I CHT I SAR
Televiai, oalain vital untuk bangaat NEFO guna nremporkuat pereatuan dan arempcrkembangkan kepribadiannja, djuga merupakan guatu kcharucan jang eutlak unt,Lrk nenghadapi tantanganl jang disebabkan oleh kemadjuant teknik, chusus dalan bidang telekoaunikasi. Dangan kemadjuanr jang ditjapai da'lan Spaee Radiol coornunieationr jaitu hubungan radio nre'lelui satelit buatan jang diorbitkan diangkasa luar, dalanr wakiu jang tidak terla- 'lu lana, dapat diranalkan bahwa tiap penduduk dibuni ini, tidak hanja dapat rnenerima siaranr radio, t'etapi djuga dapat mengikuti siaranr telaviei dari tiap negara dies'luruh dunia.
Untuk menghadapi tantangan ini, Indonesia tidak dapat tergantung hanja dari djaringanr telekonunikasi jang dibangun rne' Iu'lu dengan alatr buatan luar negeri.
Tuliean ini rnenjarankan suatu djaningan alternatip jang ssderhana dan murah, dinana poiensi indusiri dalan negeri jang ada, sudah dapat diikut aertakan.
Djaringan alternatip ini berdasarkan euatu projek-teladan stasiun relay televisi digunung Tangkubanprahu untuk penerimaan dikota Bandungr jang rnerupakan hagil karja Panitia Transnisi Televiei Ekaperimentil. Sediklt perhitungan jang merupakan darar dari projek-taladan di Tangkubanprahu ini, diuraikan sekadarnja.
Djarinaan telaviei jang disarankan, nempergunakan keuntungant alan lndonesia berupa gunungt iinggi, jang sajang sampai pada waktu ini belurn di-survey setjukupnja. penggunaan gunungr tinggi dengan sendirinja membawa konsekweneit logistik jang membutuhkan perriklran. landiutan.
I. PENDAHULUAN.
Dengan dimulainja pemantjaran siaran2 TV di Djakarta pada pembukaan Asian Games, lebih luaslah lapangan peker djaan karjawan2 teknik elektronika/telekomunikasi di Indenesia. Peluasan lapangan pekerdjaan ini dengan sendirinja diikut sertakan dengan penambahan tanggung djawab.
Apakah betul2 ada kegunaannja televisi di Indonesia pada waktu ini? Djika ada, bagaimana penggunaannja? Djika sudah djelas penggunaannja, sudah sewadjarnja karjawan teknik elektronika/telekomunikasi bertanggung djawab turut mentjarikan djalan untuk memperkembangkan televisi di Indonesia.
Bahwa televisi, sebagai "mass-media" dapat sangat berguna untuk mempertjepat pembangunan negara dalam bidang penerangan, indoktrinasi atau pendidikan dalam arti seluas-luasnja, dengan mudah dapat dirasakan oleh banjak lapisan masjarakat.
Tetapi bukan hanja karena Televisi sangat berguna djika dipakai dengan bidjaksana, tetapi dengan kemadjuan teknik telekomunikasi jang disertai dengan kemadjuan? penerbangan luar ruang angkasa diluar negeri, perkembangan teknik televisi di Indonesia mendjadi suatu keharusan, demi kesatuan/kepribadian Indonesia, seperti jang akan diuraikan pada tulisan ini.
