PEIIGA]'ITAR
Telah lama diketahui bahlra tenpe bongkrek seilng kall r0enyebabkan lceracrman yang nenyebabkan kenatlan berpuluh-puluh penduduk, tellstlt[eltra dl daerah Banyunas. Dl sini yang dlmakaud dengan teDpe bongkrek adalah seurua tempe bungkil, tempe kede.le atau lain-laln nacaE tenpe yang dalan penbuatannys ditanbahkan opas kelapa.
Uengenal tok8i.n-toksln yang terdapat dalam teurpe bongkrek. yang beracrm sebenarnya telah lana di.ketahui oleh van Veen dan Mertens (1). Meleka berhasil aengisolasl dua racun kelas yang dlsebut asaD bongkrek yang tldak benrarna dan toxo,flavln yang berirarna k@ing. Juga nereka berhas{l nenglsolasi bakteri bongkrek yanS terk€na1 sebagal Paeudmonx.s cocouenerranl, yang ternyata yang neoproduksl kedua racun tersebut.
MelrgtnSat htnSga ktni naslh belun ada metoda analisa yang praktl,8, cepat dan yang dapat dlpercaya hasilnya, maka dirasa perlu untuk dlcali @toda yan8 ldeal tersebut yang dapat dilakukan oleh ttap-ttap laboratoriur pengontrolan bahan makanan dl daerah-daerah. Dengan adanya cara ya g praktls Ltu naka dapatlah dlharapkan bahlra keracunan-ke racunan dapat dthJ.ndarl atau dlktlrangi, sedangkan uncuk korban-korban yang telah ter-Jadl- dapatl-ah ditetapkan dengan pastl akan, adanya keracunan teupe bongkrek dengan jalan urenganalisa sisa makanannya, unCah-@tahannya dan sebagalnya.
Dals! publlkasi. lni akan dikemukakan netoda analisa tempe bongkrek yang beracun terhadap adanya asam bongkrek.
Adapud LD50 asan bongkrek adalah 1400 !g per kg berar badan apablla dtberlkan lntraveDeus pada tikus. Racun lnl dal€n keadaan bebas tldak stabll dan tidak larut dalarn air melalnkan lalut dalau pelarue olganlk. Garannya adalah stabll dan oudalr larut dalan larutan alkall. Runus empltlsnya adalah aZg".lgOZ dengan berat nolekul 485. Struktur yang dlkqnukakan oleh Lllribach (2) adalah seperti dl bawah inl.
\[\text{[rumus tidak dapat ditampilkan dengan baik — lihat PDF asli]}\]
Struktur asam bongkrek
Tanda ikatan ..... berarti masih belum pasti
BAHAN DAN METOPA
- 1. Zat-zat kimia. Zat-zat kimia yang dipakai adalah dari derajat murni, kecuali apabila disebut lain. Yang dimaksud dengan air adalah aqua destilata.
- 2. Tempe bongkrek normal. Ini diperoleh dari pasar di Purwokerto, Jawa tengah.
- 3. Tempe bongkrek beracun. Ini diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi Institut Teknologi Bandung, yang telah menewaskan berpuluh-puluh orang di daerah Banyumas.
- 4. Standar asam bongkrek. Zat ini dibuat menurut metoda Soedigdo dan Liem Thiam Tjwan (3). Ini disimpan pada suhu 2°C dalam bentuk garam natriumnya dalam larutan 2% NaHCO3.
- 5. Standar garam amonium asam bongkrek. Untuk membuat zat ini maka 5 ml Na-asam bongkrek diasamkan dengan \(\rm H_2SO_4\) 2 N sampai pH = 2 3. Ini diekstraksi dengan 20 ml eter bebas peroksida. Cuci dengan air dan akhirnya diekstraksi dengan 2 ml 2% NH\(_4\)OH. Larutan ini yang dipakai untuk eksperimen.
