PENDAHULUAN
Kromium yang terdapat di lingkungan berasal dari alam dan hasil aktiviras manusia. Secara alami, pada umumnya kromium terdapat sebagai scnyawil kromium trivalen (Merian, 1984). Kromium merupakan logam yang sangat kcras dan resisten terhadap korosi. Dalam bidang industri, Cr banyak digunakan sebagai pelapis suku cadang mobil, dan dalam bentuk campuran kromium, bcsi, dan nikel (nikrom) sebagai pelapis kabel listrik. Kromium terdapat pula dalam pigmen pewarna untuk tekstil, cat, tinta, dan dalam bahan pengawet untuk proscs penyamakan kulit (Frey, 1958).
Selain bersifat toksik, kromium juga benifat teratogenik. Hal ini telah dibuktikan ofeh Matsumoto et al.(7976), Gale (1978), dan Trivedi et al. (1989).
Untuk melengkapinformasi yang sekarang ada tentang pengaruh kromium terhadap fetus mencit pada penelitian inidiamatiefek teratogenikromium trivalen terhadap mencit Swiss Webster, yang diberikan pada hari kehamilan ke-8, -10, atau -12. Selain itu, dipelajaripula pclaluan kromium dari darah induk ke fetus lcwat plasenta.
BATIAN DAN TATA KERIA
Hewan yang digunakan dalam percobaan ini adalah mencit (Mus musculus) albino Swiss Webster yang diperoleh dari l:boratorium Pemeliharaan Hewan, Jurusan Farmasi ITB. Selanjutnya, mencit tersebut dipclihara di rumah hewan Jurusan Biologi ITB. Mencit betina dan jantan dipelihara di dalam kandang terpisah.
Setiap mcncit betina dara yang sedang estrus, berumur 9-11 minggu dengan bcrat badan 24-28 gram, dikawinkan dengan seekor mencit janlan yang sama umurnya. Pcnyatuan mencit betina dengan yang jantan dilakukan pada pukul 17.00. Adanya sumbat vagina pada keesokan paginya merupakan ulnda telah terjadi kopulasi, dan dinyatzrkan sebagai hari kehamilan ke-nol. [-alu, mencit betina terscbut ditimbang dan dipisahkan dari yang janlan.
Kromium yang digunakan dalam percobaan ini berupa kromium trivalcn (CrCls.6tIzO) dengan kemurnian 987o, produksi Merck. Senyawa kromium dilarutkan dalam akuabidesteril, produksi IPHA Laboratories. Dari hasil penelitian pendahuluan dikerahui bahwa Dosis lrtal 50% (DLil-24 jam untuk mencit betina dara adalah 170 mg Cr/kg berat badan, sedangkan Dosis Toleransi Maksimum (DTM)-10 hari untuk mencit yang hamil delapan hari adalah 30 mg Crlkg berat badan. Kemudian, ditentukan dosis teratogenikromium, yaitu 30 mg, 22,5 mg, dan 15 mg/kg berat badan, dengan menggunakan ketentuan WHO 196711975 (Korte, dalam Kameyama 1981). Di dalam ketentuan tersebut dijelaskan bahwa untuk setiap kalipengujian digunakan tiga dosis, termasuk DTM dan satu kontrol.
l:rutan kromium klorida diberikan secara intraperiloneal dengan dosis tunggal, dan mencit kontrol hanya diberi akuabides. Penyuntikan dilakukan pada mencit yang hamil 8, 10, dan 12 hari. Dalam penelitian ini ada tiga kelompok hari perlakuan yang ditentukan berdasarkan hari kehamilan. Untuk setiap kelompok hari kchamilan digunakan 40 ekor mencit; 10 ekor sebagai kontrol, dan masingmasing 10 ekor untuk setiap dosis. Mencit dibunuh dan dibedah pada hari kehamilan ke- 18. Kemudian, dilakukan pengamatan terhadap kejadian kematian intrauteru-s, berat fetus, malformasi eksternal, internal, dan rangka fetus. Untuk pengamatan malformasinternal, setengah dari jumlah'fetus yang hidup difiksasi di dalam laru&rn Bouin. Selanjutnya, mencit dibedah dan diamati jantung, ginjal, dan gonadnya (testis a[au ovarium). Untuk pengamatan malformasi rangka, fetus hidup sisanya diliksasi di dalam alkohol 957o dan selanjutnya dilakukan pcwarnaan rangka dengan Alizarin red S menurut prosedur pewarnaan Conn et al. (1e60).
Untuk niengetahui pelaluan Cr lewat plasenta dilakukan penyuntikan kromium klorida dengan dosis 30 mg Crlkg berat badan pada mencit yang hamil 17 hari. Kemudian, mencit dibius dengan eter 7Yz, 3, 6, 12, dan 24 jam setelah disuntik. Kelompok kt-rntrol disuntik akuabides dan dibius I% jam setelah itu. Darah induk mcncit diambil clari pemhuluh darah aorta dorsalis, dan dilanjutkan dengan pengambilan l'etus serLa plasentanya. Kandungari kromium di dalam darah induk, plasenLa, dan fetus utuh didetek^si secara Spektofotometri Serapan Atom (SSA). Destruksi darah, plasenla, dan fetus dilakukan mcnurut Kayne et al. (1978).
