1. Home
  2. Archives
  3. Vol 8 (2017) Issue 2
  4. Articles

Modifikasi Penggerak Proses Dressing untuk Mengatasi Trouble Roundness Valve NG pada Mesin Seat Grinder Ntvs-2894

Abstract

PT XYZ merupakan perusahaan manufaktur yang memproduksi engine valve. Dalam rangka menghasilkan produk valve yang berkualitas, PT XYZ melakukan perbaikan mesin produksi secara terus menerus dan berkelanjutan. Salah satunya dilakukan pada mesin Seat Grinder NTVS-2894. Mesin ini merupakan mesin tipe lama dengan pencapaian produksi rata-rata 77% dari total target yang ditentukan setiap bulannya. Hal ini disebabkan oleh banyaknya trouble yang terjadi pada mesin sehingga downtime mesin pun sangat tinggi. Jenis trouble yang sering menyebabkan downtime yaitu masalah kualitas produk dengan roundness valve NG.. Roundness valve erat kaitannya dengan kualitas grinding wheel (GW) mesin. Dengan demikian proses dressing GW sangat menentukan kualitas valve hasil proses dari mesin seat grinder. Permasalahan yang ada yaitu slide dresser memiliki kecepatan yang tidak stabil dalam melakukan proses dressing. Kecepatan slide ini berubah tergantung kondisi panas mesin saat memproses valve. Untuk menanggulangi hal tersebut maka dilakukan modifikasi bagian penggerak unit dresser. Modifikasi yang dilakukan adalah penggunaan motor stepper untuk pergerakan dresser slide sebagai pengganti sistem air hydro yang digunakan sebelumnya dengan kontrolnya menggunakan PLC Omron C200HG. Dengan modifikasi ini dapat menurunkan downtime mesin akibat roundness valve NG sebesar 100% dan meningkatkan kemampuan produksi menjadi 111.7% dari total target pada bulan pertama.

Keywords

1 Pendahuluan

Engine valve merupakan komponen penting dalam Internal Combustion Engine (ICE) yang berupa katup untuk mengatur pemasukan udara dan bahan bakar ke dalam ruang bakar serta mengatur pengeluaran gas sisa hasil pembakaran keluar dari ruang bakar. Proses produksi valve akan sangat berpengaruh terhadap kualitas produk engine valve yang dihasilkan. Proses produksi engine valve di PT XYZ sendiri melalui beberapa tahapan meliputi forging, stellite welding, heat treatment dan machining. Machining Process adalah proses akhir yang dilakukan untuk membentuk valve sehingga memiliki dimensi yang sesuai dengan technical drawing dari customer. Proses machining ini secara umum menggunakan dua metode yaitu proses turning dan grinding.Salah satu mesin yang menggunakan metode grinding adalah mesin seat grinder. Mesin ini menggunakan batu gerinda sebagai media proses kerjanya. Mesin seat grinder menggerinda bagian seat valve untuk mendapatkan dimensi yang sesuai dengan keinginan customer.

Mesin seat grinder merupakan salah satu mesin finishing dari proses machining sebagai pembuatan engine valve yang memiliki rata-rata downtime akibat masalah kualitas ini mencapai 596 menit/bulan. Salah satunya terdapat pada mesin seat grinder NTVS-2894 merupakan salah satu mesin tipe lama dengan kemampuan produksi ratarata 77% dari total target yang telah ditentukan setiap bulannya. Hal ini disebabkan oleh

banyaknya trouble yang terjadi pada mesin sehingga downtime mesin pun sangat tinggi. Berdasarkan data trouble, jenis trouble yang sering menyebabkan downtime adalah masalah kualitas produk dengan roundness valve NG.

