(1) Kontradiksi antara "domination" dan "appropriation"
Yang dimaksud domination, dalam konsepsi Lefebvre adalah suatu situasi ketika suatu teknologi atau suatu komoditas yang mengambil tempat dalam suatu ruang telah menjadi penyebab terjadinya suatu destruksi terhadap alam, baik alam sebagai source (use value) maupun alam sebagai resource (exchange value). Alam, dalam konsepsi ruang Lefebvre memiliki nilai appropriation (keselarasan). Dalam konteks Indonesia, keselarasan sebagai nilai guna dapat kita temui pada konsepsi sasi dan sasisen yang hidup sebagai kearifan lokal pada masyarakat kepulauan di Indonesia Timur. Dalam konsepsi sasi dan sasisen, pengambilan sumberdaya alam diatur secara tidak tertulis dalam konsensus keluhuran moral, yakni: tidak boleh mengambil melebihi yang dibutuhkan dan tidak boleh merusak regenerasi alam (Dahrif, 2003).
Kebalikan dari keselarasan adalah keserakahan, yang digambarkan oleh Lefebvre sebagai terjadinya lompatan besar dari space of consumption menjadi consumption of space. Keserakahan ini (consumption of space), telah menjadi
pemicu terjadinya kontradiksi-kontradiksi dalam konteks ruang perkotaan. Spekulasi lahan dalam bentuknya penguasaan lahan-lahan kosong yang puluhan hektar luasnya serta membiarkannya dalam waktu yang lama, pada akhirnya telah menimbulkan konflik-konflik (baik horisontal maupun vertikal).
(2) Kontradiksi antara "perceived space" dan "conceived space"
Perceived space, dalam penjelasan yang sangat rumit oleh Lefebvre, dapat kita pahami sebagai apa yang disebutnya sebagai spatial practice, suatu terminologi untuk menjelaskan ruang perkotaan sebagai suatu realitas (urban reality), yang didalamnya terdapat space, route, serta networks. Barangkali dalam terminologi sederhana dapat kita analogikan sebagai "bentukan ruang". Sedangkan conceived space yang merupakan dimensi verbal dari ruang perkotaan dapat kita pahami sebagai "konsep ruang" yang menjadi domain para perencana kota dan arsitek.
Kontradiksi antara perceived space dan conceived space dalam pemikiran Lefebvre nampaknya dapat kita pahami sebagai situasi dimana terjadi penyimpangan atau ketidak sesuaian antara pembangunan kota dan rencana kota, atau antara pertumbuhan ruang perkotaan dengan desain ruang perkotaan. Kontradiksi semacam ini barangkali mirip dengan observasi dari Simmie (2001) mengenai apa yang disebutnya sebagai kontradiksi antara market dan plans. Kontradiksi dapat terjadi dalam bentuk atau format 2 dimensi (land use conflicts), 3 dimensi (morphology, syncronic-diacronic), maupun 4 dimensi (plan-space-time).
(3) Kontradiksi antara "representational space" dan "representations of space"
Representational space, menurut Lefebvre merupakan ekspresi keruangan dari perilaku dan kehidupan users atau inhabitants atau pelaku ruang. Suatu ruang hidup yang sifatnya non-verbal, nyata dan dialami. Merupakan ruang keseharian manusia pelaku, penghuni, atau pemilik ruang. Merupakan suatu ruang sosial (social space), namun juga ruang fisik (physical space) tempat benda-benda atau artefak diletakkan sebagai konteks, sebagai hasil dari suatu kegiatan sosial (social product).
Representations of space disisi lain, dimaksudkan oleh Lefebvre sebagai suatu gambaran verbal mengenai ruang, suatu space of reference yang merupakan domain kerja para arsitek dan planner. Dalam konsepsi yang lain, Lefebvre mengkaitkan representations of space dengan apa yang disebutnya sebagai the illusion of transparency, yakni suatu media pengarah dan pengendali sekaligus perpindahan antara mental activity (invention) ke social activity (realization).
Dengan terminologi yang lebih teknis, penjelasan rumit dari Lefebvre mengenai apa yang disebutnya sebagai representations of space ini barangkali dapat disederhanakan menjadi design dan plan.