II. PRIJINARAN TELEVISI MELALUI SATELIT.
Seperti diketahui, pada waktu ini Telstar mengelilingi dunia setinggi beberapa ribu km dengan pemantjar televisi sebesar kira2 5 watt. Dipermukaan Bumi sinjal televisi diterima dengan antena seluas kira2 400 m². Antena seluas ini mempunjai diagram pantjar jang sangat tadjam karenanja antena harus mengikuti perputaran satelit dengan sangat teliti sekali. Sinjal jang diterima adalah lebih ketjil dari 10 watt (sepuluh pangkat minus sepuluh watt) dengan alat2 penerima jang luar biasa. Karenanja sampai pada waktu ini hanjalah negara2 jang kuat ke adaan keuangannja dapat membuat alat penerima jang luar biasa tersebut. Setjara kasar dapat dihitung, bahwa dengan pemantjar beberapa puluh KW tiap penduduk di Bumi
dapat nenerina sinjal2 televisi ini dengan alat penerirna jang biasa serta antena seluas kira2 satu mz. Kesukarau2 jang d.ihadapi uatuk neluntjurkan pemantjar sekuat bebe iapa puluh Xll adalah pernbuatan sumber daja ut"na (= tattery).
Penelitian sedang berdjalan diluar negeri untuk membuat suatu reaHor aton ketjil sebagai sumber daja.
Sekarang tinbul pertanjaanr apa konsekwensinja untuk Indonesia, jang nisalnja belum nempuajai National Television Network, djika beberapa negara nadju d.i Eropah sudah nempunjai satelit penantjar lV sekuat beberapa puluh Kltr nengeliliugi Bu:ni ? Ini berarti bahva diseluruh Indonesia dengan alat televisi jang biasa, kita d.apat menerima siaran Televisi dari Paris, New York dan Lond.on. Seluruh bangsa Indonesia sanpai ploksok2dapat neagenal tata tjara hidup dan kebud,ajaan orang2 Paris, dapat mendengar me lihet pidato de Gaulle ataupun pernimpin2 politik asing lainnja. Tetapi bangsa Indonesia jang berad.a d.i Medant Semarang dan Djokja nisalnja belum dapat mengenal tata tjara hi&rp orang2 Bali, belum dapat nengikuti siaran2 Pemerinta.h ttari Djakarta atau nengiluti pidato Presiden Sukarno melalui televisi. Djustm karena televisi mem punjai effek jang djauh lebih besar dari radio, maka ked.janggalan jang tersebut diatas adalab menbahajaken Republik fndonesia.
Karenanja, mau tak nau, demi kesatuan bangga Indonesia, Indoneeia harus sudah rnenpunjai National Television Network sebelum satelit dengan penantjar 2 Klf berada diorbitnja.
Uelihat tjepatnja perkenbangan teknik pada waktu ini, dapatlah dikirakan bahwa dala^rn wa}*u 10 tahun iang akan dato'g ini, satelit dengan penantjar jang kuat sudah dapat terlakea"na, Sekarang tinbul pertanjaan dapatlah ki ta menbangun Netional Television Network dalas vaktu kuraag l0 titnrn, taopa knor how dan industri elektronika/ konunikagi? Ini adalah keradjiban jang sangat berat dan nenerlulnn djalan2 revolusioner. Tantangan inilah jang sebagian besar hanrs didjawab dengan hasil2 karja, karjarrad tehik Telekounucikagi.
III. Ps|IfIAAil UE{GB{AI DfAFINGAN TELEVISI lIr,SI0I\tLIi.
III. 1. Frekwensi.
Pada pemikiran Perentjanaan Suatu Djaringan Televisi Nasional, dengan sendirinja harus diusahakan suatu Diaringan Televisi jang semurah mungkin, dengan pemantjaran jang mentjangkup sebanjak mungkin rakjat. Dengan sedikit mungkin pemantjar, tetapi memungkinkan penerimaan sebanjak mungkin rakjat. Dilihat dari sudut propagasi, maka sebaiknjalah kita pergunakan Saluran Televisi jang berfrekwensi serendah mungkin jaitu dalam band I. Peredaman propagasi pada frekwensi serendah ini adalah sangat ket jil, sehingga mungkinkan penerimaan pada tempat2 jang djauh letaknja dari Pemantjar. Sebaliknja ini berkonsekwensi pada perentjanaan djaringan keseluruhan kemungkinan gangguan jang lebih besar pada daerah2 pemantjar lainnja.
