1 Pendahuluan
Peralatan elektronik yang mudah dibawa ke mana-mana agar dapat melakukan aktivitas secara mobile merupakan sesuatu yang tidak dapat dipungiri saat ini. Bahkan dengan mudah kita temukan satu orang bisa memiliki 2 unit hingga 3 unit yang dibawa dan digunakan dalam beraktivitas setiap harinya. Mereka ini sering disebut sebagai mobile user. Dari laporan laman www.wearesocial.com [5] dinyatakan bahwa mobile users meningkat 4% atau sekitar 141.000.000 pengguna sejak tahun 2015 seperti ditunjukkan pada Gambar 1. Dua macam mobile device yang sedang banyak digunakan di dunia ini, adalah mobile phone (telepon genggam) dan laptop.
Gambar 1. Pertumbuhan Penggunaan Internet dan Pengguna Gadget di Dunia Sejak Tahun 2015 (Sumber: www.wearesocial.net) [5]
Mobile device memiliki ciri yang khas yakni bersifat mudah dibawa dan memiliki baterai yang mudah diisi ulang karena baterai pada mobile device bersifat rechargeable. Bahan penyusun baterai sangat bervariasi, salah satunya adalah lithium. Dengan meningkatnya jumlah pengguna mobile device yang begitu besar, maka pada saat akhirnya produk tersebut rusak (tidak dapat digunakan) akan terjadi sampah baterai yang jumlahnyapun tidak sedikit. Pembuangan produk/komponen elektronik yang sudah tak terpakai ini sering disebut dengan e-waste. E-waste merupakan sekumpulan peralatan elektronik yang sudah dibuang/tidak dipakai (www.nea.gov.sg)[4] karena sudah rusak atau karena tidak berfungsi lagi. Jumlah e-waste di Indonesia terus bertambah untuk semua jenis peralatan elektronik sejak tahun 2009 sampai 2016, dari 500.000 ton hingga 900.000 ton [3].
Laptop juga merupakan contoh perangkat komputer yang mudah dibawa ke manapun. Penggunaan perangkat laptop yang tidak teratur dan tidak terawat dapat menyebabkan laptop cepat rusak dan mengurangi umur pakainya, terutama pada komponen baterainya. Membuang baterai bekas secara sembarangan akan membahayakan lingkungan karena bahan penyusun komponen-komponen yang terkandung di dalamnya mudah terbakar dan meledak [2].
Seperti halnya semua produk teknik, baterai laptop juga seharusnya dapat dipakai ulang dan ditingkatkan nilai pakainya agar e-waste dari baterai laptop tidak semakin banyak. Salah satu hal yang dapat dilakukan dalam rangka pemanfaatan kembali baterai bekas ini adalah menerapkan konsep Reverse Logistic padanya. Reverse logistic secara umum
dinyatakan sebagai upaya penanganan produk yang telah habis masa pakainya dan penggunaan kembali komponen produk dengan tujuan untuk value recovery dan melakukan proses pembuangan yang aman dan benar [1].
Sebagaimana yang dinyatakan oleh perusahaan Xerox dari Jepang, bahwa pembuatan produk Fuji Xerox telah melibatkan banyak komponen bekas dari produk yang didisasembly dari produk bekas sebelumnya yang tujuan utamanya adalah menerapkan zero emission bagi alam lingkungan. Lebih jauh komponen-komponen bekas dari produk Xerox ada yang di-recycle, ada juga yang di gunakan kembali oleh produk secara langsung dan ada yang harus dibuang ke alam. Jumlah ini sangat kecil yakni 3% saja, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Metoda pemanfaatan kembali komponen produk seperti inilah seharusnya digalakkan dan diterapkan untuk semua produk yang memiliki kemampuan recycleabilty.
Gambar 2. Proses Penanganan Produk Fuji Xerox (sumber: www.fujixerox.com) [6]
Dengan penerapan konsep ini diharapkan akan terjadi pemahaman yang lebih baik dari para pengelola produksi, praktisi lingkungan dan peneliti untuk turut mengedukasi peran dan tanggung jawab pihak-pihak yang seharusnya banyak terlibat pada proses penanganan sampah elektronik di lingkungan hidup kita.
