Artonol B and cycloartobiloxanthone from Artocarpus teysmaniiMlQ
Two compounds, a xanthone lactone derivative, namely artonol B (l) and a furanodihydrobenzoxanthone dcrivative, namely cycloartobiloxanthone (2) had been isolated from Artocarpus teysmanii Miq. (Moraceae), locally known as Tipulu. The structures of both compounds were elucidated based on physical and spectroscopic data (MS, 'H and rrC NMR). Both artonol B (l) and cycf oartobiloxanthone (2) showed strong toxicity against Arlemia salina in the shrimp bioassay, and compound 2 also showed weak antimitotic activity against cdc2 kinase and cdc25 phosphatase as the targets.
Keywords: Antimitotic, Artocarpus teysmanii Miq., artonol B, cdc2 kinase, cdc25 phosphatase, cycloartobiloxanthone, furanodihydrobenzoxanlhone, Moraceae, tipulu, xanthone lactone.
I Pendahuluan
Senyawa flavonoid terisoprenilasi termasuk jenis metabolit sekunder yang memperlihatkan keanekaragaman struktur yang tinggi baik dari segi kerangka karbon maupun gugus fungsi, sehingga penelitian tentafg berbagai senyawa ini berkembang dengan cepat.''' Sejumlah flavonoid terisoprenilasi, khususnya yang berasal dari tumbuhan yang termasuk
famili Moraceae, memperiihatkan pula berbagai jenis bioaktivitas. r-l
Dalam rangka mempelajari ilmu kimia tumbuhan hutan hopika Indonesia, khususnya tumbuhan yang termasuk famili Moraceae, kami telah melaporkan struktur dan bioaktivitas sejumlah senyawa fl avonoid terisoprenilasi, termasuk sejumlah senyawa baru yang berasal dari spesies Artocarpus yang belum pemah dilaporkan
' Bagian ke-8 dari seri "llmu Kimia Tumbuhan Moraceae lndonesia". Untuk Bagian ke-7 lihat pustaka [ 0].
ff .. ' ' Korespondensi dialamatkan kepada yang bersangkutan: Tel. (021)2502 I03; Fax. (022) 2504154; E-mail sjamsul@hg.chem.itb.ac.id
sebelumnya 440 Dalam makalah ini akan dilaporkan kajian kimiawi yang selah kami lakukan terhadap spesies Artocarpus teysmonii Miq serta dijelaskan penemuan dua senyawa, masing-masing suatu tarunan samon lakton, yakni artonel B (I) dan suatu turunan furanodihidrobenzosanton, yaitu sikloartobilosanton (2). Kedua senyawa ini memperlihatkan toksisitas yang tinggi terhadap udang Ariemia satina, walaupun senyawa 2 memperlihatkan bioaktivitas yang rendah pada uji antimitotik terhadap target cdc2 kinase dan cdc25 fosfatase. Struktur senyawa 1 dan 2 telah ditetapkan berdasarkan analisis UV, IR, MS, dan NMR spektroskopi, termasuk ID dan 2D MMR (<sup>1</sup>H-<sup>1</sup>H COSY, HMQC, HMBC).
2 Percobaan
Umum. Semua tirik leich ditentukan dengan menggunakan alat penerapan titik leleh mikro. Spektrum masing-masing \(\mathbf{IR}\)diuku dengan spektrofotometer Beckman DU-7000 dan Shimadzu FTIR 8501. Spektrum <sup>1</sup>H dan <sup>13</sup>C NMR diukur dengan spektrometer JEOL JMN A5000 yang bekerja pada 500,0 MHz (<sup>1</sup>H) dan 125,65 MHz (<sup>13</sup>C), menggunakan TMS sebagai standar internal. Spektrum massa (EIMS) tumbukan elektron diperoleh menggunakan spektrometer massa JEOL JMS-AM20. Kromatografi cair vakum (KCV) dilakukan dengan menggunakan Si gel Merck 60 GF<sub>254</sub>, kromatografi tekan dengan Si gel Merck 60 (230 - 400 mesh), kromatografi gravitasi menggunakan Si gel Merck 60 (35-70 mesh), dan analisis kromatografi lapis tipis (KLT) pada pelat berlapis Si gel Merck Kieselgel 60 F<sub>254</sub>, 0,25 mm
Pengumpulan Bahan Tumbuhan. Bahan kulit batang dan kulit akar A. teysmanii dikumpulkan pada bulan Juli 1996 dari desa Boli, Kecamatan Muncang, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Tumbuhan ini diidentifikasi oleh Herbarium Bogoriense, Balai Penelitian dan Pengembangan Botani, Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi, LIPI, Bogor, dan spesimennya disimpan di herbarium tersebut.