Kontradiksi yang terjadi adalah ketika didapati situasi dimana representational space direduksi, dimanipulasi, atau bahkan dinegasi oleh representations of space. Dengan perkataan lain, konflik akan terjadi ketika perilaku dan kehidupan keseharian manusia dalam suatu ruang tidak diakomodasi oleh suatu kerja desain atau perencanaan, sehingga manusia pelaku, penghuni, atau pemilik ruang akan menjadi hilang atau terasing di ruangnya sendiri. Atau sebaliknya, konflik juga dapat terjadi, ketika didapati suatu kerja desain atau perencanaan secara deterministik menghapuskan realitas sosial (social activity) yang telah menjadi eksistensi sekaligus sejarah dari suatu komunitas. Dengan perkataan lain, mereka digusur dan disingkirkan dari ruang hidup (social space) dimana mereka dari generasi ke generasi telah merajut kehidupannya.
(4) Kontradiksi antara "fixed capital" dan "variable capital"
Dalam pandangan Lefebvre, ruang perkotaan diproduksi untuk menjadi generator dan sekaligus pelestari nilai-nilai surplus kapital. Ruang perkotaan telah dirombak dan digeser dari use value (alam) menjadi exchange value (faktor produksi). Ruang perkotaan kemudian menjadi suatu urban fabric, yang memiliki multi-jaringan komunikasi dan multi-jaringan pertukaran nilai. Kota kemudian menjadi apa yang disebut oleh Lefebvre sebagai fixed-capital dalam ujudnya airport, terminal, station, transportasi, bank, dan kantor pemerintah. Fixed-capital ini kemudian menjadi propeller atau penggerak kehidupan kota, menjadikan kota sebagai sebuah mesin yang mewadahi suatu kelompok sosial (social groups), atau Lefebvre menyebutnya sebagai automaton. Setiap kota, pada tahapan perkembangannya selalu memiliki fase atau tahap seperti ini, yakni tahap propeller atau tahap automaton, untuk kemudian berkembang baik secara horisontal maupun vertikal dalam rangka pengembangan fixed-capital yang dimilikinya.
Dalam rangka melakukan reproduksi dan mempertahankan nilai-nilai surplus perkotaan, pengembangan fixed-capital akan selalu mengalami benturan dan konflik dengan apa yang disebut oleh Lefebvre sebagai variable capital atau dalam terminologi yang lain disebutnya sebagai organic composition. Yang dimaksud variable capital adalah bentukan-bentukan ruang baru yang spesifik dan pada umumnya diciptakan oleh dan untuk market (nasional dan global) serta cenderung memiliki sifat temporal mengikuti profit opportunity. Pembagian fixed-capital dan variable-capital ini mengingatkan kita pada pembagian elemen ruang perkotaan yang dibuat oleh Rossi (1982), yang membagi ruang kota menjadi 2 (dua) elemen ruang, yakni: (i) elemen primer/permanensi (fixed), dan (ii) elemen evolutif (temporal, tidak bertahan
lama); atau pembagian ruang perkotaan oleh Papageorgiou (1971) yang disebutnya sebagai continuity and change; atau oleh Rapoport (1977, 1982) yang membagi ruang permukiman menjadi core dan periphery.
Dalam menjelaskan variable capital ini, Lefebvre mengambil contoh suatu cabang industri yang memiliki skala internasional (global) yang menempati suatu lokasi dan mengambil ruang di suatu kota, atau Lefebvre menyebutnya sebagai modal yang meruang (spatialized), mirip dengan konsepsi Castells (1989) mengenai apa yang disebutnya sebagai space of flow. Sebagai single factory, kehadiran modal yang meruang ini tidak menimbulkan konflik atau kontradiksi terhadap fixed-capital. Namun, ketika single factory ini membangun keterhubungan dengan jaringan perkotaan, maka konflik atau kontradiksi akan muncul dalam bentuknya eksploitasi, eksternalitas negatif (polusi dan kemacetan lalulintas oleh pergerakan buruh), serta apa yang disebutnya sebagai ketidak seimbangan (inequalities) dalam proses pertukaran nilai (transfer of value). Sebagai contoh kongkrit, sebuah pabrik yang memberikan upah rendah kepada buruhnya serta tidak menyediakan tempat tinggal (perumahan) kepada buruhnya, telah memaksa para buruh menyewa kamar-kamar murah dari rumah warga yang tinggal di sekitar pabrik.
