1. Pendahuluan
Salah satu kawasan pariwisata andalan Propinsi Jawa Barat yang memiliki prioritas tinggi untuk dikembangkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis adalah objek wisata Pangandaran. Kawasan Pangandaran
menerima kunjungan rata-rata pertahun sekitar 1,5 juta kunjungan wisatawan nusantara dan sekitar 10 ribuan wisatawan mancanegara. Pangandaran mampu memberikan sumbangan pendapatan daerah rata-rata di atas Rp 2 milyar per tahun. Bahkan pada tahun 2002, Pemerintah Kabupaten
Ciamis memperoleh sekitar Rp. 2,3 miliar atau 71,9 persen dari total retribusi dari seluruh objek wisata yang ada di Ciamis yang besarnya Rp 3,2 miliar.
Pangandaran yang menjadi andalan tersebut seketika berubah disebabkan peristiwa gempa dan tsunami yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2006, yang mengakibatkan banyak kerusakan di kawasan ini. Pantai Pangandaran mengalami kerusakan parah akibat gelombang tsunami. Sejumlah sarana dan prasarana penunjang pariwisata di daerah tersebut luluh lantak mengalami kerusakan akibat gelombang tsunami, tidak mencakup sarana dan prasarana fisik, tetapi juga aspek- aspek sosial dan ekonomi. Bencana gempa dan tsunami tersebut ditaksir menimbulkan kerugian material bagi masyarakat Kabupaten Ciamis, kurang lebih mencapai Rp 500 miliar. Bencana gempa dan tsunami di wilayah Ciamis Selatan ini telah mempengaruhi kondisi perekonomian yang ada di kabupaten Ciamis maupun perkonomian lokal yang ada di kawasan pesisir Pangandaran.
Sebagai akibat bencana, terjadi penurunan drastis jumlah wisatawan. Hal ini berdampak pada usaha mikro kerajinan yang ada di Pangandaran. Usaha mikro yang sangat terpukul akibat bencana ini adalah kerajinan kerang, kayu, layang-layang dan fiber. Bencana tsunami yang telah merusak tempat produksi usaha mikro kerajinan. Para pengrajin sangat bergantung pada pariwisata di Pangandaran. Tidak adanya wisatawan berarti tidak adanya konsumen yang dapat membeli produk mereka. Berbagai macam barang kerajinan dan souvenir atau cinderamata dapat dipasarkan di Kawasan obyek wisata maupun di kawasan sekitarnya. Menurut Soekadijo (2000: 74), bisnis cinderamata itu penting, karena pengeluaran wisatawan secara perorangan biasanya lebih besar untuk cinderamata daripada untuk menikmati obyek wisatanya sendiri. Pengembangan usaha mikro kerajinan sangat penting dalam pemulihan ekonomi lokal Pangandaran. Berdasarkan pemikiran diatas, maka usaha mikro, khususnya para usaha mikro kerajinan sangat berperan dalam pengembangan ekonomi lokal di kawasan Pangandaran.
2. Kinerja Usaha Mikro Kerajinan
Dalam perekonomian Indonesia Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan kelompok usaha yang memiliki jumlah paling besar. Selain itu kelompok ini terbukti tahan terhadap berbagai macam goncangan krisis ekonomi. Maka sudah menjadi keharusan untuk dilakukan upaya penguatan kelompok usaha mikro, kecil dan menengah yang melibatkan banyak kelompok. Kriteria usaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil dan Menengah telah diatur dalam payung hukum berdasarkan undang-undang.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) ada beberapa kriteria yang dipergunakan untuk mendefinisikan pengertian dan kriteria Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Kriteria kelompok usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. Kriteria kelompok usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam undangundang ini. Kriteria usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik
langsung maupun tidak langsung dengan usaha mikro atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. Berikut tabel 1 menjelasakan jumlah aset dan omzet yang dimiliki oleh sebuah usaha.
Tabel 1 Pengelompokan Kegiatan Usaha Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2008
| Usaha | Aset | Omzet | ||
|---|---|---|---|---|
| Usaha Mikro | Maks. 50 Juta | Maks. 300 juta | ||
| Usaha Kecil | >50 juta -500 juta | >300juta-2,5 Milyar | ||
| Usaha Menengah | >500 juta-10 Milyar | >2,5 Milyar-50 Milyar | ||
Sumber: Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM
Menurut World Bank dalam Hallen Kristin (2000) Usaha Kecil Dan Menengah dikelompokkan menjadi tiga kelompok:
Tabel 2 Pengelompokan Kegiatan Usaha Berdasarkan World Bank
| Usaha | Jumlah Karyawan | Pendapatan | Aset |
|---|---|---|---|
| Usaha Mikro | 10 | <$100 ribu | <$100 ribu |
| Usaha Kecil | 30 | <$3 juta | <$3 juta |
| Usaha menengah | 300 | <$15 juta | <$15 juta |
Sumber: World Bank, 2000
Kriteria umum usaha mikro oleh Tambunan (2003): banyak berlokasi di pedesaan, suburban dan kota-kota kecil, kegiatan usaha kecil lebih berorientasi ke sektor pertaniaan; dilihat menurut golongan usaha tampak bahwa hampir sepertiga bagian dari seluruh usaha mikro bergerak pada kelompok usaha makanan, minuman dan tembakau; pelaku adalah rakyat dengan status sosial ekonomi rendah, khususnya dalam bidang pendidikan; sumber tenaga kerja dari lingkungan keluarga atau lingkungan sosial budaya setempat; tidak adanya pembagian tugas kerja yang jelas antara bidang administrasi dan operasi, kebanyakan usaha mikro dikelola oleh perorangan yang merangakap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan, serta memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga dan kerabat nya sendiri; rendahnya akses usahausaha mikro terhadap lembaga-lembaga kredit formal sehingga mereka cenderung menggantungkan pembiayaan usahanya dari modal sendiri atau sumber-sumber lain seperti keluarga, kerabat, pedagangan perantara bahkan rentenir; memiliki kemampuan terbatas dalam menerapakan teknologi atau teknologi sederhana atau tradisional; interaksi usaha dan bisnis sangat terbatas antara sektor hulu dan hilir; usaha mikro umumnya memiliki prinsip asal dapat berjualan dengan aman saja sudah cukup, mereka umumnya tidak membutuhkan modal yang besar dan modal yang diperlukan sekedar membantu kelancaran cash flow saja, dengan tingkat keuntungan rendah, usaha mikro lebih merupakan upaya bertahan hidup.
