1. Pendahuluan
Pertumbuhan penduduk perkotaan merupakan fenomena yang sering terjadi di Indonesia yang menyebabkan tingginya konsentrasi penduduk di kota-kota besar. Saat ini jumlah penduduk perkotaan mencapai 36% dari total jumlah
penduduk Indonesia. Tingginya urbanisasi dari desa ke kota yang tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan menyebabkan berkembangnya kawasan permukiman padat penduduk dan kumuh di wilayah perkotaan. Akibat terjadinya peningkatan pendatang yang menetap di kota menjadikan kota semakin
padat. Seiring dengan hal itu, maka terjadi persaingan pemanfaatan lahan terutama pada kawasan-kawasan yang telah berkembang karena sediaan lahan relatif sudah sangat terbatas. Berdasarkan penelitian BKKBN pada Tahun 2000, persebaran kawasan kumuh di Kota Bandung telah menyebar hampir diseluruh kelurahan. Berdasarkan proporsi dan komposisi jumlah kelurahan dalam peringkat pra sejahtera di wilayah Kota Bandung, peringkat tertinggi adalah Kecamatan Cicadas (27%), Regol (25%) dan Kecamatan Bandung Kulon (15%). Jika dilihat dari data tersebut, maka persebaran kawasan kumuh di Kota Bandung telah merambah kepinggiran kota. Adanya persoalan keterbatasan ruang dan lahan perkotaan di di kota-kota besar dan metropolitan menyebabkan terjadinya pergeseran kecenderungan pelayanan perdagangan eceran dari pusat kota di kota besar dan metropolitan ke kota-kota kecil khususnya kota kecil dengan jumlah penduduk di bawah 100.000 jiwa yang terletak di pinggiran kota besar dan metropolitan (Bruegmann, 2005). Bentuk pergeseran pelayanan perdagangan eceran yang terjadi diantaranya ialah tumbuhnya toko pengecer modern dalam bentuk minimarket yang melayani pasar yang lebih kecil.
Di Indonesia, bentuk pergeseran ini terjadi di kota-kota kecil di pinggiran Wilayah Metropolitan Bandung yakni Kota Soreang, Lembang, dan Tanjungsari yang merupakan kota kecil yang merupakan kota satelit I dalam Metropolitan Bandung yang merupakan kota di sekitar dan/atau terkait secara langsung dengan Kota Bandung sebagai kota inti. Ketiga kota ini memiliki fungsi pengembangan yang berbeda yakni fungsi pemerintahan untuk Kota Soreang, fungsi pariwisata untuk Kota Lembang, dan fungsi pendidikan dan perdagangan untuk Kota Tanjungsari.
Belum adanya ketentuan rinci yang mengatur ketentuan lokasi dan jarak minimarket terhadap toko pengecer tradisional di wilayah sekitar yang lebih kecil menyebabkan pembangunan minimarket di Kota Soreang, Lembang, dan Tanjungsari tidak terencana dan cenderung berdekatan dengan pasar, toko, dan warung pengecer tradisional. Survei yang dilakukan oleh AC Nielsen (2005) menunjukkan semakin berkurangnya pangsa pasar toko pengecer tradisional akibat munculnya toko modern tersebut. Di sisi lain peran usaha kecil dan menengah (UKM) khususnya usaha kecil yang bergerak dalam penyediaan barang kebutuhan sehari-hari di Indonesia mampu menyumbang sangat banyak kesempatan kerja dan menjadi salah satu sumber bagi penciptaan pendapatan (Tambunan, 2002). Hal ini disebabkan warung/toko tradisional menggunakan tenaga kerja lokal dan pemasok barang dari pengusaha lokal sehingga secara langsung berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi lokal (Civic Economics, 2002).
Studi ini bertujuan untuk melihat keterkaitan antara pola sebaran minimarket dengan kinerja usaha toko pengecer tradisional di Kota Soreang, Tanjungsari dan Lembang. Tujuan tersebut dijabarkan kedalam empat sasaran studi yakni mengidentifikasi pola sebaran minimarket dan toko pengecer tradisional, mengidentifikasi kinerja usaha toko pengecer tradisional sejak berdirinya minimarket, mengidentifikasi karakteristik persaingan usaha toko pengecer tradisional, dan mengidentifikasi keterkaitan antara faktor-faktor produksi toko pengecer tradisional dengan kinerja usaha toko pengecer tradisional.
Ruang lingkup wilayah studi ini meliputi Kota Soreang yang terdiri dari delapan desa, Kota Tanjungsari yang terdiri dari enam desa, dan Kota Lembang yang terdiri dari tujuh desa.
Metodologi penelitian yang digunakan meliputi metode pengumpulan data melalui survei data primer (penyebaran kuesioner, plotting toko pengecer modern dan tradisional), dan survei data sekunder (survei instansi dan pustaka). Metode analisis data yang digunakan meliputi analisis konsentrasi spasial untuk melihat pola sebaran minimarket dan toko pengecer tradisional berdasarkan jumlah unit dan letak lokasi toko di tiap-tiap desa, analisis perbandingan untuk membandingkan kinerja usaha toko pengecer tradisional di saat sebelum dan sesudah berdirinya minimarket, analisis regresi berganda mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kinerja usaha toko pengecer tradisional, dan analisis deskriptif untuk melihat hubungan antara kinerja usaha dengan lokasi toko.
2. Pola Sebaran dan Kinerja Usaha
Dalam studi ini central place theory digunakan untuk mengidentifikasi pola sebaran pengecer (modern dan tradisional) berdasarkan jumlah penduduk, guna lahan, dan waktu berdiri toko. Pola sebaran berdasarkan jumlah penduduk didasari oleh semakin besar kelas populasi suatu tempat/wilayah maka semakin kecil pusat pelayanannya dan semakin beragam aktivitas pengecer. Kemudian pola sebaran berdasarkan guna lahan didasari oleh highest order place dan tingkat order pengecer sedangkan pola sebaran berdasarkan waktu berdiri toko didasari oleh prinsip hirarki dimana pengecer yang menjual barang berorder 1 dan 2 tidak berlokasi sama dengan perusahaan yang menjual hanya barang 1 karena kompetisi harga cukup kuat untuk mendorong mereka keluar.
Kinerja (performance) dapat didefinisikan sebagai tingkat pencapaian hasil atau "the degree of accomplishment" (Tangkilisan, 2003:1). Menurut Tangkilisan (dalam Salusu, 1998), pada umumnya suatu perusahaan atau organisasi memiliki tiga tingkatan kerja yakni tingkat organisasi (organization level), tingkat
proses (process level), dan tingkat pelaksana tugas (performer level).
