1. Home
  2. Archives
  3. Vol 36 (2004) Issue 1
  4. Articles

Pengaruh Dua Macam Perlakuan Mikroorganisme terhadap Kemudahan Degradasi Poliuretan Hasil Sintesis dari Monomer Polietilen Glikol Berat Molekul 400 dengan Metilen-4,4’- difenildiisosianat

Abstract

Degradation of polyurethane sheets using two types of microorganism treatment has been carried out. In this research, the polyurethane sheets were prepared by polyethylene glycol with a molecular weight of 400 and methylene-4,4

Keywords

1 Pendahuluan

Poliuretan merupakan bahan polimer yang mengandung gugus fungsi uretan (-NHCOO-) dalam rantai utamanya [1]. Gugus uretan terbentuk dari reaksi antara gugus isosianat dengan gugus hidroksil, seperti nampak dalam persamaan reaksi berikut:

NHCO O NCO + HO Polihidroksi atau poliol Uretan

Di bidang otomotif, poliuretan dapat dijumpai sebagai komponen kendaraan yang meliputi bagian eksterior dan interior misalnya bumper, panel-panel body, tempat duduk, dan lain-lain [2,3]. Di bidang kedokteran, poliuretan digunakan sebagai bahan pelindung muka, kantung darah, dan tabung [3]. Selain itu poliuretan telah digunakan pula untuk furniture, bangunan dan konstruksi, insulasi tank dan pipa, pabrik pelapis, alat-alat olahraga, serta sebagai bahan pembungkus [2,4]. Nampaknya pemakaian poliuretan akan terus meningkat mengingat keunggulan sifatnya dan pemakaiannya praktis.

Masalah yang timbul kemudian akibat peningkatan penggunaan poliuretan adalah makin bertumpuknya limbah poliuretan. Hal ini apabila tidak segera ditanggulangi akan membahayakan kelestarian lingkungan hidup. Cara

penanggulangan yang dianggap paling bersahabat dengan lingkungan dan tidak menimbulkan masalah baru adalah dengan proses biodegradasi.

Penelitian untuk mendapatkan poliuretan yang mudah terdegradasi sudah mulai dilakukan. Hasilnya menunjukkan bahwa melalui reaksi selulosa dengan diisosianat tanpa penambahan dan dengan penambahan polipropilen glikol diperoleh kopolimer blok selulosa yang dapat terbiodegradasi [5]. Kemudian telah disintesis poliuretan yang dapat terbiodegradasi menggunakan komonomer berupa lignoselulosa. Berbagai sumber tumbuhan seperti lignin kraft, kopi, sakarida dapat dibuat poliuretan lewat pencampuran dengan polietilen glikol atau polipropilen glikol dan direaksikan dengan difenilmetan diisosianat [6]. Dengan cara mereaksikan poli-D,L-asam laktat dengan pMDI (polimetilen polifenil poliisosianat) telah berhasil disintesis poliuretan yang dapat terbiodegradasi pula [7].

Dengan meninjau hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya maka pada penelitian ini telah dilakukan degradasi poliuretan hasil sintesis dari polietilen glikol berat molekul 400 (PEG400) dengan metilen-4,4' difenildiisosianat (MDI) menggunakan lumpur aktif dan Pseudomonas aeruginosa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan mikroorganisme terhadap kemudahan degradasi poliuretan hasil sintesis dari PEG400 dan MDI.

2 Bahan dan Metode

2.1 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam sintesis poliuretan dan biodegradasinya, yaitu:

i. MDI berupa cairan kental berwarna coklat dengan rumus struktur sebagai berikut :

\[O = C = N\] \(C H_2\) \(N = C = O\)

  • ii. PEG400 berupa cairan kental tak berwarna dengan rumus struktur sebagai berikut :
  • HO-(CH2CH2O)n-H
  • iii. Kultur campuran (mixed culture) dari lumpur aktif berupa gumpalan (flok) dari berbagai macam mikroorganisme yang diperoleh dari laboratorium Bioteknologi Lingkungan PPAU-ITB
  • iv. Kultur murni (pure culture) Pseudomonas aeruginosa
  • v. Etanol 70% untuk mensterilkan poliuretan yang akan dibiodegradasi
  • vi. Media Luria Bertani (LB) cair sebagai media biodegradasi

2.2 Metode

2.2.1 Reaksi Polimerisasi Pembentukan Poliuretan dan Karakterisasinya

Pada tahap ini dilakukan reaksi polimerisasi pada temperatur kamar dengan perbandingan NCO/OH adalah 1,17. PEG400 direaksikan dengan MDI pada temperatur kamar dan diperolehlah poliuretan yang precured. Poliuretan precured ini selanjutnya ditekan panas sehingga diperoleh poliuretan bentuk lembaran (film) ukuran 10 x 10 cm² dengan ketebalan 0,8 – 1,0 mm. Sampel poliuretan dimasukkan ke dalam yacuum oyen sebelum dikarakterisasi.