3. Kinerja Usaha Mikro di Kecamatan Pangandaran
Usaha mikro kerajinan yang ada di Kecamatan Pangandaran terdapat 4 jenis yaitu usaha mikro kerajinan kerang, kayu, layang-layang dan fiber. Berdasarkan data didapat maka populasi keempat jenis usaha mikro sebanyak 68 unit. Selain itu usaha mikro kerajinan kerang dibagi menjadi dua tipe, yaitu usaha mikro kerajinan kerang tipe A dan tipe B.
Gambar 1 Komposisi Populasi Usaha Mikro Kerajinan di Kecamatan Pangandaran
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Untuk menentukan jumlah sampel, maka peneliti menggunakan metode Slovin, sehingga didapat 21 usaha mikro kerajinan kerang tipe A, sebelas usaha mikro kerajinan kerang tipe B, delapan usaha mikro kerajinan kayu, satu
usaha mikro kerajinan layang-layang, dan dua usaha mikro kerajinan fiber. Pengambilan sampel ditentukan dengan metode random sampling sederhana. Untuk kasus usaha mikro layang-layang dan fiber peneliti tidak mengambil sampel melainkan populasi disebabkan jumlah populasi yang sangat sedikit. Berikut di bawah ini tabel-tabel sampel responden penelitian
4. Analisis Kinerja Usaha Mikro
Analisis kinerja diperlukan alat analisis, diungkapkan melalui aspek utama dan aspek pendukung. Aspek utama terdiri dari perolehan faktor produksi, pengelolaan usaha dan hasil usaha. Aspek pendukung terdiri dari prospek pengembangan usaha dan jiwa kewirausahaan.
1) Perolehan Faktor Produksi
Dalam hal ini peneliti ingin melihat perkembangan usaha mikro dalam tiga fase (sebelum bencana, sekarang, dan sesudah bencana) dalam perolehan faktor produksi. Faktor produksi yang dapat memengaruhi kinerja diantaranya modal dalam melakukan satu putaran produksi, tenaga kerja yang dibutuhkan, bahan baku yang dibutuhkan, dan alat produksi yang dibutuhkan untuk melakukan produksi.
a. Modal
Dalam hal ini dikaji modal melakukan satu kali putaran produksi. Setelah dilakukan pendataan maka didapatkan bahwa seluruh usaha mikro kerajinan melakukan sekali putaran produksi setiap sebulan sekali. Artinya dalam satu tahun usaha mikro kerajinan dapat melakukan 12 putaran produksi.
Gambar 2 Jumlah Rata-Rata Modal untuk Sekali Putaran Produksi Usaha Mikro Kerajinan
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Dapat dilihat dari grafik di atas mayoritas usaha mikro kerajinan mengalami kenaikan jumlah modal untuk sekali putaran produksi dari tahun ke tahun. Hanya usaha mikro kerajinan fiber yang mengalami penurunan pada tahun 2007. Penurunan jumlah modal usaha mikro kerajinan fiber diakibatkan tempat berjualan penjual kerajinan fiber berlokasi di tepi pantai langsung dan mengalami kerusakan parah ketika terjadi bencana tsunami. Selain itu juga jumlah populasi usaha mikro kerajinan fiber yang hanya berjumlah dua usaha mikro. Oleh karenanya, ketika terkena krisis, mereka tidak dapat bertahan karena tidak dapat saling membantu, kurang dapat bantuan dari pemerintah dan butuh waktu proses untuk bangkit (usaha mikro kerajinan fiber vakum melakukan penjualan selama 6 bulan pasca tsunami).
Berbeda halnya dengan usaha mikro kerajinan kerang yang walaupun terkena krisis tsunami, tetapi beberapa dari mereka langsung mendapatkan bantuan dari pemerintah dan Tanoto Foundation. Selain itu mereka hanya vakum selama 3 bulan pasca tsunami sehingga pemulihan mereka lebih cepat dibandingkan usaha kerajinan fiber. Berbeda kasus dengan usaha mikro kerajinan kayu, yang tidak mengalami penurunan tetapi meningkat dengan jumlah yang sedikit, disebabkan usaha mikro kerajinan kayu berlokasi jauh dari tepi pantai, sehingga tidak mengalami kerusakan
fisik, hanya penurunan penjualan saja. Secara umum usaha mikro mengalami peningkatan modal pasca tsunami pada tahun 2007 tetapi hanya mengalami peningkatan yang sedikit, dan meningkat secara signifikan dari tahun 2007 hingga tahun 2010. Sumber modal untuk sekali putaran produksi setiap usaha mikro kerajinan berbeda-beda.
Gambar 3 Komposisi Sumber Modal Usaha Mikro Kerajinan Kerang Tipe A
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Sumber Modal Usaha Mikro Kerajinan Kerang Tipe A dalam melakukan sekali putaran produksi bervariasi, ada yang berasal dari modal pribadi, pinjaman bank, hingga pinjaman kerabat. Pada tahun 2005 sumber modal didominasi oleh sumber pribadi diukuti lainnya dan bank. Sumber modal pribadi menurun setiap tahunnya disebabkan tren bisnis usaha mikro yang mulai mencari modal dengan melalui akses dari bank. Bank dapat memberikan pinjaman lunak dengan cicilan setiap bulannya, hal ini sangat disukai oleh para pengrajin sehingga konsumsi pinjaman dari bank meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2007 sumber modal lainnya meningkat, sumber modal lainnya berasal dari pinjaman dari Himpunan Pengrajin Pangandaran (HPP) yang memperoleh dana bantuan dari Tanoto Fondation. Tetapi bantuan pinjaman dari HPP hanya diberikan kepada anggota HPP saja. Sehingga usaha mikro yang bukan anggota HPP mencari pinjaman ke Bank.
Berbeda halnya dengan usaha mikro kerajinan kerang tipe B. Sumber sumber pribadi meningkat setiap tahun, sedangkan sumber lainnya dan sumber dari bank menurun pada tahun 2007 dan konstan pada tahun 2010. Hal ini disebabkan besarnya bisnis usaha mikro kerang tipe B dibandingkan A, Keuntungan yang meningkat setiap tahunnya dijadikan modal dalam melakukan produksi dalam setiap putaran (Gambar 4).
