1. Home
  2. Archives
  3. Vol 23 (2012) Issue 2
  4. Articles

Identifikasi Karakteristik Tempat Rekreasi yang Menarik untuk Dikunjungi Para Lansia dari Segi Penawaran

Abstract

Penduduk dunia sedang mengalami transisi demografis menuju aging population, yaitu bertambahnya penduduk lanjut usia (lansia) dalam suatu populasi. Penduduk dunia mayoritas bertempat tinggal di kota besar, maka terdapat lansia di kota besar sebagai bagian dari populasi, termasuk di Kota Bandung, Indonesia. Kota Bandung yang juga dikenal dengan sebutan Paris van Java telah menjadi salah satu destinasi pariwisata yang terkenal karena memiliki banyak atraksi wisata. Salah satunya adalah "Taman Lansia" untuk mengakomodasi kebutuhan rekreasi penduduk lansia. Adanya "Taman Lansia" tidak lantas membuat lansia berekreasi ke "Taman Lansia" saja tetapi lansia juga berekreasi ke tempat lain yang tidak dikhususkan untuk lansia. Artikel ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi karakteristik tempat rekreasi yang menarik untuk dikunjungi para lansia dari segi penawaran. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dilakukan wawancara kepada pengunjung lansia di tempat rekreasi dan pengelola rekreasi serta observasi lapangan. Data yang telah didapatkan kemudian dianalisis secara kualitatif. Dari hasil analisis ditemukan bahwa lansia menyukai tempat rekreasi yang memberikan mereka kesempatan untuk berolahraga, beribadah, berbelanja, dan bersosialisasi.Kata kunci: Lansia, rekreasi, tempat rekreasi, penawaran The world

Keywords

1. Pendahuluan

Saat ini penduduk dunia sedang mengalami transisi demografis menuju aging population. Definisi dari aging population adalah pergeseran dalam distribusi usia suatu populasi menuju usia tua. (Gavrilov dan Heuveline, 2003). Peningkatan teknologi kesehatan berdampak kepada peningkatan kualitas

kesehatan masyarakat sehingga mendorong peningkatan usia harapan hidup. Selain itu, keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) yang menekan angka kelahiran juga berkontribusi dalam peningkatan jumlah penduduk lansia.

Fenomena aging population ini terus berjalan. Sejak tahun 1950, proporsi penduduk lansia di dunia telah meningkat dari 8% pada tahun 1950 menjadi 11% pada tahun 2009. Proporsi penduduk lansia ini diperkirakan akan semakin meningkat, mencapai 22% di tahun 2050 (United Nation, 2010). Begitu juga dengan Benua Asia, jumlah penduduk lansia di Asia juga mengalami peningkatan. Pada tahun 1950 hingga 2000 proporsi penduduk lansia di Asia adalah 11,2% dan pada tahun 2025 proporsi penduduk lansia di Asia diperkirakan akan mencapai 43,9% (Abikusno 2007). Selama angka kematian mengalami penurunan sedangkan angka kelahiran tidak mengalami peningkatan drastis maka proporsi penduduk lansia akan semakin meningkat

Indonesia juga mengalami transisi demografis menuju usia lanjut. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2004 sebesar 16.522.311 jiwa, tahun 2006 sebesar 17.478.282 jiwa, tahun 2008 sebesar 19.502.355 dan pada tahun 2010 sekitar 23.992.000 jiwa. Jumlah lansia di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat bahkan BPS memperkirakan bahwa pada tahun 2020 jumlah lansia di Indonesia akan mencapai 28.000.000 jiwa atau 11,3% dari total penduduk Indonesia.

Mayoritas penduduk Indonesia terkonsentrasi di kota besar, sehingga dapat dinyatakan bahwa terdapat lansia di kota - kota besar sebagai bagian dari populasi kota besar. Salah satu kota besar di Indonesia yang juga mengalami peningkatan jumlah lansia adalah Kota Bandung. Kota Bandung merupakan suatu kota yang sering menjadi daerah tujuan wisata dikarenakan memiliki berbagai macam daya tarik wisata yang menarik. Banyaknya daya tarik wisata tersebut membuat penduduk Kota Bandung memiliki pilihan tempat untuk berekreasi yang beragam.

Kus Hadinoto dalam Achmad Rian (2000) menyatakan bahwa salah satu unsur penyediaan ruang untuk aktivitas penduduk perkotaan adalah unsur suka. Unsur suka memiliki fungsi untuk memenuhi kebutuhan penduduk terhadap berbagai fasilitas rekreasi, hiburan, dan juga seni. Atas dasar pertimbangan unsur suka dan peningkatan jumlah lansia di Kota Bandung maka sebaiknya Kota Bandung menyediakan fasilitas rekreasi yang dapat mengakomodasi kebutuhan rekreasi para lansia. Hal ini diperkuat dengan adanya Undang – Undang No 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan pasal 21 yang menyatakan bahwa wistawan lanjut usia berhak mendapatkan fasilitas khusus sesuai kebutuhannya. Kota Bandung sendiri memiliki taman yang dikhususkan untuk pengunjung berusia 60 tahun ke atas yaitu Taman Lansia. Akan tetapi, hal ini tidak lantas membuat para lansia berekreasi hanya ke Taman Lansia saja. Para lansia juga mengunjungi tempat rekreasi lain yang tidak dikhususkan untuk pengunjung lansia.

Dalam artikel "Identifikasi Permintaan Kelompok Lanjut Usia Terhadap Kegiatan Rekreasi di Kota Bandung" oleh Maulita Dwasti Isnutomo (2011), dipaparkan karakteristik lansia serta karakteristik permintaan. Namun dalam artikel tersebut tidak membahas karakteristik sosial-budaya lansia dan pengaruhnya terhadap kegiatan rekreasi lansia. Suwoko (2004) menjelaskan bahwa tidak jarang ditemukan terdapat tiga generasi yang tinggal di satu rumah (three generations in one roof) karena Indonesia menganut nilai dimana para lansia tidak dapat ditinggalkan untuk hidup sendiri sehingga lansia tinggal bersama keluarga anaknya. Namun terdapat juga lansia yang tidak tinggal bersama dengan keluarga anaknya. Walaupun demikian, hubungan antara tiga generasi tetap berjalan dalam nuansa kekerabatan yang serasi

meskipun tidak tinggal bersama di bawah satu atap. Karakteristik sosial-budaya ini berpengaruh terhadap kegiatan rekreasi lansia. Dengan kondisi kekeluargaan yang erat maka umumnya saat suatu keluarga berekreasi maka para lansia pun ikut diajak berekreasi.

