1. Home
  2. Archives
  3. Vol 30 (1998) Issue 3
  4. Articles

Foraminifera Distribution Patterns within Sequence Stratigraphy (A Case Study: Blora Area and Surroundings/Low Latitude Area)

Abstract

Sari. Analisis stratigrafi sikuen memerlukan data yang menyeluruh dari berbagai disiplin ilmu geologi, termasuk biostratigrafi. Secara hipotesis, biostratigrafi (foraminifera) dapat dijadikan alat untuk mengidentifikasi sikuen. Studi kasus di daerah lintang rendah telah dilakukan dan beberapa parameter seperti asosiasi biofasies, bioevent, kelimpahan, serta keragaman dan komposisi fauna telah dicoba diterapkan untuk mencari pola atau karakteristik tertentu yang dapat dijadikan alat untuk mengidentifikasi sikuen. Peran biostratigrafi foraminifera sebagai alat dalam interpretasi sikuen tampaknya dipengaruhi oleh lingkungan tempat endapan sedimen ditemukan. Pada endapan laut dangkal, meskipun resolusi umur kurang baik, batas sikuen, komponen sikuen, dan beberapa horizon dalam sikuen akan lebih dapat dikenali dari pola sebaran foraminiferanya sebaliknya, pada laut dalam, meskipun resolusi umur akan lebih baik, unsur lain kurang terlihat dengan baik, kecuali bidang condensed section yang berasosiasi dengan maximum flooding surface. Foraminifera Distribution Patterns within Sequence Stratigraphy (A Case Study: Blora Area and Surroundings/Low Latitude Area)Abstract. The approach in sequence stratigraphy analysis needs data from multi-discipline including biostratigraphy. Hypothetically, it indicates that biostratigraphy (foraminifera) can be used as a tool to identify a sequence. A case study at low latitude area has been done and some parameters such as microfauna assemblage, bioevent, abundance, diversity, and fauna composition have been applied to find some characteristics which could be used as a tool to identify sequence stratigraphy. Biostratigraphy as a tool seems to be influenced by the environment where the sediments are deposited. In shallow marine, where the age resolution is not very good, the sequence boundary and maximum flooding surface (MFS) are still easy to identify. On the contrary, in deep marine setting, biostratigraphy can be used to date the age and identify the condensed section which is associated with maximum flooding surface (MFS).

Keywords

Foraminifera distribution patt€rns within sequence stratigraphy (A case study: Blora area and surroundings/lorv latitudc arca)

The approach in sequence stratigraphy analysis needs data from rnulti-discipline including biostratigraphy. Hypothetically, it indicates that biostratigraphy (foranrinifera) can be used as a tool to identify a sequence. Acase study at low latitude area has been done and some parameters such as microfauna assernblage, bioevent, abundance, diversity, and launa cornposition have been applied to find sorne characteristios which could be used as a tool to identify sequence stratigraphy. Biostratigraphy as a tool secms to be influenced by the environment where the sediments are deposited. In shallow marine, where the age resolution is not very good, the sequence bourdary and maximum flooding surface (Ml-S) are still easy to identify. On the contrary, in deep marine setting, biostratigraphy can be used to date the age and identily the condensed section which is associated with maximum flooding surface (M:S).

KeTwords : bios#ati graphy, forantinife ra, se quence st rati graphy.

1 Pendahuluan

Berkembangya konsep stratigrafi sikuen akhir-akhir ini (Vail, 1987, van Wagoner dkk., 1988 dan Haq, l99l) telah mengakibatkan perubahan yang revolusioner dalarn pernikiran stratigrafi. Secara hipotesis, biostratigrafi (forarninifera) dapat mengidentifikasi sikuen dan komponen sikuen itu sendiri bilamana data yang lain tidak meyakinkan (van Gorsel, 1988).

1.1 Konscp

Stratigrafr sikuen adalah metode pcndekatan yang rnultidisiplin serta berorientasi pada sejumlah proses untuk menginterpretasi paket sedimen. Paket sedimen terscbut diberi nama sikuen dan dibatasi oleh bidang kctidakselarasan atau bidang kemenerusannya yang selaras dan bersifat regional. Secara teknis, konsep ini bcrtujuan mengelompokkan urutan, susunan batuan sedirnen ke dalam suatu sikuen yang didasarkan pada kronologi sebagai pernbatas selang genesanya (Vail, dkk, 1984, Vail, 1987, dalam Djuhacni, 1996).

