1. Pendahuluan
Transformasi kota menjadi kawasan metropolitan kerap kali terjadi di berbagai belahan dunia, begitu pula halnya dengan kota besar di Indonesia. Proses transformasi kota menjadi metropolitan ini umumnya diawali oleh bergabungnya kota-kota yang berdekatan atau secara administratif bersebelahan yang disebut dengan konurbasi (McGee dan Robinson, 1995; Jones, 2001; Montgomery dkk, 2003; Doxiadis, 1969 dalam Winarso, 2006). Metropolitan juga dapat diartikan sebagai aglomerasi dari berbagai kawasan permukiman, tidak harus kawasan permukiman yang bersifat kota, namun secara keseluruhan
membentuk satu kesatuan dalam aktivitas bersifat kota dan bermuara pada pusat (kota besar yang menjadi inti metropolitan) yang dapat dilihat dari aliran tenaga kerja dan aktivitas komersial (Winarso, 2006).
Metropolitan diindikasikan oleh Angotti (1993) mulai berkembang di berbagai kawasan utama di dunia pada abad ke-20 dan merupakan bentuk yang berbeda dari suatu kota, karena memiliki ukuran yang lebih besar dan kompleks dari segi ekonomi, politik dan budaya. Selain itu metropolitan juga umumnya memiliki peranan yang besar secara global, sebagai contoh kawasan metropolitan di Indonesia memiliki peran dan fungsi khusus berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 1987 sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) untuk kota inti dan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) yang berfungsi sebagai pintu gerbang kawasan internasional dan pusat kegiatan dan transportasi untuk beberapa provinsi.
Berdasarkan studi mengenai pola perkembangan metropolitan yang dilakukan selama 35 tahun di berbagai negara di dunia oleh Ingram (1997) diketahui adanya kesamaan pola perkembangan yang ditunjukkan oleh desentralisasi populasi dan sektor lapangan usahai . Berdasarkan pengertian-pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kawasan metropolitan merupakan transformasi kumpulan kota melalui suatu tahapan atau pola perkembangan tertentu yang dapat diindikasikan melalui kondisi dan karakteristik ekonomi. Pendapat ini didukung oleh Evans (1985) yang menyatakan bahwa kondisi perekonomian mampu mengidentifikasikan perkembangan kawasan, karena besarnya suatu kota sangat dipengaruhi oleh faktor perekonomian yang ada.
Mengingat peran dan pengaruh kawasan metropolitan yang cukup besar, serta adanya proses transformasi tentu akan mempengaruhi kondisi kawasan tersebut pada masa yang akan datang. Makalah ini mengidentifikasi tahapan perkembangan kawasan metropolitan di Indonesia berdasarkan aspek ekonomi untuk mengetahui dan menjelaskan karakteristik tahapan perkembangan kawasan metropolitan sehingga dapat menjadi antisipasi terhadap perencanaan kawasan metropolitan pada masa yang akan datang.
Metropolitan Jakarta merupakan salah satu Kawasan Metropolitan terbesar di dunia dan merupakan kawasan perkotaan terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 20 juta jiwa pada tahun 2007. Pertumbuhan penduduknya yang pesat serta tingkat kepadatan penduduk yang tinggi menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan serta pembentukkan karakteristik perekonomian. Selain itu, perannya sebagai ibukota negara juga menambah daya tarik bagi pendatang serta fungsi dan perannya sebagai kawasan metropolitan menjadikan kawasan ini semakin berkembang denangan pesat. Sejak tahun 1975 sektor perekonomian di kawasan ini telah didominasi oleh sektor sekunder dan tersier (Soegijoko dalam Lo dan Yeung, 1996), yang merupakan kelompok sektor ciri khas perkotaan.
1.1 Kawasan Penelitian
Lingkup wilayah studi pada penelitian ini ialah Kawasan Metropolitan Jakarta, namun batasan wilayah suatu metropolitan merupakan batasan fungsional oleh sebab itu tidak ada batasan administrasi yang pasti. Oleh sebab itu, penelitian ini menggunakan delineasi wilayah yang berasal dari Raperpres Metropolitan Jabodetabek-Punjur pada tahun 2007 yang menyatakan bahwa Kawasan Metropolitan Jakarta terbagi ke dalam Provinsi DKI Jakarta sebagai pusat utama dengan luas daratan 661,52 km2 dan luas lautan sebesar 6.977,5 km2 yang terbagi menjadi lima wilayah kotamadya yaitu Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur. Selain itu, kawasan metropolitan ini memiliki sub-sub pusat pengembangan yaitu Kota dan Kabupaten Bekasi, Kota dan Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Kota dan Kabupaten Tangerang.
