1 Pendahuluan
Dari titik pandang geodinamik, tatanan tektonik pulau Jawa tidak dapat dipisahkan dari sejarah tektonik global, yaitu interaksi antara lempeng Eurasia di Utara, lempeng Indo-Australia di Selatan dan lempeng Pasifik di Timur (Gb. 1).
Daerah Pacitan dan sekitarnya atau daerah penelitian merupakan bagian dari zona Pegunungan Selatan bagian Timur yang terletak pada zona peralihan antara subduksi zaman Kapur dengan subduksi zaman Tersier. Secara geografis, daerah penelitian terletak antara 08° 03′ 50′′ LS - 08° 09′ 40′′ LS dan 111° 05′ 10′′ BT - 111° 15′ 12′′ BT. Sedangkan secara administratif daerah penelitian terletak di Kecamatan Punung, Arjosari, Tegalombo dan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur (Gb. 2).
Daerah Pacitan dan sekitarnya telah banyak diteliti oleh para ahli kebumian. Para peneliti menyimpulkan bahwa daerah tersebut telah mengalami proses deformasi tektonik. Deformasi tersebut menghasilkan struktur sesar dan kekar yang terekam dengan baik pada satuan batuan paleogen-neogen dan menarik untuk dipelajari arah tegasan purbanya (paleostress) karena merupakan informasi penting dalam memecahkan permasalahan tektonik jalur Pegunungan Selatan bagian timur dari waktu ke waktu.
Daerah Pacitan terletak pada posisi tektonik yang sering mengundang pertanyaan dan merupakan mata rantai yang sangat penting antara tatanan struktur geologi Jawa bagian barat dan Jawa bagian timur dan sekaligus merupakan teka-teki dalam kerangka tektonik pulau Jawa bagian selatan.
Beberapa permasalahan yang akan di bahas dalam penelitian ini yaitu: sesar-sesar dan kekar-kekar yang terdapat pada satuan batuan paleogen-neogen apakah terjadi pada waktu yang sama atau pada waktu yang berlainan dan apakah struktur tersebut terbentuk oleh hanya satu atau beberapa arah tegasan purba.
Kajian pustaka sebagai data pembanding yang dipadukan dengan data lapangan dapat memberikan sebuah asumsi yang mengarah pada tujuan dari penelitian ini. Sedangkan kajian utama berupa analisis dinamik tegasan purba pada setiap singkapan di lokasi kunci, bertujuan untuk mengetahui genesa struktur dan sejarah deformasi tektonik di daerah Pacitan dan sekitarnya.
2 Metodologi Penelitian
Hampir semua singkapan satuan batuan di muka bumi ini selalu memperlihatkan gejala frakturasi berupa sesar dan kekar. Frakturasi ini bukan suatu gejala kebetulan di alam, tetapi umumnya merupakan hasil dari suatu deformasi tektonik akibat tegasan (stress) yang mengikuti hukum kekandasan batuan.
Kekar adalah struktur rekahan pada batuan yang sedikit atau tidak sama sekali memperlihatkan gejala pergeseran. Berdasarkan cara terjadinya, kekar dapat dibedakan menjadi kekar gerus (shear fracture) dan kekar tarik (extension and release fractures). Jika dihubungkan dengan prinsip kekandasan batuan, maka pola kekar-kekar tersebut akan mengikuti prinsip tegasan utama (Gb. 3). Pasangan kekar gerus (a dan b), kekar tarik (c) dan kekar release (d).
Sesar adalah rekahan pada batuan yang memperlihatkan gejala pergeseran. Berdasarkan cara terjadinya, sesar dapat dibedakan menjadi sesar mendatar (lateral fault); sesar normal (normal fault) dan sesar naik (reverse fault). Ketiga sesar tersebut mempunyai hubungan yang erat dengan prinsip tegasan (Gb. 4).