Istilah sikuen menunjuk pada sikuen orde 3 yang menurut Vail (1992, dalam Handford, 1997) mernpunyai selang waktu 0,5 - 3,0 juta tahun. Sikucn tcrsebut diakiba&an oleh glacio-eustatic change dan tcktonik lokal ataupun regional. Mitchurn dan van

Wagoner (1991) menyaiakan bahwa sikuen mempunyai pola tumpukan sedimen (stacking pattern) dan merupakan bukti dari adanya siklus high-frequency eustatic. Sikuen tersebut tersusun atas komponen sikuen (depositional system track/ lowstand system track/LST, transgressive system track/TST dan high system track/HST) sebagai respons akibat perubahan muka air laut relatif (Posamentier dan Vail, 1988; van Wagoner dkk., 1988)

Interpretasi stratigrafi sikuen dan komponen sikuennya serta horison seperti batas sikuen (SB), bidang transgresi (TS), bidang maximum flooding surface (MFS), dan condensed section (C) memerlukan pemahaman akan hubungan stratigrafi, umur, batimetri, dan fasies. Dengan demikian, terlihat ada beberapa aspek yang melibatkan biostratigrafi dalam mengevaluasi stratigrafi sikuen.

1.2 Material dan metode

Daerah penelitian berada di Cekungan Jawa Timur Utara (Blora, daerah lintang rendah, Gambar 1). Stratigrafi sikuennya sudah dikaji secara rinci oleh Djuhaeni (1994). Sebanyak 101 contoh dari 6 unit sikuen pada empat buah penampang stratigrafi telah diambil (Gambar 2). Pengambilan contoh batuan di lapangan dilakukan pada tiap batas komponen sikuen dan selang di antaranya. Semua contoh batuan yang didapat diproses dengan prosedur yang sama. Contoh batuan yang tidak kompak di cuci sebanyak 10 gram berat kering, sedangkan yang sangat kompak disayat tipis. Teknik penghitungan, metode preparasi, dan hitungan set fosil dilakukan secara konsisten pada seluruh contoh yang dianalisis, secara kuantitatif.

Taksonomi foraminifera mengikuti Loeblich & Tappan (1964), sedangkan referensı untuk spesies planktonik dan zonasinya mengikuti Bolli dkk. (1985). Identifikasi spesies bentonik berdasarkan antara lain Barker (1960) dan Adam (1984). Selain menggunakan konsep datum, penentuan umur relatif juga dibantu oleh pola perubahan putaran spesies tertentu (Bolli dkk., 1985). Sementara itu foraminifera besar mengikuti Adam (1970, 1984). Data ekologi genus atau spesies foraminifera dan asosiasi untuk tiap zona batimetri didasarkan pada berbagai sumber seperti Rauwenda dkk. (1984), Murray (1991), Biswash (1976), Hottinger (1983), dan Bilman dkk. (1980). Model batimetri untuk lingkungan pengendapan laut mengikuti model yang digunakan oleh Rauwenda dkk. (1984). Analisis iklim menggunakan metode whole fauna dengan referensi spesies dari Boltovskov & Wright (1976) dan Be' & Tolderlund (1971, dalam Haynes, 1981). Salinitas perbandingan Globigerinoides ditafsirkan dari sacculifer/Gs. ruber seperti yang digunakan oleh Berggren & Boersma (1969, dalam Boltovskoy &

Wright, 1976). Beberapa parameter dicoba diterapkan untuk melihat pola sebaran foraminifera yang dapat membantu analisis stratigrafi sikuen, yaitu kelimpahan, keragaman, bioevent, biofasics, dan kompisisi fauna.

2 Pola sebaran/karakteristik foraminifera dalam stratigrafi sikuen

Umur, lingkungan pengendapan, dan iklim purba dari contoh yang dianalisis terlihat pada Gambar 3 sampai dengan 6. Gambar 7 sampai dengan 10 adalah kurva kelimpahan (total, bentonik, planktonik), keragaman (jumlah total species, Yule-Simpson indeks, planktonik, bentonik), dan komposisi foraminifera. Berikut akan dibahas pola atau karakteristik foraminifera pada setiap komponen sikuen dan bidang-bidang batasnya.

