c. Prioritas Angkutan Umum
Pelayanan angkutan umum menggunakan prasarana secara lebih efisien dibanding penggunaan oleh kendaraan pribadi, terlebih pada waktu-waktu sibuk.
Untuk meningkatkan serta memperbaiki tingkat pelayanan angkutan umum, maka dapat ditempuh upaya:
- perbaikan operasi pelayanan, melalui peningkatan frekuensi, kecepatan da kenyamanan;
- perbaikan sarana penunjang jalan, seperti dengan penentuan lokasi dan disain tempat perhentian & terminal yang baik terutama memadukan moda transportasi berbeda (jalan raya dan jalan rel) atau angkutan kota dan antarkota, juga dengan mengutamakan angkutan umum (misalnya jalur bus, prioritas bus, lampu lalu lintas, perhentian taksi dan lainnya).
Pengutamaan bus bertujuan mengurangi waktu perjalanan dan menjadikan bus lebih menarik untuk kalangan penumpang tertentu. Bus yang umumnya dioperasikan di kota-kota besar membawa penumpang dalam jumlah besar, sehingga pengurangan waktu perjalanan (meski sedikit) akan memberikan keuntungan cukup besar. Kerap dibolehkan pula pelayanan taksi, jika memang menguntungkan.
LajurKhusus Bus
Jika suatu ruas jalan atau persimpangan mengalami kemacetan, maka angkutan umum dapat menggunakan satu jalur sendiri. Dengan demikian bus kota akan memiliki kecepatan lebih tinggi, karena kemacetan dipindahkan dari jalur tersebut. Masalahnya adalah kendaraan umum dan pribadi yang telah mengalami kemacetan semakin dibatasi pergerakannya ke ruang yang lebih sempit, sehingga meningkatkan kemacetan dan kelambatan.
Terdapat suatu keseimbangan antara keuntungan dari peningkatan kecepatan untuk penumpang umum dengan biaya akibat kelambatan. Dengan alasan ini, jalur khusus bus akan digunakan hanya pada saat kemacetan terjadi dan saat-saat jam sibuk (pagi dan sore hari).
Kontrol
Jaiur khusus bus memerlukan kontrol dan penegakan hukum yang ketat. Persyaratan yang dibutuhkan untuk mengefisienkan operasi tersebut adalah:
- kontrol tempat perhentian bus untuk mengatasi bus yang berhenti dan menghalangi bus lainnya yang tidak perlu berhenti,
- kontrol parkir angkutan pribadi dan angkutah barang (seluruh tempat parkir harus dibatasi selama waktu operasi, karena kendaraan yang
- menghalangi jalur akan menyebabkan kelambatan untuk bus),
- dalam rangka penegakan hukum, maka lalu lintas umum dan barang harus dialihkan dari jalur khusus.
Bus Only Right of Way
"Bus Only Right of Way" mirip dengan rel kereta api yang memiliki tingkat pelayanan tinggi, memiliki perhentian terbatas dan dioperasikan untuk bus cepat. Jalur tipe ini memerlukan pelayanan "feeder" dalam mengumpulkan dan mendistribusikan penumpang. Dari studi di Amerika Serikat diketahui, bahwa 450 bus/jam dapat mengangkut sekitar 25.000 penumpang. Sebagai perbandingan, kereta api cepat mengangkut sekitar 50.000 penumpang/jal/rel.
Masalahnya, adalah biaya pembangunan yang tinggi, sehingga harus digunakan secara intensif. Keuntungan "Busway" dibandingkan dengan jalur kereta api, adalah:
- bus dapat digunakan pula pada sistem jalan biasa, juga kendaraan lain dapat menggunakan 'busway' jika dibutuhkan,
- kendaraan lebih kecil dan bertenaga sendiri, sehingga lebih fleksibel dalam operasi dan mobilitas.
Hal lain yang dapat dilakukan dalam memberikan prioritas pada angkutan umum adalah:
- · with flow dan contra flow,
- prioritas bus di persimpangan dengan lampu lalu lintas.
Permasalahan Transportasi Kota
Perencanaan sistem transportasi di atas sudah barang tentu berdampak terhadap penataan ruang perkotaan, terutama terhadap prasarana perkotaan. Untuk menghindarkan dampak yang bersifat negatif, maka perlu diterapkan sistem perencanaan yang memadai serta sistem koordinasi interaktif dengan melibatkan berbagai pihak terkait.
