1. Home
  2. Archives
  3. Vol 23 (2012) Issue 3
  4. Articles

Identifikasi Partisipasi Masyarakat dalam Pemilahan Sampah di Kecamatan Cimahi Utara Serta Faktor yang Mempengaruhinya

Abstract

Keberadaan sampah sering menjadi permasalahan yang krusial di wilayah perkotaan baik dari segi lingkungan, sosial, maupun ekonomi. Peningkatan volume sampah ini tidak diimbangi dengan perbaikan sistem pengelolaan sampah, dimana kota-kota besar di Indonesia masih mendasarkan pada prinsip kumpul-angkut-buang dengan sistem open dumping. Kecamatan Cimahi Utara merupakan salah satu kota yang sedang fokus menangani permasalahan sampah. Kecamatan Cimahi Utara mencoba menerapkan pendekatan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dalam sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Data karakteristik pemilahan sampah dan tingkat partisipasi masyarakat diperoleh melalui survey primer dengan penyebaran kuisioner kepada 100 rumah tangga di Kecamatan Cimahi Utara dan wawancara pengelola lokasi pengomposan, serta melalui survey data sekunder. Analisis dilakukan dengan metode statistik korelasi berbasis chi square serta uji keeratan hubungan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah. Hasil analisis menujukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan pemilahan sampah di Kecamatan Cimahi Utara masih rendah, dengan bentuk partisipasi terbatas pada partisipasi pada level individu.Kata kunci: Pengelolaan sampah, Pemilahan sampah, Partisipasi, Rumah Tangga The existence of waste is a crucial issue in urban areas in terms of environmental, social, and economic. Increase in waste volume is not balanced with the improvement of waste management systems, big cities in Indonesia are still based on the principle of get-haul waste with the open dumping system. North Cimahi District is one of the cities that are focusing dealing with waste issues. North Cimahi District tried to apply the principle of 3R (reduce, reuse, recycle) approach in community-based waste management systems. Data characteristics of waste segregation and the level of community participation obtained through the primary survey with questionnaire spreading to 100 households in the North Cimahi District and composting sites managers

Keywords

1. Pendahuluan

Wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk yang tinggi, keberadaan sampah seringkali menjadi permasalahan yang krusial. Timbulan sampah suatu kawasan kota setiap

tahunnya meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, perkembangan ekonomi wilayah, perubahan pola konsumsi serta gaya hidup masyarakat. Berdasarkan data statistik persampahan Indonesia tahun 2008, estimasi timbulan

sampah yang berasal dari sampah permukiman (rumah tangga) dan non permukiman tahun 2008 sekitar 38,5 juta ton/tahun.

Volume timbulan sampah yang semakin meningkat pada suatu kota menimbulkan banyak permasalahan pada berbagai sisi kehidupan baik dari segi lingkungan, sosial maupun ekonomi. Permasalahan lingkungan yang seringkali timbul adalah menumpuknya sampah di lokasi-lokasi pengumpulan sampah (TPS atau TPA). Permasalahan persampahan tersebut tidak diimbangi dengan perbaikan sistem pengelolaan sampah kota, dimana sistem pengelolaan sampah yang umumnya digunakan oleh kota-kota di Indonesia saat ini masih mendasarkan pada paradigma lama yakni kumpul - angkut - buang.

Kota Cimahi merupakan salah satu kota yang sedang fokus menangani permasalahan sampah. Permasalahan sampah yang utama di Kota Cimahi adalah penumpukan sampah di TPS akibat tidak adanya lahan TPA di Kota Cimahi, sementara TPA Sarimukti yang biasanya menampung sampah dari Kota Cimahi kontrak penggunaannya akan habis pada akhir tahun 2011. Pemerintah Kota Cimahi dituntut untuk menerapkan pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan tanpa bergantung pada pengadaan TPA yang juga berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan dan konflik sosial. Oritentasi sistem pengelolaan sampah yang tersentralisasi dengan berbasis pada TPA perlu diubah menjadi terdesentralisasi pada sumber timbulan sampah dengan menjadikan partisipasi masyarakat sebagai mainstream dalam kebijakan pengelolaan sampah (Saribanon, 2007).

Sesuai dengan arahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008, pengelolaan sampah kota mencakup upaya pengurangan sampah dan penanganan sampah sejak dari sumber timbulannya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan pada level rumah tangga adalah pemilahan sampah. Pemilahan sampah ini merupakan tahapan awal yang menentukan keefektifan sistem pengelolaan sampah pada tahapan selanjutnya. Di beberapa kota besar di Indonesia, kegiatan pemilahan sampah yang banyak dilakukan adalah pemilahan oleh sektor informal pada lokasi tempat pembuangan akhir baik TPS maupun TPA. Namun jika ditinjau kembali, kegiatan ini tidak lebih efektif jika dibandingkan dengan pemilahan sampah pada tingkat sumber timbulannya karena kualitas serta nilai sampah pada TPS dan TPA sangat rendah, membahayakan kesehatan dan keselamatan pemulung, serta menyulitkan operasional dan perawatan TPA.

Pemilahan sampah lebih efektif dilakukan pada level sumber timbulan sampah (misalnya rumah tangga) karena komponen sampah pada tingkat sumber, terutama untuk jenis sampah anorganik, masih memiliki sifat murni atau belum tercampur dan terkontaminasi dengan sampah lain. Komposisi sampah yang cenderung homogen juga memudahkan dalam mengumpulkan jenis sampah tertentu yang dibutuhkan untuk kegiatan daur ulang, dengan kondisi barang yang masih baik. Pada tahapan akhir dalam sistem pengelolaan sampah, kegiatan pemilahan sampah ini juga dapat membantu mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke TPA.

Pembahasan terdiri dari lima bagian utama. Bagian pertama adalah pendahuluan yang membahas latar belakang dan memaparkan fokus utama artikel ini. Bagian kedua partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah. Bagian ketiga adalah pemaparan mengenai faktor yang diperkirakan mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam

pemilahan sampah pada level rumah tangga. Bagian keempat memaparkan penentuan faktor yang berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah. Bagian kelima adalah kesimpulan berdasarkan hasil artikel ini.

2. Partisipasi Masyarakat dalam Pemilahan Sampah

Dalam arti sempit partisipasi dapat diartikan sebagai keterlibatan seseorang secara sadar ke dalam interaksi sosial dalam situasi tertentu (Ach. Wazir Ws., et al., 1999:29). Midgley (1986) dalam Wiranto (2004) mengartikan partisipasi sebagai kontribusi sukarela dan keterlibatan demokratis oleh penduduk dalam usaha pembangunan, menikmati hasil-hasilnya serta kebersamaan dalam pembuatan keputusan yang berhubungan dengan penentuan tujuan, penyusunan kebijakan dan perencanaan serta penetapan program pembangunan ekonomi dan sosial (Midgley, dkk 1986 dalam Wiranto, 2004).

