kala dibagi dengan kuadrat selang waktu antara dua kala survei GPS. Untuk memprediksi koordinat posisi titik pantau, kecepatan dan percepatan maka persamaan disusun dalam bentuk matriks:

\[\bar{Y}_{i,1} = \begin{bmatrix} E \\ N \\ h \\ V_E \\ V_N \\ V_h \\ a_E \\ a_N \\ a_h \end{bmatrix}_{i,1} = \begin{bmatrix} I_{3,3} & I_{3,3}(t_i - t_{i-1}) & I_{3,3} \frac{(t_i - t_{i-1})^2}{2} \\ 0_{3,3} & I_{3,3} & I_{3,3}(t_i - t_{i-1}) \\ 0_{3,3} & 0_{3,3} & I_{3,3} \end{bmatrix}_{a_1} \begin{bmatrix} E \\ N \\ h \\ V_E \\ V_N \\ V_h \\ a_E \\ a_N \\ a_h \end{bmatrix}_{i,1} (4)\]

\[\overline{Y}_{i,1} = T_{i,(i-1)} \hat{Y}_{(i-1),1} \tag{5}\]

\[Q_{Yi,Yi} = T_{i,(i-1)}Q_{Y(i-1),Y(i-1)}T_{i,(i-1)}^{T}\] (6)

\[\hat{L}_{i,1} = L_{i,1} + v_{Li,1} = A_{i,i} \hat{Y}_{i,1}\]

\[v_{Li,1} = A_{i,i}\hat{Y}_{i,1} - L_{i,1} \tag{7}\]

\[\hat{L} = F(dE, dN, dh, V_E, V_N, V_h, a_E, a_N, a_h);\]

terdiri dari jarak \(\hat{J}_i\) dan beda waktu \(\Delta \hat{t}_{i|i-1}\)

\[\hat{J}_{i} = \sqrt{(dE^{2} + dN^{2} + dh^{2})};\] \[\Delta \hat{t} = \frac{\sqrt{(V_{E}^{2} + V_{N}^{2} + V_{h}^{2})}}{\sqrt{(a_{E}^{2} + a_{N}^{2} + a_{h}^{2})}};\]

Sehingga persamaan [7] dapat ditulis sebagai berikut:

\[\begin{bmatrix} v_{J_i} \\ v_{\Delta t} \end{bmatrix} = \begin{bmatrix} \frac{dE}{J} & \frac{dN}{J} & \frac{dh}{J} & 0 & 0 & 0 & 0 & 0 & 0 \\ 0 & 0 & 0 & \frac{V_E}{V.a} & \frac{V_N}{V.a} & \frac{V_h}{V.a} & \frac{-a_E V}{a^3} & \frac{-a_N V}{a^3} & \frac{-a_h V}{a^3} \\ \end{bmatrix} \begin{bmatrix} \frac{dE}{dN} \\ V_E \\ V_N \\ V_h \\ a_E \\ a_N \\ a_h \end{bmatrix} - \begin{bmatrix} J_i - J_i^{\circ} \\ \Delta t - \Delta t_{i,i-1}^{\circ} \end{bmatrix}\]

Pada perhitungan awal, nilai pendekatan jarak \(J_i^{\circ}\) dan beda waktu \(\Delta t_{i,i-1}^{\circ}\) dianggap sama dengan nol. Perhitungan dilakukan menggunakan metode Kalman Filtering.

4 Hasil dan Diskusi

Untuk mengetahui ketepatan model matematika dalam memprediksi parameter yang dicari maka dilakukan komparasi hasil prediksi menggunakan model dengan hasil pengukuran. Hasil prediksi posisi (E,N,h) dapat dibandingkan dengan data ukuran dari kala yang sama. Prediksi koordinat, kecepatan dan percepatan pada titik pantau GP12, GP13 dan GP14 dilakukan menggunakan data kala 1-2 karena survei GPS di titik tersebut mengalami obstruksi. Standar deviasi pada ketiga titik tersebut mengalami loncatan nilai sehingga diputuskan untuk tidak menggunakannya pada tahap selanjutnya. Pada grafik dalam gambar 5, nilai posisi titik pantau hasil prediksi memiliki nilai lebih kecil dibandingkan dengan hasil pengukuran tetapi memiliki kecenderungan garis kurva yang sama dengan data ukuran.

2

Gambar 5 Prediksi vs Data Ukuran Status Vektor

Status kecepatan dan percepatan prediksi pada beberapa titik pantau memiliki loncatan nilai, yaitu titik pantau GPS7, GP11 dan GP14 secara horisontal, sementara titik pantau GPS7 dan GP10 memiliki loncatan nilai secara vertikal, seperti pada gambar 7.