Gambar 4 Komposisi Sumber Modal Usaha Mikro Kerajinan Kerang Tipe B
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Sumber modal usaha mikro kerajinan kayu dalam melakukan produksi sekali putaran didominasi oleh sumber pribadi. Modal usaha mikro kerajinan layang-layang dan fiber berasal dari sumber pribadi.
Gambar 5 Komposisi Sumber Modal Usaha Mikro Kerajinan Kayu
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Dilihat dari analisis di atas maka dapat diperoleh kesimpulan pada sub-aspek modal, terjadi peningkatan kebutuhan modal dalam melakukan produksi sekali putaran dari tahun 2005 hinggga 2010, meskipun terdapat
peningkatan yang kecil pada tahun 2005 menuju tahun 2007 disebabkan pada fase pasca krisis. Sehingga dapat dikatakan kinerja usaha mikro kerajinan di Kecamatan Pangandaran meningkat disebabkan terjadinya kenaikan jumlah modal kebutuhan produksi.
b. Tenaga Kerja
Tenaga kerja pada skala usaha mikro dibutuhkan untuk proses pembuatan produk atau proses produksi. Untuk usaha mikro kerajinan di Kecamatan Pangandaran, usaha mikro kerajinan kayu butuh tenaga kerja yang banyak.
Gambar 6 Jumlah Rata-Rata Tenaga Kerja Usaha Mikro Kerajinan di Kecamatan Pangandaran
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Dapat dilihat pada Gambar 6, pada umumnya terdapat peningkatan jumlah rata-rata tenaga kerja usaha mikro kerajinan di Kecamatan Pangandaran. Usaha mikro kerajinan kayu, fiber dan layang-layang mengalami tahap konstan pada jumlah tenaga kerja di tahun 2005 dan 2007. Baru pada tahun 2010 usaha mikro kerajinan kayu, fiber dan layang-layang mengalami peningkatan tenaga kerja. Tabel di bawah ini akan menjelaskan komposisi asal tenaga kerja usaha mikro kerajinan.
Komposisi asal tenaga kerja usaha mikro kerajinan kerang tipe A pada tahun 2005 didominasi oleh orang lain sebesar 76% Hanya sedikit usaha mikro yang tenaga kerjanya terdiri dari anggota keluarganya sebesar 12% dan kerabat hanya sebesar 12%.
Begitu juga dengan tahun 2007 pasca tsunami komposisi asal tenaga kerja didominasi oleh orang lain. Sama halnya dengan komposisi asal tenaga kerja usaha mikro kerajinan kerang tipe A, tipe B juga didominasi oleh tenaga kerja orang lain sebesar 92% sedangkan tenaga kerja yang merupakan anggota keluarga hanya berkisar 2-3 % dari tahun 2005 hingga tahun 2010. Anggota keluarga yang menjadi tenaga kerja di usaha mikro kerajinan kayu hanya sebanyak 8% di tahun 2005 hingga 11% di tahun 2010. Orang lain yang mendominasi menjadi pekerja pada usaha mikro kerajinan kayu. Sedangkan usaha mikro kerajinan layang-layang dan fiber 100% adalah orang lain yang dijadikan tenaga kerja.
Tabel 3 Komposisi Asal Tenaga Kerja Usaha Mikro Kerajinan
| Komposisi Tenaga Kerja (%) | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Jenis Kerajinan | Anggota Keluarga Kerabat | Orang Lain | ||||
| 2005 | ||||||
| Kerang Tipe A | 12 | 12 | 76 | |||
| Kerang Tipe B | 3 | - | 97 | |||
| Kayu | 11 | - | 89 | |||
| 2006 | ||||||
| Kerang Tipe A | 6 | 6 | 88 | |||
| Kerang Tipe B | 3 | - | 97 | |||
| Kayu | 11 | - | 89 | |||
| 2007 | ||||||
| Kerang Tipe A | 7 | 3 | 90 | |||
| Kerang Tipe B | 2 | - | 98 | |||
| Kayu | 8 | - | 92 | |||
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Dapat disimpulkan dari sub-aspek tenaga kerja, usaha mikro kerajinan mengalami peningkatan kebutuhan tenaga kerja. Hal ini disebabkan pulihnya aktivitas usaha dan perkembangan bisnis yang semakin baik, sehingga setiap usaha mikro membutuhkan tenaga kerja tambahan. Krisis pasca tsunami tidak mengurangi jumlah pekerja. Dapat disimpulkan juga bahwa mayoritas tenaga kerja bukan berasal dari anggota keluarga sendiri melainkan berasal dari luar anggota keluarga dan kerabat.
c. Bahan Baku
Dalam hal ini dipilih satu jenis bahan baku bagi setiap usaha mikro kerajinan yang merupakan bahan baku yang paling vital dibutuhkan untuk membuat suatu produk. Penelitian ini menentukan rata-rata bahan baku setiap jenis usaha mikro kerajinan untuk sekali putaran produksi. Untuk usaha mikro kerajinan kerang, bahan baku yang dikaji adalah kerang dengan satuan unit box. Sedangkan usaha mikro kerajinan kayu, bahan baku yang ditinjau ialah kayu caruy dengan satuan batang. Usaha mikro kerajinan layang-layang menggunakan bahan baku bambu dengan satuan batang dan usaha mikro kerajinan fiber menggunakan bahan baku karet cair dengan satuan botol.