Dilain pihak, penerimaan pada sesuatu tempat tidak hanja ditentukan oleh propagasi atau perambatan gelombang elektromaknetis sadja, tetapi djuga oleh daja effektip jang dipantjarkan oleh antena pemantjar. Dalam hal ini saluran TV pada band III, atau pada frekwensi2 jang lebih tinggi pada umumnja mempunjai keuntungan jang lebih besar, berhubung antena2 dengan daja-penga rah jang besar lebih mudah dapat dilaksanakan pada frekwensi2 jang lebih tinggi.
III. 2. Antena dan daerah-pantjar.
Pada umumnja daerah-pantjar ditentukan oleh batas daerah jang berrapat penduduk jang terbesar. Pada perkembangan konstruksi2 antena diluar negeri dapat dilihat dua aliran. Satu aliran adalah konstruksi suatu antena pemantjar jang terdiri atas satuan2 medan-dipol. Satuan2 medan-dipol ini dapat dikombinir demikian rupa sehingga dapat menjesuaikan pada tiap bentuk daerah-pantjar jang diingini. Djuga daerah-pantjar jang berbentuk lingkaran dapat disinari kombinasi satuan2 medan-dipol ini.
Aliran lainnja adalah konstruksi dari antena2 jang pada dasarnja mempunjai diagram -pantjar
azirnuth berbentuk lingkaran. Ientunja konstruksi a chir ini sangat tjotjok untuk kote2 atau daerahpantjar jang terletak pada dataran jang luas dan tidak terletak dipantai lautan.
Suatu daerah-pantjar jang kira2 berbentuk lingkaran, djarang sekali diketeraukan di fndonesia jang terdiri dari banjak pulau jeng bergunung. Karenenja sebaiknjalah industri telekonrrnikasi Indonesia nenitik beratkan perkembangan dan produksi konstnrksi2 antena, jang nenpunjai keuungkinan penjesuaian pada tiap bentuk daerah pantjaran.
Darl pengalanan2 diluar negeri, dapatlah d.ipakai sebagai patokan pada perentjanaan, ku,at- medan-listrik menirrn'nr sebesar 0r5 nV pada band f dan L nY/n pada band III. Paila daerah d.iluar kota, setengah dari besar kuataedan-listrik tersebnrt diatas, sudah dapat menghasilkan ganbar jang tjufmp meruagkan.
Pen.ialuran atau transnisi sia,ran- televisi. III. '.
Dentuk Djaringan Televisi lilaeioual tergantung dari djunlah studio? Trt sebagai produsen atau sunber2 program televisi dan pertukaran2 prqgran jang diiogini. Untuk Indonesia, sebagai suatu negara keaatuan, fungsi utana dari Djaringaa Televisi l{a eional adalah transmisi atau penjal-uran progr{retelevisi-pusat keselunrhan daerah. llengingat poterrsi industri telekorrunikaai dan keadaan keuangan negara pada vektu ini, tidqklah dapat diharapkan dalan waHu jang singkat, ditiap daerah tingkat I dapat dibangun studio jang neudjadi surnber progrardaerah. Apalagi kalau nengingat skilled- nanpower dan ongkos jang dibutu-hkan dalam pembuatan erratu progren. Eanja beberapa daerah jang meupunjai potensi keuangan & rnqnpover, dapot membuat progran. Progra.n ini gebailnje djuga tidak berdiri sendiri, tetapi bersatu rnendjadi Progran-Nasional jang I.
Tjara2 penjaluran valrtu ini edalah: jang dikenal sanpai pada 1. kabel koarial.
- 2. hubungan radio microwave (gelombang sentimenteran).
- hubungan radio dengan gelombang desimeteran (230 -250 Mhz).
- 4. hubungan radio dalam bidang-frekwensi televisi dengan perubahan nomor saluran.