Dalam studi ini faktor produksi yang digunakan untuk menggambarkan usaha toko pengecer tradisional meliputi karakteristik pemilik toko (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman berdagang, sumber modal usaha), karakteristik toko (tahun berdiri toko, status kepemilikan, ukuran toko, jenis komoditas/barang, pemasok, rata-rata omzet harian, rata-rata keuntungan harian, dan jumlah tenaga kerja), dan perubahan karakteristik toko dalam empat tahun terakhir (2005-2008). Kemudian indikator yang digunakan untuk menggambarkan kinerja usaha toko pengecer tradisional dalam empat tahun terakhir ialah perubahan dalam indikator ekonomi mikro. Indikator ekonomi mikro yang digunakan adalah perubahan proposional rata-rata omzet harian, perubahan proposional rata-rata keuntungan harian, dan perubahan proposional tenaga kerja. Indikator ekonomi mikro yang digunakan tersebut didasari oleh pengklasifikasian usaha kecil oleh BPS dan UU No. 20 Tahun 2008. Kemudian dalam bab selanjutnya faktor-faktor produksi toko pengecer tradisional digunakan sebagai variabel independen (bebas) dan perubahan indikator ekonomi mikro digunakan sebagai variabel dependen (terikat) dalam analisis regresi berganda.
3. Pola Sebaran Toko Pengecer di Kota Soreang, Tanjungsari, dan Lembang
Seperti yang terlihat di tabel 1, di Kota Soreang terlihat bahwa npara pelaku usaha minimarket memilih Desa Pamekaran dan Desa Cingcin sebagai tempat beraglomerasi. Desa Pamekaran merupakan kawasan pusat kota dan kawasan perkantoran di Kota Soreang sedangkan Desa Cingcin merupakan kawasan permukiman yang relatif baru dan menjadi pusat permukiman di Kota Soreang. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa minimarket di Kota Soreang cenderung
berlokasi di kawasan pusat kota daridi berlokasi di desa-desa dengan jumlah penduduk tinggi. Berdasarkan jumlah toko pengecer tradisionalnya, pola sebarannya berbanding lurus dengan jumlah penduduk masing-masing desa. Semakin besar jumlah
penduduk maka semakin banyak toko pengecer tradisional berlokasi. Desa Cingcin merupakan desa dengan jumlah penduduk terbanyak begitu pula dengan jumlah toko pengecer tradisionalnya yang juga dengan jumlah terbanyak di Kota Soreang.
Tabel 1 Pola Sebaran Toko Pengecer Berdasarkan Jumlah Penduduk per Desa
| Jumlah Toko Pengecer Tradisional | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Jumlah Penduduk Jumlah Desa tahun 2007 (Jiwa) Minimarket | ≤ 500 meter dari Minimarket | > 500 meter dari Minimarket | Total Toko Pengecer Tradisional | ||||
| I.KOTA SOREANG | |||||||
| Karamatmulya | 11.183 | 0 | 3 | 15 | 18 | ||
| Pamekaran | 18.819 | 5 | 62 | 12 | 74 | ||
| Soreang | 25.948 | 0 | 36 | 51 | 87 | ||
| Sadu | 13.457 | 0 | 4 | 23 | 27 | ||
| Panyirapan | 8.972 | 0 | 0 | 24 | 24 | ||
| Parungserab | 10.929 | 0 | 4 | 23 | 27 | ||
| Sekarwangi | 9.010 | 1 | 20 | 7 | 27 | ||
| Cingcin | 28.846 | 3 | 93 | 9 | 102 | ||
| Total | 127.164 | 9 | 222 | 164 | 386 | ||
| II. KOTA TANJUNGSARI | |||||||
| Tanjungsari | 5591 | 1 | 39 | 13 | 52 | ||
| Jatisari | 5630 | 1 | 32 | 7 | 39 | ||
| Margaluyu | 4686 | 0 | 0 | 3 | 3 | ||
| Hegarmanah | 2268 | 3 | 40 | 31 | 71 | ||
| Cikeruh | 9936 | 2 | 46 | 17 | 63 | ||
| Sayang | 1600 | 0 | 17 | 41 | 58 | ||
| Total | 29711 | 7 | 174 | 112 | 286 | ||
| III.KOTA LEMBANG | |||||||
| Lembang | 12974 | 4 | 57 | 9 | 66 | ||
| Cibogo | 9683 | 0 | 0 | 37 | 37 | ||
| Cikahuripan | 8538 | 0 | 4 | 21 | 25 | ||
| Gudang Kahuripan | 11788 | 0 | 0 | 21 | 21 | ||
| Langensari | 11189 | 1 | 4 | 17 | 21 | ||
| Jayagiri | 17220 | 3 | 40 | 7 | 47 | ||
| Kayuambon | 7025 | 1 | 18 | 0 | 18 | ||
| Total | 9 | 123 | 112 | 235 | |||
Sumber: Hasil Analisis, 2009
Di kota Tanjungsari pola sebaran minimarket terbanyak berada di Desa Hegarmanagh yang di desa ini merupakan tempat berpusatnya kegiatan pendidikan serta merupakan pusat kegiatan di Kecamatan Jatinangor. Kedua adalah Desa Cikeruh yang juga masih merupaka kawasan pendidikan dan permukiman. Berdasarkan jumlah penduduknya terlihat bahwa Desa Hegarmanah memiliki jumlah penduduk lebih sedikit
dibandingkan Desa Cikeruh yang merupakan desa dengan jumlah penduduk tertinggi di Kota Tanjungsari. Namun, Desa Hegarmanah memiliki tempat-tempat aktivitas pendidikan lebih banyak daridi Desa Cikeruh. Hal ini menunjukkan bahwa pola sebaran minimarket lebih tertarik ke tempat-tempat pusat kegiatan yakni kawasan pendidikan dibandingkan permukiman ataupun perdagangan di Desa Tanjungsari. Sebaran toko pengecer tradisional
lebih beraglomerasi di Desa Hegarmanah, Desa Cikeruh, dan Desa Sayang. Dengan jumlah penduduk yang berbeda-beda untuk masing-masing desa tersebut terlihat perbedaan bahwa Desa Hegarmanah yang memiliki jumlah penduduk jauh lebih kecil dari Desa Cikeruh memiliki jumlah toko pengecer tradisional lebih banyak. Pola sebaran toko pengecer tradisional lebih cenderung beraglomerasi di Desa Hegarmanah yang merupakan puast kawasan pendidikan dibandingkan Desa Cikeruh dan Desa Sayang yang didominasi oleh permukiman.
