PENDAHULUAN
Perantjangan fisik merupakan interpretasi dari rentjana-rentjana sosial, ekonomi dan politik didalam bentuk-bentuk rentjana tridimensi. Perantjangan fisik ini mentjakup pengaturan penggunaan tanah kota maupun daerah, pengaturan djaringan perhubungan, penentuan lokasi fasilitas umum, lokasi industri, pusat aktivitas dan sebagainja. Diantara semua bentuk ini, pengaturan penggunaan tanah-baik dalam skala kota maupun daerah — adalah jang mendjadi dasar. Penentuan penggunaan tanah setepat-tepatnja untuk sesuatu tudjuan didalam suatu daerah tertentu, adalah suatu pengambilan keputusan jang penting, karena tanah sumber alam jang terbatas; dan karakteristiknja jang paling utama ialah kemungkinan dimanfaatkannja bagi pelbagai alternatip penggunaan. Selandjutnja pola penggunaan tanah inilah jang menentukan atau merupakan dasar pertimbangan utama untuk perantjangan lainnja.
Suatu perantjangan nasional jang menjeluruh (comprehensive) akan lebih dichususkan dan diterdjemahkan kedalam bentuk-bentuk rentjana fisik
*) Bagian Planologi I.T.B.
dalant skala regional. Pola re_eional ini akan mempengarlrhi perantjangan kota pula.
Suatu perantjangan regional akan meliputi pengaturan aktivitas. jang mendjamin kehidrrpan dalarrt daerah itu sendiri rnaupr.rn Ituburrgutr lintbalbalik dengan daerah lain. Aktivitas-aktivitas ini akau terwudjudkan clalaur sttatu pola penggunaan tanah regional. Persoalan penggunaau taltah ini sangat men'lpengaruhi hubun_ean manusia dan lingkungan alarrrnja. Dalant suatu lingkungan kehidupan dengan tudjuan jang beraneka ragant dan jang tidak selanranja sedjalan, persoalan penggunaan tanah ini ntcrurpakan persoalan jang rumit, karena terbatasnja djLrmlah tanah. Konflik jang tcrdjadi dapat diselesaikan sebaik-baiknja, apabila ada suatu rentjana pcnggunaall tanah (land-use plan) tertentu. Pola penggunaan tanah regional ini sangat penting terutama bagi suatu rentjana pembangunan regional.
Dalant negara jang berorientasi-agraria, djelaslah bahwa pola pcnggunaan tanah pertanian memegang peranan jang tak dapat diabaikan, baik tcntang Iuas tanah jang digunakan serta inrplikasinja terhadap pcn-ugunaan tanah litinnja, l.nauptur artinja bagi aktivitas kehidupan dan pcrckorronriarr clucralr itu. Sctjara lcbih spcsifik clapat dikatakan bahwa pola pcnggurraur.r tarralr pertanian suatu daerah, dapat mcrrcntukan djenis-djcnis aktivitas jarrg rrrulrgkin tinrbul didaerah itu, pola hubungannja dengan dacrah Iain, kcnturrgkinarr Llntuk menunrbuhkan aktivitas baru, dan ntempeltgaruhi pcntilihair scrta penentuan lokasi aktivitas-aktivitas tertentu.
Bersanta dengan unsur-unsur lainnja dalanr dacrah itu (rnisalnja: pcnduduk) dapat nrenentukarl ladju pertumbuhan dacrah itu. baik sctjara larrgsung nraupun tidak.
Disamping beberapa unsur lairrnja, pola pcnggurraarr larrlh 1'lclturriarr pcrlu diketahui untuk ntempcrkirakan djcnis aktivitas, polu nrcnctup (scttlement), pola transpor, dan lain-lainnja, jang mungkin tcrdjadi didac.rah itrt. Dapatlah dikatakan bahwa penggunaan tanah pcrtarriarr nrelupakarr salah satu penentu bagi penggunaan tanah keselr.rrulran clacruh itu.
Tanah jang digunakan r.rntuk pertanian sangat luas dibanclingkan dengan tanah jang digunakarr untuk nraksud lain.
