1. Home
  2. Archives
  3. Vol 14 (2003) Issue 3
  4. Articles

Peningkatan Kualitas Lingkungan Fisik Alun-Alun Kota Yogyakarta Sebagai Ruang Publik Kota

Abstract

As parts of Kraton, the Squares of Yogyakarta have been through many changes. They are no longer considered as a transition between sacred space (Kraton) and profane space (the settlement outside the beteng), but as a public space to be utilized by everyone. This can be seen with the growing functional activities that replace cultural ones. This result is inevitable deterioration of the physical quality of the squares. This paper explores the ideas of upgrading the physical quality of the squares using design criteria and components that have been commonly acknowledged in designing public space. Findings show that the deviation of uses, the declined condition of design components, conflicts within activities, and the lack of maintenance, have caused the deteriorating quality of spaces. Thus, the design of the squares should emphasize on spatial arrangement of supporting activities and the reinterpretation of the image and identity of the squares as an integral part of Kraton.Keywords: public space, physical environment, design criteria and design components, supporting activities, image and identity

I. PENDAHULUAN

Ruang publik merupakan keniscayaan bagi sebuah kota. Dalam pengertian yang paling umum, ruang publik diasosiasikan dengan taman, tempat bermain, jalan, atau ruang terbuka yang merupakan public realm. Ruang publik kemudian didefinisikan sebagai ruang atau lahan umum di mana masyarakat dapat melakukan kegiatan publik fungsional maupun kegiatan sampingan lainnya yang dapat mengikat suatu komunitas, baik itu kegiatan sehari-hari ataupun berkala (Carr, 1992). Sebagai bekas Kerajaan Mataram Islam, Kota Yogyakarta mempunyai dua buah alun-alun yang merupakan konsekuensi dari prinsip Jawa caturgatra tunggal. Kedua alun-alun ini sampai sekarang menjadi ruang publik terbesar pertama dan kedua di kota Yogyakarta (Darmosugito, 1956). Alun-alun Utara merupakan halaman depan Kraton Yogyakarta sedangkan alun-alun Selatan merupakan halaman belakang Kraton. Pada awalnya memang mereka hanya digunakan sebagai tempat melaksanakan ritual dan sebagai ruang transisi antara ruang sacred (Kraton dan beteng baluwarti) dan ruang profan berupa perkampungan rakyat diluar beteng (Darmosugito, 1956).

Seiring perkembangan kota Yogyakarta, alun-alun Utara dan Selatan banyak mengalami perubahan. Perubahan yang paling jelas terjadi di kedua alun-alun kota Yogyakarta adalah secara nilai ia berubah dari ruang yang sacred menjadi ruang yang profan (Adhisakti, 1997). Hal-hal yang tadinya melekat sebagai atribut mistis pada ruang mulai luntur, dan digantikan menjadi nilai-nilai fungsional ruang. Dari pola kegiatan terlihat bahwa terjadi keragaman aktivitas yang lebih, baik dari jenis, waktu, maupun frekuensinya. Kegiatan-kegiatan yang bersifat ritual dan berkala, mulai digantikan kegiatan keseharian yang sifatnya fungsional.

Kegiatan fungsional ini membawa konsekuensi bahwa terjadi degradasi lingkungan fisik yang cukup parah sebagai akibat perubahan-perubahan macam aktivitas di dalamnya.. Karena pada awalnya memang kedua alun-alun tidak pernah disiapkan secara khusus untuk mewadahi aktivitas-aktivitas yang ada sekarang. Penurunan kualitas ini pada akhirnya membawa dampak pada penurunan citra dan identitas alun-alun kota Yogyakarta sebagai ruang transisi antara ruang sacred dan profan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Kraton Yogyakarta.

Untuk itu, perlu dirumuskan langkah-langkah peningkatan kualitas lingkungan fisik agar alun-alun dapat berfungsi secara baik sebagai ruang publik kota. Peningkatan kualitas fisik ini ditekankan pada dua hal, yang pertama adalah pengaturan aktifivitas-aktivitas yang terjadi dalam ruang. Yang kedua adalah peningkatan citra alun-alun sebagai bagian integral dari Kraton Yogyakarta.

II. PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN PERANCANGAN: KRITERIA, KOMPONEN, DAN INDIKATOR

Kesuksesan perancangan sebuah ruang publik bergantung pada bagaimana perancangan merespon karakteristik sebuah ruang dan menilai potensi, kendala, dan limitasi ruang. Penilaian ini akan bergantung pada faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam merancang sebuah ruang publik. Maka dari itu, akan ada banyak defnisi faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam perancangan. Itu semua bergantung dari konteks dimana perancangan tersebut dilakukan.