1.2 Metodologi
Metode analisis tahapan perkembangan Metropolitan Jakarta ini secara umum menggunakan metode analisis deskriptifeksplanatori. Hal ini dikarenakan penelitian ini berusaha untuk menjelaskan suatu fakta yang terjadi serta hubungan antar variabel terkait secara deskriptif. Pada akhirnya, penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan tahapan perkembangan Kawasan Metropolitan Jakarta berdasarkan karakteristik variabel-variabel yang telah ditentukan.Berikut ini merupakan uraian metodologi yang dilakukan untuk mencapai tujuan dan sasaran penelitian.
- a. Penentuan variabel pertumbuhan dan perkembangan ekonomi berdasarkan studi literatur mengenai perkembangan metropolitan serta kebijakan yang berlaku di Indonesia serta ketersediaan data tersebut. Penentuan variabel ini juga dilakukan melalui studi teori perekonomian wilayah dan kota dalam lingkup bidang Perencanaan Wilayah dan Kota, khususnya yang berkaitan secara langsung dengan kawasan metropolitan.
- b. Penyusunan data dan informasi perekonomian berdasarkan variabel
- ekonomi yang telah ditentukan secara time series.
- c. Analisis terhadap hasil kompilasi data dan informasi kondisi perekonomian metropolitan dengan menggunakan metode deskriptif-eksplanatori. Analisis ini dilakukan untuk melihat keterkaitan antar variabel yang ada selama jangka waktu perkembangan kota metropolitan tersebut.
- d. Identifikasi tahapan perkembangan metropolitan berdasarkan hasil analisis karakteristik ekonomi sesuai dengan variabel dan indikator yang telah disusun. Melalui proses ini dapat diketahui tahapan perkembangan kawasan metropolitan di Indonesia, dan tahap perkembangan yang saat ini sedang dialami oleh Metropolitan Jakarta, serta antisipasi yang harus dilakukan pada masa yang akan datang untuk mengendalikan serta mengoptimalkan perkembangannya.
2. Tinjauan Pustaka
2.1 Definisi dan Konsep Perkembangan Metropolitan
Berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007, kawasan metropolitan didefinisikan sebagai kawasan yang terdiri atas sebuah kawasan perkotaan inti dengan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling memiliki keterkaitan fungsional yang dihubungkan dengan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi dengan jumlah penduduk keseluruhan sekurang-kurangnya satu juta jiwa. Kawasan ini terbentuk melalui transformasi kota-kota yang berdekatan atau secara administratif bersebelahan yang membentuk konurbasi (McGee dan Robinson, 1995; Jones, 2001; Montgomery dkk, 2003; Doxiadis, 1969 dalam Winarso, 2006). Proses
transformasi ini memiliki pola yang sama di berbagai metropolitan di dunia dan proses tersebut dalam hal ini perkembangan suatu kota dapat diindikasikan oleh karakteristik aspek ekonomi (Villa, 1988; Ingram, 1997; Evans, 1985).