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBA}IASAN
Hasil pengamatan terhadap penampilan reproduksinduk mencit pada hari kehamilan ke-18 setelah diberi perlakuan kromium klorida pada hari kehamilan ke-8, -10, atat -12 t€rtera pada tabel 1. Penentase fetus hidup dari induk yang dibcri perlakuan menurun secara nyata, bahkan sangat nyata pada kelompok yang diberi perlakuan dengan dosis 22,5 atau 30 mg Crlkg berat badan pada hari kehamilan ke-10 aL:tu -12 dibandingkan dengan kontrolnya. Hal tersebut disebabkan oleh total kematian intrauterus yang meningkat secara nyata, dan bahkan sangat nyata, dibandingkan dengan kontrolnya pada kelompok yang diberi perlakuan dengan dosis 22,5 allu 30 mg Crlkg berat badan pada hari kehamilan ke-10 auru -12. Kematian intrauterus teruta.ma disebabkan oleh terjadinya resorpsi cmbrio; hal ini menunjukkan bahwa Cr bersifat embriotoksik. Embrio yang diresorpsi merupakan suatu perwujudan embriotoksisitas yang paling mudah untuk dikuantifikasikan (Wilson, 1980; dalam Schardein, 1985). Hal yang sama juga ditemukan pada penelitian Matsumolo et al. (1,976), Gale (1978 dan 1982), dan Trivedi et al. (1989). Dari hasil pengujian pelaluan kromium lewat plasenta pada penelitian ini dan dari beberapa penelitian lain, yaitu Matsumoto et al. (1976), Danielsson et al. (1982), dan Iijima et al.,kejadian resorpsi embrio mungkin
disebabkan oleh pengaruh langsung kromium terhadap embrio. Kemungkinan lain adalah gangguan fungsi plasenta, karena terjadi retensi kromium di plasenta, seperti dibuktikan oleh Matsumoto et al. (1976) dan Danielsson et al. (1982), serta dari hasil penelitian ini.
Pengaruh kromium juga menyebabkan fetus dari induk yang diberi perlakuan, pada seluruh kelompok hari perlakuan dengan semua dosis, secara statistika sangat
Tabei 1. Penampilan reproduksi induk mencit yang diberi kromium klorida pada hari kehamilan ke-8, -10, atau -12.
| Dosis | Jumlah | |% fetus hiolup |x ± sem | Persentase kematian intrauterus | Implantasi | Borat fetus | |||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| milan | (mg/kg | induk | (ĵumlah) | % Resorpsi | % Mati | % Total | (jumlah) | X ± Sem |
| ke- | berat | | | x ± sem | x 1 sem | x ± sem | Ì | i | |
| badan) | ļ | (jumlah) | (jumalah) | (jumtah) | | | | |||
| . 8 | 0 | 10 | 92,27±2,31 | 6,82±2,42 | 0,91±0,91 | 7,73±2,31 | | |10,50±0,58 | 11,20±0,02 |
| i | (96) | (8) | (1) | (9) | (105) | 1 | ||
| | 15 | 10 | 83,11±3,38* | 15,98±3,19* | 0,91±0,91 | 16,89±3,38* | 11,50±0,49 | 1,06±0,02## | |
| ĺ | ĺ | (96) | (18) | (1) | (19) | (115) | i | |
| 22,5 | 10 | 82,19±3,83* | 16,90±3,43* | 0,91±0,91 | 17,81±3,83* | 10,40±0,70 | 1,05±0,03## | |
| | | (85) | (18) | (1) | (19) | (104) | i | ||
| 30 | 10 | 78,99±5,19* | 20,30±5,24* | 0,91±0,91 | 21,01±5,19* | 11,10±0,67 | 1,04±0,03## | |
| | | (89) | (21) | (1) | (22) | (111) | |||
| 10 | 0 | 10 | | |92,75±1,78 | l | 6,48±1,92 | | 0,77±0,77 | 1 | 7,25±1,78 | | |12,00±0,39 | | |1,21±0,03 |
| | | | (111) | (8) | (1) | (9) | (120) | 1 | ||
| 1 | 15 | 10 | 86,15±2,87* | |13,85±2,87* | | 0,00±0,00 | 13,85±2,87* | 11,00±0,45 | |1,07±0,02## |
| | | | (95) | (15) | (0) | (15;9) | (110) | | | ||
| ļ | | 22,5 | | 10 | 74,93±3,87** | 24,30±4,01** | 0,77±0,77 | 25,07±3,87** | 11,20±0,51 | |1,04±0,03## |
| ļ | (84) | (27) | (1) | (28) | (112) | 1 | ||
| | | 30 | 10 | 80,66±3,72** | |17,72±3,86* | | 1,62±1,09 | 19,34±3,72** | 12,00±0,59 | 1,01±0,03## |
| ļ | | | | (97) | (21) ( | (2) | (23) | (120) | ||
| 12 | 0 | 10 | 93,34±2,04 | 6,66±2,04 | 0,00±0,00 | 6,66±2,04 | | |11,90±0,50 | 1,18±0,02 |
| ١ | | | | (111) | (8) | | (0) | (8) | (119) | ||
| , | 15 | 10 | 86,00±1,93* | 13,33±2,07* | | 0,67±0,67 | 14,00±1,93* | 12,00±0,56 | |1,01±0,02## |
| | | | (103) | (16) | (1) | (17) | (120) | |||
| 1 | 22,5 | 10 | 82,66±2,86** | 16,43±2,64** | 0,91±0,91 | |17,34±2,86** | 11,30±0,62 | 0,96±0,03## |
| | | | į | (93) | (19) | (1) | (20) | (113) | 1 | |
| i | 30 | 10 | 66,91±3,58** | 33,09±3,58** | 33,09±3,58** | 12,00±0,60 | 1,07±0,03## | |
| (80) | (40) | | (0) | (40) | (120) | 1 | |||
* Berbeda nyata dari kontrol p≤0,05 (Wilcoxon's rank sum test).