Tidak ada pengertian yang pasti mengenai konsep partisipasi, karena definisi partisipasi sangat bergantung pada karakteristik program atau proyek yang diterapkan. Definisi partisipasi yang dikemukakan oleh para ahli dapat dikategorikan menjadi dua jenis partisipasi yang lebih spesifik (Soetrisno, 1995 dalam Huraerah 2008):

  • a. Definisi menurut para perencana formal di Indonesia, dimana partisipasi mengacu pada partisipasi rakyat dalam pembangunan sebagai dukungan rakyat terhadap rencana atau proyek pembangunan yang dirancang dan ditentukan tujuannya oleh perencana.
  • b. Definisi yang berlaku universal, dimana partisipasi rakyat dalam pembangunan merupakan kerja sama yang erat antara

perencana dan rakyat dalam merencakanan, melaksanakan, melestarikan, dan mengembangkan hasil pembangunan yang telah dicapai.

Pada artikel ini, definisi partisipasi yang digunakan lebih mengacu pada partisipasi berdasarkan perencana formal di Indonesia. Dalam pengelolaan sampah, partisipasi masyarakat mengacu pada keterlibatan anggota masyarakat dalam berbagai kegiatan perencanaan dan atau pelaksanaan program pengelolaan sampah dengan tingkatan partisipasi didasarkan pada kontribusi masyarakat didalamnya.

Terdapat tiga alasan tentang mengapa partisipasi masyarakat mempunyai peran sangat penting (Conyers, 1991 dalam Huraerah, 2008) yakni:

  • 1) Partispasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakat, karena tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek akan gagal.
  • 2) Masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena mereka akan mengetahui seluk beluk proyek tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap poyek tersebut.
  • 3) Anggapan bahwa pelibatan masyarakat dalam pembangunan masyarakat mereka sendiri merupakan suatu hak demokrasi. Masyarakat mempunyai hak untuk turut urun rembung dalam menentukan jenis pembangunan yang akan dilaksanakan.

Bentuk partisipasi masyarakat dalam suatu proyek pembangunan bergantung pada mekanisme proyek yang akan dilaksanakan serta peran yang diberikan oleh pemerintah

kepada masyarakat dalam proyek tersebut. Bentuk partisipasi yang dimaksud adalah jenis sumbangan yang diberikan oleh seseorang, kelompok, atau masyarakat yang berpartisipasi (Huraerah, 2008).

Berdasarkan Undang-Undang No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, pelibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah kota adalah dengan berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, penyelenggaraan, dan pengawasan di bidang pengelolaan sampah. Peran masyarakat dalam pengelolaan sampah tersebut mencakup: pemberian usul, pertimbangan, dan saran kepada pemerintah atau pemda; perumusan kebijakan pengelolaan sampah, dan; pemberian saran dan pendapat dalam penyelesaian sengketa.

Untuk mengukur/menilai atau mengevaluasi partisipasi masyarakat pada suatu proyek yang telah dilaksanakan, digunakan tingkatan partisipasi yang menunjukkan letak partisipasi masyarakat pada suatu proyek dimana partisipasi masyarakat berada terhadap kualitas partisipasi masyarakat yang diharapkan. Dengan mengetahui tingkat partisipasi masyarakat tersebut, dapat dirumuskan strategi untuk mendorong peningkatan partisipasi masyarakat.

Menurut Anschutz (1996), partisipasi masyarakat dalam sistem pengelolaan sampah dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan berdasarkan keterlibatan atau peran masyarakat didalamnya. Tingkatan partisipasi tersebut adalah sebagai berikut:

  • a. Menerapkan kebiasaan yang benar terhadap sampah. Kontribusi finansial, barang maupun tenaga dan bentuk kontribusi langsung lainnnya untuk pelaksanaan program pengelolaan sampah.
  • b. Partisipasi dalam kegiatan konsultasi mengenai pengelolaan sampah.

c. Partisipasi dalam kegiatan administrasi dan manajemen, merupakan tingkat partisipasi komunitas yang tertinggi dalam sistem pengelolaan sampah. Pada tingkatan partisipasi ini, anggota komunitas dapat berperan dalam: ikut serta dalam komite masyarakat; menjadi anggota organisasi berbasis masyarakat yang berkaitan dengan pengumpulan sampah, edukasi lingkungan, dan sebagainya; berpartisipasi dalam pengambilan keputusan selama mengikut pertemuan/rapat terkait program pengelolaan sampah.

Berdasarkan SNI nomor 3242 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah di Permukiman, peran serta masyarakat dalam sistem pengelolaan sampah dapat dilakukan melalui beberapa cara yaitu: melakukan pemilahan sampah di sumber timbulannya; melakukan pengolahan sampah dengan konsep 3 R; berkewajiban membayar iuran/retribusi sampah; mematuhi aturan pembuangan sampah yang ditetapkan; turut menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya; berperan aktif dalam sosialisasi pengelolaan sampah lingkungan.

Sementara menurut Moningka (2000), setiap anggota masyarakat memiliki peran yang berbeda dalam sistem pengelolaan sampah. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah, khususnya dapat diwujudkan dalam empat level, yakni level individu, komunitas, partisipasi dalam penyusunan program dan kebijakan serta level tertinggi yakni partisipasi dalam pengelolaan komunitas dengan menjadi anggota komite yang bertanggung jawab dalam mengawasi, keberjalanan program, pengambilan keputusan yang melibatkan anggota komunitas lainnya. Peran pengelolaan komunitas ini dilaksanakan oleh kelompok kecil dari komunitas yang sengaja dibentuk

ataupun memanfaatkan organisasi berbasis masyarakat yang sudah ada

Partisipasi dalam artikel ini lebih menekankan pada perannya sebagai alat untuk pengumpulan informasi mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakat terhadap suatu program/proyek yang berkaitan dengan kepentingan publik. Untuk memudahkan mengkaji, dalam artikel ini tingkat partisipasi responden dalam pemilahan sampah di Kecamatan Cimahi Utara dinilai dengan mengacu pada tingkatan partisipasi menurut Anschutz (1996) dan Moningka (2000) dengan penyesuaian untuk kebutuhan studi ini.

Tabel 1 Tingkatan Partisipasi Rumah Tangga dalam Pemilahan Sampah

Level Partisipasi
IndividuKomunitasPenyusunan
Program
dan Kebijakan
Pengelola
Komunitas
Menerapkan
kebiasaan yang
benar terhadap
sampah:
- Memilah
sampah di
rumah
- Menyerahkan
sampah yang
telah terpilah
pada petugas
sampah sesuai
dengan jadwal
pengangkutan
nya,
- Bertanggung
jawab terhadap
kebersihan di
sekitar rumah
Kontribusi
finansial,
peralatan, dan
atau tenaga
Mengikuti
kegiatan
bersama yang
terorganisir,
seperti:
- Kegiatan
kampanye
kebersihan,
- Pertemuan/
rapat dan
diskusi, atau
- Program
peningkata
kesadaran
masyarakat
Tahap
konsultasi:
- Ikut serta
dalam
pertemuan,
- Mengungkap
kan ide atau
gagasan terkait
penentuan
tujuan dan
bentuk kegiatan
yang akan
dijalankan,
- Ikut serta
menjalankan
program dan
perkembangan
nya
Menjadi
komite
yang
bertanggung
jawab:
- Mengawasi
keberjalanan
program,
- Pengambilan
suatu
keputusan
yang
melibatkan
anggota
komunitas
lainnya

Sumber: Anschutz (1996) dan Moningka (2000)

3. Faktor yang Diperkirakan Mempengaruhi Partisipasi Masyarakat dalam Pemilahan Sampah pada Level Rumah Tangga

Pengelolaan sampah pada suatu kota merupakan bagian dari sistem infrastruktur kota yang penyediaannya menjadi tanggung jawab pemerintah setempat. Pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh pemerintah

seringkali menimbulkan permasalahan lingkungan dan konflik sosial. Menurut Morrisey dan Browne (2004), sebagian besar model pengelolaan lingkungan yang ada hanya memperhatikan aspek ekonomi dan lingkungan tanpa mempertimbangkan aspek sosial yang ada sehingga kurang berhasilnya pengimplementasian model tersebut.