Dalam kasus ini, digunakan kriteria perancangan, komponen perancangan, dan indikator dari kriteria untuk menilai seburuk apa kondisi lingkungan fisik di kedua alun-alun, sebelum ditentukan titik berat dan tujuan perancangannya. Kriteria dan komponen perancangan didapatkan dari studi

literatur, yang merupakan pertimbangan-pertimbangan yang sering digunakan dalam perancangan ruang publik. Kriteria adalah kondisi ideal dari sebuah hasil akhir perancangan, sementara komponen adalah hal-hal yang berkaitan langsung dengan perancangan dan harus dirancang, indikator adalah jabaran lebih detil dari kriteria perancangan. Kriteria-kriteria yang digunakan antara lain:

  • Kenyamanan. Dimaksudkan agar pengguna ruang publik merasa nyaman dalam melakukan aktivitasnya dalam ruang publik. Dengan demikian perlu dilakukan upaya pemenuhan kebutuhan pengguna ruang yang lebih bersifat psikologis dan pendukung aktivitas (Shirvani, 1985; Whyte, 1980).
  • Keselamatan. Dimaksudkan untuk melindungi pengguna ruang publik dari kemungkinan terjadinya musibah seperti kecelakaan atau konflik. (Whyte, 1980; Jacob, 1992; Carr, 1992; Gehl, 1992; Madanipour, 1996, Lynch, 1980; Banerjee, 2001).
  • 3. Keamanan. Bertujuan untuk memberikan rasa aman bagi pengguna ruang untuk melakukan aktivitasnya dalam sebuah ruang publik, dan untuk mencegah terjadinya vandalisme, dan kriminalitas dalam ruang (Mahyar, 1999).
  • 4. Aksesibilitas. Dimaksudkan untuk memberikan kemudahan pencapaian ke suatu ruang tanpa adanya hambatan, ganguan, ataupun halangan. Ini juga menyangkut pada perasaan kemudahan orientasi dalam sebuah ruang, legibilitas (pemaknaan) ruang, dan permeabilitas dalam ruang. (Whyte, 1980; Jacob, 1992; Carr, 1992; Gehl, 1992)
  • 5. Daya tarik. Daya tarik (attractiveness) dalam sebuah ruang publik berkaitan dengan faktor estetika. Namun bukan berarti ruang tersebut dipenuhi oleh elemen estetika yang cenderung mahal, tetapi lebih kepada untuk memberikan ciri sebuah ruang. Ini akan berkaitan dengan sense of place dari ruang tersebut yang akan menciptakan identitas dan citra ruang pada pengguna. Sehingga pada akhirnya menumbuhkan rasa memiliki ruang. selain itu daya tarik juga akan bergantung pada aktivitas yang terjadi di dalamnya (Whyte, 1980; Jacob, 1992; Carr, 1992; Gehl, 1992; Madanipour, 1996, Lynch, 1980; Banerjee,2001). Aktivitas itu selain aktivitas pengguna, juga adanya aktivitas ekonomi seperti pedagang kaki lima. Keberadaan aktivitas ekonomi dalam ruang publik harus dipertimbangkan sebab jika tidak, akan perkembangannya akan menjadi tidak terkendali dan merusak baik fisik, maupun aktivitas lain yang ada dalam ruang tersebut.

Hubungan antara kriteria dan komponen perancangan dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 1. Komponen Dan Kriteria Dalam Perancangan Alun-Alun

KomponenKeselamatanKeamananKenyamananDaya TarikAksesibilitas
Vegetasi0O0
Penutup permukaan0000
Penerangan ruang0000
Tempat duduk00000
Tempat sampah00000
Telepon umum0٥000
Pedagang kaki lima00.0
WC umum000
Tanda dan rambu000
Aktivitas aktif0000
Aktivitas pasif0000
Jalur pejalan00000
Tempat parkir00
Ramps dan tangga000
Pembatas ruang00000

Sumber: Whyte, 1980; Jacob, 1992; Carr, 1992; Gehl, 1992; Madanipour, 1996; Lynch, 1980; Banerjee, 2001; Mahyar, 1999

Tabél 2. Kriteria dan Indikator Perancangan Alun-alun

KriteriaIndikator
AksesibilitasMudah dimasuki secara fisik (memiliki aksesibilitas fisik)
Mudah terlihat secara visual (memiliki aksesibilitas visual)
Memiliki aksesibilitas psikologis (terbuka terhadap semua jenis pengguna)
KeselamatanBebas dari benda-benda membahayakan dan lingkungan yang mengancam keselamatan
KeamananTidak ada aktivitas yang membahayakan seperti kejahatan, vandalisme
Keterjangkauan fasilitas umum pelayan darurat (seperti dekat dengan pos polisi, pemadam kebakaran, dan sebagainya)
KenyamananAdanya kenyamanan fisik (tidak terganggu dalam beraktivitas, kebebasan dalam penggunaan ruang)
Kenyamanan psikologis (rasa aman dari lingkungan sekitar, terlindung dari iklim yang mengganggu)
Daya tarikMemiliki elemen-elemen yang menarik secara visual
Memiliki aktivitas-aktiftas yang dapat menarik orang untuk
secara kontinu datang
Memiliki citra dan identitas yang spesifik