Ekstraksi dan Isolasi, Kulit akar yang telah dikermakan dan digiling (4,0 kg) diperkolasi secara tuntas dengan metanol. Setelah pelarut diuapkan dari ekstrak metanol, pada tekanan rendah, diperoleh residu berwarna coklat kehitam-hitaman (690 g). Residu dilarutkan dalam campuran air-metanol (4:6) dan fraksi yang larut diekstraksi berturut-turut dengan heksan, benzen, dan masing-masing menghasilkan kloroform, sebanyak 30 g; 55 g; dan 63 g. Seluruh ekstrak benzen (30 g) difraksinasi dengan kromatografi cair vakum (KCV) Si gel menggunakan campuran eluen heksan, heksan-EtOAC, EtOAc, dan MeOH, menghasilkan 64 fraksi. Penggabungan fraksi-fraksi tersebut berdasarkan analisis KLT menghasilkan sembilan fraksi utama. Fraksi utama ketiga (472 mg) difraksinasi lebih lanjut dengan kromatografi gravitasi (KG) menggunakan
campuran chuen heksan-aseton (9,5 : 0,5) menghasilkan 31 fraksi. Gabungan fraksi 21-26 (95 mg) difraksinasi kembali dengan KG menggunakan campuran eluen yang sama menghasilkan 2at padat berwarna jingga (35 mg), yang dikristalisasi berulang kali dari campuran CHCl3-heksan, menghasilkan senyawa 1 (15 mg) yang berwarna jingga, t.l. 265-267 °C. Dengan menggunakan cara yang sama, dari fraksi benzen kulit batang A. teysmanii diperoleh senyawa 2 (48 mg) yang berwarna kuning, t.l. 285-288 °C.
Artonol B (1): diperoleh sebagai kristal berwarna jingga. t.1 265-267 °C; IR (KBr) v maks 3200 (OH), 1774 (C=O y-lakton), 1719 (C=O keton), 1652 (C=O keton berkonjugasi), 1607, 1558, 1487 cm<sup>-1</sup> (benzen); UV (CHCl<sub>3</sub>) \(\lambda_{\text{maks}}\) (log \(\epsilon\)) 244 (4,15), 288 (4,03), 344 (3,50) nm; <sup>1</sup>H NMR (CDCl<sub>3</sub>, 500,0 MHz) δ 1,50 (6H, s, Me-14 dan Me-15), 1,76 (6H, s, Me-18 dan Me-19), 2,82 (3H, s, CH<sub>3</sub>CO), 5.64 (1H, d, J = 10.0 Hz, H-12), 6.32 (1H, s, H-2), 6.60 (1H, d, J = 10.0 Hz, H-11), 8.30 (1H, s, H-8), 12,50 (1H, s, OH-1); <sup>13</sup>C NMR (CDCl<sub>3</sub>, 125,65 MHz) δ 198,4 (s, MeCO), 179,1 (s, C-9), 166,7 (s, C-16), 163,2 (s, C-1), 162,2 (s, C-3), 151,2 (s, C-4a), 151,1 (s, C-4b), 148,6 (s, C-7), 130,2 (s, C-5), 128,2 (d, C-12), 126,5 (s, C-6), 125,1 (s, C-8a), 119,2 (d, C-8), 114;1 (d, C-11), 103,5 (s, C-9a), 101,3 (s, C-4), 100,2 (d, C-2), 86,6 (s, C-17), 79,0 (s, C-13), 32,3 (q, CH<sub>3</sub>-asetil), 28,5 (q, Me-14), 28,5 (q, Me-15), 27,6 (q, Me-18), 27,6 (q, Me-19). EIMS m/z [M]<sup>+</sup> 420 (83), 406 (35), 405 (puncak dasar), 335 (20).