Paradigma dalam pengelolaan sampah untuk masa mendatang perlu menitikberatkan pada perubahan cara pandang dan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah serta mengutamakan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaannya (pendekatan bottom up). Keterlibatan masyarakat merupakan faktor penting karena peran serta merupakan alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat, masyarakat lebih mempercayai proyek/program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam suatu proyek, proses persiapan dan perencanaan (LP3B Buleleng-Clean Up Bali, 2003).

3.1 Tinjauan Studi terkait Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Rumah Tangga terhadap Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

Kegiatan pemilahan sampah bukan lagi merupakan hal yang baru dalam sistem pengelolaan sampah di negara-negara maju. Banyak studi yang meneliti tentang partisipasi rumah tangga dalam kegiatan pengelolaan sampah baik daur ulang maupun pengomposan, termasuk identifikasi faktorfaktor yang berpengaruh terhadap partisipasi rumah tangga. Faktor-faktor yang memiliki relevansi tersebut kemudian dipilih untuk memprediksi faktor yang berpengaruh terhadap partisipasi rumah tangga dalam pemilahan di Kecamatan Cimahi Utara.

Menurut Matsumoto (2010), beberapa faktor yang diprediksi memiliki hubungan terhadap

tingkat partisipasi masyarakat dalam daur ulang sampah, antara lain:

  • a. Jenis kelamin. Studi yang dilakukan oleh Moningka (2000) tentang Community Participation in Solid Waste Management menemukan fakta bahwa perempuan memiliki peranan besar dalam pengelolaan sampah, yaitu: manajer dalam rumah tangga; bertanggung jawab dalam kebersihan di dalam dan di sekitar rumah; membayar biaya pengumpulan sampah; menstimulus partisipasi anggota masyarakat lainnya; Menjadi interlocutor key.
  • b. Usia. Orang tua memiliki sikap yang lebih kooperatif terhadap upaya pengurangan limbah (seperti daur ulang sampah) dibandingkan dengan anak muda.
  • c. Pendapatan. Vining and Ebreo (1990), Oskamp et al. (1991), Gamba and Oskamp (1994), Ekere et al. (2009), and Sidique et al. (2010) menemukan korelasi positif antara tingkat pendapatan dan keterlibatan aktif masyarakat dalam program daur ulang, dimana masyarakat yang memiliki tingkat pendapatan tinggi akan terlibat lebih aktif dibandingkan masyarakat dengan tingkat pendapatan rendah.
  • d. Pendidikan. Derksen and Gartrell (1993), Jakus et al. (1996), Owens et al. (2000), and Saphores et al. (2006) menemukan fakta bahwa masyarakat yang memiliki pendidikan yang baik terlibat secara aktif dalam program daur ulang dibandingkan dengan masyarakat yang tingkat pendidikannya rendah.
  • e. Ketersediaan waktu luang. Ketersediaan waktu luang rumah tangga untuk berpartisipasi dalam kegiatan daur ulang dan pemilahan berkaitan dengan anggota

  • keluarga yang bekerja serta lamanya jam kerja (full-time atau part-time).
  • f. Ketersediaan ruang penyimpanan sampah (storage space). Studi yang pernah dilakukan di Jepang menyebutkan bahwa ukuran rumah berkaitan dengan partisipasi rumah tangga dalam kegiatan daur ulang karena terbatasnya ruang serta harga lahan yang tinggi.
  • g. Frekuensi pengumpulan barang daur ulang. Frekuensi pengumpulan secara kolektif oleh Pemerintah setempat dapat mempengaruhi kenyamanan dan kemauan rumah tangga dalam melakukan pemilahan sampah daur ulang.
  • h. Mempunyai sikap peduli lingkungan. Sikap peduli lingkungan menunjukkan keinginan dan kesadaran masyarakat untuk memelihara kebersihan dan kesehatan lingkungannya
  • i. Kenyamanan dalam daur ulang sampah. Studi yang dilakukan oleh Jakus et al. (1997) menyimpulkan bahwa masyarakat yang menyatakan daur ulang hanya mengambil sedikit waktu bagi mereka, akan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk ikut berpartisipasi dalam program daur ulang. Selain itu, kenyamanan dalam melakukan daur ulang menjadi faktor yang penting.
  • j. Pengetahuan tentang daur ulang. Dari berbagai studi yang telah dilakukan terkait perilaku masyarakat dalam daur ulang sampah, terdapat perbedaan dalam pengetahuan tentang daur ulang sampah antara masyarakat yang melakukan daur ulang dan tidak.

k. Norma sosial. Beberapa studi menyatakan bahwa norma sosial mempunyai korelasi positif terhadap perilaku masyarakat dalam daur ulang.

Sedangkan menurut Ekere et al. (2009), berdasarkan penelitian yang dilakukan di Uganda, perilaku rumah tangga dalam pemanfaatan dan pemilahan sampah dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: jenis kelamin; peer influence (pengaruh teman); luas lahan; lokasi rumah tangga; keikutsertaan dalam organisasi lingkungan.

Menurut Saribanon et al. (2008), faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat (membentuk sikap, perilaku, dan persepsi) dalam sistem pengelolaan sampah permukiman meliputi:

  • a. Keyakinan.
  • b. Pengalaman.
  • c. Pendidikan
  • d. Pendapatan
  • e. Pengetahuan.
  • f. Akses terhadap informasi

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Ghorbani et al (2007), insentif ekonomi serta pendidikan tentang manfaat lingkungan dari pemisahan sampah oleh rumah tangga akan menghasilkan partisipasi aktif masyarakat dalam memisahkan sampah di rumah. Insentif ini dapat diberikan dalam bentuk uang bagi rumah tangga yang memilah sampah dan mengumpulkan sampah daur ulang terpisah seperti plastik, kaca dan kertas. Bentuk insentif ini terbukti dapat meningkatkan partisipasi aktif dari rumah tangga sebesar 50%. Pemerintah kota juga dapat berkontribusi membayar subsidi dan potongan harga untuk layanan bagi keluarga yang berpartisipasi dalam program pemilahan sampah.

Salah satu proses penting dalam pengelolaan sampah secara berkelanjutan adalah kegiatan pengomposan. Contoh studi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah ini adalah pilot project pengomposan di Kelurahan Cipageran Kota Cimahi. Dari hasil studi Nuraeni (2005), diperoleh kesimpulan bahwa partisipasi masyarakat dalam proyek pengomposan, bagi masyarakat yang telah ikut serta dalam proyek ini, dipengaruhi oleh faktor eksternal (sosialisasi dan organisasi sosial di masyarakat) dan faktor internal (pendidikan, jumlah tetangga yang dikenal, lama tinggal, asal daerah, dan penghasilan). Sementara untuk kelompok masyarakat yang belum diikutsertakan dalam pilot project pengomposan, cenderung belum siap untuk memilah sampah, namun mereka telah siap untuk mengelola pengomposan. Faktor yang berpengaruh terhadap kesiapan ini adalah faktor eksternal (organisasi sosial) dan faktor internal (pendidikan, lama tinggal, dan penghasilan).

