1. PENDAHULUAN
1. 1. Apabila sescorang hendak prominingan sampan bergan sajamisalnja pintu-air-masuk (inlet-Ingg. Intake-Amr. Einlanf-Pjena. Eggat. Pertj. inlant-Beld.), maka terlebih dahulu harus melakulan perliftur meruntuk menetapkan ukuran<sup>2</sup>-nja. Pada umumnja perhiturerin<sup>2</sup> kengil terkan dengan menegepakan foranda<sup>2</sup> hidrolika. Salah seta bera belakularin dipakai ialah:
\[\mathbf{Q} = \mu \mathbf{F} \cdot \mathbf{V} \cdot 2\mathbf{g} \cdot \mathbf{z} \cdot \dots \cdot \dots \cdot \mathbf{f} \cdot \mathbf{z}\]
dimana berarti:
Q = banjaknja air jang mengalir melalui piwa, watawa natawa/ detik;
F = luas penanapang basah didalam pintu, satuan m².
*) Research dibinjai oleh PELITA-I.T.B. Dipublik sikannja tulisan ini scizin Ecktor I.T.B.
**) Bagian Sipil I.T.B.
Sama djuga dengan h1 x b, dimana h1 adalah tinggi mukaair hilir pintu diatas ambang, sedang b aclalah lebar pintu, masing2 dengan satuan meter.
5 gravitasi - 9,80 m/det;
selisih tinggi muka-air udik pintu h dengan tinggi muka-air hilir pintu h1 dihitung dari bidang atas arnbang pintu, satuan meter;
koefisien, jarg harganja tergantung pada bentuk (konstruksi) pintu. Ti<lak bermatra. (Gambli l). p -

Gambar 1.
Oleh karena air jang masuk pintu itu mengalir dengan ketjepatan v tertentu, jang disebut djuga ketjepatan mendatang, maka ticlak tepatlah djika hanja tinggi muka-air udik pintu h sadja jang ciiikut sertal<an dalam perhitunganz, akan tetapi tinggi-ketjepatan (tinggi garis enersi)
,v2 O : ,n , dimana v - ketjepatan mendatang, harus djuga diikut sertakan.
Dengan clernikian, maka jang hanrs diirer'hitungkan n'rencljacli tinggi garis enersi udik pintu diatas arnbang pintu
\[H = h + k = h + \frac{v^2}{2g}\]
Densan aclanja tambahanz ini, rnal<a jormula ! berubahlah mendjadi :
\[Q = \mu \ b \ h_1 \ \sqrt{2g \ (z + k)} \ \dots 2).\]
dimana b : Iebar pintu, satuan meter, scpcrti pencljelasan pada formula 1). (lihat Gambar l).
1.2. Persoalan jang harus dihadapi ialah, berapa harga jang harus diberikan kepada koefisicn g, ini. Sebenarnja persoalan ini sudah menghadapi djalan buntu, oleh karcna tirlak diketahui dcngan pasti, berapa harga koefisicn g..
2. KEBIASAAN DI INDONESIA
2. 1. Ljntuk mendapatkan harga koefisien p ini cli Indonesia, pada umunrnja dipakai bukunja van Maancn (1924; 1932).
Pada pokoknia isi buku tjetakan kedua sarna denqan tjctakan pertama, tidak ada pcrubahanr jang bcrarti, hanja rlitarnbah dengan halz rncngenai bansunan-ukur, rnisalnja t.iil)taan Vlugtcr, banquuan-ukur Vt'nturi rlan acla beberayra hal lain lagi. Iluku tcrscbut tclah clipakai scbagai "buku peclonran", olch karcna rncrnang bcnar, bahn'a pacla n'aktu itu buku ini aclalah satuz-nja buku .j:rng rlapat rrrt'rrrbclikan pctuncl.juk2 keparla sescorang jang scdang nrclakukan pcrantjanuan? (rlcsign) banqunanl - iriqasi (bungunan-bangunan-pen gairan ) .