2 Metode Penelitian dan Perumusan Masalah
Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan yakni sebagai berikut:
- 1. Penentuan topik penelitian dan latar belakang permasalahan yang ada
- 2. Mengidentifikasi dan merumuskan masalah
- 3. Pengumpulan data produk dan pendapat pengguna
- 4. Pengolahan data dan Analisis konsep dan dampak lingkungan
- 5. Kesimpulan.
Pada akhir siklus hidup suatu produk elektronik yang dipakai masyarakat, secara praktis tidak terdapat prosedur baku yang mengatur bagaimana seharusnya perlakuan yang diterima oleh produk agar dapat diterima alam bila hendak dibuang ataupun dapat diterima pihak yang akan mengolah selanjutnya, misalnya untuk digunakan kembali. Dari kondisi di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
- 1. Bagaimana rancangan siklus hidup (life cycle) dari baterai laptop?
- 2. Bagaimana desain rantai reverse logistic baterai laptop bekas serta dampak lingkungan yang ditimbulkan?
3 Pengumpulan Data Pendahuluan
Dalam roses perancangan sistem reverse logistic, dilakukan penelitian terhadap 3 baterai lapptop bekas yang berbeda merk. Ketiga baterai laptop bekas ini menjadi contoh untuk pengambilan data dan rujukan untuk rancangan. Untuk tujuan analisis maka dilakukan pengumpulan beberapa data begagai berikut:
3.1 Data Komponen Baterai Laptop
Data komponen ini didapatkan dengan melakukan disassembly ketiga baterai laptop bekas di atas. Komponen yang didapat adalah battery case, battery cells, komponen elektronik, solder tabs, dan komponen tambahan (karet alas, separator, dan kabel). Data mengenai komponen yang diambil adalah dimensi, massa, dan bahan penyusun komponen seperti ditunjukkan pada Tabel 1.
| No. | Bahan Penyusun | Nama Komponen | Jumlah Komponen |
|---|---|---|---|
| 1 | ABS Plastic | Battery case atas | 3 |
| Battery case bawah | 3 | ||
| Separator | 3 | ||
| 2 | Silk screen, soldermask, copper, substrate | Komponen elektonik | 3 |
| 3 | Lithium-ion | Battery Cell | 18 |
| 4 | Nickel aluminum | Solder Tab | 12 |
| 5 | PVC Plastic | Battery Cell | 18 |
| 6 | Sillicon rubber | Karet Alas Panjang | 1 |
| Karet Alas Pendek | 2 | ||
| 7 | Copper | Kabel | 1 |
Tabel 1 Kategori Komponen Berdasarkan Bahan Penyusun
3.2 Pengujian Kapasitas Baterai
Data kapasitas baterai laptop didapatkan dengan melakukan pengukuran dengan alat iMax B6Ac Dual Power. Cara pengukurannya adalah dengan mengosongkan kapasitas masingmasing battery cell dan dilanjutkan dengan mengisi kapasitas baterai hingga alat memberikan pemberitahuan bahwa baterai sudah penuh.
3.3 Data Dampak Lingkungan
Data dampak lingkungan dibutuhkan sebagai data pembanding dengan data rancangan nantinya. Data ini didapatkan dengan menggambarkan bentuk 3D dari beberapa komponen baterai laptop dan menggunakan fitur Sustainability Evaluation pada SolidWorks 2013. Informasi-informasi yang diperlukan antara lain material/bahan penyusun, jenis proses manufaktur, hingga durasi atau umur pakai komponen tersebut. Informasi ini diisi berdasarkan data yang telah dimiliki melalui pengukuran (dimensi dan massa) atau sumber literatur (eksternal). Evaluasi dampak lingkungan yang dihasilkan adalah evaluasi pada kategori carbon footprint, total energy consumed, air acidification, dan water eutrophication.
3.4 Data Pengalaman Pengguna
Data ini merupakan data mengenai kecenderungan pengguna dalam menangani baterai laptop mereka yang rusak/tak terpakai. Data-data ini akan digunakan sebagai pertimbangan rancangan rantai reverse logistic. Data dikumpulkan melalui kuesioner kepada 160 responden, di antaranya 82 responden pernah mengalami masalah kerusakan/habis pakai baterai laptop.
Didapatkan bahwa 46 dari 82 responden (56,10%) memilih untuk tetap menggunakan baterai laptop walaupun bermasalah pada peringkat ke-1. Di peringkat ke-2, sebanyak 17 responden (20,73%) memilih untuk membeli baterai laptop baru. Ada 14 responden (17,07%) mencoba untuk memperbaikinya dan sisanya sebanyak 5 (6,10%) responden memilih untuk tidak menggunakan baterai (memakai listrik langsung).