Roundness valve erat kaitannya dengan kualitas grinding wheel (GW) mesin. Dengan demikian proses dressing GW pun sangat menentukan kualitas valve hasil proses mesin seat grinder ini. Permasalahan yang ada yaitu slide dresser memiliki kecepatan yang tidak stabil dalam melakukan proses dressing. Kecepatan slide ini berubah-ubah tergantung kondisi panas mesin saat memproses valve. Berdasarkan latar belakang tersebut maka dilakukan analisa, pengamatan dan perancangan improvement untuk menanggulangi masalah tersebut. Dari analisa dan pengamatan tersebut maka dirancanglah modifikasi pada bagian unit dresser. Modifikasi yang dilakukan adalah penggunaan motor stepper untuk pergerakan dresser slide sebagai pengganti penggerak yang sebelumnya menggunakan sistem air hydro

2 Diskusi

2.1 Mesin Seat Grinder

Mesin seat grinder adalah mesin yang berada di proses line machining. Mesin seat grinder merupakan salah satu mesin critical yang digunakan sebagai pembuatan engine valve. Mesin ini menggunakan batu gerinda sebagai media proses kerjanya. Gambar 1 menunjukan gambar mesin seat grinder dan Gambar 2 posisi pemakanan part oleh batu gerinda. Mesin seat grinder menggerinda bagian seat valve untuk mendapatkan dimensi yang sesuai dengan keinginan customer yang merupakan keinginan untuk selalu focus terhadap customer.

Gambar 1 Mesin seat grinder

Dimensi yang harus dikontrol dan disesuaikan dengan permintaan customer yaitu:

  • 1. Dimensi seat ke tip end (seat to tip end length/STTL) toleransi ± 0.05 mm
  • 2. Sudut seat (seat angle) toleransi ± 15'
  • 3. Seat run out toleransi maksimal 0.03 mm
  • 4. Seat roundness toleransi maksimal 0.003 mm
  • 5. Seat roughness 3.2 s

Dimensi dan toleransi dalam mesin seat grinder dalam micron sehingga dibutuhkan kepresisian yang sangat tinggi. Apabila dari salah satu dimensi tersebut melebihi dan atau kurang dari standard toleransi yang ada maka parts tersebut akan di-reject-kan

Gambar 2 Posisi pemakanan parts oleh batu gerinda

Batu gerinda merupakan tool utama dalam mesin seat grinder. Gerinda yang dipakai di mesin ini memiliki spesifikasi Noritake 510 x 16 x 203,2 CX100R 8V 102. Batu gerinda ini memiliki grade keras. Gambar 3 menunjukan batu gerinda yang dipakai pada mesin seat grinder.

Gambar 3 Batu gerinda mesin seat grinder

2.2 Permasalahan Mesin Seat Grinder

Mesin Seat Grinder NTVS-2894 merupakan salah satu mesin seat grinder tipe lama yang ada di PT FNI. Berdasarkan data produksi, pencapaian produksi mesin Seat Grinder NTVS-2894 sebelumnya ditunjukkan gambar berikut

9

Gambar 4 grafik pencapaian produksi seat grinder NTVS-2894

Dari data yang telah ditampilkan diatas, terlihat bahwa mesin Seat Grinder NTVS-2894 tidak mampu melakukan produksi sesuai total target yang telah ditentukan. Bahkan untuk laju pencapaian produksi per bulannya mengalami penurunan terhitung dari periode Januari sampai Mei tahun 2014. Hal ini tentu sangat mempengaruhi hasil output pada proses mesin dan ketepatan pengiriman ke proses selanjutnya pun akan terhambat. Rata-rata pencapaian produksi dari mesin ini hanya sebesar 77% dari total target seperti yang disajikan oleh tabel berikut :

BulanTarget (pcs)Aktual (pcs)Pencapaian (%)
Januari188,960149,32579.02%
Februari203,583161,15879.16%
Maret220,886173,00178.32%
April209,786160,75876.63%
Mei262,593187,36571.35%
FRata-Rata per B77%

Adanya penurunan produktivitas mesin Seat Grinder NTVS-2894 disebabkan oleh tingginya trouble yang terjadi pada mesin. Saat terjadi trouble, maka diperlukan waktu untuk memperbaiki mesin sampai dapat berfungsi kembali seperti sebelumnya. Dapat dipastikan mesin harus berhenti produksi untuk sementara waktu sampai perbaikan selesai (downtime). Berikut adalah grafik downtime mesin Seat Grinder NTVS-2894 dari beberapa periode terakhir

5

Gambar 5 Grafik downtime periode I

7

Gambar 6 Grafik downtime periode II

9

Gambar 7 Grafik downtime periode III

Dari ketiga grafik sebelumnya menunjukkan bahwa pareto downtime mesin Seat Grinder NTVS- 2894 adalah pada masalah roundness valve NG. Roundness merupakan kebulatan seat valve hasil penggerindaan mesin Seat Grinder terhadap sumbu valve. Rata-rata downtime mesin akibat masalah kualitas roundness pada periode terakhir mencapai 596 menit/bulan.