2.1 Batas sikuen

Sebanyak 7 batas sikuen, yaitu SB2, SB3, SB4, SB5, ?SB6, SB8, dan SB9 telah dianalisis. SB2, SB3, SB8, dan SB9 secara fisik di lapangan dicirikan oleh bidang erosional. Hampir semua batas sikuen dicirikan oleh penurunan batimetri secara tiba-tiba, kecuali SB5 dan ?SB6 di lintasan Kali Ledok. Batas tersebut dari hasil analisis foraminifera tidak menunjukkan adanya perubahan batimetri. Pada batas sikuen ?SB6, meskipun batimetri tidak menunjukkan perubahan, terlihat ada sedikit perubahan pada iklim, kelimpahan dan keragaman total, serta foram planktonik dan bentonik. Batas sikuen juga bersesuaian dengan perubahan iklim (SB8) dari panas ke dingin serta adanya zona biostratigrafi yang hilang. Beberapa batas sikuen dicirikan oleh hadir atau meningkatnya fauna rombakan dan percampuran fauna fasies laut dangkal dan dalam. Hal ini diikuti oleh perubahan batimetri dan/atau ekologi (salinitas), iklim dari panas ke dingin (SB2, SB8, SB9), dan perubahan pH (SB3). Pada Gambar 7 sampai dengan 10 terlihat bahwa keragaman dan, kelimpahan total maupun kelompok foraminifera tidak menunjukkan pola yang konsisten; pola yang dijumpai sangat tergantung pada jenis batuan dan kondisi ekologi lingkungan pengendapannya. Meskipun demikian, terlihat bahwa bila kondisinya sama-sama laut terbuka, batas sikuen dicirikan oleh penurunan kelimpahan totalnya (SB4, SB5, ?SB6, SB8 dan SB9). Beberapa batas sikuen juga dicirikan oleh perubahan komposisi fauna secara mencolok dengan tiba-tiba (SB2 dan SB3).

2.2 Lowstand System Track (LST)

Sebanyak 5 selang endapan LST, yaitu LST dari Sikuen 3, 4, 5, 7, dan 10 telah dianalisis. Adanya fosil rombakan yang sukar dipisahkan dengan yang in situ pada endapan LST Sikuen 3 dan l0 membuat pola keragaman d.rn kelimpahan yang sebenarnya sulit diketahui. Selang LST Sikuen 7 (Carnbar 9) memperlihatkan pola penurunan keragaman, baik dalarn jurnlah specien maupun indcks Yule-Simpson serta keragaman bentonik dan planktoniknya. Sernentara itu, LST Sikuen 4 (Gambar 7) juga mernperlihatkan penurunan keragaman dan kelimpahan, tetapi LST Sikuen 5 (Gambar 8) menunjukkan hal yang sebaliknya.

Pcmbahasan di atas menunjukkan bahwa pola keragaman dan kelimpahan tidak konsisten. Secara umurn, endapan LST dicirikan oleh hadirnya fauna rombakan yang re latif banyak dan percampuran bentonik laut dangkal dan dalarn. Biofasies pada endapan LST yang dianalisis pada laut dangkal menunjukkan lingkungan pengendapan yang relatif lcbih dangkal daripada HST urtit sikuen di bauahnya, sedangkan yang pada laut y'ang relatif dalarn (SB5 & ?SB 6) tidak selalu menunjuklian pendangkalan batimetri.

2.3 Transgrcssive System Track (TST)

Sebanyak 5 selang endapan TST, yaitu TST dari Sikuen 3, 5, 7, 9, dan l0 telah dianalisis. Selang TST memperlihatkan kecenderunganaiknya kelirnpahan total, meskipun pada TST Sikuen 9 pola tersebut tidak begitu tampak karena sulit memisahkan fauna rombakan dan fauna in situ. Pada laut daugkal (TST Sikuen 3 dan l0) terlihat bahwa kelirnpalnn total bentoniknya nreningkat, sedang.lian pada laut dalam (TST Sikuen 7 dan 9), kelirnpahan dan keragaman planktoniknl'a yang tampak meningkat. Analisis biofasies menunjukkan bahua asosiasi faunanl'a makin ke atas makin ntenunjukkan lingkungan yang makin mendalam, dan nrencapai maksimum kedalarnan di sekitar batas antara TST dan HST. Hal ini tampak jelas terutama pada daerah laut dangkal. Parameter lain tidak menunjukkan pola tertentu.