3 4

Gambar 7 Kecepatan & Percepatan Prediksi vs Data Ukuran

Dalam Abidin dkk [2], untuk mengetahui hasil perhitungan parameter (perubahan posisi, kecepatan dan percepatan) suatu titik signifikan atau tidak maka dilakukan uji statistik T-Student. Hipotesa nol : tidak ada pergerakan sehingga persamaannya menjadi :

\[H_0: d_i = x_i^{(1)} - x_i^{(2)} = 0\]

Hipotesa tandingan:

\[H_1: d_i \neq 0 \tag{8}\]

Untuk melakukan test hipotesa nol maka dilakukan perhitungan nilai dengan sebaran T-Student. Sebaran T-student untuk perubahan posisi dihitung dengan persamaan :

\[T = \delta d_{12} / (\sigma \delta d_{12})\] \[\delta d_{12} = \sqrt{(dE_{12}^2 + dN_{12}^2 + dh_{12}^2)}\] \[\sigma \delta d_{12} = \sqrt{\frac{(dE_{12}^2 \sigma dE_{12}^2 + dN_{12}^2 \sigma dN_{12}^2 + dh_{12}^2 \sigma dh_{12}^2)}{\delta d_{12}^2}}\]

Untuk Kecepatan:

\[T = \delta V_{12} / (\sigma \delta V_{12})\] \[\delta V_{12} = \sqrt{(V_{E_{12}}^2 + V_{N_{12}}^2 + V_{h_{12}}^2)}\] \[\sigma \delta V_{12} = \sqrt{\frac{(V_{E_{12}}^2 \sigma V_{E_{12}}^2 + V_{N_{12}}^2 \sigma V_{N_{12}}^2 + V_{h_{12}}^2 \sigma V_{h_{12}}^2)}{\delta V_{12}^2} }\] \[(10)\]

Untuk Percepatan:

\[T = \delta a_{12} / (\sigma \delta a_{12})\] \[\delta a_{12} = \sqrt{(a_{E_{12}}^2 + a_{N_{12}}^2 + a_{h_{12}}^2)}\] \[\sigma \delta a_{12} = \sqrt{\frac{(a_{E_{12}}^2 \sigma a_{E_{12}}^2 + a_{N_{12}}^2 \sigma a_{N_{12}}^2 + a_{h_{12}}^2 \sigma a_{h_{12}}^2)}{\delta a_{12}^2}}\] (11)

Dalam Abidin dkk [3], apabila maka hipotesa nol tidak benar dan hipotesa tandingan yang benar maka dapat dikatakan bahwa perubahan koordinat sebagai indikasi adanya longsor bersifat signifikan. Dalam survei GPS ini nilai perpindahan posisi diturunkan dari data pengamatan beberapa satelit selama empat sampai enam jam dengan interval waktu perekaman 30 detik maka dapat diasumsikan bahwa df = . Dengan tingkat kepercayaan 99% ( = 1%) maka t,0.005 adalah 2.576. df , / 2 T t