2.3 Analisa Sebab Akibat

Berikut ditunjukkan analisa sebab-akibat dari permasalahan roundness valve NG pada mesin melalui metode fishbond diagram

5

Gambar 8 Fishbond diagram Tabel 2 Rencana penanggulangan

NOMASALAHAKIBATTINDAKANTARGETPLANAKTUAL
Man1Belum ada interface
yang menampilkan
kecepatan dresser
slide
Beda penyetting
akan beda nilai
kecepatan
Dibuat tempat
penyetingan
kecepatan Dresser
slide pada HMI
Pengaturan
kecepatan terukur
22/12/201412/01/2015
Material2Kondisi panas mesin
saat proses berubah
Mengganti
alternatif aktuator
dengan motor
stepper
Kecepatan motor
tidak tergantung
panas mesin
08/12/201405/01/2015
Methode3Belum ada interface
yang menampilkan
kecepatan dresser
slide
Menyulitkan
pengaturan
kecepatan dresser
slide oleh operator
Dibuat tempat
penyetingan
kecepatan Dresser
slide pada HMI
Pengaturan
kecepatan terukur
22/12/201412/01/2015
Machine/tool4Kondisi panas mesin
saat proses berubah
Perubahan
kecepatan tidak
terdeteksi
Mengganti
alternatif aktuator
dengan motor
stepper
Nilai kecepatan
tidak tergantung
panas mesin
08/12/201405/01/2015

Masalah roundness valve NG erat kaitannya terhadap kualitas pendressingan dari dresser terhadap GW mesin. Berdasarkan rencana penanggulangan diatas maka untuk mengatasi masalah yang ada, dilakukan dengan alternatif memodifikasi bagian aktuator dresser slide dengan menggunakan motor stepper. Keuntungan apabila menggunakan motor stepper ini dapat menyelesaikan pula masalah pada faktor man dan methode. Yaitu pembuatan interface nilai kecepatan dresser dapat ditampilkan pada HMI mesin yang tersedia.

2.4 Gambaran Unit Dresser Sebelum Modifikasi

Terdapat dua axis pergerakan pada proses dressing mesin Seat Grinder NTVS-2894, yaitu bagian dresser feed dan dresser slide. Pada gambar berikut ini menunjukkan

instalasi unit dresser sebelum dilakukan modifikasi. Semula digunakan motor stepper untuk penggerak dresser feed dan digunakan cylinder hidrolik sebagai penggerak dresser slide. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 9 Instalasi unit dresser sebelum modifikasi

Pada dresser feed menggunakan motor stepper sebagai penggeraknya. Dresser feed berfungsi untuk menggerakan pin dresser maju ketika melakukan pemakanan terhadap GW saat proses dressing. Pemakanan yang dilakukan adalah sebanyak 0.02 mm per sekali pemakanan dan dalam sekali proses dressing terjadi dua kali pemakanan yaitu roughing dan finishing. Sehingga penggunaan motor untuk dresser feed diperlukan kepresisian yang tinggi. Berikut ini adalah spesifikasi motor yang digunakan untuk dresser feed sebelum modifikasi

Motor yang digunakan adalah motor stepper Vexta PK566AW.

Torsi motor 0.83 N.m

Angle 0.1o/step

Inertia 280 x 10-7 kg.m2

Sistem transmisi yang digunakan yaitu menggunakan screw dengan spesifikasi diameter 12 mm dan stroke 130 mm.

Pada bagian penggerak dresser slide semula menggunakan sistem air hydro untuk penggeraknya. Pada dasarnya sistem ini memiliki rangkaian sistem menyerupai sistem pneumatik namun terdapat komponen air hydro converter yang berfungsi sebagai pengkonversi angin menjadi oli sehingga jenis cylinder yang digunakan sebagai aktuator adalah cylinder hidrolik. Gambar berikut menunjukkan circuit diagram dari dresser slide.