- 2.2. Untuk mernberi pcnrertian mengcnai penrbcrian harsa2 koefisien p, ini, van Nlaanen telah rncng-golong?kan pengaliran air nrclalui pintu2 itu rnendjacli 3 golongan.
- a) Pensaliran air rnelalui pintu jang sciuruhnja terletak dibawah rnuka air (Gambar 2).
Gambar 2.
Dalam golongan ini van Maanen telah menjusun suatu Daftar I.
DAFTAR I.
| The second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second secon | ) | ang lebih t dasar salı | Ambang rata dengan dasar saluran | ||
|---|---|---|---|---|---|
| Labang pintu seluruhnja dibawah muka air. | Ambang dan sisi2 lubang siku2 | Ambang dibulat- kan, sisi2 lubang siku2 | Ambang dan sisi2 lubang dibulat- kan. | Sisi2 lubang siku2- Sisi2 lubar dibulatkar | |
| Sist atos siku² | 0,04 | 0,68 | 0,73 | 0,72 | 0,81 |
| Sisi afas d.bulatkan | 0,68 | 0,72 | 0,81 | 0,76 | 0,85 |
Lebih landjut masih ditambahkan pendjelasan<sup>2</sup> mengenai Daftar I sebagai berikut
.Harga koefisien² ini dapat diketahui dengan mudah dengan membajangkan sebuah jubang berbentuk persegi empat dengan luas F. Untuk tap sisi jang siku² harga \(\mu\) F adalah 9% lebih ketjil, sedang untuk tiap sisi jang dibulatkan 5% lebih ketjil dari harga F. Djika ambang lubang pintu rata dengan dasar sungai, dari mana lubang ini menjadap, maka untuk sisi bawah (ambang) tidak perlu dikurangi". (Gambar 2).
Djikalau utjapan<sup>2</sup> ini diperhatikan benar<sup>2</sup> maka terasalah, bahwa persoalan mengenai bangunan-air, atau lebih tepat djika dikatakan persoalan mengenai pengaliran air, baik jang melalui bangunan<sup>2</sup>, maupun jang menggenangi daerah<sup>2</sup>, tampaknja sangat sederhana dan mudah.
Gambar 3.
b). Pengaliran air melalui pintu dengan muka-airnja bebas, sedang muka-air hilir lebih tinggi dari 2/3 h (Gambar 3).
Foto 1 : Potongan searah dengan aliran air. Perhatikan garis muka-air.
Foto 2 : Tampak bagian udik. Perhatikan gerak air pada tiang.
Foto 3 : Tampak bagian hi1ir. Perhatikan golakan air.
Arti h lihat pendjelasan pada formula 1).
Disini van Maanen memberi petundjuk² sebagai berikut:
Djika ambang pintu terletak lebih tinggi dari dasar sungai atau saluran
- 1. untuk ambang dan sisi<sup>2</sup> jang siku<sup>2</sup> \(\mu_1 = 0.72\);
- 2. untuk ambang jang dibulatkan, sedang sisi<sup>2</sup>-nja siku<sup>2</sup> \(p_1 = 0.76\);
- 3. untuk ambang dan sisi<sup>2</sup> dibulatkan \(\mu_1 = 0.85\)
Djika ambang pintu rata dengan dasar sungai atan saluran, maka
- 4. untuk sisi<sup>2</sup> jang siku<sup>2</sup> \(\mu_1 = 0.80\);
- 5. dan untuk sisi<sup>2</sup> jang dibulatkan \(p_4 = 0.90\).
Disini tampaklah seperti halnja jang disebutkan dalam golongan a-ajat 2, 2, dengan djelasnja, bahwa harga<sup>2</sup> koefisien p mi sedemikan terperintjinja, se-akan<sup>2</sup> semua itu sudah teratur. Hal mena menimbulkan sak wasangka akan kebenarannja.
c). Pengaliran² air melalui pintu jang letaknja muka-air hibr rendah, seperti bendung-djeram (Gambar 4).