Sumber: Whyte, 1980; Jacob, 1992; Carr, 1992; Gehl, 1992; Madanipour, 1996; Lynch, 1980; Banerjee, 2001; Mahyar, 1999

III. DESKRIPSI KONDISI LINGKUNGAN FISIK ALUN-ALUN KOTA YOGYAKARTA

Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan terletak dalam kawasan konservasi yang dikenal dengan nama kawasan Jeron Beteng. Kawasan ini merupakan kawasan Keraton yang dibatasi dengan pagar tembok (beteng) setinggi 2,5m. Secara administratif, kawasan Jeron Beteng terletak dalam

kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta. Kecamatan ini terbagi menjadi 3 kelurahan yaitu Kelurahan Kadipaten, Kelurahan Panembahan, dan Kelurahan Patehan. Batas wilayah kecamatan Kraton adalah Kecamatan Gondomanan di bagian utara, di bagian timur berbatasan dengan Kecamatan Gondomanan dan Kecamatan Mergangsan, bagian barat dengan Kecamatan Ngampilan, dan bagian selatan berbatasan dengan Kecamatan Mantrijeron. Kedua alun-alun Kota Yogyakarta terletak di Kecamatan Kraton.

Dalam Adhisakti (1997), dijelaskan bahwa Kawasan Jeron Beteng merupakan kawasan pelestarian (konservasi) dengan inti pelestarian adalah sumbu filosofis Kota Yogyakarta. Bangunan Kraton dan sekitarnya dijadikan landmark (tetenger) kota dan sebagai tempat pariwisata pasif. Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan digunakan sebagai tempat pariwisata aktif dan pasif. Sedangkan kawasan lain dalam Jeron Beteng merupakan kawasan penyangga yang dapat digunakan sebagai kegiatan pariwisata aktif dan pasif. Dikatakan bahwa bangunan Kraton tidak boleh dan memberikan jarak minimal setinggi komponen yang dilestarikan dan berujud daerah bebas pandang yang mengelilingi tetenger. Pada sumbu Krapyak-Kraton-Tugu tidak boleh diubah geometri dan bebas pandangan kiri-kanan jalan, melalui pembentukan ruang jalan dengan perbandingan lebar jalan dengan tinggi bangunan adalah 2:1 atau tidak melebihi sudut 45° dari sumbu jalan ke arah samping. Alun-alun Utara dan Selatan tidak boleh diubah geometri, keterbukaan ruang, dan tata hijaunya.

3.1 Alun-Alun Utara

Alun-alun Utara merupakan ruang publik terbesar di Yogyakarta. Luasnya kurang lebih 90.000m2, berbentuk bujur sangkar dengan panjang sisinya kurang lebih 300m. Di tengah alun-alun terdapat dua buah beringan yang dikelilingi pagar tembok. Kedua tembok itu dinamai Kyai Wijayandaru (di sebelah timur) dan Kyai Dewandaru (di sebelah barat). Pohon beringin ini konon mempunyai makna religius dan sejarah yang kental dan telah ada semenjak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Di sekeliling alun-alun utara terdapat 19 paviliun tertutup yang disebut pekapalan yang digunakan sebagai tempat peristirahatan dan tempat menyimpan kuda bagi para bangsawan jaman dulu yang akan sowan ke Kraton. Kini bangunan pekapalan telah banyak yang berubah fungsi seperti menjadi museum Sonobudoyo, PDHI, dan beberapa lainnya kosong tak berpenghuni. Di ujung selatan alun-alun terdapat tratag pagelaran yang kini difungsikan sebagai tempat parkir.

Pengguna alun-alun Utara sangat bervariasi dari segi umur, jenis kelamin, asal, dan intensi aktivitasnya. Tercatat kebanyakan pengguna merupakan orang dewasa dan laki-laki (77.4%), dan bertempat tinggal dalam kota Yogyakarta (70%) (Survai Lapangan, 2003). Dapat disimpulkan bahwa ruang

publik dengan karakteristik seperti ini merupakan ruang publik dengan skala layanan kota dengan aktivitas utamanya adalah aktivitas aktif.

Pada saat ini, aktivitas yang ada di alun-alun Utara lebih beragam, karena fungsinya bukan lagi dimonopoli oleh pihak Kraton, tetapi juga oleh seluruh warga kota Yogyakarta. Kegiatan sehari-hari alun-alun adalah olah raga, bermain, tempat berjualan pedagang kaki lima, dan tempat parkir bagi pengunjung Kraton. Pada waktu-waktu tertentu, seperti yang disebutkan di atas, baru digunakan untuk kegiatan seremonial. Satu bulan sebelum sekaten, pada malam hari alun-alun utara digunakan sebagai tempat pasar malam sekaten. Pada malam-malam inilah penggunaan alun-alun sering melebihi kapasitas tampungnya sehingga terlihat sesak dan jalan di sekitarnya menjadi macet.

