PENDAHULUAN
Seng (Zn) sudah dikenal sebagai unsur esensial bagi tumbuhan maupun hewan. Unsur ini berperan pada b€rbagai proses dalam tubuh sebagai metaloenzim. Di antara 20 tnacarn enzim, enzim seperti karbonik anhidrase, akalin fosfatase dan laktat denitirogcnase tidak bisa berfungsi tanpa adanya seng (Ferm, 1972). Menurut Sandstcad dan Uvans (1984), lebih r1:u'i 70 macam enzim pada berbagai spesies funpinya tergantung pada seng, bahkan berdasarkan laporan terakhir Vallee dan Auld (1990), sudah bisa diidentifikasi sekitar 300 jenis enzim yang mengandung seng. Hal ini menunjukkan bahwa cukup besar perhatian peneliti untuk mengungkap lebih rinci peranan seng dalam tubuh organisme.
Studi kasus atau eksperimen mengenai pengaruh defisiensi seng telah banyak dilakukan. Pada aves misalnya, kekurangan seng menimbulkan mikromelia, pungggung melengkung, badan vertebra toraks serta badan vertebra lumbar yang pendek dan berfusi, juga penggembungan pada otot leher (Tienhoven, 1968). l-ogam berat, termasuk seng, melimpah jumlahnya di lingkungan (Supripanti dkk., 1983). Oleh karena itu, keracunan seng melalui proses bemapas dan menelan, kemungkinannya akan lebih mudah terladi. Berg dan Martison (dalam Miller & Neathery, 1981) melaporkan bahwa keracunan seng pada anak ayam dapat menurunkan kadar abu dalam tulang. Penelitian tentang pengaruh keracunan atau kelebihan seng terhadap perkembangan, belum jelas dan masih kurang diteliti dibandingkan dengan ef'ek defisiensi. Atas dasar uraian tersebut, dipandang perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh kelebihan seng terhadap perkembangan embrio ayam.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kelebihan seng terhadap perkembangan tulang femur embrio ayam jika diinjeksikan kb dalam kantung yolk pada umur inkubasi dua, empat dan enam hari. Hasil penelitian dapat dijadikan pelengkap informasi dalam bidang teratologi dan ekotoksikologi.
BAHAN DAN TATA KERIA
Telur ayam ras broiler (Gallus gallus) galur'fegel Tm 70 diinkubasikan pada suhu 38,5- 40,0oC dan kelembapan relatif 5545Vo. Penyuntikan dilakukan pada tiga macam umur inkubasi, yaitu hari ke-2, ke-4 dan ke-6. Seng suJtat yang telah dilarutkan dalam akuabidestilata steril diinjeksikan ke dalam kantung yolk dengan dmis 0,2 mg, 0,5 mg dan 0,9 mg serta volume injeksi 0,1 mI per telur. Sebagai pembanding, pada kelompok telur kontrol diinjeksikan pelarut pada umur inkubasi dan volurne yang sama.
Setelah telur diinkubasi selama 13 hari, kelompok telur kontrol maupun kelompok telur pcrlakuan dibuka dan hanya embrio yang hidup yang dijadikan data penelitian. Untuk pengamatan rangka, dilakukan langkah ke{a sebagai berikut terhadap embrio. a) Dibuang viseranya dalam NaCl O,9%. b) Difiksasi dalam alkohol96Vo selamasatu minggu. c) Direndam dalam KOH lVo sampai jaringan di sekitar tulang transparan. d) Diwarnai dcngan Alizarin Red S A,0l% dalam KOH lVo sarnpi tulang berwama merah. e) Diorci dalam KOH lVo. \ Dijemihkan dalam KOH L%: $isr,rol = 3:1. selama dua hari. g) Dijemihkan dalam KOH 1%: gliserol = 1:1 selama dua hari. h) Dijemihkan dalam KOH l%o: ghsoro| = 1.:3 selama dua hari. i) Hasil pewamaan tulang direndam dalam gliserol mumi dan siap untuk diamati (modifikasi dari Conn dkk., 19'60).