Tabel 3 Hasil Uji Statistik T-Student pada Model Kinematik

kala 1-2T>tdf,a/2kala 2-3T>tdf,a/2kala 3-4T>tdf,a/2kala 4-5T>tdf,a/2
Nama
TtkTposisiTposisiTposisiTposisi
GPS125.7231766Ya2832854824Ya2861435868Ya2584545401Ya
GPS213.0810104Ya2449475248Ya2702174053Ya1368915708Ya
GPS38.19783237Ya1922928874Ya10047705323Ya6360778003Ya
GPS44.57127306Ya2202379446Ya6280362494Ya1464648930Ya
GPS510.2253675Ya3389589462Ya1112137090Ya1275589491Ya
GPS61.3775635Tidak1219610064Ya1932866205Ya3986442841Ya
GPS7534.918693Ya1.2401E+10Ya19398099280Ya93152547433Ya
GPS850.2529238Ya3565465078Ya5725118568Ya6287505597Ya
GPS915.761611Ya516615294Ya4649802232Ya2461097835Ya
GP109.57030623Ya486496848Ya11503100254Ya8059020225Ya
GP11511.963816Ya5354963508Ya18043916165Ya1.19046E+11Ya
GP129.74088545Ya4892811108Ya2857835840Ya1993448213Ya
GP130.82880567Tidak603454273Ya357404994.8Ya249335347.8Ya
GP14274.444431Ya1.3535E+11Ya80520142640Ya56170536122Ya
M0104.989052Ya3250863908Ya3896110135Ya602967563.7Ya
Nama
TtkTkecTkecTkecTkec
GPS14504845554Ya7680880877Ya7179918325Ya8145482290Ya
GPS23616156389Ya7916762519Ya5217041397Ya3397313270Ya
GPS31058732695Ya2074929931Ya19520909033Ya16352338442Ya
GPS41336724122Ya7624774602Ya14470093828Ya4839013306Ya
GPS51749089256Ya1.0882E+10Ya2598964854Ya2238874274Ya
GPS6342229009Ya7785891080Ya2599025577Ya7745422790Ya
GPS78.7481E+10Ya3.3928E+10Ya50200236754Ya3.83932E+11Ya
GPS81.0934E+10Ya1.0711E+10Ya14879304853Ya27086732826Ya
GPS94178349706Ya1626080465Ya11624851533Ya8822291060Ya
GP102563452393Ya1501545085Ya21137487427Ya21786579186Ya
GP111.1229E+11Ya1.2843E+10Ya43081173454Ya4.45475E+11Ya
GP122305720479Ya5242915324Ya4048118201Ya3896181994Ya
GP13288415257Ya655823225Ya506357830.3Ya487361157Ya
GP146.4972E+10Ya1.4774E+11Ya1.14071E+11Ya1.09785E+11Ya
M0101613823564Ya1.0992E+10Ya7479563039Ya2512842985Ya
Nama
Ttk
TpercTpercTpercTperc
GPS17709130376Ya1.0924E+10Ya10219349827Ya11586862646Ya
GPS26188851210Ya1.126E+10Ya7425662454Ya4832689848Ya
GPS31811779576Ya2951078106Ya27784140700Ya23260759699Ya
GPS42287547631Ya1.0844E+10Ya20595740480Ya6883454358Ya
GPS52993248579Ya1.5476E+10Ya3698998324Ya3184794632Ya
GPS6585655262Ya1.1074E+10Ya3699232897Ya11018150477Ya
GPS71.4971E+11Ya4.8254E+10Ya71454905074Ya5.46141E+11Ya
GPS81.85E+10Ya1.5234E+10Ya21178050013Ya38531095697Ya
GPS97150562551Ya2312649503Ya16545833614Ya12550111319Ya
GP104385689154Ya2135585385Ya30086610038Ya30991823001Ya
GP111.9216E+11Ya1.8267E+10Ya61317246526Ya6.33684E+11Ya
GP123945865786Ya5500023117Ya4132405223Ya3945865786Ya
GP13493564263Ya687962281Ya516893016.9Ya493564263.2Ya
GP141.1119E+11Ya1.5498E+11Ya1.16445E+11Ya1.11189E+11Ya
M0102761660645Ya1.5634E+10Ya10645923506Ya3574582946Ya

Dari hasil uji statistik dengan T-Student terhadap status vektor prediksi menggunakan model kinematik diketahui bahwa hipotesa nol ditolak atau hipotesa tandingan diterima untuk dua belas titik pantau GPS, kecuali GPS6 dan GP13 pada kala 1-2.

5 Kesimpulan

Dengan uji statistika maka diketahui bahwa hasil prediksi sebagian besar titik pantau dapat digunakan sebagai data untuk dianalisis, kecuali titik pantau GPS6 dan GP13 pada kala 1-2. Dari vektor pergerakan material longsor akan diketahui arah dan besar perpindahannya, kecepatan dan percepatan geraknya.

Perpindahan horizontal titik pantau yang diperoleh survei GPS dipengaruhi oleh tekanan akibat aliran air dari unit morfologi I, II, dan V serta terlihat adanya tekanan dari unit morfologi IV, sebagai rembesan. Tekanan air yang terbesar berasal dari unit morfologi II dan V. Pengaturan aliran air dari unit morfologi tersebut dapat menjadi suatu upaya pencegahan berlanjutnya tanah longsor di Ciloto. Tekanan air yang disebabkan oleh morfologi sekitar zona longsor tersebut mempengaruhi perpindahan vertikal material lereng. Dominasi arah perpindahan material dapat diperkirakan, yaitu dari arah barat laut ke tenggara.

Kecepatan perpindahan material lereng Ciloto termasuk dalam kelompok lambat sampai sangat lambat. Akibat yang akan ditimbulkan pada lingkungan sekitar adalah melengkungnya retakan tanah dan bangunan serta batang pepohonan yang melengkung. Kecepatan bergerak yang terbesar adalah pada bagian tengah zona longsor sehingga penggunaan lahan yang berada di bagian tersebut harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak merugikan perekonomian dan jiwa manusia.