Untuk Kota Lembang, pola sebaran minimarket terbanyak berada di Desa Lembang yang merupakan pusat kegiatan kota Lembang yang terdapat berbagai fasilitas yang menunjang Kota Lembang sebagai daerah tujuan wisata. Kedua adalah Desa Jayagiri yang sebagai daerah permukiman. Letak minimarket di desa ini cenderung mendekati pusat kota di sepanjang Jalan Raya Lembang. Berdasarkan jumlah penduduknya, Desa Jayagiri merupakan desa dengan jumlah penduduk terbanyak diikuti dengan Desa Lembang. Dari hal tersebut terdapat indikasi bahwa pola sebaran minimarket di Kota Lembang masih beraglomerasi di Pusat Kota khususnya sepanjang Jalan Raya Lembang. Sama halnya dengan pola sebaran toko pengecer tradisional bahwa aglomerasi toko terbanyak berada di Desa Lembang dan kemudian di Desa Jayagiri. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa Desa Lembang memiliki kecenderungan yang sama dengan kota Soreang yakni minimarket dan toko pengecer tradisional beraglomerasi di pusat kota.
Di Kota Soreang sebaran toko pengecer beraglomerasi di guna lahan permukiman, perdagangan, dan perkantoran. Aglomerasi guna lahan permukiman terbagi menjadi aglomerasi di guna lahan permukiman yang merupakan kawasan/komplek permukiman baru yakni di Desa Cingcin. Aglomerasi di kawasan perdagangan terbagi menjadi aglomerasi di kawasan perdagangan di pusat kota dan kawasan perdagangan di sepanjang jalan provinsi. Untuk kawasan perkantoran terbagi menjadi kawasan perkantoran di kawasan pusat kota dan di kompleks perkantoran. Untuk Kota Tanjungsari, aglomerasi toko pengecer terbagi kedalam guna lahan kawasan pendidikan dan kawasan perdagangan. Di kawasan pendidikan toko pengecer beraglomerasi di sepanjang jalan provinsi, guna lahan pendidikan dan permukiman. Untuk kawasan perdagangan toko pengecer banyak terdapat di sepanjang jalan provinsi, pasar kabupaten. Untuk Kota Lembang sendiri sebaran toko pengecer banyak berglomerasi di guna lahan permukiman, perdagangan, dan kawasan militer. Sebaran di guna lahan permukiman banyak beraglomerasi di Desa Lembang, Jayagiri, dan Kayuambon sedangkan di guna lahan terlihat di sepanjang jalan Raya Lembang yang mengelilingi pusat Kota Lembang khususnya di pusat-pusat kegiatan seperti pasar dan terminal. Untuk kawasan militer terdapat di Desa Kayuambon di tengahtengah permukiman militer.
4. Karakteristik dan Kinerja Usaha Toko Pengecer di Kota Soreang, Tanjungsari, dan Lembang
Variabel-variabel yang dijadikan indikator untuk menggambarkan karakteristik sosialekonomi pemilik toko pengecer tradisional di tiga kota ialah, usia pemilik, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman berdagang, dan sumber modal usaha. Seperti yang terlihat di Tabel 2, berdasarkan tingkat usianya, pedagang toko pengecer tradisional umumnya berada di usia 20 hingga 48 tahun. Di pusat kota Soreang pedagang tradisional yang berusia di atas 48 tahun cukup banyak (33%), yang diduga adalah para pedagang lama. Berdasarkan jenis kelaminnya, sebanyak lebih dari 50% pedagang toko pengecer tradisional di Kota Soreang, Tanjungsari dan Lembang adalah perempuan, dengan tingkat pendidikan yang terbanyak adalah SLTA. Persentase pedagang dengan pendidikan sarjana di semua kota kecil yang diteliti adalah sangat kecil (dengan nilai seperti yang disajikan tabel 1) dibandingkan dengan SLTA, sama halnya dengan pedagang yang berpendidikan SD, yang bahkan jumlahnya lebih sedikit lagi. Salah satu variabel lain dengan kecenderungan yang hampir serupa dalam tiga kota yang diteliti adalah pengalaman berdagang yang lebih dari 80% pedagang memiliki kurang dari 20 tahun pengalaman berdagang. Berdasarkan sumber modalnya, lebih dari 70% toko pengecer tradisional di Kota Soreang, Tanjungsari dan Lembang bersumber usaha dari modal sendiri. Karakteristik toko pengecer tradisional menggambarkan kondisi usaha toko pengecer tradisional di tahun 2008 berdasarkan aspek fisik dan ekonomi. Variabel-variabel yang digunakan untuk menggambarkan kondisi usaha toko pengecer tradisional antara lain adalah tahun berdiri toko, status kepemilikan, ukuran toko, jenis komoditas, pemasok, ratarata omzet harian, rata-rata keuntungan harian, dan jumlah tenaga kerja.