Selanjutnya dilakukan karakterisasi poliuretan dengan teknik spektrofotometri Fourier Transform Infra Red (FTIR) untuk melihat puncak serapan dan uji sifat termal diukur dengan menggunakan teknik Differential Thermal Analysis (DTA), General V4. 1C Du Pont 2000.

2.2.2 Biodegradasi Poliuretan dalam Medium LB Cair dan Karakterisasinya

Dalam ruang laminar flow, 5 mL cairan yang berisi satu ose (tusukan) kultur murni Pseudomonas aeruginosa dan kultur campuran berbagai mikroorganisme dari lumpur aktif masing-masing dituang ke dalam erlenmeyer yang berisi LB cair. Poliuretan steril dengan ukuran 1 x 1 cm² dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang telah berisi media dan mikroorganisme. Kemudian erlenmeyer disimpan pada shaker liquid incubator pada temperatur 37°C selama 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 hari. Setiap proses biodegradasi dilakukan sebanyak lima kali ulangan. Proses biodegradasi dihentikan dengan mencelupkan poliuretan ke dalam etanol 70%. Kemudian dicuci beberapa kali dengan aquadest, dan poliuretan siap dikarakterisasi. Selanjutnya dilakukan karakterisasi untuk setiap produk polimer hasil biodegradasi dengan penentuan kehilangan berat, teknik spektrofotometri FTIR untuk melihat puncak serapan, dan uji derajat kristalinitas dengan teknik X-Ray Diffraction (XRD).

3 Hasil dan Diskusi

3.1 Hasil Reaksi Pembentukan Poliuretan dan Karakterisasinya

3.1.1 Spektrum FTIR

Hasil karakterisasi terhadap poliuretan hasil sintesis dengan teknik spektroskopi FTIR menunjukkan pita serapan pada 3330 cm<sup>-1</sup> yang merupakan daerah ulur N-H, 1720 cm<sup>-1</sup> merupakan daerah serapan ulur C=O bebas, 1700 cm<sup>-1</sup> merupakan daerah serapan ulur C=O yang berikatan hidrogen, 1541 cm<sup>-1</sup> merupakan daerah serapan deformasi N-H, 1400 cm<sup>-1</sup> merupakan daerah

serapan C-N-C, dan ~1100 cm<sup>-1</sup> yang merupakan daerah serapan ulur C-O. Pembandingan spektrum FTIR poliuretan hasil sintesis dengan data referensi menunjukkan pita-pita serapan pada daerah yang hampir sama terutama pada daerah pita serapan karakteristik. Pada Gambar 1 tampak hasil spektrum FTIR poliuretan yang berasal dari PEG400-MDI. Berdasarkan hasil perhitungan besarnya indeks ikatan hidrogen (HBI) menunjukkan bahwa poliuretan memiliki HBI sebesar 0,63, ini mengindikasikan bahwa dalam molekul poliuretan tersebut terdapat ikatan hidrogen sebagai gaya sekunder yang mengikat antar atom dalam material polimer .

3

Gambar 1 Spektrum FTIR Poliuretan Hasil Sintesis dari PEG400 – MDI.

Menurut Huang [8], nilai HBI dapat menunjukkan terjadinya antaraksi intermolekuler antara hard segment-hard segment dalam daerah hard segment untuk bergabung daripada terdispersinya hard segment dalam daerah soft segment.

3.1.2 Sifat Termal

Berdasarkan analisis kurva hasil pengukuran dengan teknik DTA diperoleh data temperatur transisi gelas poliuretan, yaitu 89,58°C dan temperatur leleh poliuretan, yaitu 444,87°C. Nilai temperatur transisi gelas poliuretan hasil sintesis menunjukkan nilai hampir sama dengan penelitian sebelumnya [1], sedangkan nilai temperatur leleh poliuretan hasil sintesis jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian sebelumnya [1].

3.1.3 Biodegradasi Poliuretan dalam Medium LB Cair dan Karakterisasinya

Dari hasil pengamatan menggunakan foto makroskopik menunjukkan bahwa masing-masing poliuretan yang diinkubasi dalam media LB cair menggunakan lumpur aktif dan Pseudomonas aeruginosa ditumbuhi mikroorganisme yang jumlahnya semakin bertambah dengan bertambahnya waktu inkubasi dan ditandai dengan semakin keruhnya media LB yang digunakan dalam proses biodegradasi.