Tjara pertama dan kedua jaitu dengan koaxial bel dan hubungan radio microwave, adalah tjara jang sangat banjak membutuhkan waktu dan ongkos untuk membangunnja. Dilihat dari ongkos, tjara ini hanja dipertanggung djawabkan, djika hubungan tilpon antara kota2 besar sudah tjukup banjak, dan djika hubungan ka bel dan microwave tsb. djuga dipakai untuk penjaluran banjak saluran2 telex dan transmisi saluran. Sehingga djaringan hubungan kabel koaxial djaringan hubungan microwave, jang berkapasitas njak saluran tersebut, dapat dipakai berganti untuk saluran tilpon, telex, siaran-radio atau menjalurkan program-televisi. Karenanja diaringan hubungan dengan koaxial dan dengan hubungan-radio dapat dipertanggung djawabkan untuk rentjana djangka pandjang, jang memerlukan perentjanaan teliti dan mendalam, jang dengan sendirinja djuga membutuhkan data2 peramalan kira2 akan kebutuhan ngan2 telekomunikasi pada umumnja untuk waktu jang kan datang. Dengan sendirinja dapat dimengerti bahwa suatu djaringan hubungan telekomunikasi untuk djarak djauh jang berkapasitas banjak saluran, hanja dapat terpakai setjara efisien djika djaringan-telekomunikasi lokal dikota-kota djuga sudah tjukup rapat.
Ada satu faktor jang sebaiknja djuga ditekankan disini, pada tjara hubungan dengan kabel koaxial dan hubungan microwave ini adalah bahwa karena tingginja tarap technical know-how dari kedua tjara ini, maka pembangunan hubungan2 tjara ini hanja dapat dilaksana-kan dengan alat2 import, produksi industri2 luar negeri.
Tjara ketiga, jaitu dengan hubungan radio gelom -bang desimeteran adalah tjara jang lebih sederhana.Hu-bungan inipun dapat dipakai berganti-ganti untuk transmisi saluran2 tilpon, telex ataupun siaran-radio, te-tapi bidang-frekwensinja tidak selebar seperti tjara2
kesatu dan kedua. Karena kesed,erhanaan hubungan radio dengan gelombang desimeteran -ini, dengan mobilisasi potensi industri elektronika/telekorcunikasi Indonesia setlikit-ttikitnja sebagian dari development dan produksi dapat dilakukan oleh industri dalan negeri.
Tetapi nelihat keadaan perkembangan teknik Televisi di Indonesia pada r*alrtu ini, dimana pralrtis seuua saluran Televisi nasih kosong belun terpakai, tjara ke empatlah jang paling tjotjok, apalagi mengingat kese derhanaannja. Tjara ini djuga sering dinanakan tjara nmain bolarr. Tjaranja adalah denikian seperti jang di uraikan dibawah ini.
Sinjal dari penm,ntjar Djakarta diterima d.isuatu tenpat, dinana sinjal tsb. nasih tjukup kuat. Pada pilot-projek jang telah diadakan oleh Panitia Transmisi Televisi Experiulentit jaitu penjaluran ke Bandungr penerimaan dilakukan di gunung Tangkubanprahu pada saluran 9. Sinjal diperkuat dan frehrensi dikonversi mendjadi saluran 5. Sesudah diperkrrat dipantjarkan kekota Bandung dan ke Tjirebon. Digunung Tjirenai, dekat Tjirebon sinjal d.iterim, dan frekwensi dikonversi lagi kesaluran lain, untuk dipantjarkan kekota atau kestasion-relay selandjutnja. Djadi einjal tersebut dioper-oper seperti dipermainkan bola, dan tiap kali pengoperan selandjutnja, saluran frelnaensi diubah kesa-Iuran televisi lainnja,
Penghenatan ongkos pada penjaluran tjara ini ada-Iah karena pada rurunnja selain karena alat2nja lebih sederhana, djuga disebabkan karena penantjar untuk menjinari sesuatu d,aerah, djuga dipakai sebagai pemantjar untuk mengtransnisi sinjal tersebut. Tjara ini sa ngat sederhana dan djika rentjana sistin keseluruhan dibuat dengan tjernat, sangat sedikit memerlukan m& tjan alat. Selain itu stasion2 relay natjan inirkalau perlu, dapat ditenpatkan dipuntjak gunung dengan tidak usah ditunggui, hanja pada waktu2 tertentu harus diperiksa untuk peneliharaan dan perbaikan sadja. Setjara kasar dapat dikatakan bahwa ongkos transmisi dengan tjara nmain bolarr ini adalah kira2 seperseplluh sampai seperduapuluh dari ongkos transmisi dengan gelombang sentimeteran.
