1 Pendahuluan
Dalam dunia industri, terutama industri proses banyak ditemui proses pemisahan dua jenis cairan atau lebih. Salah satunya adalah dalam proses pencucian biodiesel. Biodiesel dibuat dengan proses transesterifikasi dari minyak yang berasal dari tumbuhan maupun lemak hewan yang menghasilkan metil ester. Metil ester inilah yang disebut biodiesel. Biodiesel hasil dari proses transesterifikasi masih mengandung berbagai pengotor seperti sisa katalis alkalin, gliserol, methanol dan sabun-sabun yang harus dibersihkan terlebih dahulu agar tingkat kemurnian biodiesel semakin tinggi.
Dalam penelitian ini, proses pemurnian yang diteliti ialah proses pencucian dengan metode mechanical stiring. Biodiesel akan dicampur dengan air dengan perbandingan 1:1, lalu diaduk menggunakan alat pemutar mekanik sehingga pengotor pada biodiesel terlarut di air. Setelah itu campuran ini didiamkan sehingga biodiesel yang telah dicuci akan berada di atas lapisan air akibat pengaruh gaya gravitasi terhadap perbedaan densitas cairan. Air pada lapisan bawah dibuang, selanjutnya proses ini diulang beberapa kali pada suhu 55 oC. Selama ini proses pemisahan cairan untuk skala laboratorium di Indonesia dilakukan secara manual berdasarkan pengamatan visual oleh operator. Adanya otomasi pada proses pencucian biodesel dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi.
Fokus dalam penelitian ini terletak pada bagian pemisahan air dengan biodiesel, dengan menggunakan bantuan sensor optik untuk mendeteksi kedua jenis cairan. Perangkat sensor optik ini bekerja memanfaatkan perbedaan tingkat absorbsi cahaya dari transmiter sesuai dengan Hukum Absorbsi Beer-Lambert. Perancangan sensor ini bertujuan menggantikan peran pengamatan visual dari operator yang selama ini masih dilakukan. Sensor ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk proses pemisahan secara otomatis. Dalam pengerjaanya perangkat sensor ini akan diuji pada sebuah mini plant sistem otomasi pemisahan cairan dengan prinsip gravitasi, menggunakan sensor optik, pengontrol Programmable Logic Controller (PLC), dan aktuator solenoid valve. Mini plant ini sendiri merupakan bentuk prototipe plant untuk proses pemisahan dua jenis cairan dengan prinsip gravitasi.
2 Teori Dasar
Perangkat sensor yang dirancang menggunakan Light Emitting Diode (LED) sebagai pemancar sinyal yang akan diterima oleh photodioda. LED inilah yang akan memancarkan cahaya untuk dilewatkan pada cairan minyak dan air. Cahaya dapat bersifat sebagai partikel (berupa photon) yang memiliki energi tertentu. Menurut Planck, energi suatu photon berbanding lurus dengan frekuensinya [1]
\[E = hv = h\frac{c}{\lambda} \tag{1}\] dengan E adalah energi photon (Joule), h adalah tetapan kesebandingan Planck (6,626x10- 34 Joule.detik), v adalah frekuensi (Hz), c adalah cepat rambang gelombang cahaya ( c= 3x108 m/s) dan menyatakan panjang gelombang cahaya (m).
Hukum dasar absrobsi cahaya menyatakan bahwa jika suatu berkas sinar melewati suatu medium homogen, sebagian dari cahaya datang diabsorpsi dan sebagian dipantulkan, sedangkan sisanya ditransmisikan dengan efek intensitas murni sebesar [2].
\[I_o = I_a + I_t + I_r \tag{2}\]
Dimana Io adalah intensitas cahaya yang masuk, Ia adalah intesiatas cahaya yang diabsoprsi. Ir adalah intesiatas cahaya yang dipantulkan dan It adalah intensitas cahaya yang ditransmisikan. Tetapi pada prakteknya, nilai Ir adalah kecil sekali (~4%) sehingga untuk tujuan praktik Ir dapat diabaikan,
\[I_o = I_a + I_t \tag{3}\]
Perangkat sensor yang digunakan pada mini plant menggunakan sensor optik, dengan memanfaatkan perbedaan tingkat absorbsi cahaya oleh minyak dan air. Prinsip dasar mengenai absorbsi cahaya dikenal dengan hukum absorbsi Beer-Lambert sebagai berikut [2]:
1. Hukum Lambert menyatakan bahwa proporsi berkas cahaya datang yang diserap oleh suatu bahan tidak bergantung pada intensitas berkas cahaya yang datang. Intensitas cahaya yang keluar setelah melewati medium tersebut dapat dituliskan sebagai berikut:
\[I = T \times I_0 \tag{4}\]
2. I adalah intensitas berkas cahaya keluar, I0 adalah intensitas berkas cahaya datang, dan T adalah transmitansi. Jika transmisi dinyatakan dalam persentase (satuan %), maka :
\[%T = (I/I_0) \times 100 = \exp(-\varepsilon c I)\] (5)
3. Hukum Beer menyatakan bahwa absorbansi cahaya berbanding lurus dengan dengan konsentrasi dan ketebalan medium. Oleh August Beer (Hukum Beer) dituliskan sebagai berikut :
\[A = \varepsilon c I = log (I_0/I)\] (6)
ε adalah molar absorbsitivitas untuk panjang gelombang tertentu atau disebut juga sebagai koefisien ekstinsif (dalam l mol-1 cm-1), c adalah konsentrasi molar (mol l-1) dan l adalah panjang atau ketebalan dari medium yang dilintasi oleh cahaya (cm).
3 Rancangan Alat dan Percobaan
3.1 Perancangan Perangkat Sensor