Metodologi penelitian bertujuan untuk mengkaji kronologi tegasan purba pada satuan batuan paleogen-neogen di daerah penelitian. Untuk memecahkan permasalahan dalam mempelajari sifat deformasi tektonik, dilakukan pengumpulan data struktur secara detail berupa pengukuran kedudukan sesarsesar minor dan kekar-kekar tektonik dari lintasan-lintasan terpilih. Data tersebut diolah dan dianalisis dengan metoda proyeksi stereografis yang mempergunakan program Stress versi 1.6 dan program Dips versi 2.0. Selain itu penelusuran acuan (referensi) sangat diperlukan sebagai langkah awal dari penelitian ini.
3 Stratigrafi
Penelitian lapangan berupa pemetaan secara regional daerah Pacitan dan sekitarnya, bertujuan untuk mengetahui penyebaran horizontal dan vertikal dari satuan batuan paleogen-neogen yang ditampilkan dalam bentuk peta & penampang geologi (Gb. 5) dan kolom stratigrafi (Gb. 6).
Satuan batuan tertua di daerah penelitian adalah hasil endapan arus gravitasi, yang dicirikan oleh batuan volkanoklastik dan dikelompokan sebagai Formasi Arjosari, berumur Oligosen Akhir - Miosen Awal dan mempunyai ketebalan 500 m. Litologinya terdiri dari breksi polimik sisipan tufa dan batupasir tufaan pada bagian bawah. Pada bagian tengah, terdiri dari breksi polimik, batupasir, lava andesit, tufa dengan sisipan batulempung. Sedangkan pada bagian atas terdiri dari batupasir konglomeratan, perselingan breksi volkanik, lava dan tufa.
Secara menjari diendapkan perulangan satuan breksi volkanik, lava bantal, tufa, tufa dasitik dan batupasir tufaan yang diendapkan pada lingkungan laut dangkal dan dikelompokan sebagai Formasi Mandalika, berumur Oligosen Akhir - Miosen Awal dan mempunyai ketebalan 300 m.
Terobosan batuan beku pada Formasi Arjosari dan Formasi Mandalika terdiri dari dasit, andesit, andesit-basalt dan diorit. Terobosan tersebut berbentuk stock dan retas-retas yang memberikan kenampakan seperti "Volkanic Neck" dan diperkirakan berumur Miosen Tengah - Miosen Akhir.
Pengendapan selanjutnya merupakan batuan sedimen klastik darat hingga laut dangkal. Satuan batuan ini terdiri dari batupasir tufaan, konglomerat, batupasir kuarsa, batulempung bitumen dan sisipan lignit yang dikelompokan sebagai Formasi Jaten, berumur Miosen Awal - Miosen Tengah dan mempunyai ketebalan 150 m.
Kemudian diendapkan satuan batuan pada lingkungan laut dangkal yang terdiri dari breksi volkanik, batupasir tufaan, batulempung dan batugamping yang dikelompokan sebagai Formasi Wuni, berumur Miosen Tengah dan mempunyai ketebalan 200 m.
Secara berangsur pada lingkungan laut dangkal diendapkan perulangan batupasir-batulempung, dan sisipan tufa, lignit, konglomerat dan breksi yang dikelompokan sebagai Formasi Nampol, berumur Miosen Akhir dan mempunyai ketebalan 50 m.
Endapan aluvial terdapat di sungai Grindulu bagian tengah sampai hilir, yaitu berupa material lepas dari hasil rombakan dan pelapukan batuan yang berumur lebih tua, terdiri dari kerakal, kerikil, pasir dan tanah.
4 Struktur Geologi
Secara regional di pulau Jawa terdapat tiga arah pola struktur yang dominan (Pulunggono dan Soejono, 1994). Pertama, pola struktur berarah Timurlaut – Baratdaya (arah Meratus), terbentuk pada umur Kapur Akhir - Eosen Awal. Kedua, pola struktur berarah Utara – Selatan (arah Sunda), terbentuk pada umur Eosen Awal - Oligosen Awal. Ketiga, pola struktur berarah Barat – Timur (arah Jawa), terbentuk pada umur Oligosen Akhir oleh gaya kompresi dari tunjaman di bagian selatan pulau Jawa (Gb. 7).