Mengingat karakteristik lansia yang memiliki keterbatasan fisik dan sangat menyatu dengan keluarganya maka dipertanyakan apa yang membuat para lansia gemar berekreasi ke tempat yang tidak khusus lansia, dimana sepintas tempat – tempat tersebut tidak memiliki fasilitas khusus untuk lansia. Maka dari itu dibutuhkan suatu artikel untuk melihat elemen penawaran kepariwisataan apa saja dan seperti apa yang terdapat di tempat – tempat rekreasi yang membuat para lansia gemar berekreasi ke tempat – tempat rekreasi tersebut.

Pembahasan terdiri dari lima bagian utama. Bagian pertama adalah pendahuluan yang membahas latar belakang dan memaparkan fokus utama artikel ini. Bagian kedua lanjut usia dan rekreasi yang menjadi tinjauan literature dalam artikel ini. Bagian ketiga adalah komponen penawaran, baik daya Tarik, fasilitas pendukung, aksesibilitas, dan pengelolaan. bagian keempat memaparkan identifikasi karakteristik komponen penawaran tempat rekreasi. Bagian kelima adalah kesimpulan berdasarkan hasil artikel ini.

2. Lanjut Usia dan Rekreasi

Definisi dari lansia yang digunakan dalam artikel ini akan menggunakan definisi dari Undang – Undang No 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia yaitu orang yang telah berusia 60 tahun ke atas. Sedangkan definisi dari rekreasi yang digunakan adalah kegiatan yang dilakukan di waktu luang, di mana waktu luang atau leisure adalah waktu diluar yang dibutuhkan untuk hidup, yaitu waktu untuk melakukan hal biologis agar dapat hidup, serta waktu untuk mendapatkan penghidupan, yaitu waktu untuk bekerja. Artikel ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi karakteristik tempat rekreasi yang menarik untuk dikunjungi para lansia dari segi penawaran dan karakteristik tempat rekreasi yang dibahas dalam artikel ini adalah komponen penawaran, yang terdiri dari daya tarik fasilitas pendukung, aksesibilitas, serta pengelolaan.

2.1 Kondisi Sosial-Budaya Lanjut Usia Indonesia

Pada sisi sosial-budaya di Indonesia, tuntunan agama dan nilai luhur menempatkan para lansia untuk dihormati, dihargai dan dibahagiakan dalam kehidupan keluarga. Khusus untuk budaya Suku Sunda terdapat pepatah "Ari munjung ulah-ka gunung, muja ulah ka nu bala; ari munjung kudu ka indung, muja mah kudu ka bapa" yang artinya adalah bahwa yang harus disembah itu bukanlah gunung atau tempatmistis, melainkan ibu dan ayah sendiri. Dalam nilai tata budaya Sunda tersebut tergambar bahwa penghargaan kepada orang tua dalam segala bentuknya merupakan nilai yang tinggi dan sebagai kewajiban kelompok generasi yang lebih muda (Aj, 2010).

Beberapa keluarga di Indonesia terdapat tiga generasi dalam satu atap (three generation in one roof) atau dalam satu rumah terdiri dari lansia, anak lansia, serta cucu lansia. Dalam budaya Batak yang menganut garis kerabat patrilinial, lansia akan tinggal bersama kerabat ayah. Dalam budaya Jawa, lansia dapat dengan bebas memilih tinggal bersama kerabat baik pihak laki – laki maupun perempuan. Namun telah terjadi perubahan dari budaya tersebut karena para lansia umumnya bertempat tinggal bersama anak perempuan, anak yang tinggal

berdekatan atau anak yang paling disayangi. (Setiti, 2011)

Apabila diartikan secara harfiah, istilah three generation in one roof mungkin terasa tidak relevan pada zaman nuclear family saat ini. Keluarga besar kini tidak lagi selalu ada secara harfiah namun dalam semangat dan jalinan hubungan yang harus tetap tercermin dalam kehidupan bangsa Indonesia. Hubungan antara tiga generasi harus tetap berjalan dalam nuansa kekerabatan yang serasi walaupun tidak tinggal bersama di bawah satu atap. (Soenardjo, 2010)

2.2 Kota dan Lansia

Dalam Kongres Gerontology and Geriatry (IAGG) ke XVII (2005), WHO merumuskan beberapa kriteria Kota Ramah Lansia. Kriteria – kriteria tersebut antara lain : ruang terbuka dan bangunan yang bersih dan menyenangkan; transportasi yang layak dan ada prioritas tempat duduk untuk lansia; perumahan yang menyenangkan; partisipasi sosial yang memadai, diantaranya menyediakan tempat berkumpul untuk lansia; penghormatan dan penghargaan dari lingkungan sosialnya; partisipasi dan pekerjaan; komunikasi dan informasi dapat diakses dengan mudah; komunitas dan layanan kesehatan dapat dijangkau.

3. Komponen Penawaran

Gunn dan Var (2002) menjelaskan bahwa pariwisata digerakan oleh dua tenaga utama yaitu permintaan dan penawaran. Sisi permintaan adalah keanekaragaman dari minat dan kemampuan wisatawan sedangkan sisi penawaran adalah segala pengembangan baik fisik maupun program yang dibutuhkan untuk melayani wisatawan.

Jansen-Verbeke (1986) dalam buku Stephen Page yang berjudul "Urban Tourism" mengemukakan bahwa terdapat beberapa elemen dalam pariwisata. Elemen – elemen tersebut antara lain:

  • 1) Elemen primer, elemen primer adalah fasilitas – fasilitas yang bervariasi sehingga dapat diklasifikasikan sebagai berikut: an activity place, adalah seluruh fitur sediaan yang menjadi daya tarik wisatawan, contohnya adalah bioskop, museum, galeri, festival, fasilitas olahraga, klub malam, dan lain sebagainya; a leisure setting, termasuk di dalamnya elemen fisik dan karakteristik sosial-budaya yang memberikan kota suatu ciri khas tertentu, contoh elemen fisik antara lain adalah pelabuhan, taman, monumen purbakala, dan sebagainya, sedangkan contoh elemen sosial budaya antara lain keramah tamahan, cerita rakyat, budaya loka, dan lain – lain.
  • 2) Elemen sekunder, elemen sekunder yaitu fasilitas dan layanan pendukung yang dikonsumsi oleh wisatawan dalam kunjungan mereka. Contohnya adalah hotel, fasilitas catering, fasilitas perbelanjaan, dan masih banyak lagi.
  • 3) Elemen tambahan, elemen tambahan adalah infrastruktur wisata yang mengkondisikan kunjungan wisatawan contohnya keberadaan tempat parkir, layanan khusus wisatawan, dan masih banyak lagi.

Walaupun demikian Shaw dan Williams (1994) dalam buku yang sama berargumen bahwa pertokoan dan restoran yang dikategorikan sebagai elemen sekunder juga dapat menjadi elemen primer atau atrakasi utama untuk beberapa kelompok pengunjung.