Responden yang menggunakan baterai walaupun bermasalah memiliki alasan baterai baru itu mahal. Responden yang membeli baterai baru cenderung menyimpan baterai bekas mereka di rumah. Ada pula responden yang mencoba memperbaiki baterai laptop mereka ke beberapa tempat service tidak resmi.
4 Rancangan Skema Reverse Logistic
Perhatian utama yang harus dilakukan adalah mengenal siklus hidup baterai secara keseluruhan dimulai sejak baterai dibuat di pabrik pembuat hingga keadaan setelah baterai tidak dapat digunakan lagi. Aspek-aspek yang perlu mendapat perhatian khusus dinaytakan secara eksplisit dan dirancang langkah-langkah yang bersesuaian dengan topik tersebut.
4.1 Rancangan Siklus Hidup Baterai Laptop
Siklus hidup baterai laptop rancangan berisi tahapan retirement, recycle, remanufacture, reuse, disposal, dan production yang dirancang secara detail. Siklus hidup rancagan ini dapat dilihat pada Gambar 3.
Rancangan siklus hidup pertama dimulai pada tahapan retirement. Pada tahap retirement, baterai laptop akan melalui proses disassembly komponen. Tahapan selanjutnya adalah inspeksi untuk masing-masing komponen. Proses inspeksi ini akan menentukan tindakan lanjutan dari komponen tersebut karena terdapat kriteria-kriteria kelolosan inspeksi di dalamnya. Ada empat tindakan lanjutan yang dapat terjadi dari hasil inspeksi, yaitu recycle, disposal, reuse, dan remanufacture.
Proses recycle pada siklus hidup baterai laptop ditujukan untuk masing-masing komponen dan prosesnya tergantung dari bahan penyusun komponen tersebut. Komponen-komponen yang masuk ke dalam proses recycle ini merupakan komponen yang tidak lolos kriteria inspeksi. Proses daur ulang ini akan mengubah komponen-komponen yang tidak lolos inspeksi tersebut menjadi bahan dasar penyusun komponen.

Gambar 3. Skema Life Cycle Impact (LCI) Baterai Laptop
Semua komponen yang telah diinspeksi dan dinyatakan lolos inspeksi akan melalui proses selanjutnya yaitu remanufacture dan reuse. Proses remanufacture yang dirancang adalah proses penggunaan kembali komponen-komponen baterai laptop pada produk baterai laptop selanjutnya, dengan tambahan proses perbaikan bila perlu (repair dan recovery) dan penggabungan dengan komponen tambahan baru. Komponen hasil remanufacture tidak digunakan dalam proses produksi komponen dan langsung digunakan pada proses assembly.
Komponen yang lolos inspeksi juga dapat diteruskan pada proses reuse. Proses reuse ini digunakan untuk komponen battery cell yang tidak dapat dipakai untuk baterai laptop lagi, namun masih dapat berfungsi bila digunakan pada produk elektronik lain (external recycling). Tahapan disposal merupakan keputusan terakhir yang dipilih setelah komponen melalui tahapan retirement. Pada tahapan ini, terdapat dua hal yang bisa dilakukan, yaitu landfill (penguburan) dan incineration (pembakaran). Kedua proses ini dilakukan pada komponen yang tidak lolos dalam inspeksi dan tidak dapat didaur ulang maupun dipakai ulang.
Tahapan selanjutnya yang dirancang adalah tahapan produksi komponen baterai laptop. Tahapan ini merupakan lanjutan dari proses recycle yang menghasilkan bahan dasar komponen. Agar bahan dasar hasil recycle tersebut tidak dibuang, maka bahan tersebut digunakan lagi pada proses produksi komponen. Pada proses produksi ini, bahan dasar komponen hasil recycle dapat digabungkan dengan bahan dasar yang baru.
Bentuk siklus hidup baterai laptop yang dirancang ini memungkinkan untuk dibagi ke dalam beberapa gate untuk membantu dalam evaluasi dampak lingkungan. Tipe bentuk siklus hidup yang digunakan adalah gate-to-gate dan dalam rancangan ini ada 2 gate. Gate pertama untuk siklus hidup baterai laptop dimulai di tahapan retirement dan Gate 2 pada tahapan production.