Bcntuk produksi pertanian sangat beranekaraganr. Hubunglrr rlalr ltengaruh pada urbanisasi dan nrigrasi dan hal-hal tersebut cliatls nrcnjchabkan penggunaan tanah agraria sangat penting bagi perantjangan dalarn suatu llegara. Sitat dan luas pola pcnggunaan tanah agraria ini ditentukun olch beberapa faktor. Iraktor-faktor fisik seperti keadaan topografi, kcacllan tanah, iklim dan musim, sangat besar pengaruhnja. Faktor biologi, ntisalnja gangguan hama, daja untuk tetap hidupnja tanaman itu scnclili, cljuga pcnting. Faktor-faktor tersebut diatas dapat dianggap scbagai faktor pusip, jang nlenentukan batas kemanrpuan dan urutu hasil produksi. Tctapi hal-hll tcrsebut tidak setjara aktip menentukan bentuk ataupun luas pcrtaniall disuatll daerah tertentu. Hanrs ada suatu gaja penggerak untuk ntetlentukan pcnggunaan sebaik-baiknja dari keadaan dan sumber jang ada. Pcnggerak ini ialah nlartusia j.rng bcrkeinginan nremperoleh keuntungan sebesar-besarnja. Manusialah jarrg nrenrbuat keputusan r-nengenai penentuan penggunaan tanah pertanian itu. sesuai dengan faktor-faktor jang ada.
Pada hakckatn.ia. keputusan tentang penggunaan tanah pertarrian jang dimaksLrclkarr disini ialah perrentuan nrengenai djunrlah luas dan djenisdjenis tananralr apu jang akan ditananr oleh seorang petani. Pcmbuatan keputLtsatt ini dipcngaluhi oleh kcadaan jang dihadapi (keadaan tanah, iklirn, kepanclaiarrrrja. clsb.) darr keinginannja untuk mcnlperoleh keuntungan scbcsat'-besalrtja. llal lain jang djuga berpengaruh ialah adanja kcmr.rngkinarr perdagangan clcn-ean clacrah lairr, jang berarti memperluas daerah pasararl. llal lcrachil ini dupat cliartikun bahwa keputusan penggunaan tanah itu scbcrrarnja liclak lcpas clari pcrtinrbangan adanja aksi-antaraksi antara serangkaian <lacrah-cluclah.
Pcndckirtan antarclacrah (interregional approach) ini diharapkan akan dapat rncntjakup pola distribusi hasrl jang elisien, nrentjakup pertimbangan keutttun-qan konrpuratip claerah-<laerah tersebut, serta nrentjukup pola penggunaan tanalt jung optirnunr. tlntuk nraksud-maksucl ini diadjukan disini 1'lrogratrirt,u lirricr anturclacrah (irrtcrrcgional linear progranrnring) untuk pcncntuan pcnggunailn lunah 1-rcrlarriarr. Tudjuan pcrhitunglur ini ialah nretttcrtuhi kcbutuhan scluruh rarrqkaiarr dacrah serta nrerrraksinrumkan pcnclupatan sctiap dlcrah. dengart suatu llola pcngirirnan barang dan pe nggunaan tanllt iarrg oplinral clan rlengan biaja total jang minimal.
I'ENGANDAIAN DAN PROSEDUIT
I)isini hanja ukan clihiljarakarr pcnggunaan tanah pertanian jarrg chusus tuntuk clitananri. cl.jucli brrkan penggurraan tanah agraria setjara kcseluruhan. Olch karcnt iltr nctc111xk1rn. inclustri pcrtanian, pcrikanan darat dan tanah penggcnrballan bcltrnr tcnnasuk. Kcrangka clasar jang dipcrguuakan aclalah scbagai bcrikut.
lJlrtasltt dacrah ianp: cligunakan ialah batasan adnrinistratip. Tiap claerah dianggap nrcnrpunjai scbuulr pool scbagui pusat pcngun.tpulan untuk pengirinrau bunrrtg rluri clrn kcluur claerah itu. Kcadaan tanal-r dan iklim disuatu daerah clilrnggup lrornogcn. l)crbcclaarr alanr, pcrbedaan tjara bcrtani dan adat kebiasaln perrclrrcluk/pctarri ukan nrcnirrbulkan kemungkinan adanja perbedaan utau variusi clalam hal penggunaan tanah diantara daerah-daerah itu.
Butusan luas tanah pertanian clisr.ratu daerah diambil berdasarkan luas jang kini ada. clalam arli tclah dikcrdjakan atau hanja membutuhkan usaha/ biaja scdikit untr.rk dapat ditanarui.