Christine N French, Stephen J. Craig-Smith, dan Alan Collier (1996) mengklasifikasikan

komponen sediaan pariwisata yang berbeda dalam buku mereka "Principles of Tourism". Komponen sediaan tersebut antara lain:

1) Attraction

Daya tarik adalah elemen yang akan menarik para wisatawan. Daya tarik dapat diklasifikasikan menjadi sites dan events. Site attractions memiliki tujuan untuk menyediakan dorongan untuk kunjungan. Site attractions sebenarnya sangat luas misalnya berupa keseluruhan negara, satu kota, atau daya tarik spesifik seperti arsitektur suatu bangunan. Selain itu Site attractions juga terbagi menjadi dua yaitu daya tarik yang buatan serta daya tarik yang alamiah. Cara wisatawan menggunakan daya tarik, baik yang alami maupun buatan, sangat penting karena jenis kegiatan yang dilakukan akan mencerminkan penggunaan yang disediakan oleh daya tarik. Sedangkan events attraction akan menarik wisatawan ke suatu tempat dikarenakan oleh apa yang terjadi di daerah tujuan wisata

2) Amenities

Amenities menyediakan fasilitas dasar yang dibutuhkan oleh wisatawan. Yang termasuk ke dalam kategori Amenities adalah akomodasi, transportasi, perbelanjaan, jasa catering, dan masih banyak lagi. Amenities seharusnya melengkapi attraction dari suatu daerah tujuan wisata. Amenities dapat dikategorikan menjadi infrastruktur dan superstruktur. Contoh infrastruktur antara lain adalah jalan, listrik, sistem pembuangan, fasilitas komunikasi, pelabuhan, lapangan udara, dan lain – lain. Sedangkan yang termasuk ke dalam superstruktur antara lain hotel, rumah makan, fasilitas hiburan, dan lainnya yang dibutuhkan wisatawan. Infrastruktur umumnya dibangun untuk masyarakat setempat dimana superstruktur dikembangkan dengan pertimbangan akan kebutuhan untuk pariwisata. Superstruktur tidak mungkin ada tanpa infrastruktur yang terencana dan dibangun dengan baik. Contohnya adalah suatu hotel tidak dapat dibangun apabila tidak ada jaringan air, jaringan telepon, jaringan listrik. Apabila infrastuktur tidak mencukupi maka baik masyarakat setempat ataupun wisatawan akan menderita sehingga menyebabkan tingginya ketidakpuasan wisatawan.

3) Accessibility

Kemudahan untuk mengakses suatu tempat merupakan faktor ketiga yang harus ada sebelum wisatawan termotivasi untuk bepergian menuju suatu daerah tujuan wisata. Jarak geografis suatu daerah tujuan wisata terhadap daerah asal wisatawan bukan fokus utama dalam menentukan aksesibilitas suatu daerah tujuan wisata tetapi lebih difokuskan kepada waktu tempuh dari daerah asal wisatawan manuju daerah tujuan wisata, biaya perjalanan serta frekuensi transportasi menuju daerah tujuan wisata.

3.1 Daya tarik

Lew (1987) dalam buku Stephen Page yang berjudul "Urban Tourism" megidentifikasi tiga perspektif yang digunakan untuk memahami sifat dari daya tarik antara lain:

  • 1) Perspektif ideografi, yaitu di mana karakteristik umum dari suatu tempat, iklim, budaya, digunakan untuk mengembangkan tipologi daya tarik;
  • 2) Perspektif organisasional, perspektif ini cenderung untuk memfokuskan kepada aspek geografis, kapasitas, dan waktu dari suatu daya tarik;
  • 3) Perspektif kognitif, P. Pearce (1982) dalam buku Stephen Page yang berjudul "Urban Tourism" menyatakan bahwa daya tarik adalah sesuatu yang dapat membuat wisatawan merasa menjadi wisatawan. Jadi perspektif kognitif berkisar tentang
memahami perasaan dan pandangan wisatawan terhadap tempat atau daya tarik.

Mayoritas pengertian daya tarik berpandangan bahwa daya tarik hanya memiliki satu elemen yaitu penglihatan. Namun Leiper (1990) dalam buku Stephen Page yang berjudul "Urban Tourism" berpendapat bahwa daya tarik adalah suatu sistem yang terdiri dari: seseorang dengan kebutuhan akan wisata; nucleus (fitur atau atribut dari suatu tempat yang wisatawan kunjungi); marker (informasi mengenai nucleus).

Daya tarik merupakan salah satu penyebab pertumbuhan, jadi daya tarik merupakan hal yang dapat menarik pengunjung ke sebuah obyek wisata, artinya pembangunan cenderung menjadi prioritas untuk dikembangkan terlebih dahulu. Untuk mencapai hasil tersebut, perlu diperhatikan bahwa daya tarik wisata yang baik adalah:

  • 1) Kegiatan dan obyek yang merupakan daya tarik itu sendiri harus dalam keadaan baik. Daya tarik yang berupa warisan budaya harus dalam kondisi bagus terlebih dahulu sebelum diperlihatkan pada wisatawan, daya tarik yang sudah dibenahi harus dipelihara baik-baik.
  • 2) Cara penyajian daya tarik harus tepat dengan mengatur perspektif ruang, waktu, dan sosial-budaya.
  • 3) Keadaan di tempat daya tarik harus dapat menahan wisatawan cukup lama. Dengan asumsi bahwa semakin besar keuntungan yang didapatkan dari kehadiran wisatawan. Durasi kunjungan wisatwan ke suatu objek wisata juga bergantung dari adanya fasilitas pendukung serta baiknya lingkungan di dalam objek wisata.
  • 4) Kesan yang diperoleh wisatawan waktu menyaksikan daya tarik wisata harus diupayakan bertahan selama mungkin. Caranya dengan mengikatkan kesan itu
pada obyek yang tidak cepat rusak dan dapat dibawa pulang (Sukadijo, 1997: 62).

Swarbrooke (1999) dalam Encyclopedia of Leisure and Outdoor Recreation mengidentifikasi empat tipe daya tarik antara lain: fitur alam yang permanen seperti pantai, pegunungan, danau, dan lain sebagainya; fitur permanen buatan manusia yang sebenarnya dibangun tidak untuk fungsi wisata seperti katedral, istana, masjid, dan lain – lain; fitur permanen buatan manusia yang dibangun untuk tujuan wisata seperti kebun binatang, pusat kebudayaan, taman bermain, dan masih banyak lagi; fitur non fisik yang bersifat sementara, contohnya adalah event dan festival.