Gambar 1 Pola Sebaran Toko Pengecer Di Tiga Kota Sumber : Hasil Analisis 2009
Tabel 2 Karakteristik Pemilik Toko Pengecer Tradisional
| Soreang | Tanj | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| No | Variabel | Deskripsi | Kawasan Permukiman | Kawasan Pusat Kota | Kawasan Pendidikan | Kawasan Perdagangan | Lembang |
| 1 | Usia | Di bawah 20 Tahun | 0 | 2,1 | 0 | 0 | 2,8 |
| 20-35 Tahun | 21,9 | 31,3 | 46,8 | 26,7 | 27,8 | ||
| 36-48 Tahun | 53,1 | 33,3 | 44,7 | 46,7 | 48,6 | ||
| Di atas 48 Tahun | 25 | 33,3 | 8,5 | 26,7 | 20,8 | ||
| 2 | Jenis Kelamin | Laki-laki | 34,4 | 41,7 | 44,7 | 46,7 | 33,3 |
| Perempuan | 65,6 | 58,3 | 55,3 | 53,3 | 66,7 | ||
| 3 | Tingkat | Sarjana | 6,3 | 6,3 | 8,5 | 3,3 | 12,5 |
| Pendidikan | SLTA | 56,3 | 39,6 | 44,7 | 46,7 | 34,7 | |
| SLTP | 21,9 | 16,7 | 19,1 | 43,3 | 22,2 | ||
| SD | 12,5 | 37,5 | 23,4 | 6,7 | 25 | ||
| Lainnya | 3,1 | 0 | 4,3 | 0 | 5,6 | ||
| 4 | Pengalaman | <10 Tahun | 43,8 | 45,8 | 40,4 | 60 | 47,2 |
| Berdagang | 10-20 Tahun | 46,9 | 39,6 | 51,1 | 36,7 | 44,4 | |
| >20 Tahun | 9,4 | 14,6 | 8,5 | 3,3 | 8,3 | ||
| 5 | Sumber Modal | Modal Sendiri | 78,79 | 83,33 | 72,55 | 95,12 | 84,81 |
| Usaha | Bank Pemerintah | 6,06 | 0 | 13,73 | 0 | 11,39 | |
| Pinjaman Kerabat | 9,09 | 6,25 | 11,76 | 0 | 1,27 | ||
| Lainnya | 6,06 | 10,32 | 1,96 | 4,88 | 2,54 | ||
Tabel 3 di bawah menunjukkan bahwa pertumbuhan toko pengecer tradisional di tiga kota kecil vang diteliti menunjukkan kecenderungan pertumbuhan yang sama. Tingkat pertumbuhannya mencapai lebih dari 50% mulai tahun 1999 ke atas. Di Kota Soreang pertumbuhan toko pengecer tradisional meningkat sebesar 65,6% di kawasan permukiman dan 66,7% di kawasan Pusat Kota. Di Kota Tanjungsari, pertumbuhan toko pengecer tradisional meningkat sebesar 70,2% di kawasan pendidikan dan 66,7% di kawasan perdagangan sedangkan di Kota
Lembang tingkat pertumbuhan terjadi sebanyak 54,2%. Berdasarkan kepemilikannya, hampir di semua kota yakni sebanyak lebih dari 90% toko merupakan milik sendiri, kecuali di kota Tanjungsari, yakni di kawasan pendidikan hanya 66% toko yang merupakan milik sendiri. Sebanyak lebih dari 50% ukuran toko di semua kota termasuk dalam ukuran kecil dan 20-40% termasuk ukuran sedang. Namun, di Kota Soreang, di kawasan pusat kota, 48% toko pengecer tradisional berukuran sedang dan 31,3% berukuran besar.
Tabel 3 Karakteristik Toko Pengecer Tradisional
| Sore | eang | Tan | jungsari | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| No | Variabel | Deskripsi | Kawasan | Kawasan | Kawasan | Kawasan | Lembang |
| Permukiman | Pusat Kota | Pendidikan | Perdagangan | ||||
| Tahun Berdiri | >1999 | 65,6 | 66,7 | 70,2 | 66,7 | 54,2 | |
| 1 | Toko | 1994-1999 | 31,3 | 14,6 | 27,7 | 23,3 | 33,3 |
| 70.00 | <1994 | 3,1 | 18,8 | 2,1 | 10 | 12,5 | |
| 2 | Status | Milik Sendiri | 96,9 | 91,7 | 66 | 93,3 | 91,7 |
| Kepemilikan | Sewa | 3,1 | 8,3 | 34 | 6,7 | 8,3 | |
| < 10 m2 (Kecil) | 62,5 | 25 | 44,7 | 53,3 | 56,9 | ||
| 3 | Ukuran Toko | 10 m2- 20 m2 (Sedang) | 31,3 | 43,8 | 38,3 | 40 | 29,2 |
| > 20 m2 (Besar) | 6,3 | 31,3 | 17 | 6,7 | 13,9 | ||
| Makanan dan minuman ringan | 23,7 | 21,33 | 23,59 | 29 | 26,2 | ||
| 4 | Jenis Komoditas yang dijual | Alat-alat kebutuhan sehari-hari | 22,96 | 21,33 | 22,56 | 26 | 23,62 |
| Sembako | 20 | 15,11 | 18,97 | 19 | 16,61 | ||
| Tembakau | 20 | 19,56 | 23,08 | 20 | 23,62 | ||
| Lainnya | 13,35 | 22,66 | 11,8 | 6 | 9,97 | ||
| Pabrik/Industri | 0 | 12,9 | 16,42 | 0 | 7,84 | ||
| _ | Dl. | Pasar Tradisional | 14,71 | 40,32 | 13,43 | 35,71 | 48,04 |
| 5 | Pemasok | Toko grosir | 79,41 | 35,48 | 61,19 | 26,19 | 26,47 |
| Lainnya | 5,88 | 11,29 | 8,96 | 38,09 | 17,65 | ||
| < Rp. 500.000 (Kecil) | 59,4 | 52,1 | 53,2 | 66,7 | 56,9 | ||
| 6 | Rata-Rata Omzet Harian | Rp. 500.000-Rp. 1000.0000 (Sedang) | 34,3 | 22,9 | 36,2 | 23,3 | 27,8 |
| >Rp.1000.000 Besar) | 6,3 | 25 | 10,6 | 10 | 15,3 | ||
| < Rp. 50.000 (Kecil) | 65,6 | 43,8 | 46,8 | 50 | 41,7 | ||
| 7 | Rata-Rata Keuntungan Harian | Rp. 50.000-Rp. 100.0000 (Sedang) | 25 | 27,1 | 34 | 33,3 | 31,9 |
| 11411411 | >Rp.100.000 Besar) | 9,4 | 29,2 | 19,1 | 16,7 | 26,4 | |
| Ll.l. T | 1 tenaga kerja | 87,5 | 58,33 | 80,85 | 70,97 | 65,28 | |
| 8 | Jumlah Tenaga Kerja | tenaga kerja lebih dari 1 | 12,5 | 41,67 | 19,15 | 29,03 | 34,72 |
Jenis komoditas yang dijual di toko pengecer tradisional, selain didominasi oleh makanan dan minuman ringan, juga alat-alat kebutuhan sehari-hari dengan tingkat presentase mendekati 50%. Komoditas lain vang menempati urutan berikutnya dalam tiga kota yang dianalisis adalah tembakau, yaitu sekitar 20%. Komoditas yang dijual tersebut sebagian besar didapatkan dari pasar tradisional atau toko grosir terdekat.
Rata-rata omzet harian dari toko pengecer tradisional masih termasuk kecil, kecuali untuk kawasan pusat kota di Kota Soreang yang 25% tokonya memiliki rata-rata omzet yang besar. Hal ini dapat dikaitkan dengan presentase ukuran toko di kawasan tersebut yang termasuk dalam ukuran besar. Kemudian untuk rata-rata keuntungan harian, 40-60% toko di tiga kota tersebut masih termasuk kecil. Namun di kawasan pusat kota di Kota Soreang terdapat 29,2% toko yang memiliki rata-rata keuntungan harian diatas Rp. 100.000. Kecenderungan lain yang ditampakkan oleh kawasan pusat kota di Kota Soreang yaitu dalam hal jumlah tenaga kerja. Di Kota
Tanjungsari dan Lembang sebanyak 60-80% toko pengecer tradisional hanya memiliki 1 pegawai sedangkan di kawasan pusat kota di Kota Soreang sebanyak 41,67% toko memiliki tenaga kerja lebih dari satu orang.