Struktur geologi di daerah penelitian dapat diamati dari bentuk-bentuk kelurusan pada citra satelit, peta topografi, adanya bidang sesar, zona hancuran, breksiasi dan pergeseran lapisan. Hasil analisis citra satelit dan anomali gaya berat di zona Pegunungan Selatan memperlihatkan adanya pola sesar berarah Baratlaut - Tenggara dan Timurlaut - Baratdaya yang saling berpotongan dan membentuk huruf V serta diduga merupakan sesar-sesar dalam yang sampai ke permukaan (Sudrajat dan Untung, 1975, dalam Nahrowi dkk,1978). Di daerah Pacitan dan sekitarnya merupakan tempat pertemuan kedua sesar tersebut dan sekaligus membatasi daerah tinggian yang umumnya ditempati oleh Formasi Arjosari dan Formasi Mandalika dengan daerah rendahan yang umumnya ditempati oleh Formasi Jaten, Formasi Wuni, Formasi Nampol dan Formasi Punung (Nahrowi dkk, 1978). Sesar-sesar di daerah penelitian dikelompokkan berdasarkan arahnya yaitu:
4.1 Kelompok Sesar Berarah Baratlaut - Tenggara
Kelompok sesar berarah Baratlaut - Tenggara, terdiri dari beberapa sesar, diantaranya sesar Sambi (N310°E), sesar Tinatar (N310°E), sesar Gembong (N310°E), sesar Gedangan (N300°E - N315°E) dan sesar Kebondalem (N300°E - N315°E). Sesar-sesar tersebut memotong satuan batuan Formasi Arjosari dan Formasi Mandalika.
4.2 Kelompok Sesar Berarah Utara - Selatan
Kelompok sesar berarah Utara - Selatan, terdiri dari sesar Buyutan (N190°E), sesar Kacangan (N005°E - N015°E), sesar Ngrawan (N350°E), sesar Arjosari (N005°E), sesar Pronggo-1 (N190°E) dan sesar Ngepoh (N350°E - N360°E). Kelompok sesar ini memotong satuan batuan Formasi Arjosari dan Formasi Mandalika.
4.3 Kelompok Sesar Berarah Timurlaut - Baratdaya
Kelompok sesar yang berarah Timurlaut - Baratdaya, umumnya merupakan sesar mendatar. Kelompok sesar ini terdiri dari sesar Grindulu (N230°E), sesar Pronggo-2 (N030°E - N050°E), sesar Tremas (N045°E), dan sesar Sempor (N045°E - N050°E), yang memotong satuan batuan Formasi Arjosari, Formasi Mandalika dan Formasi Jaten.
4.4 Kelompok Sesar Berarah Barat - Timur
Kelompok sesar ini terdiri dari sesar Ngrendeng (N070°E - N085°E), merupakan sesar mendatar mengiri turun dan memotong satuan batuan Formasi Jaten, Formasi Wuni dan Formasi Nampol yang berumur Miosen Awal - Miosen Akhir.
5 Analisis Dinamik Tegasan Purba
Hampir semua singkapan batuan di muka bumi ini selalu memperlihatkan gejala frakturasi berupa sesar-sesar minor dan kekar-kekar tektonik. Frakturasi ini bukan suatu gejala kebetulan di alam, tetapi umumnya merupakan hasil dari suatu deformasi tektonik akibat tegasan (stress), karena itu gejala tersebut akan mempunyai sifat-sifat yang mengikuti hukum kekandasan batuan (triaxial), di mana \(\sigma_1\) merupakan tegasan terbesar, \(\sigma_2\) merupakan tegasan menengah dan \(\sigma_2\) merupakan tegasan terkecil. Pada prinsipnya hasil deformasi tektonik yang terekam pada satuan batuan termuda tentu akan dijumpai juga pada satuan batuan yang lebih tua, tetapi tidak sebaliknya. Asumsi seperti itu digunakan sebagai pegangan untuk menginterpretasi genesa dan kronologi tegasan purba.