Beberapa hal yang menjadi penghambat dalam meningkatkan prasarana transportasi serta berdampak terhadap penataan ruang perkotaan, terutama prasarana perkotaan, adalah sebagai berikut:
Pembuatan jalan baru berupa jalan tol maupun jalan lingkar dihadapkan pada masalah pembebasan lahan. Biaya untuk pembebasan
lahan umumnya merupakan bagian cukup besar dari nilai proyek keseluruhan. Hal ini berkaitan dengan tingginya harga tanah di perkotaan, terlebih di sekitar kawasan pusat kota. Selain persoalan itu, kesulitan yang dihadapi berikutnya adalah mencari finance untuk membiayai proyek yang mahal tersebut. Dalam kaitan ini diharapkan peran pihak investor swasta maupun pemerintah. Masalah lain yang perlu mendapat perhatian pula, adalah aspek koordinasi lintas sektoral yang terkait dalam perencanaan sistem transportasi. Koordinasi tersebut juga diharapkan konsisten dan berlanjut hingga tahap pelaksanaan serta pemeliharaan selanjutnya;
Dalam pelebaran jalan guna meningkatkan kapasitas jalan maupun perbaikan persimpangan dihadapkan pada persoalan berkenaan dengan jaringan utilitas. Namun dalam hal ini telah dilakukan koordinasi cukup terpadu antara instansi terkait dalam suatu sistem perencanaan terpadu, misalnya dalam penentuan lokasi jaringan utilitas yang baru. Sejauh ini kerap terlihat kemacetan lalu lintas yang diakibatkan pekerjaan perbaikan dan pemeliharaan prasarana utilitas yang tidak terjadwal. Hal ini jelas mengurangi kapasitas jalan, sehingga kerap kemacetan atau kelambatan terjadi. Lantas muncul anggapan, bahwa pekerjaan gali-tutup lobang seperti tak pernah selesai. Untuk mengatasinya tentu dibutuhkan koordinasi yang baik, sehingga pekerjaan tersebut dapat terjadwal dan terarah.
Sistem Angkutan Umum Transportasi Perkotaan Terpadu
Sistem angkutan umum transportasi perkotaan terpadu (SAUTPT) yang mencakup bus, mikro bus, KRL Jabotabek, Mass Rapid Transit (MRT) dan taksi merupakan kebijaksanaan yang diharapkan dapat memecahkan masalah kemacetan lalu lintas. Dalam perencanaan SAUPTP diperlukan studi menyeluruh serta menuntut koordinasi interaktif antardepartemen dan instansi terkait, sehingga dalam pembangunannya diharapkan menunjang tata ruang perkotaan.
Faktor utama yang perlu diperhatikan dalam perencanaan transportasi adalah "waktu tempuh", sebab hal ini merupakan daya tarik dalam memilih moda untuk melakukan suatu perjalanan. Dengan pernyataan lain, bertambahnya waktu tempuh sebuah moda akan menurunkan tingkat
penggunaannya. Penurunan tingkat penggunaan suatu moda tentu berakibat merugi, dan lebih jauh lagi menurunkan kepercayaan masyarakat untuk menggunakan moda tersebut. Jika terdapat alternatif moda lainnya, maka jelas masyarakat penggunaakan beralih ke moda yang dinilainya lebih baik dan menguntungkan.
Untuk suatu perjalanan yang membutuhkan beberapa moda angkutan, maka perlu pula memperhatikan faktor "biaya transit" (biaya perpindahan barang dan/atau orang), di samping faktor "waktu tempuh". Untuk jelasnya, lihat Gambar 2 berikut ini.
Gambar 2 Grafik Blaya Transportasi sebagai Fungsi Jarak
Dari Gambar 2 terlihat, untuk menekan biaya transportas orang dan/atau barang yang membutuhkan beberapa moda, maka dapat dilakukan dengan menghemat biaya transit (perpindahan antarmoda). Untuk itu perlu digunakan fasilitas transit/perpindahan orang dan/atau barang dari satu moda ke moda lainnya, sehingga proses transit dapat berlangsung cepat, murah, nyaman dan aman.
Dengan demikian, maka perlu diperhatikan rancangan terminal antarmoda yang efektif dan efisien. Lebih jauh, rancangan terminal yang baik akan berdampak pada penggunaan lahan, tata ruang, sirkulasi penumpang dan pejalan kaki, kebersihan, pertamanan, jaringan utilitas, keamanan, kenyamanan dan sebagainya. Dalam hal ini tetap tak terhindarkan masalah pembebasan lahan yang membutuhkan waktu lama dan biaya relatif besar.
Kesimpulan
Permasalahan transportasi merupakan suatu ciri yang menyertai pertumbuhan perkotaan di negara berkembang, termasuk Indonesia. Persoalan utama dalam masalah transportasi umumnya menyangkut kemacetan lalu lintas, kelambatan serta polusi udara dan suara.
Dalam mengatasi permasalahan tersebut, perlu dipikirkan beberapa alternatif pemecahan. Untuk pemahaman permasalahan secara tuntas dan mendalam, maka sistem transportasi makro dapat digambarkan menjadi beberapa sub sistem dalam bentuk skema yang menunjukkan saling keterkaitan masing-masing.
Sub sistem dalam sistem transportasi makro meliputi Kebutuhan Transportasi (KT), Prasarana Transportasi (PT), Rekayasa dan Manajemen Lalu Lintas (RLL & MLL) serta Kelembagaan (K).
Telah dibahas pula, bahwa pada dasarnya masalah kemacetan timbul akibat tingkat pertumbuhan kebutuhan transportasi jauh lebih tinggi dibanding kemampuan penyediaan prasarana transportasi. Di samping itu, kenyataan menunjukkan pula adanya sejumlah prasarana yang tidak berfungsi semestinya.
Beberapa alternatif pemecahan dimungkinkan dari sisi kebutuhan transportasi, prasarana transportasi maupun rekayasa dan manajemen lalu lintas. Namun den kian, mengingat transportasi merupakan tanggung jawab bersama, maka keterlibatan pemerintah, swasta serta masyarakat mutlak diperlukan guna menanggulangi berbagai persoalan transportasi.