Gambar 1 Perangkat sensor
Transmiter yang digunakan adalah Light Emitting Diode (LED) dengan transduser photodiode.
3.2 Perancangan Rangkaian Sensor

Gambar 2 Rangkaian sensor
Sumber tegangan digunakan sumber DC 5 Volt. Dua resistor dipasang seri dengan LED. Resistor R 200 Ω sebagai resistor batas maksimal dari arus yang dapat mengalir dan resistor variabel multiturn Rx1 2 kΩ dimaksudkan untuk mengatur intensitas LED. Cahaya yang dipancarkan LED akan diterima oleh photodioda. Photodioda yang digunakan mempunyai rentang panjang gelombang 320-1100nm. Photodioda dirancang agar beroperasi sebagai piranti fotovoltaik (sumber tegangan) yaitu dengan diberi bias nol. Tegangan yang dihasilkan oleh sel photodioda akan sebanding dengan intensitas cahaya yang diterima Tegangan ini akan dikuatkan dengan OPAMP jenis Non Inverting.
3.3 Perancangan Perangkat Uji
Gambar 3 (a) Tangki uji dan penampang peletakan sensor (b) tanpa lensa dan (c) dengan lensa
Pada pengujian awal, perangkat uji yang digunakan masih belum terpasang lensa. Agar didapatkan kinerja sensor yang lebih baik, pada saat implementasi dengan PLC dipasang lensa agar cahaya lebih terfokus pada permukaan lensa. Lensa yang digunakan merupakan jenis cembung-cembung dengan titik fokus 5 cm. Lensa sendiri ditempatkan pada jarak 5 cm didepan sumber cahaya dan sensor.
3.4 Prosedur Percobaan
Gambar 4 Prosedur percobaan pengujian alat
Hasil dan Analisis
4.1 Pengujian Illuminansi
Tabel 1 Karakteristik sumber cahava
| LED | Luv | al+ | 0/T | A ba a wba i | LED | Line | volt | 0/T | A ba a wba i |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Merah | Lux | volt | %T | Absorbsi | Biru | Lux | volt | %Т | Absorbsi |
| kosong | 17.89 | 9.05 | 100 | 0 | kosong | 26.7 | 9.95 | 100 | 0 |
| air | 16.98 | 9.08 | 94.91 | 2.26x10-2 | Air | 23.05 | 9.75 | 86.33 | 6.38x10-2 |
| minyak | 2.69 | 1.39 | 15.04 | 8.22X10-1 | minyak | 2.69 | 1.42 | 10.08 | 9.95x10-1 |
Pengujian ini dilakukan untuk melihat respon sensor terhadap illuminansi dari sumber cahaya. Dengan menggunakan persamaan (5) dan (6) didapatkan nilai tranmisi cahaya (%T) dan absorbsi. Dengan asumsi transmisi cahaya 100% atau absorbsi=1 adalah saat keadaan kosong. Transmisi ini menunjukkan seberapa banyak cahaya dari sumber LED dilewatkan oleh bahan uji. Semakin banyak cahaya yang dilewatkan, intensitas cahaya yang akan diterima oleh sensor semakin besar dan nilai tegangan keluaran rangkaian sensorpun menjadi lebih besar. Sedangkan absorbsi berkebalikan dengan transmisi.
4.2 Pengujian Kondisi Cairan Diam
Pengujian yang dilakukan saat kondisi cairan diam didapatkan hasil berikut:
Tabel 2 Keluaran tegangan kondisi cairan diam
| Sampel | Led Merah | Led Biru | Inframerah | |
|---|---|---|---|---|
| kosong | 4.023 | 4.027 | 3.424 | |
| air | 4.084 | 4.119 | 3.198 | |
| minyak | 2.387 | 1.296 | 2.776 | |
| selisih air-minyak | 1.697 | 2.823 | 0.422 | |
Tabel 3 Uji T-Student perbedaan deteksi air-minyak
| Sumber Cahaya | T |
| LED Merah air-minyak | 97.156 |
| LED Biru air-minyak | 54.9 |
| IR air-minyak | 45.841 |
4.3 Pengujian Kondisi Cairan Mengalir
Pada saat terjadi aliran air-minyak, hasil data pengukuran berupa grafik berikut