Fenomena ini menyebabkan tumbuhnya rumah-rumah sewa murah spontan dengan kondisi infrastruktur dan kualitas fisik bangunan ala kadarnya, yang kemudian berkembang menjadi permukiman kumuh disamping pabrik yang memiliki standard bahan dan kualitas bangunan terpilih. Ketidak seimbangan atau inequalities dalam transfer nilai ini (buruh memberikan waktu dan tenaganya delapan jam sehari, tetapi pabrik hanya memberikan upah yang sangat rendah), telah menjadi pemicu terjadinya kontradiksi-kontradiksi spasial. Fenomena ini menunjukkan terjadinya eksploitasi pabrik terhadap buruh, serta eksploitasi pabrik terhadap ruang permukiman sekitar. Ketika banyak pabrik muncul dan melakukan hal yang sama, maka terjadilah rangkaian panjang eksploitasi ruang perkotaan secara luas, dan pada gilirannya akan mendesak keluar elemen-elemen ruang yang disebut Lefebvre sebagai fixed-capital. Situasi ini oleh Lefebvre disebutnya sebagai spatial chaos yang terjadi secara mendunia (mengglobal), terutama di negara-negara berkembang.
III. JALAN KELUAR LEFEBVRE: RIGHT TO DIFFERENCE SPACE
Walaupun Lefebvre seorang filsuf, namun jalan keluar dari kontradiksi-kontradiksi yang digambarkan diatas tidak dirumuskan di aras filosofis, melainkan di aras praksis, tepatnya pada aras planning dan design. Bagi Lefebvre, tugas urban planning dan design adalah mengatasi dan menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi atau konflik-konflik ruang. Secara garis besar, terdapat 3 (tiga) langkah yang diusulkan oleh Lefebvre sebagai jalan keluar:
(1) Mobilization of Difference in a Single Movement
Kota-kota tidak dibangun dalam waktu sekejap, melainkan dibangun dalam waktu yang panjang dengan berbagai ragam referensi nilai yang melatarbelakanginya, sehingga kota-kota memiliki sejarah dan keragamannya sendiri-sendiri. Kota-kota tidak boleh dibiarkan diseragamkan oleh hanya satu kekuatan saja dalam satu kurun waktu yang relatif cepat dan pendek. Urban planning dan design harus memberikan perhatian dan solusi terhadap ruang-ruang perkotaan yang terbuang, tersisa, atau terabaikan oleh pembangunan kota yang hanya digerakkan oleh single force yakni market. Perhatian harus diberikan kepada perbedaan-perbedaan (difference), sehingga hak-hak perbedaan ruang harus diberi perhatian dan diperkuat oleh urban planning dan design. Jalan keluar yang ditawarkan oleh Lefebvre ini disebutnya sebagai mobilization of difference in a single movement. Lefebvre menyerukan agar apa yang disebutnya sebagai dissociated elements diperhatian dan disatukan oleh planning dan design dalam satu mainstream pembangunan kota. Tidak boleh ada anak tiri spasial atau anak nakal spasial yang kemudian ditirikan secara spasial dalam pembangunan kota (excluded space).
Lefebvre sangat prihatin dengan fenomena single force yang telah mendominasi, menyeragamkan, sekaligus mematikan perbedaan-perbedaan ruang perkotaan. Ruang-ruang perkotaan harus memberikan tempat bagi perbedaan-perbedaan etnik, tradisi, agama dan kelompok, karena perbedaan ruang merupakan cermin dari perbedaan nilai. Ruang perkotaan harus memberikan "right to be different" kepada warga penghuninya. Yang dimaksud oleh Lefebvre dengan single movement for mobilization of the differences disini adalah movement dari planning dan design. Sebagai suatu gerakan, planning dan design harus mampu menyatukan perbedaan-perbedaan dalam suatu gerak tata kota yang didalamnya berisi tata nilai, tata filosofi, tata bahasa, tata komunikasi, tata ruang, tata ekonomi, tata sosial, tata budaya, tata politik, dan tentu saja tata perbedaan.
(2) Bringing-Together of Dissociated Elements
Dalam konteks ini, yang dimaksud oleh Lefebvre sebagai dissociated elements adalah elemen-elemen ruang perkotaan yang mirip dengan apa yang disebut oleh Rossi (1982) sebagai elemen-elemen patologis kota, yakni elemen-elemen ruang perkotaan yang tidak memiliki keterhubungan fungsi, konsep, maupun jaringan fisik dengan pembangunan kota. Dalam konteks perkotaan di Indonesia, dissociated elements mencakup ruang-ruang bawah jalan layang, hunian tepian jalur kereta api, hunian tepian sungai, hunian-hunian diatas lahan tak bersertifikat, dan kawasan-kawasan perkotaan yang ditinggalkan. Dalam skala mikro (individu), dissociated elements dijumpai pada lahan-lahan konflik yang kemudian menjadi terlantar sehingga lahan-lahan tersebut cenderung menjadi patologi kota (kriminal, transaksi gelap, dan sumber masalah kesehatan).