3.2 Fasilitas Pendukung

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 30/PRT/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas Dan Aksesibilitas Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan, definisi fasilitas adalah semua atau sebagian dari kelengkapan prasarana dan sarana pada bangunan gedung dan lingkungannya agar dapat diakses dan dimanfaatkan oleh semua orang termasuk penyandang cacat dan lansia. Dalam penyediaan fasilitas maka harus diperhatikan juga aspek aksesibilitas pengunjung terhadap fasilitas yang disediakan. Berdasarkan peraturan yang sama, aksesibilitas didefinisikan sebagai kemudahan yang disediakan bagi semua orang termasuk penyandang cacat dan lansia guna mewujudkan kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan. Acuan bagi kegiatan pembangunan yang aksesibel bagi masyarakat termasuk penyandang cacat dan lansia terdapat dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 30/PRT/2006 tentang Pedoman Teknis

Fasilitas Dan Aksesibilitas Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan.

Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 30/PRT/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas Dan Aksesibilitas Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan, dinyatakan empat asas fasilitas dan aksesibilitas sebagai berikut:

  • i. Keselamatan, yaitu setiap bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan terbangun, harus memperhatikan keselamatan bagi semua orang;
  • ii. Kemudahan, yaitu setiap orang dapat mencapai semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan;
  • iii. Kegunaan, yaitu setiap orang harus dapat mempergunakan semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan;
  • iv. Kemandirian, yaitu setiap orang harus bias mencapai, masuk dan mempergunakan semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan dengan tanpa membutuhkan bantuan orang lain.

Dalam Undang – Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia disebutkan bahwa salah satu layanan yang diberikan kepada lanjut usia adalah pelayanan untuk mendapatkan kemudahan dalam penggunaan fasilitas sarana, dan prasarana umum. Pelayanan untuk mendapatkan kemudahan penggunaan fasilitas, sarana dan prasarana umum memiliki maksud untuk memberikan aksesibilitas di beberapa tempat umum yang berpotensi menghambat mobilitas para lansia.

Penyediaan aksesibilitas pada sarana dan prasarana umum untuk lansia dapat berupa fisik dan non fisik. Penyediaan aksesibilitas fisik pada bangunan umum dilaksanakan dengan menyediakan (Komisi Nasional Lanjut

Usia, 2010): tangga dan lift khusus untuk bangunan bertingkat; tempat parkir dan tempat naik turun penumpang; tempat duduk khusus; pegangan tangan pada tangga, dinding, kamar mandi dan toilet; telepon umum; tempat minum; tanda – tanda peringatan darurat dan sinyal.

Aksesibilitas pada pertamanan dan tempat rekreasi dilaksanakan dengan menyediakan: tempat parkir dan tempat naik turun penumpang; tempat duduk khusus/istirahat; telepon umum; tempat minum; toilet; tanda – tanda peringatan darurat dan sinyal

Sedangkan penyediaan aksesibilitas yang berbentuk non fisik berupa: pelayanan informasi, pelayanan informasi dilaksanakan dalam bentuk penyediaan dan penyebarluasan informasi yang menyangkut segala bentuk pelayanan yang disediakan bagi lansia; pelayanan khusus, layanan khusus dilaksanakan dalam bentuk: (i) penyediaan tanda – tanda khusus, berbunyi, dan gambar pada beberapa tempat khusus yang disediakan pada setiap fasilitas sarana dan prasarana umum (ii) penyediaan media massa sebagai sumber informasi dan sarana komunikasi antara para lansia.

Salah satu bentuk pelayanan untuk mendapatkan kemudahan dalam penggunaan fasilitas umum adalah pemberian fasilitas rekreasi dan olahraga khusus. Pemerintah dan masyarakat menyediakan fasilitas rekreasi dan olahraga khusus kepada lanjut usia dalam bentuk (Komisi Nasional Lanjut Usia, 2010): menyediakan tempat duduk khusus di tempat rekreasi; penyediaan alat bantu lanjut usia di tempat rekreasi; pemanfaatan taman-taman untuk olahraga; penyelenggaraan wisata lanjut usia; menyediakan tempat kebugaran.

3.3 Aksesibilitas

Pola penggunaan tempat rekreasi tidak hanya berdasarkan lokasi, akses yang efektif tidak sama dengan kenyamanan dari lokasi. Patmore (1983) mengkategorikan kendala untuk mengakses suatu tempat sebagai berikut:

  • a. Kendala fisik, kendala ini menghalangi akses melalui usia atau ketidakmandirian seorang anak. Kendala ini tidak terkait jarak namun juga terkait dengan intervensi ruang;
  • b. Kendala finansial, kendala ini merupakan kendala langsung yang terkait dengan aspek ekonomi, baik dikarenakan tingginya biaya masuk maupun tingginya peralatan yang dibutuhan untuk berekreasi;
  • c. Kendala sosial, kendala finansial juga umumnya diperkuat oleh kendala sosial. Konteks sosial dari bermacam – macam kegiatan rekreasi merupakan bagian penting dari kenikmatan berekreasi, namun apabila seseorang merasa tidak nyaman dengan konteks sosial tersebut maka kenikmatan berekreasi pun akan terganggu;
  • d. Kendala transportasi, kepemilikan kendaraan pribadi tidak hanya meningkatkan partisipasi dalam berekreasi tetapi juga memungkinkan lebih banyak tempat rekreasi yang dapat dicapai dengan mudah.

3.4 Pengelolaan

Dalam pengelolaan maka suatu organisasi harus menentukan misi dan tujuan, mengembangkan pemahaman mengenai kondisi pasar atau kebutuhan dan permintaan masyarakat, menentukan strategi dan sasaran, memimpin sumber daya manusia dan sumber daya lainnya yang dibutuhkan untuk memberikan jasa, melatih kontrol terhadap sumber daya untuk memastikan efektifitas dan efisiensi dari penyampaian jasa, memantau dan mengevaluasi hasil terhadap tujuan organisasi. Proses – proses tersebut mengikutsertakan penyebaran beberapa keahlian seperti perencanaan, peramalan, pemasaran, akuntansi dan pengelolaan finansial, serta manajemen sumber daya manusia dan kepemimpinan (Encyclopedia of Leisure and Outdoor Recreation, 2003).

4. Analisis Identifikasi Karakteristik Komponen Penawaran Tempat Rekreasi

4.1 Analisis Identifikasi Daya tarik

Berikut merupakan hal – hal yang menarik para lansia untuk berekreasi:

1) Kegiatan

Salah satu daya tarik suatu tempat rekreasi adalah kegiatan yang dapat dilakukan pengunjung di tempat rekreasi tersebut. Berikut merupakan kegiatan yang dilakukan oleh lansia di tempat – tempat rekreasi.