Ingram (1997) telah melakukan penelitian terhadap 35 metropolitan di berbagai belahan dunia dan menemukan adanya pola perkembangan yang sama, sedangkan Villa (1988) telah memformulasikan perkembangan metropolitan ke dalam sebuah tabel evolusi metropolitan berdasarkan karakteristik penduduk dan perekonomian. Tabel evolusi metropolitan ini terbagi ke dalam enam fase dalam tiga tahapan yaitu: tahap perkembangan pesat yang terdiri dari fase satu dan dua; tahap kedua ialah kematangan yang terdiri dari fase tiga dan empat dengan fase tiga sebagai puncak pertumbuhan metropolitan; dan tahap stabilitas yaitu pada fase lima dan enam yang menunjukkan kestabilan kawasan serta kemungkinan terjadinya penurunan perkembangan. Pada fase tersebut terdapat dua kemungkinan perkembangan dimana metropolitan tersebut memiliki kesempatan untuk berkembang secara internasional atau kemungkinan lainnya adalah terjadinya penurunan pertumbuhan. Hal ini bergantung dengan kebijakan yang diterapkan dalam pengembangan kawasan metropolitan tersebut pada masa yang akan datang
2.2 Teori dan Konsep Perkembangan Ekonomi Kawasan Metropolitan
Teori metropolitan Villa (1988) dan Ingram (1997) tidak sepenuhnya dapat diterapkan untuk menjelaskan pola perkembangan metropolitan di Indonesia. Hal ini dikarenakan keterbatasan data serta adanya perbedaan
karakteristik perekonomian antara negara maju, yang kerap kali menjadi contoh dalam teori metropolitan, dengan negara berkembang seperti Indonesia. Oleh sebab itu, pada penelitian ini dilakukan adaptasi beberapa indikator perekonomian guna menjelaskan karakteristik ekonomi kawasan metropolitan yang sesuai dengan kondisi Indonesia. Secara umum indikator perkembangan perekonomian berdasarkan Biz Education UK dapat dilihat dari empat hal yaitu, kondisi pertumbuhan ekonomi, kondisi perkembangan ekonomi, Indeks Pembangunan Manusia dan Indikator Sosio-Ekonomi lainnya. Dalam penelitian ini, indikator tersebut dikerucutkan kembali menjadi indikator pertumbuhan ekonomi, indikator perkembangan ekonomi, dan indikator sosio-ekonomi lainnya. Hal ini terkait dengan indikator perbandingan terhadap perekonomian nasional dimana metropolitan memiliki fungsi dan peran besar di Indonesia.
Indikator pertumbuhan ekonomi bisa menjadi bagian dalam perkembangan ekonomi namun keduanya merupakan hal yang berbeda. Indikator pertumbuhan ekonomi merupakan ukuran dari nilai produksi barang dan jasa dalam periode waktu tertentu, sedangkan indikator perkembangan ekonomi merupakan ukuran dari tingkat kesejahteraan masyarakat dalam suatu komunitas. Adapun variabel dari pertumbuhan ekonomi ialah pendapatan per kapita, PDRB, serta perbandingan antara pendapatan nasional dan pendapatan daerah. Variabel perkembangan ekonomi dapat dilihat dari tingkat kemiskinan, kesenjangan antargolongan ekonomi masyarakat dan ketimpangan antarwilayah di kawasan metropolitan. Berikut ini merupakan hasil analisis indikator tersebut dalam menjelaskan tahapan perkembangan Metropolitan Jakarta.
2. Tahapan Perkembangan Metropolitan Jakarta
Suatu kumpulan kota dapat digolongkan menjadi metropolitan apabila jumlah penduduknya telah mencapai satu juta jiwa. Pada tahun 1987, jumlah penduduk Metropolitan Jakarta sudah mencapai 15 juta jiwa. Peningkatan jumlah penduduk ini secara umum terus terjadi hingga saat ini, namun sejak tahun 2003 peningkatan jumlah penduduk tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dapat terlihat dari laju pertumbuhan penduduk yang terus mengalami penurunan. Berikut ini merupakan grafik laju pertumbuhan penduduk di kawasan Metropolitan Jakarta.
Gambar 1 Laju Pertumbuhan Penduduk Kawasan Metropolitan Jabodetabek Tahun 1987-1988 hingga 2006- 2007
Sumber: Hasil Analisis, 2009
Gambar di atas menunjukkan bahwa laju pertumbuhan penduduk pada tahun 1989-1990 di mencapai titik tertinggi yaitu sebesar 8,6% sedangkan pada tahun 2000-2001 mencapai titik terendah yaitu sebesar -2,45%. Salah satu penyebab tingginya jumlah penduduk di Metropolitan Jakarta ialah tingginya daya tarik kota inti metropolitan yaitu DKI Jakarta. Sebagai kota inti, DKI Jakarta memiliki berbagai macam faktor penarik bagi para pendatang. Peran DKI Jakarta sebagai ibukota negara menyebabkan peluang terbukanya lapangan pekerjaan cukup besar. Segala fasilitas yang dimiliki serta kegiatan-kegiatan yang terdapat di dalamnya menyebabkan
banyaknya pendatang di DKI Jakarta, baik dari kota-kota sekitarnya maupun kota-kota yang letaknya jauh dari DKI Jakarta. Hal ini kemudian menyebabkan pertumbuhan penduduk DKI Jakarat bukan merupakan penduduk asli DKI Jakarta.