Gambar 7 (A) Rata-Rata Bahan Baku Kerang (per-Box) Usaha Mikro Kerajinan Kerang dalam Setiap Putaran Produksi

(B) Rata-rata Bahan Baku Kayu Caruy (per-Batang) Usaha Mikro Kerajinan Kayu dalam Setiap Putaran Produksi

(C) Bahan Baku Bambu (per-Batang) Usaha Mikro Kerajinan Layang-layang dalam Setiap Putaran Produksi
(D) Rata-rata Bahan Baku Karet Cair (per-Botol) Usaha Mikro Kerajinan Fiber Dalam Setiap Putaran Produksi
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Sub aspek bahan baku menunjukkan bahwa mayoritas usaha mikro kerajinan mengalami kenaikan yang sedikit pada tahun 2007 dan mengalami kenaikan yang pesat pada tahun 2010. Hanya usaha mikro kerajinan fiber yang mengalami penurunan pasokan bahan baku pada tahun 2007. Jika dilihat dari aspek bahan baku maka dapat dilihat terjadi peningkatan kinerja usaha mikro kerajinan di Pangandaran, sama halnya dengan kenaikan modal. Setelah terjadinya tsunami, kondisi mereka pulih secara bertahap, terjadi peningkatan walaupun sedikit pada tahun 2007 tetapi meningkat positif setelah tahun 2007 hingga 2010.
2. Proses Pengelolaan Usaha
Setelah menganalisis bagaimana para usaha mikro dalam memperoleh modal, tenaga kerja dan baku maka dikaji melalui proses produksi, proses pemasaran, proses penjualan proses pembiayaan, dan proses manajerial.
a. Proses Produksi
Semua usaha mikro kerajinan di Pangandaran melakukan 12 kali putaran produksi dalam setahun. Berarti dalam satu tahun melakukan 12 produksi. Pada tahun 2006 setelah terjadi tsunami, para usaha mikro mengalami vakum produksi. Misalnya usaha mikro kerajinan kerang vakum selama 3 bulan dan mulai melakukan produksi oktober 2006. Usaha mikro kerajinan kayu melakukan waktu vakum yang cukup lama yaitu 6 bulan. Hal ini diakibatkan pesanan coklak naga menurun
drastis, dan para konsumen langganan yang memesan furniture tidak melakukan pemesanan selama 6 bulan lamanya. Usaha mikro kerajinan layang-layang hanya vakum 3 bulan saja. Proses produksi usaha kerajinan fiber cukup terganggu setelah bencana tsunami. Para usaha mikro kerajinan fiber mengalami kerugian yang cukup besar disebabkan kerusakan toko dan tempat produksi mereka, sehingga mereka baru memulai produksi pada awal tahun 2007.
b. Proses Pemasaran
Proses selanjutnya adalah proses pemasaran yang akan dijadikan bahan analisis kinerja seperti tempat lokasi pemasaran mereka baik pribadi maupun di tempat penjualan milik orang lain, jangkauan pemasaran dan keikutsertaan dalam pameran. Selain menjual di outlet milik pribadi, para usaha mikro menjual produk mereka di tempat lain. Pada Gambar 8, terlihat persentase usaha mikro yang menjual produk mereka di tempat lain, di luar outlet milik mereka. Usaha mikro kerajinan kerang tipe A mengalami kenaikan persentase hingga ke 80%, pada tahun 2010. Berarti 80% usaha mikro kerajinan kerang tipe A dari total populasi usaha kerang tipe A, menjual produk mereka di tempat lain. Menurut hasil survei, mereka menjual produk mereka di outlet usaha mikro kerajinan kerang tipe B di pasar wisata. Usaha mikro kerajinan kerang tipe B menunjukkan persentase yang kecil, hanya 11 % dari total populasi mereka yang menitipkan produk di tempat lain. Dari hasil survei, menunjukkan hanya Dede Bagong (usaha mikro kerang tipe B) yang menitipkan produknya di tempat rekannya, yang samasama usaha mikro kerajinan kerang tipe B. Sama halnya dengan usaha mikro kerajinan kayu, yang menunjukkan hanya 20% dari populasi usaha mikro kerajinan kayu, yang menitipkan hasil kerajinan nya di Pasar Wisata. Berbeda dengan usaha mikro kerajinan
layang-layang, yang tidak menjual produk mereka diluar toko mereka sendiri. Semua usaha mikro kerajinan fiber, yang berjumlah dua usaha mikro, menjual produk mereka di tempat lain. Semua usaha mikro kerajinan menjual hasil kerajinan mereka di Pasar Wisata, di toko Pasir Putih, Bintang Laut, dan Ombak.
Gambar 8 Persentase Penjualan Produk di Outlet yang Bukan Milik Pribadi
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Jangkauan pemasaran melihat seberapa jauh skala pemasaran usaha mikro kerajinan di Pangandaran. Jangkauan pemasaran dibagi menjadi dua bagian: jangkauan domestik dan internasional. Dengan melihat jangkauan pemasaran, peneliti dapat melihat sejauh mana kinerja mereka dalam menjalankan bisnis kerajinan. Semakin tinggi dan luas jangkauan pemasaran, semakin tinggi kinerja yang dimiliki oleh usaha mikro kerajinan.
Berdasarkan hasil survei usaha mikro kerajinan kerang tipe A memiliki jangkauan pemasaran domestik ke Jakarta, Bandung, Bandar Lampung, Surabaya dan Bali. Bandar Lampung menjadi tujuan pemasaran yang paling dituju oleh usaha mikro kerajinan kerang tipe A, kemudian Bandung merupakan tujuan pemasaran terbesar kedua, diikuti Surabaya, Jakarta dan Bali. Peningkatan jumlah pemasaran wilayah domestik pun meningkat setiap tahunnya. Berbeda dengan usaha mikro kerajinan kerang tipe B, Surabaya menjadi kota tujuan yang paling dituju untuk pemasaran produk dikuti Jakarta pada tahun 2010. Pesanan dari Jakarta mulai meningkat
drastis pada tahun 2007, semenjak usaha mikro kerajinan diundang pameran di Istana Negara pada tahun 2007.
Untuk usaha mikro kerajinan kayu jangkauan pemasaran hanya di ketiga kota di Indonesia, Jakarta, Bandung dan Bali. Hanya terjadi peningkatan jumlah usaha mikro kerajinan yang menjangkau Jakarta, pada tahun 2007 berjumlah usaha mikro bertambah menjadi 6 usaha mikro pada tahun 2010. Hanya ada satu usaha mikro kayu yang menjual produk kerajinan kayu ke Bali. Untuk seluruh usaha mikro kerajinan layang-layang dan fiber melakukan jangkauan pemasaran ke Bali, Jakarta dan Bandung setiap tahun.