Sikloartobilosanton (2): diperoleh sebagai kristal kuning, t.l. 285-288 °C; IR (KBr) v maka 3400 (OH), 1651 (C=O keton), 1600, 1500, 1400 cm<sup>-1</sup> (benzen); UV (MeOH) \(\lambda_{\text{maks}}\) (log \(\epsilon\)) 204 (4.17), 230 (4.18), 282 (4.25), 309 (bahu, 3,81), 327 (bahu), 390 (4,00) nm, sedangkan penambahan NaOH dan AlCl3 tidak menimbulkan perubahan terhadap spektrum awal. <sup>1</sup>H-NMR (CDCl<sub>3</sub>, 500,0 MHz) \(\delta\) 1,35 (3H, s, Me-12), 1,47 (Me, s, H-17), 1,48 (3H, s, Me-18), 1,58 (3H, s, Me-13), 2,40 (1H, t, J =15,1 Hz, H-9a), 3,20 (1H, dd, J = 7.0 dan 15,1 Hz, H-10), 3,40 (1H, dd, J = 7.0 dan 15,1 Hz, H-9b), 5,58 (1H, d, J = 10.0 Hz, H-15), 6,25 (1H, s, H-6), 6,25 (1H, s, H-3'), 6,85 (1H, d, J = 10,0 Hz, H-14); <sup>13</sup>C NMR (CDCl<sub>3</sub> + CD<sub>3</sub>OD, 125,65 MHz) δ 180,6 (s, C-4), 160,8 (s, C-2), 160,7 (s, C-7), 158,6 (s, C-8a), 150,9 (s, C-5), 150,4 (s, C-1'), 145,9 (s, C-4'), 136,6 (s, C-5'), 132,1 (s, C-6'), 127,0 (d, C-15), 114,9 (d, C-14), 111,4 (s, C-1'), 104,5 (s, C-4a), 103,8 (d, C-3'), 103,6 (s, C-3), 101,2 (d, C-6), 99,6 (d, C-8), 93,4 (s, C-11), 77,8 (s, C-16), 46,4 (d, C-10), 27,9 (q, C-18), 27,7 (q, C-17), 27,7 (q, C-13), 22,3 (q, C-12), 19.5 (t, C-9). EIMS \(m/z [M+1]^{+} 435 (puncak)\)dasar), [M]<sup>+</sup> 434, [M-CH<sub>3</sub>]<sup>+</sup> 419, 307, 289, 154, 136, 107, 77.
Evaluasi Biologi. Pada pengujian toksisitas menggunakan udang Artemia salina, sesuai dengan cara yang diuraikan oleh Meyer, kedua senyawa 1 dan 2 memperlihatkan toksisitas yang tinggi, masing-masing dengan LC<sub>50</sub> 20,1 μg/mL. Selanjutnya, pada uji
antimitotik dengan cara yang diuraikan oleh Meijer, <sup>12</sup> senyawa 2 hanya memperlihatkan aktivitas antimitotik yang rendah terhadap target cdc2 kinase (IC<sub>50</sub> 300 μM) dan cdc25 fosfatase (IC<sub>50</sub> 30 μM).