4.2 Rancangan Tahap Refinement
Tahapan retirement memiliki dua proses di dalamnya, yaitu disassembly komponen dan inspeksi komponen.
4.2.1 Rancangan Disassembly Komponen
Proses disassembly komponen baterai laptop yang diusulkan/dirancang dapat dilakukan dengan cara manual maupun terotomasi. Kedua cara ini tetap menggunakan tools atau peralatan, seperti obeng, cutter, dan alat lainnya. Pengerjaan proses ini harus dilakukan dengan teliti dan rapi.
4.2.2 Rancangan Inspeksi Komponen
Tahapan retirement merupakan tahapan penentu komponen akan didaur ulang, dipakai ulang, remanufacture, ataukah akan dibuang.
4.2.2.1 Proses Inspeksi Komponen Battery Case
Proses inspeksi untuk battery case, yang dimulai dengan inspeksi visual (visual inspection), yang dapa dilihat pada Gambar 4(a). Inspeksi visual ini dapat dilakukan secara manual dengan mata manusia. Terdapat beberapa kriteria inspeksi visual untuk battery case, yaitu:
- a. Semua bagian battery case utuh.
- b. Tidak ada bagian battery case yang retak.
- c. Tidak ada bagian battery case yang patah.
- d. Tidak ada bagian battery case yang tertekuk.
- e. Tidak ada bagian battery case yang tergores.
- f. Warna battery case tidak pudar.
- g. Battery case dalam keadaan bersih dari perekat, lem, dan sejenisnya.
Kriteria poin (a) sampai (d) harus dipenuhi sehingga battery case dapat dinyatakan lolos inspeksi. Bila kriteria (e) dan (g) tidak terpenuhi, namun kriteria yang lainnya sudah
terpenuhi, proses dapat dilanjutkan ke tahap pembersihan battery case (cleaning).. Setelah itu, battery case dapat dilanjutkan pada proses remanufacture (bila battery case masih perlu diperbaiki) dan digunakan lagi sebagai battery case pada produk baterai laptop.

Gambar 4. Flow Chart Inspeksi Battery Case (a) dan Inspeksi Komponen Elektronik (b)
4.2.2.2 Proses Inspeksi Komponen Elektronik
Proses inspeksi untuk komponen elektonik pada awalnya sama dengan komponen battery case yaitu dengan menginspeksi secara visual terlebih dulu (Gambar 4(b)). Inspeksi visual komponen elektronik ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu manual atau menggunakan peralatan terkomputerisasi. Inspeksi visual yang dilakukan manual (dengan mata telanjang) dapat mendeteksi kondisi komponen elektronik dengan melihat ada atau tidaknya lapisan hasil solder. Cara yang ke-2 inspeksi visual dengan alat terkomputerisasi adalah Automated Optical Inspection (AOI) dan X-ray Inspection (AXI).
Setelah proses ini, komponen elektronik yang tidak memiliki masalah dapat dilanjutkan ke proses pemeriksaan fungsi. Jika komponen masih dapat berfungsi dengan baik, maka komponen dapat digunakan kembali dalam baterai laptop dengan melalui proses
remanufacture. Tapi jika tidak berfungsi, komponen dipindahkan ke proses recycle untuk komponen elektronik.
4.2.2.3 Proses Inspeksi Komponen Battery Cell
Inspeksi visual Inspeksi visual dapat dilakukan secara manual dengan mata manusia. Terdapat beberapa kriteria inspeksi visual untuk battery cell, yaitu:
- a. Tidak ada kebocoran baterai (material dalam baterai tidak dari keluar).
- b. Plastik pembungkus tidak sobek.
Battery cell tidak boleh bocor, dalam arti tidak boleh ada bahan material dari dalam baterai yang keluar. Jika battery cell dicurigai bocor, maka inspeksi bau (odor) dapat dilakukan dengan mendeteksi bau dari battery cel. Battery cell yang bocor tidak dapat dipakai lagi sehingga hal yang dapat dilakukan adalah melakukan recycling untuk battery cell. Proses inspeksi untuk battery cell dapat dilihat pada Gambar 5 (a).