Gambar 10 Air hydro circuit diagram dari dresser slide

Dresser slide berfungsi untuk menggerakkan pin dresser melintang sesuai lebar GW saat proses dressing berlangsung. Untuk spesifikasi cylinder hydrolik yang digunakan adalah sebagai berikut :

Gambar 11 Cylinder hydraulic

Jenis cylinder yang dipakai adalah cylinder double acting.

Stroke 40 mm

Diameter (D1) 50 mm

Diameter rod (D2) 18 mm

Tekanan 0.5 Mpa

Kecepatan pergerakan cylinder dikontrol oleh flow control yang masing masing memiliki besar kecepatan berbeda yaitu saat advance (rough) dan ketika retract (finish).

2.5 Perancangan

2.5.1 Desain unit dresser

Dengan adanya pengubahan aktuator pada bagian dresser slide yang semula menggunakan cylinder hydraulic menjadi motor stepper, maka merubah konstruksi unit yang ada sebelumnya. Berikut ini adalah rancangan desain unit dresser untuk modifikasi pada bagian slide :

Gambar 12 Desain unit dresser

Pada rancangan desain unit yang dibuat, pihak maintenance department menyarankan untuk mengunakan ballscrew sebagai pengubah gerakan rotasi motor menjadi gerak translasi. Ballscrew yang digunakan adalah BNK1202-3. Ballscrew ini digerakkan oleh motor sebagai aktuatornya. Selain menentukan spesifikasi motor stepper untuk penggerak dresser slide, dengan adanya perubahan desain diperlukan pula perubahan spesifikasi motor untuk penggerak dresser feed. Untuk memudahkan dalam perhitungan dan simulasi, penulis menggunakan software Creo Parametric 2.0.

Pada dresser slide memiliki gerakan melintang ke kanan-kiri dalam mengikis GW mesin saat proses dressing berlangsung. Sehingga total beban yang diterima oleh motor stepper untuk dresser slide selain dari beban konstruksi unit dipengaruhi pula oleh gaya tangensial GW. GW mesin digerakkan oleh motor tiga phasa yang terhubung langsung dengan GW sehingga rpm motor sama dengan rpm GW.

Gambar 13 Ilustrasi gaya dresser slide

Beban yang harus dipindahkan oleh dresser slide dari hasil analisis mass properties pada Creo Parametric 2.0 diperoleh :

m = 15.104 kg, sehingga beban konstruksi 74.095 N. Besar gaya tangensial GW didapatkan sebesar 44.44 N. Total beban dresser slide didapatkan 118.539 N. Sebagai pertimbangan desain, PT XYZ menggunakan safety factor 2 sehingga beban untuk dresser slide sebesar:

\[SF = Ft/F \tag{1}\]

Ft= 2 x 118.539 N (2)

= 237.079 N

Diperoleh beban sebesar 237.079 N, dengan demikian diperlukan torsi motor sebagai berikut :

T= Ft x \[\frac{1}{2}\] diameter pitch (3)
= 237.079 x \(\frac{1}{2}\) . 11.5
= 1363.204 N.mm

Besar torsi yang dibutuhkan motor stepper untuk dresser slide dengan pemakaian ballscrew yang mempunyai preload torque (Tp) 4 N.mm adalah :

\[Tm = T + Tp\] (4)
= 1363.204 + 4
= 1367.204 N.mm

∆ Jadi besar torsi untuk motor dresser slide adalah 1367.204 N.mm atau setara dengan 1.4 N.m. Aktual motor yang dipakai adalah Motor stepper Vexta PK564AW-T7.2 dengan torsi 2.5 N.m.

Pada gerakan pemakanan dresser feed, dresser feed harus memindahkan massa partpart yang berada diatas aktuator dresser feed

Gambar 14 Ilustrasi gaya dresser feed

Beban hasil analisis mass properties dari Creo Parametric 2.0, diperoleh massa total yang harus dipindahkan oleh dresser feed, yaitu sebesar

M = 22.413 kg, sehingga beban total 109.935 N.