- 6. Plat lapisan tipis. Ini dibuat sebagai berikut: l bagian berat silica gel (G, H atau GF) buatan F. Merck dicampur dengan 2 bagian volume air dan diaduk sampai menjadi bubur. Dengan pertolongan alat penglapis dibuatlah plat-plat lapisan tipis berukuran 2,5 x 7,5 cm atau 10 x 20 cm. Kemudian ini diaktipkan pada 110°C selama 30 menit. Lalu didinginkan di dalam eksikator dan baru diambil jika hendak melakukan percobaan-percobaan.
EKSPERIMEN DAN HASIL
Tempe bongkrek atau bahan makanan lainnya yang akan dianalisa hendaknya cukup kering dan apabila dianggap perlu dikeringkan dalam eksikator pada vakum pada suhu kamar. Berbagai percobaan telah dilakukan sebagai berikut:
1. Ekstraksi asam bongkrek
Sebagai langkah pertama dalam analisa tempe bongkrek atau bahan makanan lainnya maka dilakukan ekstraksi asam bongkrek sebagai berikut: 10 gram tempe bongkrek yang cukup kering digerus dalam mortir, kemudian dipindahkan ke dalam gelas pisah dan diekstraksi dengan 30 ml petroleum eter dengan jalan pengocokan selama kurang lebih 10 menit. Jika ada asam bongkrek maka ini akan larut ke dalam pelarut organik tersebut. Petroleum eter dipisahkan dan dimasukkan ke dalam gelas pisah kedua. Lalu ekstrak ini dikocok dengan 10 ml NH OH 2%.
Prosedur tersebut kadang-kadang perlu diubah kwantitas bahan-bahannya, hal mana ini bergantung pada keadaan sampel dan kadar racun yang dikandungnya. Juga kadang-kadang perlu dilakukan pemurnian lebih lanjut seperti berikut: Ekstrak dalam NH<sub>4</sub>OH yang diperoleh diasamkan dengan H<sub>2</sub>SO<sub>4</sub> 9N sampai pH sekitar 4 (kertas pH). Pengasaman diteruskan dengan H<sub>2</sub>SO<sub>4</sub> 2N sampai pH 3 (kertas pH). Larutan ini harus segera diekstraksi dengan 30 ml eter bebas peroksida. Selanjutnya larutan air dipisahkan dan eter yang tertinggal dicuci dengan 20 ml air. Akhirnya eter ini dikocok dengan larutan NH<sub>4</sub>OH 2% dan larutan inilah yang dipisahkan untuk dianalisa.
2. Kromatografi kertas
Untuk ini diperlukan kertas Whatman I dengan ukuran 25 X 8 cm. Ekstrak yang diperoleh seperti di atas dan standar garam amonium asam bongkrek diteteskan berdampingan di atas kertas kromatografi dengan jarak 2 cm. Setelah kering, kertas dijenuhkan selama 3 jam di dalam lemari kromatografi. Kemudian dielusi dengan larutan yang terdiri dari campuran etanol: amonia: air (20:1:4; v/v). Di sini dipakai kromatografi turun.
Setelah elusi berjalan 15 jam, kertas dikeringkan dan noda dideteksi di bawah sinar ultra violet. Jika ada asam bongkrek maka akan terlihat noda yang semu gelap. Ini diberikan oleh standarnya dan tempe bongkrek yang beracun.
Cara deteksi lain ialah dengan menaruh kertas di dalam ruangan yang ada uap iodiumnya (4). Noda asam bongkrek akan menjadi coklat dan ini dapat diabadikan lewat penyemprotan dengan larutan kanji (4).
Untuk mendapatkan noda yang cukup jelas maka asam bongkrek yang diteteskan pada kertas adalah sedikit-dikitnya 3,5 \(\mu g\).
Adapun \(R_{\mathrm{f}}\) yang diperoleh untuk asam bongkrek adalah 0,70.
Dari percobaan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa metoda ini dapat dipakai untuk mendeteksi akan adanya asam bongkrek dalam sampel hanya sayangnya diperlukan waktu yang lama.
