1. Home
  2. Archives
  3. Vol 23 (1990) Issue 1
  4. Articles

Ilmu Kimia Tanaman Lauraceae Indonesia: III*. Isolasi Aktinodafnin dan Boldin dari Litsea glutinosa

Abstract

Aktinodafnin (I) dan boldin (lI), dua senyawa alkaloid dari jenis benzilisokuinolin, telah dipisahkan dari kulit akar tanaman Litsea glutinosa (Lour) C.B. Robinson var. littoralis Bl., suatu varitas yang belum pernah diselidiki peneliti lain. Struktur kedua alkaloid ini telah ditetapkan dengan cara-cara spektroskopi. Penemuan ini melanjutkan penemuan kami sebelumnya tentang suatu alkaloid fenantren baru, yang dinamai itebein, dari spesies tanaman yang sama. Two benzylisoquinoline alkaloids, actinodaphnine (I) and boldine (II), have been isolated from the root bark of Litsea glutinosa (Lour) C.B. Robinson var. littoralis Bl., a variety which has not yet been investigated by other workers. The chemical structures of both alkaloids have been determined by spectroscopic methods. This is to follow-up our previous work on the isolation of a new phenanthrene alkaloid, named itebeine, from the same plant species.

1 PENDAHULUAN

Lauraceae adalah tanaman tropis yang banyak terdapat di Indonesia (Kostermans, 1957). Tanaman ini banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, misalnya kayu besi atau kayu ulin dari Eusideroxylon zwageri untuk bahan bangunan, kayu massoi dari Cryptocarya massoy untuk bahan obat, kayu manis dari Cinnamomum burmani untuk rempah-rempah, buah adpokat dari Persea americana sebagai buah-buahan, dan sebagainya. Beberapa di antara tanaman ini telah dieksploitasi secara berdaya guna sehingga hampir mengalami kepunahan (Gottlieb, 1972).

Lauraceae dikenal pula sebagai salah satu famili tanaman yang kaya akan alkaloid (Raffauf, 1970; Hegnauer, 1966). Penelitian terdahulu terhadap genus Litsea, salah satu genus terbesar di antara 31 genera dari famili Lauraceae, telah berhasil mengungkapkan sejumlah alkaloid dari jenis benzilisokuinolin, aporfin, dan morfinan (Bick, 1978).

Untuk Bagian II dari seri Ilmu Kimja Tanaman Lauraceae Indonesia, lihat Zamri dkk. (1990), ACJC Chem. Res. Comm. (telah dikirim untuk publikasi)

Alamat tetap: Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Riau, Pekanbaru.

Dalam rangka penelitian kami tentang alkaloid isokuinolin dan ilmu kimia tanaman I-auraceae yang terdapat di Indonesia (Syahbirin, 1991,; Hakim, I99l; 7zmn, 1990), penyelidikan tentang kandungan alkaloid lainnya dari Litsea glutinosa (I-our) C.B. Robinson var. litnralis telah dilanjutkan. Varitas I:uraceae ini, yang dikenal sebagai "huru perak" dan tumbuh secara liar di Jawa Barat, belum pemah diselidiki oleh peneliti lain.

2 PERCOBAAN

Umum

Titik leleh ditentukan dengan alat Fisher Johns. SpeKrum ultraviolet diukur dengan spektrofotometer Shimadzu UV-210A dan spektrum inframerah ditentukan dengan spektrofotometer Shimadzu IR-430. Spektrum massa resolusi rendah diperoleh dengan spektrometer Hewlett Packard 5896, spektrur lH-NltR ditentukan dengan spektrom€tcr Bruker AM 300 yang beke{a pada 3fi),13 MIIz, atau JEOL GSX 400 yang beke{a pada 399,78 MI{2, sedangkan "C-NvfR di.r:kur dengan JEOL GSX 4O0 yang bekerja pada 1fi),53 MIIz. Kolom kromatografi menggunakan silika gel Merck G Q,70-?30 mesh. Kromatografi lapis tipis dilakukan pada silika gel Merck GF 254.