Sclancljutnja diandaikan bahwa ongkos transpor didalam suatu daerah dapat cliabaikan. sedangkan biaja transpor antardaerah harus diperhitungkan. Kalcua dacralt dapat dianggap honrogcn, maka ongkos produksi tiap hcklare untuk tiap cljcnis adalah saura dalanr suatu daerah. Ongkos produksi ialah senrua ongkos dari penanarlralr, pemeliharaan sampai dengan pancnan.
Djunrlah hasil dianggap habis dikonsumsikan baik oleh daerah lain maupun oleh daerah itu sendiri. Persoalan ekspor keluar rangkaian daerah (nisalnja keluar negeri) tidak setjara eksplisit dibitjarakan, karena ekspor ini dapat diandaikan sebagai pengiriman barang kesatu daerah chajal (dummy) jang dianggap termasuk dalanr rangkaian daerah kita. Pusat atau pool dari daerah chajal ini ialah pelabuhan atan titik perhubungan dengan daerah luar.
Hasil tiap daerah dikunrpulkan dalam pool daerah itu. Djadi hasil-hasil untuk dikirim kedaerah lain, atau jang dikirim dari daerah lain, dikr-rmpulkan dalarn pool ini. Dari pool ini barang dari luar daerah didistribusikan kepasar-pasar dalam daerah itu. Djadi djarak antardaerah ialah djarak antara pool ini.
Ongkos transpor dianggap ditanggr.rng oleh pendjual. Oleh karenir itr,r penghasil menanggung orrgkos prodLrksi dan ongkos transpor.
SelandjLrtnja dalam model irri ditentukan djumlah minimr-rm dari tiap djenis hasil pertanian. Djadi total hasiI dalam seluruh rangkaian daerah untuk tiap djenis, harr-rs dapat memenuhi kebutuhan kor.rsumtip mininral dari penduduk dalam rangkaian daerah itu. KebutLrhan konsumtip tiap daerah akan sesuatu djenis hasil pertanian, dipenuhi oleh daerah itu sendiri utaupun oleh pengiriman barang dari daerah-daerah lain.
Aktivitas produksi ialah aktivitas penirnaman sarnpai dengan pengirinran. Transpor ialah bahan-antara, jang dibutuhkan untr,rk menjelesaikan zrktivitas jang dianggap meliputi produksi sampai dengan pengirirrrarr/distribusinja. Karena bahan-antirra ini hanja digunakan untuk konsumsi produksi, maka bahan ini hanja diproduksikan sesuai deugan kebutuhan untuk proses produksi selandjutnja. Djadi djumlah total bahan-antara ini ialah sarna dengan nol.
Dalam penentualr pcnggunaalr tanirh dengarr tjara progranring linier antardacrah ini. herrclak ditjapai suattr pola dengan ongkos procluksi terertdah. Berdasarkan pcnikiran clan pengandaian terscbLrt diatas diacljukan ntoclel sebagai berikut.
MODI]L UNTUK INDONISIA
Misalkan Indonesia atau sebagian dari Indonesia terdiri dari n daerah. Daerah dapat berupa propinsi atau sckolompok propinsi (misalnja sebuah pulau). UIrtuk sebagian dari Indonesia (misalnja pulau Djawa) daerah ialah kabupaten atau propirrsi. Hal ini bergantung pada apa jang diperlukarr dan kebidjaksanaan jang rnenggurrakan progranring ini. Jang penting ialah bahwa batasan daeralr harus sesuai dengan batasan adnrinistratip.
Selandjutnja dimisalkan ada m cljenis tananran pertanian atau kelompok lgroup) djoris trnarrrarr. jrng masing-nrasing nrerrrpunjui pcrsjaratan fisik tertentu.
Sebenarnja keadaar.r tanah dalanr suatu daerah dapat diklasifikasikan lcbih landjut. Tetapi untuk penjederhanaan, sementara ini hal itu tidak dipertimbangkan, djadi keadaan alam suatu daerah diandaikan homogen, karena pengandaian ini tidak akan mempengaruhi bentuk dasar dari model.
Maka konstanta dalam model ini adalah sebagai berikut.