3. Kromatografi lapisan tipis (KLT)
Juga cara KLT dicoba untuk mendeteksi asam bongkrek. Eluen yang dipakai terdiri dari campuran metanol : etil asetat \((1:1;\,v/v)\). Larutan sampel dan standar garam amonium asam bongkrek diteteskan berdampingan dengan jarak 2 cm pada lapisan tipis Silica gel yang dibuat menurut cara yang diuraikan dalam Bab Bahan dan Metoda. Setelah kering plat dielusi selama 8 menit, lalu dikeringkan pada suhu kamar. Untuk mendeteksi noda digunakan sinar ultra violet, juga digunakan uap iodium. Ternyata tempe bongkrek yang beracun menghasilkan noda yang sama dengan noda standar dengan \(R_f\) yang sama ialah 0,64. Adapun tempe bongkrek yang tidak beracun tidak memberikan noda seperti tersebut di atas.
Dari hasil-hasil tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa KLT merupakan metoda untuk menganalisa asam bongkrek dengan cepat dan teliti. Kepekaannya sama dengan kromatografi kertas yang telah diutarakan di atas.
4. Spektrum absorpsi
Untuk meyakinkan bahwa noda-noda yang diperoleh pada kromatografi adalah memang benar-benar asam bongkrek, maka dapat dibuat spektrum absorpsinya. Untuk ini maka noda pada plat dikerik atau noda pada kertas kromatografi digunting, lalu diekstraksi dengan larutan amonia 2% dengan volume yang sesedikit-sedikitnya. Ekstrak yang diperoleh ini ditentukan spektrum absorpsinya di daerah ultra violet. Bila ada asam bongkrek maka spektrum akan menunjukkan dua maksima pada 263 nm dan 239 nm, sedangkan minimumnya pada 250 nm.
Jika dikehendaki, maka kadar asam bongkrek yang ada pada noda di kertas atau di lapisan tipis dapat ditetapkan pula setelah dilakukan ekstraksi seperti di atas lalu diukur absorpsinya pada 263 nm atau 239 nm. Pengukuran ini dilakukan di daerah di mana hukum Beer berlaku. Maka kadar (c) asam bongkrek dapat dihitung dari persamaan:
A = E.c.d
A = absorbansi
d = 1 cm (kuvet)
E = ekstinksi molekular.
Untuk garam amonium asam bongkrek maka E pada 263 nm dan 239 nm adalah sama dengan 40.600 sedangkan berat molekulnya adalah 537.
DISKUSI
Hasil-hasil eksperimen menunjukkan bahwa cara kromatografi lapisan tipis dapat diusulkan sebagai metoda analisa asam bongkrek dalam tempe bongkrek atau bahan makanan lainnya yang paling cepat, cermat dan terpercaya yang hingga kini belum ada. Analisa dapat diselesaikan dalam kira-kira setengah jam mulai dari ekstraksinya. Di samping ini pekerjaan dapat dilakukan oleh laboratorium tiap-tiap universitas dan laboratorium jawatan kesehatan di daerah-daerah yang mempunyai analis. Metoda ini juga baik untuk pemeriksaan-pemeriksaan di lapangan.
Kromatografi kertas juga dapat dipakai dengan hasil yang sama ketelitiannya, akan tetapi memakan waktu sampai sekitar 24 jam.
Perlu diketahui kiranya bahwa ampas kelapa yang dipakai dalam pembuatan tempe bongkrek kadang-kadang sudah beracum, hal mana telah dibuktikan dengan cara analisa yang diutarakan di sini.
Prosedur analisa untuk analisa racun-racun bongkrek masih terus akan disempurnakan, juga akan disesuaikan untuk keperluan pemeriksaan untah-untahan, bahan makan lainnya, urine, darah dan lain sebagainya.
PUSTAKA
- Van Veen, A.G., dan Mertens, W.K., Rec. Trav. Chim., 53, 398 (1934); juga 54, 373 (1935).
- Lijmbach, G.W.M., Ph.D. thesis, Techn. Hoge School, Delft, Holland (1969).
- 3. Soedigdo, P., dan Liem, T.T., Research J., 2, 19 (1968).
- 4. Soedigdo, Soekeni, dan Harun, Farida, Acta Pharm., 3, 79 (1972).
(Diterima 13 September 1976)