Planning dan design sebagai suatu gerakan (movement) perubahan kota memiliki misi untuk membawa dissociated elements ini kedalam satu kesatuan mainstream
pembangunan kota. Dissociated elements adalah elemen-elemen ruang yang secara fifik-spasial merupakan bagian dari ruang kota secara keseluruhan, sehingga elemen-elemen ini tidak boleh terbiarkan dan terbuang (excluded). Elemen-elemen ini harus disatukan oleh gerak planning dan design agar menjadi energi kota. Melalui planning dan design, dissociated elements digeser dari elemen-elemen patologis menjadi elemen-elemen propeler kota.
(3) Unifications of Disparate Tendencies
Secara eksplisit Lefebvre tidak memberikan gambaran serta penunjukan contoh yang memadai untuk menjelaskan apa yang dimaksudkannya dengan disparate tendencies. Namun pada pernyataannya yang mengkaitkan disparate tendencies dengan mobilization of difference, dapat dipahami bahwa yang dimaksudkannya adalah kekuatan-kekuatan world market, political power, dan state power, yang memiliki kekuatan yang cenderung membawa perubahan kota ke arah yang betentangan dengan kecenderungan kota sebagai ruang hidup manusia. Kekuatan-kekuatan dari disparate tendencies ini yang cenderung memaksakan agendanya sendiri-sendiri pada akhirnya telah menciptakan konflik dengan ruang-ruang hidup dan kehidupan manusia kota.
Lefebvre sangat realistik dalam melihat fenomena dari disparate tendencies ini. Baginya, kekuatan-kekuatan ini tidak dapat dihindari, dicegah, apalagi di lawan. Upaya yang harus dilakukan adalah menghimpunnya dan menyatukannya (unifications) dalam suatu gerak perubahan kota yang selaras melalui plaming. Kekuatan-kekuatan ini sangat otonom dan dapat bergerak dengan sangat cepat menjadi lokomotif perubahan kota. Dengan memadukannya dalam perencanaan dan pembangunan kota, maka disparate tendencies yang semula memiliki sifat sebagai sumber konflik atau kontradiksi kota, maka akan berubah menjadi energi kota yang menghidupkan serta menyelaraskan. Dengan perkataan lain, melalui unifikasi dalam gerak plaming dan design, maka disparate tendencies akan bergeser dari kekuatan-kekuatan penyempal (membuat sempalan-sempalan kota) menjadi kekuatan-kekuatan penyelaras.
IV. KONTRIBUSI PEMIKIRAN LEFEBVRE UNTUK PERENCANAAN DAN PERANCANGAN KOTA DI INDONESIA SAAT INI DAN KE DEPAN
Kontribusi pemikiran Lefebvre terasa sangat relevan untuk situasi perkotaan Indonesia saat ini baik pada aras diskursus maupun pada aras praksis. Pada aras diskursus, pemikiran-pemikiran yang bersifat dualistik atau dikotomik seperti informal versus formal, pemerintah versus rakyat, ekonomi kapitalis besar versus ekonomi rakyat menjadi tidak efektif karena pemikiran dualistik seperti itu justru telah terbukti menjadi pangkal bagi munculnya kontradiksi-kontradiksi perkotaan pada aras praksis. Kebijakan-kebijakan perkotaan yang dirumuskan atas dasar pemenangan atau pemihakan kepada salah satu bentuk pemikiran yang menjadi sumber munculnya kontradiksi-kontradiksi tersebut
telah menjadi usang dibawah payung pemikiran Lefebvre. Tiga tesis yang diusulkan oleh Lefebvre sebagai jalan keluar untuk mengatasi kontradiksi-kontradiksi yang meliputi: (i) Mobilization of Difference in a Single Movement, (ii) Bringing-Together of Dissociated Elements, dan (iii) Unifications of Disparate Tendencies, merupakan suatu paket berpikir baru yang sangat berguna untuk menggantikan cara berpikir dualistik dan dikotomik perkotaan yang menggelantung dalam alam pikiran para pengambil kebijakan.