3.2 Alun-Alun Selatan

Alun-alun selatan pada mulanya digunakan sebagai tempat latihan baris prajurit kraton dan latihan perang. Latihan baris biasanya dilakukan sehari sebelum Garebeg. Sampai sekarang aktivitas ini masih dilakukan. Aktivitas budaya lainnya adalah sebagai tempat sowan abdi dalem saat bulan puasa. Pada awalnya kegiatan ini dilakukan setiap malam setelah likuran<sup>1</sup>, namun yang sekarang masih terjadi hanya pada tanggal 21 bulan puasa saja.

Beberapa aktivitas lain yang pernah diadakan di alun-alun selatan yang kini tidak ada lagi antara lain sebagai tempat latihan memanah baik untuk prajurit atau keluarga kraton. Alun-alun selatan juga pernah dipakai sebagai tempat adu harimau melawan kerbau. Atraksi ini dianggap penting pada awal kraton berdiri, dan merupakan salah satu upacara adat tertinggi kraton.

Salah satu atraksi menarik yang ada di alun-alun selatan adalah masangin. Masangin adalah aktivitas melewati dua buah pohon beringin di tengah alun-alun selatan dengan mata tertutup. Menurut kepercayaan, hanya orang dengan jiwa bersih saja yang dapat melewati dua pohon tersebut. Dan jika seseorang dapat melewatinya maka apapun keinginannya akan terkabul. Atraksi lain adalah gajah di sebelah timur alun-alun. Nonton gajah pada sore hari biasanya dilakukan oleh anak-anak kecil dan ditemani orang tuanya. Pada waktu-waktu tertentu, gajah tersebut dikeluarkan untuk jalan-jalan, dan pengunjung boleh menaikinya berkeliling alun-alun dengan membayar sejumlah uang.

Pada siang hari, aktivitas yang paling menonjol adalah adanya penjual barang klithikan (barang-barang bekas) terutama barang-barang onderdil otomotif yang mengambil tempat di jalur pejalan yang mengelilingi alun-alun selatan. Pada malam hari, penjual barang klithikan tersebut digantikan oleh pedagang makanan lesehan yang menjual jagung bakar, gudeg, dan angkringan.

&lt;sup>1</sup> Setelah hari ke duapuluh satu pada bulan puasa, di Jawa lazim disebut likuran, atau sepuluh hari terakhir.

3.3 Kondisi Komponen Perancangan

Secara umum dapat dikatakan bahwa kondisi komponen-komponen perancangan di alun-alun utara dan selatan Yogyakarta tidak mampu memenuhi kriteria perancangan yang ada. Tabel 3 adalah deskripsi umum dari kondisi komponen-komponen perancangan di tempat observasi.

Dari observasi terhadap komponen, kriteria dan perbandingan terhadap indikator, dapat dilihat bahwa persoalan paling menonjol yang terjadi pada alun-alun kota Yogyakarta adalah penurunan kualitas lingkungan fisiknya. Penurunan kualitas lingkungan fisik lingkungan alun-alun disebabkan antara lain oleh:

  • 1. Penyalahgunaan ruang, seperti penggunaan jalur pejalan untuk PKL, mendirikan lapangan bola di tengah alun-alun, dan sebagainya.
  • 2. Penurunan kondisi komponen perancangan, terutama disebabkan karena memang alun-alun kota Yogyakarta tidak pernah disiapkan sebagai ruang publik serba guna dengan kecenderungan aktivitas harian di dalamya.
  • 3. Konflik antar aktivitas dalam ruang, terutama antara aktivitas aktif dan pasif, dan antara komponen perancangan (seperti PKL) dengan aktivitas, yang disebabkan karena kurang tertatanya komponenkomponen perancangan.
  • 4. Kurangnya perawatan terhadap komponen perancangan yang telah ada, seperti lampu jalan yang rusak, tempat sampah yang tidak bisa dipakai, dan sebagainya.