3 Pembahasan
Artonol B (1) diperoleh sebagai kristal berwarna jingga, t.l. 265-267 °C. Spektrum massa (EIMS) senyawa 1 menunjukkan ion molekul pada m/z 420, yang sesuai untuk rumus molekul \(C_{24}H_{20}O_7\). Spektrum UV menunjukkan \(\lambda_{\text{maks}}\) (MeOH) pada 244, 284, 337, dan 404 nm yang menunjukkan adanya kerangka santon, <sup>13,14</sup> sedangkan spektrum IR memperlihatkan adanya pita-pita serapan untuk gugus hidroksil pada v<sub>maks</sub> 3200 cm<sup>-1</sup> (melebar), karbonil lakton pada 1774, karbonil keton pada 1719, karbonil terkelasi pada 1651 cm<sup>-1</sup>, serta cincin benzen pada 1652, 1558, dan 1487 cm<sup>-1.15</sup> Sinyal <sup>1</sup>H dan <sup>13</sup>C NMR senyawa 1 dapat dinyatakan secara rinci dengan bantuan spektrum NMR dua dimensi (2D). termasuk spektrum korelasi (COSY) proton homonuklir ('H-'H COSY), spektrum korelasi heteronuklir 'H-'3C COSY kuantum rangkap (HMQC), dan spektrum korelasi heteronuklir jarak jauh (HMBC). Spektrum <sup>1</sup>H NMR senyawa 1 memperlihatkan adanya sinyal untuk suatu cincin 2,2-dimetilkromen pada δ 1,50 (6H, s), 5,64 (1H, d, J = 10.0 Hz), dan 6.60 (1H, d, J = 10.0 Hz).Spektrum <sup>1</sup>H NMR senyawa 1 juga memperlihatkan adanya proton untuk dua gugus metil pada \(\delta\) 1,76 (6H, s), proton suatu gugus asetil CH<sub>3</sub>-CO pada δ 2,82 (3H, s), dua proton aromatik pada δ 6,32 (1H, s) dan 8,30 (1H, s), dan suatu proton yang berikatan hidrogen pada δ 12,50 (1H, s). Data 'H NMR di atas, geseran kimia dan pola perjodohan proton-proton senyawa 1 memberi indikasi adanya kerangka santon yang tersubstitusi dengan cincin 2,2-dimetilkromen dan satu gugus asetil, yang mengisyaratkan bahwa senyawa 1 mempunyai susunan sama seperti yang ditunjukkan oleh artonol B. 14 Spektrum <sup>13</sup>C NMR senyawa 1 memperlihatkan adanya resonansi yang terpisah untuk 24 atom karbon, termasuk diantaranya empat gugus metil, satu metil gugus asil, empat gugus oksiaril, dua oksikarbon, dan tiga gugus karbonil, yang sesuai untuk struktur artonol B (1). Bukti selanjutnya mengenai pola substitusi pada struktur senyawa 1 diperoleh dari sejumlah percobaan HMBC (Gambar 1).
Gambar 1 Beberapa korelasi HMBC yang utama senyawa 1
Sinyal proton singlet pada \(\delta\) 2,82 yang berkorelasi dengan sinyal karbon pada δ 32,3 (CH<sub>3</sub>CO) memperlihatkan korelasi jarak jauh dengan sinyal karbon karbonil pada δ 198,4 (C=O asetil) dan karbon kuaterner pada δ 130,2 (C-5). Selanjutnya, sinyal proton pada δ 1,76 (6H, Me-18 dan Me-19) memperhihatkan korelasi dengan sinyal karbon pada δ 27,6 (C-18 dan C-19) dan korelasi jarak jauh dengan oksikarbon kuaterner pada δ 86.6 (C-17) dan karbon aromatik pada \(\delta\) 148.6 (C-7). Bukti selanjutnya mengenai letak dua gugus metil geminal pada cincin \(\gamma\)-lakton tak jenuh-\(\alpha,\beta\) diperoleh dari data korelasi jarak jauh antara singlet proton pada δ 8,30 (C-8) dan lima karbon kuaterner termasuk oksikarbon pada 8 86,6 (C-17), atom karbon aromatik pada δ 125,1 (C-8a), 126,5 (C-6), 151,1 (C-4b), dan gugus karbonil pada δ 179.1 (C-9). Spektrum HMBC juga mengungkapkan korelasi jarak jauh antara proton dublet pada \(\delta\) 6,60 (C-11) dan empat karbon kuaterner pada 79,0 (C-13), 101,3 (C-4), 151,2 (C-4a), 162,2 (C-3), dan proton dublet pada 8 5,64 yang memperlihatkan korelasi jarak jauh dengan dua karbon