E<sup>j</sup> = luas tanah pertanian jang tersedia didaerah j.
\[j=1\] ..... n
y<sub>i</sub> = hasil tiap hektare dari djenis i didaerah j.
\[\text{[rumus tidak dapat ditampilkan dengan baik — lihat PDF asli]}\]
v<sub>i</sub> = biaja produksi (termasuk pemeliharaan sampai dengan panen) tiap hektare dari hasil tanaman i didaerah j.
v<sub>i</sub> = biaja produksi 1 satuan transpor didaerah j.
\(^{j}v_{i}^{l}\) = biaja pengiriman 1 satuan hasil i dari daerah j ke l.
\(^{j}v_{i}^{l}\) ini diperoleh dari \(t_{i}\) (= ongkos transpor tiap satuan i tiap km) dikalikan dengan \(^{j}d^{l}\) (= djarak daerah j ke l, jang dihitung sebagai djarak dari pool j ke pool di l). Djadi : \(^{i}v_{i}^{l} = t_{i}\) , \(^{j}d^{l}\).
\(C_i^j\) = djumlah kebutuhan konsumsi minimum didaerah j akan djenis i. Penentuan ini dengan mempertimbangkan djuga kebiasaan konsumsi disetiap daerah, jang mungkin berbeda-beda, disamping memperhitungkannja dari djumlah penduduk daerah itu.
Dalam perhitungan ini jang merupakan variabel ialah tingkat aktivitas (activity level). Aktivitas ini meliputi aktivitas produksi hasil tanaman, jaitu penanaman, aktivitas produksi transpor dan aktivitas pengiriman. Termasuk dalam pengiriman ini ialah pengiriman pelbagai djenis hasil tanaman dan djuga transpor, jang disini dianggap sebagai bahan-antara. Bahan-antara ini diangap dapat dikirimkan.
Satu satuan tingkat aktivitas produksi dari hasil tanaman i didaerah j ialah penanaman I ha tanah didaerah j dengan tanaman i. Satu satuan tingkat aktivitas pengiriman dari hasil-tanaman i dari j ke 1, ialah pengiriman satu satuan hasil tanaman i dari daerah j ke daerah I. Satu satuan tingkat aktivitas produksi transpor menghasilkan satu satuan transpor.
Djika dimisalkan dalam suatu daerah j luas tanah jang ditanami dengan tanaman i ialah \(x_i^j\) ha. Ini berarti bahwa tingkat aktivitas penanaman i didaerah j itu ialah \(x_i^j\). Selandjutnja tingkat aktivitas produksi transpor dalam daerah j dinjatakan oleh \(x_i^j\) dan tingkat aktivitas pengiriman hasil-tanaman i dari daerah j ke daerah l dinjatakan oleh \(x_i^j\).
Selandjutnja dilakukan perhitungan untuk mentjari luas-luas jang ditanami dengan tiap djenis disetiap daerah, dengan ongkos produksi dan pengiriman jang minimal untuk rangkaian daerah keseluruhan.
Djadi fungsi objektifnja dapat dinjatakan sebagai
\[T = \sum_{i=1}^{m} \sum_{j=1}^{n} v_{i}^{j} \cdot x_{i}^{j} + \sum_{j=1}^{n} v_{j}^{j} \cdot x_{t}^{j} + \sum_{i=1}^{m} \sum_{j=1}^{n} \sum_{l=1}^{n} v_{i}^{j} \cdot v_{i}^{l} \cdot v_{i}^{l} + \sum_{j=1}^{n} \sum_{l=1}^{n} v_{t}^{l} \cdot v_{t}^{l}\](1)
Pembatas-pembatas jang harus dipenuhi adalah:
1. luas-luas tanah jang ditanami dengan pelbagai djenis tanaman disuatu daerah, tak boleh melebihi tanah pertanian jang tersedia didaerah itu.
\[\sum_{i=1}^{m} a_i^i \cdot x_i^j \leqslant E^j \tag{2}\]
ai -- luas tanah tiap satuan tingkat dari aktivitas penanaman tanaman i di j, jaitu dalam hal ini, I ha.
produksi transpor sebagai bahan-antara disuatu daerah, ditambah atau dikurangi dengan pengiriman transpor kedalam atau keluar, itu habis terpakai untuk pengiriman-pengiriman hasil tanaman dari daerah itu ke-daerah-daerah lainnja.
\[a_t \cdot x_t^j = \sum_{l=1}^n {}^j a_t^l \cdot {}^j x_t^l + \sum_{l=1}^n {}^l a_t^i \cdot {}^l x_t^i + \sum_{i=1}^m \sum_{l=1}^n {}^i a_l^i \cdot {}^j x_i^l = 0\] (3)
a = koefisien tiap satuan tingkat aktivitas.