Pada aras praksis, pemikiran Lefebvre menyumbang kepada cara pandang baru bagi praktek perencanaan dan perancangan perkotaan yang saat ini cenderung digerakkan oleh apa yang disebutnya sebagai single force yakni market. Secara disadari maupun tidak, perencanaan dan perancangan kota saat ini telah menjadi pengabdi dan pelestari kepentingan market. Beberapa model perencanaan aktual seperti misalnya: perencanaan partisipatori, konsep mengenai stakeholders, dan CSR (Corporate Social Responsibility) pada aras praksis ternyata harus tunduk kepada kepentingan market. Bentuk kooptasi market terhadap praktek perencanan dan perancangan kota dapat terujud secara langsung (berupa paket-paket proyek seperti land consolidation, land sharing, urban renewal, dan urban revitalization), maupun secara tidak langsung (berupa perubahan land value, urban image, dan aksesibilitas). Pemikiran Lefebvre melawan semua kecenderungan seperti itu dan menawarkan solusi baru berupa apa yang disebutnya sebagai right to difference space, atau hak untuk berbeda dalam membangun ruang perkotaan.
V. KESIMPULAN
Pemikiran Lefebvre telah memberikan cara pandang baru terhadap ruang perkotaan saat ini. Suatu cara pandang yang menunjukkan bahwa pangkal permasalahan ruang perkotaan terletak pada kontradiksi-kontradiksi yang disandangnya sendiri. Pemikiran ini telah membawa suatu kesadaran baru, bahwa solusi masalah perkotaan tidak mungkin dilakukan tanpa memulainya dari upaya menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi tersebut. Pemikiran Lefebvre juga membawa optimisme baru, bahwa diluar kritik-kritik serta pesimisme yang muncul terhadap urban planning, ternyata urban planning masih dipercaya sebagai suatu gerakan (movement) untuk mengatasi kontradiksi-kontradiksi tersebut. Urban planning harus membangun cara kerja baru, yakni tidak dimulai dari premis-premis teoritik dan normatif, melainkan dari pemahaman awal mengenai kontradiksi-kontraksi perkotaan yang ada, untuk kemudian keluar dengan rumusan-rumusannya yang menurut Lefebvre harus menuju kepada appropriation dan bukannya domination.
VI. DAFTAR PUSTAKA
a. Castells, Manuel. (1989). The Informational City: Information Technology, Economic Restructuring, and the Urban-Regional Process, Blackwell Publisher, Oxford.
- b. Dahrif, Hariman. (2003)."Peran (Kedudukan) Institusi Adat dalam Pengelolaan Ekosistem Sumberdaya Alam Wilayah Pesisir, Laut, dan Pulau-pulau Kecil: Studi Kasus Pesisir Timur Pulau Biak dan Kepulauan Padaido, Biak-Papua", tesis MPKD, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada.
- c. Goonewardena Kanishka, Kipfer Stefan, Milgrom Richard, Schmid Christian (2008). Space, Difference, Everyday Life: Reading Henri Lefebvre, Routledge Taylor&Francis Group, New York and London.
- d. Habermas, Jurgen. (1989). "Further Reflection on the Public Sphere", in Calhound Craig (1993): Habermas and the Public Sphere, The MIT Press, Cambridge.
- e. Harvey, David. (1993). "After Word", in Lefebvre, Henri (1993). The Production of Space, Blackwell Publishers, Oxford.
- f. Lefebvre, Henri. (1974). The Production of Space, translated by Nicholson-Smith Donald (1993), Blackwell Publishers, Oxford.
- g. Lefebvre, Henri. (1992). Rhythmanalysis: Space, Time and Everyday Life, translated by Eden Stuart and More Gerald. (2007), The Tower Building, London.
- h. Merrifield, Andy. (2006). Henri Lefebvre: A Critical Introduction, Routledge Taylor&Francis Group, New York and London.
- i. Papageorgiou, A. (1971). Continuity and Change: Preservation in City Planning, New York, Pareger Publisher.
- j. Rapoport, A. (1977). Human Aspect of Urban Form, Oxford, Pergamon Press.
- k. Rapoport, A. (1982). The Meaning of Built Environment, Bevery Hills, California, Sage Publications.
- Rossi, Aldo. (1982). The Architecture of the City, the Institute for Architecture and Urban Studies, the Massachusetts Institute of Technology, Massachusetts.
- m. Simmie, James. (2001). "Planning, Power and Conflict", in Paddison, Ronan (2001): Handbooks of Urban Studies, Sage Publications, London, pp. 385-401.
- n. Trancik, Roger. (1986). Finding Lost Space: Theories of Urban Design, van Nostrand Reinhold Company, New York.