kuaterner pada δ 79,0 (C-13) dan 101,3 C-4). Data HMBC ini menunjukkan adanya cincin 2,2-dimetilkromen jenis angular yang terlebur pada C-3 dan C-4 cincin A kerangka santon. Selanjutnya, spektrum HMBC memperlihatkan pula korelasi jarak jauh antara proton singlet pada δ 12,50 (OH-1) dan dua karbon kuaterner pada δ 103,5 (C-9a) dan 163,2 (C-1), dan karbon metin aromatik pada δ 100,2 (C-2) yang menunjukkan adanya gugus hidroksil terkelasi pada C-1. Data NMR seperti diuraikan di atas menyimpulkan bahwa senyawa 1 adalah artonol B. Bukti selanjutnya mengenai struktur senyawa 1 diperoleh dari membandingkan <sup>13</sup>C NMR, yang diperoleh dengan bantuan data HMQC dan HMBC, dengan yang dilaporkan untuk artonol B dalam literatur. 14
Sikloartobilosanton (2) diperoleh sebagai kristal berwarna kuning, t.l. 285-288 °C. Spektrum massa (EIMS) senyawa 2 menunjukkan ion molekul pada m/z 434, yang sesuai untuk rumus molekul \(C_{25}H_{22}O_7\).
Spaktrum UV menunjukkan \(\lambda_{\text{maks}}\) (MeOH) pada 230, 255 (bahu), 282, 309 (bahu), 327 (bahu), 390, 488 nm, sedangkan spektrum IR memperlihatkan adanya pita-pita serapan untuk gugus hidroksil pada v<sub>maks</sub> 3400 cm<sup>-1</sup> (melebar), karbonil terkelasi pada 1651 cm<sup>-1</sup>, dan cincin benzen pada 1600, 1500 dan 1400 cm<sup>-1</sup>, yang menunjukkan adanya struktur flavon. 16 Sinyal 1H dan 13C NMR senyawa 2 dapat dijelaskan secara rinci dengan bantuan spektrum NMR dua dimensi (2D), termasuk spektrum korelasi (COSY) proton homonuklir (<sup>1</sup>H-<sup>1</sup>H COSY), spektrum korelasi heteronuklir <sup>1</sup>H-<sup>13</sup>C COSY kuantum rangkap (HMOC), dan spektrum korelasi heteronuklir jarak jauh (HMBC). Spektrum <sup>1</sup>H NMR senyawa 2 memperlihatkan adanya sinyal untuk dua proton metil pada \(\delta\) 1,35 dan 1,68 (masing-masing 3H, s), dan proton untuk sistem ABX pada \(\delta\) 2,40 (1H, t, J = 15,1 Hz, H-9a), 3,20 (1H, dd, J = 7,0 dan 15,1 Hz, H-9b), dan 3,40 (1H, t, J = 7.0 Hz, H-10). Sinyal untuk dua gugus metil dan sinyal untuk sistem ABX ini menunjukkan adanya gugus isoprenoid pada C-3 kerangka flavon, dengan susunan sama seperti yang ditemukan pada turunan furano-dihidrobenzosanton.<sup>1</sup> Kesimpulan ini didukung oleh spektrum <sup>13</sup>C NMR senyawa 2 yang menunjukkan adanya sinyal untuk dua gugus metil (\(\delta\) 22,7 dan 27,7), satu gugus metilen (\(\delta\)19,5), satu gugus metin (δ 46,4) dan satu oksikarbon kuaterner (δ 93.4 ). Spektrum <sup>1</sup>H NMR juga menunjukkan adanya sinyal untuk dua gugus metil pada δ 1,47 dan 1,48 (masing-masing 3H, s), dua proton vinil pada \(\delta\) 5,58 (1H, d, J = 10.0 Hz) dan 6,85 (1H, d, J =10,0 Hz) yang menyarankan adanya gugus 2,2dimetilkromen. Sinyal lainnya pada spektrum 'H NMR menunjukkan adanya dua proton aromatik pada δ 6,25 (1H, s, H-6) dan 6,25 (1H, s, H-3'). Data <sup>1</sup>H NMR di atas mengisyaratkan baliwa senyawa sikloartobilosanton. 18 Spektrum 13 C NMR senyawa 2 juga memperlihatkan adanya resonansi yang terpisah untuk 25 atom karbon, termasuk di antaranya empat gugus metil, satu gugus metilen, dua oksikarbon, tujuh karbon oksiaril, lima karbon metin, dan satu gugus karbonil yang sesuai untuk struktur sikloartobilosanton (2). Bukti selanjutnya mengenai pola substitusi pada struktur senyawa 2 diperoleh dari sejumlah percobaan HMBC (Gambar 2).