3. hasil penanaman, ditambah atau dikurangi pengiriman-pengiriman hasil itu kedalam atau keluar daerah, harus paling sedikit sama dengan djumlah konsumsi/kebutuhan minimum daerah itu akan hasil tanaman tersebut.
\[a_{i}^{j}\], \(x_{i}^{j}\) + \(\sum_{l=1}^{n} {}^{l}a_{i}^{j}\), \({}^{l}x_{i}^{j}\) - \(\sum_{l=1}^{n} {}^{j}a_{i}^{l}\), \({}^{j}x_{i}^{l} \geqslant C_{i}^{j}\) (4)
Untuk pendjelasan diambil tjontoh suatu rangkaian daerah jang terdiri dari daerah \(\Lambda\) dan B, masing-masing dengan tanaman 1, 2 dan 3.
Untuk satu satuan tingkat dari aktivitas-aktivitas dalam kedua daerah itu disusun suatu matriks dari koefisien aktivitas itu (tabel 1) \(\Lambda\)rti dari koefisien-koefisien dalam matriks adalah sebagai berikut. Untuk satu satuan tingkat aktivitas No. 1 didaerah \(\Lambda\), jaitu produksi atau penanaman tanaman 1 di \(\Lambda\), dibutuhkan \(a_{11}^{\Lambda}\) satuan tanah di \(\Lambda\). Dalam hal ini \(a_{11}^{\Lambda}\) diambil 1 ha. Aktivitas ini membutuhkan nol transpor di \(\Lambda\), nol tanaman 2 di \(\Lambda\), dan seterusnja. Sementara itu dihasilkan \(a_3^{\Lambda}\) satuan hasil tanaman 1 di \(\Lambda\). Djadi disini \(a_3^{\Lambda} = y_3^{\Lambda}\). Demikian seterusnja.
Untuk aktivitas pengiriman, input jang dibutuhkan ialah input transpor dan bahan jang akan dikirimkan, dan menghasilkan bahan itu dalam djumlah jang sama didaerah jang ditudju. Misalnja untuk aktivitas No. 6 di A, jaitu
| No. 5. Hasil tanaman 3 di B | No. 4. Hasil tanaman 2 di B | No. 3. Hasil tanaman 1 di B | No. 2. Transpor di B | No. 1. Tanah di B | No. 5. Hasil tanaman 3 di A | No. 4. Hasil tanaman 2 di A | No. 3. Hasil tanaman 1 di A | No. 2. Transpor di A | No. 1. Tanah di A | Aktivitas Bahan | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | a . / | 0 | ail | = | No. 1. Produksi tanam- an 1 di A |
| 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | a;/ | 0 | 0 | ail | 1 | No. 2. Produksi tanam- an 2 di A |
| 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | a 3 33 | 0 | 0 | 0 | \(a_{13}^{\Lambda}\) | (3) | No. 3. Produksi tanam- |
| 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | a.1 24 | 0 | £ | an 3 di A No. 4. Produksi trans- |
| 0 | 0 | 0 | .^a :: | 0 | 0 | 0 | 0 | a 1/5 | 0 | (5) | por di A No. 5. Pengiriman |
| 0 | 0 | \\a_{36}^B | 0 | 0 | 0 | 0 | a:\ 350 | #16 16 | 0 | (6) | rranspor A — B | K | Oef I a bel | No. 6. Pengiriman hasil | tanaman I A — B | sen | No. 7. Pengiriman hasil | I |
| 0 | .\а.р. 47 | 0 | 0 | 0 | 0 | a:\^ | 0 | a27 | 0 | (7) | tanaman I A – B S C C C C S C C C C C C C C C C C C C |
| ла В 58 | 0 | 0 | 0 | 0 | ll . | 0 | 0 | No. 4. Produksi transpor di A No. 5. Pengiriman transpor A — B No. 6. Pengiriman hasil tanaman 1 A — B No. 7. Pengiriman hasil tanaman 2 A — B No. 8. Pengiriman hasil tanaman 3 A — B | |||