Pameran merupakan bagian dari sub aspek proses pemasaran, pameran merupakan kesempatan bagi para usaha mikro dalam memasarkan produk mereka kepada publik. Semakin sering usaha mikro mengikuti pameran, semakin baik pemasaran yang dilakukan oleh usaha mikro kerajian. Pada Gambar 9, terjadi peningkatan persentase usaha mikro kerajinan dalam mengikuti pameran. Angka partisipasi usaha mikro tipe A dalam mengikuti pameran lebih tinggi dibandingkan dengan tipe B.
Gambar 9 Persentase Usaha Mikro Kerajinan Kerang yang Mengikuti Pameran
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Gambar 10 Persentase Usaha Mikro Kayu, Layang-Layang dan Fiber yang Mengikuti Pameran
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Untuk persentase usaha mikro kerajinan kayu, tidak mengalami kenaikan yang signifikan pada tahun 2007 dan mengalami stagnan pada tahun 2010. Hanya 50% persen dari populasi usaha mikro kerajinan kayu yang mengikuti pameran. Sama halnya dengan usaha mikro kerajinan fiber, yang memiliki persentase 50% yang mengikuti pameran. Usaha kerajinan layang-layang baru memulai mengikuti pameran pada tahun 2010. Hanya usaha mikro kerajinan kerang tipe A yang memiliki angka persentase yang tinggi dalam keikutsertaan dalam pameran.
c. Proses Penjualan
Pada sub-aspek ini peneliti ingin meninjau jumlah produk yang terjual, jumlah omzet dan jumlah keuntungan bersih dari hasil penjualan produk.
Tabel 4 Rata-Rata Jumlah Produk yang Terjual dari Usaha Mikro Kerajinan untuk Setiap Putaran Produksi
| Jenis Produk | Rata-Rata Jumlah Produk yang Terjual (per satuan unit) | ||
|---|---|---|---|
| 2005 | 2007 | 2010 | |
| Produk hiasan dari kerang Tipe A | 33 | 23 | 50 |
| Produk hiasan dari kerang Tipe B | 84 | 90 | 147 |
| Produk congklak naga (kerajinan kayu) | 24 | 28 | 36 |
| Layang-layang | 60 | 80 | 160 |
| Gantungan kunci | 180 | 140 | 240 |
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Tabel 5 Rata-Rata Jumlah Omzet dan Keuntungan Bersih Hasan yang Terjual dari Usaha Mikro Kerajinan Kerang Tipe A dalam Setiap Putaran Produksi
| Jenis Produk | Rata-Rata Omzet (Rp) | Rata-Rata Keuntungan (Rp) | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| 2005 | 2007 | 2010 | 2005 | 2007 | 2010 | |
| Produk Hiasan dari Kerang Tipe A | 2.310.000 | 1.610.000 | 3.500.000 | 1.570.000 | 870.000 | 2.900.000 |
| Produk Hiasan dari Kerang Tipe B | 5.905.455 | 6.312.727 | 10.283.636 | 2.636.364 | 2.818.182 | 5.692.727 |
| Produk Congklak Naga (Kerajinan Kayu) | 7.200.000 | 8.400.000 | 10.800.000 | 2.450.000 | 3.150.000 | 4.175.000 |
| Layang-layang | 1.800.000 | 2.400.000 | 4.800. 000 | 1.250.000 | 1.400.000 | 2.800.000 |
| Gantungan Kunci | 2.700.000 | 2.100.000 | 3.600. 000 | 1.575.000 | 1.225.000 | 2.100.000 |
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Produk hiasan dipilih menjadi objek studi disebabkan, produk hiasan merupakan bentuk produk yang seragam dibuat oleh seluruh usaha mikro kerajinan kerang. Dapat dilihat pada Tabel 4 ditunjukkan terjadi penurunan jumlah produk yang terjual pada tahun 2007. Hal ini terjadi diakibatkan krisis tsunami yang memengaruhi jumlah wisatawan yang datang dan secara otomatis menurunnya jumlah produk yang terjual. Akan tetapi meningkat lagi menjadi 50 unit yang terjual pada tahun 2010.
Pada Tabel 5, menunjukkan jumlah keuntungan bersih dan omzet, sama halnya dengan jumlah produk yang terjual. Mengalami penurunan di tahun 2007. Untuk range jumlah keuntungan bersih dan omzet cukup besar, menandakan keuntungan yang diambil cukup besar. Kenaikan yang cukup besar dari tahun 2007 hingga tahun 2010. Angka rupiah pada Tabel 5 sudah termasuk inflasi sebesar 5% setiap tahun.
Usaha mikro kerajinan kerang tipe B memproduksi lebih banyak hiasan dibandingkan tipe A. Dapat dilihat pada Tabel 4 menunjukkan terjadi kenaikan jumlah produk yang terjual pada tahun 2007 hingga tahun 2010. Meskipun pada tahun 2007 mengalami kenaikan yang sangat kecil, hal ini disebabkan imbas dari krisis tsunami. Usaha kerang tipe B memproduksi banyak hiasan
dibandingkan tipe A, maka krisis tsunami tidak berdampak terhadap turunnya penjualan produk seperti tipe A. Pada Tabel 5, menunjukkan jumlah keuntungan bersih dan omzet, sama halnya dengan jumlah produk yang terjual. Terjadi kenaikan kecil pada tahun 2007. Lalu mengalami kenaikan drastis pada omzet dan keuntungan penjualan. Angka rupiah pada Tabel 5 sudah termasuk inflasi sebesar 5% setiap tahun.
Untuk usaha mikro kerajinan kayu, dipilih produk congklak naga untuk penelitian ini, disebabkan congklak naga diproduksi rutin dan merupakan produk andalan usaha mikro kerajinan kayu dapat dilihat pada Tabel 4 terjadi kenaikan jumlah produk yang terjual, maka dari itu keuntungan dan omzet pun meningkat. Angka rupiah pada Tabel 5 sudah termasuk inflasi sebesar 5% setiap tahun.
Untuk produk layang-layang yang terjual juga mengalami peningkatan, kenaikan yang sangat tinggi ketika dari tahun 2007 menuju tahun 2010, kenaikan 100% ini mengindikasikan permintaan yang meningkat terhadap layanglayang setiap tahunnya. Keuntungan yang didapat akan semakin tinggi. Usaha mikro fiber dalam menjual gantungan kunci mengalami penurunan pada tahun 2007 dan meningkat kembali ketika 2010. Angka rupiah pada Tabel 5 sudah termasuk inflasi sebesar 5% setiap tahun.