Tabel 3. Deskripsi Kondisi Komponen Perancangan Secara Umum di Kedua Alun-alun

Komponen
Perancangan
Kriteria
Terkait
Deskripsi Kondisi Komponen
VegetasiKenyamananKurangnya vegetasi peneduh pada jalur-jalur
pejalan Tidak ada tempat beristirahat yang teduh ketika
melakukan aktivitas
Daya tarikTidak ada perawatan yang baik kepada vegetasi
yang sudah ada
Penutup
permukaan
KeselamatanPenutup permukaan (rumput ataupun konblok)
tidak terawat dan sudah rusak
Penerangan
ruang
Keamanan
  • tidak ada lampu jalan pada jalur pejalan, dan
    tempat dimana aktivitas dilakukan dalam ruang.
  • tidak cukupnya penerangan untuk melakukan
    aktivitas pada malam hari baik dari tingkat
    terang maupun jumlahnya
Kenyamanan
  • perletakan lampu jalan sering tidak tepat, bukan
    dimana orang melakukan aktivitasnya
  • banyak lampu jalan yang rusak dan tidak
    berfungsi
daya tariktidak ada desain yang spesifik pada lampu jalan
yang menunjukkan citra kawasan
Komponen
Perancangan
Kriteria
Terkait
Deskripsi Kondisi Komponen
Tempat dudukKenyamananbaik pada jalur pejalan maupun ruang terbuka
(square) tidak terdapat tempat duduk sebagai
tempat istirahat
Tempat sampahKenyamananperletakan tempat sampah tidak pada titik-titik
dimana orang melakukan aktivitas.
Daya tariktidak ada desain yang spesifik pada tempat
sampah yang menunjukkan citra kawasan
Telepon umumKenyamanantidak ada telepon umum yang disediakan pada
ruang-ruang publik di kawasan
·Keamanantidak adanya aturan yang jelas membuat
pedagang seenaknya mengkapling lahan
sebagai tempat berjualan pedagang kaki lima tidak menempati ruang yang
telah disediakan oleh pemerintah kota
Pedagang kaki
lima
Keselamatan
  • pedagang kaki lima menempati jalur pejalan dan
    terkadang pada badan jalan
  • letak PKL di jalur pejalan membuat pejalan
    harus berjalan di badan jalan.
Daya tarikkios-kios kurang tertata dan terkesan kotor.
KenyamananBanyak PKL melakukan ekstensi tempat
berjualan pada jalru sirkulasi internal ruang,
seperti pada pasar Ngasem.
WC umumKenyamanantidak terdapat WC umum terutama pada alun-
alun utara dan pasar Ngasem WC umum di alun-alun selatan tidak berfungsi
Tanda dan
Rambu
Daya tariktidak terdapat peta objek wisata yang dapat
dikunjungi di Jeron Beteng reklame dan papan informasi tidak tertata dan
terkesan semrawut
Kenyamananpada beberapa ruang, jalur pededstrian terasa
sangat sempit dan tidak memadai untuk dilalui adanya konflik antara pejalan dan pedagang
kaki lima
Jalur pejalankeselamatan
  • material pada perkerasan jalur pejalan rusak
    dan tidak terawat
  • adanya on-street parking membuat jalan
    menjadi macet
  • karena PKL, pejalan terpaksa berjalan di badan
    jalan
Jaiui pejaianAksesibilitastidak adanya elemen aksesibilitas (ramp, tangga, dan guiding block) yang disediakan untuk orang cacat pada beberapa bagian jalur pejalan dan alunalun, perbedaan ketinggian perkerasan terlalu besar, sehingga menyusahkan orang untuk melaluinya
Daya tarikmaterial pembentuk ketinggian (tanah, penutup
permukaan, dan perkerasan) tidak terawat
dengan baik
Komponen
Perancangan
Kriteria
Terkait
Deskripsi Kondisi Komponen
Ramp dan
tangga
Aksesibilitastidak terdapat tangga, ramps, atau undakan
pada ruang-ruang publik terutama pada bagian
yang memiliki perbedaan ketinggian
Pembatas ruangKeselatamantidak terdapat pembatas fisik antara jalur pejalan
dan badan jalan
Kenyamanantidak terdapat pembatas visual atau psikologis
antara satu aktivitas dan aktivitas lain
Tempat parkirKeamanan• tidak tersedia tempat parkir khusus di alun-alun
Keselamatanterdapat parkir on-street dapat membahayakan pejalan
Kenyamananterdapat kendraan yang diparkir di jalur pejalan yan dapat mengganggu kenyamanan.

Sumber: Survai Lapangan, 2003

Pada saat observasi dilakukan, karena kondisi komponen-komponen perancangan yang buruk, maka penggunaan ruang di alun-alun kota Yogyakarta tidak efektif (Survai Lapangan, 2003). Banyak bagian ruang yang ditinggalkan, tidak terawat, dan digunakan sebagai tempat berjualan PKL. Ruang-ruang di kedua alun-alun terbagi menjadi sub-sub ruang berdasarkan kecenderungan pola-pola aktivitas hariannya. Pola-pola ini terbagi atas sub ruang aktivitas aktif, sub ruang aktivitas pasif, dan sub ruang aktivitas aktif dan pasif yang merupakan ruang transisi diantara keduanya. Sub ruang inilah yang digunakan sebagai tempat parkir dan pedagang kaki lima.

Penurunan kualitas lingkungan fisik inilah yang akhirnya menyebabkan pudarnya citra dan identitas alun-alun kota Yogyakarta sebagai bagian tak terpisahkan dari Kraton Yogyakarta. Penurunan citra dan identitas alun-alun ini dirasakan oleh pengguna yang memandang alun-alun menjadi tempat yang tidak berkarakter Kraton Yogyakarta dan kehilangan elemen yang mampu menarik wisatawan untuk datang ke alun-alun Yogyakarta. Jika hal ini dibiarkan, dikuatirkan ini akan pula menyebabkan penurunan citra Kraton Yogyakarta, karena secara tidak langsung kedua alun-alun merupakan ruang transisi antara Kraton dan bagian kota lainnya.