Djika muka-air hilir \(h_1\) sama atau lebih rendah dari 2/3 h. maka haras menggunakan formula :
\[Q = \mu_2 \times 0.385 \text{ b h } \sqrt{2 \text{ g h}} \dots\]
Djika ketjepatan mendatang diikut sertakan dalam perhitungan, maka rumus 3) mendjadi:
\[Q = \mu_2 \times 0.385 \text{ b } (h + \frac{v^2}{2g}) \sqrt{2g (h + \frac{v^2}{2g})} \dots\]
Harga \(\mu_2\) dapat diberikan seperti harga \(\mu_1\).
Demikianlah menurut yan Maanen.
Gambar 4.
Jang diragukan disimialah, bahwa harga \(\mu_2\) sama dengan harga \(\mu_4\).
Djikaiau memang \(\mu_2 = \mu_1\), mengapa harus diadakan \(\mu_2\). Apakah oleh karena memang forandanja lain. Djelas membingungkan.
2.3. Keadaan ini semua sangat tidak memuaskan. Maka dari itu perlu diadakan penjelidikan² jang saksama dan mendalam untuk menghilangkan, se-tidak²-nja mengurangi ke-ragu²-an tadi.
3. PENJELIDIKAN DILABORATORIUM
3.1. Penjelidikan ini dilakukan dengan menggunakan model perketjilan dari pintu-air-masuk jang dimaksudkan. Model ini dibuat dari kaju jang keras dan kuat, kemudian ditjat dengan maksud, agar tidak terdjadi perubahan-perubahan dalam ukuran² jang sudah ditetapkan pada model, disebabkan kajunja gembung karena air, djika model itu sudah dialiri air. Pembuatan model ini dilakukan sangat teliti dengan memperhatikan ukuran²-nja sampai 0,2 mm.
Kemudian model ini ditempatkan dalam sebuah talang jang tersedia di Laboratorium hidrolika I.T.B., berukuran lebar 0,5 m, tinggi 0,70 m, pandjang 7,50 m, berdinding katja dikedua belah sisinja dengan maksud, agar gerak aliran air dibawah permukaannja dapat diikuti dan dipeladjari dengan saksama, apabila model ini nanti sudah dialiri air dengan sungguh². Dengan demikian djelaslah, bahwa aliran air itu searah dengan sumbu memandjang model (Foto 1, 2 dan 3).
3. 2. Sebelum air mengalir melalui model, maka terlebih dahulu harus diukur dengan menggunakan sekat-ukur tjiptaan Rehbock (1929). Sekat-ukur ini dapat mengukur air jang mengalir sangat teliti dan ditera di Laboratorium pengaliran air dari Sekolah Tinggi Teknik di Karlsruhe, Djerman Barat.
Untuk mengetahui banjaknja air jang mengalir melalui sekat itu harus dipergunakan formula:
\[\mathbf{Q} = (1,782 + 0.24 \frac{h_e}{p}) \text{ b } h_e^{3/2} \dots 4).\]
dimana berarti:
Q = banjaknja air jang mengalir, satuan m³/det.;
\(h_{e} = h + 0.0011 \text{ m};\)
h = tinggi muka air diatas mertju dan harus diukur sebelum muka air melengkung;
b = pandjang sekat;
p = tinggi sekat diatas dasar udik.
Untuk mengukur tinggi muka air diatas mertju dipergunakan meteran muka-air jang diperlengkapi nonius sehingga dapat menghasilkan ketelitian hingga 0,10 mm (Gambar 5).
3.3. Sesudah segala sesuatunja selesai dipersiapkan, maka dimulailah dengan mengalirkan air melalui model. Semua meteran muka-air dibatja dan menghasilkan ber-turut<sup>2</sup> tinggi muka-air udik pintu h, muka-air hilir pintu h<sub>1</sub> dan muka-air dalam sekat-ukur h<sub>0</sub>.
Gambar 5. Meteran muka air (Gambar ± 1/16 nja).
