1. Sistem Pelayanan
Pada dasarnya sistem pelayan taksi sudah cukup baik. Dengan sistem komunikasi radio dan telepon setiap calon penumpang relatif sangat mudah mendapatkan pelayanan. Dengan telepon, pelayanan taksi yang kita perlukan dapat diperoleh tanpa kita harus keluar rumah, atau bisa dipanggil dari tempat telepon umum. Meskipun demikian, karena jumlah armada yang belum memadai, seringkali calon penumpang harus menungggu lebih lama.
Selain itu, pelayanan dari bandara, dari stasiun
Tabel 1 Jumlah Armada Taksi di Kota Bandung
| Nama Perusahan | Mulai Usaha | Jumlah Armada | ||
|---|---|---|---|---|
| 1988 | 1990 | 1992 | ||
| 4848 | 1987 | 50 | 120 | 130 |
| KUAT | 1989 | - | 50 | 50 |
| BANDUNG RAYA | 1989 | - | 110 | 110 |
| KOTA KEMBANG | 1990 | - | 307 | 307 |
| PRIMKOPAU | 1990 | | - | 43 | 43 |
| JUMLAH | 50 | 640 | 640 | |
Sumber Sigi Lapangan Pengusaha Taksi di Bandung - Oktober, 1992
kereta api belum dapat berjalan sesuai dengan keinginan para pengguna taksi. Pelayanan dari Bandara Husen Sastranegara dimonopoli oleh perusahaan taksi PRIMKOPAU. Perusahaan taksi lain hanya diijinkan mengantarkan penumpang dari luar Bandara sedangkan dari Bandara keluar dilakukan hanya oleh taksi PRIMKOPAU dengan penerapan tarif baku Rp.6.000,- untuk pelayanan dalam kota, sedangkan keluar kota ditambah sesuai dengan kesepakatan (tawar-menawar); dalam hal demikian, argometer tidak difungsikan.
Sementara itu, dari stasiun kereta api tidak dapat dilayani taksi sebagaimana harusnya, karena taksi berargometer tidak dibenarkan menaikkan penumpang dari halaman stasiun.
Pelayanan dari halaman stasiun KA dilakukan oleh taksi liar dengan tarif tidak baku (tawar-menawar), sedangkan pelayanan oleh taksi argometer dilakukan dari luar halaman stasiun (Jl. Kebon Kawung). Rata-rata tarif hampir sama dengan pelayanan taksi dari Bandara.
Dilihat dari pihak pengguna, monopoli pelayanan seperti ini jelas sangat merugikan dan tidak menyenangkan; namun dari pihak lain hal ini memberi petunjuk adanya aspek sosekbud yang perlu segera ditangani secara sungguh-sungguh. Perlu dicatat pula, bahwa dalam pelayanan taksi di tempat-tempat tersebut di atas terlibat pula puluhan "calo" yang menawarkan jasanya. "Harga" jasa itu dipungut dari para pengemudi taksi. Meskipun yang demikian tidak menyenangkan calon penumpang maupun para pengemudi, mereka tidak dapat ber-buat apa-apa. Hal seperti ini ternyata terjadi pula di kota lain seperti Jakarta dan Yogyakarta.
2. Prospek Usaha Pertaksian
Urbanisasi atau meningkatnya jumlah penduduk perkotaan dan peningkatan taraf hidup penduduk pada umumnya merupakan salah satu faktor penentu tingkat mobilitas penduduk perkotaan. Tingkat kesejahteraan penduduk yang semakin baik akan berarti semakin besar pula porsi penghasilannya yang dialokasikan bagi kebutuhan mobilitasnya. Kemampuan membayar yang semakin tinggi membuka peluang lebih banyak untuk memilih jenis pelayanan yang ditawarkan kepadanya. Pelayanan taksi sangat tergantung pada banyaknya penduduk dan kemamuan penduduk untuk membayar jasa pelayanan taksi.
Pangsa pasar pelayanan taksi adalah penduduk berpenghasilan Rp 100.000-1.000.000 (Tabel 2).
Tabel 2 Pengguna Taksi Berdasarkan Tingkat Penghasilan Kodya Bandung 1992
| PENGHASILAN PER BULAN (Rp) | % AGIHAN PENUMPANG | |||
|---|---|---|---|---|
| SIANG | MALAM | JUMLAH | ||
| < 100.000 100.000- 249.000 250.000 - 499.000 500.000 - 1.000.000 | 9,52 19.05 38.10 23.81 | 18.18 63.64 18.18 | 12.50 34.38 31.25 15.62 | |
| > 1.000,000 | 9.52 | 0 | 6.25 | |
| JUMLAH | 100 | 100 | 100 | |
Sumber: Sigi Lapangan Oktober, 1992
Jumlah penduduk Bandung 1,6 juta jiwa, dan bila kita bicara Bandung Raya maka jangkauan pelayanan taksi tak dapat terlepas dari cakupan Bandung Raya (Kota Bandung dan sekitarnya). Jangkauan pelayanan taksi, seperti yang sudah terjadi sekarang, memang sudah sampai ke Lembang, Cimahi, Dayeuhkolot; artinya sudah menjangkau sebagian wilayah Bandung Raya.
Jumlah penduduk, tingkat kesejahteraan penduduk, luas wilayah perkotaan tampaknya merupakan faktor-faktor yang patut diperhitungkan dalam upaya menjamin kelangsungan hidup usaha pertaksian kota. Jumlah penduduk dengan tingkat kesejahteraan tertentu merupakan jaminan pangsa pasar pelayanan taksi, sedangkan luas wilayah perkotaaan, secara teknis, erat kaitannya dengan sistem tarif yang mengikuti argometer. Tidak mudah untuk menurunkan rumusan hubungan antarfaktor tersebut guna menentukan besarnya armada yang layak untuk suatu kota. Untuk memperoleh rumus umum perlu dilakukan penelitian pada beberapa kota yang dapat dituangkan dalam hubungan matematis antarfaktor.
Selain itu, ada sisi lain yang menarik untuk dikaji menyangkut masalah pertaksian kota yakni pengaruh ganda pertaksian atas ketenagakerjaan. Sektor tenaga kerja yang langsung berkaitan adalah bidang administrasi pengelolaan, pengemudi, pemeliharaan dan sektor yang tidak langsung adalah perdagangan, informasi dan lain-lain.
Tabel 3 Jumlah Tenaga Kerja Perusahaan Pertaksian di Bandung 1992
| Nama Perusahaan | Banyak tenaga kerja yang terlibat | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Adm. | Pemel | Lain2 | Supir | Jumlah | ||
| 4848 | 38 | 25 | 3 | 300 | 481 | |
| KUAT | 115 | |||||
| BANDUNG RAYA | 9 | 42 | 11 | 250 | 312 | |
| KOTA KEMBANG | 26 | 6 | 2 | 750 | 784 | |
| PRIMKOPAU | 9 | 5 | 3 | 86 | 103 | |
| JUMLAH | 1680 | |||||
Sumber:Sigi Lapangan Pengusaha Taksi di Bandung Oktober, 1992
Menyimak hal di atas, meski belum cukup kuat sebagai analisis kuantitatif, secara kualitatif dapat dikatakan bahwa prospek pertaksian di Bandung memberi harapan cerah. Persoalan yang harus dikaji lebih cermat dan terukur adalah jumlah optimum armada taksi. Apabila penelitian di atas diperluas dan diperdalam menyangkut kota lain yang sudah mengoperasikan armada taksi, dapat diharapkan diperoleh rumusan yang dapat dijadikan pedoman untuk menentukan besarnya armada taksi bagi suatu kota