Tid.ak dapat disangkal lagi, bahwa tjara transmisi
inilah jang paling tjotjok untuk menanpung perkeubangan2 jang pesat didala^rn bidang I'll.Sedikitd.ikitnja untuk sementara waktu, dinana kebutuhan akan saluran tilpon, teler rlan saluran2 siaranradio serta saluran progralr-ff belun membenarkan penbangunan suatu djaringan jang terdiri dari hubungan nicrovave ataupun kabel koaxial. Dj ika beberapa bagian dari djaringan telah membutuhkan denikian banjaloja saluran2 tilpon, telerrsiaran- . radio dsb, barrrlah bagian tersebut dari djari n€orlr diganti dengan hubungan radio-nicrowave" A-Iat2 jang tidak terpakai dari bagian djaringan jang barl diganti tsb. dapat dipakai untuk bagian djaringan lain atau dipakai untuk penantjar Te levisi biasa. Dengan f,jara demikian tidak sadja djaringan dibangun bertahap, dengan ongkos jang seketjil-ketjilnja, tetapi djuga dapat selalu memenuhi kebutuhan perkembangan dalan bidang televi si dengan setjukupnja, tanpa menunggu perkemba ngan telekonmnikasi lainnja, dengan tidak memerlukan penanbahan ongkos.
$elain itu, karena alat telekouunikasi dengan tjara rnrain-bolao ini djauh lebih sederhana dari alat hubunsan radio-nicro'rrave, fndustri Telekomrnikasi Indonesia dapat diikut sertakan dalanr penbangunan djaringan bertahap ini,sambil mem pertinggi nrtu dan daja produksinja.
rV. PIUN_PilT'EK StrA,SION NEI,AY DI TANGKUBANPRAIIU"
$ebagai tjontoh jang konkrit, bersa.rna ini di ssiknn beberapa perbinbangnn9 dan perhitungan lrcrtitungan jang diadjukan oleh sipengarang, bebe raln ninggu sebelum penantjar l0 Kt{ di Djakarta beherdja, jaitu beberapa ninggu sebelun Asian Ga- *c dihrka pada bulan Djuli L962,
franslrisi D.iakarta_Fe Tangkubanpr-ahut
Djaknyga ki.ra2 terletak 20 meter diatas perutaan las^t. Tinggi menara di Djakarta 80 meter. firggi antena di Tangkubanprahu diatas peruukaan
Iaut adalah 2A7A m" Djarak antara Djakarta-Tangkuban prahu adalah 108 kn. Karena letak antena penerina di Tangkubanprahu lebih tinggi dari antena penaatjar di Djakarta, kuat-medan di Tangkubanprahu ditentukan oleh berkas2 pantjaran, jang terpantjar kearah atas dengan sudut elevasi = 0r7 deradjat.
Gamb.l. Djalan sinar antara Djakarta dan gunung Tangkubanprah-.t.