Tabel 1 Kegiatan yang Dilakukan Lansia di Tempat Rekreasi

Kegiatan
Tempat rekreasiUtamaSampingan
Taman TegallegaJogging dan tai – chiBerbelanja dan
bersosialisasi
PunclutBerolahraga dan
berbelanja
Bersosialisasi dan
berwisata kuliner
Masjid RayaShalat wajib,
mendengarakan
ceramah, dan
mengikuti pengajian
Pasar BaruBerbelanja
GasibuBerbelanja
Taman Lalu
Lintas
Mengawasi cucu
bermain
Piknik
Kebun BinatangMengawasi cucu
bermain
Melihat satwa

Sumber: Survei Lapangan dan Hasil Analisis, 2011

Berdasarkan tabel di atas maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan yang umumnya dilakukan lansia saat berekreasi adalah berolahraga, berbelanja, dan bersosialisasi. Lansia dapat berekreasi sendiri atau hanya bersama dengan pasangan, bersama temanteman, dan bersama keluarga besar. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap pilihan tempat rekreasi dan kegiatan yang dilakukan di tempat rekreasi tersebut. Tempat rekreasi yang dikunjungi oleh lansia sendiri atau hanya bersama pasangan adalah Masjid Raya Bandung di mana lansia berekreasi untuk tujuan ibadah. Selain itu terdapat juga tempat rekreasi yang dikunjungi lansia bersama teman-temannya atau bertemu temantemannya di tempat rekreasi antara lain Punclut, Taman Tegallega, dan Gasibu. Kegiatan yang dilakukan lansia saat berekreasi bersama teman-temannya adalah berolahraga, berbelanja, dan bersosialisasi. Karena karakteristik sosial-budaya lansia Indonesia yang sangat menyatu dengan keluarganya maka terdapat juga tempat rekreasi yang dikunjungi lansia bersama dengan keluarga besar mereka yaitu Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution dan Kebun Binatang Tamansari Bandung dimana kegiatan yang umumnya dilakukan lansia adalah sekedar menemani cucu mereka bermain.

2) Pasar informal

Untuk di beberapa tempat rekreasi seperti Gasibu dan Punclut memiliki daya tarik dengan jenis event attraction. Yang dimaksud dengan event attraction di sini adalah sesuatu yang menarik pengunjung ke suatu tempat dikarenakan oleh apa yang terjadi di tempat tersebut. Event attraction di Gasibu dan Punclut terdapat dalam bentuk pasar informal. Pada umumnya, barang yang diperdagangkan di pasar informal dijual dengan harga yang lebih murah. Hal tersebut semakin menambah alasan bagi para lansia untuk berekreasi dengan mengunjungi pasar informal. Namun demikian, walaupun barang – barang dijual dengan harga yang murah tidak berarti hanya lansia dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah saja yang berekreasi ke pasar informal. Berdasarkan hasil studi Maulita Dwasti

Isnutomo (2011) diketahui bahwa lansia yang mengunjungi Gasibu dan Punclut merupakan lansia KS I, KS II, dan KS III. Jadi setiap lansia, di semua tingkat kesejahteraan, menyukai berekreasi ke pasar informal.

3) Udara yang bersih dan sejuk

Lansia menyukai berekreasi ke tempat yang memiliki udara sejuk dan bersih. Dengan berada di lingkungan yang memiliki udara yang sejuk maka lansia merasa tenang. Hal ini ditunjukan dengan banyaknya lansia yang berekreasi ke Punclut. Berdasarkan hasil wawancara dengan pengunjung lansia maka didapatkan bahwa salah satu hal yang membuat mereka memilih Punclut sebagai destinasi rekreasi mereka adalah dikarenakan Punclut memiliki udara yang sejuk. Bahkan pengunjung lansia yang berekreasi ke Masjid Raya Bandung dan Gasibu juga menyatakan bahwa tujuan rekreasi lain mereka adalah Punclut dengan alasan yang sama. Selain Punclut, beberapa responden lansia menyatakan bahwa tempat rekreasi lain yang mereka kunjungi adalah Lembang. Alasan mereka mengunjungi Lembang tentu saja untuk menghirup udara yang lebih bersih. Apabila dikaitkan dengan waktu lansia untuk pergi berekreasi maka diketahui bahwa lansia umumnya berekreasi ke beberapa tempat rekreasi seperti Taman Tegallega, Punclut, Gasibu, di pagi hari. Lansia memilih untuk berekreasi di pagi hari karena di pagi hari tingkat polusi tidak setinggi tingkat polusi di siang hari sehingga udara di pagi hari lebih terasa bersih.

4) Luas area tempat rekreasi

Lansia menyukai tempat rekreasi yang luas. Tempat rekreasi yang luas menandakan bahwa para lansia memiliki ruang gerak yang lebih luas dengan memiliki ruang gerak yang lebih luas. Tempat rekreasi yang dikunjungi karena ukurannya yang luas adalah Masjid Raya

Bandung. Karena memiliki luas area yang besar maka tentu saja Masjid Raya Bandung memiliki daya tamping pengunjung yang besar pula. Daya tampung yang besar membuat para lansia tidak harus berdesak – desakan dengan pengunjung yang lain. Sehingga lansia merasa lebih nyaman dan tenang untuk beribadah. Selain Masjid Raya Bandung, tempat rekreasi lain yang kerap dikunjungi lansia karena memiliki luas areanya adalah Taman Tegallega. Kegiatan yang dilakukan oleh lansia di Taman Tegallega adalah olahraga. Dengan berolahraga di tempat yang luas menyebabkan lansia merasa lebih bebas bergerak.

Tabel 2 Daya Tarik Tempat Rekreasi

NoTempat
Rekreasi
KegiatanPasar
Informal
Udara yang
Bersih dan
Sejuk
Luas
Area
1Masjid Raya
Bandung
2 Punclut
3 Taman Tegallega
4 Gasibu
5 Pasar Baru
6Taman Lalu
Lintas
7 Kebun Binatang

Sumber: Survei Lapangan dan Hasil Analisis, 2011

Tabel di atas menunjukkan daya tarik yang dimiliki oleh masing – masing tempat rekreasi. Semua tempat rekreasi dikunjungi oleh lansia karena di tempat – tempat rekreasi tersebut lansia dapat melakukan suatu kegiatan tertentu seperti berolahraga, berbelanja, bersosialisasi, dan beribadah. Lansia mengunjungi Masjid Raya Bandung karena mereka ingin beribadah dan mereka menyukai area Masjid Raya Bandung yang luas sehingga mereka tidak usah beribadah berdesak-desakkan dengan pengunjung lain sehingga mereka merasa nyaman untuk beribadah dengan durasi panjang. Lansia memilih untuk berekreasi ke Punclut karena mereka dapat berolahraga, menikmati kuliner dan bersosialisasi, terdapat Pasar Minggu Punclut serta Punclut memiliki udara yang bersih dan sejuk. Lansia berekreasi ke Taman Tegallega selain karena memiliki daya tarik berupa kegiatan olahraga juga karena areanya yang luas dan karena lansia selalu berekreasi ke Taman Tegallega di pagi hari maka daya tarik yang disukai lansia adalah udaranya yang bersih dan sejuk. Gasibu merupakan salah satu tempat tujuan rekreasi lansia. Lansia gemar berbelanja di pasar informal yang diadakan setiap Hari Minggu pagi. Namun lansia tidak menyukai kondisi di mana mereka harus berdesak-desakkan dengan pengunjung lain. Selain berbelanja di Punclut dan Gasibu, lansia juga berekreasi ke Pasar Baru untuk berbelanja. Mengingat budaya extended family di Indonesia, maka lansia juga berekreasi ke tempat rekreasi anak – anak untuk berekreasi bersama cucu mereka ke Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution dan/atau Kebun Binatang Tamansari Bandung.