Apabila dilihat secara lebih rinci hingga pertumbuhan per kota dan kabupaten di kawasan metropolitan diketahui bahwa pada tahun 2001 terjadi penurunan jumlah penduduk di beberapa kabupaten dan kota di Metropolitan Jabodetabek yang bersamaan dengan peningkatan jumlah penduduk di kabupaten dan kota lainnya di luar
Metropolitan Jabodetabek. Adapun peningkatan jumlah penduduk terjadi di Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota Tangerang, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi. Peningkatan jumlah penduduk yang paling tinggi terjadi di Kota Depok dengan laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2000-2001 sebesar 23,81%.
Kondisi kependudukan tersebut sedikit banyak mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kondisi dan karakteristik perekonomian kawasan metropolitan. Kawasan DKI Jakarta sejak era tahun 1970 telah memiliki karakteristik perekonomian yang unik. Tingginya kontribusi kelompok sektor sekunder dan tersier sudah melampaui sektor primer di saat provinsi lain di Indonesia masih mengandalkan sektor primer sebagai sumber utama pendapatanii . Fungsi DKI Jakarta sebagai ibukota negara menuntut keoptimalan perannya sebagai pusat pemerintahan dan kota internasional yang menampilkan citra bangsa dan negara bagi dunia luar karena merupakan tempat kedudukan hampir keseluruhan perangkat pemerintahan tingkat nasional, perwakilan negara-negara asing, pusat perusahaanperusahaan multi nasional, dan gerbang utama wisatawan mancanegara (Renstrada Provinsi DKI Jakarta 2002-2007). Selain itu, provinsi ini juga beperan sebagai kota jasa yang menjadikan kawasan ini sebagai pusat pelayanan masyarakat, pusat perdagangan dan distribusi, pusat keuangan, pusat pariwisata, serta pusat pelatihan dan informasi.
Peran DKI Jakarta yang beragam mengakibatkan terbukanya lapangan pekerjaan yang besar. Hal ini menjadikan daya tarik khusus bagi pendatang untuk mengadu nasib di Jakarta. Jumlah pendatang yang masuk ke kawasan ini cukup besar, dan pertumbuhan penduduk tersebut mengakibatkan
pertumbuhan ekonomi yang pesat. Akibat pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang pesat, kawasan ibukota tidak mampu lagi mendukung perkembangan tersebut sehingga berdampak pada pembangunan kawasan di sekitar ibukota yang berfungsi mendukung akivitas di kota Inti. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang RTRWN, Raperpres Jabodetabek-Punjur, dan RTRK Jabodetabek-Punjur, kawasan kawasan pendukung tersebut merupakan kawasan penyangga atau kota satelit yang berperan sebagai satu kesatuan dengan DKI Jakarta dalam optimalisasi kawasan Metropolitan Jabodetabek sebagai Pusat kegiatan Nasional (PKN).
Hal ini menjadikan kawasan DKI Jakarta yang awalnya merupakan suatu kota yang terus berkembang hingga akhirnya bertransformasi menjadi kawasan metropolitan. Dalam proses identifikasi tahap perkembangan kawasan Metropolitan Jakarta, hal ini menjadi penting untuk diperhatikan karena pertumbuhan kota inti dan kota penyangga tentu memiliki karakteristik yang berbeda. Hal tersebut telah dikaji sebelumnya oleh Mamas dan Komalasari (2004) yang mengelompokkan kota dan kabupaten di kawasan Metropolitan Jakarta berdasarkan zona pertumbuhannya. Oleh sebab itu, analisis tahapan perkembangan Kawasan Metropolitan Jakarta dilakukan berdasarkan pembagian zona tersebut. Berikut ini merupakan pengelompokkan kawasan metropolitan tersebut:
Core (Zona Inti)
Zona ini merupakan zona inti kawasan Metropolitan Jabodetabek yang terdiri dari Kota Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan Jakarta Utara.