Karena adanja sudut elevasi = Or7 deradjat ini, rnaka gelonbang jang dipantjarkan oleh antena Gbay Super turnstile pada penantjar di Djakarta, sanpainja di Tangkubanprahu untuk nasing2 elemen berbeda fase sebesar
\[\text{[rumus tidak dapat ditampilkan dengan baik — lihat PDF asli]}\]
Dari dataL jang diterima mengenei antena penantjar Dja karta, dapatlah di.anggap bahwa kuat-medan, untuk satu
vOL J, N0" t, PR0CEEDINGS t96lr
elemen antena pada arah sudut elevasi \(\phi = 0.7^{\circ}\), hanja 95 % dari pada arah sudut elevasi \(\phi = 90^{\circ}\).
Gamb. 2. 6 bay superturnstile antena jang djuga memantjar kearah gunung Tangkubanprahu.-
Maka untuk ke-6 elemen antena, kuat medan listrik pada arah elevasi \(6 = 0.7^{\circ}\) dihitung dengan pendjumlahan enam vektor jang masing2 berbeda arah 4,5 deradjat adalah kira2 99,9 x 95 % = 94 %. Rapat daja pada arah sudut elevasi 6 = 90.7 deradjat, karenanja akan \((94\%)^2 = 89\) % dari rapat-daja pada arah horizontal.
Data2 lainnja dan perhitungan berikutnja adalah sbb.:
| Daja pemantjar | = 10 dbK |
|---|---|
| Peredaman pada saluran utama (Main feeder loss) | = -0,72 db |
| Peredaman pada diplexer (Diplexer loss) | = -0,004 db |
| Peredaman pada saluran dalam ruangan (Indoor feeder loss) | = -0.048 db |
| Daja-pengarah Antena | = 7,78 db |
| 17,01 dbk |
Djadi daja-pantjar effektip adalah 17,01 db diatas 1 KW, atau sama dengan 50 KW.
Pada arah horizontal rapat-daja dari 6 bay Super turnstiles antena di Djakarta jang mempunjai daja pemantjar 10 KW, sama dengan rapat-daja sebuah isotro pic antena jang mempunjai daja pantjar 50 KW. Dan pada arah sudut elevasi \(\phi = 0.7^{\circ}\) "isotropic antena" tsb. memantjar dengan daja sebesar 0.89 x 50 KW = 44.5 KW.
Perambatan Djakarta-Tangkubanprahu dapat dianggap sebagai perambatan ruang-bebas, karena daerah Fresnel I dari hubungan kedua tempat ini bebas dari gangguan2 puntjak gunung atau pohon2.
Rapat daja pada antena penerima di Tangkubanprahu adalah:
\[\frac{P}{4 \, \text{Tr} R^2} = \frac{44,5.10^3}{4 \, \text{Tr} (108.10^3)^2} = 0,31.10^{-6} \quad \frac{\text{watt}}{\text{m}^2}\] \[\frac{P}{4 \, \text{Tr} R^2} = \frac{E^2}{120 \, \text{Tr}} = 0,31.10^{-6} \quad \frac{\text{watt}}{\text{m}^2}\] \[E = 10.7 \, \frac{\text{mV}}{\text{m}}.\]
Derau minimum jang dapat diharapkan adalah:
\[N = k T B\] = 1.38.10-23 x 300 x 7.106 = 0,28.10-7 \(\mu\)W.
VOL 3, NO. 1, PROCEEDINGS 1964
Besar daja sinjal jang kita terima dengan antena penerima jang mempunjai daja-pengaruh 9 db adalah:
\[\frac{G\lambda^2}{4} = 0.31.10^{-6} = \frac{8.2.25}{4 \text{ JT}} = 0.31.10^{-6}\]\[= 0.45 \text{ MW}.\]
Perbandingan besar daja sinjal dengan derau mendjadi:
\[S/N = \frac{0.45}{0.28} \cdot 10^{+7} = 2.10^{+7}\] atau 73 db.
Dengan data2 jang agak lebih djelek daripada jang dapat diharapkan seperti fading = 10 db dan angka -derau (Noise Figure) alat penerima sebesar 20 db, maka masih didapat harga perbandingan \(\frac{S}{N}\) sebesar 43 db, jang masih dapat dikatakan baik.