Dengan safety factor 2 diperoleh beban pada dresser feed sebesar 219.871 N. Dengan beban sebesar 219.871 N, diperlukan torsi motor sebagai berikut :

T= \[F_t \times \frac{1}{2}\] diameter pitch (5)
= 219.871 x \(\frac{1}{2}\) . 11.5
= 1264.26 N.mm

Pada spesifikasi ballscrew yang dipakai memiliki preload torque sebesar 4 N.mm sehingga besar torsi yang dibutuhkan, menjadi :

\[T_m = T + T_p\] (6)
= 1264.26 + 4
= 1268.26 N.mm

∆ Jadi besar torsi untuk motor dresser feed adalah 1268.26 N.mm atau setara dengan 1.27 N.m. Aktual motor yang dipakai adalah motor servo Mitsubishi HC-KFS43 dengan torsi 1.3 N.m.

2.5.2 Flowchart Dressing

Adanya penggantian ke motor servo yang digunakan pada dresser feed merubah flowchart proses dressing, namun secara siklus keseluruhan masih sama seperti sebelumnya. Berikut ini adalah urutan proses dressing dari mesin Seat Grinder NTVS-2894 :

6

Gambar 15 Flowchart proses dressing

2.5.3 Perancangan elektrik

9

Gambar 16 Konsep rangkaian unit dresser

Adanya perubahan aktuator mengakibatkan perubahan pula pada komponen elektrik yang digunakan. Berikut daftar komponen yang ditambahkan dan disesuaikan dalam modifikasi :

Tabel 3 Daftar komponen modifikasi

No.KomponenFungsi
1Sensor
proximity
Sebagai
indikator
posisi
dresser
2Modul
NC112
Controller
motor
3Driver
stepper
Menerjemahkan
perintah
dari/ke
motor
stepper
4Motor
stepper
Aktuator
dresser
slide
5Driver
servo
Menerjemahkan
perintah
dari/ke
motor
servo
6Motor
servo
Aktuator
dresser
feed

2.6 Pembuatan Mekanik

Sesuai konsep desain yang digambarkan pada bagian perancangan, pembuatan mekanik base unit dresser dibuat oleh vendor perusahaan (subcon). Berikut ini adalah gambar realisasi desain unit dresser setelah di assembly pada mesin Seat Grinder NTVS-2894.

Gambar 17 Realisasi mekanik unit dresser

2.7 Penambahan Program

Tabel 4 pengalamatan I/O modifikasi sistem dressing

BagianAlamatKomponenKeterangan
Input160,11SensorDress
Slide
Left
End
160,13SensorDress
Slide
Right
End
160,14SensorDress
Feed FWD
End
160,15SensorDress
Feed BWD
End
131,06MR-J2S-40ADress Feed
Positioning
Completion
131,07MR-J2S-40ADress
Feed Servo
Alarm
Output130,07RelayDress
Feed FWD
End
130,08RelayDress
Feed BWD
End
4,02RelayEmergency
Stop
4,03MR-J2S-40ADress
Feed
Servo
ON
4,04NC112Dress
Slide
Right
End
4,05NC112Dress
Slide
Left
End

Penambahan program untuk servo ON pada motor dresser feed akan aktif ketika lubrikasi pada mesin telah berjalan, berikut ini adalah program laddernya

6

Gambar 18 Preparation program

Berikut ini adalah program untuk dresser slide baik secara auto [1] maupun manual [2] program :

Gambar 19 Program dresser slide

Sedangkan pada gambar dibawah adalah program untuk menjalankan motor dresser slide secara CW atau CCW.