Gambar 2 Beberapa korelasi HMBC yang utama senyawa 2
Spektrum HMBC memperlihatkan korelasi jarak jauh antara triplet pada 8 2,40 (H-9a) dan empat karbon kuaterner pada δ 103,60 (C-3), 132,1 (C-6'), 160,8 (C-2), karbon karbonil pada δ 180,6 (C-4), satu oksikarbon pada \(\delta\) 93,4 (C-11), dan satu karbon metin pada \(\delta\) 46,4 (C-10). Begitu pula, dublet-dublet pada δ 3,40 (H-10) memperlihatkan korelasi jarak jauh dengan dua karbon kuaterner pada \(\delta\) 103,6 (C-3), 132,1 (C-6'), satu oksikarbon pada δ 93,4 (C-11), karbon metilen pada δ 19.5 (C-9), dan dua karbon metil pada δ 27.7 (C-12) dan 22,3 (C-13). Spektrum HMBC juga mengungkapkan korelasi jarak jauh antara singlet pada δ 27.7 (C-12) dan oksikarbon pada 8 93,4 (C-11). Data HMBC ini menunjukkan susunan cincin D yang terlebur pada cincin C metalui C-2 dan C-3 dan pada cincin B melalui C-6', sedangkan cincin furan terlebur melalui atom oksigen pada C-5' dan atom C-y gugus isoprenil yang tersubstitusi pada C-3. Spektrum HMBC memperlihatkan pula korelasi jarak jauh antara proton dublet pada δ 6,85 (H-14) dan tiga karbon kuaterner pada 8 77,8 (C-16), 99,6 (C-8), 158,6 (C-8a), serta satu karbon metin pada \(\delta\) 127.0 (C-15), sedangkan proton dublet pada \(\delta\) 5,58 (H-15) memperlihatkan korelasi jarak jauh dengan dua karbon kuaterner pada δ 77,8 (C-16), 99,6 (C-8), dan satu karbon metil pada δ 27,9 (C-17), yang menunjukkan adanya cincin 2,2-dimetilkromen jenis angular yang terlebur pada C-7 dan C-8. Bukti selaniutnya mengenai struktur senyawa 2 diperoleh dari spektrum HMBC yang memperlihatkan korelasi jarak jauh antara proton singlet pada δ 6,25 (H-6) dan empat karbon kuaterner pada δ 99,6 (C-8), 104,5 (C-4a), 150,9 (C-5), 160,7 (C-7), yang menunjukkan bahwa cincin A senyawa 2 mempunyai pola substitusi C-4a,5,7,8,8a. Kemudian, proton singlet pada \(\delta\) 6,25 (C-3') memperlihatkan korclasi jarak jauh dengan tiga karbon oksiaril pada δ 136,6 (C-5'), 145, 9 (C-4'), 150,4 (C-2'), yang menunjukkan bahwa cincin B senyawa 2 mempunyai pola substitusi C-1'2',4',5',6'. Data NMR seperti diuraikan di atas menyimpulkan bahwa senyawa 2 adalah sikloartobilosanton. Akhirnya, struktur senyawa 2 dibuktikan dengan membandingkan <sup>13</sup>C NMR, yang diperoletr dengan bantuan data HMQC dan HMBC, dengan yang dilaporkan untuk sikloartobilosanton dalam literatur.lE Ditemukannya senyawa I dan 2 bersamasama dalam satu spesies menunjukkan adanya hubungan biogenesis antara kedua senyawa tersebut, berawal dari siklisasi suatu tunrnan flavon terisoprenilasi yang lebih sederhan4 rnenghasilkan artobilosanton (3)to yang selanjutnya menjalani reaksi retro Diels-Alder seperti ditunjuklcur pada Ganbar 3.