2.1 Highstand System T'rack GIST)

Empat selang HST telah dianalisis, yaitu HST Sikuen 3, 5, 7, dan 9. Selang HST tersebut mentperlihatkan karakteristik biofasies yang harnpir sama, yaitu rnakin ke atas makin menunjukkan pendangkalan batirnetri (HST Sikuen 3, 7, dan 9); lunl'a Sikuen 5 yang tidak rnenunjukkan perubahan batimetri. Kelimpahan dan keragaman jumlah spesies, indeks Yule-Simpson, planktonik dan bentonik, dan komposisi fauna, tidak nrenunjukkan pola perubahan yang konsisten. Sikucn 3 dan 7 mempcrlihatkan keragaman 1'ang menurun ke arah atas, sedangkan Sikuen 5 menunjukkan kecenderungan naik ke arah atas. Pada Sikucn 9 terlihat menurun, kernudian berfluktuasi, dan meningkat lagi di akhir sclang. Kelirnpahan total umumnya mempunyai pola 1'ang bcrfl uktuasi.

2.5 Transgressive Surface (TS)

Sebanyak 5 bidang TS telah dianalisis, yaitu bidang TS Sikuen 3,4,5,7, dan 10. Bidang TS Sikuen 3, ,1, 5, dan l0 berada pada lingkungan laut relatif dangkal dan dicirikan oleh perubahan batimetri (kecuali Sikuen 5). Di atas bidang TS tampak lingkungan pengendapan yang relatif lebih dalarn daripada yang di bau'ahnya. Sikuen 7 berada pada laut yang relatif dalam dan tidak rnenunjukkan perubahan batimetri. Keragaman, kelirnpahan, dan komposisi fauna tidak menunjukkan pola yang konsisten.

2.6 MFS (M:rximum Flooding Surface)

Lima bidang MFS telah dianalisis, yaitu MFS Sikuen 3, 5,'1,9, dan 10. Bidang MFS Sikuen 5,'1,9, dan l0 berasosiasi dengan condensed section. Pada bidang NtrS yang berasosiasi dengan condensed section tarnpak baltrva kelirnpahan dan/atau keragarnan yang relatif tinggi berada tepat di bawah bidang MFS dan hanya pada Sikuen 5 yang tidak. Sementara itu, yang tidak berasosiasi dengan condensed section, maksirnurn kelimpahan dan/atau keragamannya berada di atas bidang MFS. Meskipun dalarn satu sikuen ter&rpat nilai keragaman dan/atau kelirnpahan yang hampir sama atau lcbih tinggi (TST Sikuen 9 dan LST Sikuen 3), hal terscbut dapat dibedakan dari yang berasosiasi dengan bidang MFS. Nilai yang tinggi tersebut diakibatkan oleh adanya fauna rombakan yang sebagian sulit dipisahkan dengan yang in situ. Bidang MFS juga tampak berasosiasi dengan maksimurn kedalauun di dalaur satu sikuen. Hal tersebut terefleksi pada asosiasi biofasiesnya. Pada laut dangkal, hal tersebuterlihat dari pemunculan fauna yang relatif lebih dalam dibandingkan dengan yang di atas atau di barvahnya, sedangkan pada laut dalam, tarnpak dari tingginya kelirnpahan dan/atau keragalnan total,

2.6. 1 Condensed section

Enrpat condensed section telah dianalisis dalam studi irti. Tiga condensed section (Sikuen 7, 9, dan l0) mempun;'ai karakteristik foraminifera yang sama, yaitu rnempunyai uilai kelimpahan planktonik atau bentonik yang tinggi di dalam satu sikuen, tetapi condensed section Sikuen 5 tidak menunjukkan hal yang sama. Selain hal di atas, condensed section juga berasosiasi dengan biofasies yang menunjukkan lingkungan relatif paling dalarn dari satu unit sikuen. Pada penelitian ini terlihat bahwa sernua condensed seclion tersebut dicndapkan pada kondisi laut tcrbuka dengan salinitas nonnal.

3 Pemodelan

Berdasarkan rnodcl stratigrafi sikuen 1'ang dibuat oleh Vail dkk. (1987), dan hasil arulisis pada penelitian ini, dibuat model biostratigrafr dalam hubungannya dengan stratigrafi sikuen. Model terscbut (Garnbar l l) nrenggambarkan perubahan batirnetri, ekologi, dan iklirn purba pada sikuen dan kornponcnnra )'ang disusun berdasarkan data biofasiesny'a. Horisort-horison 1'ang ada pada sikuen disusuu berdesaikan pcrubahan pada biofasies dan biu.:r'errr, renrrasuk di dalautnl'a karakteristik kclimpahan dan keragatnan.