4.1 Analisis Identifikasi Fasilitas Pendukung

Berdasarkan tabel berikut maka dapat dilihat bahwa fasilitas pendukung yang terdapat di Masjid Raya Bandung ataupun Pasar Baru tidak memenuhi Pedoman Aksesibilitas dan Kemudahan Dalam Penggunaan Sarana dan Prasarana karena terdapat aksesibilitas yang tidak tersedia. Fasilitas pendukung yang tidak terdapat di Pasar Baru maupun Masjid Raya Bandung adalah pegangan tangan di dinding dan di toilet. Pegangan tangan memiliki fungsi untuk para lansia berpegangan baik saat berjalan atau saat di toilet sehingga para lansia tidak kehilangan keseimbangan. Fasilitas pendukung lain yang tidak terdapat di Pasar Baru maupun Masjid Raya Bandung adalah telepon umum. Telepon umum disediakan untuk memudahkan komunikasi namun sebenarnya walaupun tidak tersedia telepon umum tidak berarti komunikasi menjadi sulit karena sudah terdapat telepon genggam.

Tabel 3 Penyediaan Fasilitas Pendukung di Tempat Rekreasi untuk Kategori Bangunan Umum

Fasilitas PendukungMasjid Raya
Bandung
Pasar
Baru
Tangga dan pegangan tangan
Lift
Tempat Parkir
Tempat naik turun penumpangX
Tempat duduk khususX
Pegangan tangan di dindingXX
Pegangan tangan di toiletXX
Telepon umumXX
Food courtX
Pelayanan informasiXX

Sumber: Survei Lapangan dan Hasil Analisis, 2011 Keterangan: √ = Ada, X = Tidak ada

Tempat – tempat rekreasi dalam kategori pertamanan dan tempat rekreasi juga tidak menyediakan fasilitas pendukung yang sesuai dengan Pedoman Aksesibilitas dan Kemudahan Dalam Penggunaan Sarana dan Prasarana. Mayoritas tidak menyediakan tempat untuk menaikan dan menurunkan penumpang serta telepon umum. Namun ada juga beberapa tempat rekreasi yang hampir tidak menyediakan fasilitas pendukung sama sekali contohnya adalah Gasibu dan Punclut. Tempat rekreasi yang memiliki fasilitas pendukung yang hampir lengkap adalah Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution dan Kebun Binatang Tamansari Bandung.

Tabel 4 Penyediaan Fasilitas Pendukung di Tempat Rekreasi untuk Kategori Pertamanan dan Tempat Rekreasi

Fasilitas PendukungPunclut GasibuTaman
Lalu
Lintas
Taman
Tegal
lega
Kebun
Binatang
Tempat parkirX
Tempat menaikkan dan
menurunkan penumpang
XXXXX
Tempat duduk khususXX
Telepon umumXXXXX
Food courtXX
ToiletXX
Pelayanan informasiXXXXX

Sumber: Survei Lapangan dan Hasil Analisis, 2011 Keterangan: √ = Ada, X = Tidak ada

Berdasarkan kedua tabel di atas maka dapat dikatakan bahwa fasilitas pendukung yang tersedia di ketujuh tempat rekreasi masih tergolong tersedia untuk umum dan belum terdapat suatu fasilitas yang bersifat khusus untuk lansia. Kondisi tersebut berbeda dengan tempat rekreasi di luar negeri yang telah dibahas pada bab sebelumnya. Tempat rekreasi di luar negeri pada umumnya telah memperhatikan lansia sebagai suatu segmen pengunjung dengan cara menyediakan fasilitas yang bersifat khusus lansia serta pemberian harga tiket masuk khusus untuk pengunjung lansia.

Walaupun para lansia mengalami kesulitan untuk menggunakan beberapa fasilitas namun mereka tidak pernah menyampaikan ketidakpuasan mereka dalam menggunakan fasilitas. Untuk tempat rekreasi untuk anak – anak seperti Kebun Binatang Tamansari Bandung dan Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution, para lansia merasa mereka tidak bisa meminta banyak untuk disediakan fasilitas khusus untuk lansia karena mereka merasa bahwa tempat – tempat rekreasi tersebut dikhususkan untuk anak – anak dan lansia merupakan kelompok minoritas di sana.

4.2 Analisis Identifikasi Aksesibilitas

Aksesibilitas yang dibahas adalah rute angkutan umum yang melewati tempat rekreasi, kondisi jalan dan lalu lintas di sekitar tempat rekreasi, serta kondisi tempat parkir di tempat rekreasi.