Untuk menguji kemudahan degradasi poliuretan oleh mikroorganisme dapat dilakukan dengan cara menghitung persen kehilangan berat. Semakin tinggi persen kehilangan berat berarti semakin mudah poliuretan terbiodegradasi. Pada Tabel 1 nampak data kehilangan berat rata-rata poliuretan yang masing-masing diinkubasi dalam lumpur aktif dan Pseudomonas aeruginosa. Kehilangan berat total poliuretan yang diinkubasi dalam lumpur aktif sebesar 7,520%, sedangkan poliuretan yang diinkubasi dalam Pseudomonas aeruginosa kehilangan berat total sebesar 4,745%. Kehilangan berat total poliuretan yang diinkubasi dalam lumpur aktif lebih tinggi dibandingkan dalam Pseudomonas aeruginosa. Dengan demikian lumpur aktif lebih efektif dalam mendegradasi poliuretan. Hal ini dapat disebabkan karena jenis bakteri yang terdapat dalam lumpur aktif sangat bervariasi, sebagaimana literatur menunjukkan bahwa jenis bakteri dari genus Pseudomonas, Zooglea, Bacillus, Athrobacter, Microthrix, Nacordia, Acinetobacter, Nitrobacter, Achromobacter, dan Nitrosomonas dapat ditemui dalam lumpur aktif. Dengan bervariasinya jenis bakteri dalam lumpur aktif, maka ketika satu jenis bakteri mati karena kehabisan nutrisi maka bakteri jenis lain dapat menggantikannya demikian seterusnya sehingga poliuretan yang diinkubasi dalam lumpur aktif lebih mudah terbiodegradasi daripada poliuretan yang diinkubasi dalam Pseudomonas aeruginosa.

Lama inkubasi
(hari)
Kehilangan berat (%)
Pseudomonas aeruginosaLumpur aktif
1,4594,468
100,4230,679
151,0340,835
200,8160,179
250,4330,946
300,5800,413

Tabel 1 Data Kehilangan Berat Poliuretan yang Diinkubasi dalam Lumpur Aktif dan Pseudomonas aeruginosa.

Dari hasil penentuan kehilangan berat menunjukkan bahwa semua polimer dapat terbiodegradasi, meskipun dengan laju degradasi yang berbeda. Bertambahnya waktu inkubasi, persen kehilangan berat poliuretan mengalami penurunan. Pada waktu inkubasi 5 hari, poliuretan mengalami kehilangan berat paling tinggi.

2

Gambar 2 Alur Degradabilitas Poliuretan terhadap Waktu Inkubasi.

Pada Gambar 2 nampak alur degradabilitas poliuretan terhadap waktu inkubasi. Dari gambar itu nampak bahwa untuk setiap variasi jenis mikroorganisme yang dipakai menunjukkan degradabilitas (laju kehilangan berat) produk poliuretan paling tinggi pada waktu inkubasi 5 hari, selanjutnya kurva mengalami penurunan dan peningkatan demikian seterusnya. Keadaan kurva yang turun naik setelah waktu inkubasi 5 hari, ini dapat disebabkan karena pada proses biodegradasi dilakukan penggantian media tiap 5 hari. Setelah penggantian media, maka mikroorganisme akan mendapatkan kembali keadaan yang kaya nutrisi dan dapat meningkatkan kembali aktivitasnya. Degradabilitas (laju kehilangan berat) semakin rendah dengan bertambahnya waktu inkubasi, ini menjadi petunjuk bahwa semakin lama inkubasi waktu aktivitas mikroorganisme dalam proses degradasi semakin rendah. Namun degradabilitas (laju kehilangan berat) totalnya semakin tinggi dengan bertambahnya waktu inkubasi, ini menjadi petunjuk bahwa semakin lama waktu inkubasi semakin banyak bagian polimer poliuretan yang terbiodegradasi oleh mikroorganisme pendegradasi.