4 Diskusi

Pada penelitian irri tcrltirat b"rir"'a pcrutr.rlran rrruka laut rclatif sangrt uiempcnglrulri pola pcrtl cbarar/ karakteristik forarninifcra, rttcskipurt hal tcrsebut tidak secara keseluruhan bcrublh secara konsisitcn, Pcrubahan yang terjadi, baik scbarutt atiru kortrposrsi fauna, kelinrpahan, dan kcragalulnn.la tcrgantung pada kondisi ekologi darr scdirnentasl \artg ter.iadi di dalaru cekungan.

Pada laut dangkal, pcrubahan tnuka laut relatif mempunyai pengaruh )'ang relatif besar. Dengan dernikian, analisis biostratigrali lang lengkap dan rinci akan dapat mcmbantu dalanr rnenganalisis stratigrafi sikuenny'a.

Biofasies terutama akan dapat rnengenali batas sikuen dan MFS, scdangkan bidang '[S, nreskipun pada studi ini tarnpak dicirikan olclt urendalatnnl'a ba(irne tri, secara biofasies bidang tersebut akan sulit dibedalian dengan perubalun batiuretri pada endapan TST 1'ang pola parasikuen-setnya tnerttbcntuk retrogradasi. Pada laut dalam, rueskipun perutiahan ntuka laut relatif mungkin tidak rnenyebabkan pcrubahan batiructri lang berarti, biostratigrafr tarnpak masih dapat tnetnbantu dalam analisis stratigrafi sikuen. Pertama, membantu menentukan unlur serta rnengindentifikasi batas sikuett yang berasosiasi dengan pcrubahan iklint. Kedua, membantu rnengidentifik'Jsi c<tntlensed section 5'ang berasosiasi dcngan MFS. Pcrrelitian foraminifera pada laut dalarn menunjukkan bahwa kecepatan akutnulasi cangkang bentonik dan kelimpahan spesies tertentu serta keragaman totalnya berhubungan erat dengan pasokan bahan organik 1'ang nrctnasuki dasrr cckurtgan, yang terutana berasal dari produksi di zona euphotic (Altenbach, 1992, Pedeison dkk. 1988, Hergucra & Berger, 1991, dalarn Karninski dkk, 1996). Produktivitas bahan organik tersebut dipengaruhi oleh perubahan muka laut relatit, terutalna yang berkaitan dengan perubahan iklirn. Dengan dernikian, keccpatan aliumulasi cangkang bcntonik selurlsnya akart lcbilt

tinggi pada glasial dibandingkan dengan pada interglasial (Burke, 1993).

Pada lintasan Kali Ngliron tampak bahwa perubahan dari iklirn tropik ke subtropik diikuti oleh kenaikan kclirnpahan bentoniknya (dari HST Sikuen 7 ke TST Sikuen 9). Pada lintasan Kali Ledok, perubahan itu justru terjadi pada waktu ternperatur naik; HST Sikuen 7 rnerniliki kelirnpalnn dan keragaman bentonik yang tinggi. Data sikuen di cekungan ini @juhaeni, 1991) rnenrperlilutkan bahrr'a di daerah Plantungan, HST Sikuen 7 ini bcrkorelasi dengan dua sikuen, yaitu Sikuen 7 dan 8, Analisis lingkungan pengendapan nrcmperliha&an adanya pcriodc pendangkalan batimetri pada selalg I{ST Sikucn 1. Jadi, ada kemungkinan bahrra selang t{ST Sikuen 7 tersebut sebenarnya terdiri atas dua sikucn. Masalah ini nrungkin bisa didekati dengan mcngalisis biostrarigrali/biofasies dengan selang contolr yang lcbih rapat pada lintasan tersebut.

Pada pcnclitian ini tampak bahwa pararneter yang digurukan baru akan mcnrpuuy'ai arti bila contoh yang diperbandiugkan satu sama lain menjalani perlakuan atau pcrnrosc.san )ang sanra dan konsistcn.

5 Kesimpulan

Pola sebaran foraminifera dapat mcrnbantu dan juga dapat digunakan sebagai alat dalanr analisis stratigraft sikuen. Peran tersebut terutama diperlukan dalam peuentuan urnur, identifikasi batas sikuen, dan selang kondensasi/bidang MFS.