Tabel 5 Aksesibilitas Tempat Rekreasi

NoTempat
Rekreasi
Rute Angkutan Umum
Yang Melewati
Kondisi Jalan dan Lalu LintasKondisi Tempat Parkir
1Masjid
Raya
Bandung
a. Cicadas – Elang
b. Stasiun Hall – Gedebage
Terdapat banyak PKL dan angkutan umum
yang berhenti di Jalan Dalem Kaum sehingga
menimbulkan kemacetan
Berupa tempat parkir basement
dengan kapasitas yang besar.
2PunclutSt.Hall – Ciumbuluit hingga
terminal Ciumbului
Jalan hanya cukup untuk dilalui dua mobil.
Terdapat tanjakan dan turunan di jalan.
Setiap Hari Minggu, jalan Bukit Raya hanya
boleh dilalui pejalan kaki namun terdapat
juga motor melintasi jalan bukit raya
Terdapat tempat parkir yang
disediakan pemilik saung,
menggunakan tempat parkir RS. Dr.
M. Salamun, atau parkir di lahan
kosong
3Taman
Tegallega
a. Tegallega – Cisitu
b. Tegallega – Ciparay
c. Tegallega – Mahmud
d. Tegallega Banjaran
e. Tegallega – Cipatik.
Dapat diakses melalui Jalan BKR, Jalan Otto
Iskandardinata, dan Jalan Mohammad Toha.
Kondisi jalan baik, dapat dilalui setidaknya
dua mobil.
Terdapat dua lapangan parkir. Kedua
lapangan parkir tersebut memiliki
kapasitas besar.
4Gasibua. Cicaheum – Ciroyom
b. Ciwastra – Cicaheum
c. Gedebage – Simpang
Dago
d. Dago – Riung Bandung
e. Cicaheum – Ledeng
f. Panghegar – Dipatiukur
Pada Hari Minggu, arus lalu lintas tersendat
karena banyaknya PKL.
Tidak terdapat tempat parkir sehingga
pengunjung memarkirkan
kendaraannya di pinggir jalan atau di
gedung yang terdapat tempat parkir
5Pasar
Baru
a. Cicadas – Elang
b. Stasiun Hall – Gedebage
Arus lalu lintas yang padat. Terdapat antrian
kendaraan yang panjang di Jalan Otto
Iskandardinata untuk kendaraan yang akan
memasuki tempat parkir Pasar Baru. Kondisi
jalan nya bagus
Terdapat gedung parkir. Namun untuk
mendapatkan parkir pengunjung harus
melalui jalan yang berkelok-kelok
menuju lantai atas
6Taman
Lalu
Lintas
a. Kalapa-Dago
b. Stasiun Hall – Sadang
Serang
c. Panghegar – Dipatiukur
d. Kalapa – Ledeng
e. Antapani – Ciroyom
f. Kalapa – Cicaheum
g. Stasiun Hall – Gedebage
Jalan dapat dilalui setidaknya dua mobil.
Kondisi jalan baik.
Terdapat dua tempat parkir namun
kapasitasnya kecil sehingga terkadang
pengunjung harus memarkirkan
kendaraan di bahu jalan
7Kebun
Binatang
a. Sadang Serang – Caringin
b. Cicaheum-Ledeng
c. Cisitu-Tegallega
d. Dipatiukur – Panghegar
Jalan dapat dilalui oleh dua mobil. Di depan
pintu masuk terdapat angkutan umum yang
berhenti untuk menunggu penumpang.
Terdapat tempat parkir yang memiliki
kapasitas besar untuk mobil, motor
dan bus pariwisata.

Sumber: Survei Lapangan dan Hasil Analisis, 2011

Tempat – tempat rekreasi yang diteliti merupakan tempat rekreasi yang tidak sulit untuk dicapai karena letaknya yang terbilang cukup strategis dan berlokasi di jalan utama. Selain itu, tempat – tempat rekreasi tersebut juga sudah dilalui oleh kendaraan umum kecuali Punclut. Apabila para lansia ingin berekreasi ke Punclut maka umumnya mereka harus memesan angkot terlebih dahulu untuk mengantarkan mereka ke atas Jalan Bukit Raya namun apabila lansia ingin berjalan kaki maka mereka dapat menggunakan kendaraan umum Stasiun Hall – Ciumbeluit hingga Rumah Sakit Dr. M. Salamun.

Para lansia lebih memilih untuk berekreasi ke tempat – tempat yang terbilang dekat dari kediaman mereka. Bahkan faktor jarak yang tidak jauh dari kediaman para lansia telah menjadi suatu alasan tersendiri bagi para lansia untuk mengunjungi suatu tempat rekreasi. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara dengan pengunjung lansia di Taman Tegallega, Gasibu dan Masjid Raya Bandung.

Untuk mencapai tempat rekreasi, para lansia dapat menggunakan berbagai macam moda transportasi. Untuk tempat rekreasi yang terletak dekat dengan kediaman mereka maka lansia umumnya menggunakan kendaraan umum atau berjalan kaki. Sedangkan untuk berekreasi ke tempat yang jauh dari kediaman mereka maka lansia menggunakan kendaraan umum atau kendaraan pribadi. Namun berdasarkan hasil wawancara dengan pengunjung lansia maka diketahui bahwa mayoritas lansia menggunakan kendaraan pribadi untuk bepergian menuju tempat rekreasi.

Beberapa tempat rekreasi yang diteliti telah menyediakan tempat parkir untuk pengunjungnya yang membawa kendaraan pribadi, namun sebagian tempat rekreasi yang diteliti tidak menyediakan tempat parkir untuk pengunjungnya. Walaupun di beberapa tempat rekreasi telah menyediakan tempat parkir namun masih terdapat keluhan dari lansia mengenai tempat parkir. Tempat rekreasi yang telah menyediakan tempat parkir namun masih dikeluhkan oleh lansia adalah Pasar Baru dan Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution. Tempat parkir di Pasar Baru dikeluhkan karena untuk mendapatkan tempat parkir pengunjung harus mengemudikan kendaraan mereka ke lantai atas melalui ramp yang berkelok – kelok. Sedangkan tempat parkir di Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution dikeluhkan karena kapasitasnya yang kecil. Untuk tempat rekreasi yang tidak menyediakan tempat parkir seperti Punclut dan Gasibu maka digunakanlah tepi jalan, tempat parkir gedung yang tidak beroperasi, atau tanah kosong.

Para lansia tidak merasa bahwa dengan telah memasuki tahap usia lanjut akan membatasi pergerakan mereka untuk berekreasi. Mereka masih merasa bahwa mereka mampu untuk berekreasi walaupun tanpa pengawasan atau kawalan dari mereka yang usianya lebih muda. Umumnya lansia berekreasi bersama dengan pasangan mereka namun tidak jarang ditemukan juga sekumpulan lansia yang berekreasi bersama – sama. Dengan berekreasi bersama dengan teman – teman, para lansia merasa senang dan tidak cepat merasa lelah

karena teralihkan oleh perbincangan dengan teman – teman sesama lansia.

4.3 Analisis Identifikasi Pengelolaan

Berdasarkan hasil wawancara kepada para pengelola tempat rekreasi diketahui bahwa pengelola yang paling menyadari kehadiran para pengunjung lansia adalah UPTD Taman Tegallega dan DKM Masjid Raya Bandung. Hal ini ditunjukkan dengan pengetahuan kedua pihak pengelola terhadap waktu berkunjung lansia ke tempat rekreasi yang mereka kelola serta kegiatan yang dilakukan oleh para lansia.

Sedangkan pihak pengelola tempat rekreasi lain sekedar mengetahui bahwa terdapat pengunjung lansia namun umumnya para pengelola tidak begitu mengetahui waktu berkunjung lansia. Sedangkan untuk minat pengelola terhadap pengunjung lansia belum ditunjukkan oleh para pengelola tempat rekreasi. Belum adanya minat ini diindikasikan oleh belum adanya suatu penelitian pasar yang objek penelitiannya adalah para lansia. Di antara tempat rekreasi yang diteliti belum ada pengelola yang melakukan penelitian pasar yang dikhususkan untuk lansia. Namun Masjid Raya Bandung, dan Pasar Baru telah memiliki kotak saran untuk menampung saran dan/atau kritik dari pengunjung. Sedangkan di Kebun Binatang Tamansari Bandung, pihak pengelolanya menyebarkan kuesioner kepada pengunjung namun belum ada yang bersifat khusus lansia.