Gambar 20 Program motor dresser slide

2.8 Pengujian

Terdapat beberapa bagian pengujian terhadap sistem dressing hasil modifikasi. Terdiri atas pengujian perangkat input ke PLC, pengujian perangkat output PLC serta pengujian sistem kerja dari proses dressing. Hal ini bertujuan untuk memastikan fungsi kerja sistem setelah modifikasi dapat berjalan seperti sistem kerja mesin yang diharapkan.Pengujian I/O dilakukan menggunakan monitor mode pada software CX programmer pada PLC. Berikut ini adalah hasilnya :

No.AlamatPerangkat yang
Diuji
FungsiParameterStatus
OK NG
1140.00Emergency StopMenghentikan mesin
dalam kondisi
darurat
Kontak 140.00 pada
monitor mode aktif
V
2140.01GW ON/OFFMengaktifkan/meng
henti kan grinding
wheel
Kontak 140.01 pada
monitor mode aktif
v
3140.02Cooling Water
ON/OFF
Kontak 140.02 pada
monitor mode aktif
٧
4140.14One Cycle DressMengaktifkan satu
kali siklus dressing
Kontak 140.14 pada
monitor mode aktif
v
5140.07Auto/ManualMemilih mode
pengoperasian
proses dressing
Kontak 140.07 pada
monitor mode aktif
V
6140.06Dress Feed
Forward
Menggerakkan
dresser feed maju
Kontak 140.06 pada
monitor mode aktif
V
7140.05Dress Feed Back
ward
Menggerakkan
dresser feed mundur
Kontak 140.05 pada
monitor mode aktif
v
9140.04Dress Feed
Speed High
Kecepatan dresser
feed
Kontak 140.04 pada
monitor mode aktif
v
11140.15Chuck CloseMenutup cylinder
chuck
Kontak 140.15 pada
monitor mode aktif
v
12140.10Dress Feed -
0.01
Dresser feed mundur
0.01 mm
Kontak 140.10 pada
monitor mode aktif
v
13140.11Dress Feed
+0.01
Dresser feed maju
0.01 mm
Kontak 140.11 pada
monitor mode aktif
٧
14140.12Dress Slide LeftDresser slide
bergerak kekiri
Kontak 140.12 pada
monitor mode aktif
٧
15140.13Dress Slide
Right
Dresser slide
bergerak kekanan
Kontak 140.13 pada
monitor mode aktif
٧
16160,11C1Membatasi gerakan
dresser slide kekiri
Kontak 160.11 pada
monitor mode aktif
٧
17160,13Dress slide Right
End
Membatasi gerakan
dresser slide
Kontak 160.13 pada
monitor mode aktif
v
18160,14Dress Feed FWD
End
Membatasi gerakan
dresser feed maju
Kontak 160.14 pada
monitor mode aktif
٧
19160,15Membatasi gerakan
dresser feed mundur
Kontak 160.15 pada
monitor mode aktif
٧

Tabel 6 pengujian komponen output

No. AlamatPerangkat yang DiujiFungsiParameterStatus
NO.ParameterOKNG
14.03Dresser Feed Servo ONMengaktifkan motorMengaktifkan koil 4.03,٧
servo dalam kondisilampu indikator PLC aktif
24.04Dresser Slide CWMenggerakkan dresserMengaktifkan koil 4.04,٧
(Right) Limitslide kekananlampu indikator PLC aktif
34.05Dresser Slide CCWMenggerakkan dresserMengaktifkan koil 4.05,٧
(Left) Limitslide kekirilampu indikator PLC aktif
4130.07Dresser Feed ForwardMenggerakkan dresserMengaktifkan koil 130.07,٧
Limitfeed majulampu indikator PLC aktif
5130.08Dresser FeedMenggerakkan dresserMengaktifkan koil 130.08,٧
Back ward Limitfeed mundurlampu indikator PLC aktif