Cara te rbaik untuk mcngenali unit sikuen dan konrponennya adalah dengan rnenganalisis secara rinci urnur dan lingkungan pcngendapan (terutama perubalmn batimetri, ekologi, dan iklim purba) serta pola kurva kelirnpahan dan keragaman totalnya.

Biostratigrafi sebagai alat untuk analisis stratigrafi sikuen mernerlukan rnetode pengarnbilan dan penlrosesan contoh yang tertentu.

6 Daftar pustaka

  • l. Adam, C,G., 1984, Neogene Larger Foraminifera, Evolutionary and Geological Events in the Context of Datum Planes, In: Ikebe, N. and Tsuchi, R. (Eds.), Pacif c Neogene Datum Planes'. Univ. Tolq'o Press, p.4147.
  • 2. Barker, R.W., 1960, Taxonomic Notes: Soc. Econ. Paleon. and ]l[ineral, Special publication, no.9, Tulsa, Oklahoma, USA, 238 p.
  • 3. Billnran, H., L. Hottinger dan H. Oesterle, 1980, Neogene to Recent rotaliid foraminifera from the

  • Indopacifrc Ocean; their canal slstem, their classification and their stratigraphic use; Scheizerische Paontologische Abhandlungen, vol. l0l, p.7l-113.
  • 4. Biswash, 8., 1916, Bathymetry of Holocene foraminifera and Quarternary sea-level channges on the Sunda shelf, in'. Journal of Foraninifera Research, vol. 6, no. 2,p.107-133.
  • Boili, H.N{., Saunders, J.B. dan Percir-Nielson, K. (eds.), 1985, Plankton Stratigraphy: Carnbridge Univ. Press, p. l-328.
  • Boltovskoy, E. dan Wright, R., 1976, Recent Foraninifera, Dr, LI/. Junk,The Hague, 515p.
  • Burke, S.K., Berger, W.H., Coulbourn, W.T. dan Vincent, E., 1993, Benthic foramiuifera in box core ERDC ll2, Ontong Java Plateau, in: Journal of Foraninifera Research, yol. 23, p. l9-39.
  • Djuhaeni, 1994, Stratigraphie Sequentielle Des Series Sedimentaires Marines du Neogene et du Pleistocene Dans la Region de Cepu, Bassin Nord-Est de Java Indoncsie, Tesis doktor, Universite Claude Bernat, Lyon, 218p, tidak dipublikasi. 8.
  • Djuhaeni, 1996, Signifikasi Aplikasi Konsep Stratigrafr sikuen pada Endapan Berurnur Neogen-Plistosen di daerah Cepu, Cekungan Jawa Tirnur Ulara: Jurnal Teknologi Mineral, ITB, vol. 3, no. 2, h. ,t3-60.
  • 10. Handford, C.R., 1997, Carbonate Depositional S1'sterrn and Scquence Stratigraphy, Panduan kursus IWPL.
  • ll. Haq, 8.U., 1991, Sequence Stratigraphy, Sea Level Change, and Significance for the Deep Sea, in: D.l.M. MacDonal, ed., Sea level change at active margin: I.A.S. Spec. Pub. 12, p. 3*41.
  • 12. Haynes, J.R., 1981, Foraminifera: John Wiley & Son, New York, 348pp.
  • 13. Hottinger, L., 1983, Processes detennining the distribution of larger forarninifera in space and time. Utrecht )uliuopal. Bull.,30, p. 239-253.
  • 14. Kaminski, M.A., Kuhnt, W. dan Radley, J.D., 1996, Paleocene - Eocenne deep water agglutinated forarninifera from the Nurnidian Flysch (fut Northern Morocco): Their significance for the
  • paleoceanography of Gilbraltar gatelvay, in: Journal oflulicropaleontologlt, vol. 15, part l, p. l-19.
  • 15. Loeblich, A.R. Jr. dan Tappan, H., 1964, Sarcodina, Chiefly Thecamobian and Foraminiferida, in: Moore, R.C., ed, Treatise on Invertebrate Paleontology, Protista 2, part C: Univ. Kansas Press., vol. I, p. Cl-C510;vol. 2, p. C5ll-C900.
  • 16. Mitchum, R. M., jr. dan van Wagoner, J. C., 1991, High-frequenry sequence and their stacking patterns: sequence-stratigraphic eyidence of highfrequenry eustatic rycles, in: Sedimentary Geologlt, vol. 70, p. l3l-160.
  • 17. Murray, J.W., 1991, Ecologt and Paleoecolog,, of Benthotric Foraminifera: Heineman Educational Book Liurited, London, 397p.
  • 18. Posamenntier, H.W. dan Vail, P.R., 1988, Eustatic Control on Clastic Deposition I dan II, in: Wilgus, C.K., et. al. (Editor): Sea Level Change: An Intergratcd Approach, SEPlll Spec. Publ., vol. 42, p. 109-124.
  • 19. Raurvenda, PJ., Morley, R.J. dan Toelstra, S.R., 1984, Assessrnent of Depositional Environment and Stratigraphy on the Basis of Foraminifera Paleoecology: Robertson Research International Lirnitcd, Singapore.
  • 20. Vail, P.R., 1987, Seismic stratigraphic interpretation using sequence stratigraphy. Part l: seisrnic stratigraphy interpretation procedure, In: A.W. Bally (ed.), Atlas of seisntic stratigraphy, vol. l: AAPG Studies in Geology 27, p.l-10.
  • 21. van Gorsel, J.T., 1988, Biostratigrafi in Indonesia: methods, pitfalls and new directions: Proc. Indonesian Pctrol. Ass. lTth Ann. Conv., p. 275- 300.
  • 22. van Wagoner, J.C., Posamentier, H.W., Mitchurn, R.M.Jr., Vail, P.R., Sarg, J.F., Loutit, T.S., dan Hardennbol, J., 1988, An overvierv of fundamentals of sequence stratigraphy and key definitions, in C.K. Wilgus et.al. (eds.), Sea-lcvel change, an integrated approach: SEPM Spec. Publ. 42, p. 39-16.
2