Panjang bagian femr yang menulang. Tulang femur diukur dengan menggunakan raliper di bawah mikrmkop bedah. Panjang tulang ditentukan dengan mengukur jarak di antara epifisis, sedangkan panjang bagian yang menulang adalah bagian diafisis yang terwamai oleh Alizarin Red S (gambar 1). Indeks panjang bagian yang menulang adalah panjang bagian yang menulang dibagi dengan panjang tulang.
Gaiibar 1 Gara menontukan panjang bagian yang menulang (b), panjang tulang (a) dan indeks panjang bagian yang menulang
Luas penampang bagian femur yang menulang. Dibuat sayatan melintang di bagian tengah diafisis tulang. Penyayatan dilakukan dengan pisau silet di bawah mikroskop bedah. Sayatan melintang tulang diletakkan di atas kaca-objek untuk diukur diametemya dengan menggunakan mikrometer-okuler. I-uas penampang tulang didapat setelah diketahui diameter tulang, sedangkan diameter lumen digunakan untuk menentukan luas penampang lumen (gambar 2). Luas penampang bagian yang menulang adalah I''as penampang tulang dikurangi luas penampang lumen. Indeks luas penampang bagian yAng menulang adalah luas penampang bagian yang menulang dibagi dengan luas penampang tulang.
Ilasil pengukuran dianalisis dengan Rancangan Acak l-engkap (Completely Ran&tmizcd Design) yang dilanjutkan dengan uji "ISR" (Steel & Torrie, 1981).

Gambar 2 Cara menentukan luas penampang bagian yang menulang (C), luas penampang tulang (A), luas penampang lumen (B) dan indeks luas penampang bagian yang menulang (I)
Indeks luas penampang bagian yang menulang = I = C/A
HASIL PENGAMATAN
1. Mortalitas embrio
Mortalitas dan hasil pewarnaan tulang dengan Alizarin Red S pada embrio yang hidup sampai hari ke-13 inkubasi disajikan pada tabel 1 dan gambar 3.
Injeksi seng sulfat yang dilaksanakan pada hari ke-2 inkubasi menyebabkan mortalitas embrio meningkat sejalan dengan pertambahan dosis. Perlakuan dengan dosis 0,5 mg dan 0,9 mg seng sulfat per telur mengakibatkan mortalitas embrio berbeda sangat nyata dibandingkan dengan kontrol (p<0,01).
Persentase mortalitas embrio tidak dipengaruhi secara nyata oleh perlakuan seng sulfat pada hari ke-4 inkubasi.
Perlakuan dengan seng sulfat pada hari ke-6 inkubasi tidak berpengaruh nyata terhadap mortalitas embrio.
2. Panjang tulang femur
Panjang bagian yang menulang, panjang tulang dan indeks panjang bagian yang menulang tulang femur embrio ayam yang hidup sampai hari ke-13 inkubasi dapat dilihat pada tabel 2 dan gambar 4.
Tabel 1 Pengaruh seng sulfat terhadap mortalitas embrio ayam broiler (Tegel Tm 70) yang diinkubasi sampai hari ke-13.
| Umur inkubasi (hari) | Dosis ZnSO4 per telur (mg) | Jumlah telur yang dibuahi | Jumlah embrio hidup pada hari ke-13 | Jumlah embrio mati sebelum hari ke-13 (%) |
|---|---|---|---|---|
| 2 | 0,0 0,2 | 22 23 | 18 16 | 4 (18,2) |
| 0,5 | 31 | 11 | 7 (30,4) 20 (64,5) ** | |
| 0,9 | 33 | 5 | 28 (84,8) ** | |
| 4 | 0,0 | 25 | 23 | 2 ( 8,0) |
| 0,2 | 25 | 20 | 5 (20,0) | |
| 0,5 | 25 | 20 | 5 (20,0) | |
| 0,9 | 25 | 20 | 5 (20,0) | |
| 6 | 0,0 | 25 | 22 | 3 (12,0) |
| 0,2 | 24 | 20 | 4 (16,7) | |
| 0,5 | 23 | 18 | 5 (21,7) | |
| 0,9 | 25 | 22 | 3 (12,0) |
** : tanda berbeda sangat nyata (p<0,01) dibandingkan dengan kontrol – uji bebas \(\boldsymbol{X}^2\)
Gambar 3 Hasil pewarnaan tulang dengan Alizarin Red S. Embrio ayam kerdil, perlakuan dengan seng sulfat 0,9 mg per telur pada hari ke-2 inkubasi (a). Kontrol (b).