Pengukuran kedudukan sesar minor & gores-garis (345 data), kedudukan kekar gerus (450 data) dan beberapa bidang sesar utama pada satuan batuan yang berumur Oligosen Akhir - Miosen Akhir di daerah Pacitan dan sekitarnya dilakukan pada 69 lokasi pengamatan terpilih.
5.1 Pengukuran pada Satuan Batuan Berumur Miosen Tengah – Miosen Akhir
Satuan batuan berumur Miosen Tengah - Miosen Akhir terdiri dari Formasi Wuni dan Formasi Nampol. Hasil pengamatan dan pengukuran unsur struktur geologi di S.Gregak S. Ngendreng, dan S. Jeruksuren menunjukkan jenis sesar mendatar mengiri turun dengan kedudukan tegasan purbanya adalah \(\sigma_1 = 14^0\), N198\(^0\)E; \(\sigma_2 = 76^0\), N024\(^0\)E dan \(\sigma_3 = 02^0\), N288\(^0\)E.
5.2 Pengukuran pada Satuan Batuan Berumur Miosen Awal
Satuan batuan berumur Miosen Awal terdiri dari Formasi Jaten. Hasil pengukuran unsur struktur geologi di tiga lokasi pengamatan menunjukkan sesar mendatar mengiri turun dengan kedudukan tegasan purbanya adalah \(\sigma_1 = 15^{\circ}\), \(N196^{\circ}E\); \(\sigma_2 = 72^{\circ}\), \(N344^{\circ}E\) dan \(\sigma_3 = 09^{\circ}\), \(N103^{\circ}E\).
5.3 Pengukuran pada Satuan Batuan Berumur Oligosen Akhir - Miosen Awal
Satuan batuan ini terdiri dari Formasi Arjosari dan Formasi Mandalika. Karena kompleksnya deformasi tektonik yang dialami oleh satuan batuan ini, maka berdasarkan hasil pengukuran dilapangan, dijumpai empat kelompok arah struktur, yaitu:
Pertama : Sesar-sesar yang berarah NE - SW merupakan sesar mendatar mengiri turun, berjumlah empat buah dan yang utama adalah sesar Grindulu.
Kedudukan tegasan purbanya adalah \(\sigma_1=16^0\), N192\(^0\)E; \(\sigma_2=73^0\), N002\(^0\)E dan \(\sigma_3=03^0\), N101\(^0\)E.
Kedua : Sesar-sesar yang berarah N-S merupakan sesar mendatar menganan turun, berjumlah dua buah dan kedudukan tegasan purbanya adalah \(\sigma_1=15^0\), \(N198^0E\); \(\sigma_2=74^0\), \(N039^0E\) dan \(\sigma_3=06^0\), \(N289^0E\).
Ketiga : Sesar-sesar yang berarah N – S merupakan sesar mendatar mengiri turun, berjumlah tiga dan kedudukan tegasan purbanya adalah \(\sigma_1 = 15^0\), N164<sup>0</sup>E; \(\sigma_2 = 74^0\), N354<sup>0</sup>E dan \(\sigma_3 = 01^0\), N261<sup>0</sup>E.
Keempat : Sesar-sesar yang berarah NW – SE merupakan sesar mendatar menganan turun, berjumlah lima buah dan kedudukan tegasan purbanya adalah \(\sigma_1 = 09^0\), N170\(^0\)E; \(\sigma_2 = 74^0\), N354\(^0\)E dan \(\sigma_3 = 01^0\), N261\(^0\)E.