3.2 Identifikasi Faktor yang Diperkirakan Berpengaruh terhadap Partisipasi Rumah Tangga dalam Pemilahan Sampah

Keseluruhan faktor yang dianggap relevan mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah tersebut kemudian diverifikasi dengan mereduksi/menghilangkan faktor yang kemungkinan memiliki makna sama (tumpang tindih) atau mengelompokkan faktor yang merupakan bagian dari faktor lain. Verifikasi dilakukan berdasarkan justifikasi yang sesuai dengan tujuan studi ini dan hasil nya ditampilkan pada Tabel 2 berikut:

Tabel 2 Faktor yang Diperkirakan Mempengaruhi Partisipasi Rumah Tangga dalam Pemilahan Sampah

FaktorVerifikasiJustifikasiKriteria
Jenis kelaminFaktor intenalBeberapa studi tentang partisipasi dalam pengelolaan sampah, diketahui bahwa
perempuan lebih banyak terlibat dalam kegiatan pengelolaan sampah dibandingkan
dengan laki-laki karena wanita cenderung memegang peranan besar dalam mengurusi
rumah tangga.
Jenis kelamin
UsiaDieliminasiDalam penelitian ini, responden dibatasi pada usia dewasa dimana responden berperan
sebagai penanggung jawab dalam rumah tangga baik itu ibu rumah tangga maupun
kepala keluarga. Sehingga faktor usia tidak dipertimbangkan dalam menentukan faktor
yang berpengaruh terhadap partisipasi responden dalam pemilahan sampah.
PendidikanFaktor intenalMenurut penelitian, tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi persepsi, tingkat
pemahaman dan pengetahuannya terhadap suatu hal. Makin tinggi berpendidikan
seseorang maka akan semakin baik perbuatan-perbuatannya untuk memenuhi keinginan/
kebutuhan.
Tingkat
Pendidikan
PendapatanFaktor intenalBerdasarkan beberapa penelitian, pendapatan memiliki korelasi positif
terhadap
keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan daur ulang.
Pendapatan
Ketersediaan
waktu luang
Digantikan
dengan faktor
"Jenis
pekerjaan".
Ketersediaan waktu luang yang dimaksud dalam kriteria ini adalah ketersediaan waktu
yang dimiliki oleh anggota rumah tangga untuk melakukan pemilahan sampah
Status bekerja
nya:
Bekerja dan
tidak bekerja
Sikap peduli
lingkungan
Dieliminasi,
karena
substansi
nya
mencakup
beberapa
variabel
independen
lainnya.
Sikap peduli lingkungan dapat diidentifikasi melalui persepsi tentang sampah, cara
mengelola sampah, serta keikutsertaan dalam kegiatan lingkungan.
Persepsi
tentang
sampah
Pengetahuan
tentang
pemilahan
sampah
Faktor internalPengetahuan tentang pemilahan sampah dapat diindikasikan dari pengetahuannya tentang
manfaat dan tujuan pemilahan serta jenis sampah apa yang harus dipilah sejak dari
rumah.
Pengetahuan
tentang
jenis sampah
Pengetahuan
tentang
manfaat
memilah
sampah
Ketersediaan
tempat
sampah
terpilah
Faktor
eksternal
Dalam penelitian ini, tempat sampah terpilah yang dimaksud adalah sarana tempat
sampah terpilah yang disediakan oleh Pemerintah Kota Cimahi untuk menfasilitasi
masyarakat dalam pemilahan sampah.
Sarana tempat
sampah
terpilah
Luas lahanDieliminasiLuas lahan dalam hal ini berkaitan dengan ketersediaan lahan untuk pengomposan atau
penyimpanan sampah reusable.
Frekuensi
pengangkutan
sampah
Diubah
menjadi
sistem
pengangkutan
sampah yang
berjalan saat
ini.
Berhubung Kota Cimahi saat ini belum menerapkan kegiatan pemilahan sampah secara
terintegrasi dalam sistem pengelolaan sampah kota. Sehingga pengangkut sampah yang
dimaksud dalam penelitian ini diarahkan pada sistem pengangkutan sampah yang
berjalan di lingkungan rumah responden apakah sudah terpilah atau belum.
Sistem
pengangkutan
sampah
terpilah
Kenyamanan
dalam
pemilahan
sampah
DieliminasiMasyarakat yang telah memiliki fasilitas yang memadai dan beranggapan daur ulang
hanya mengambil sedikit waktu bagi mereka, akan memiliki kemungkinan yang lebih
besar untuk berpartisipasi.
Pengaruh
orang lain
(peer
influence)
Faktor
eksternal
Diubah
menjadi
"Keaktifan
kader
lingkungan"
Peran orang-orang disekitar juga berpengaruh terhadap pembentukan sikap peduli
lingkungan di masyarakat. Keaktifan kader lingkungan dalam penelitian ini mengarah
pada keaktifan kader dalam memberikan penyuluhan dan pendampingan terhadap
masyarakat secara kontinu terkait pengelolaan sampah.
Keaktifan
kader
lingkungan
Keikutsertaan
dalam
organisasi
lingkungan
DieliminasiFaktor ini hampir sama dengan faktor "sikap peduli terhadap lingkungan", karena
keikutsertaan masyarakat dalam organisasi lingkungan menunjukkan adanya sikap peduli
terhadap pentingnya konservasi lingkungan, termasuk pemahamannya dalam pengelolaan
sampah.
KeyakinanDieliminasiPada dasarnya keyakinan merupakan faktor turunan dari adanya kepastian sistem dalam
pengelolaan sampah serta pengalaman yang membentuk sikap dan perilaku masyarakat.
PengalamanDieliminasiPengetahuan seseorang biasanya dipengaruhi dari pengalaman yang berasal dari berbagai
macam sumber, misalnya media massa, media elektronik, buku petunjuk, petugas
kesehatan, media poster, kerabat dekat dan sebagainya.
FaktorVerifikasiJustifikasiKriteria
Akses
terhadap
informasi
Faktor
eksternal
Akses akan mempengaruhi tingkat pemahaman dan membentuk persepsi masyarakat
tentang pengelolaan sampah. Salah satu akses tersebut adalah sosialisasi yang diadakan
oleh pemerintah kota terkait upaya membangun pemahaman masyarakat terhadap
pentingnya proses pemilahan sampah serta keterlibatan masyarakat didalamnya.
Sosialisasi
tentang
pemilahan
sampah
Rasa
membutuhkan
partisipan
terhadap
kegiatan
pengelolaan
sampah
DieliminasiMenurut
Anschuts,
kegiatan pengelolaan
sampah
akan
berjalan
jika
masyarakat
menganggap hal tersebut
sebagai kebutuhan bagi mereka. "Rasa membutuhkan"
merupakan faktor turunan dari keberadaan faktor lain.
Insentif
ekonomi
DieliminasiKecenderungannya masyarakat bersedia melakukan pemilahan sampah dipengaruhi oleh
benefit dan cost yang dirasakan oleh partisipan secara langsung. Saat ini kegiatan
pemilahan sampah di Kota Cimahi masih bersifat himbauan dan belum dilaksanakan
secara serentak, sehingga belum ada penerapan insentif terhadap masyarakat untuk
menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah.