Sepanjang tahun 2005-2008 untuk di Kota Soreang, Tanjungsari, Lembang hampir seluruh toko tidak mengalami perubahan kepemilikan toko dengan persentase di atas 95%. Untuk perubahan toko juga didominasi oleh tidak adanya perubahan selama empat tahun terakhir. Perubahan terjadi di kawasan
permukiman di Kota Soreang sebesar 40,6%. Untuk perubahan jumlah jenis komoditas selama empat tahun terakhir, terlihat bahwa untuk di Kota Tanjungsari dan Lembang didominasi oleh toko yang tidak mengalami perubahan jumlah komoditas dengan persentase di atas 70%, sedangkan di kota Soreang di kawasan permukiman didominasi oleh pedagang yang mengurangi jenis komoditasnya dan yang tetap sedangkan di kawasan pusat kota didominasi oleh toko yang mengalami pertambahan jenis komoditas.
Tabel 4 Kinerja Usaha Toko Pengecer Tradisional
| Soreang | Tanju | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| No | Variabel | Kawasan Permukiman | Kawasan Pusat Kota | Kawasan Pendidikan | Kawasan Perdagangan | Lembang | |
| 1 | Perubahan | Ya | 0 | 4,2 | 4,3 | 0 | 2,8 |
| Kepemilikan Toko | Tidak | 100 | 95,8 | 95,7 | 100 | 97,2 | |
| 2 | Perubahan | Ya | 40,6 | 16,7 | 12,5 | 13,3 | 11,1 |
| Ukuran Toko | Tidak | 59,4 | 83,3 | 87,2 | 86,7 | 88,9 | |
| 3 | Perubahan | Berkurang | 43,8 | 10,4 | 0 | 0 | 0 |
| Jumlah Jenis | Bertambah | 9,4 | 66,7 | 27,7 | 30 | 29,17 | |
| Komoditas Yang Dijual | Tetap | 46,9 | 22,9 | 72,3 | 70 | 70,3 | |
| 4 | Perubahan | Ya | 21,9 | 31,2 | 42,6 | 13,3 | 12,5 |
| Pemasok Komoditas | Tidak | 78,1 | 68,8 | 57,4 | 86,7 | 87,5 | |
| 5 | Perubahan | Berkurang | 43,8 | 50 | 21,3 | 40 | 31,9 |
| Rata-Rata | Bertambah | 21,9 | 35,4 | 55,3 | 46,7 | 38,9 | |
| Omzet Harian | Tetap | 34,4 | 14,6 | 23,4 | 13,3 | 29,2 | |
| 6 | Perubahan | Berkurang | 50 | 56,2 | 14,9 | 36,7 | 31,9 |
| Rata-Rata | Bertambah | 25 | 33,3 | 59,6 | 40 | 38,9 | |
| Keuntungan Harian | Tetap | 25 | 10,4 | 25,5 | 23,3 | 29,2 | |
| 7 | Perubahan | Berkurang | 15,6 | 29,2 | 0 | 10 | 0 |
| Jumlah | Bertambah | 9,4 | 18,8 | 0 | 3,3 | 12,5 | |
| Tenaga Kerja | Tetap | 75 | 52,1 | 100 | 87,7 | 87,5 | |
Sumber: Hasil Analisis, 2009
Berdasarkan perubahan indikator mikro ekonomi yang digunakan yakni omzet, keuntungan, dan tenaga kerja, terlihat bahwa sepanjang tahun 2005-2008 umumnya terjadi penambahan rata-rata omzet harian toko pengecer tradisional di Kota Tanjungsari dan Lembang sedangkan untuk di Kota Soreang, di kawasan permukiman dan pusat kota didominasi oleh toko yang mengalami penurunan rata-rata omzet harian. Kecenderungan serupa juga dialami oleh perubahan rata-rata keuntungan harian. Untuk perubahan jumlah tenaga kerja dalam empat tahun terakhir untuk diseluruh kota didominasi oleh tidak berubahnya jumlah tenaga kerja yang digunakan.
5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Usaha Toko Tradisional di Tiga Kota
Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja usaha toko pengecer tradisional dilakukan melalui analisis regresi berganda dan analisis deskriptif persepsi pedagang. Dalam analisis regresi berganda metode yang digunakan adalah step wise dengan variabel dependen adalah perubahan proposional rata-rata omzet harian, perubahan proposional rata-rata keuntungan harian, dan perubahan proposional tenaga kerja. Untuk variabel independen yang digunakan adalah variabel-variabel dari karakteristik pemilik toko (usia pedagang, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pengalaman berdagang), karakteristik toko (tahun berdiri, ukuran, jumlah jenis komoditas, jumlah pemasok, jarak toko ke minimarket), serta perubahan karakteristik toko (perubahan: pemasok, status kepemilikan, jumlah jenis komoditas, ukuran toko).
Hubungan antara variabel dependen dan independen dilihat berdasarkan nilai signifikansi dan pearson correlation. Jika nilai
signifikansi <0,05, maka variabel independen mempengaruhi variabel dependen sedangkan semakin nilai pearson correlation mendekati 1 maka semakin kuat hubunganya. Tanda positif dan negatif menunjukkan arah hubungan variabel independen terhadap dependen.
Berdasarkan hasil analisis regresi berganda seperti yang terlihat di Tabel 4 di atas terlihat bahwa untuk perubahan proposional rata-rata omzet harian variabel yang mempengaruhi di tiga kota memiliki hubungan lemah. Hanya variabel pengalaman berdagang di Kota Soreang yang memiliki hubungan cukup kuat. Di Kota Soreang sendiri pertambahan pengalaman berdagang, lamanya tahun berdiri, dan bertambahnya pemasok mempengaruhi rata-rata omzet harian. Untuk di Kota Tanjungsari usia pedagang yang masih muda dan ukuran toko yang relatif lebih kecil justru dapat meningkatkan rata-rata omzet harian toko. Di Kota Lembang sendiri perubahan proposional rata-rata omzet harian hanya dipengaruhi oleh jumlah pemasok komoditas.