6 Nomenclature

aE=percepatan dalam arah sumbu koordinat x
(Easting), satuan meter/bulan2
aN=percepatan dalam arah sumbu koordinat y
(Northing), satuan meter/bulan2
ah=percepatan dalam arah vertikal, satuan
meter/bulan2
Ai,I=matriks desain, yang berisi turunan terhadap
parameter
dj=vektor perubahan koordinat titik pantau atau
mewakili pergerakan material longsor

E = Easting; nilai posisi titik dalam arah sumbu koordinat x (timur) dalam proyeksi UTM, satuan meter

h = height; tinggi titik di atas ellipsoid referensi GRS'80, satuan meter

i = kala survei GPS 1, 2, 3, ...

j = nomor titik pantau GPS1, GPS2, M010, ...

\(\hat{j}_i\) = jarak

\(\hat{L}_{i,1}\) = matriks data survei GPS yang dianggap benar, yang merupakan fungsi dari prediksi status vektor kala i atau parameter

N = Northing; nilai posisi titik dalam arah sumbu koordinat y (utara) dalam proyeksi UTM, satuan

\(Q_{Y(i-1),Y(i-1)}\) = matriks kofaktor status vektor kala (i-1)

\(Q_{y_i,y_i}\) = matriks kofaktor prediksi status vektor kala i

t = selang kala survei GPS

\(\Delta t_{i,i-1}^{\circ}\) = beda waktu

\(T_{i(i-1)}\) = matriks prediksi

V<sub>E</sub> = kecepatan dalam arah sumbu koordinat x (Easting), satuan meter/bulan

\(V_N\) = kecepatan dalam arah sumbu koordinat y

(Northing)), satuan meter/bulan

\(V_h\) = kecepatan dalam arah vertikal, satuan meter/bulan

meter/bulan

\(v_{Li}, v_{Ji}, v_{\Delta t}\) = matriks koreksi data survei GPS, matriks koreksi jarak dan matriks koreksi beda waktu

\(x_j^{(1)}, x_j^{(2)}\) = vektor koordinat titik dari periode 1 dan 2 (E, N, h)<sup>(1)</sup> dan (E, N, h)<sup>(2)</sup>

\(\hat{Y}_{(i-1),1}\) = matriks status vektor (posisi, kecepatan dan percepatan) kala (i-1)

\(\overline{Y}_{i,1}\) = matriks prediksi status vektor kala i

7 Daftar Pustaka

  • [1] Abidin, H.Z., H. Andreas, M. Gamal, M.A. Kusuma, D. Darmawan Surono, M. Hendrasto, O. K. Suganda, Studying Landslide Displacements in Ciloto Area (Indonesia) Using GPS Survey Method, Spatial Science, 2005.
  • [2] Abidin, H.Z., H.Andreas, M.Gamal, Surono, M.Hendrasto, Studi Gerakan Tanah di Kawasan Rawan Longsor Ciloto (Jawa Barat) dengan Survei GPS, Journal JTM Vol. XI, No. 1. pp. 33-40, 2004.
  • [3] Abidin, H.Z., H.Andreas, M.Gamal, Surono, M.Hendrasto, Studying Landslide Displacement in Megamendung (Indonesia) Using GPS Survey Method, Proc ITB Eng. Science. Vol 36B, No. 2. pp. 109-123, 2004.
  • [4] Abramson, Lee W., Thomas S. Lee, Sunil Sharma, Glenn M. Boyce, Slope Stability and Stabilization Methods, 1 st ed., John Wiley & Sons Inc, pp. 629, 1996.
  • [5] Bowles, J. E. & Johan K. Hainim, Sifat-Sifat Fisis dan Geoteknis Tanah (Mekanika Tanah), 2 nd ed., Penerbit Erlangga, pp. 578, 1984.
  • [6] Dikau, Richard, Denys Brunsden, Lothar Schrott, Maia-Laura Ibsen, Landslide Recognition-Identification, Movement and Causes, Report No.1 of the European Comission Enviroment Programme, John Wiley and Sons, 1996.
  • [7] Hartinger, H., F. K. Brunner, Development of a Monitoring System of Landslide Motion Using GPS, 9th FIC Symposium on Deformation Monitoring Glsztyn, pp. 29-38, 2003.
  • [8] Philip, P., Large Landslides Monitored in Real Time on the World Wide Web, 1999.
  • [9] Santoso, Djoko, Longsoran pada Jalur Lipatan Kuat Batuan Sedimen Turbidit Jawa Barat sebagai Kasus Khusus Gerakan Tanah dengan Longsoran di Desa Cikareo-Majalengka sebagai Model, Institut Teknologi Bandung, Bandung, 1990.
  • [10] Schuster, Robert L. & Raymond, J. K., Landslides Analysis and Control, National Academy of Sciences, pp. 234, 1978.
  • [11] Selby, M. J., Hillslope Materials and Processes, Oxford university press, 2 nd ed., pp. 520, 2000.
  • [12] Selby, M. J., Earth Earth's Changing Surface - An Introduction to Geomorphology, Oxford University Press, 1 st ed., pp. 607, 1985.
  • [13] Sugalang, Landslide in Ciloto Area West Java Indonesia, theses, Department of Soil Mechanics, Luleå University of Technology, 1989.
  • [14] Tzenkov, T. & Slaveiko, G., Geometric Analysis of Geodetic Data for Invegtigation of 3D Landslide Deformations, Natural Hazards Review 10.1061/(ASCE) 1527-6988 (2003) 4:2 (78), 2003.