Sumber: Hasil Analisis

Dari proses verifikasi, beberapa faktor yang memiliki kemiripan makna telah dieliminasi sementara faktor yang merupakan bagian yang lebih rinci dari faktor lainnya digabung menjadi faktor yang lebih general. Hasil dari verifikasi tersebut, faktor-faktor kemudian dikelompokkan dan diperoleh 2 kelompok faktor utama yang diperkirakan dapat mempengaruhi ketelibatan rumah tangga dalam sistem pengelolaan sampah, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor yang terpilih beserta parameternya disajikan dalam tabel 3.

Tabel 3 Penetapan Faktor Penelitian

No.FaktorDeskripsi
Faktor Internal
1.Jenis KelaminJenis
kelamin
(laki-laki
atau
perempuan)
2.PendidikanTingkat pendidikan
3.PendapatanBesarnya pendapatan responden
4.PekerjaanStatus bekerja atau tidaknya responden
yang menunjukkan ketersediaan waktu
luang di rumah.
5.Persepsi terhadap
sampah
Benar
atau
tidak
nya
persepsi
masyarakat terhadap sampah saat ini.
6.Pengetahuan mengenai
jenis sampah yang
harus dipilah
Pengetahuan
dasar
mengenai
jenis
sampah yang harus dipilah sejak dari
rumah, yakni sampahh organik dan
anorganik.
7.Pengetahuan tentang
manfaat
memilah sampah
Pengetahuan
tentang
manfaat
dari
memilah sampah di rumah baik untuk
dirinya sendiri maupun untuk orang lain
dan lingkungan.
Faktor Eksternal
1.Sosialisasi terkait
pemilahan
sampah
Ada atau tidaknya sosialisasi dari
pemerintah
kota
terkait
pemilahan
sampah kepada masyarakat.
No.FaktorDeskripsi
Faktor Internal
2.Sistem pengangkutan
sampah
Ada atau tidaknya sistem pengangkutan
sampah terpilah yang diterapkan di
lingkungan rumah responden.
3.Ketersediaan sarana
tempat
sampah terpilah
Ada
atau
tidaknya
sarana
tempat
sampah terpilah yang disediakan oleh
Pemerintah
untuk
memfasilitasi
masyarakat
melakukan
pemilahan
4.Kader lingkungansampah.
Ada atau tidaknya kader lingkungan
yang aktif memberikan sosialisasi dan
pendampingan kepada masyarakat.

Sumber: Hasil Analisis

4. Penentuan Faktor yang Berpengaruh terhadap Partisipasi Masyarakat dalam Pemilahan Sampah

Variabel yang dianggap berpotensi mempengaruhi keputusan rumah tangga dalam melakukan pemilahan sampah adalah jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan, pendapatan, persepsi tentang sampah, pengetahuan tentang jenis sampah yang harus dipilah sejak dari rumah, pengetahuan tentang manfaat memilah sampah, ketersediaan sarana tempat sampah terpilah, ketersediaan sistem pengangkutan sampah terpilah, sosialisasi tentang pengelolaan sampah, dan keaktifan kader lingkungan.

4.1 Faktor Eksternal

a. Sosialisasi tentang Pemilahan Sampah Dari 26 responden yang telah memilah sampah, sebanyak 15 responden pernah

memperoleh sosialisasi dari pemerintah terkait pemilahan sampah, dan 11 responden lainnya memperoleh informasi dari sumber lain seperti media elektronik dan media cetak atau pun informasi lisan dari orang lain. Nilai chi square hitung yang diperoleh dari analisis statistik adalah sebesar 4.582 sementara nilai chi square tabelnya lebih kecil yakni 2.70554 dengan nilai phi sebesar 0.214. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi terkait persampahan memberikan pengaruh terhadap partisipasi responden dalam pemilahan, dengan kekuatan hubungan sebesar 0.214 (kekuatan hubungannya lemah).

Tabel 4 Tabulasi Silang Sosialisasi terkait Sampah dan Partisipasi dalam Pemilahan Sampah

Pemilahan Sampah di
Rumah
Total
tidakmemilah
Sosialisasitidak ada491160
tentang
sampah
ada251540
Total7426100

Sumber: Hasil Analisis

Sosialisasi terkait persampahan terutama pemilahan sampah dapat menjadi salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan dalam upaya meningkatkan partisipasi masyarakat. Sosialisasi berperan membuka wawasan dan pengetahuan masyarakat serta membentuk kesadaran terhadap suatu hal. Sumber informasi bagi masyarakat sebenarnya tidak terbatas pada sosialisasi oleh pemerintah karena bisa juga diperoleh secara mudah dari media cetak atau media elektronik. Namun sosialisasi dapat menjadi salah satu sumber informasi yang lebih efektif bagi masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap informasi dari media cetak atau elektronik (terkait dengan karakteristik sosiodemografis masyarakat).

b. Sistem Pengangkutan Sampah Terpilah Peran serta masyarakat dalam pemilahan sampah perlu ditunjang dengan ketersediaan

sistem pengangkutan terpilah. Secara statistik, keterkaitan antara faktor ketersediaan sistem pengangkutan sampah terpilah dengan keputusan responden untuk memilah sampah di rumah ditunjukkan dari nilai chi square hitung sebesar 8.803 sementara chi square tabelnya adalah 2.70554. Nilai chi square hitung lebih besar dari chi square tabel menunjukkan bahwa kedua variabel saling berpengaruh, hal ini juga diperkuat dengan nilai signifikansi 0.003. Keeratan hubungan antara kedua variabel tersbeut adalah sebesar 0.297 (nilai phi) yang menunjukkan bahwa korelasi antara keduanya lemah.

Tabel 5 Tabulasi Silang Sistem Pengangkutan Sampah dan Partisipasi dalam Pemilahan Sampah

Pemilahan Sampah
di Rumah
Total
tidakmemilah
Pengangkutantidak742397
Sampahterpilah033
Total7426100

Sumber: Hasil Analisis

Jika dilihat dari data kuisioner yang diperoleh, faktor ketersediaan sistem pengangkutan sampah terpilah bukan menjadi faktor utama pendorong maupun penghambat bagi responden yang telah memilah sampah di rumah. Dari 26 responden yang telah memilah sampah, hanya 3 responden yang dilayani sistem pengangkutan sampah terpilah dan 23 responden lainnya yang telah memilah tidak memperoleh pelayanan pengangkutan sampah terpilah. Hal ini menujukkan bahwa keputusan responden untuk memilah sampah lebih didasarkan pada kesadaran pribadi untuk mengelola sampah dengan benar karena sistem pengangkutan sampah di Kecamatan Cimahi Utara saat ini memang belum memfasilitasi berjalannya pemilahan sampah oleh rumah tangga.