Gambar 5 Grafik tegangan aliran air-minyak
4.4 Analisis Keadaan Transien
Keadaan transien merupakan keadaan saat terjadi perubahan cairan dari air k e minyak yang terdeteksi oleh sensor. Bagian ini dianalisis dengan metode pengukuran parameter
berdasarkan data eksperimen sehingga dapat diketahui apakah keadaan transien ini berperilaku seperti sistem orde-1. Dengan membuat grafik data Z terhadap waktu, akan didapatkan sebuah garis lurus setelah proses linierisasi. Kemiringan dari garis ini adalah -\(1/\tau\) . Jika data yang didapat jatuh mendekati garis lurus dapat dikatakan bahwa sistem tersebut berperilaku sebagai sistem orde 1 [8].
\[1 - \frac{q_b}{Kq_c} = e^{\frac{-t}{\tau}} \tag{7}\]
\[Z=\log(1-\frac{Q}{K_{\mathbf{k}}})\] (8)
\[Z = \frac{-t}{\tau} \Rightarrow \frac{dZ}{dt} = \frac{-1}{\tau} \tag{9}\]
Untuk sistem aliran minyak ini diasumsikan bahwa sistem mendapat masukan input step dengan \(Kq_{is}\) sebesar selisih dari tegangan rata-rata keadaan tunak air dan tunak minyak. Nilai \(q_0\) adalah relatif terhadap kondisi awal keadaan tunak air.

Gambar 6 Grafik hasil plot Z terhadap waktu dengan sumber cahaya inframerah

Gambar 7 Grafik hasil plot Z terhadap waktu dengan sumber cahaya LED

Gambar 8 Grafik hasil plot Z tehadap waktu dengan sumber cahaya LED biru Tabel 4 Nilai R<sup>2</sup> masing-masing sumber
| Sumber | R2 |
|---|---|
| Inframerah | 0.604 |
| LED Merah | 0.852 |
| LED Biru | 0.584 |
4.5 Analisis Rangkaian
Fungsi transfer rangkaian sensor ditunjukan pada persamaan (10)
\[\frac{E_0(s)}{E_i(s)} = \frac{R_1 R_2 C_1 s + (R_1 + R_2)}{R_1 R_2 C_1 s + R_2}\](10)
Dengan R<sub>1</sub>, R<sub>2</sub> dan C<sub>1</sub> adalah konstanta.
Adapun dalam percobaan yang dilakukan nilai masing-masing resistor dan kapasitor adalah \(R_2\)=1 k \(\Omega\); \(R_1\) = 15 k \(\Omega\) dan \(C_1\) = 0.01 \(\mu\) F. \(R_1\) disini merupakan nilai hambatan total dari resistor batas 5 k \(\Omega\) dan multiturn pada posisi 10 k \(\Omega\) . Nilai dari masing-masing komponen elektronik dimasukkan ke persamaan (4) sehingga akan didapatkan fungsi transfer seperti pada persamaan (11).
\[\frac{E_0(s)}{E_i(s)} = \frac{s + 1.07x10^5}{s + 6.7x10^3}\] (11)
Dari persamaaan (11) dengan bantuan software MATLAB 7.0 didapatkan plot bode diagram dan frekuensi sepada Gambar 9.