Untuk variabel dependen perubahan proposional rata-rata keuntungann harian untuk di Kota Tanjungsari ditemukan bahwa tidak ada variabel independen yang mempengaruhi variabel dependen tersebut sedangkan di Kota Soreang dan Tanjungsari didominasi oleh variabel independen yang berpengaruh dengan kuat hubungan lemah dan sangat lemah. Untuk di Kota Soreang variabel yang mempengaruhi peningkatan rata-rata keuntungan harian adalah pertambahan jarak toko ke minimarket, pertambahan pemasok, dan pertambahan ukuran toko sedangkan untuk Kota Lembang variabel yang mempengaruhi adalah lamanya pengalaman berdagang, lamanya toko berdiri, jumlah jenis komoditas yang dijual, perubahan status kepemilikan ke hak milik/pribadi, dan pertambahan jenis komoditas.
Tabel 5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Toko Pengecer Tradisional
| Variabel Dependen | Hubungan dengan Variabel Independen yang Mempengaruhi Variabel Dependen | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| v at label Dependen | Soreang | Tanjungsari | Lembang | |||
| 1. Pengalaman Berdagang (searah, | 1. Usia Pedagang | Jumlah Pemasok Komoditas | ||||
| cukup kuat) | (berlawanan, lemah) | (searah, lemah) | ||||
| Perubahan proposional rata- | 2. Tahun Berdiri Toko (searah, | 2. Ukuran Toko | ||||
| rata omzet harian | sangat lemah) | (berlawanan, sangat | ||||
| 3. Perubahan Pemasok (searah, | lemah) | |||||
| lemah) | ||||||
| 1. Jarak Toko Ke Minimarket | Pengalaman Berdagang | |||||
| (searah, lemah) | (searah, lemah) | |||||
| 2. Perubahan Pemasok (searah, | 2. Tahun Berdiri Toko | |||||
| sangat lemah) | (berlawanan, lemah) | |||||
| Perubahan proposional rata- | 3. Perubahan Ukuran Toko | 3. Jumlah Jenis Komoditas | ||||
| rata keuntungan harian | (searah, lemah) | - | (searah, sangat lemah) | |||
| 4. Perubahan Status Kepemilikan | ||||||
| (searah, sangat lemah) | ||||||
| 5. Perubahan Jumlah Jenis | ||||||
| Komoditas (searah, sangat lemah) | ||||||
| Perubahan proposional | 1. Ukuran Toko (searah, lemah) | 1. Usia Pedagang | 1. Perubahan Ukuran Toko | |||
| jumlah tenaga kerja | 2. Jumlah Pemasok Komoditas | (berlawanan, sangat | (searah, lemah) | |||
| juillan tenaga kerja | (searah, lemah) | lemah) | ||||
Untuk variabel perubahan jumlah tenaga kerja juga didominasi oleh variabel independen dengan kuat hubungan lemah dan sangat lemah. Di Kota Soreang pertambahan ukuran toko dan pemasok menjadikan perlunya menambah jumlah tenaga kerja sedangkan di
Kota Tanjungsari usia pedagang yang lebih muda membutuhkan tambahan tenaga kerja untuk menjalankan usahanya. Di Kota lembang pertambahan ukuran toko menyebabkan perlunya menambah jumlah tenaga kerja.
Tabel 6 Karakteristik Persaingan Toko Pengecer Tradisional dengan Minimarket
| Soreang | Tanjungsari | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| No | Variabel | Kawasan | Kawasan | Kawasan | Kawasan | Lembang | |
| Pusat Kota | Pendidikan | Perdagangan | |||||
| 1 | Permasalahan utama pedagang pengecer | Kurangnya jumlah pembeli | 15,15 | 58,33 | 9,20 | 24,24 | 24,53 |
| tradisional | Meningkatnya persaingan dengan pedagang lain | 39,39 | 4,17 | 22,99 | 45,45 | 30,19 | |
| Meningkatnya persaingan dengan minimarket | 24,24 | 0,00 | 35,63 | 18,18 | 16,98 | ||
| Meningkatnya harga barang dari pemasok | 15,15 | 6,25 | 16,09 | 6,06 | 5,66 | ||
| Lainnya | 6,06 | 31,25 | 15,38 | 12,12 | 22,64 | ||
| 2 | Pesaing usaha pengecer tradisional | Pedagang toko pengecer tradisional | 62,50 | 58,33 | 18 | 40,63 | 52,00 |
| Minimarket | 28,13 | 31,25 | 70 | 25,00 | 32,00 | ||
| | Strategi usaha pedagang pengecer tradisional dalam menghadapi pesaing usaha | Sopan santun dan kejujuran | Menambah kenekaragaman produk | 14,06 | 13,95 | 8,13 | 12,50 | 14,89 | | Variabel | Sore | ang | Tanjı | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| | Lainnya | No | Kawasan | Kawasan | Kawasan | Kawasan | Lembang | ||
| | Strategi usaha pedagang pengecer tradisional dalam menghadapi pesaing usaha | Sopan santun dan kejujuran | Menambah kenekaragaman produk | 14,06 | 13,95 | 8,13 | 12,50 | 14,89 | 40,63 | 13,95 | 14,89 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 13,95 | 14,89 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 13,95 | 14,89 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 13,95 | 14,89 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,31 | 40,60 | 16,40 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40,60 | 40 | Pusat Kota | Pendidikan | Perdagangan | |||||
| | pedagang pengecer tradisional dalam menghadapi pesaing usaha | , | 9,38 | 10,32 | 12 | 34,38 | 16,00 | ||
| | Pedagang pengecer tradisional dalam menghadapi pesaing usaha | Kebersihan | 25,00 | 5,81 | 23,58 | 0,00 | 16,31 | | | 3 | Strategi usaha | Sopan santun dan | 40.63 | 40.70 | 38.21 | 35.42 | 30.50 |
| | menghadapi pesaing usaha | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | langer | l | 3 3 | 40,03 | 40,70 | 30,21 | 33,42 | 30,30 | ||
| | Menjamin kualitas | Menjamin kualitas | Menjamin kualitas | Menjamin kualitas | Menjamin kualitas | Menjamin kualitas | Menjamin kualitas | Menjamin kualitas | Menjamin kualitas | Menjamin kualitas | Menjamin kualitas | Menjamin kualitas | Menjamin kualitas | Menjamin kualitas | Menjamin kualitas | Menjamin kualitas | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Menjamin kualitas | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarkan | Mentasarka | Menambah | 14.06 | 13 95 | 8 13 | 12 50 | 14 89 | ||