Perlakuan dengan seng sulfat pada hari ke-2 inkubasi menunjukkan bahwa dosis 0,2 mg menyebabkan panjang bagian yang menulang paling panjang, namun tidak berbeda nyata dari kontrol. Perlakuan dengan dosis 0,5 mg tidak berpengaruh nyata terhadap panjang bagian yang menulang. Hanya perlakuan dengan dosis 0,9 mg yang nyata memperpendek panjang bagian yang menulang dibandingkan dengan kontrol (p<0,05). Perlakuan dengan dosis 0,2 mg menambah panjang tulang, namun tidak berbeda nyata dari kontrol. Perlakuan dengan dosis 0,5 mg dan dosis 0,9 mg nyata memperpendek panjang tulang dibandingkan dengan kontrol (p<0,05). Indeks panjang bagian yang menulang tidak dipengaruhi secara nyata oleh perlakuan dengan seng sulfat.
Pengaruh perlakuan dengan seng sulfat pada hari ke-4 inkubasi terhadap panjang bagian yang menulang dan panjang tulang tidak berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan dengan dosis 0,2 mg dan 0,9 mg nyata menurunkan indeks panjang bagian yang menulang dibandingkan dengan kontrol (p<0,05).
Panjang bagian yang menulang tidak dipengaruhi secara nyata oleh perlakuan dengan seng sulfat pada hari ke-6 inkubasi. Perlakuan dengan seng sulfat 0,2 mg sangat nyata meningkatkan panjang tulang dibandingkan dengan kontrol (p<0,01), sedangkan dengan
Tabel 2 Pengaruh seng sulfat terhadap panjang bagian yang menulang dan panjang tulang femur embrio ayam broiler (Tegel Tm 70) yang hidup pada umur 13 hari inkubasi.
| Umur inkubasi (hari) | Dosis ZnSO₄ | Jumlah embrio yang diamati | Panjang (mm) @ | Indeks @ | |
|---|---|---|---|---|---|
| per telur (mg) | Bagian yang menulang | Tulang (y) | panjang bagian yang menulang (x/y) | ||
| 2 | 0,0 | 18 | 6,95 ± 0,98ac | 10,32 ± 1,088 | 0.67 ± 0.04a |
| 0,2 | 16 | \(7,27 \pm 0,23^{a}\) | 10,85 ± 0,54a | \(0.67 \pm 0.03^8\) | |
| 0,5 | 11 | \(6.44 \pm 0.95^{bc}\) | 9,63 ± 1,26b # | \(0.67 \pm 0.03^{8}\) | |
| 0,9 | 5 | \(6,01 \pm 1,43^{b} \#\) | 9,39 ± 2,08b# | \(0,64 \pm 0,02^a\) | |
| 0,0 | 23 | 6,22 ± 0,48ab | 9.59 ± 0.56ª | 0,65 ± 0,04ª | |
| 0,2 | 20 | 5.96 ± 0.55b | \(9.69 \pm 0.76^a\) | \(0,62 \pm 0,03^{b} #\) | |
| 4 | 0,5 | 20 | \(6.43 \pm 0.48^a\) | \(9.96 \pm 0.36^{a}\) | \(0.65 \pm 0.03^{a}\) |
| 0,9 | 20 | 6,20 ± 0,54ab | 10,01 ± 0,81a | 0,62 ± 0,02b# | |
| 6 | 0,0 | 22 | 7,14 ± 0,51a | 10,23 ± 0,69a | \(0.70 \pm 0.04^{a}\) |
| 0,2 | 20 | 7,52 ± 0,46a | 11,07 ± 0,49° ## | \(0.67 \pm 0.03^{8}\) | |
| 0,5 | 18 | \(7,48 \pm 0.49^{8}\) | \(10.89 \pm 0.69^{a}\)# | \(0,69 \pm 0.03^a\) | |
| 0,9 | 22 | 7,21 ± 0,62a | 10,38 ± 1,19ac | \(0.70 \pm 0.02^a\) | |