Pengumpulan bahan tanaman

Bahan tanaman Litsea glutinosa (I-our) C.B. Robinson var. Iittoralrs Bi. dikumpulkan dari daerah Gegunungan Jelekong, Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Spesies ini diidentifikasi oleh Prof. Dr. A.J.G.H. Kostermans dari Herbarium Bogoriensis, Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi, Irmbaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor. Spesimen tanaman ini disimpan di Herbarium Bogoriensis.

Ekstraksi alkaloid

Bahan tanaman yang terdiri dari kulit akar dibersihkan, dikeringkan, dan digiling hingga halus. Kulit akar (3,9 kg) diekstraksi pada suhu kamar, pertama-tama dengan n-heksan kemudian dengan metanol. Pelarut metanol diuapkan dengan rotavapor tanpa p€manasan yang berlebihan, menghasilkan residu (340 g). Residu diekstraksi dengan larutan asam sitrat 3%.Lapisan asam dipisahkan dan dibasakan dengan larutan amonium hidroksida, kemudian diekstraksi dengan kloroform. Penguapan pelarut kloroform menghasilkan residu alkaloid totalberupa padatan kuning (54 g).

Pemisahan alkaloid

Residu alkaloid total (-54 g) yang berasal dari kulit akar dilarutkan dalarn asam klorida 37o. Setelah dicuci dengan eter, larutan asam dibasakan dengan larutan nairium hidroksida 10%. I:rutan yang bersifat basa diekstraksi dengan eter. Penguapan pelarut eter menghasilkan fraksi "non-fenol" berupa padatan mklat (4.4 g). Ke dalam lapisan basa ditambahkan amonium klorida hingga larutan mencapai pH 9, kemudian diekstraksi dengan kloroform.

Penguapan pelarut kloroform menghasilkan fraksi fenol berupa padatan coklat (39,5 g). Pemisahan pendahuluan ini menjadi frahsi fenol dan "non-fenol" seringkali tidak efektf, karena suatu alkaloid fenol kadang-kadang terkonsentrasi dalam fraksi "non-fenol" (Zamri, 1990; Johns, 1966).

Aktinodafnin (I) - Fraksi "non-fenol" dari kulit akar pada kolom kromatografi menghasilkan empat fraksi, yang dielusi berturut-turut dengan campuran kloroform-metanol 99lI;9713;90/10; dan 85/15. Fraksi ketiga yang dielusi dengan kloroform-metanol (90/10) setelah penguapan pelarut menghasilkan padatan kuning-cokJat (1,7 g). Rekromatografi kolom dari padatan ini dan rekristalisasi dari kloroform-*netanol (m/10) menghasilkan aktinodafnin (I) berupa kristal putih berbentuk jarum (113 mg), yang memberikan satu noda pada kromatografi lapis tipis, t.l. 207-2O9o C, l, maks (MeOlD 223,5,283,5, dan 308 nm (log e 4,39, 4,l3,dan 4,18); (MeOH+NaOlI) 224,5 dan 325 nm (lgg e. 4,13 dan 4,36); v maks (KBr) 1090,Izm,1430, 1500, 1580, 1600, 2890dan 3400 cm-^. Spektrum massa, m/z 311 (M-, 63%),31.0 (100), 296 (6), dan 282 (9,8), dan 'H-NMR 6 (d6-DMSO, 300,13 MIIZ) 3,76 (3H, s, OCI{3),5,95 (1H, d, J = 0,9 IIz, OCHzO),6,09 (1H, d, J = 0,9 IIz, OCH2O), 6,55 (1H, s, fuIl, 6,70 (lH, s, AIII), dan 7,55 (1H, s, ArlD ppm.