Tuntutan pertama jang harus dipenuhi ialah, bahwa tinggi muka-air udik pintu h\(=10~\rm cm\), dan tinggi muka-air hilir pintu h\(_1\) dibuat sedemikian rupa, sehingga ber-turut\(^2\) mengadakan selisih tinggi z dengan muka-air udik h sekitar 0,67 cm, 1,0 cm, 1,33 cm, 1,67 cm dan 2,0 cm dalam model atau ber-turut\(^2\) h=1,50 m, sedang z=0,10 m, 0,15 m, 0,20 m, 0,25 m dan 0,30 m dalam keadaan sesungguhnja. Pada tiap\(^2\) perubahan z ini, semua meteran muka-air ini harus dibatja. Djika tinggi muka-air udik pintu tidak menundjukkan h sekitar 10 cm lagi, maka h ini harus dibetulkan sehingga mendjadi sekitar 10 cm lagi.
Pembatjaan² ini ditulisnja dan perhitungan² dilakukan dalam Daftar II. Dari penjelidikan ini terdapat \(\mu=0.888\) pada h = 10,008 cm dan z = 2,036 cm.
4. MENETAPKAN SKALA MODEL
- 4.1. Skala untuk model jang akan diselidiki jang per-tama<sup>2</sup> bergantung pada banjaknja air jang dapat dialirkan di-Laboratorium. Jang kedua bergantung pada lebar talang, djika penjelidikan itu dilakukan didalam talang.
- 4. 2. Agar tidak mengurangi pengaruh kontraksi air jang mengalir masuk pintu disebabkan tiang², maka pada penjelidikan ini ditetapkan, bahwa banjaknja pintu jang berukuran penuh diambil 2 buah dengan sebuah tiang di-tengah², sedang jang diudjung model berukuran masing² ½ pintu
DAFTAR II Penjelidikan, Pintu-air-masuk pada model "dwimatra" skala 1:15.
| į | Tingg | i m.a. ( | liatas | ્ | Tinggi mukt-air | F | െ | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Rembatjaan eteran muka-air | nbang pintu mertju air-masuk seka), cm. (cm) | Stimt- ukur (su) | dlatas dasar udik pintu | hxB | V CeuF | k V2- | \(\int_0^{\infty} \mathrm{b.h.}_1^{-1} \sqrt{2 \mathrm{gz}^2}\) | 11. | ||||||
| To the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of the state of th | M.T. (udik_ pintu) | M.T1 (hilir p.nou) | M.T., (sekat ukur) | h (cm) index: | h1 (cm) index: 19,74 | h0 (cm) index 18,94 | 1/đet. | 1 d (cm) index: 10,12 | (cm²) B = 50 cm d = dasar | (cm det) | \[\frac{(h+k)-h_1}{(cm)}\] | (1 det) | Qsu Qo | |
| 29,74 | 27.83 | 24 86 | í | |||||||||||
| : | 29,72 | 27 80 | 24,87 | ļ | ||||||||||
| 1 | 29,75 | 27,82 | 24.80 | ! | ! | |||||||||
| 1 | 29,78 | 27,50 | 24,86 | i ! | 1 | |||||||||
| ì | 29,75 | 27,81 | 24,88 | : | i | |||||||||
| ata2 | 29,748 | 27,812 | 24,862 | 10,008 | 8,072 | 5,922 | 13,520 | 19,628 | 921,40 | 13,80 | 0,10 | 2,036 | 15,210 | 0,888 |
Keterangan:
| M.T. | = meteran taraf muka-air (m a.) diudik pintu, | luas penampang basan talang (saluran) udik, | |
|---|---|---|---|
| \(\mathbf{M} \mathbf{T}_1\) | = meteran taraf m.a. hilir pintu | в = | lebar talang (saluran) udik. |
| M To | = meteran taraf m.a. pada sekat-ukur | ||
| h | = tinggi m.a. udik diatas mertju ambang (MT-index mertju ambang), | • | ketjepatan air udik (ketjepatan |
| \(\mathbf{h}_1\) | = tinggi m.a. belakang terhadap mertju ambang (MT1-index mertju ambang) | mendatang). | |
| \(\mathbf{h}_0\) | = tinggi m.a. diatas mertju sekat-ukur (MTo-index mertju sekat-ukur) | b = | lebar pintu (djumlah pintu²) |
| hd | = tinggi m.a. udik terhadap dasar | g = | gravitasi. |
berukuran penuh dengan dua buah tiangnja, dengan djumlah tiang<sup>2</sup>-nja semua 3 buah (Gambar 1, foto 2 dan 3).