| 0 | 0 | 2 B | 0 | a B | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | Ξ | No. 1. Produksi tanam- an 1 di B |
| 0 | а‡2 | 0 | 0 | a 12 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | (2) | No. 2. Produksi tanam- |
| Aa B 33 | 0 | 0 | 0 | а в | !! | 0 | 0 | 0 | 0 | (3) | an 2 di B No. 3. Produksi tanam- |
| 0 | 0 | 0 | a B 24 | 0 | li . | 0 | 0 | 0 | 0 | (4) | an 3 di B No. 4. Produksi trans- |
| 0 | 0 | 0 | a 35 | 0 | 0 | 0 | 0 | Ba 1 25 | 0 | (5) | por di B No. 5. Pengiriman |
| 0 | 0 | a 136 | аВ 26 | 0 | 0 | 0 | Ва.\ 36 | 0 | 0 | (6) | transpor B — A No. 6. Pengiriman hasil |
| 0 | a47 | 0 | аВ 27 | 0 | 0 | ва.\ а47 | 0 | 0 | 0 | (7) | No. 6. Pengiriman hasil tanaman 1 B—A No. 7. Pengiriman hasil tanaman 2 B—A No. 8. Pengiriman hasil tanaman 3 B—A |
| a B 3 5 8 | 0 | 0 | 28 | 0 | вал а58 | 0 | 0 | 0 | 0 | (8) | No. 8. Pengiriman hasil tanaman 3 B—A |
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
pengiriman hasil tanaman 1 dari A ke B, dibutuhkan \(a_{26}^{A}\) transpor di A, dan \(a_{36}^{A}\) hasil tanaman 1 di A, dan dihasilkan \({}^{B}a_{36}^{A}\) satuan hasil tanaman 1 di B. Untuk aktivitas No. 5 di A, \(a_{25}^{A}\) berarti input transpor jang akan dikirimkan ke B dan djuga transpor untuk mengirimkannja. Demikian seterusnja.
Adapun tanda untuk koefisien-koefisien ini ialah positip untuk output dan negatip untuk input.
Berdasarkan matriks tabel-1 ini fungsi objektip (1) jang meminimumkan dapat dinjatakan sebagai berikut.
\[\text{[rumus tidak dapat ditampilkan dengan baik — lihat PDF asli]}\]
Dan harus memenuhi pembatas-pembatas:
1). \[a_{11}^{\Lambda} x_1^{\Lambda} + a_{12}^{\Lambda} x_2^{\Lambda} + a_{13}^{\Lambda} x_3^{\Lambda} \leqslant E^{\Lambda}\]
Pembatas ini, disesuaikan dengan fungsi objektip jang meminimumkan, maka berbentuk:
\[- a_{11}^{\Lambda} x_1^{\Lambda} - a_{12}^{\Lambda} x_2^{\Lambda} - a_{13}^{\Lambda} x_3^{\Lambda} \geqslant - E^{\Lambda}\] 2). \[a_{24}^{\Lambda}\], \(x_{t}^{\Lambda} - a_{25}^{\Lambda}\), \({}^{\Lambda}x_{t}^{B} - a_{26}^{\Lambda}\), \({}^{\Lambda}x_{1}^{B} - a_{27}^{\Lambda}\), \({}^{\Lambda}x_{2}^{B} - a_{28}^{\Lambda}\), \({}^{\Lambda}x_{3}^{B}\)
\(+ {}^{B}a_{25}^{\Lambda}\), \({}^{B}x_{t}^{\Lambda} = 0\)
3). \[a_{31}^{\Lambda} x_1^{\Lambda} - a_{36}^{\Lambda}\]. \(^{\Lambda}x_1^{B} + ^{B}a_{36}^{\Lambda}\). \(^{B}x_1^{\Lambda} \geqslant C_1^{\Lambda}\)
4). \[a_{42}^{\Lambda} x_{2}^{\Lambda} - a_{47}^{\Lambda} \cdot {}^{\Lambda} x_{2}^{B} + {}^{B} a_{47}^{\Lambda} \cdot {}^{B} x_{2}^{\Lambda} \geqslant C_{2}^{\Lambda}\] 5). \[a_{53}^{A} x_{3}^{A} - a_{58}^{A} x_{3}^{B} + {}^{B}a_{58}^{A} {}^{B}x_{3}^{A} \geqslant C_{3}^{A}\] 6). \[a_{11}^{B} x_{1}^{B} + a_{12}^{B} x_{2}^{B} + a_{13}^{B} x_{3}^{B} \leqslant E^{B}\] atau \[- a_{11}^{B} x_{1}^{B} - a_{12}^{B} x_{2}^{B} - a_{13}^{B} x_{3}^{B} \geqslant - E^{B}\] 7). \[a_{24}^{B} x_{t}^{B} - a_{25}^{B} x_{t}^{A} - a_{26}^{B} x_{t}^{A} - a_{26}^{B} x_{t}^{A} - a_{27}^{B} x_{2}^{A} - a_{28}^{B} x_{3}^{A} + A a_{25}^{B} A x_{t}^{B} = 0.\] 8). \[{}^{A}a_{36}^{B}\] . \({}^{A}x_{1}^{B}+a_{31}^{B}\) . \(x_{1}^{B}-a_{36}^{B}\) . \({}^{B}x_{1}^{A}\geqslant C_{1}^{B}\)