Responden yang tidak memilah sampah beranggapan jika system pengangkutan masih

disatukan maka memilah sampah di rumah menjadi pekerjaan yang sia-sia dan memilah sampah bukan lagi tanggung jawab rumah tangga sebagai penghasil sampah tetapi petugas pengangkut sampah.

c. Ketersediaan Tempat Sampah Terpilah Sama seperti sistem pengangkutan sampah terpilah, saat ini sarana tempat sampah terpilah untuk rumah tangga belum tersedia di Kecamatan Cimahi Utara. Dari 98 responden yang belum terfasilitasi sarana tempat sampah terpilah dari pemerintah, sebanyak 24 responden telah memilah sampah di rumah dengan menyediakan sendiri tempat sampah di rumah.

Tabel 6 Tabulasi Silang Ketersediaan Tempat Sampah Terpilah dan Partisipasi dalam Pemilahan Sampah

Pemilahan
Sampah di Rumah
Total
tidakmemilah
Saranatidak ada742498
Memilah dari
Pemerintah
ada022
Total7426100

Sumber: Hasil Analisis

Untuk mengetahui keberadaan hubungan antara kedua variabel, digunakan nilai chi square yang diperoleh dari analisis crosstab, serta nilai uji phi untuk mengetahui keeratan hubungan antara keduanya. Dari hasil analisis statistik, diperoleh nilai chi square hitung untuk faktor ketersediaan tempat sampah terpilah dan partisipasi responden dalam pemilahan adalah sebesar 5.808 sedangkan nilai chi square tabelnya adalah 2.70554 serta nilai phi 0.214. Dari ketiga nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor ketersediaan tempat sampah terpilah berkorelasi dengan patisipasi responden dalam pemilahan, meskipun korelasi yang terbentuk lemah.

Pengaruh faktor ketersediaan tempat sampah terpilah ini berbeda antara responden yang sudah dan belum memilah. Bagi responden yang telah memilah, partisipasi dalam memilah lebih didasarkan pada kesadaran pribadi meskipun belum terfasilitasi tempat sampah terpilah, sedangkan bagi responden yang belum memilah faktor ini menjadi alasan untuk tidak berpartisipasi. Sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Jakus et al. (1997) ketersediaan ruang penyimpanan menjadi faktor penting karena sebagian masyarakat yang telah memiliki fasilitas yang memadai kemungkinan besar akan berpartisipasi. Selain itu, ketersediaan sarana juga memberikan kenyamanan dalam melakukan pemilahan.

d. Keaktifan Kader Lingkungan

Dalam sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat, kader lingkungan berperan sebagai motivator dan fasilitator yang memberikan pendampingan kepada masyarakat baik dalam edukasi maupun pelaksanaan teknis pemilahan sampah. Peran kader lingkungan terhadap partisipasi responden dalam memilah sampah di rumah dapat dilihat dari hasil analisis statistik antara keduanya.

Tabel 7 Tabulasi Silang Keaktifan Kader Lingkungan dan Partisipasi dalam Pemilahan

di RumahPemilahan SampahTotal
tidakmemilah
Keaktifantidak671481
Kaderaktif
Lingkunganaktif71219
Total7426100

Sumber: Hasil Analisis

Dari analisis crosstab dengan uji chi square, diperoleh nilai chi square hitungnya sebesar 16. 338 (nilai tersebut lebih besar dari chi square tabelnya yakni 2.70554) serta nilai signifikansi sebesar 0 (kurang dari 0.1). Dan dilihat dari nilai phi nya, keeratan hubungan antara keduanya cukup kuat yakni sebesar 0.41.Nilai ini menunjukkan bahwa keberadaan kader lingkungan di Kecamatan Cimahi

berpengaruh terhadap keputusan responden untuk memilah sampah di rumah.

Dalam menerapkan hal tersebut, perlu adanya proses pendampingan masyarakat secara berkesinambungan untuk membentuk kebiasaan yang benar dalam mengelola sampah oleh kader-kader lingkungan. Kader lingkungan baik pengurus PKK, pengurus RT/RW atau tokoh masyarakat berperan sebagai motivator dan fasilitator pada suatu lingkungan kecil (block leader) dapat membentuk dorongan internal dari komunitas untuk menginisiasi upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Begitu pula pelaksanaan pemilahan sampah maupun daur ulang di lingkungan permukiman dipengaruhi oleh adanya dorongan dari dalam komunitas.

4.2 Faktor Internal

a. Jenis Kelamin

Jumlah responden yang dianalisis dalam penelitian adalah 100 responden. Dari 25 responden laki-laki yang disurvey, hanya 10 orang yang sudah memilah sampah di rumah dan sisanya belum memilah. Sedangkan dari 75 responden perempuan, hanya 16 orang yang sudah memilah sampah sementara 59 orang lainnya belum. Tabel silang (crosstab) 4.18 berikut menggambarkan penyebaran data untuk variabel jenis kelamin dan keputusan pemilahan sampah di rumah.

Tabel 8 Tabulasi Silang Jenis Kelamin dan Partisipasi dalam Pemilahan Sampah

Pemilahan Sampah
di RumahTotal
tidakmemilah
Laki-Laki151025
Jenis KelaminPerempuan591675
Total7426100

Sumber: Lampiran I.

Untuk menguji hipotesa, nilai chi square hitung yang diperoleh dari adalah sebesar

3.396, sedangkan chi square tabel adalah 2.70554. Nilai chi square hitung yang lebih besar dari chi square tabel menujukkan bahwa ada hubungan antara kedua variabel tersebut. Jika dilihat dari keeratan korelasi antara faktor jenis kelamin dan partisipasi dalam pemilahan, perolehan nilai koefisien kontingensi sebesar 0.181 dari hasil uji menunjukkan bahwa keterkaitan antara kedua faktor tersebut lemah (karena nilainya kurang dari 0.5). Meskipun begitu, peran perempuan sebagai ibu rumah tangga menjadi potensi penting dalam mewujudkan penerapan pemilahan sampah pada level rumah tangga.

Hasil analisis statistik untuk faktor jenis kelamin ini sesuai dengan hasil studi Ekre et. al. (2009) dan Sidique et. al. (2010) yang menyatakan bahwa jenis kelamin berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam kegiatan daur ulang sampah. Tingkat partisipasi perempuan dalam kegiatan daur ulang cenderung lebih tinggi daripada laki-laki karena perempuan berperan sebagai manager dalam rumah tangga yang mengurusi seluruh urusan rumah tangga, termasuk dalam pengelolaan sampah.

b. Pendidikan

Tabel silang berikut menggambarkan persebaran data tingkat pendidikan dengan keputusan memilah sampah dirumah. Dari 26 responden yang telah memilah sampah, tingkatan pendidikan dengan responden terbanyak adalah pada tingkat SMA yakni sebanyak 11 orang. Sementara tingkat pendidikan yang paling rendah jumlah responden yang telah memilah sampah adalah tingkat SD.