Dengan meninjau proses penjualan kita dapat mengukur kinerja suatu usaha mikro. Pada umumnya dilihat dari Tabel 4 dan Tabel 5, yang mayoritas usaha mikro mengalami fase kenaikkan kecil pada tahun 2007 dan meningkat pesat pada tahun 2010. Hanya usaha mikro kerang tipe A dan fiber yang mengalami penurunan jumlah produk yang terjual, pada tahun 2007. Kinerja yang membaik dan terus meningkat dapat
disimpulkan dari aspek proses pengelolaan. Angka rupiah pada Tabel 5 sudah termasuk inflasi sebesar 5% setiap tahun.
d. Proses Pembiayaan
Jika suatu usaha mikro melakukan pencatatan transaksi keuangan dalam aktifitas bisnis, maka dapat diindikasikan, usaha mikro tersebut dapat melakukan manajemen keuangan dengan baik. Hal tersebut mengindikasikan kinerja usaha mikro yang baik.
Gambar 11 Persentase Usaha Mikro yang Melakukan Pembukuan Keuangan
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Pada Gambar 11, terlihat terjadinya peningkatan para usaha mikro dalam melakukan pembukuan keuangan. Meskipun tidak semua yang melakukan pembukuan keuangan. Terhitung tahun 2010, 47% usaha mikro kerajinan kerang tipe A, 55% usaha kerajinan kerang tipe B, 50% usaha mikro kerajinan kayu, 100 % usaha mikro kerajinan layang-layang dan 50 % usaha mikro kerajinan fiber. Persentase tersebut mengindikasikan belum semua usaha mikro memiliki pembukuan keuangan. Hanya kurang lebih 50% yang melakukan pembiayaan keuangan.
e. Proses Manajerial
Proses manajerial dalam penelitian ini adalah meninjau para usaha mikro dalam keikutsertaan dalam pelatihan. Pelatihan yang diikuti oleh usaha mikro akan membantu peningkatan kinerja mereka. Kemampuan dapat diperoleh dengan mengikuti pelatihan.
Dalam studi ini pelatihan terdiri dari tiga jenis yaitu, pelatihan keuangan, manajemen, dan keterampilan kerajinan.
Gambar 12 Persentase Usaha Mikro Kerajinan dalam Mengikuti Pelatihan di Tahun 2005
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Dapat dilihat pada tahun 2005, Gambar 12 usaha mikro hanya mengikuti pelatihan keterampilan kerajinan dan tidak semua usaha mikro mengikuti pelatihan. Usaha kerajinan kerang tipe A hanya 28%, usaha kerajinan kerang tipe B, usaha mikro kerajinan kayu sebesar 59 %, usaha mikro kerajinan layanglayang, dan usaha mikro kerajinan fiber sebesar 50%. Pelatihan ini diselengarakan oleh pemerintah Kabupaten Ciamis dan Koperasi Keong Mas.
Pada tahun 2007 (Gambar 13) usaha mikro mengikuti kembali pelatihan keterampilan kerajinan, dan jumlah usaha mikro yang mengikuti pelatihan ini pun meningkat. Selain pelatihan keterampilan kerajinan, terdapat pelatihan keuangan. Pelatihan ini dilaksanakan oleh Pemerintah kabupaten Ciamis. Jumlah usaha mikro yang mengikuti pelatihan ini cukup banyak dibandingkan dengan pelatihan keterampilan kerajinan. Hal ini disebabkan usaha mikro kerajinan sudah mengerti dan bosan mempelajari keterampilan yang telah mereka miliki. Sedangkan pelatihan keuangan belum pernah mereka dapat sebelumnya sehingga mereka banyak yang berminat. Pada tahun 2010, tidak terdapat data disebabkan, semua usaha mikro tidak mengikuti pelatihan pada tahun 2010, selain itu juga tidak terdapat agenda pemerintah dalam melatih kemampuan, manajemen dan keuangan.
Gambar 13 Persentase Usaha Mikro Kerajinan dalam Mengikuti Pelatihan di Tahun 2007
Sumber: Hasil Analisis, 2010
3. Hasil Usaha
Pada aspek ini melihat perkembangan produk yang dihasilkan dalam sekali putaran produksi. Dalam hal ini peneliti mengkaji satu produk andalan setiap usaha mikro kerajinan di Kecamatan Pangandaran.
Pada Gambar 14 dapat dilihat usaha mikro kerajinan yang memiliki masa pemulihan cepat dengan yang mengalami penurunan setelah terjadi musibah tsunami. Untuk kerajinan fiber (gantungan kunci), dan kerajinan hiasan kerang Tipe A terlihat mengalami penurunan produksi yang cukup signifikan pada tahun 2007. Hal ini mengindikasikan bahwa usaha mikro ini terpukul akibat krisis tsunami di Pangandaran. Tetapi kerajinan fiber mengalami peningkatan pada tahun 2010 sehingga dapat disimpulkan terjadi pemulihan dalam sub aspek produksi usaha mikro kerajinan fiber, dan mengindikasikan peningkatan kinerja. Sedangkan untuk kerajinan hiasan kerang Tipe A tetap mengalami penurunan pada tahun 2010, yang mengindikasikan bahwa untuk usaha mikro ini tidak cepat pulih sehingga masih mengalami penurunan kinerja yang dilihat dari penurunan produksi pada tahun 2010.
Gambar 14 Rata-Rata Jumlah Produk yang Dihasilkan Usaha Mikro Kerajinan dalam Sekali
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Sementara itu, untuk kerajinan hiasan kerang Tipe B, layang-layang, dan kerajinan kayu, cepat mengalami pemulihan pasca tsunami. Hal ini diindikasikan dengan jumlah produksi yang tetap meningkat pada tahun 2007 walaupun peningkatan tidak signifikan (kerajinan kayu dan hiasan kerang Tipe B). Hal ini menunjukkan bahwa selama pasca tsunami mengalami peningkatan kinerja produksi.