Inner Zone (Zona Lingkar Dalam) Zona ini merupakan area perkotaan yang mengelilingi Metropolitan Jabodetabek.
- Terdiri dari Kota Bekasi, Kota Bogor, Kota Depok dan Kota Tangerang.
- Outer Zone (Zona Lingkar Luar) Zona ini merupakan kawasan lingkar terluar metropolitan yang terdiri dari Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor dan Kabupaten Tangerang.
3.1 Pertumbuhan Ekonomi Metropolitan Jakarta
Analisis mengenai pertumbuhan ekonomi Metropolitan Jakarta menggunakan data perbandingan kontribusi kelompok sektor dalam PDRB dan laju pertumbuhan PDRB secara time series serta karakteristik perekonomian terkait lainnya. Data ini dapat dibandingkan dengan teori evolusi metropolitan Villa (1988), khususnya variabel kontribusi kelompok sektor, cakupan pelayanan, tingkat keterkaitan antarwilayah, serta aglomerasi ekonomi sehingga dapat diketahui tahapan evolusi Metropolitan Jakarta saat ini. Berikut ini merupakan grafik hasil analisis kontribusi kelompok sektor PDRB Metropolitan Jakarta.
Gambar 2 Kontribusi Kelompok Sektor PDRB Metropolitan Jabodetabek
Sumber: Hasil Analisis berdasarkan data BPS, 2009
Pertumbuhan sektor industri dan jasa di Metropolitan Jabodetabek memiliki pola yang sama dengan pertumbuhan ekonomi sektoral dalam teori evolusi metropolitan Villa (1987). Hal ini diindikasikan oleh kecenderungan pertumbuhan sektor industri dan penurunan sektor jasaiii pada tahap perkembangan awal hingga mencapai puncak pertumbuhan metropolitan. Pada tahap selanjutnya yaitu fase kematangan (maturity) metropolitan, pertumbuhan sektor industri mengalami penurunan sedangkan sektor jasa mengalami peningkatan. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, saat ini Metropolitan Jabodetabek tengah berada pada fase kematangan metropolitan dengan puncak pertumbuhan pada rentang tahun 1990 – 1995.
Berikutnya ialah variabel skala pelayanan Metropolitan Jakarta, pada rentang tahun 1990 hingga 1995 yang diperkirakan merupakan puncak pertumbuhan, skala pelayanan Metropolitan Jakarta juga semakin berkembang bahkan hingga skala internasional. Hal ini diindikasikan oleh jumlah investasi asing serta meningkatnya pembukaan kantor cabang perusahaan perusahaan asing di Metropolitan Jabodetabek sebagai salah satu basis perusahaan tersebut khususnya di kawasan Asia Tenggara. Hal ini juga diungkapkan oleh Villa (1988), berdasarkan teori tersebut jika suatu metropolitan telah memiliki skala pelayanan hingga tingkat internasional, namun skala pelayanan utama ialah tingkat nasional maka metropolitan tersebut tengah berada pada fase keempat yang merupakan fase kematangan metropolitan.
Tingkat keterkaitan antar kawasan di dalam metropolitan juga dapat mengindikasikan tahapan perkembangan metropolitan tersebut. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Mamas dan Komalasari (2004), kota dan kabupaten di Metropolitan Jakarta membentuk tiga zona dengan karakteristik pertumbuhan yang berbeda didasari oleh lokasi dan peran masing masing zona dalam optimalisasi peran dan fungsi kawasan metropolitan. Hal ini mengindikasikan adanya keterkaitan antarkawasan di area Metropolitan Jakarta. Keterkaitan ini tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui suatu proses seiring dengan tumbuh dan berkembangnya kawasan metropolitaniv. Berdasarkan teori evolusi metropolitan Villa (1987) mengenai tingkat keterkaitan antar kawasan metropolitan, keterkaitan antarkawasan di Metropolitan Jakarta yang signifikan dan menyeluruh pada saat ini mengindikasikan tahap perkembangan pada fase keempat.