@ : Rata-rata ± simpangan baku a, b, c : tanda berbeda nyata hasil uji LSR untuk baris dalam kolom yang sama berbeda nyata (p<0,05) dibandingkan dengan kontrol – uji LSR ## : berbeda sangat nyata (p<0,01) dibandingkan dengan kontrol – uji LSR

Gambar 4 Indeks panjang bagian yang menulang femur embrio ayam broiler (Tegel TM 70) yang hidup sampai hari ke-13 inkubasi. # = berbeda nyata (p<0,05) dibandingkan dengan kontrol
dosis 0,5 mg nyata meningkatkan panjang tulang dibandingkan degan kontrol (p<0,05). Perlakuan dengan seng sulfat tidak berpengaruh nyata terhadap indeks panjang bagian yang menulang.
3. Luas penampang tulang femur
Pada tabel 3 dan gambar 5 disajikan luas penampang bagian yang menulang, luas penampang tulang dan indeks luas penampang bagian yang menulang tulang femur embrio ayam yang hidup sampai hari ke-13 inkubasi.
Perlakuan dengan seng sulfat pada hari ke-2 inkubasi mempersempit luas penampang bagian yang menulang sejalah dengan pertambahan dosis. Perlakuan dengan dosis 0,2 mg dan 0,5 mg tidak berpengaruh nyata terhadap luas penampang bagian yang menulang. Hanya perlakuan dengan dosis 0,9 mg per telur yang menyebabkan luas penampang bagian yang menulang sangat nyata lebih sempit dibandingkan dengan kontrol (p<0,01). Perlakuan
Tabel 3 Pengaruh seng sulfat terhadap luas penampang bagian yang menulang dan luas penampang tulang femur embrio ayam broiler (Tegel Tm 70) yang hidup pada umur 13 hari inkubasi
| Umur ZnSC inkubasi per (hari) telur | Dosis ZnSO. | Dosis ZnSO4 per telur (mg) Jumlah\nembrio yang diamati | Luas penampang (mm²) @ | Indoka kusa panampana (i | |
|---|---|---|---|---|---|
| per telur | Bagian yang menulang (x) | Tulang (y) | Indeks luas penampang @ bagian yang menulang (x/y) | ||
| 2 | 0,0 0,2 0,5 0,9 | 18 16 11 5 | 0,71 ± 0,16a 0,66 ± 0,17a 0,64 ± 0,22a 0,37 ± 0,09b ## | 0,92 ± 0,20a 0,94 ± 0,13a 0,89 ± 0,19a 0,69 ± 0,21b## | \(0.79 \pm 0.22^{a}\) \(0.68 \pm 0.12^{a}\) \(0.70 \pm 0.14^{a}\) \(0.55 \pm 0.05^{b}\)# |
| 4 | 0,0 0,2 0,5 0,9 | 23 20 20 20 | 0,59 ± 0,12a 0,58 ± 0,14a 0,57 ± 0,10a 0,56 ± 0,10a | \(0.79 \pm 0.12a\) \(0.79 \pm 0.14^a\) \(0.83 \pm 0.10^a\) \(0.81 \pm 0.09^a\) | \(0.74 \pm 0.05^{a}\) \(0.73 \pm 0.05^{a}\) \(0.69 \pm 0.07^{b}\)# \(0.69 \pm 0.09^{b}\)# |
| 6 | 0,0 0,2 0,5 0,9 | 22 20 18 22 | 0,79 ± 0,19a 0,71 ± 0,21a 0,52 ± 0,16b## 0,54 ± 0,14b## | \(1,06 \pm 0,22a\) \(1,03 \pm 0,23^a\) \(0,89 \pm 0,16^b \#\) \(0,97 \pm 0,14^{ab}\) | \(0.75 \pm 0.19a\) \(0.68 \pm 0.13^a\) \(0.58 \pm 0.14^b #\) \(0.55 \pm 0.09^b #\) |
@ : rata-rata ± simpangan baku a, b, : tanda berbeda nyata hasil uji LSR untuk baris dalam kolom yang sama