4. Prospek Pengembangan Usaha
Setelah melakukan pengukuran kinerja dengan mengkaji aspek utama, maka terdapat aspek pendukung dalam pengukuran kinerja. Aspek pendukung kinerja ialah prospek pengembangan usaha dan jiwa kewirausahaan. Dengan melihat prospek pengembangan usaha, maka dapat diukur kinerja suatu usaha mikro. Semakin besar prospek usaha mikro kerajinan, maka semakin besar kinerja yang dimiliki oleh usaha mikro tersebut. Untuk mengukur kinerja usaha mikro dengan aspek prospek pengembangan usaha.
a. Keyakinan Peningkatan Usaha
Pada intinya sebagian besar dari responden usaha mikro kerajinan merasa yakin usaha mereka akan mengalami peningkatan. Sedangkan tidak ada satupun responden yang mengatakan tidak yakin. Hanya sebagian kecil dari usaha mikro kerajinan yang ragu-ragu
terhadap adanya peningkatan. Dapat disimpulkan sebagian besar dari mereka optimis dengan peningkatan usaha mereka kedepannya dan motivasi yang besar dalam peningkatan usaha mereka.
Gambar 15 Persentase Keyakinan Peningkatan Usaha
Sumber: Hasil Analisis, 2010
b. Rencana Pindah ke Sektor Bisnis Lainnya
Sub aspek selanjutnya ialah rencana pindah ke sektor bisnis lainnya, dalam hal ini peneliti ingin melihat komitmen mereka terhadap usaha yang mereka jalani saat ini. Jika ada rencana mengindikasikan bahwa usaha mikro tersebut belum yakin dengan usaha mereka saat ini.
Dilihat pada Gambar 16, mayoritas usaha mikro, rata-rata lebih dari 80% tidak memiliki rencana untuk pindah ke sektor bisnis lainnya. Rata-rata 20 % dari mereka mengatakan mungkin atau belum yakin untuk pindah ke sektor bisnis lainnya. Hanya 4% usaha mikro kerajinan kerang yang memiliki rencana untuk pindah ke sektor bisnis lainnya. Setelah ditinjau 4% usaha mikro ini, mengalami krisis bencana sehingga hanya mengalami kenaikan keuntungan yang kecil pada tahun 2010, sehingga mereka kurang merasa sektor bisnis lainnya lebih memiliki prospek dibandingkan dengan kerang saat ini. Ketika survei, ditanyakan 4% usaha mikro yang ingin pindah sektor bisnis, mereka memilih untuk pindah ke pedagang pakaian, yang tidak memerlukan proses produksi dan perolehan bahan baku.
Gambar 16 Persentase Rencana Pindah ke Sektor Bisnis Lainnya
Sumber: Hasil Analisis, 2010
c. Rencana penambahan tenaga kerja
Rencana penambahan tenaga kerja mengindikasikan, kebutuhan para usaha mikro dalam penambahan tenaga kerja ke depannya. Usaha mikro kerajinan di Pangandaran belum mampu memberdayakan tenaga kerja pada aspek pemasaran. Oleh karena itu, tenaga kerja pada skala usaha mikro kerajinan disini hanya berperan sebagai pengrajin produk.
Gambar 17 Persentase Rencana Penambahan Tenaga Kerja
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Dilihat pada Gambar 17, rata-rata 60% lebih membutuhkan tenaga kerja tambahan, dapat diindikasikan tenaga kerja tambahan yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan produk kerajinan yang terus meningkat, dilihat dari gambar-gambar sebelumnya yang menunjukkan kenaikan jumlah produk yang dihasilkan di tahun 2010. Seiring dengan kenaikan jumlah produk yang dihasilkan, diharapkan adanya penambahan tenaga kerja. Rata-rata 20% usaha mikro yang masih raguragu dalam penambahan tenaga kerja, disebabkan usaha mikro tersebut masih mempertimbangkan biaya tambahan yang dikeluarkan untuk menggaji tenaga kerja. Dapat disimpulkan mayoritas usaha mikro membutuhkan tambahan tenaga kerja seiring dengan terus meningkatnya jumlah produk kerajinan yang dihasilkan.
d. Rencana perluasan jangkauan pemasaran
Dari Gambar 18 dapat dilihat mayoritas usaha mikro kerajinan mempunyai rencana perluasan jangkauan pemasaran. Lebih dari 95 % usaha mikro kerajinan memiliki rencana perluasan pemasaran. Dilihat dari sub aspek sebelumnya dalam aspek penentu (proses pemasaran), para usaha mikro mayoritas masih memasarkan produk mereka di kawasan pulau Jawa dan Bali, selain itu beberapa usaha mikro kerajinan kerang memasarkan hingga Bandar lampung. Oleh karena itu beberapa usaha mikro yang masih menjangkau Bandung dan Jakarta sangat ingin bisa memasarkan produk mereka lebih jauh lagi. Untuk kendala selama ini dalam memasarkan produk ialah jaringan. Mayoritas usaha mikro mengalami kesuiltan dalam membina network. Selain itu pameran yang selama ini dikuti oleh usaha mikro ialah disekitar Jakarta dan Bandung. Hanya sebagian kecil usaha mikro kerajinan yang melakukan studi banding ke Palembang, sehingga hanya sebagian yang mendapatkan jaringan pemasaran.
Gambar 18 Persentase Rencana Perluasan Jangkauan Pemasaran
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Selain itu untuk skala Internasional, semua usaha mikro kerajinan di Pangandaran belum bisa melakukan pemasaran secara langsung ke luar negeri. Hal ini disebabkan belum terdapatnya jaringan internasional yang dimiliki oleh usaha mikro kerajinan. Meskipun usaha mikro kerajinan layang-layang yang menjadi pemasok layang-layang dalam festival internasional layang-layang belum bisa melakukan ekspor dikarenakan belum mendapatkan tawaran ekspor.
5. Kewirausahaan
Aspek kedua setelah prospek pengembangan usaha ialah, jiwa kewirausahaan. Jiwa kewirasuahaan merupakan salah satu kriteria yang harus dimiliki usaha mikro kerajinan dalam melaksanakan kegiatan usaha. Usaha mikro dikatakan memiliki jiwa kewirausahawan apabila memiliki inovasi produk dan terlibat dalam suatu komunitas dan melakukan kerjasama.