IV. PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN FISIK ALUN-ALUN KOTA YOGYAKARTA

Telah diketahui bahwa sebagai ruang publik, persoalan umum yang terjadi di alun-alun kota Yogyakarta adalah menurunnya kualitas lingkungan fisik pada kedua alun-alun. Untuk itu, perlu dirumuskan langkah-langkah peningkatan kualitas lingkungan fisik agar alun-alun dapat berfungsi secara baik sebagai ruang publik kota. Peningkatan kualitas fisik ini ditekankan pada dua hal:

1. mengatur aktivitas-aktivitas yang terjadi dalam ruang dan mengatur sistem keterhubungan (linkage) antara alun-alun utara dan selatan.

meningkatkan kondisi komponen-komponen perancangan dengan menghadirkan kembali citra dan identitas Alun-alun sebagai bagian dari Kraton.

4.1 Pengaturan Aktivitas-aktivitas yang Dikembangkan di Alun-alun Kota Yogyakarta

Selain pengembangan aktivitas fungsional harian, aktivitas yang dikembangkan dalam ruang harus mencerminkan kekhasan lokal Kraton Yogyakarta. Pengembangan aktivitas yang dilakukan antara lain berupa:

  • 1. menjaga aktivitas ritual Kraton sebagai atraksi budaya,
  • 2. mengembangkan aktivitas-aktivitas pendukung atraksi budaya,
  • 3. mengembangkan aktivitas-aktivitas fungsional yang sifatnya harian,
  • 4. mengatur aktivitas fungsional harian dengan aktivitas budaya sehingga tidak terjadi konflik,
  • 5. mengatur antar aktivitas fungsional harian (terutama aktivitas aktif dan pasif) sehingga tidak terjadi konflik,
  • 6. mengembangkan pendukung-pendukung aktivitas (komponen-komponen perancangan) untuk menciptakan identitas dan citra kawasan Alun-alun utara dan selatan,
  • 7. serta mengatur densitas masing-masing sub-sub ruang di alun-alun agar dapat digunakan secara efektif, terutama sub ruang yang digunakan oleh PKL, sehingga pada perkembangannya nanti tidak terjadi penambahan PKL secara terus-menerus akan kembali meimbulkan konflik di alun-alun Yogyakarta.

Tabel 4. Beberapa Contoh Aktivitas yang Mungkin Dikembangkan di Alun-alun Kota Yogyakarta

. AktivitasAlun-alun UtaraAlun-alun Selatan
Aktivitas
Budaya
Berkala: Sekaten, Garebeg
sawal, garabeg mulud, Jamasan
Pusaka
Harian: masangin
Berkala: jamasan pusaka,
latihan prajurit Kraton
Aktivitas
Fungsional
Harian: olah raga, bermain, jalan-
jalan, duduk-duduk, jual-beli
suvenir
Berkala: syukuran, olah raga
Insidentil: panggung hiburan,
pasar malam, demonstrasi
Harian: olah raga, bermain,
jalan-jalan, duduk-duduk, jual-
beli suvenir
Berkala: syukuran, olah raga
Insidentil: panggung hiburan,
pasar malam.

Untuk menciptakan integrasi aktivitas antara Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan, diperlukan sistem tautan sirkulasi (linkage) yang baik. Ini bisa dilakukan dengan menciptakan jejalur wisata dengan mempertimbangkan jarak jangkau pejalan kaki, serta kualitas visual yang ingin dihadirkan. Aktivitas-aktivitas yang dapat dikembangkan sehubungan dengan sistem tautan ini antara lain:

  • heritage trail, jejalur wisata yang dikembangkan dengan tujuan memperkenalkan pusaka-pusaka budaya. Alun-alun utara bisa digunakan sebagai tempat mulainya dan alun-alun selatan dapat digunakan sebagai tempat berakhirnya trail,
  • 2. pengadaan sistem angkutan tradisional (andhong) yang menghubungkan alun-alun utara dan selatan,
  • 3. pemberian informasi mengenai aktivitas budaya dan harian yang dianggap mampu menarik pengunjung.

4.2 Menghadirkan Kembali Citra dan Identitas Alun-alun Sebagai Bagian dari Kraton Yogyakarta

Penghadiran citra dan identitas alun-alun sebagai bagian dari Kraton Yogyakarta dilakukan dalam 3 lingkup/tingkat: tingkat kawasan, tingkat tapak dan tingkat komponen perancangan. Dalam tingkat kawasan, penghadiran citra dan identitas ini tidak terlepas dari Kraton sebagai landmark utama kawasan Jeron Beteng dan kota Yogyakarta. Dalam tingkat ini, alun-alun merupakan pintu gerbang utara dan selatan Kraton Yogyakarta (makna religio-kultural). Sehingga pengembangan alun-alun kota Yogyakarta tidak boleh mengganggu keutuhan makna religio-budaya yang telah ada. Langkahlangkah yang diambil untuk mewujudkan hal ini antara lain:

  • 1. menjaga keutuhan sumbu kosmologis utara-selatan dalam kawasan,
  • pengembangan perabot tapak yang mampu menunjukkan identitas Kraton, Yogyakarta di seluruh kawasan Jeron Beteng, terutama pada tempattempat atraksi wisata seperti alun-alun utara, alun-alun selatan, pasar ngasem, dan tamansari,
  • 3. meningkatkan aksesibilitas antara alun-alun utara, Kraton, dan alun-alun selatan,
  • 4. pengembangan aktivitas-aktivitas budaya secara berkala dan kontinu,
  • pemanfaatan kembali bangunan-bangunan di sekitar alun-alun utara dan selatan sebagai penunjang aktivitas budaya, seperti museum, galeri, dan sebagainya.

Dalam tingkat tapak, penghadiran citra dan identitas dilakukan untuk memberikan impresi bahwa alun-alun kota Yogyakarta merupakan ruang publik tradisional yang mempunyai nilai sejarah dan mempunyai beragam aktivitas budaya yang terjadi dalam ruang. Langkah-langkah yang diambil untuk mewujudkan hal ini di alun-alun utara antara lain:

  • pengembangan komponen perancangan alun-alun kota Yogyakarta dengan memperhatikan desain, bentuk, jenis, orientasi dan ornamentasi Kraton Yogyakarta sebagai preseden rancangan,
  • 2. peningkatan aksesibilitas di alun-alun dengan mengelompokkan tempat parkir, serta perbaikan sistem sirkulasi dan pejalan,
  • 3. pengembangan kegiatan PKL sebagai pendukung aktivitas yang terjadi dalam ruang,
4. pemberian informasi mengenai sejarah dan perkembangan alun-alun kota Yogyakarta dan aktivitas-aktivitas yang pernah terjadi di dalamnya.

Dalam tingkat komponen perancangan, secara umum komponen-komponen perancangan yang dikembangkan dalam alun-alun kota Yogyakarta harus mampu mendukung citra dan identitas yang ingin ditampilkan dalam tingkat tapak maupun kawasan. Secara spesifik, pengaturan mengenai komponen perancangan akan dibahas lebih lanjut di dalam prinsip perancangan alun-alun. Langkah-langkah yang bisa dilakukan antara lain:

  • 1. menanami kembali vegetasi-vegetasi yang mempunyai nilai-nilai budaya di alun-alun utara dan selatan (pohon beringin di alun-alun utara dan pohon gayam dan asem di alun-alun selatan),
  • 2. mengembangkan ornamentasi khas Yogyakarta dalam desain penerangan ruang, bangku, pagar, dan sebagainya,
  • 3. mengembangkan ornamentasi tersebut ke dalam pola-pola penutup permukaan yang berupa perkerasan/konblok,
  • 4. meletakkan penanda dalam ruang yang memberikan informasi mengenai aktivitas budaya yang terjadi pada waktu lalu dan prosesinya.

V. KESIMPULAN

Alun-alun kota Yogyakarta merupakan ruang publik serbaguna dengan ragam dan intensitas aktivitas yang cukup tinggi, terutama aktivitas fungsional yang sifatnya harian. Aktivitas inilah yang akan banyak berlangsung di alun-alun utara dan alun-alun selatan. Jika dibiarkan berkembang tanpa arah, maka dapat dimungkinkan terjadi konflik antaraktivitas yang bertambah kompleks, dan bukan tidak mungkin akan terjadi konflik antara aktivitas budaya yang sifatnya ritual (untuk itulah awalnya alun-alun kota Yogyakarta dibuat) dengan aktivitas harian yang sifatnya fungsional.

Untuk itu, perlu dirumuskan langkah-langkah peningkatan kualitas lingkungan fisik agar alun-alun dapat berfungsi secara baik sebagai ruang publik kota. Peningkatan kualitas fisik ini ditekankan pada dua hal. Yang pertama adalah mengatur aktivitas-aktivitas yang terjadi dalam ruang dan mengatur sistem keterhubungan (linkage) antara Alun-alun Utara dan Selatan. Yang kedua adalah meningkatkan kondisi komponen-komponen perancangan dengan menghadirkan kembali citra dan identitas Alun-alun sebagai bagian dari Kraton.

Pengaturan aktivitas akan meliputi pengembangan aktivitas fungsional harian dan aktivitas budaya, dan pengaturan agar keduanya tidak menimbulkan konflik dalam ruang. Pengaturan ini juga dilakukan dengan menciptakan integrasi antara Alun-alun Utara dan Selatan. Sementara Penghadiran kembali citra dan identitas Kraton dilakukan dalam tiga tingkat: kawasan, tapak, komponen perancangan. Pada tingkat kawasan, Alun-alun

dikembangkan sebagai ruang transisi dan pintu masuk ke Kraton. Pada tingkat tapak, alun-alun dikembangkan sebagai ruang publik tradisional yang mempunyai nilai sejarah dan aktivitas budaya yang sangat beragam. Pada tingkat komponen perancangan, komponen-komponen yang dirancang harus mampu mendukung citra dan identitas yang ingin ditampilkan dalam tingkat tapak dan kawasan.