# : berbeda nyata (p<0,05) dibandingkan dengan kontrol – uji LSR
## : berbeda sangat nyata (p<0,01) dibandingkan dengan kontrol – uji LSR dengan dosis 0,2 mg menyebabkan luas penampang tulang bertambah, tetapi tidak berbeda nyata dari kontrol. Perlakuan dengan dosis 0,5 mg tidak berpengaruh nyata terhadap luas penampang tulang. Luas penampang tulang sangat nyata lebih sempit dibandingkan dengan kontrol pada perlakuan dengan dosis 0,9 mg (p<0,01). Perlakuan dengan dosis 0,2 mg dan 0,5 mg tidak berpengaruh nyata terhadap indeks luas penampang bagian yang menulang. Indeks luas penampang bagian yang menulang sangat nyata menurun dibandingkan dengan kontrol pada perlakuan dengan dosis 0,9 mg seng sulfat per telur (p<0,01).
Pengaruh perlakuan dengan seng sulfat pada hari ke-4 inkubasi terhadap luas penampang bagian yang menulang dan luas penampang tulang tidak berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan dengan dosis 0,5 mg dan 0,9 mg nyata menurunkan indeks luas penampang bagian yang menulang dibandingkan dengan kontrol (p<0,05).
Perlakuan dengan seng sulfat 0,2 mg pada hari ke-6 inkubasi tidak berpengaruh nyata terhadap luas penampang bagian yang menulang. Dosis 0,5 mg dan dosis 0,9 mg seng sulfat sangat nyata mempersempit luas penampang bagian yang menulang dibandingkan dengan-

Gambar 5 Indeks luas penampang bagian yang menulang tulang femur pada embrio ayam broiler (Tegel TM 70) yang hidup sampai hari ke-13 inkubasi. # = berbeda nyata (p<0,05) dibandingkan dengan kontrol — uji LSR. # = berbeda sangat nyata (p<0,01) dibandingkan dengan kontrol — uji LSR
kontrol (p<0,01). Perlakuan dengan dosis 0,2 mg dan 0,9 mg tidak berpengaruh nyata terhadap luas penampang tulang. Hanya perlakuan dengan dosis 0,5 mg yang menyebabkan luas penampang tulang nyata lebih sempit dibandingkan dengan kontrol (p<0,05). Perlakuan dengan dosis 0,2 mg tidak berpengaruh nyata terhadap indeks luas penampang bagian yang menulang. Indeks luas penampang bagian yang menulang sangat nyata lebih kecil dibandingkan dengan kontrol (p<0,01), setelah mendapat perlakuan dengan dosis 0,5 mg dan 0,9 mg seng sulfat per telur.
Pembahasan
Baik rawan maupun tulang mengandung matriks organik kolagen yang merupakan penentu sifat fisikokimia kedua jaringan tersebut. Keras dan resisten sebagai sifat utama tulang disebabkan adanya interaksi antara serabut kolagen dan kristal hidroksiapatit (Schuette & Linkswiler, 1984). Serabut kolagen tersusun atas molekul dasar yang disebut tropokolagen.
Susunan tropokolagen bervariasi, sehingga bisa dibcdakan serabut kolagen jenis I yang terdapat pada tulang dengan serabut kolagen jenis II yang banyak ditemukan pada rawan. Tropokolagen dirangkai dengan ikatan silang kovalen (covalent cross-link) yang discbr.:l sindesin, sehingga terbentuk serabut kolagen yang kokoh (White dkk., 1978).