6 Diskusi Kronologi Tegasan Purba dan Kesimpulan
Deformasi tektonik pada satuan batuan paleogen - neogen di daerah Pacitan dan sekitarnya memperlihatkan berbagai arah kompresi yang menghasilkan sesar-sesar mendatar dan naik yang bersifat oblik (miring) serta kekar-kekar tektonik.
Berdasarkan hasil analisis unsur-unsur struktur geologi di atas, terdapat tiga arah tegasan purba yang terjadi pada kurun waktu Miosen Awal - Pleistosen yaitu :
Deformasi tektonik pada kala Miosen Awal yang mempunyai arah tegasan \(\sigma_1\) antara \(15^0\), \(N164^0E-09^0\), \(N170^0E\) dan \(\sigma_3=01^0\), \(N261^0E\), menyebabkan terbentuknya sesar-sesar berarah NW - SE (misalnya sesar Sambi, sesar Tinatar, sesar Gembong, sesar Gedangan dan sesar Kebondalem) yang merupakan sesar mendatar menganan turun dan sesar-sesar berarah N - S (sesar Buyutan, sesar Kacangan dan sesar Pronggo-1) yang merupakan sesar mendatar mengiri turun (Gb. 8).
Deformasi tektonik pada kala Miosen Tengah yang mempunyai kedudukan tegasan \(\sigma_1\) antara \(16^0\), \(N192^0E-15^0\), \(N196^0E\) dan \(\sigma_3\) antara \(03^0\), \(N101^0E-09^0\), \(N103^0E\), menyebabkan terbentuknya sesar-sesar yang berarah NE - SW berupa sesar mendatar mengiri turun serta mengaktifkan kembali sesar-sesar NW - SE menjadi sesar mendatar menganan naik dan sesar-sesar N - S menjadi sesar mendatar menganan turun serta sesar yang berarah E - W menjadi sesar naik mengiri serta mengaktifkan kembali sesar tua yang berarah E - W (sesar E) W0 (sesar E) W1 (sesar E) W3 (sesar E) W3 (sesar E) W4 (sesar E) W5 (sesar E) W6 (sesar E) W8 (sesar E) W9 (sesar E) W9 (sesar E) W9 (sesar E)
Deformasi tektonik pada kala Plio - Pleistosen yang mempunyai kedudukan tegasan \(\sigma_1 = 14^0\), N198<sup>0</sup>E dan \(\sigma_3 = 02^0\), N288<sup>0</sup>E, mengaktifkan kembali sesarsesar yang berarah NE - SW berupa sesar mendatar mengiri turun serta
mengaktifkan kembali sesar-sesar NW - SE menjadi sesar mendatar menganan naik dan sesar-sesar N - S menjadi sesar mendatar menganan turun serta sesar yang berarah E - W menjadi sesar naik mengiri (Gb. 10).
Daftar Pustaka
- 1. Angelier, J., Determination of The Mean Principal Direction of Stresses For a Given Fault Population, Tectonophysics, v. 56, p. 17 – 26 (1979).
- 2. Angelier, J., Tarantola, A., Valette, B. & Manoussis, S., Inversion of Field Data in Fault Tectonics to Obtain the Regional Stress – 1. Single Phase Fault Populations: A New Method of Computing the Stress Tensor, Geophys J. R. Astr. 69, p. 607 – 621 (1982).
- 3. Hall, R., Plate Tectonic Reconstruction of The Indonesia Region. Proceedings of Indonesia Petroleum Association 24th Annual Convention, p. 71 – 84 (1995).
- 4. Moody, J. D. & Hill, M. J., Wrench Fault Tectonics, Geological Society of America Bulletin, v. 67, p.1207 – 1246 (1956).
- 5. Nahrowi, T., Suratman, Y. & Hidayat, S., Geologi Pegunungan Selatan, Jawa Timur, Bagian Eksplorasi PPTMGB, Lemigas Cepu (1978).
- 6. Price, N. J. & Cosgrove, J. W., Analysis of Geological Structures, Cambridge University Press, Cambridge, 502.p (1990).