Tabel 7 pengujian sistem kerja proses dressing

NoCheck PoinStatus
ОКNG
Kondisi Normal
1Saat mesin dinyalakan maka PLC Aktif٧
2Ketika tombol emergency stop ditekan, towerlamp
warna merah pada mesin menyala dan mesin tidak
dapat dioperasikan
٧
3Ketika tombol emergency stop release maka
towerlamp warna hijau menyala dan mesin siap
digunakan
٧
4Ketika mesin Seat Grinder sedang melakukan
proses maka dresser counter akan menghitung
jumlah valve yang dihasilkan
٧
5Ketika proses dressing berlangsung maka akan
muncul tampilan HMI yang menandakan proses
dressing sedang berjalan
٧
NoCheck PoinOKNG
Mode Manual
1Ketika selector switch pada posisi manual, mode operasi manual dressing siap bekerja٧
2Ketika push button Grinding Wheel ON/OFF
ditekan, maka GW akan berputar
٧
3Ketika push button Cooling Water ON/OFF ditekan,
maka coolant akan mengalir
٧
4Ketika selector switch Chuck pada posisi open ,
valve akan terlepas dari chuck
٧
5Ketika push button dress feed forward ditekan,
maka dresser feed akan bergerak maju
٧
6Ketika push button dress feed +0.01 ditekan,
maka dresser feed maju 0.01 mm
٧
7Ketika selector switch dress traverse pada posisi right , maka dresser slide bergerak kekanan٧
8Ketika selector switch dress traverse pada posisi
left , maka dresser slide bergerak kekiri
٧
9Ketika push button dress feed back ward ditekan,
maka dresser feed akan bergerak mundur
٧
10Ketika push button dress feed -0.01 ditekan,
maka dresser feed mundur 0.01 mm
٧
Mode Otomatis
1Ketika selector switch pada posisi auto, mode operasi auto dressing siap bekerja٧
2Ketika dresser counter telah mencapai nilai preset
yang ditentukan, dresser feed akan bergerak maju
seiauh nilai vang diatur pada HMI (0.02 mm)
٧
3Ketika dresser feed sudah maju sejauh 0.02 mm,
dresser slide akan bergerak kekanan
٧
4Ketika sensor dress slide right end aktif, dresser feed akan maju lagi sejauh 0.02 mm٧
5Ketika dresser feed telah maju sejauh 0.02 mm,
dresser slide akan bergerak kekiri sampai home
position
٧
6Setelah sensor dress traverse origin aktif, posisi
dresser feed restart dan posisi akhir dijadikan
posisi awal untuk proses selanjutnya
٧
7Ketika posisi dresser feed restart, counter dresser
juga akan restart
٧
8Proses dressing ini akan berlangsung berulang
terus menerus ketika proses mesin Seat Grinder
beroperasi
٧
Kondisi Abnormal
1Jika lubrikasi belum aktif, maka motor servo tidak
akan aktif begitu pula proses dressing
tidak akan bisa beroperasi serta muncul tampilan
٧
pada HMI
2Ketika dresser feed tidak mencapai posisi yang
telah diatur pada HMI, maka akan muncul
peringatan motor abnormal pada HMI
٧
3Ketika tombol emergency stop ditekan, maka akan
muncul tampilan peringatan pada HMI
٧

2.9 Evaluasi Hasil

2.9.1 Downtime Mesin

Penyebab adanya modifikasi penggerak dresser slide menjadi sistem motor adalah data trouble pada hasil produksi mesin Seat Grinder NTVS- 2894, yaitu menghasilkan valve roundness NG. Masalah roundness NG merupakan trouble yang menyumbang waktu downtime tertinggi jika dibandingkan dengan masalah kualitas valve lainnya. Semula dalam periode Januari 2013-Mei 2014 rata-rata downtime yang disebabkan dari roundness valve NG sebanyak 596 menit/bulan. Setelah dilakukan modifikasi, data trouble yang ada didalam database Maintenance Department mencatat bahwa selama bulan Mei 2015 tidak pernah terjadi trouble mengenai roundness valve NG. Sehingga dapat dikatakan bahwa downtime pada mesin Seat Grinder NTVS-2894 berkurang sebanyak 100%. Berikut ini menunjukkan nilai perbandingan jumlah downtime mesin sebelum dan sesudah modifikasi

3

Gambar 21 grafik downtime seat grinder NTVS-2894

2.9.2 Pencapaian Produksi

Salah satu manfaat yang diharapkan setelah modifikasi dilakukan adalah untuk mengoptimalkan kinerja mesin Seat Grinder NTVS- 2894. Dari data produksi sebelum modifikasi tercatat bahwa pencapaian produksi dari mesin Seat Grinder NTVS-2894 ratarata hanya sebesar 77% per bulan dari total target pada setiap bulannya. Setelah adanya modifikasi, kemampuan produksi mesin ini mencapai 111.7%, sehingga pencapaian produksi mesin ini 11.7% lebih banyak dari total target pada bulan pertama yaitu pada bulan Mei 2015.