Prokolagen sebagai bentuk awal tropokolagen, disintesis oleh mcscnkim, fibroblast dan kondroblast. Sindesin yang diperlukan untuk merangkai tropokolagen yang kokch dibentr.rk dengan bantuan enzim lisil oksidase (Devlin, 1981). Lisil oksidagc telah berhasil diisolr.si, misalnya dari epifisis embrio ayam. Enzim ini mempunyai berat molekul 32.000 dan mengandung satu atom tembaga (Cu) per mol (Iguchi & Sano, 198-5). Telah dilanorkan bahwa aktivitas enzim tergantung pada ion tembaga. Penambahan scng dapat mer,.;runkan kadar tembaga dalam serum atau jaringan lain. Hal ini terjadi karena terganggunya cnzim pengangkut kedua logam itu dari usus, atau ada kompetisi di antari logam tencbut dalam mendapatkan "ligand" yang terdiri atas N-S. Pada tikus muda, penambahan seng cenderung menghambat aktivitas lisil oksidase (Chvapil & Misiorowski, 1980). Lisil oksidase yang diisotasi dari epifisis embrio ayam jika embrio itu diinkubasikan dengan 1 x 10-a M scng menunjukkan 0,38 g-atom seng terikat pada enzim, sedangkan 65% tembaga dilepaskan. Akibat perlakuan itu akan terjadi penghambatan 34Vo aktiitas lisil oksidase (Iguchi & Sano, .1985). Bila aktivitas lisil oksidase menurun, maka sintesis kolagen akan terhambat.
Pada tabel 2 dan 3 disampaikan hasil pengukuran tulang femur. Panjang tulang clan panj.qng bagian yang menulang masing-masing menggambarkan pr6es kondrifikasi dan osifikasi yang terjadi. I aju osifikasi pada tulang femur tercermin dari perhitungan indeks panjang bagian yang menulang. Cara pengukuran ini sama seperti yang dilakukan oleh Djuhanda (1984). Pada osifikasi endokondral, pertumbuhan longitudinal diafisis terutama terjadi sebagai akibat kegiatan osteogenik lempeng epifisis, sedangkan pertumbuhan tulang transversal disebabkan pembentukan tulang oleh periosteum.
Ost€oblast pada periosteum nensintesis matriks kolagen, namun dari pihak yang berlawanan osteoklast meresorpsi matriks tulang ter.;ebut dengan cara mensekresikan kolagenase dan enzim kdtalitik ii.rr. Kolagenase sudah dikctahui membutuhkan seng untuk aktivitasnya (Starcher dkli., 1980). Luas rongga. sumsum dan tebal tulang atau penampang bagian yang menulang ditentukan oleh kedua aktivitas yang berlawanan tersebut. Adanya pembentukan dan penghancufan mengakibatkan struktur dan bentuk tulang bersifat dinamis. Menurut Urist (dalam Wozn6y dkk., 1988), sifat dinamis tulang dikendalikan oleh protein morfogenetik tulang (BMP =,Bone Morphogenetic Protein) yang mirip dengan protein perangsang pertumbuhan fibroblast. Namun yang secara luas sudah diakui, homron mempunyai peranan penting dahm menentukan keseimbangan itu.
Berdasarkan uraian tersebut, mekanisme efek seng pacla proses penuletngan berlangsurrg dalam dua kejadian. Pertama, seng menggeser dan menggantikan kedudukan tembaga iliur enzim lisil oksidase, sehingga aktivitas biosintesis kolagen mcnuiun. Kctlirir, pen:.' rl.l, seng meningkatkan aktivitas kolagenme sebagai metaloenzim seng, dcngan akibat xel,iatan meresorpsi matriks kolagen bertambah.