Tingginya pertumbuhan sektor industri di Metropolitan Jakarta memicu tumbuhnya aglomerasi ekonomi. Penghematan yang dapat diperoleh perusahaan akibat lokasi yang berdekatan dan strategis serta efek aglomerasi ekonomi tersebut dalam meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi mengakibatkan aglomerasi di kawasan metropolitan terus berkembang dan meluas. Suatu studi memperkirakan aglomerasi di Metropolitan Jakarta akan menyatu hingga Metropolitan Bandung atau dikenal dengan istilah extended metropolitan region. Tingginya tingkat aglomerasi juga merupakan indikasi perkembangan suatu metropolitan, semakin tinggi tingkat aglomerasi menunjukkan semakin berkembangnya kawasan tersebut. Berdasarkan karakteristik tingkat aglomerasi yang saat ini terus mengalami peningkatan maka dalam teori tahap evolusi metropolitan Villa (1987) saat ini Metropolitan Jakarta berada pada fase keempat yang merupakan fase puncak peningkatan aglomerasi.
3.2 Perkembangan Ekonomi Metropolitan
Selain analisis pertumbuhan ekonomi, dilakukan pula analisis perkembangan ekonomi untuk melihat tingkat kesejahteraan masyarakat di kawasan Metropolitan Jakarta. Analisis ini menggunakan metode time series terhadap: Gini Coefficient untuk mengukur tingkat kesenjangan antargolongan ekonomi masyarakat di setiap kota dan kabupaten di Metropolitan Jakarta; Indeks Williamson untuk mengukur tingkat kesenjangan antarwilayah di Metropolitan Jakarta; serta persentase jumlah penduduk miskin. Berdasarkan analisis Gini Coefficient diketahui bahwa kesenjangan antargolongan masyarakat di kota dan kabupaten yang terletak di Metropolitan Jakarta tergolong rendah karena nilainya berada di bawah 0,4. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan berkembangnya metropolitan nilai Gini Ratio pun semakin menurun kecuali di kawasan inti metropolitan yang mengalami peningkatan. Namun, peningkatan tersebut relatif kecil, yaitu dari 0,30 pada tahun 1993 menjadi 0,41 pada tahun 2002.
Berdasarkan analisis dan perhitungan Indeks Williamson diketahui bahwa semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi di Metropolitan Jakarta mengakibatkan semakin tingginya tingkat ketimpangan antara zona pertumbuhanv di dalamnya. Hal ini diakibatkan oleh pertumbuhan ekonomi kawasan inti yang sangat pesat serta jumlah penduduk kawasan inti yang relatif lebih kecil menjadikan pendapatan per kapita kawasan inti jauh lebih besar jika dibandingkan dengan kawasan pendukungnya terutama jika dibandingkan dengan kawasan lingkar luar yang pertumbuhan ekonominya tidak sebesar kawasan lingkar dalam dan kawasan inti.
Persentase jumlah penduduk miskin di Metropolitan Jakarta juga relatif rendah apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin di Indonesia secara keseluruhan. Berdasarkan data tahun 2005, persentase penduduk miskin di kawasan metropolitan memiliki nilai tengah 3,8% dengan nilai terendah 0,7% dan nilai tertinggi 13,5%. Sementara itu, persentase penduduk miskin di Indonesia pada tahun yang sama mencapai 15,97%. Kecenderungan yang terjadi ialah peningkatan persentase penduduk miskin pada masa krisis ekonomi 1998vi dalam jumlah besar, namun seiring dengan pertumbuhan perekonomian secara umum persentase penduduk miskin di Metropolitan Jakarta terus mengalami penurunan.
3.2 Perbandingan Perekonomian Metropolitan dengan Nasional
Peran metropolitan yang besar terhadap perekonomian nasional merupakan dasar digunakannya analisis mengenai perbandingan perekonomian metropolitan dengan nasional. Analisis yang dilakukan untuk mengetahui hal ini ialah perhitungan kontribusi PDRB Metropolitan Jakarta terhadap PDB Nasional serta nilai Location Quotient (LQ) Metropolitan Jakarta. Berdasarkan hasil analisis, kontribusi PDRB Metropolitan Jakarta terhadap perekonomian nasional terus mengalami peningkatan. Pada tahun 1985 tercatat kontribusi pendapatan regional Metropolitan Jakarta sebesar 12,27% terhadap pendapatan nasional, jumlah ini terus meningkat dan pada tahun 2005 persentase kontribusi tersebut mencapai 22,20% terhadap pendapatan nasional.