Boldin (ID - Fraksi fenol dari kulit akar pada koiom kromatografi menghasilkan lima fraksi, yang dielusi berturut-turut dengan kloroform, campuran kloroform-metanol (99/1), (9614), (9416), dan metanol. Fraksi kedua, yang dielusi dengan campuran kloroform-metanol (9911), pada penguapan pelarut menghasilkan padatan (0,53 g) dan rekristalisasi dari metanol-benzen menghasilkan boldin (II) berwujud kristal mengkilat tak berwama berbentuk pelat, t.l. 1&-I66oC; tr maks (MeOIf; 22O,282,5,303,5, 315(sh) nm (1og t 4,57,4,48.4.47. dan 4,43); (MeOH + NaOH) 221,5 dan 325,5 nm (log e 4,59 dan 4,56);v maks (KBr) ,,r,, 1090. 1575,2800-3000,3500 cm-'. Spckrrum mass€r. mlz327 (M-,S8%).326 (100),312 (44),296(2r),2U(27),269(15),252(7,6),224 (9), 181 (3),r& (5,5),158 (5),152(3),r49 (7), 58 (32), 43 (78), dan 'H-NMR 6 (CDCb/CD3OD, 399,78 MIlz),2,55 (3H, s, NCFI3), 2,5'l-3,15 (6I'I, m, 3 x CFI2), 3,6 (3II, s, OCIfu), 3,9 (3H, s, OCH3), 6,6 (1II, s, ArI!, 6,8 (1H, s, ArH), 7,9 (1I{, s, ArFI) ppm.sementara itu rrC-NMR 6 (CDCb/CD3OD, 1fi),53 MIIZ) 28,9 (C-4), 33,6 (C-7), 43,2 (N-CH:), 53,2 (C-5), 55,9 (C1O-OCIb), 59,9 (C1-OCH3), 62,3 (C-6a), 110,7 (C-11), 113,4 (C-3), 114,3 (C-8), 123,5 (C-11a), 125,6 (C-1b),126,2 (C-1a), 128,9 (C-7a),129,9 (C-3a),143,4 (C-l),145,1 (C-9), 145,8 (C-10), 124,4 (C-2) ppm.

3 PEMBAIIASAN

Alkaioid dari Litsea glutinosa telah dipisahkan ke dalam fraksi fenol dan "non-fenol" dengan cara partisi di antara larutan NaOH dan pclarut organik. Pemisahan awal dengan clra ini tidak sepenuhnya berhasil, karena alkaloid aktinodafnin (I) yang bersifat fenol temyata ditemukan dalam fraksi "non-fenol". Gejala ini ditemukan pula pada pemisahan itebein dari kulit ranting Litsea glutinosa (7amn, 199)) dan pada pemisahan alkaloid kasitisin dari Cassytha melantha (Johns, 1966).

Dua alkaloid telah ditemukan pada Litsea glutinosa dalam jumlah yang cukup untuk keperluan karakterisasi. Kedua alkaloid ini ialah alkaloid aporfin yang sudah dikenal, yakni aktinodafnin (I) (Ghose, 1934) dan boldin (II) (Nakasato, 1966).

Pada pemisahan kromatografi dari fraksi "non-fenol" yang berasal dari kulit akar, ditemukan alkaloid aktinodafnin (I) berwujud kristal jarum berwarna putih kekuningan, t.l. \(207-209^{\circ}\)C (Guinaudeau, 1975: t.l. \(203-205^{\circ}\)C). Spektrum ultraviolet dari aktinodafnin (I) dalam metanol adalah khas untuk alkaloid aporfin yang tersubstitusi pada posisi 1,2,9,10 (Sangster, 1965). Perpindahan batokromik yang ditunjukkan oleh spektrum ultraviolet, pada suasana basa, menunjukkan adanya gugus fungsi fenol. Spektrum massa dari aktinodafnin (I) menunjukkan ion molekul \(M^{+}\) m/z 311 dan puncak dasar pada m/z 310 (\(M^{+}\)-1) yang khas untuk alkaloid aporfin. Fragmen ion, m/z 282 memberi petunjuk tersingkirnya fragmen metilenimin, \(CH_2\)=NH yang khas bagi suatu noraporfin (Budzikiewics, 1964; Jackson, 1966). Selanjutnya, spektrum \(^{1}\)H-NMR dari aktinodafnin (I) memperlihatkan tiga singlet yang tajam untuk tiga proton tunggal aromatik pada \(\delta\) 7,55, 6,70 dan 6,55 ppm, berturut-turut untuk H-11, H-8, dan H-3. Di pihak lain, 2 pasang dublet pada \(\delta\) 6,09 dan 5,95 ppm (J = 0,9 Hz) menunjukkan dua proton metilendioksi pada posisi C-1 dan C-2. Adapun singlet pada \(\delta\) 3,76 ppm untuk 3 proton setara magnet diberikan oleh gugus metoksil. Data fisik

aktinodafnin (I) seperti diuraikan di atas sesuai dengan data aktinodafnin pembanding yang dipisahkan dari Litsea diversifolia (Hakim, 1991).