Penjinaran kota Bandung dari Tangkubanprahu:
Untuk penerimaan jang tjukup baik diperlukan ku-at-medan-listrik
\[E = 1000 / \frac{V}{m}, \text{ atau rapat-daja sebesar}\] \[\frac{E^2}{120 \text{ JT}} = \frac{(1.10^{-5})^2}{370} = 0.27.10^{-2} / \frac{W}{m^2}\]
Rapat daja sebesar ini harus ada pada djarak 18 km dari antena di Tangkubanprahu. Untuk antena penerima jang tjukup tinggi, djuga disini perambatan ruang-bebas, karenanja:
\[\frac{P}{4 \text{ JT } R^2} G = 0,27. \ 10^{-8} \frac{W}{m^2}\] \[P = \frac{4 \text{ JT } (18.10^3)^2. \ 0,27.10^{-8}}{G}\] \[= \frac{11}{G} \text{ Watt.}\]
dimana P = daja jang dipantjarkan oleh antena, G = daja pengarah antena.
Antena jang dipakai di Tangkubanprahu berdajapengaruh sebesar 15 db. Djika diambil peredaman jang 6 db lebih besar dari peredaman perambatan ruang bebas, dan 3 db diambil sebagai peredaman saluran antena maka dibutuhkan pemantjar sekuat kira2 3 watt. Pada waktu ini projek-teladan stasion Relay di Tangkubanprahu mem punjai suatu pemantjar dengan daja sebesar kira2 2 watt dan menghasilkan kuat-medan-listrik rata2 di Bandung diantara 300 - 800 NV/m. Sangat disajangkan bahwa sampai pada waktu ini, pengukuran2 jang lebih tepat belum dilakukan, karena serba kekurangan biaja dan a-lat2 pengukur.
Berhasilnja pilot-projek ini tjukup memberi bukti jang njata, bahwa pilot-projek ini dapat dipakai sebagai teladan untuk projek2 selandjutnja.
V. SARAN DJARINGAN TELEVISI DI DJAWA.
Dalam waktu djangka pendek, sebelum djaringan telekomunikasi microwave PTT seluruh Djawa selesai, demi berkembangnja pertelevisian di Indonesia ini, sipengarang mengusulkan transmisi siaran Djakarta keseluruh Djawa dengan memakai tjontoh pilot-projek Tangkubanpra hu tersebut. Pertimbangan2 & perhitungan jang dapat dilakukan sampai pada waktu ini, tjukup memberi harapan dapat terlaksananja saran tersebut dibawah ini.
Tjara penjaluran jang disarankan adalah tjara "main-bola", seperti jang telah diterangkan semula dan tergambar skemanja pada gambar 3. Siaran jang ditangkap dari Djakarta digunung Tangkubanprahu selain dipantjarkan kegunung Tjiremai. Pada pemantjaran ini ko ta Tjirebon djuga turut terpantjar. Dari Tjirebon penjaluran dilangsungkan kegunung Merbabu. Dari gunung Merbabu ini kota Semarang, Djokja & Solo dapat disinari. Selain penjinaran ketiga kota ini, siaran djuga dipantjarkan kearah gunung Ardjuna darimana kota Surabaja dan kota Malang dapat disinari. Dengan pembuatan pemantjar relay jang tjermat, pe-relay-an sematjam ini dapat dilakukan sampai kira2 delapan kali atau lebih.