** Berbeda sangat nyata dari kontrol p≤0,01 (Wilcoxon's rank sum test).
## Berbeda sangat nyata dari kontrol p≤0,01 (Uji Beda Nyata Terkecil).
nyata lebih ringan dibandingkan dengan kontrol. Hal yang sama terjadi pula pada penelitian Trivedi et al. (1989). Penyusutan berat fetus mungkin disebabkan oleh kromium yang berhasil menembus membran inti, yang kemudian berikatan dengan ADN. Selanjutnya, kromium terikat ini mengganggu fungsi sel, terutama dalam proses sintesis prote in yang diperlukan dalam perkembangan. Penyusutan berat fetus merupakan parameter pcnting dalam penelitian pengaruh suatu teratogen, karena hal ini dapat menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan secara umum (Brent & Jensh, 1967 dan Schardein, 1985).
Pada tabel 2 diperlihatkan hasil pengamatan terhadap fetus hidup yang mengalami beberapa kelainan perkembangan, sebagai hasilperlakuan dengan kromium klorida yang diberikan pada induk mencit pada hari kehamilan ke-8, -10, atau -I2.
Perdarahan pada beberapa bagian permukaan tubuh fetrs yang ditemukan pada penelitian ini juga ditemukan pada penelitian Trivedi et al. (1989). Pada penelitian ini, perdarahan cenderung terjadi pada fetus yang induknya diberi perlakuan dengan dosis 22,5 atau 30 mg Crlkg berat badan. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh terjadinya peningkatan rckanan darah yang tinggi pada dinding kapiler, menyebahkan dinding tersebut pecah sehingga terjadi perdarahan.
Eksensefali paling sering muncul pada l'etus yang induknya diberi perlakuan pada hari kehamilan ke-8. Pada umur kehamilan teniebut, bakal bumbung neural masih berada pada tahapan lipatan neural (Rugh, 1968). Diduga Cr menyebabkan kematian sel-sel neuroektoderm dalam jumlah yang banyak, sehingga bumbung neural tidak dapat menutup secara sempurna. Hal ini mendukung hasil penelitian Matsumoto et al. (1976) yang menyuntikkan kromium klorida pada induk mencit galur ICR pada hari kehamilan ke-7, -8, -9, dan -10. Hasil pengamatan lijima et al. (1983) membuktikan bahwa kadmium juga menyebabkan kematian sel neuroektoderm, sehingga pada bagian tertentu bumbung neural tidak menutup. Cacat primer berupa penutupan bumbung neural yang tidak sempurna selanjutnya menyebabkan abnormalilas sekunder berupa eksensefali.
Kelopak mata terbuka dan retina bergelombang hanya muncul pada fetus dari tiga ekor induk yang berasal dari pengamatan terhadap 120 ekor induk. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa kelainan ini terjadi secara spontan, sebab selain frekuensi kejadiannya yang sangat rendah, juga muncul pada satu fetus dari satu induk kontrol.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kelainan berupa langit-langit bercelah terutama muncul bila induk mencit diberi perlakuan pada hari kehamilan ke-12; persenrase kejadiannya berkisar antara 7-9Vo. Proses pembentukan langit-langit sekunder meliputi pertumbuhan, pengangkaLan, dan fusi keping-keping palarum (Poswillo, 1975;Greene & Pratt, 1976; Srivastava & Rao, 1979). Keping palatum mulai
Tabel 2. Persentase dan jumlah fetus mencit dengan perdarahan, kelainan otak dan mata, langit-langit bercelah; berasal aari induk yang diberi kromium klorida pada hari kehamilan ke-8, -10, atau -12.