Jika battery cell tidak bocor namun plastik pelindungnya sobek, maka plastik yang sobek diteruskan pada proses recycle plastik. Plastik pelindung yang baru juga diperlukan untuk mengganti plastik rusak tadi. Battery cell akan tetap lolos inspeksi dan dilanjutkan pada proses berikutnya, yaitu pemeriksaan kapasitas battery cell.
Pemeriksaan kapasitas battery cell dapat dilakukan dengan mengukur kapasitas battery cell tersebut. Ada dua acara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan kapasitas baterai:
- a. Cara pertama adalah mengosongkan kapasitas baterai dengan melakukan discharge. Setelah baterai dinyatakan kosong, lakukan charge atau pengisian daya hingga baterai dinyatakan penuh. Kapasitas baterai tidak akan seutuh awal (kapasitas 100% = 2200 mAh) sehingga pernyataan "penuh". Informasi kapasitas baterai saat ini diperoleh dengan melihat arus listrik yang diterima oleh battery cell tersebut.
- b. Cara ke-2 adalah mengisi daya baterai hingga dinyatakan penuh lalu lakukan pengosongan kapasitas baterai. Informasi kapasitas baterai saat ini diperoleh dengan melihat arus listrik yang diberikan oleh battery cell tersebut pada alat.
Pemeriksaan kapasitas baterai berfungsi untuk memisahkan battery cell ke dalam 3 kategori, yaitu battery cell untuk baterai laptop, untuk alat elektronik lain, dan yang masuk proses recycle. Battery cell yang masih dapat digunakan pada suatu produk harus memiliki kapasitas minimal 30%. Jika battery cell tersebut memiliki kapasitas di bawah 30%, battery cell akan dibawa ke proses recycle. Khusus untuk penggunaan baterai laptop, kapasitas yang harus dimiliki oleh battery cell adalah minimal 60%.
4.2.2.4 Proses Inspeksi Komponen Solder Tab
Tahapan pertama adalah dengan melakukan inspeksi visual. Terdapat beberapa kriteria inspeksi visual untuk solder tab, yaitu:
- a. Semua bagian solder tab utuh.
- b. Tidak ada bagian solder tab yang sobek.
- c. Tidak ada bagian solder tab yang berlubang.
- d. Tidak ada bagian solder tab yang tertekuk.
- e. Solder tab dalam keadaan bersih dari perekat, lem, dan sejenisnya.
Inspeksi visual untuk solder tab dilakukan secara manual dan proses inspeksi untuk solder tab dapat dilihat pada Gambar 5(b)
Gambar 5. Flow Chart Inspeksi Battery Cell (a) dan Inspeksi Solder Tab (b)
4.2.2.5 Proses Inspeksi Komponen Tambahan Lainnya
Proses inspeksi untuk bahan tambahan karet alas dapat dimulai dengan inspeksi visual dengan kriteria:
- a. Semua bagian karet alas utuh.
- b. Tidak ada bagian karet alas yang sobek.
- c. Tidak ada bagian karet alas yang tergores.
- d. Karet alas dalam keadaan bersih dari perekat, lem, dan sejenisnya.
Proses inspeksi untuk karet alas dapat dilihat pada Gambar 6(a).
Proses inspeksi untuk bahan tambahan kabel dapat dilihat pada Gambar 6(b). Terdapat beberapa kriteria inspeksi visual untuk separator, yaitu:
- a. Semua bagian kabel utuh.
- b. Karet luar kabel tidak sobek.
- c. Tidak ada bagian kabel yang putus.
- d. Tidak ada bagian kabel yang tergores.
- e. Kabel dalam keadaan bersih dari perekat, lem, dan sejenisnya.

Gambar 6. Flow Chart Inspeksi Karet Alas (a) dan Inspeksi Kabel (b)
4.2.3 Rancangan Tahapan Recycle, Cleaning, dan Remanufacture Komponen
Rancangan proses recycle untuk setiap komponen pasti akan berbeda-beda. Perbedaan bahan penyusun komponen akan berpengaruh pada jenis proses recycle yang dilakukan. Terdapat komponen-komponen yang telah dinyatakan lolos dan perlu diperbaiki sedikit dan dibersihkan dari segala kotoran (lem, perekat, label, dan lain-lain). Pada tahapan ini, komponen-komponen harus melalui proses cleaning dan remanufacture. Pembersihan ini disebut cleaning dan dilakukan dengan cara manual maupun menggunakan alat. Komponen-komponen yang masih dapat digunakan secara fungsional namun memiliki cacat yang tidak menggangu fungsi dari komponen, dapat melalui proses recovery.