- 7. Pulunggono, A. & Martodjojo, S., Perubahan tektonik paleogen - neogen merupakan peristiwa tektonik terpenting di Jawa, Proceeding Geologi dan Geotektonik pulau Jawa sejak Mesozoik Akhir hingga Kwarter, Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, UGM, hal. 37 – 50 (1994).
- 8. Rangin, C., Jolivet, L., Pubellier, M. & Tethys Pacific working group, A Simple Model for the Tectonic Evolution of Southeast Asia and Indonesia region for the past 43 m. y., Bulletin of Society Géologie France, v. 8, t. VI, n. 6, p. 889 – 905 (1990a).
- 9. Samodro, H. & Sampurno, Tinjauan tatanan stratigrafi dan tektonik Pegunungan Selatan Jawa Timur antara Pacitan – Ponorogo, P3G, Bandung (1989).
- 10. Soeria-Atmadja, R., Maury, R. C. & Pringgoprawiro, H., The Tertiary Magmatic Belt in Java, Proceeding of the Silver Jubilee Symposium on the Dynamic of subduction and its product, Indonesia Institute of Sciences (LIPI), Yogyakarta (1991).
- 11. Untung, M. & Sato, Y., Gravity and Geological Studies in Java, Indonesia Geological Survey of Indonesia, Special Publication no. 6, p. 7 – 14 (1978).

Gambar 1 Skema struktural dari Asia bagian timur dan daerah Pasifik bagian barat memperlihatkan lempeng-lempeng utama dari daerah tersebut dan tumbukan India dengan Eurasia (Rangin dkk., 1990).

Gambar 2 Lokasi daerah Pacitan dan sekitarnya, Provinsi Jawa Timur.

Gambar 3 Peta dan penampang geologi daerah penelitian.
| KALA | UMUR ( JTL.) | SATUAN BATUAN | PEMERIAN | L INGKUNGAN PENGENDAPAN |
|---|---|---|---|---|
| Holosen | Para Para Para Para Para Para Para Para | ALUVIAL | Kerakal, kerikil, pasir, tanah ( soll) | DARAT |
| Miosen Akhir | NAMPOL | Botuposir selong seling batulempung, dan sisipan tufa, lignit, konglomerat & breksi | LAUT DANGKAL | |
| Miosen Tengah | 10.2 | Breksi volkanik, batupasir tufaan, batulempung dan batugamping. | LAUT DANGKAL | |
| Miosen Awal | 16.2 | JATEN | Batupasir tufoon, konglomerat, batupasir kuarsa, batulempung bitumen dan sisipon lignit. Batupasir, lova andesit-basalt breksi, lova berstruktur bantal, | LAUT DANGKAL DARAT LAUT DANGKAL |
| Oligosen Akhir | 25.2 | Δ - Δ - + + + + + + + + + + + + + + + + | intrusi dasit { Ds}, Andesit {An}, Andesit-basalt, Diorit ( Dr ) | LAUT DALAM |
| Oligosen Awal | 36 | ARJOSARI | Breksi, batupasir, lavo andesit, tuta, konglomerat, sisipan batulempung | , |
Sumber : Samodro, H., Gafoer, S., Tjokrosaputro, S., Peta Geologi Lembar Pacitan, Pegunungan Selatan, P3G, Bandung, 1990
Gambar 4 Kolom stratigrafi daerah penelitian.

Gambar 5 Pola struktur geologi di Pulau Jawa dan sekitarnya (Pulunggono dan Martodjojo, 1989).
Gambar 6 Hubungan antara pola tegasan dengan jenis-jenis sesar yang terbentuk.

Gambar 7 Pola tegasan regional pada kala Miosen Awal.

Gambar 8 Pola tegasan regional pada kala Miosen Tengah.

Gambar 9 Pola tegasan regional pada kala Plio-Pleistosen.