Djikalau tebal tiang-model ditetapkan sebagai satuan ukuran dan diberi simbol t, sedang lebar pintu model jang berukuran penuh ditetapkan = \(1\frac{1}{2}\) kali t dan diberi simbol b, maka pandjangnja model adalah
\[2 \times b + 2 \times \frac{1}{2}b + 3t =\]
\[2 \times 1\frac{1}{2} t + 2 \times \frac{1\frac{1}{2} t}{2} + 3 \times t = 3 t + 1\frac{1}{2} t + 3 t = 7\frac{1}{2} t.\]
Model ini ditempatkan didalam talang jang lebarnja 0,50 meter.
Dengan demikian, maka \(7\frac{1}{2}\) t = 0,50 meter.
Tebal tiang sesungguhnja akan dibuat 1,00 m.
Angka skala model adalah 100 cm : \(6\frac{2}{3}\) cm = 15.
Penjelidikan jang dilakukan dalam talang seperti ini disebut penjedidikan setjara dwimatra. Bangunan dalam keadaan sesungguhnja disebut prototipe.
5. TEORI PENJELIDIKAN BANGUNAN AIR DENGAN MODEL
5.1. Apabila simbol² mengenai ukuran² dalam keadaan sesungguhnja dipergunakan huruf² besar, sedang jang mengenai model dipergunakan huruf² ketjil. Sedang untuk bilangan skalanja dipergunakan huruf n, misalnja 1:n, dan n dapat mempunjai ber-bagai² harga, maka persamaan² jang menghubungkan antara besaran² dari model dan keadaan sesunggguhnja atau sebaliknja dapat disusun seperti Daftar III.
DAFTAR III
| Sesungguhnja | Model | Persamaan | |||
|---|---|---|---|---|---|
| Pandjang | L | 1. | L = nl. | ||
| Lebar | B. | b. | B = nb. | ||
| Tinggi | H. | h. | H = nh. | ||
| Luas | F = H.B. | f = h.b. | \[\begin{vmatrix} \mathbf{F} &= \mathbf{n}\mathbf{h}\mathbf{x}\mathbf{n}\mathbf{b} &= \mathbf{n}\mathbf{n}^2 \mathbf{f}. \\ \mathbf{n}^2 \mathbf{h}\mathbf{b} &= \mathbf{n}^2 \mathbf{f}. \end{vmatrix}\] | ||
| Isi | I = H.B.L. | i = h.bl. | \[\begin{vmatrix} \mathbf{I} &= \mathbf{n}\mathbf{h}\mathbf{x}\mathbf{n}\mathbf{b}\mathbf{x}\mathbf{n}\mathbf{l} &= \\ \mathbf{n}^{3}\mathbf{h}\mathbf{b}\mathbf{l} &= \mathbf{n}^{3}\mathbf{i}. \end{vmatrix}\] | ||
| \(V = \sqrt{2g} \sqrt{H}\) | \[\begin{array}{c} v = \sqrt{2g}\sqrt{h} \\ t = \frac{1}{r} \end{array}\] | \[V = \sqrt{2g} \ \sqrt{nh} = n\frac{1}{2}v.\] | |||
| Waktu | \(T = \frac{L}{V}\) | \(t = \frac{1}{v}\) | \(T = \frac{nl.}{n^{\frac{1}{2}} v} = n^{\frac{1}{2}} t.\) | ||
| Debit | Q = V X F | q = v x f | \(Q = n^{\frac{1}{2}} v x n^2 f = n^2, ^5 q.\) | ||
5. 2. TJONTOH
Dari pertjobaan ini dapatlah beberapa tjontoh perhitungan dipertundjukkan untuk mengetahui besaran<sup>2</sup> dalam keadaan sesungguhnja jang sudah terhimpun dalam Daftar IV.