4.2.4 Rancangan Reuse untuk Battery Cell
Baterai laptop memiliki 6 sel battery cell di dalam satu pack sehingga pada rancangan ini, beberapa battery cell bekas akan diatur sedemikian rupa agar dapat digabung dan disusun ke dalam beberapa pack baterai laptop. Keenam battery cell yang akan digabung untuk satu pack ini harus memiliki besar kapasitas yang sama atau serupa.
Hal pertama yang dilakukan adalah mendapatkan battery cell dengan kapasitas ≥60% seperti yang telah dipisahkan dari proses inspeksi. Selanjutnya, battery cells dimasukan ke dalam beberapa grup, yaitu Grup A, B, dan C:
- a. Grup A: battery cell dengan kapasitas ≥80%.
- b. Grup B: battery cell dengan kapasitas 70-79%
- c. Grup C: battery cell dengan kapasitas 60-69%.
Setiap battery cell yang menunggu kedatangan battery cell lainnya dari proses inspeksi untuk dapat dikelompokkan dalam groupnya hanya diperbolehkan menunggu maksimal 6 bulan. Jika tidak ada kedatangan battery cell lainnya dalam jangka waktu tersebut, perusahaan berhak untuk menjual battery cell tersebut untuk kebutuhan produk elektronik lainnya. Hal terakhir yang dilakukan adalah memberikan semua hasil penyusunan kepada proses selanjutnya, yaitu remanufacture baterai laptop maupun reuse battery cell untuk elektronik lainnya.
4.2.5 Rancangan Rantai Reverse Logistic
Perancangan sistem reverse logistic untuk baterai laptop dibuat menjadi beberapa alternatif, berdasarkan hasil dari kuesioner mengenai kecenderungan konsumen dalam memilih tempat pengembalian baterai laptop dan segala kemungkinan adanya pihak-pihak yang terlibat dalam sistem ini. Selain mengenai jalur pengembaliannya, alternatif yang dirancang juga meliputi proses-proses yang ditanggungkan pada pihak-pihak yang terlibat dalam sistem ini. Alternatif yang dibuat ada sebanyak 5 alternatif, yaitu A, B, C, D, dan E. Kepada kelima alternatif ini, dilakukan penilaian oleh 2 orang ahli (expert) dengan kriteria:
- a. Memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai logistic
- b. Memiliki pengalaman dalam membuat artikel, jurnal, maupun penelitian internasional di bidang logistic (maupun supply chain) yang diakui dan terpublikasikan
Penilaian ini dilakukan dengan scoring 1-5 untuk tujuh aspek, yaitu kemudahan akses pengembalian produk oleh konsumen, kompleksitas alur reverse logistic, perkiraan lead time, kemudahan aliran komunikasi dan informasi, peluang keikutsertaan Usaha Kecil Menengah (UKM), dan dampak lingkungan. Pada akhirnya, dihasilkan bahwa rancangan Alternatif D merupakan rancangan alternatif terbaik. Alternatif D memiliki beberapa pihak di dalamnya, yaitu konsumen, collection center, perusahaan manufaktur baterai laptop, dan perusahaan-perusahaan recycling. Gambar dari Alternatif D dapat dilihat pada Gambar 6.
4.2.6 Rancangan Sustainability Evaluation Komponen Baterai Laptop
Hal yang ingin dicapai dari rancangan ini adalah dampak negatif terhadap lingkungan dapat berkurang. Informasi yang dibutuhkan untuk rancangan ini adalah built to last, end of life, dan duration of use. Skenario perubahan persentase recycled pada bagian end of life ada sebanyak empat skenario, yaitu perubahan 30%, 50%, 70%, dan 80%. Semakin besar persentasi recycled, dampak lingkungan pada kategori-kategori tersebut menurun. Oleh karena itu, persentase recycled sebesar 80% dipilih untuk mengetahui besarnya persentase penurunan dampak lingkungan pada kategori-kategori yang ada.