| | Menerima pembayaran dalam bentuk cicilan | 1,56 | 0 1 1 0 | 0 1 | , , | , | , | |||
| | dalam bentuk cicilan | usaha | 25,00 | 5,81 | 23,58 | 0,00 | 16,31 | ||
| | A | Persepsi Pengaruh | Reberadaan | Reprengaruh | Reberadaan | Reprengaruh | Reberadaan | Reprengaruh | Reberadaan | Reprengaruh | Reberadaan | Reprengaruh | Reberadaan | Reprengaruh | Reberadaan | Reprengaruh | Reberadaan | Reprengaruh | Reberadaan | Reprengaruh | Reberadaan | Reprengaruh | Reberadaan | Reprengaruh | Reberadaan | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Reprengaruh | Re | 1.56 | 13 95 | 6.50 | 20.83 | 0.71 | |||
| 4 Persepsi Pengaruh keberadaan minimarket terhadap kinerja toko pengecer tradisional Berpengaruh 40,63 50 76,60 40 47,22 5 Alasan pengaruh minimarket berdasarkan persepsi pedagang pengecer tradisional Produk yang dijual sama 35 20,51 21,19 37,50 24,36 Harga produk yang dijual di minimarket berdasarkan persepsi pedagang pengecer tradisional Ibebih rendah 25 41,03 16,10 20,83 30,77 Ibebih rendah Fasilitas dan infrastruktur lebih baik 15 12,82 21,19 37,50 14,10 Ibebih rendah Jarak minimarket yang dekat 15 15,38 22,88 0,00 10,26 Ibebih rendah Ibebih rendah 15 15,38 22,88 0,00 10,26 Ibebih rendah Ibebih rendah 15 15,38 22,88 0,00 10,26 Ibebih rendah Ibebih rendah 15 15,38 22,88 0,00 10,26 Ibebih rendah Ibebih rendah 15 15,38 22,88 0,00 10,26 | , | , | , | , and the second second | , | |||
| keberadaan 40,63 50 76,60 40 47,22 kinerja toko pengecer tradisional Tidak Berpengaruh 59,38 50 23,40 60 52,78 5 Alasan pengaruh minimarket berdasarkan persepsi pedagang pengecer tradisional Produk yang dijual sama 35 20,51 21,19 37,50 24,36 Fasilitas dan infrastruktur lebih baik 25 41,03 16,10 20,83 30,77 Fasilitas dan infrastruktur lebih baik 15 12,82 21,19 37,50 14,10 Jarak minimarket yang dekat 15 15,38 22,88 0,00 10,26 Strategi agar dapat bersaing dengan minimarket Sopan santun dan kejujuran 40,32 38,03 36,59 52,17 28,93 Menjamin kualitas barang 12,90 8,45 11,38 0,00 21,49 | · · | 18,75 | 25,47 | 24,60 | 31,26 | 37,67 | ||
| minimarket terhadap kinerja toko pengecer tradisional Tidak Berpengaruh 59,38 50 23,40 60 52,78 5 Alasan pengaruh minimarket berdasarkan persepsi pedagang pengecer tradisional Produk yang dijual sama 35 20,51 21,19 37,50 24,36 Harga produk yang dijual di minimarket berdasarkan persepsi pedagang pengecer tradisional Fasilitas dan infrastruktur lebih baik 25 41,03 16,10 20,83 30,77 Fasilitas dan infrastruktur lebih baik Jarak minimarket yang dekat 15 12,82 21,19 37,50 14,10 6 Strategi agar dapat bersaing dengan minimarket Sopan santun dan kejujuran 40,32 38,03 36,59 52,17 28,93 Menjamin kualitas barang 12,90 8,45 11,38 0,00 21,49 | 4 | Berpengaruh | ||||||
| | Kinerja toko pengecer tradisional | Tidak Berpengaruh | 59,38 | 50 | 23,40 | 60 | 52,78 | | | 40,63 | 50 | 76,60 | 40 | 47,22 | |||
| | Pengecer tradisional | Produk yang dijual sama | 35 | 20,51 | 21,19 | 37,50 | 24,36 | | | ||||||||
| 5 Alasan pengaruh minimarket berdasarkan persepsi pedagang pengecer tradisional Harga produk yang dijual sama 35 20,51 21,19 37,50 24,36 Fesilitas dan infrastruktur lebih baik 15 12,82 21,19 37,50 14,10 Jarak minimarket yang dekat 15 15,38 22,88 0,00 10,26 Strategi agar dapat bersaing dengan minimarket Sopan santun dan kejujuran 40,32 38,03 36,59 52,17 28,93 Menjamin kualitas barang 12,90 8,45 11,38 0,00 21,49 | , | Tidak Berpengaruh | 59,38 | 50 | 23,40 | 60 | 52,78 | |
| minimarket berdasarkan persepsi pedagang pengecer tradisional Harga produk yang dijual di minimarket lebih rendah 25 41,03 16,10 20,83 30,77 Fasilitas dan infrastruktur lebih baik 15 12,82 21,19 37,50 14,10 Jarak minimarket yang dekat 15 15,38 22,88 0,00 10,26 Lainnya 11,00 10,26 18,65 4,17 20,52 Strategi agar dapat bersaing dengan minimarket Sopan santun dan kejujuran 40,32 38,03 36,59 52,17 28,93 Menjamin kualitas barang 12,90 8,45 11,38 0,00 21,49 | _ | 1 0 | D 11 1" 1 | 2.5 | 20.51 | 21.10 | 27.50 | 24.26 |
| | berdasarkan persepsi pedagang pengecer tradisional | Fasilitas dan infrastruktur lebih baik | 15 | 12,82 | 21,19 | 37,50 | 14,10 | | | | 3 | 1 0 | , , , | 35 | 20,51 | 21,19 | 37,50 | 24,36 |
| | pedagang pengecer tradisional | Pasilitas dan infrastruktur lebih baik | 15 | 12,82 | 21,19 | 37,50 | 14,10 | | | - 1 | 25 | 41.02 | 16.10 | 20.92 | 20.77 | ||
| tradisional Fasilitas dan infrastruktur lebih baik Jarak minimarket yang dekat Lainnya 11,00 10,26 18,65 4,17 20,52 Strategi agar dapat bersaing dengan minimarket Menjamin kualitas barang 12,90 8,45 11,38 0,00 21,49 | * * | 3 | 25 | 41,03 | 16,10 | 20,83 | 30,77 | |
| | Authorized | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | Company | C | 1 0 01 0 | |||||||
| | Jarak minimarket yang dekat | 15 | 15,38 | 22,88 | 0,00 | 10,26 | | | tradisionar | 15 | 12,82 | 21,19 | 37,50 | 14,10 | ||
| dekat 15 15,38 22,88 0,00 10,26 Lainnya 11,00 10,26 18,65 4,17 20,52 Strategi agar dapat bersaing dengan minimarket Sopan santun dan kejujuran 40,32 38,03 36,59 52,17 28,93 Menjamin kualitas barang 12,90 8,45 11,38 0,00 21,49 | ||||||||