Gambar 1 Lokasi daerah penelitian dan peta struktur&fisiografi Cekungan Jawa Timur Utara menurut Sutarso dan Padmosukisno (1976, dalam Djuhaeni, 1994)

1

Gambar 2 Lokasi lintasan stratigrafi yang diambil contohnya dan peta geologi daerah Cepu menurut Sutarso dan Padmosukisno (1976, dalam Djuhaeni, 1994)

BATIMETRI

Djuhaeni (1994)

3

Gambar 3 Ringkasan hasil analisis lintasan Kali Braholo

1

SB: battas elkuen; LST: lowstend system track; TST: transgressive system track; HST: highetend system track; TS: transgressive surface; MFS: maximum flooding surface; C: condensed section

Gambar 4 Ringkasan hasil analisis lintasan Kali Guwo

2

Gambar 5 Ringkasan hasil analisis lintasan Kali Ledok

2

Keterangan:

1: Zona Globorotalia tosaensis tosaensis dan/atau lebih muda

2: Zona Globorotalia miocenica

3: Subzona Globorotalia margaritae evoluta

SB: betas sikuen; LST: lowstand system track; TST: transgressive system track; HST: higs/htend system track; TS: transgressive surface; MFS: maximum flooding surface; C: interval kondensasi

batupasir

batugamping

napai batulempung

Gambar 6 Ringkasan hasil analisis lintasan Kali Ngliron

2

Gambar 7 Kurva kelimpahan, keragaman, dan komposisi foraminifera lintasan Kali Braholo

1

Gambar 8 Kurva kelimpahan, keragaman, dan komposisi foraminifera lintasan Kali Guwo

2

Gambar 9 Kurva kelimpahan, keragaman, dan komposisi foraminifera lintasan Kali Ledok

0

Gambar 10 kelimpahan, keragaman, dan komposisi foraminifera lintasan Kali Ngliron