Beberapa komponen yang mengalami perubahan 0%, misal pada komponen solder tab. Sebenarnya persentase perubahan yang terjadi tidak signifikan besarnya sehingga diberi angka 0%. Perubahan yang terjadi sangat kecil dan mendekati 0 (nol). Berbeda dengan komponen sisanya yang memang menunjukkan % perubahan dampak keseluruhan. Perubahan yang terjadi adalah penurunan dampak negatif untuk beberapa kategori dampak lingkungan, seperti carbon footprint dan water eutrophication. Penurunan yang terjadi adalah sebesar 1-29% dari kondisi sebelum konsep reverse logistic diterapkan.

Gambar 7. Hasil Rancangan Skeme Reverse Logistic Alternatif D
4.2.7 Tanggapan Pengguna Terhadap Baterai Laptop Hasil Reuse/Recycle
Dari 82 responden yang pernah mengalami masalah baterai laptop, 52,44% di antaranya mungkin akan membeli baterai laptop hasil reuse/recycle. Selain itu, ada 31 responden yang tidak akan membeli baterai hasil reuse/recycle dan sisanya, 8 responden menyatakan akan membeli jika ada baterai laptop hasil reuse/recycle. Harga yang diusulkan oleh responden dapat dilihat pada Tabel 2. Dari data ini, sekitar 73,17% responden memberikan harga sekitar di bawah Rp. 100.000,00 sampai dengan Rp. 200.000,00 untuk baterai laptop hasil reuse/recycle.
Tabel 2 Kategori Komponen Berdasarkan
| Harga Baterai | Jumlah Responden |
|---|---|
| di bawah Rp. 100.000,00 | 14 |
| Rp. 100.000,00 | 23 |
| Rp. 150.000,00 | 8 |
| Rp. 200.000,00 | 15 |
| Rp. 300.000,00 | 10 |
| Rp. 400.000,00 | 4 |
| Rp. 500.000,00 | 7 |
| Rp. 700.000,00 | 1 |
| Total Responden | 82 |
5 Kesimpulan
Dari penelitian ini didapat bahwa rancangan siklus hidup baterai laptop bekas adalah berupa pola gate-to-gate, yaitu dimulai dari tahapan retirement, reuse, remanufacture, recycle, production, dan disposal. Didapatkan satu desain rantai reverse logistic yaitu Alternatif D, dengan pihak-pihak terlibat seperti konsumen, collection center, perusahaanperusahaan manufaktur baterai, dan perusahaan-perusahaan recycling. Proses yang ada di dalam alternatif ini antara lain collecting, disassembly, inspection & sorting, reuse, recycle, production, assembly, sampai resell.
Penanganan dengan reverse logistic mampu menurunkan dampak lingkungan dari setiap komponen baterai laptop:
- a. Dampak lingkungan dari komponen battery case, solder tab, dan komponen tambahan pada baterai laptop dapat dikurangi dengan cara mengubah built to last, end of life, dan duration of use. Perubahan yang terjadi adalah penurunan dampak negatif untuk beberapa kategori dampak lingkungan, seperti carbon footprint dan water eutrophication. Penurunan yang terjadi adalah sebesar 1-29% dari sebelumnya. Penurunan terbesar adalah dari komponen battery case dan penurunan terkecil adalah dari komponen solder tab.
- b. Daur ulang battery cell dapat menghemat penggunaan sumber daya alam baru untuk produksi katoda battery cell, mencapai 51%.
6 References
- [1] Blumberg, D. F., Introduction to Management Of Reverse Logistics And Closed Loop Supply Chain Processes, CRC Press, 2000.
- [2] Dewulf, J., Vorst, G.V., Denturck, K., Langenhove, H.V., Ghyoot, W., Tytgat, J., & Vandeputte, K. (2010). Recycling Rechargable Lithium Ion Batteries: Critical Analysis of Natural Resource Savings. Elsevier, www.elsevier.com/locate/resconrec, (11 Januari 2017)
- [3] Honda, Khetriwal, & Kuehr., Regional E-waste Monitor, East and Southeast Asia. United Nations University & Japanese Ministry of the Envitonmental, https://ewastemonitor.info/pdf/Regional-E-Waste-Monitor.pdf, (21 Desember 2016).
- [4] NEA. (n.d.). E-waste Recycling. National Environment Agency, www.nea.gov.sg, (2 Desember 2016).
- [5] We Are Social. Digital in 2016. We Are Social. Diunduh dari: www.wearesocial.net (9 Desember 2016).
- [6] NA, What is the Integrated Recycling System, www.fujixerox/ecology/cycle/concept, 3 Oktober 2018.