Pada Gambar 3 nampak kurva difraktogram hasil analisis XRD poliuretan sebelum dan sesudah mengalami proses biodegradasi. Kedua kurva menunjukkan bentuk yang sama, namun kurva difraktogram poliuretan setelah proses biodegradasi menunjukkan penurunan intensitas daerah kristalin. Berdasarkan perhitungan derajat kristalinitas dengan cara membagi luas daerah kristalin dengan luas daerah seluruhnya (kristalin + amorf) diperoleh bahwa proses biodegradasi dapat menurunkan derajat kristalinitas poliuretan. Poliuretan sebelum didegradasi memiliki derajat kristalinitas sebesar 54,68%, sedangkan setelah proses degradasi derajat kristalinitasnya menjadi 46,89%. Keadaan tersebut dapat menjadi petunjuk bahwa akses mikroorganisme

terhadap molekul polimer poliuretan menyebabkan berkurangnya kristalinitas atau keteraturan molekul poliuretan. Dengan demikian biodegradasi dapat mengakibatkan terjadi penambahan jumlah bagian amorf atau penurunan derajat kristalinitas molekul poliuretan.

3

Gambar 3 Kurva Difraktogram XRD Poliuretan Sebelum (Atas) dan Sesudah (Bawah) Proses Degradasi dalam Lumpur Aktif.

0 20 40 6

2-theta

Hasil analisis dengan teknik spektrofotometri FTIR menunjukkan bahwa poliuretan yang mengalami proses biodegradasi terjadi penghilangan puncak serapan pada daerah bilangan gelombang sekitar 1700 – 1720 cm-1 yang merupakan ciri khas untuk suatu poliuretan dalam hal ini gugus uretan – NHCOO. Hilangnya puncak serapan gugus uretan menjadi petunjuk bahwa gugus fungsi tersebut merupakan sumber nutrisi bagi mikroorganisme.

Proses degradasi terhadap poliuretan hasil sintesis dari PEG400 dan MDI dengan lumpur aktif dalam media LB cair penggantian media tiap 5 hari

menunjukkan lebih mudah terdegradasi dibandingkan dengan penelitian sebelumnya. Poliuretan hasil sintesis dari selulosa dengan MDI tanpa penambahan dan dengan penambahan polipropilen glikol lebih mudah mengalami pemutusan rantai utama dibandingkan dengan selulosa [5]. Poliuretan yang berasal dari lignoselulosa, PEG, dan MDI mengalami kemudahan degradasi di antara kayu beech dan kayu cryptomeria [6]. Poliuretan hasil sintesis dari poli-D,L-asam laktat, PEG400, dan pMDI menunjukkan kehilangan berat sangat rendah (~1%) [7].

4 Kesimpulan

Poliuretan dapat disintesis dari polietilen glikol 400 dan metilen-4,4' difenildiisosianat, yang ditunjukkan dengan munculnya puncak-puncak serapan karakteristik poliuretan.

Dari hasil penentuan kehilangan berat menunjukkan bahwa semua polimer poliuretan dapat terdegradasi, meskipun dengan laju degradasi yang berbeda. Proses biodegradasi poliuretan dalam media LB cair lebih efektif dengan lumpur aktif daripada dengan Pseudomonas aeruginosa.

Daftar Pustaka

  • 1. Ramanathan, L. S., Sivaram, S. & Munmaya, K. M., Polyurethane, http://www.oup-usa.org/pdh/PDH-815.PDF (2003).
  • 2. Woods, G., The ICI Polyurethanes Book, ed.2, John Wiley & Sons New, hal 1 – 6 (1987).
  • 3. Nicholson, J. W., The Chemistry of Polymer, ed.2, The Royal Society of Chemistry, hal 19, 71 (1997).
  • 4. Ulrich, H., Introduction to Industrial Polymers, Hanser Publishers, hal 83-88 (1982).
  • 5. Schnabel, W., Polymer Degradation, Principles and Practical Applications, Macmillan Publishing Co. Inc., hal 154 – 176 (1981).
  • 6. Hatakeyama, H., Hirose, S., Hatakeyama, T., Nakamura, K., Kobashigawa, K. & Morohoshi, N., Biodegradable Polyurethanes from Plant Component, J. Pure Applied Chemistry, A32(4), 743 – 750 (1995).
  • 7. Albertsson, A. C. & Huang, S. J. (ed), Biodegradation of Poly-D,L-Lactic Acid Polyurethanes, dalam Degradable Polymers, Recycling, and Plastics Waste Management, Marcel Dekker Inc., hal 81-85 (1995).
  • 8. Huang, S. L., Structure-Tensile Properties of Polyurethanes, Eur. Polym. J., 10-12, 1563-1567 (1997).
  • 9. Hartomo, A. J., Dasar-DasarProfesiPoliteknik Pemrosesan Polimer Praktis, ed.1, Penerbit Andi Offset Yogyakarta, hal 100 (1993).

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

1
Citations
0.24
FWCIfield-weighted
63th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

Chemistry 0.41
level 0

Institution Network