Gambar 19 Persentase Inovasi Produk yang Dilakukan Usaha Mikro Kerajinan
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Secara garis besar, dilihat dari Gambar 19, terjadi peningkatan inovasi usaha mikro dalam melakukan pembuatan jenis produk baru. Dapat dilihat pada usaha mikro kerajinan kerang tipe A megalami peningkatan inovasi yang cukup signifikan. Jumlah usaha mikro kerajinan kerang tipe B yang melakukan inovasi tidak bertambah pada tahun 2007 pasca krisis. Bentuk inovasi produk kerajinan pada usaha kerajinan kerang ialah pembuatan jam pasir dan figura yang terus diperbaharui jenisnya setiap tahun.
Sub aspek berikutnya adalah komunitas. Komunitas tidak sekedar tempat untuk berkumpul, tetapi di dalam komunitas terdapat interaksi antar anggota yang dapat mengarah kepada kerjasama dalam dunia bisnis. Oleh karenanya, diperlukan usaha mikro yang tergabung di dalam komunitas saat ini, dengan melihat pengaruhnya terhadap peningkatan kinerja bisnis usaha mikro tersebut.
Gambar 20 Persentase Usaha Mikro yang Tergabung Didalam Komunitas
Sumber: Hasil Analisis, 2010
Berbagai macam komunitas yang terdapat di Kecamatan Pangandaran, diantaranya ialah Himpunan Pengrajin Pangandaran (HPP), Forum Komunitas Pedagang Wisata Pangandaran (FKPWP) dan Himpunan Pengrajin Kayu Pangandaran (HPKP). HPP didirikan pasca tsunami di Pangandaran. HPP mengelola bantuan dana pinjaman dari Tanoto Foundation, selain itu HPP juga melakukan kordinasi dengan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Ciamis untuk mengkordininasi para usaha kerajinan dalam mengikuti pameran yang diselenggarakan Pemerintah.
Dapat dilihat dari Gambar 20, bahwa mayoritas usaha mikro yang tergabung di dalam HPP ialah usaha mikro kerajinan kerang tipe A sebesar 71% dari total usaha mikro kerajinan kerang tipe A, tipe B hanya ikut 36% dari total mereka. Sedangkan FKPWP ialah hanya berbentuk forum yang mengadakan pertemuan anggota setiap sebulan sekali, melakukan diskusi mengenai isu dan permasalahan yang terkait di Kawasan Pariwisata Pangandaran. Mayoritas usaha mikro kerajinan ikut tergabung dalam FKPWP, tetapi hanya 38% usaha mikro kayu yang tergabung di FKPWP, dikarenakan usaha mikro kerajinan kayu berlokasi jauh dari pasar wisata dan pantai Pangandaran. Sebanyak 38% usaha mikro kerajinan kayu yang mengikuti FKPWP ialah usaha mikro yang menitipkan produk-produk mereka di pasar wisata. Alasan lain dikarenakan terdapat komunitas khusus HPKP yang beraggotakan 100% usaha mikro kerajinan kayu. Di komunitas inilah terjadi interaksi sosial dan kerjasama bisnis antar pengrajin kayu.
5. Penutup
Secara umum, berdasarkan hasil analisis kinerja dengan menggunakan aspek utama dan penentu kinerja maka disimpulkan usaha mikro kerajinan mengalami peningkatan kinerja secara umum setelah krisis akibat tsunami di Pangandaran. Sehingga dapat dikatakan usaha mikro kerajinan di Pangandaran telah mengalami pemulihan. Usaha mikro kerajinan kerang tipe B yang paling cepat mengalami pemulihan disebabkan usah mikro ini tidak mengalami kerugian sebesar usaha mikro lainnya, selain itu usaha mikro ini memiliki omzet dan penghasilan yang meningkat setiap tahunnya secara siginifikan dibandingkan usaha mikro lainnnya.
Usaha mikro kerajinan merupakan salah satu pemain ekonomi yang berpengaruh dalam pengembangan ekonomi lokal di Pangandaran. Hal ini disebabkan usaha mikro kerajinan menyerap hampir 300 pekerja di kawasan Pangandaran dan memberikan pendapatan ketiga terbesar di Kawasan Pangandaran sehingga ada beberapa hal yang harus dioptimalkan, antara lain:
- 1. Perluasan jangkauan pemasaran harus dilakukan oleh usaha mikro kerajinan, dikarenakan dengan adanya pemasaran yang luas, maka semakin besarnya kapasitas produk yang terjual. Perluasan jangkauan pemasaran ke wilayah Sumatera, dikarenakan peluang pasar yang besar disana. Selain itu usaha mikro kerajinan harus dapat menjangkau internasional. Dengan penggunaan teknologi saat ini sangat mempermudah akses hubungan ke luar negeri, sehingga dapat mempermudah proses pemasaran. Dengan adanya teknologi internet usaha mikro dapat membuka toko online.
- 2. Usaha mikro kerajinan saat ini tidak mempunyai jaringan yang kuat. Maka dari itu diharapkan usaha mikro kerajinan memperkuat jaringan/network seluasluasnya. Dengan adanya jaringan, maka usaha mikro dengan mudah melakukan kerjasama dan dipermudah dalam menjalankan proses bisnis. Jaringan atau network dapat membantu usaha mikro kerajinan dalam perolehan modal, bahan baku, alat produksi hingga pemasaran.
- 3. Usaha mikro saat ini kurang mendapatkan pelatihan, sehingga kurangnya inovasi dalam produk kerajinan. Dikarenakan jarangnya pelatihan dari Pemerintah bukan berarti tidak ada lagi akses untuk meningkatkan keterampilan/keahlian para pengrajin. Maka dari itu pentingnya komunitas pengrajin dalam hal ini untuk saling menjalin interaksi dan kerjasama dalam melakukan inovasi produk, sehingga ide yang dihasilkan berkembang. Komunitas pengrajin harus dapat menyediakan program – program pelatihan dan diskusi mengenai inovasi terbaru agar dapat menghasilkan produk kerajinan Pangandaran memiliki nilai jual yang tinggi.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Hastu Prabatmodjo, Ir., MS., Ph.D untuk arahan dan bimbingan sehingga penelitian ini dapat ditulis. Terima kasih juga kepada dua mitra bestari yang telah memberikan komentar yang berharga.