| 1 | \(\wedge\) | \(\mathbf{F}'\) | \(\Gamma \Lambda\) | D | 117 |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | ۱r. | I /\ | .K | ıν |
| Besaran | Ukuran pada model | Ukuran pada bangunan sesungguhnja |
|---|---|---|
| h | 10,008 cm | 10,008 x 15 == 1,50 m |
| \(h_1\) | 8,072 cm | 8,072 x 15 == 1,22 m |
| Q | 13,520 l/det. | \(13,520 \times 15^{2,5} = 11,77 \text{ m}^3/\text{det}.\) |
6. KESIMPULAN
6. 1. Dari data hasil penjelidikan jang terbatas itu dapat dilukis sebuah grafik Gambar 6. Garis jang menghubungkan titik² itu ternjata lurus. Djelaslah, bahwa djika z berubah, berubahlah harga \(\mu\). Makin besar harga z, tidak makin besar harga \(\mu\), akan tetapi sebaliknja mendjadi makin ketjil. Kedjadian ini dapat diterangkan, bahwa djika z mendjadi lebih besar, maka ketjepatan aliran air v jang masuk pintu mendjadi lebih besar pula, sehingga arus aliran air tidak dapat mengikuti lagi bentuk bulatan tiang dibagian udik, sehingga menimbulkan kontraksi lebih besar dimulut pintu, jang berarti pula mengetjilkan harga koefisien \(\mu\).
Dengan perkataan lain \(\mu\) bergantung pada z.
7. PENGALAMAN DI INDONESIA
7.1. Menurut Begemann 1) dalam tahun 1926 pernah dilakukan penjelidikan² sematjam itu dalam saluran-induk dari bendung Glapan dalam K. Tuntang, kira² 30 km disebelah Timur kota Semarang (Djawa-Tengah), jang menghasilkan \(\mu=0.95\). Sajang sekali bahwa harga z tidak di-sebut². Akan tetapi tampak dengan djelasnja, bahwa harga \(\mu=0.95\) terdapat djuga dalam grafik Gambar 6 tadi kira² pada z = 0,18 m. Walaupun tidak tepat sama, tetapi tidak akan djauh berbeda dengan kedjadian sebenarnja, djika ditetapkan sadja z = 0,18 m pada waktu diadakan penjelidikan dalam keadaan sesungguhnja di Glapan, oleh karena pada umumnja pintu²-air di Indonesia dirantjang (design) dengan z sekitar 0,10 à 0,20 m.
Dengan demikian maka dapat dikatakan, bahwa antara penjelidikan dalam keadaan sesungguhnja di Glapan ada persesuaian jang baik sekali dengan penjelidikan di laboratorium.
Harga \(\mu=0.95\) tidak di-sebut² sama sekali dalam bukunja van Maanen. Jang paling tinggi \(\mu=0.90\).
Grafik hubungan antara \(\mu\) dan z dalam formula
\[Q = \mu bh_1 \sqrt{2g (z + k)}.\]
Untuk pintu-air sesungguhnja, menurut penjelidikan atas model dari Gambar 1 skala 1:15.
Tebal tiang t = 1,-m. \(b = 1\frac{1}{2}t\). \(h = 1\frac{1}{2}t\).
h = tinggi m.a. udik
\(h_1 = tinggi m.a. hilir\)
b = lebar pintu.

Gambar 6.
Masih dapat ditambahkan, bahwa jang paling berkepentingan dengan persoalan ini adalah Direktorat Irigasi, Direktorat Djendral Pengairan, Departemen Pekerdjaan Umum dan Tenaga Listrik. Apakah dalam perhitungan²-nja dengan formula² 1) atau 2) sudah dipergunakannja harga \(\mu\) sekitar 0,95, tidaklah dapat disebutkan disini.
Menurut buku² Standar jang diterbitkan oleh Projek penjusunan standar perentjanaan dan buku-buku pedoman pengairan di Bandung tahun 1970/1971, bagian dari Departemen tersebut, tidak terdapat harga \(\mu=0.95\), walaupun persoalan ini sudah diumumkan oleh Begemann (1931).