2

Gambar 11 Model biostratigrafi dalam stratigrafi sikuen

References

  1. Adam, C.G., 1984, Neogene Larger Foraminifera, Evolutionary and Geological Events in the Context of Datum Planes, In: Ikebe, N. and Tsuchi, R. (Eds.), Pacific Neogene Datum Planes: Univ. Tokyo Press, p. 47-67.
  2. Barker, R.W., 1960, Taxonomic Notes: Soc. Econ. Paleon. and Mineral, Special publication, no.9, Tulsa, Oklahoma, USA, 238 p.
  3. Billman, H., L. Hottinger dan H. Oesterle, 1980, Neogene to Recent rotaliid foraminifera from the Indopacific Ocean; their canal system, their classification and their stratigraphic use; Scheizerische Paontologische Abhandlungen, vol. 101, p. 71-113.
  4. Biswash, B., 1976, Bathymetry of Holocene foraminifera and Quarternary sea-level channges on the Sunda shelf, in: Journal of Foraminifera Research, vol. 6, no. 2, p. 107-133.
  5. Bolli, H.M., Saunders, J.B. dan Perch-Nielson K., (eds.), 1985, Plankton Stratigraphy: Cambridge Univ. Press, p. 1-328.
  6. Boltovskoy, E. dan Wright, R., 1976, Recent Foraminifera, Dr. W. Junk, The Hague, 515p.
  7. Burke, S.K., Berger, W.H., Coulbourn, W.T. dan Vincent, E., 1993, Benthic foraminifera in box core ERDC 112, Ontong Java Plateau, in: Journal of Foraminifera Research, vol. 23, p. 19-39.
  8. Djuhaeni, 1994, Stratigraphie Sequentielle Des Series Sedimentaires Marines du Neogene et du Pleistocene Dans la Region de Cepu, Bassin Nord-Est de Java Indonesie, Tesis doktor, Universite Claude Bernat, Lyon, 218p, tidak dipublikasi.
  9. Djuhaeni, 1996, Signifikasi Aplikasi Konsep Stratigrafi sikuen pada Endapan Berumur Neogen-Plistosen di daerah Cepu, Cekungan Jawa Timur Utara: Jurnal Teknologi Mineral, ITB, vol. 3, no. 2, h. 43-60.
  10. Handford, C.R., 1997, Carbonate Depositional Systems and Sequence Stratigraphy, Panduan kursus IWPL.
  11. Haq, B.U., 1991, Sequence Stratigraphy, Sea Level Change, and Significance for the Deep Sea, in : D.I.M. MacDonal, ed., Sea level change at active margin: L.A.S. Spec. Pub. 12, p. 3-41.
  12. Haynes, J.R., 1981, Foraminifera: John Wiley & Son, New York, 348pp.
  13. Hottinger, L., 1983, Processes determining the distribution of larger foraminifera in space and time. Ultrech Micropal. Bull., 30, p. 239-253.
  14. Kaminski, M.A., Kuhnt, W. dan Radley, J.D., 1996, Paleocene - Eocenne deep water agglutin paleoceanography of Gilbraltar gateway, in: Journal of Micropaleontology, vol. 15, part 1, p. 1-19.
  15. Loeblich, A.R. Jr. dan Tappan, H., 1964, Sarcodina, Chiefly Thecamobian and Foraminiferida, in: Moore, R.C., ed, Treatise on Invertebrate Paleontology, Protista 2, part C: Univ. Kansas Press., vol. 1, p. C1-C510; vol. 2, p. C511-C900.
  16. Mitchum, R. M., jr. dan van Wagoner, J. C., 1991, High-frequency sequence and their stacking patterns: sequence-stratigraphic evidence of high-frequency eustatic cycles, in: Sedimentary Geology, vol. 70, p. 131-160.
  17. Murray, J.W., 1991, Ecology and Paleoecology of Benthonic Foraminifera: Heineman Educational Book Limited, London, 397p.
  18. Posamenntier, H.W. dan Vail, P.R., 1988, Eustatic Control on Clastic Deposition I dan II, in: Wilgus, C.K., et. al. (Editor): Sea Level Change: An Integrated Approach, SEPM Spec. Publ., vol. 42, p. 109-124.
  19. Rauwenda, P.J., Morley, R.J. dan Toelstra, S.R., 1984, Assessment of Depositional Environment and Stratigraphy on the Basis of Forminifera Paleoecology: Robertson Research International Limited, Singapore.
  20. Vail, P.R., 1987, Seismic stratigraphic interpretation using sequence stratigraphy. Part I: seismic stratigraphy interpretation procedure, In: A.W. Bally (ed.), Atlas of seismic stratigraphy, vol. 1: AAPG Studies in Geology 27, p.1-10.
  21. val Gorsel, J.T., 1988, Biostratigrafi in Indonesia: methods, pitfalls and new directions: Proc. Indonesian Petrol. Ass. 17th Ann. Conv., p. 275-300.
  22. van Wagoner, J.C., Posamentier, H.W., Mitchum, R.M.Jr., Vail, P.R., Sarg, J.F., Loutit, T.S., dan Hardennbol, J., 1988, An overview of fundamendals of sequence stratigraphy and key definitions, in C.K. Wilgus et.al. (eds.), Sea-level change, an integrated approach: SEPM Spec. Publ. 42, p. 39-46.