Jika penambahan seng bisa menghambat biosintesis kolagen, maka tulang akan menjadi tipis atau luas penampang tragian yang menulang menjadi sempit. Berdasarkan kenyataan Itcr',,cbui. dalam mempelajari pcngaruh seng sulfat terhadap pmses penulangan, dilakukan i:cqrlin u, an luas lr:lampang bagian yang menulang dan luas penampang tulang. Hasil perhit'.rngan indeks luas penampiing bagian yang menulang mcncerminkan laju pertumbuhan tulang secara transversal. Ketebrlan tulang telah dikaji pula oleh Iguchi dan Sano (1982). Mcreka membuat sayatan men:bujur tulang panjang dan membandingkan s€cara kualitatif antara kontrol dan perlakuan, namun mereka tidak membuat sayatan metntang dan tidak mengukur luas penampang tulang.
Hasil analisis penulangan pada tulang femur tampak jelas: perlakuan dengan seng sulfat pada hari ke-2 dan ke-6 inkubasi memberikan pengaruh yang lebih nyata dibandingan dengan pcngaruh ipada hari ke-4. Kenyataan itu sejalan dengan mortalitas embrio seperti yang tercantum pada tabel 1. Dosis 0,5 mg dan 0,9 yang diinjeksikan pada hari ke-2 inkubasi sangat nyata meningkatkan mortalitas embrio dibandingkan dengan kontrol, maka bisa diartikan bahwa embrio ayam berumur dua hari inkubasi paling peka terhadap perlakuan dengan seng sulfat. Kontrol dari kelompok telur yang diinjeksi pada hari ke-4 inkubasi menunjukkan angka mortalitas yang paling rendah dibandingkan dengan telur kontrol yang diinjeksi pada hari ke-2 dan ke-6. Dari kenyataan itu bisa disimpulkan bahwa hari ke-2 dan ke-6 inkubasi adalah periode kritis bagi ayam galur Tegel TM 70. Romanoff dan Romanoff (1,972) menyatakan, bahwa pada keadaan Dornal, mortalitas embrio ayam (Gallw gallu) terbesar akan terjadi pada tiga periode kritis, yaitu hari ke4, ke-l1 dan ke-19 inkubasi. Perbedaan ini diduga karena galur yang dipergunakan tidak sama.
Perlakuan dengan dosis 0,9 mg seng sulfat per tilur pada hari ke-4 inkubasi cenderung meningkatkan panjang dan luas penampang tulang, meskipun tidak berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol. Sementara itu, irerlakuan dengan dosis 0,9 mg pada hari ke-2, inkubasi nyata menurunkan panjang bagian yang menulang, panjang tulang, luas penampang bagian yang menulang serta luas penampang tulang. Perlakuan pada hari ke-6 inkubasi paling efektif menurunkan luas penampang bagian yang menulang dan luas penampang tulang. Meskipun demikian, seng sulfat lebih berpengaruh terhadap luas penampang bggian yang menulang daripada terhadap panjang bagian yang menulang. Demikian pula, seng lebih berpengaruh terhadap laju pertumbuhan tulang secara lransversal daripada terhadap laju pertumbuhan tulang secara lonngitudinal (gambar 4 dan 5). Kejadian tersebut dapat diartikan bahwa seng lebih berpengaruh menghambat aktivitas osteogenik periosteum daripada aktivitas osteogenik lempeng epifisis.
Kesimpulan
1. Perlakuan dengan seng sulfat dosis 0,9 mg per telur pada hari ke-2 inkubasi nyata menurunkan panjang dan luas peoampang tulang femur.
- 2. Pengaruh seng sulfat lebih nampak terhadap tebal bagian diafisis yang menulang daripada terhadap panjang bagian difisis yang menulang. Tebal tulang diafisis tampak lebih tipis.
- 3. Seng tampaknya lebih berpengaruh menghambat aktivitas osteogenik periosteum daripada aktivitas osteogenik lempeng epifisis.
Ucapan terirna kasih
Pelaksanaan penelitian ini sebagian dilakukan di Bagian Virologi Bio Farma Bandung dan untuk itu kami mengucapkan terima kasih atas segala fasilitas yang diberikan.