DKM Masjid Raya Bandung merupakan satu – satunya pengelola yang telah melaksanakan aksi untuk mengakomodasi kebutuhan rekreasi lansia. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak DKM Masjid Raya Bandung, dalam kotak saran dan terdapat lansia dan pengguna kursi roda yang mengunjungi Masjid Raya Bandung. Maka dari itu saat ini DKM telah

memiliki rencana untuk membangun jalur khusus pengguna kursi roda di dalam Masjid Raya Bandung.

5. Kesimpulan

Tempat rekreasi akan memiliki potensi untuk mendatangkan pengunjung lansia apabila di tempat rekreasi tersebut lansia dapat melakukan berbagai kegiatan seperti berolahraga, berbelanja, bersosialisasi. Selain karena faktor kegiatan, daya tarik lain yang akan mengundang para lansia adalah apabila tempat rekreasi memiliki area yang luas sehingga para lansia memiliki ruang gerak yang lebih luas sehingga mereka dapat bergerak bebas dan tidak berdesak-desakan dengan pengunjung lainnya.

Untuk membuat para pengunjung merasa nyaman berekreasi sebenarnya telah tersedia berbagai fasilitas pendukung di tempat rekreasi. Sebenarnya dalam penyediaan fasilitas sudah terdapat suatu pedoman untuk lansia yang dikeluarkan oleh Komnas Lansia yaitu "Aksesibilitas dan Kemudahan dalam Penggunaan Sarana dan Prasarana Bagi Lanjut Usia". Namun demikian, fasilitas yang tersedia di tempat – tempat rekreasi belum ada yang memenuhi pedoman "Aksesibilitas dan Kemudahan dalam Penggunaan Sarana dan Prasarana Bagi Lanjut Usia".

Tempat – tempat rekreasi yang dikunjungi oleh para lansia merupakan tempat rekreasi yang tidak sulit untuk dicapai. Tempat – tempat rekreasi terletak di jalan utama sehingga tidak sulit untuk ditemukan. Selain itu pada umumnya kondisi lalu lintas di sekitar tempat– tempat rekreasi relatif lancar sehingga pengunjung yang ingin berekreasi ke tempat tersebut tidak terhambat oleh kondisi lalu lintas. Tempat – tempat rekreasi yang diteliti dilalui oleh beberapa rute angkutan umum

sehingga memudahkan para pengunjung untuk mencapai tempat – tempat rekreasi tersebut. Tempat – tempat rekreasi juga sudah dilengkapi dengan tempat parkir.

Tingkat kepedulian pengelola tempat – tempat rekreasi yang diteliti masih sekedar mengetahui bahwa terdapat lansia yang berekreasi ke tempat rekreasi yang dikelola. Mayoritas pengelola tempat rekreasi belum memiliki minat untuk memperhatikan lansia sebagai suatu segmen pengunjung serta belum menjalankan suatu aksi untuk mengakomodasi kebutuhan rekreasi lansia

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Arief Rosyidie, Drs., MSP., M.Arch., Ph.D. untuk arahan dan bimbingan sehingga artikel ini dapat ditulis. Terima kasih juga kepada dua mitra bestari yang telah memberikan komentar yang berharga.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

1
Citations
0.00
FWCIfield-weighted
42th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20181

Semantic Profile AI-classified research signals

Population 0.53
level 2
level 1
Humanities 0.45
level 1

Institution Network

References

  1. Abikusno, Nugroho. 2007. Older Population in Indonesia: Trends, Issues, and Policy Responses. UNFPA Indonesia and Country Technical Services Team for East and South East Asia Bangkok.
  2. Aj, Suryadi. Pergeseran Keperawatan Lansia di Masyarakat. Diakses pada 28 September 2011. http://ageingsupport.blogspot.com/2010/01/p ergeseran-keperawatan-lansiadi.html.
  3. Department of Economic and Social Affairs United Nations. World Population Ageing 2009. Diakses pada 2 Februari 2011. http://www.un.org/esa/population/publicatio ns/WPA2009/WPA2009-report.pdf.
  4. Encyclopedia of Leisure and Outdoor Recreation. Attraction. Diakses pada 7 Juni 2011. http://www.bookrags.com/tandf/attraction-3-tf/
  5. Encyclopedia of Leisure and Outdoor Recreation.
  6. Recreation Management. Diakses pada 8 Juni 2011. http://www.bookrags.com/tandf/leisuremana gement-tf/
  7. French, Christine M., Stephen J. Craig-Smith, dan Allan Collier. 1996. Principles of Tourism.
  8. Melbourne: Longman.
  9. Gavrilov, Leonid A. dan Patrick Heuveline. Aging of Population. Diakses pada 2 Februari 2011. http://longevityscience.org/Population_Agin g.htm
  10. Gunn, C dan Var T. 2002. Tourism Planning. Fourth Edition. UK: Routledge. International Association of Gerontology and Geriatrics. 2005. Manual Operating Procedures. Disusun untuk Kongres
  11. Gerontology and Geriatry (IAGG) ke XVII.
  12. Isnutomo, Maulita Dwasti. 2011. Identifikasi Permintaan Kelompok Lanjut Usia terhadap Kegiatan Rekreasi di Kota Bandung. Institut Teknologi Bandung.
  13. Komisi Nasional Lanjut Usia. "Aksesibilitas dan Kemudahan Dalam Penggunaan Sarana dan Prasarana" . Komisi Nasional Lanjut Usia, 2010
  14. Page, Stephen. Urban Tourism. 1995. London:
  15. Routledge.
  16. Patmore, J. Allan. 1983. Recreation and Resources: Leisure Patterns and Leisure Places.Oxford: Basil Blackwell.
  17. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 30/PRT/M/2006 Tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.
  18. Rian, Achmad. 2000. Studi Identifikasi Penyediaan Fasilitas Rekreasi Anak - Anak di Kotamadya Bandung." Institut Teknologi Bandung.
  19. Setiti, Sri Gati. Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan (Studi Kasus pada Lima Wilayah di Indonesia). Diakses pada 28 September 2011. http://www.depsos.go.id/unduh/06_pelayana n%20lanjut%20usia%20berbasis%20kekerab atan.pdf.
  20. Soenardjo, Budi Rochyati. Three Generations in One Roof. Diakses pada 2 Oktober 2011. http://gemamanahan.com/index.php?option= com_content&view=article&id=101:three- generations-in-one- roof&catid=53:komunitaslansia&Itemid=54.
  21. Sukadijo. 1997. Systemic Linkage dalam Pariwisata. Jakarta: Gramedia.
  22. Suwoko. Lansia Indonesia Tercepat. Diakses pada 28 September 2011. http://www.suaramerdeka.com/harian/0405/2 9/opi04.htm.
  23. Undang - Undang Nomor 13 Tahun 1998 Tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.