Pada pemisahan kromatografi dari fraksi fenol yang berasal dari kulit akar, didapatkan alkaloid boldin (II) berupa kristal berbentuk pelat tak berwarna, t.l. 164–166°C (Guinaudeau, 1975: t.l. 161 C). Spektrum ultraviolet dari boldin (II) dalam metanol menunjukkan serapan yang khas bagi alkaloid aporfin yang tersubstitusi pada posisi 1,2,9,10, dan perpindahan batokromik dalam suasana basa memberi petunjuk adanya gugus fenol. Spektrum massa dari boldin (II) menunjukkan ion molekul M<sup>†</sup>, m/z 327, puncak dasar pada m/z 326 (M<sup>†</sup>–1) dan puncak pada m/z 284 (M<sup>†</sup>– CH<sub>2</sub>=NCH<sub>3</sub>) yang khas bagi alkaloid aporfin, sebagaimana telah disimpulkan oleh spektrum ultraviolet di atas. Spektrum <sup>1</sup>H-NMR dari boldin (II) dirinci seperti tercantum pada struktur (II). Sementara itu, spektrum <sup>13</sup>C-NMR dari boldin (II) memperlihatkan jenis-jenis karbon sebagaimana diharapkan, dan alokasi masing-masing sinyal dihimpun dalam struktur boldin (III). Data spektroskopi boldin seperti diuraikan di atas sesuai dengan data seperti dilaporkan oleh pustaka (Guinaudeau, 1975; 1979; 1983).

2

Aktinodafnin dan boldin sering ditemukan, baik secara terpisah maupun bersama-sama, pada tanaman Lauraceae (Bick, 1978). Berdasarkan kenyataan ini dapat disarankan bahwa kedua alkaloid ini mempunyai arti penting dalam kemotrksonomi lauraceae. Aktinodafnin dan boldin juga ditcmukan bersama-sam apada Litsea glutinosa, var. glabraria (Tewan, 1972).

Namun, ditemukannya aktinodafnin O dan boldin (II) dalam penelitian sekarang ini, bersama-sama dengan alkaloid fenantren itebein (I\) (Zamri, 1990), pada Litsea glutinosa, var. litnralis, merupakan contoh yang baik untuk menunjukkan hubungan biogenesis alkaloid pada l-auraceae. Dalam hal ini dapat disarankan babwa boldin (II) merupakan prekursor bagi aktinodafnin O, yang selanjutnya mengalami transformasi menghasilkan itebein (IV; melalui reaksi eliminasi Ilofmann. Transformasi ini selaras dengan kecenderungan bahwa semua alkaloid fenantren alam darj jenis itebein (IV; yang telah dikenal hingga saat ini tidak mengandung substituen pada posisi C-5. Kecenderungan ini disebabkan oleh karena hambatan energi untuk perubahan garam aporfinium kuatemer menjadi fenantren akan lebih kecil apabila C-11 pada aporfin tidak mengandung substituen (Shamma,1986).

/ " ,/' \.n, )c cI{3o (IV )

Selanjutnya, pcnemuan aktinodafnin (I) dan boldin (II) benama-sama dengan itebein (I\) pada Litsea glutinosa, var. Iittoralis, sesuai dengan biogenesis seperti diuraikan di atas, memberi petunjuk bahwa varita; ini berada pada tingkat evolusi yang lebih lanjut dibandingkan dengan Litsea glutinosa" var. glabraria.

4 KESIMPUI-AN

Dalam rar:gka mempelajari ilmu kimia tanarnan l-auraceae yang terdapat di Indonesia, penelitian tentang kandungan alkaloid dari tanarnan Litsea glutinosa (-our) C.B. Robinson var. littoralis Bl., suatu spesies yang belum pemah diteliti oleh peneliti lain, tehh dilanjutkan. Dua alkaloid benzilisokuinolin yang telah dikcnal dapat ditemukan pada tanaman ini, masing-masing aktinodafnin O dan boldin (II).

Pensmuan kedua senyawa ini penting artinya bila dikaitkan dengan suatu alkaloid fenantren baru yang telah diberi nama itebein (IV), yang ditemukan pada tanaman yang sama pada kesempatan penelitian kami terdahulu (Zamri, 1990).