| | Lainnya | 11,00 | 10,26 | 18,65 | 4,17 | 20,52 | | | , , | 15 | 15,38 | 22,88 | 0,00 | 10,26 | ||
| 6 Strategi agar dapat bersaing dengan minimarket Sopan santun dan kejujuran 40,32 38,03 36,59 52,17 28,93 Menjamin kualitas barang 12,90 8,45 11,38 0,00 21,49 | 11,00 | 10,26 | 18,65 | 4,17 | 20,52 | |||
| bersaing dengan minimarket Menjamin kualitas barang 12,90 8,45 11,38 0,00 21,49 | 6 | Strategi agar dapat | * | |||||
| barang 12,90 8,45 11,38 0,00 21,49 | bersaing dengan | kejujuran | 40,32 | 38,03 | 36,59 | 52,17 | 28,93 | |
| barang | minimarket | Menjamin kualitas | 12.00 | 0.45 | 11.20 | 0.00 | 21.40 | |
| barang | 12,90 | 8,45 | 11,38 | 0,00 | 21,49 | |||
| Menambah 12.00 0.00 0.04 17.20 12.22 | Menambah | 12.00 | 0.96 | 0.04 | 17.20 | 12.22 | ||
| | 12,90 | 9,86 | 8,94 | 17,39 | 13,22 | | keanekaragaman produk | 12,90 | 9,86 | 8,94 | 1 / ,39 | 13,22 | ||
| Kebersihan 27,42 8,45 24,39 0,00 16,53 | Kebersihan | 27,42 | 8,45 | 24,39 | 0,00 | 16,53 | ||
| Lainnya 6,45 39,06 17,71 28,39 26,45 | Lainnya | 6,45 | 39,06 | 17,71 | 28,39 | 26,45 | ||
Untuk di Kota Soreang dan Lembang minimarket bukan merupakan permasalahan utama yang menyebabkan turunya kinerja usaha toko pengecer tradisional. Permasalahan utama lebih didominasi oleh kurangnya pembeli dan meningkatnya persaingan dengan pedagang sejenis. Untuk di Kota Tanjungsari di kawasan pendidikan keberadaan minimarket merupakan permasalahan utama dibandingkan kawasan perdagangan. Di kawasan pendidikan ini sebanyak 70% pedagang beranggapan bahwa minimarket merupakan pesaing terberat sedangkan di Kota Soreang dan Lembang pesaing terberat lebih kedi sesama pedagang toko pengecer tradisional daridi minimarket. kemudian berdasarkan persepsi pedagang bahwa pengaruh keberadaan
minimarket lebih banyak dirasakan oleh pedagang di Kota Tanjungsari di kawasan pendidikan (76,60%) dibandingkan dengan dua lainnya. Alasan pedagang kota yang menyatakan minimarket mempengaruhi kinerja usaha untuk di Kota Soreang dan Lembang lebih disebabkan oleh produk yang dijual sama dan harga yang dijual di minimarket lebih rendah sedangkan di Kota Tanjungsari untuk di kawasan pendidikan penyebab utama adalah karena kedekatan jarak sedangkan untuk di kawasan perdagangan adalah fasilitas yang lebih baik dimiliki oleh minimarket
Meskipun keberadaan minimarket sudah mulai mempengaruhi kinerja dan mulai penjadi pesaing usaha toko pengecer tradisional di tiga
kota ini, namun strategi usaha yang dilakukan lebih didominasi oleh sopan santun dan kejujuran, serta kebersihan . Strategi menambah jenis barang dan menjamin kualitas barang belum banyak digunakan oleh para pedagang toko pengecer tradisional di ketiga kota ini karena keterbatasan modal yang dimiliki.
6. Kesimpulan
Pola sebaran minimarket di Kota Soreang, Tanjungsari, dan Lembang cenderung berlokasi di pusat-pusat kegiatan khususnya di sepanjang jalan provinsi atau nasional yang memiliki tingkat pergerakan tinggi dan beraglomerasinya kawasan komersial di sepanjang jalan. Untuk Kota Soreang minimarket lebih cenderung beraglomerasi di kawasan pusat kota daridi kawasan pemerintahan karena pusat kota memiliki tingkat permintaan yang lebih tinggi akibat berpusatnya fasilitas kota dan tingginya pergerakan di kawasan pusat kota. Di Kota Tanjungsari sendiri aglomerasi minimarket lebih terlihat di kawasan pendidikan daridi kawasan perdagangan karena di kawasan pendidikan ini juga merupakan pusat kota Tanjungsari sedangkan untuk Lembang pola sebaran minimarket cenderung mengikuti tempat-tempat atau fasilitas yang menunjang kegiatan pariwisata di Kota Lembang. Untuk toko pengecer tradisional baik di Kota Soreang, Tangjungsari, dan Lembang pola sebaranya cenderung menyebar dan mendekati desa-desa yang memiliki jumlah penduduk tinggi khususnya di kawasan permukiman. Hal ini dikarenakan dengan keterbatasan modal yang dimiliki toko pengecer tradisional cenderung berlokasi mendekati konsumen guna meminimalisasi biaya transportasi konsumen.
Kinerja toko pengecer tradisional selama tahun 2005-2008 mengalamipenurunan kinerja ratarata omzet harian dan rata-rata keuntungan harian untuk di Kota Soreang baik kawasan pusat kota dan permukiman sedangkan kenaikan terjadi di Kota Tanjungsari dan Kota Lembang. Faktor yang menyebabkan perubahan kinerja tersebut lebih dikarenakan faktor eksternal daridi faktor internal toko pengecer tradisional. Meskipun belum menjadi permasalahan utama, sebagai faktor eksternal persaingan dengan minimarket mulai mempengaruhi kinerja usaha khususnya di kawasan permukiman di Kota Soreang dan kawasan pendidikan di Kota Tanjungsari. Pengaruh minimarket tersebut lebih dikarenakan fasilitas dan produk yang ditawarkan daridi kedekatan jaraknya dengan toko pengecer tradisional. Meskipun sudah mulai mempengaruhi kinerja usaha di kotakota kecil ini namun strategi usaha yang digunakan masih menggunakan strategi sederhana seperti kebersihan, sopan-santun, dan kejujuran, dan belum melakukan peningkatan kuantitas dan kualitas produk yang dijual karena keterbatasan modal yang dimiliki.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Myra Puspasari Gunawan, MT., untuk arahan dan bimbingan sehingga artikel ini dapat ditulis. Terima kasih juga kepada dua mitra bestari yang telah memberikan komentar yang berharga.