Gambar 9 Plot bode diagram dan frekuensi rangkaian sensor
Pada plot Bode Diagram dan frekuensi menunjukkan bahwa kapasitor yang diparalel dengan resistor pada rangkaian mempunyai fungsi sebagai Low Pass Filter dengan frekuensi cut off 6.7x10<sup>3</sup> rad/sec. Nilai frekuensi cut off ini dapat dilihat dari persamaan (11). Frekuensi cut off terjadi saat poles bernilai nol, dari bode diagram dapat juga dilihat saat frekuensi cut off terjadi penurunan magnitude sebesar -20dB/dec.
5 Kesimpulan
Pada penelitian ini telah dibuat perangkat sensor optik untuk mendeteksi minyak dan air dengan menggunakan Light Emitting Diode (LED) sebagai sumber cahaya dan photodioda sebagai sensor cahaya serta lensa dengan karakteristik sebagai berikut:
- 4. Sebagai pemancar diputuskan digunakan LED Merah dengan alasan berikut, hasil pengukuran tegangan keluaran saat uji statis didapatkan untuk LED merah saat air 4.084 volt dan minyak 2.387 volt; LED Biru saat air 4.119 volt dan minyak 1.296 volt; Inframerah saat air 3.198 volt dan saat minyak 2.776 volt.
- Pengujian T-Students perbedaan deteksi air-minyak didapatkan nilai T untuk LED Merah adalah paling tinggi yaitu 97.156, LED Biru 54.9, Inframerah 45.841. Nilai variansi terbesar saat mendeteksi minyak ketika digunakan sumber cahaya LED Biru yaitu 0.155.
- 6. Aliran air-minyak dengan Sumber LED merah adalah yang paling mendekati sistem orde 1 dengan \(R^2\) bernilai 0.852 , untuk inframerah \(R^2\) bernilai 0.604 dan LED biru \(R^2\) bernilai 0.584.
- 7. Pada pengujiaan illuminansi untuk sumber LED Merah besar transmisi ketika sampel air adalah 94.91 % dan absorbsi \(2.26 \times 10^{-2}\), ketika sampel minyak transmisi 15.04 % dan absorbs 0.822.
- 8. Kinerja sensor ditingkatkan dengan menggunakan lensa dengan jarak fokus 5 cm. Lensa ini berguna untuk memfokuskan cahaya dari LED jatuh ke permukaan lensa
6 Daftar Pustaka
- [1] "Penjualan BBM Pertamina. S.L.". Republika Newsroom (11 Agustus 2009)
- [2] "Produksi CPO RI. S.L.". ANTARA (12 Desember 2008)
- [3] Mittelbach, M. dan Remschmidt, C..2004. Biodiesel A Comprehensive Hdanbook. Graz:s.n.
- [4] Bode, H. 2002. Bahan Bakar Alternatif Biodiesel. Teknik Kimia Seminar Nasional. Universitas Sumatera Utara.
- [5] Indartono, Y. S.. 2006. Mengenal Biodiesel : Karakter, Produksi hingga Performansi Mesin.
- [6] Erningpraja, L. dan Dradjat, B. 2006 "Biodiesel Berbahan Baku Minyak Sawit". Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Indonesia. 28(3).
- [7] Hill, P. (2008). Small Scale Production Processes. Biodiesel Equipment, Processors, Acc. & Information. (Online). Tersedia: http://www.biodieselgear.com. [20 Agustus 2009].
- [8] Keenan, C. W., Kleinfeller, D. C. dan Wood, J. H. 1990. General Chemistry College. (Ed. 6). Knoxville : Harper & Row Publisher Inc.
- [9] The Visible Spectrum. Encyclopædia Britannica, Inc. Tersedia: http://www.britannica.com/ [22 November 2009].
- [10]Khopkar, S. M. 1985. Basic Concepts of Analytical Chemistry. Bombay : Wiley Eastern Limited.
- [11]Carr, J. J. 1993. Sensors dan Circuits. New Jersey : PTR Prentice Hall.
- [12]Seippel, R. G. 1998. Optoelectronics for Technology dan Engineering. New Jersey : PTR Prentice Hall.
- [13] S1223 Series. 2001. Datasheet Search Site. [Online]. Tersedia: http://www.alldatasheet.com [11 Agustus 2009].
- [14] Malvino, A.P. 1993. Electronic Principles 5th edition. New York : The McGraw-Hill Companies.
- [15]Sudirham, S. 2008. Pengantar Rangkaian Elektronik. Bandung : Penerbit ITB.
- [16]Kane, J. W. dan Sternheim, M. M. 1998. Physics 3rd edition. New York : John Wiley & Sons.
- [17] Sutrisno. 1984. Fisika Dasar : Gelombang dan Optik. Bandung : Penerbit ITB.
- [18]Doebelin, E. O. 1990. Measurement System : Application dan Design. 4th Edition. s.l. : McGraw Hill.
- [19]Walpole, R. E. dan Myers, R. H. 1995. Ilmu Peluang dan Statistika untuk Insinyur dan Ilmuwan. [ed.] Suroso. [trans.] R. K. Sembiring. Edisi 4. Bdanung : Penerbit ITB.
- [20]GaAs Infrared Emitting Diode. Tersedia: http://www.datasheetcatalog.com. [10 Agustus 2009].
- [21]Ultra Bright LED Lamp YZ-RV5N30N Series. 2002 [Online]. Tersedia: http://www.yoldal.com [10 Agustus 2009].
- [22] Ultra bright Blue LED Lamp YM-BV5S15Y Series. 2002. [Online] Tersedia: http://www.yoldal.com [10 Agustus 2009].
- [23] Ogata, K. 2002. Modern Control Engineering. 4th Edition. New Jersey : PTR Prentice Hall.