  • [15] Yalcinkaya, Mualla & Temel, Bayrak, Comparison of Static, Kinematic and Dynamic Geodetic Deformation Models for KutlugÜn Landslide in Northeastern Turkey, Natural Hazard 34. pp 91-95, 2004.
  • [16] Zâruba, Q., & Vojtêch, Mencl., Landslides and Their Control, Czechoslovak Academy of Sciences, pp. 193, 1969.

References

  1. Abidin, H.Z., H. Andreas, M. Gamal, M.A. Kusuma, D. Darmawan Surono, M. Hendrasto, O. K. Suganda, Studying Landslide Displacements in Ciloto Area (Indonesia) Using GPS Survey Method, Spatial Science, 2005.
  2. Abidin, H.Z., H.Andreas, M.Gamal, Surono, M.Hendrasto, Studi Gerakan Tanah di Kawasan Rawan Longsor Ciloto (Jawa Barat) dengan Survei GPS, Journal JTM Vol. XI, No. 1. pp. 33-40, 2004.
  3. Abidin, H.Z., H.Andreas, M.Gamal, Surono, M.Hendrasto, Studying Landslide Displacement in Megamendung (Indonesia) Using GPS Survey Method, Proc ITB Eng. Science. Vol 36B, No. 2. pp. 109-123, 2004.
  4. Abramson, Lee W., Thomas S. Lee, Sunil Sharma, Glenn M. Boyce,
  5. Slope Stability and Stabilization Methods, 1st ed., John Wiley & Sons Inc, pp. 629, 1996.
  6. Bowles, J. E. & Johan K. Hainim, Sifat-Sifat Fisis dan Geoteknis Tanah (Mekanika Tanah), 2nd ed., Penerbit Erlangga, pp. 578, 1984.
  7. Dikau, Richard, Denys Brunsden, Lothar Schrott, Maia-Laura Ibsen,
  8. Landslide Recognition-Identification, Movement and Causes, Report No.1 of the European Comission Enviroment Programme, John Wiley and Sons, 1996.
  9. Hartinger, H., F. K. Brunner, Development of a Monitoring System of Landslide Motion Using GPS, 9th FIC Symposium on Deformation Monitoring Glsztyn, pp. 29-38, 2003.
  10. Philip, P., Large Landslides Monitored in Real Time on the World Wide Web, 1999.
  11. Santoso, Djoko, Longsoran pada Jalur Lipatan Kuat Batuan Sedimen Turbidit Jawa Barat sebagai Kasus Khusus Gerakan Tanah dengan Longsoran di Desa Cikareo-Majalengka sebagai Model, Institut Teknologi Bandung, Bandung, 1990.
  12. Schuster, Robert L. & Raymond, J. K., Landslides Analysis and Control, National Academy of Sciences, pp. 234, 1978.
  13. Selby, M. J., Hillslope Materials and Processes, Oxford university press, 2nd ed., pp. 520, 2000.
  14. Selby, M. J., Earth Earth
  15. Sugalang, Landslide in Ciloto Area West Java Indonesia, theses, Department of Soil Mechanics, Lule¥ University of Technology, 1989.
  16. Tzenkov, T. & Slaveiko, G., Geometric Analysis of Geodetic Data for Invegtigation of 3D Landslide Deformations, Natural Hazards Review 10.1061/(ASCE) 1527-6988 (2003) 4:2 (78), 2003. DOI: 10.1061/(asce
  17. Yalcinkaya, Mualla & Temel, Bayrak, Comparison of Static, Kinematic and Dynamic Geodetic Deformation Models for Kutlugoen Landslide in Northeastern Turkey, Natural Hazard 34. pp 91-95, 2004.
  18. Z¢ruba, Q., & Vojtªch, Mencl., Landslides and Their Control, Czechoslovak Academy of Sciences, pp. 193, 1969.