Artonol B (l) dan sikloartobilosanton (2) memperlilutkan toksisitas yang tinggi pada uji bioassay terludap udurg Artemia salina, masing-masing dengan LCso 20,1 pgml. Senyawa 2 juga memperlihatkan aklrvitas altimitotik yang rendah pada pengujian mengguukan targct cdc2 kiruse (ICso 300 pM) dan cdc25 fosfatase (ICso 30 pM).
4 Kesimpulan
Pada penelitran terhadap tumbuhanl. teysmaniini, yang baru dilaporkan untuk p€rtama kalinya, telah ditemukan dua scnyawa, masing-masing suatu turunan santon lalcton, yaitu artonol B (1), dan suatu turunan fu ranodihidrobenzosanton, yakni sikloartobilosanton (2) " Telah dilaporkan bahwa kedua senyawa tersebuterdapat pula masing-masing pada A. communis dan A. nobilis.ta't8 Walaupun demikian, laporan ini adalah yang p€rtama yang mencakup data spektroskopi NMR dua dinrensi untuk senyawa (2). Hasil uji bioassay yang dilakukan untuk pertaffra kalinya terhadap kedua senyawa I dan 2 memperlihatkan bahwa kedua senyawa ini bersifat sangatoksik_terludap udang Artemia salina, sedangkan senyawa 2 memperlihatkan aktivitas antimitotik yang rendah terhadap cdc2 kinase dan cdc25 fosfatase. Penelitian mengenailmu kimia A. teysmanii masih dilaniulkan.
------> 2 lol--co, -----> I
Gambar 3 Saran untuk jalur biogenesis artonol B (1) dan sikloartobilosanton (2)
5 Ucapau ieriina kasilr
Tcrinta kasih disampaikau k:i,,rda l{erbariurn Bogoriense, Balai Penelitian darr Pengembangan florani, Pusat Penelitian dan Pengembangan Biclogi, [,lPI, Bogor, yang telah niembantu rnengidentifikasi spcsinrcn tumbuhan. Terima kasih diucapkan pula kepada Dr. Laurent Meijer:, Station Biologique de Roscuff, National de la Recherche Scierrtifique, France, untuk sejumlah percobaan anti-rnitotik menggunakau cdc2 kinase dan cdc25 fosfatase sebagai target.
6 Daft:rr pustaka
- 1. Nomura, 1. (i988). I'hcnoli* Coni;iound; o{' the Mulberry Trec and Relatetl Plants, dalam Progless in the Chemistry of Organic Naiurai Products,tlerz, W.. Grisebach, I-{., Kirby', C" W., dan Tamri-r, Ch. (Ed.). Springer-Verlag, Vienna, 53, 87.
- 2. Nomura, '[. dan Fiano, Y. (1994). Isopreiroid-Substituted Phenolic Cornpounds of Moraccous Plants, Nal. Prod. Rep.l1, 205.
- 3. Nomura, T., Hano, Y., dan Aida, M. (1998). Isoprenoid-Substituted Flavonoicis from Artocorlms Plants (Morac eae), Heterocyt:les, 4'7, | 179.