Berdasarkan penemuan ini dapat disarankan bahwa aktinodafnin (I) dan boldin (II) mempunyai arti penting dalam kemotaksonomi I-auraceae. Sementara itu, penemuan aktinodafnin (l) dan boldin (l), bersama-sama dengan itebein (W), pada tanaman Litsea glutinosq var. littoralb merupakan suatu model yang baik untuk menunjukkan skema biogenesis alkaloid pada I-auraceae, yang selanjutnya mengesankan pula tingkat evolusi dari varitas ini.

Isolasi komponen kimia lainnya dan Litsea glutinosa, var. littoralis masih dilanjutkan.

UCAI'AN lERIMA KASIII

Penelitian ini didukung oleh pembiayaan dari Proyek Pcningkatan Penelitian dan Pengabdian pada Ma;yarakat, Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Dcpartemen Pendidikan dan Kebudayaan, dengan Kontrak No. I7ZIP4M1DPPM,/BDXXVI989, bcrsumber dari dana pinjaman Bank Dunia Sektor loan tahun anggaran 1989/1990. Untuk itu diucapkan terima kasih. Ucapan terima kasih disampaikan pula kepada Prof. J.R. Cannon dari Network for the Chemistry of Biokrgically-Important Natural Products untuk analisis spektroskopi di Univcrsity of Westcm Australia, Australia, dan juga kepada Dr. Mooto Tori dari 'l'okushima Ilunri Univcmity, Jepang, untuk analisis spektroskopi.

References

  1. Bick, R.C. dan Sinchai W. (1978), Heterocycles, 9, 903.
  2. Budzikiewiez, H., Djerassi, C. dan Williams D.H. (1964). Stucture elucidation of natural products by mass spectometry, Vol.1, p.175, Holden-Day, Inc., San Francisco.
  3. Ghose, T.P., Krishna, S. dan Schlitter, E. (1934), Helv. Chim. Acta, 17, 919; dalam Guinaudeau, H., Leboeuf, M. dan Cave, A (1975), Lloydia, 38, 275.
  4. Gottlieb, O.R. (1972), Phytochemistry, 11, 1537.
  5. Guinaudeau, H., Leboeuf, M. dan Cave, A. (1975), Lloydia, 38, 275.
  6. Guinaudeau, H., Leboeuf, M. dan Cave, A. (1919), J. Nat. Prod., 42, 324.
  7. Guinaudeau, H., Leboeuf, M. dan Cave, A. (1983), J. Nat. Prod., 46, 761.
  8. Hakim, Euis Holisotan dan Achmad, Sjamsul Arifin (1991), ACJC. Chem. Res. Comm. 1(1), 3.
  9. Hegnauer, R. (1966). Chemotaxonomie der pflanzen, Vol.IV , Birkhauser Verlag, Basel.
  10. Jackson, A.H. dan Martin, J.A. (1966),J. Chem. Soc. (C), 2181.
  11. Johns, S.R., Lamberton, J.A. dan Sioumis, A.A.(1966), Austr.J.Chem., 19, 2339.
  12. Kostermans, A.J.G.H. (1957), Communic. Forest Res. Inst. Indonesia, No. 57.
  13. Nakasato, T., Asada, S. dan Kuezuka, Y. (1966), J. Pharm. Soc. Japan, 86, 129; dalam Guinaudeau, H., Leboeuf, M. dan Cave, A. (1975), Lloydia, 38, 275.
  14. Raffauf, R.F. (1970), Econ. Botany, 24, 34.
  15. Sangster, A.W. dan Stuart, K.L. (1965), Chem. Rev., 65, 69.
  16. Shamma, M. dan Rahimizadeh, M. (1986), J. Nat. Prod., 49, 398.
  17. Syahbirin, G., Achmad, S.A. dan Hakim, E.H. (1991), ACJC Chem. Res. Comm. 1(1), 19.
  18. Tewari, S., Bhakuni D.S. dan Dhar M.M. (1972), Phytochemistry, 11(3), 1149; Chem. Abstr., 76, 138158h (1972).
  19. Zamri, A., Rizal, H, Achmad, S.A., Hakim, E.H. dan Makmur, L. (I990), ACJC Chem. Res. Comm. (telah dikirim untuk publikasi).