9). \[^{A}a_{47}^{B}\] . \(^{A}x_{2}^{B}\) + \(a_{42}^{B}\) . \(x_{2}^{B}\) - \(a_{27}^{B}\) . \(^{B}x_{2}^{A} \ge C_{2}^{B}\)
VOL. 5, No. 1, PROCEEDINGS 1970 10). \[{}^{A}a_{58}^{B}\] . \({}^{A}x_{3}^{B}\) + \(a_{53}^{B}\) . \(x_{3}^{B}\) — \(a_{58}^{B}\) . \({}^{B}x_{3}^{A}\) \(\geqslant C_{3}^{B}\)
11). \[x \ge 0\].
Dengan fungsi objcktip bervariabel6 dan dengan pembatas-pembatas dari I sampai dengan ll, persoalan plograrning linier antardaerah dalam modcl kita telah dirunruskan. Perljelesailnnja dapat dilakukirrr dengan nrctoda Sinr plex.
PtrNUTUP
Beberapa hal nrerrgenai nrodel penc'ntuiitranah pertanian ini perlu dikemukakltn clisini.
Uutuk pcntefapall dalarn keaduan jang sebettarrrja,kan ada beberapa penjinrpangarr kctjil scpcrti tclah disinggLrng diatas. Misalnja dalam n.rodel diatas, setiap claclah clianggap claput nrenauaur segala cljenis tananran. Pirda kenjataannja adalah ticlak dcnrikian.
Selandjutnja djuga aktivitas pcngirinran untuk sctiap dacrah dapat berlairrarr. Suirlu dacrah jang sanra sckeli tidak nrcnunanr tch, tentu sadja tidak akan nrcnrpunjai aktivitas pcnananran tch. Sclain claripada itu, dengan pcngctahuan djcnis-djcrris tanllr, persjirratun t'isik pelbugai djenis tananrar'1, atau dengan stucli konrparatip tentang biaja clapatlah diadakan beberapa penjederhanaan sehingga pada kerrjallannja, pcrhitLrngan ticlak akan sckonrpleks sepcrti clalarrr nrodcl ini.
llasil pcnjclcsaian dari nroclcl ini akan nrcnrbcrikart ganrbaran kedaaart jang optinruur. Derrgan nrcrrbandingkannja terhaclap kcaclaan jang sebenarnja dapatlah diketahLri dinrana lcrclapat kekurangau atau inefisiensi dalam pola jang kini acla. Dcrrgan adanja perbanclingan ii, dapatlah diketahui perubahanperubal.rarr jang akan ada, serta dinrana perLrbahau itu akan dilakukan untuk nrenudjLr pcrbaikan. Dengan diketahuinja perubahan-perubahan itu, dapatlah diperkilakan pertirmbuhan ataupun kemurrduran jang mungkin terdjadi akibat perLrbahan tersebut. Hal ini akan sangat rnembantu buat perantjangan daerah itLr.
Penterapau atau perlggunuart nrodel senratjam ini, dalirm keadaan jang sebenalnja, bergantung pada adanja data jang tepat serta pengolahan data tersebut nrendjadi bentuk seperti jang diperlukan dalam model ini, jaitu dalam bentuk koefisierr-koefisien. Penjelesaian perhitungannja akan dipermudah bilamana menggunakan alat-alat seperti kompr.rter atau mesin hitung jang kompleks.