Pertinbangan2 dan perhitung,;an dengan peta berskala L : 250"000 menbukt.ikan hahr*a serata hubunqan2 tersebut, dapat dianggap sebagai perantratan ruang hebas" Dengan sendirinja, dju.stru karena pgnurg2 fndonesj,a kerap kali susah sckali dit japai., perlu sekrili iliadakan heberapa 6ur vey kedaerah-daerah grrming2 tsb" Sr.rrvey2 inilah jang akan nendapatkan inf orrnasi2 nengenai, ire!:asnja pengli.hatan, gangguan2. pch+n dan puntjak2 laiunja, kenungkinan2 djalan untuk raenbjapai tc.mpat tsb", keadaan tanahrkermngkinan-kemrilgkinan nendapatkan .fenaga listrik dlt" fnfor nasi2 iniiah jang kelak raenent,;kaa tenpa'{, stasion Relay jang akan dibangun, banjak stasion2 relay jang dibutuh kan dan besar daja penantjar2 relay jang harus dibangun untuk kebutuhan tjara penjah.iran mat jan ini.
Pertinbangan2 .Jan perhitungan2 sampai sekarang, .sebelum diadakan surrey ,jang disebut Ciatas, memberi hasil bahva sistim penjaluran ini dapat dibangun dengan pemantjar relay sekuat kira2 I00 sarnpai IOO r^'att. Dengan pe ngalanan-pengalaman jang didapat selana pelaksanaan pilot-projek Tangkutranprahu, pemantjar2 sekuat tsb" dapat dibuat dalam r+aHu setahrrn dengan potens* Industri Tclekouunikasi jang ada di Indonesia pada waktu ini. Selama penbuatan pemantjar2 tsb. dengan sendirinja persiapa-rr2 penbangunan tempat2 gedung pemantjar segera dapat dirculai.
Djika kota Bandu,ng, Djokja dan Surabaja dalam 2 tahun jang akau datang ini sudah berhasil membangun masing2 sebuah $tudio Televisi sederhana, dan djika perentjanaan sistin dilakukan dengan t,jerrrat, maka dengan penambahan alat2 jang nininal, studio Djakarta, Bandung, Djokja dan Surabaja dapat nembuat program-bersarna jang merupakan Program*Nasional I, jang praktis dapat ditangkap diselu ruh Djawa"
Menumt pengiraan kasar, djika selurrrh fund & forceg dan aiitoaktivita digerakkan, selambat-Iambatnja tahun 1965 penjaluran siaran telah dapat sampai dikota Senarang, Djokja dan Solo. Satu tahun kemudian dapat diharap kan Surabaja dan Malang djuga dapat nenilornti siaran Te-Ievis i.
Menurut infornasi jang diterirna rtipengarang sampai parla vaHu ini, rentjana projeh microwave PIT baru sele sai setjepat-tjepatnja pada tahun L965, hanja untuk Djawa Barat. Djika nisalnja untu-k Djawa Tengah dan Djava Timrr
djuga dibutuhkan masing2 2 tahun, maka Surabaja dan Malang paling tjepat dapat mengikuti siaran Djakarta pada tahun-1969.
Djelas terlihat bahwa dengan tjara penjaluran mainbola jang lebih sederhana ini, selain Indonesia dapat mempertjepat perkembangan pertelevisiannja, djuga potensi industri telekomunikasinja dapat turut berkembang. Djika dja ringan microwave PTT berangsur-angsur selesai, maka pemantjar2 relay ini dapat dipakai untuk penjaluran keluar Djawa, atau dipakai sebagai pemantjar2 Televisi biasa diluar Djawa.
Tulisan ini dimungkinkan oleh bantuan para mahasiswa I.T.B. dalam rangka kerdja praktek dan kolokium, serta sponsor dari Biro Ilmu Pengetahuan Departemen P.T.I.P. Untuk segala bantuan ini penulis mengutjapkan diperbanjak terima kasih.—
REFERENSI.
- 1. H. Cassirer; The potential role of television in developing countries; Third International Television Symposium 1963.
- 2. Lehrbuch der drahtloses Nachrichtentechnik; Funfter Band; Springer Verlag 1963.
- 3. Brosur Panitia Transmisi Televisi Eksperimentil Bandung; Bandung, Maret 1963.

Skema penjaluran siaran TV Djakarta beserta pengiraan daerah-pantjarnja.