VI. DAFTAR PUSTAKA

  • Adhisakti, Laretna, T. 1997. A Study on the Conservation Planning of Yogyakarta Historict-tourist City Based on Urban Space Heritage Conception. Kyoto: Desertasi Graduate School of Global Environmental Engineering Kyoto University.
  • Arefi, Mahyar. 1999. Non-place and Placelessness as Naratives Loss: rethinking the Notion of Place. Journal of Urban Design, Vol.4 no.2 June 1999. Carfax Publishing. Nottingham.
  • Banerjee, Tridib. 2001. The Future of Public Space: Beyond Invented Streets and Reinvented Places. Journal of the American Planning Association, Vol.67 No.1. American Planning Association. Chicago.
  • Carr, Stephen, et.al. 1992. Public Space. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Darmosugito. 1956. Kota Yogyakarta 200 Tahun. Yogyakarta: Panitia Peringatan 200 Tahun Kota Yogyakarta.
  • Gehl, Jan. 1992. Public Space Public Life. Copenhagen: The Danish Architectural Press.
  • Hester, Randolp T. 1975. Neighborhood Space. Stroudsburg: Dowden, Hutchinson, and Ross.
  • Jacobs, Jane. 1961. The Death and Life of Great American Cities. New York: Random House.
  • Lang, John. 1994. Urban Design: The American Experience. New York: Van Nostrand Reinhold Company.
  • Lynch, Kevin. 1960. The Image of the City. Cambridge: The MIT Press.
  • Lynch, Kevin. 1980. Good City Form. Cambridge: MIT Press.
  • Madanipour, Ali. 1996. Design of Urban Space. New York: John Wiley & Sons.
  • Moughtin, Cliff et.al. 1999. Urban Design: Method and Techniques. Oxford: Butterworth-Heinemann.
  • Shirvani, Hamid, 1985. The Urban Design Process. New York: Van Nostrand Reinhold Company.
  • Surjomihardjo, A. 2000. Sejarah Perkembangan Sosial Kota Yogvakarta. Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia.
  • Whyte, William H. 1980. The Social Life of Small Urban Spaces. Washington D.C: The Conservation Foundation
0

Gambar 1. Letak Alun-alun Kota Yogyakarta

0

Gambar 2. Deskripsi Fisik Alun-alun Utara

0

Gambar 3. Deskripsi Fisik Alun-alun Selatan

References

  1. Adhisakti, Laretna, T. 1997. A Study on the Conservation Planning of Yogyakarta Historict-tourist City Based on Urban Space Heritage Conception. Kyoto: Desertasi Graduate School of Global Environmental Engineering Kyoto University.
  2. Arefi, Mahyar. 1999. Non-place and Placelessness as Naratives Loss: rethinking the Nation of Place. Journal of Urban Design, Vol.4 no.2 June 1999.Carfax Publishing. Nottingham.
  3. Banerjee, Tridib. 2001. The Future of Public Space: Beyond Invented Streets and Reinvented Places. Journal of the American Planning Association, Vol.67 No.1. American Planning Associations. Chicago.
  4. Carr, Stephen, et.al. 1992. Public Space. Cambridge: Cambridge University Press.
  5. Darmosugito. 1956. Kota Yogyakarta 200 Tahun. Yogyakarta: Panitia Peringatan 200 Tahun Kota Yogyakarta.
  6. Gehl, Jan. 1992. Public Space - Public Life. Copenhagen: The Danish Architectural Press.
  7. Hester, Randolp T. 1975. Neighborhood Space. Stroudsburg: Dowden, Hutchinson. And Ross.
  8. Jacobs, Jane. 1961. The Death and Life of Great American Cities. New York: Random House.
  9. Lang, John. 1994. Urban Design: The American Experience. New York: Van Nostrand Reinhold Company.
  10. Lynch, Kevin. 1960. The Image of the City. Cambridge: The MIT Press.
  11. Lynch, Kevin. 1980. Good City Form. Cambridge: MIT Press.
  12. Madanipour, Ali. 1996. Design of Urban Space. New York: John Wiley & Sons.
  13. Moughtin. Cliff et.al. 1999. Urban Design: Method and Techniques. Oxford: Butterworth-Heinemann.
  14. Shirvani, Hamid, 1985. The Urban Design Process. New York: Van Nostrand Reinhold Company.
  15. Surjomihardjo, A. 2000. Sejarah Perkembangan Sosial Kota Yogyakarta. Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia.
  16. Whyte, William H. 1980. The Social Life of Small Urban Spaces. Washington D.C: The Conservation Foundation