| Hari keha- | : | Jumiah fetus | Perdarahan x ± sem | Eksensefali x ± sem | |Kelopak mata |terbuka | Retina | bergelombang | |Langit-langit |bercelah |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| (mg/kg | : | (jumlah) | (jumlah) | % x ± sem | % x ± sem | x ± sen | |
| ke- | berat | dia- | i | i | (jumlah) | (jumlah) | (jumilah) |
| badan) | meti | ļ | | | ||||
| 8 | 0 | 96 | 2,11±1,41 | 0,00±0,00 | 0,00±0,00 | 0,00±0,00 | 0,00±0,00 |
| 1 15 | 96 | | (2) | 7,46±4,39 | ! ] 7,81±3,01* | 0,91±0,91 | i | 0,91±0,91 | l | 0,00±0,00 | |
| , ,, | 1 70 1 | (7) | (8) | (1) | (1) | 1 0,0020,00 | |
| 1 1 22,5 | 1 (85 | | (7) | 7,69±2,92 | 7,69±2,93 | 0,00±0,00 | 0,00±0,00 | | | 0,00±0,00 | |
| 1 | 1 | (7) | (4) | 1 0,0010,00 | 1 | 1 | |
| 1 1 30 | i I 89 | 12,86±3,45* | 2,25±1,51 | 0,00±0,00 | 0,00±0,00 | 0,83±0,83 | |
| 1 30 | , O, | (12) | (2) | 1 | 1 | (1) | |
| † 1 | ! i | 1 | 1 | 1 | ! } | 1 | |
| 10 | 111 | 0,00±0,00 | 0,00±0,00 | 0,00±0,00 | 0,00±0,00 | 0,00±0,00 | |
| 1 15 | 95 | 8,44±5,01 | 0.00±0.00 | 0,00±0,00 | 0,00±0,00 | 2,11±1,41 | |
| i | i | (8) | i | i | (2) | ||
| 22,5 | 84 | 12,50±4,86* | 0,91±0,91 | 0,91±0,91 | | 0,91±0,91 | 0,00±0,00 | |
| i | i | (10) | (1) | (1) | (1) | ì | |
| 30 | 97 | 9,18±5,13 | 1,00±1,00 | 0,00±0,00 | 0,00±0,00 | 3,82±1,59 | |
| (9) | (1) | (4) | |||||
| 12 | 0 | l | 111 | 1 | 1,68±1,12 | 1,11±1,11 | 1,11±1,11 | 1 | 1,11±1,11 | ) | 0,77±0,77 |
| i | I | (2) | (1) | (1) | (1) | (1) | |
| 15 | 103 | 8,73±3,92 | 1,00±1,00 | 0,00±0,00 | 0,00±0,00 | 7,94±2,07* | |
| { · | 1 | (2) | (1) | 1 | (8) | ||
| 22,5 | 93 | 15,19±3,80** | 1,82±1,82 | 0,00±0,00 | 0,00±0,00 | 7,16±3,03 | |
| 1 | l | (14) | (2) | 1 | 1 | (7) | |
| 30 | 80 | 15,47±4,54** | 0,00±0,00 | 0,00±0,00 | 0,00±0,00 | 8,82±3,28 | |
| 1 | 1 | (12) | 1 | 1 | } | (6) |
* Berbeda nyata dari kontrol p≤0,05 (Wilcoxon's rank sum test).
** Berbeda sangat nyata dari kontrol p<0,01 (Wilcoxon's rank sum test).
Gqmbor l. Eksensefoli don kelopok molo terbuko podo fefus mencit umur lB hod yong berosol dori induk yong diberi perlokuon dengon dosis l5 mg Crlkg berot bqdon podo hori kehqmilon ke-18 (pembesoron2i/zx). K: Konlrol; E : Perlokuon; e : eksensefoll; kl: kelopok mqto terbuko
Gombor 2. Longitlongit berceloh podo fetus mencil umur i8 hori yong berosol dorl induk yong diberi perlokuon dengon dosis l5 mg Crlkg berot bodon podo hori kehomilon ke-l2 (pembesoron 6 x). K: Kontrol; E : Perlqkuqn; lb: longit-longit berceloh.
Gambar 3. Tulang supraoksipital belum menulang sempurna pada fetus mencit umur 18 hari yang berasal dari induk yang diberi perlakuan dengan dosis 15 mg Cr/kg berat badan pada hari kehamilan ke-8 (pembesaran 5 x). K: Kontrol; E: Perlakuan; S: tulang supraoksipital; x: tulang supraoksipital belum menulang sempurna.
Gambar 4. Perbandingan penulangan pada vertebra sakrokaudalis dan falang anggota belakang fetus mencit umur 18 hari yang berasal dari induk kontrol dan induk yang diberi perlakuan dengan dosis 30 mg Cr/kg berat badan pada hari kehamilan ke-8 (pembesaran 5 x). K: Kontrol; E: Perlakuan.
tumbuh pada waktu embrio berumur 12hari, berfusipada umur 15 hari, dan akhirnya fetus yang berumur 16 hari sudah mempunyai langit-langit sekunder yang sempurna (Rugh, 1968). Kejadian langit-langit bercelah pada penelitian ini mungkin disebabkan oleh penghambatan proliferasi sel-sel mesenkim pembentuk keping-keping palatum. Hal ini menyebabkan ukuran keping lebih kecil daripada ukuran normal, sehingga fusi keping palatum tidak dapat berlangsung, dan terjad ilah cacat berupa langirlangi t berce lah.
Kejadian malformasi internal muncul berupa ginjal kanan lebih kecil daripada yang kiri, dan testis belum turun. Ginjal kanan lebih kecil daripada yang kiri terjadi pada letus dari induk yang diberi perlakuan maupun dari induk kontrol. Persentasi kejadian tersebut umumnya tidak berbeda nyata antara fetrs dari induk kontrol dan fetus dari induk perlakuan. Tampaknya keadaan ginjal kanan lebih kecil daripada yang kiri merupakan malformasi yang benifat spontan. Demikian pula, kejadian testis belum turun terjadipada fetus dari induk perlakuan maupun dari induk kontrol. Dan, karena persentase kejadian tidak berbeda nyata, dapat disimpulkan keadaan ini terjadi secara spont:tn. Kemungkinan besar testis pada fetus tenebut turun juga ke dalam skrotum, tetapi prosesnya lebih lambat dibandingkan dengan fetus pada umumnya, yang pada umur 18 hari testisnya sudah turun sampai sama tinggi dengan vesika urinaria.