Tabel 9 Tabulasi Silang Tingkat Pendidikan dan Partisipasi dalam Pemilahan Sampah

Pemilahan Sampah
di Rumah
Total
tidakmemilah
PendidikanSD30131
SMP10616
SMA211132
PT13821
Total7426100

Sumber: Hasil Analisis

Dari hasil perhitungan dengan uji chi square, diperoleh nilai chi square hitung untuk faktor tingkat pendidikan adalah 12.220, sedangkan nilai chi square tabel adalah 6.25139. Chi square hitung yang lebih besar dari chi square tabel menunjukkan bahwa tingkat pendidikan berkorelasi dengan keputusan responden untuk memilah sampah. Dan jika dilihat pada kolom Asymp.Sig, probabilitas yang diperoleh adalah 0.008 atau kurang dari 0.1 sehingga Ho ditolak, artinya ada hubungan antara variabel tingkat pendidikan dan keputusan memilah sampah. Meskipun tingkat pendidikan dan keputusan memilah sampah di rumah saling berkorelasi, namun nilai koefisien kontingensi yang diperoleh kecil yakni sebesar 0.330 dan mengindikasikan keterkaitan yang lemah antar keduanya.

Adanya korelasi antara faktor tingkat pendidikan dan partisipasi dalam pemilahan sejalan dengan studi Saphores et al. (2006) dan studi-studi sebelumnya yang menemukan fakta bahwa masyarakat dengan tingkat pendidikan yang tinggi terlibat secara aktif dalam program daur ulang dibandingkan dengan masyarakat yang tingkat pendidikannya rendah. Pada penelitian ini, responden dengan tingkat pendidikan paling rendah yakni SD memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk tidak menerapkan pemilahan sampah di rumah dibandingkan responden dengan tingkat pendidikan SMP, SMA atau Perguruang Tinggi.

Namun bagi responden dengan pendidikan yang lebih tinggi, kecenderungan untuk memilah terlihat tidak meningkat signifikan seiring dengan tingkat pendidikan. Hal ini dikarenakan responden pada 3 tingkat pendidikan tersebut pada prinsipnya sudah memiliki pengetahuan dasar tentang pengelolaan sampah dan lingkungan. Bagi masyarakat berpendidikan rendah (SD), peningkatan partisipasi dilakukan dengan memberikan edukasi dan pengetahuan dasar terkait persampahan, sedangkan bagi masyarakat dengan tingkat pendidikan yang tinggi (SMP, SMA atau Perguruan Tinggi) lebih diarahkan pada peningkatan kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan sampah terutama pemilahan.

c. Pekerjaan

Dikaitkan dengan partisipasi responden untuk memilah sampah di rumah berdasarkan status bekerja dan tidaknya responden, dari 33 responden yang memiliki pekerjaan hanya 10 orang yang sudah memilah sampah di rumah dan 23 orang lainnya belum. Sedangkan dari 67 responden yang tidak bekerja hanya 16 orang yang sudah memilah sedangkan 51 responden sisanya belum memilah sampah di rumah. Tabel 4.20 berikut menggambarkan tabulasi silang jenis pekerjaan dan keputusan responden memilah sampah.

Tabel 10 Tabulasi Silang Status Pekerjaan dan Partisipasi dalam Pemilahan Sampah

Pemilahan Sampah
di Rumah
Total
tidakmemilah
PekerjaanTidak
bekerja
511667
Bekerja231033
Total7426100

Sumber: Hasil Analisis

Dari hasil pengolahan data menggunakan uji chi square, diperoleh kesimpulan bahwa faktor pekerjaan tidak berkorelasi dengan keputusan responden untuk memilah sampah di rumah.

Nilai chi square hitung yang diperoleh adalah sebesar 0.474 dan chi square tabel sebesar 2.70554, berarti chi square hitung lebih kecil dari chi square tabel. Selain itu, nilai signifikansi yang diperoleh juga lebih dari 0.1 yakni 0.491 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara faktor pekerjaan yang mengindikasikan ketersediaan waktu luang responden dengan keputusan respoden untuk memilah sampah di rumah.

Hasil studi ini berbeda dengan hasil studi Matsumoto (2010) dalam penerapan program daur ulang sampah di Jepang. Dari hasil analisis, responden yang tidak bekerja serta tidak memiliki aturan lama jam kerja baik full time maupun part time (dimana sebagian besar adalah ibu rumah tangga) tidak dapat diindikasikan memiliki waktu luang dan telah melakukan pemilahan sampah di rumah. Ibu rumah tangga bertanggung jawab terhadap segala pekerjaan rumah tangga secara penuh setiap harinya, sehingga seringkali tidak ada waktu luang untuk memilah sampah.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Jakus et al. (1997) dalam kegiatan daur ulang, keesediaan waktu luang berkaitan dengan faktor time-cost yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap partisipasi masyarakat. Masyarakat yang menyatakan daur ulang hanya mengambil sedikit waktu bagi mereka, akan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk ikut berpartisipasi dalam program daur ulang.

d. Pendapatan

Menurut beberapa penelitian, faktor pendapatan berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam pemilahan dan daur ulang sampah. Namun dari persebaran data pendapatan responden terhadap partisipasinya dalam pemilahan sampah, secara umum dapat disimpulkan bahwa responden yang telah

memilah sampah di rumah tersebar pada seluruh tingkat pendapatan.

Tabel 11 Tabulasi Silang Pendapatan dan dan Partisipasi dalam Pemilahan Sampah

Pemilahan Sampah
di Rumah
tidak
memilahTotal
0-1 juta26733
1-2 juta22729
Pengangkutan2-3 juta18624
Sampah3-4 juta145
4-5 juta213
> 5 juta415
Total732699

Sumber: Hasil Analisis

Menurut studi Sidique et al. (2010) dan studistudi sebelumnya, terdapat korelasi positif antara tingkat pendapatan dan keterlibatan aktif masyarakat dalam program daur ulang. Namun hasil analisis statistik dengan uji chi square menunjukkan tidak ada korelasi antara faktor pendapatan responden dengan keputusan untuk memilah sampah di rumah, dengan nilai chi square hitung yang diperoleh adalah 8.338, lebih kecil dibandingkan nilai chi square tabelnya (sebesar 9.23636).

Perbedaan hasil korelasi antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya dapat dikarenakan adanya motif yang berbeda dalam melakukan pemilahan sampah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Utami dkk. (2008), praktek pengelolaan sampah pada suatu masyarakat dapat didasarkan pada motif ekonomi atau motif sosial. Dalam pemilahan sampah, motif ekonomi dapat mengacu pada upaya untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Sedangkan motif sosial mengacu pada upaya untuk meningkatkan kesadaran dalam pengelolaan sampah dan kelestarian lingkungan.

Jika dilihat dari programnya, pemilahan sampah yang berjalan di Kota Cimahi masih bersifat inisiasi dan belum diterapkan secara bersamaan di seluruh wilayah Kecamatan

Cimahi Utara. Responden yang telah memilah sampah saat ini bukan didasarkan karena adanya peraturan dari pemerintah yang mengharuskan memilah pada level rumah tangga, melainkan lebih didasarkan pada motif sosial (berupa kesadaran pribadi). Hasil kuisioner yang diperoleh menguatkan informasi ini, dimana tidak ada kecenderungan persebaran responden yang telah memilah ataupun belum memilah pada salah satu tingkat pendapatan tertentu.

e. Persepsi tentang Sampah

Dari hasil perhitungan kuisioner, sekitar 42 responden memahami bahwa sampah memiliki nilai ekonomis dan masih dapat dimanfaatkan lebih lanjut sedangkan 58 orang sisanya memiliki persepsi yang salah tentang sampah. Dari 42 orang yang memiliki persepsi benar tentang sampah, sebanyak 25 orang sudah memilah sampah dan 17 responden lainnya tidak memilah sampah. Dikaitkan dengan keputusan memilah sampah dirumah, respoden yang memiliki persepsi salah cenderung belum memilah sampah. Tabulasi silang kedua variabel tersebut disajikan pada Tabel 4.22 berikut.