- 4. Achmad, S. A., Hakim, E. H., Juliawafy, l-. D., Makmur, L., Suyatno, Aimi, N., dan Ghisalberti, E. L. (1996). New Prenylated Flavone from Artocarpus champeden, J. Nat. Prod., 59, 878.
- 5. Parenti, P.. Pizzigoni, A., Hanozet, G., Fiakim, E.l{.. Makmur, L., Achrnad, S.A., dan Giordana, B. (1998). A New Prenylated Flavone from Artocarpus champeden Inhibits the K"-Dependent Amino Acid Transport in Bombyx mori Midgut, Biochem. Biophys. Res. Commun., 244, 445-448.
- 6. Hakim, E.H., Marlina,8.8., Mujahidin, D., Achmad, S.A., Ghisalberti, E.L., dan Makmur, L. (1998). Artokarpin dan Heteroflavanon-A Dtra Senyawa Flavonoid Bioaktif dari Arlocarpus champeden, Proc. ITB.,30(l), 3l
- 7. Achmad, S.A., Mumiana, lJdjiana, S.S., Aimi, 1,1., Hakim,8.H., dan Makmur, 1,. (1998). Tiga Senyav.'a Flavan-3-ol dari Tumbuhan Arlocarpus reilatlatus, Proc.ITB..30(2), l.
- Llakirn, E.tl", Fahriyati, A., Kau, M.S., Achrnad, S.A., Makmur, L., Ghisalberti, 8.L., dan Nomura, T. (1999). Artoindonesianins A and B, Two New Frenylaierl Flavones from the Root of Artocorpus champeden, J. Nat. Prod., 62(4), 613. 8.
- llakiin, E.H., Asnizar, Kurniadewi, F., Ghoiei. i'.A., Achmad, S.A., Aimi, N., Kitajima, M., Makrnur, L., Mujahidin, D., Takayama, H., dan Tamin, R. (1999). Senyawa Turunan Piranoflavon dan Furanodehidrobenzosanton dari Afir:camus lanceifolius", Proc. IT'8. 3l(2\, 57 -62. Y ,
- Maktnur, L.., Syauivririzal. Tukiran, Achrrrad, S,A., Aimi, N,, Hakim, E.H., Kitajima, M., dan Takayama, H. (1999). Artoindonesianin C, A New Xanthone Derivative from the Root Bark of Artocarpus teysmanii, J. Nat. Prod. I tt.
- Meyer', N., Fenigini, N.R., Puuram, J. E., Jacotrserr, D. 8., Nichols, D. E., dan Mclaughlin, J. L. (1982). Brine Shrimp: A Convinient General Bioassay for Active Plant Constituents, Planta Med. 45,31 l I
- Meijer, L. (1996). Chemical Inhibitors of Cyclin-Dependent Kinases, Trends in Cell Biologt, 6,393- 397. I L
- Scott, A^1. t1964). Inierprelation of the Uliravialet Spectt"a of I'latural Products, Perganron Press, London. t3
- Aida, M., Yamaguchi, N., Hano, Y., dan Nomura, T. (1997). Artonols A, B, C, D, and E, Five New Isoprenylated Phenols from the Bark of Artocarpus communis FORSI. , ileterocycles, 45( I ), I 63 - I 75. 14.
- Bcllarny, L"J. (1966). The Infrared Spectra of Complexs Molecules, Methuen & Co. Ltd., London. 15"
- Mabry, T. J.; Markham, K. R. dan Thomas, M. B. (1970). The Systematic Identification of Flavonoids, Springer-Verlag, New York. 16.
- Aida, ltt., Shinomiya, K., Hano, Y., dan Nomula, i'. (1993). Artonins I, K, and L, Three New Isoprenylated Flavones from the Root Bark of Artocarpus heterophyllus Lamk., Helerocycles, 36(3), 575. t;.
- Sultanbawa, M.U.S. dan Surendrakumar, S. (1989). Two Pyranodihydro-benzoxanthones from Artocarpus nobilis, Phytochemistry, 28(2), 599. 18.