Pada tirbel 3 ditampilkan keadaan penulangan tulang supraoksipital dan jumlah komponen kolumna vertebralis. Dalam penelitian ini, tulang supraoksipital fetus yang induknya diberi perlakuan mengalami kelambatan penulangan. Kelambatan ini memang tidak menunjukkan dose-response relationshrp, kecuali pada kelompok pcrlakuan hari kehamilan ke-10, tctapikarena terjadi pada semua kelompok hari perlakuan, maka diperkirakan kelambatan penulangan tersebut disebabkan olch pengaruh kromium. Dengan teknik autoradiografi, Danielsson e/ al. (1982) berhasil mengamati bahwa kromium trivalen dapat terakumulasi di dalam jaringan fetus yang sedang mengalami kalsilikasi.
Fetus mencit umur 18 hari tclah mempunyai lengkung vertcbra servikalis sebanyak tujuh pasang, sedangkan jumlah badan vertebranya baru lima buah (Taylor, 1986). Pada penelitian ini, fetm dari induk kontrol rata-rata mempunyai badan vertebra servikalis sebanyak 3,81 buah, sedangkan fetus dari induk perlakuan rala-rala mempunyai badan vertebra servikalis antilra 0,84-2,30 buah (tabel 3). Penurunan jumlah badan vertebra servikalis yang telah menulang tersebut menandakan terjadinya kelambatan penulangan. Karena penurunan tersebut berbeda nyata pada semua kelompok hariperlakuan, disimpulkan hal itu disebabkan oleh pengaruh kromium.
Badan vertebra sakralis dan kaudalis fetus mencit mengalami penulangan pada saat fetus berumur 16 dan 17 hari (Rugh, 1968). Pada penelitian ini, jumlah badan
Tabei 3. Persentase dan jumlah tulang suprac ksipital yang belum menulang, dan keadaan penulangan komponen kolumna vertebralis fetus mencit yang berasal dari induk yang diberi kromium klorida pada hari kehamilan ke-8, -10 atau -12.
| Hari keha- | Cr (mg/kg | • | s sipital belum | Jumlah komponen kolumna vertebralis yang menulang | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| yang | Badan v. | V. torakalis | V. Lumbalis x ± sem | Sakrakaudatis | |||||
| badan) | | | | | x ± sem | Lengkung x ± sem | Badan x ± sem | |||||
| 8 | 0 | 50 | 0,00±0,00 | 3,81±0,49 | 13,76±0,09 | | |5,26±0,10 | 7,98±0,05 | | |11,57±0,36 | |
| | | 15 | | | | 49 | | | |29,50±10,00* | (14) | 2,21±0,53# | 13,96±0,04# | 1 |5,25±0,10 | | 7,64±0,11 | 1 | 9,90±0,38## | | ||
| ļ | 22,5 | 43 | 42,83±13,45** | 1,28±0,46## | 14,00±0,00# | 5,32±0,06 | 7,65±0,11 | 9,48±0,36## | |
| 30 | 45 | 28,50±13,38 (9) | 1,96±0,67# | 13,82±0,06 | 5,43±0,09 | 7,68±0,15 | 9,32±0,40## | ||
| | | 10 | | 1 0 | | | 55 | | | | 2,00± 2,00 | (1) | | | 3,81±0,33 | | | |13,84±0,07 | | |5,20±0,09 | | 7,87±0,07 | | |12,07±0,60 | | |
| ! | | | 15 | 48 | 17,50± 6,38 | 2,16±0,38# | | |13,92±0,04 | | 5,15±0,04 | 7,79±0,07 | 9,98±0,23## | |
| İ | 22,5 | | 43 | | 19,00± 9,68 (10) | 2,30±0,40# | 13,82±0,06 | 5,10±0,06 | 7,66±0,11 | 9,70±0,27## | |
| | | | | 30 | | 49 | 27,67±11,97 (11) | 0,84±0,40## | 13,86±0,06 | |5,15±0,06 | | 7,50±0,15 | 8,88±0,40## | |
| | | 8 : | 0 | 59 | 0,00± 0,00 | | | 3,81±0,38 | | |13,89±0,06 | | |5,17±0,06 | 7,78±0,09 | | |01,98±0,30 | |
| { | | | 15 | 52 | 52 | 13,00± 6,67 (6) | | | 1,92±0,56# | | 1 | 13,89±0,05 | | 5,20±0,06 | 7,73±0,10 | 9,69±0,39# | |
| 22,5 | 47 | 21,50±11,06 (10) | 1,55±0,42## | 13,98±0,02 | |5,12±0,08 | | 7,63±0,11 | 9,77±0,32# | ||
| ; 1 | 30 | 38 | 20,83±10,49 | 1,90±0,54# | 13,87±0,10 | |5,21±0,11 | 7,63±0,15 | 9,73±0,34# | |
* Berbeda nyata dari kontrol p ≤ 0,05 (Wilcoxon's rank sum test).
vertebra sakrokaudalis yang menulang pada fetus yang induknya diberi perlakuan, umumnya lebih rendah dan secara statistika berbeda nyata atau sangat nyata
dibandingkan dengan fetus dari induk kontrol. Karena itu, disimpulkan pada daerah ini terjadi kelambatan dalam proses penulangan yang disebabkan oleh pengaruh kromium.