Perhitungan LQ di kawasan Metropolitan Jakarta menunjukkan bahwa sebagian besar sektor lapangan usaha di kawasan ini merupakan sektor basis dan memiliki
keunggulan komparatif, sehingga hasil dari sektor-sektor tersebut tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan di wilayah metropolitan saja tetapi juga memiliki potensi untuk diekspor keluar wilayah. Adapun sektor-sektor yang bukan merupakan sektor basis ialah sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, serta jasa. Persentase kelompok sektor primer di kawasan metropolitan cenderung mengalami penurunan dan nilainya kurang dari 0,1, hal ini disebabkan oleh karakteristik perkotaan yang sebagian besar merupakan aktivitas non-pertanian sehingga sektor primer tidak dapat berkembang. Sedangkan untuk sektor jasa memiliki nilai LQ mendekati 1 karena sektor ini merupakan sektor yang berorientasi terhadap pelayanan masyarakat dan bukan berorientasi kepada profit sehingga sektor ini lebih diutamakan untuk memenuhi kebutuhan wilayah metropolitan saja.
4. Kesimpulan
- a. Jumlah penduduk kawasan Metropolitan Jakarta terus meningkat dengan rata-rata laju pertumbuhan penduduk mencapai 2,59% setiap tahun. Namun sejak tahun 2003 pertambahan penduduk tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan tahuntahun sebelumnya. Perubahan jumlah penduduk di kawasan Metropolitan Jabodetabek diperkirakan akibat naiknya harga lahan, bencana banjir, jumlah pendatang, keadaan ekonomi, dan penggusuran.
- b. Kepadatan penduduk kawasan Metropolitan Jabodetabek dari tahun 1987 terus meningkat hingga tahun 2007, walaupun terjadi sedikit penurunan pada tahun 2001. Apabila dilihat dari kepadatan penduduk per kabupaten dan kota, kepadatan penduduk yang terjadi di
c. Berdasarkan analisis terhadap kondisi pertumbuhan ekonomi dan teori evolusi metropolitan Villa (1987), diketahui bahwa saat ini Metropolitan Jakarta
berada pada fase keempat atau fase kematangan yang diperkirakan akan mengalami tahap kestabilan atau penurunan pertumbuhan pada masa yang akan datang, dengan puncak pertumbuhan diperkirakan terjadi pada rentang tahun 1990-1995.
Tabel 1 Tahapan perkembangan Metropolitan Jakarta
| No | Indikator | Fase 1 | Fase 2 | Fase 3 | Fase 4 | Fase 5 | Fase 6 |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pertumbuhan Sektor Industri | ||||||
| Pertumbuhan Sektor Jasa | |||||||
| 2 | Aglomerasi Ekonomi | ||||||
| 3 | Cakupan Pelayanan | ||||||
| 4 | Keterkaitan antar Kawasan |
Sumber: Hasil Analisis, 2009
- d. Tingkat ketimpangan antarkawasan di Metropolitan Jakarta terus mengalami peningkatan seiring dengan perkembangannya. Ketimpang tersebut diindikasikan oleh kesenjangan dalam perbandingan pendapatan per kapita di masing-masing zona pertumbuhan.
- e. Tingkat kesenjangan antargolongan ekonomi masyarakat di kawasan metropolitan relatif kecil dan terus mengalami penurunan seiring dengan berkembangnya metropolitan. Namun kasus perubahan tingkat kesenjangan yang berbeda terjadi di kawasan inti Metropolitan Jakarta. Hal yang terjadi di kawasan ini ialah semakin berkembangnya metropolitan semakin meningkat pula tingkat kesenjangan antargolongan ekonomi masyarakat.
- f. Tingkat kontribusi Metropolitan Jakarta juga semakin meningkat, seiring dengan semakin berkembangnya metropolitan tersebut.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Haryo Winarso, Ir., M.Eng., Ph.D untuk arahan dan bimbingan sehingga artikel ini dapat ditulis. Terima kasih juga kepada dua mitra bestari yang telah memberikan komentar yang berharga.