7

Gambar 22 Pencapaian produksi seat grinder NTVS- 2894

Keseluruhan jumlah produksi valve pada mesin Seat Grinder NTVS-2894 selama bulan Mei 2015 adalah 160.724 pcs dengan target produksi bulan tersebut 143.838 pcs.

3 Kesimpulan

Dalam mengganti penggerak dresser slide yang semula menggunakan sistem air hydro menjadi sistem motor stepper, dapat dilakukan dengan merubah konstruksi unit dresser. Perubahan konstruksi ini menyebabkan perubahan juga pada spesifikasi motor untuk dresser feed. Untuk dresser slide dibutuhkan motor stepper dengan besar torsi berdasarkan hitungan sebesar 1.4 N.m, namun pada aktualnya dipakai motor stepper Vexta PK564AW-T7.2 dengan torsi 2.5 N.m. Sedangkan perubahan spesifikasi motor untuk dresser feed berdasarkan hitungan diperlukan motor dengan torsi sebesar 1.27 N.m, namun pada aktualnya dipakai motor servo Mitsubishi HC- KFS43 dengan torsi 1.3 N.m. Perubahan penggerak ke motor menyebabkan perubahan beberapa komponen elektrik seperti penambahan sensor proximity, position controller Omron NC112, dan driver motor. Adanya modifikasi dapat mengurangi downtime mesin akibat roundness valve sebesar 100% dan meningkatkan kemampuan produksi menjadi 111.7% dari total target pada bulan pertama.

4 Nomenklatur

F = beban ijin

Ft = beban Ultimate

M = massa

SF = safety factor

T = torque

Tp = preload torque

5 Daftar Pustaka

  • [1] Bolton, W, Sistem Instrumentasi dan Sistem Kontrol, Jakarta: Erlangga, 2009.
  • [2] Foster, Bob, Terpadu Fisika SMU Jilid 3A, Jakarta : Erlangga, 1997.
  • [3] Irawan, Agustinus Purna, Diktat Elemen Mesin, Jakarta : Universitas Tarumanegara, 2009.
  • [4] Kanginan, Marthen, Seribu Pena Fisika SMU Jilid 1, Jakarta : Erlangga, 1999.
  • [5] Silva, Clarence W, Mechatronics a Foundation Course, New York : CRC Press, 2010.
  • [6] Stefano., Joseph J., Di Ph.D, Stubberud, Allen R. Ph.D, Williams, Ivan J. Ph.D, Alih bahasa oleh Ir. Herman Wododo Soemitro, Sistem Pengendalian dan Umpan Balik Jakarta: Erlangga, 1996.
  • [7] Sukandar, Aan, Pepen Yuspendi, Uli Karo Karo, Analisi Berat Beban dan Perhitungan Gaya pada Proses Mesin Gerinda Datar. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia, 2013.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
25th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

Physics 0.52
level 0
level 0
level 0

Institution Network

References

  1. Bolton, W, Sistem Instrumentasi dan Sistem Kontrol, Jakarta: Erlangga, 2009.
  2. Foster, Bob, Terpadu Fisika SMU Jilid 3A, Jakarta : Erlangga, 1997.
  3. Irawan, Agustinus Purna, Diktat Elemen Mesin, Jakarta : Universitas Tarumanegara, 2009.
  4. Kanginan, Marthen, Seribu Pena Fisika SMU Jilid 1, Jakarta : Erlangga, 1999.
  5. Silva, Clarence W, Mechatronics a Foundation Course, New York : CRC Press, 2010.
  6. Stefano., Joseph J., Di Ph.D, Stubberud, Allen R. Ph.D, Williams, Ivan J. Ph.D, Alih bahasa oleh Ir. Herman Wododo Soemitro, Sistem Pengendalian dan Umpan Balik Jakarta: Erlangga, 1996.
  7. Sukandar, Aan, Pepen Yuspendi, Uli Karo Karo, Analisi Berat Beban dan Perhitungan Gaya pada Proses Mesin Gerinda Datar, Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia, 2013.