** Berbeda sangat nyata dari kontrol p ≤ 0,01 (Wilcoxon's rank sum test).
# Berbeda nyata dari kontrol p ≤ 0,05 (Uji Beda Nyata Terkecil).
## Berbeda sangat nyata dari kontrol p ≤ 0,01 (Uji Beda Nyata Terkecil).
Purata jumlah tulang metakarpal dan tulang falang anggota depan yang mengalami penulangan pada fetu dari induk yang diberi perlakuan, secara statistika tidak berbeda dibandingkan dengan fetus dari induk kontrol (tabel 4). Sementara itu, pada rangka anggota belakang, persentase tulang larsal dan jumlah falang proksimal yang mengalami penulangan pada fetus dari induk yang diberi perlakuan, umumnya secara statistika berkurang dengan nyata atau sangat nyata dibandingkan dengan fetus dari induk kontrol (tabel 5). Tampaknya kromium tidak mempengaruhi proses penulangan komponen metapodium dan falang rangka anggotia depan, tetapi kromium mempengaruhi proses penulangan komponen mesopodium dan falang proksimal rangka anggota belakang. Penundaan proses penulangan falang anggota belakang juga terjadi pada penelitian Trivedi er a/. (1989). Kelambatan proses disebabkan oleh terjadinya akumulasi kromium di dalam rangka fetus yang sedang mengalami kalsifikasi.
Tabel 6 dan gambar 5 menunjukkan kandungan Cr di dalam darah induk, plasenla, dan fetus utuh dalam waktu 24 jrm setelah pemberian. Selama enam jam setelah pemberian, kandungan Cr fetus relatif srabil, sementiara kandungan Cr darah induk menurun dan mencapai kandungan terendah, tetapi tetap lebih tinggi daripada kandungan Cr fetus. Sementara itu, kandungan Cr plasenta meningkat dengan tajam dan menc,apai kandungan tertinggi enam jam setelah pemberian. Hal itu menunjukkan bahwa sebelum kromium dilalukan lewat plasenta ke fetus, untuk sementara waktu kromium diakumulasikan terlebih dahulu diplasenta. Kemudian, antara enam sampai dengan 12 jam setelah pemberian, kandungan Cr plasenta menurun dengan tajam, sementara kandungan Cr fetus meningkat sampai 10 kali dibandingkan dengan enam jam sebelumnya. Dalam pada itu, kandungan kromium darah induk kembalisedikit meningkat, tekpi tetap lebih rendah daripada kandungan kromium fetus. Hal tersebut menandakan telah terjadi pelaluan kromium lewat plasenta ke f'etus, dan pada akhir pengamaLan, Cr fetus tetap lebih tinggi daripada kandungan Cr darah induk. Hasil ini mendukung penelitian Iijima et at. (1983) yang menyuntikkan 5lcrcl3 pada induk mencit yang hamil delapan hari. Mereka mendapatkan bahwa selama periode waktu 24 jam tampak kandungan Cr di dalam darah induk menurun, sedangkan didalam tubuh fetus meningkat.
Selanjutnya, anLrara 12 sampai dengan 24 jam setelah pemberian, kandungan Cr fetus relatif stabil; demikian pula kandungan Cr darah induk, sedangkan kandungan Cr plasenta kembali meningkat. Hal ini menunjukkan adanya gejala retensi Cr di plasenta. Hasil pengamatan ini mendukung hasil penelitian Danielsson et al. (1982) dan Wallach & Verch (1984). Penelitian Keino & Kashiwamatl (1983) membuktikan bahwa logam berat lainnya seperti kadmium juga diretensi di plasenta, sebagaimana halnya nikel yang diteliti olch Munir (1e86).
Tabel 4. Keadaan penulangan tulang metakarpal dan falang anggota depan fetus mencit yang berasal dari induk yang diberi kromium klorida pada hari kehamilan ke-8, -10, atau -12.
| Hari keha- | (mg/kg | Jumlah |fetus | Jumlah yang suc | iah menulang | ||
|---|---|---|---|---|---|---|
| milan ke- | yang |diamati | Tulang metakarpal x ± sem | Falang proksissal X ± sess | Falang median | Falang distal | |
| 8 | 0 | 50 | 4,00 ± 0,00 | 3,81 ± 0,07 | 1,03 ± 0,24 | 5,00 ± 0,00 |
| } } | 15 | 49 | 4,00 ± 0,00 | 3,72 ± 0,08 | 0,88 ± 0,31 | 5,00 ± 0,00 |
| 22,5 | 43 | 3,98 ± 0,02 | 3,52 ± 0,15 | 0,55 ± 0,25 | | | 4,79 ± 0,14 | |
| [ | | | 30 | | | 45 | | | | 4,00 ± 0,00 | | | | 3,28 ± 0,36 | | 0,83 ± 0,25 | i | 4,67 ± 0,33 | |
| 10 | 0 | 55 | 4,00 ± 0,00 | 3,86 ± 0,05 | 1,25 ± 0,30 | 5,00 ± 0,00 |
| ! ! | 15 | 48 | 4,00 ± 0,00 | 3,68 ± 0,11 | 0,91 ± 0,23 | 4,92 ± 0,08 |
| \ | | 22,5 | 43 | 4,00 ± 0,00 | 3,68 ± 0,11 | 0,91 ± 0,23 | 1 | 4,67 ± 0,08 |
| 1 | 30 | 49 | 3,98 ± 0,08 | 3,07 ± 0,28 | 0,72 ± 0,24 | 4,55 ± 0,30 |
| 12 | 0 | 59 | 4,00 ± 0,00 | 3,85 ± 0,08 | 1,20 ± 0,27 | 5,00 ± 0,00 |
| 1 | 15 | 52 | 4,00 ± 0,00 | 3,85 ± 0,08 | 0,60 ± 0,21 | | | 5,00 ± 0,00 |
| | | 22,5 | 47 | 4,00 ± 0,00 | 3,19 ± 0,25 | 0,66 ± 0,32 | 4,65 ± 0,26 |
| ! | | 30 | 38 | 3,98 ± 0,02 | 3,32 ± 0,29 | 0,41 ± 0,13 | 4,80 ± 0,20 |
Kandungan Cr plasenta yang meningkat kembali dalam waktu antara 12-24 jam setelah pemberian, dan tidak diikuti oleh kenaikan kandungan Cr di dalam fetus, menunjukkan bahwa plasenta berfungsi sebagai sawar terhadap pelaluan Cr ke fetus.
Tabel 5. Persentase tulang tarsal yang sudah menulang dan keadaan penulangan tulang metatarsal serta falang anggota belakang fetus mencit yang berasal dari induk yang diberi kromium klorida pada hari kehamilan ke-8, -10, atau -12.
| Hari keha- | Jumilah fetus | Tulang tarsal yang sudah | Jumlah yang sudah menulang | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| (mg/kg | menulang | Tulang | Falang | Falang median | Falang distal | ||||
| ke- | berat | diamati | % x ± sem | metatarsal | proksimal | X ± Sem | X ± Sem | ||
| |badan) | ļ | | | | X 1 Sem | X ± Sem | | | ||||
| . 8 | | | 0 | | 50 | | |35,33±10,72 | (17) | 5,00 ± 0,00 | 4,28 ± 0,11 | 0,17 ± 0,11 | 5,00 ± 0,00 | ||
| 1 15 | 49 | 8,00±8,00* | 4,98 ± 0,02 | 3,52 ± 0,23 | 0,02 ± 0,02 | 4,44 ± 0,27 | |||
| 22,5 | 43 | 2,50±2,50* | 4,95 ± 0,05 | |3,06 ± 0,32# | 0,08 ± 0,08 | 4,23 ± 0,34 | |||
| 30 | | 45 | 3,33±3,33* (2) | 4,93 ± 0,07 | 3,04 ± 0,43# | 0,00 ± 0,00 | 4,50 ± 0,50 | |||
| 10 | | | 0 | | | | 55 | | | |40,67±11,51 | 5,00 ± 0,00 | | |4,17 ± 0,16 | | | 0,54 ± 0,36 | | | 5,00 ± 0,00 | ||
| | | 15 |- | 48 | | 9,00± 4,92* | 4,96 ± 0,02 | |3,59 ± 0,20 | 0,00 ± 0,00 | 4,92 ± 0,08 | |||
| 22,5 | | 43 | | 5,83± 3,94* | 4,95 ± 0,05 | 3,05 ± 0,39# | 0,00 ± 0,00 | 4,08 ± 0,51 | |||
| 30 | 49 | | 5,00±5,00* | 4,86 ± 0,08 | 2,38 ± 0,43## | 0,00 ± 0,00 | 3,13 ± 0,51## | |||
| 12 | | | 0 | | | | 59 | | | |38,24±9,84 | (22) | 5,00 ± 0,00 | | |4,05 ± 0,15 | | | 0,06 ± 0,06 | | | | 5,00 ± 0,00 | ||
| | 15 | | 52 | | 9,00±5,26* (5) | 5,00 ± 0,00 | 2,86 ± 0,33# | 0,00 ± 0,00 | 3,97 ± 0,41 | |||
| 22,5 | 47 | 0,00±0,00## | 5,00 ± 0,00 | 2,50 ± 0,39## | 0,00 ± 0,00 | 4,24 ± 0,45 | |||
| 30 | 38 | 0,00±0,00** | 4,94 ± 0,06 | 2,96 ± 0,38# | 0,00 ± 0,00 | 4,13 ± 0,44 | |||
* Berbeda nyata dari kontrol p ≤ 0,05 (Wilcoxon's rank sum test).
** Berbeda sangat nyata dari kontrol p \(\leq\) 0,01 (Wilcoxon's rank sum test).
# Berbeda nyata dari kontrol p ≤ 0,05 (Uji Beda Nyata Terkecil).
## Berbeda sangat nyata dari kontrol p \(\leq\) 0,01 (Uji Beda Nyata Terkecil).
Tabel 6. Kandungan kromium di dalam darah induk, plasenta, dan fetus mencit utuh yang berasal dari induk yang diberi kromium klorida dengan dosis 30 mg Cr/kg berat badan pada hari kehamilan ke-17.
| Kandungan Cr (μg/g berat basah) | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Games! | Kontrol | Pengamatan setelah pemberian | ||||||
| Sampel | Kontrol | 1,5 jam | 3 jam | 6 jam | 12 jam | 24 jam | ||
| Darah induk | - | 9,66 | 8,41 | 2,03 | 3,89 | 3,70 | ||
| Plasenta | - | 4,02 | 5,31 | 18,83 | 8,87 | 14,34 | ||
| Fesus utuh | 0,21 | 0,58 | 0,54 | 5,74 | 5,80 | |||
- : Tidak terdeteksi.

Gambar 5. Kandungan kromium di dalam darah induk, plasenta, dan fetus mencit utuh yang berasal dari induk yang diberi kromium klorida dengan dosis 30 mg Cr/kg berat badan pada hari kehamilan ke-17.
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kromium trivalen bersifat embriotoksik, teratogenik ringan, dilalukan dari darah induk ke fetus lewat plasenta, diakumulasikan di dalam tubuh fetus, dan sebagian diretensi di dalam plasenta.
UCAPAN TERIMA KASIH
Pelaksanaan penelitian ini sebagian dilaksanakan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kimia Terapan, LIPI, Bandung, dan untuk itu kami mengucapkan terima kasih atas segala fasilitas yang telah diberikan.
DAT-TAR PUSTAKA
- Conn, H.J., Darrow, M.A. & V.M. Emmel. 1960. Staining procedures. The Williams & Wilkins Co, Baltimore. p. 146-147.
- Danielsson, B.R.G., Hassoun, E. & L. Dencker. 1982. Embryotoxicity of chromium: distribution in pregnant rnice and effects on embryonic cells in vitro. Arch. Toxicol. 5l:233-245.
- Frey, P.R. 1958. College chemistry.2nd ed. Englewood Clitl's, New Jersey: Prentice Hall, Inc. p.616-623.
- Gale, T.F. 1978. Ernbryotoxic effects of chromium trioxide in baursters. Environ. Res. 16:101-109.
- Gale, T.F. 1982. The embryotoxic response to maternal chromium trioxide exposure in di ff'erent stra i ns o f. hamsters. E nv ir on. R e s. 29 : 196 -2O3,
- Greene, R.M. & R.M. Pratt. 1976. Developmental aspect of secondary palate formation. J.E.E.M. 36:225-245.
- Iijima, S., Matsurnoto, N. & C.C. Lu. 1983. Transfer of chromic chloride to embryonic mice and changes in the embryonic nouse neuroepitheliunt.Toxicology.36:257-265.
- Kameyana, Y. 1981. Testing for environmcntal teratogenicity. Seminar Biologi, Institut Teknologi Bandung.
- Kayne, J.F., Komar, G., laboda, H. & R.E. Vanderlinde. 1978. Atomic absorption spectrophotometry of chromiumin serun and urine with a modified Perkin-Elmer 603 a to nri c a bs o rpti o n spectropho to mete r. C I in. C lrc m. 20(12):21 5 l -2 | 5 4.
- Keino, H. & S. Kashiwamata. 1983. Cadmium accumulation after intraperitoneal injection of ll5tttcadrnium in selected tissues frour pregnant and non-pregnant nrice. C ong. Anom. 23:251 -265.
- Matsulnoto, N., Iijirna, S. & H. Katsunuura. 1976. Placental transfer of chromic chloride and its teralogenic potential in elnbryonic rnice. "L Toxicol. Sci.2:l-13.
- Merian, E. 1984. Introduction on environntental chentistry and global cycles of chroruiunr, nickel, cobalt, berylliunr, arseruic,admium and seleniurn, and their derivatives. Toxicol. Environ. C lrcm. 8:9-38.
- Munir, W. 1986. Felaluan nikel oleh plasenta, pcngaruhnya terhadaperkembangan pralahir nrcncil (Mus muscuhrs) galur Australia serta penirnbunan pada jaringan induk. Tesis S2. Fakultas Pascasarjana, lnstitut Teknologi Bandung.
- Poswif lo, D. 1975. Causal mechanisms ol craniol'acial de formity. Brit. Med. Bull.3l:lo1- 1 06.
- Rugh, R. 1968" Tlrc mouse -- its reproduction ond development^ Burgess Publishing Co. p. 102,216-226,251.
- Schardein, J.L. 1985. Chemically induced birth defects. New York & Basel: Marcel Dckker, Inc. p. 16.
- Srivastava, H.C. & P.P. Rao. 1979. Movemcnt of palatal shelves during secondary palate closure in rat. Teratology. 19l.81-1O1.
- Taylor, P. 1986. Practical teratology. Academic Press, Harcout Brace Jovanovich Publ. l,orrdon. p. 10-24, 48-98.
- Trivedi, 8., Saxena, D.K., Murthy, R.C. & S.V. Chandra. 1989. Embryotoxicity and fetotoxicity of orally administcrcd hexavalent chromium in mice. Reprod^ Toxicol. 3:2'75-278.
- Wallach, S. & R.L. Verch. 1984. Plancental transport of cbromiurn. J. Am. Coll. Nut. 3:69-74.
- Webster, W.S. & K. Messe rle. 1980. Changes in the mouse neuroepithelium associated w ith cadr.r.riu nr- induccd neu ra I tube de fects. Ter a tolo gy. 2l:7 9 -88.