Tabel 12 Tabulasi Silang Persepsi tentang Sampah dan Partisipasi dalam Pemilahan Sampah

Pemilahan Sampah
di Rumah
Total
tidakmemilah
Persepsi tentangsalah57158
Sampahbenar172542
Total7426100

Sumber: Hasil Analisis

Dari hasil analisis dengan crosstab diperoleh nilai chi square hitung sebesar 42.298 (chi square tabel untuk df=1 dengan α=0.1 adalah 2.70554) dengan nilai signifikansi 0 (kurang dari 0.1) menunjukkan bahwa persepsi tentang sampah mempengaruhi keputusan responden untuk memilah sampah. Nilai koefisien kontingensinya sebesar 0.545 (lebih dari 0.5)

menunjukkan korelasi yang kuat antara kedua variabel tersebut, artinya persepsi responden tentang sampah sangat mendasari keputusan responden untuk memilah sampah di rumah.

Sebagian besar responden yang memiliki persepsi salah tentang sampah belum memilah di rumah, dan responden dengan persepsi yang benar tentang sampah cenderung melakukan pemilahan. Hasil analisis ini sejalan dengan pendapat Damanhuri (2009) bahwa kegiatan pemilahan sampah pada level sumbernya (rumah tangga) sangat bergantung pada karakter, kebiasaan dan persepsi penghasil sampah yang nantinya akan membentuk suatu perilaku terhadap sampah.

f. Pengetahuan tentang Jenis Sampah

Untuk mengetahui korelasi antara variabel pengetahuan jenis sampah dengan keputusan responden memilah sampah, digunakan tabulasi silang yang menggambarkan persebaran data. Dari 77 responden yang mengetahui jenis sampah organik dan anorganik, sebanyak 26 reponden sudah memilah dan 51 responden lainnya belum. Sedangkan 23 responden yang tidak mengetahui jenis sampah organik dan anorganik sama sekali belum memilah sampah.

Tabel 13 Tabulasi Silang Pengetahuan tentang Jenis Sampah dan Partisipasi dalam Pemilahan Sampah

Pemilahan Sampah
di Rumah
Total
tidakmemilah
Pengetahuan
tentang jenis
tidak
tahu
23023
sampahtahu512677
Total7426100

Sumber: Hasil Analisis

Melalui analisis crosstab, dengan nilai chi square hitung yang diperoleh adalah 10.495 sedangkan chi square tabel nya adalah 2.70554 menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara kedua variabel. Hal ini diperkuat dengan nilai

signifikansi yang kurang dari 0.1 yakni 0.001. Kekuatan hubungan antara kedua variabel dilihat dari nilai phi sebesar 0.324, karena nilai tersebut kurang dari 0,5 menunjukkan pengaruh pengetahuan tentang jenis sampah terhadap keputusan responden untuk memilah sampah ternyata lemah.

Bagi responden yang tidak mengetahui jenis sampah organik dan anorganik, kecenderungan untuk tidak memilah sangat tinggi karena pengetahuan tersebut sangat mendasar bagi penerapan perilaku memilah sampah. Namun responden yang sudah dapat membedakan jenis sampah tersebut tidak dapat dipastikan telah berpartisipasi dalam pemilahan sampah.

g. Pengetahuan tentang Manfaat Memilah Sampah

Dengan menggunakan tabulasi silang antara faktor pengetahuan responden tentang manfaat memilah sampah dan keputusan memilah sampah di rumah, diketahui persebaran data keduanya. Dari 53 responden yang mengetahui manfaat memilah, sebanyak 26 responden telah memilah sampah di rumah dan sisanya belum. Sementara 47 responden yang tidak tahu manfaat memilah, saat ini belum melakukan pemilahan sampah.

Tabel 14 Tabulasi Silang Pengetahuan tentang Manfaat Memilah Sampah dan Partisipasi dalam Pemilahan Sampah

Pemilahan Sampah
di Rumah
Total
tidakmemilah
Manfaattidak47047
memilahtahu
sampahtahu272653
Total7426100

Sumber: Hasil Analisis

Berdasarkan uji chi square, diperoleh nilai chi square hitung yang lebih besar dari chi square tabelnya, yakni sebesar 31.158 (chi square tabel sebesar 2.70554) menujukkan bahwa kedua variabel saling berkorelasi. Keeratan

hubungan antara keduanya dilihat dari nilai koefisien korelasi yang diperoleh.

Nilai phi yang diperoleh adalah sebesar 0.558 menunjukkan bahwa kedua variabel berkorelasi kuat. Hasil pengujian ini sejalan dengan studi Oskampt et al (1991) menunjukkan bahwa faktor pengetahuan masyakat terhadap konservasi lingkungan lebih berpengaruh terhadap partisipasi dalam program daur ulang dibandingkan dengan faktor sosiodemografis.

Hasil analisis dengan uji phi mengindikasikan bahwa pengetahuan mengenai manfaat memilah sampah sangat mendasari keputusan responden untuk memilah. Responden yang tidak mengetahui dan memahami manfaat memilah memiliki kecenderungan sangat tinggi untuk tidak berpartisipasi dalam pemilahan. Sementara responden yang mengetahui manfaat memilah sampah, keputusan untuk ikut serta dalam pemilahan sampah di rumah sangat mungkin dipengaruhi oleh faktor lain yang dianggap berpengaruh lebih kuat secara personal.

Dari pemaparan hasil pengolahan data dengan analisis statistik tabulasi silang (crosstab) untuk masing-masing faktor, dapat disimpulkan bahwa faktor yang secara statistik tidak berpengaruh sama sekali terhadap keputusan rumah tangga memilah sampah adalah pendapatan dan pekerjaan (kesemuanya termasuk dalam faktor internal). Keterkaitan antara seluruh faktor baik internal maupun eksternal terhadap partisipasi responden dalam pemilahan sampah dirangkum pada tabel berikut.

Tabel 15 Hasil Analisis Chi square Faktor Internal dan Eskternal terhadap Partisipasi Responden dalam Memilah Sampah

VariabelChiChiG: -Cc, .
variabeisquare
hitung
square
tabel
Sig.Ccphi
Faktor Eksternal
Pengang-8.8032.705540.003_0.297
kutan0.005(df. = 1)0.0050.277
Sosialisasi4.5822.705540.032_0.214
C(df. = 1)
Sarana
Milah
5.8082.70554 (df. = 1)0.016-0.241
Keaktifan2.70554
Kader16.833(df. = 1)0-0.410
Iaktor InternalII
Jenis3.3962.705540.065_0.184
Kelamin3.370(df. = 1)0.0030.104
Pendidikan12.2206.251390.0070.350_
(df.=3)
2.70554
Pekerjaan0.4742.70554
(df.=1)
0.4910.069-
D 1 (0.2209.236360.1200.200
Pendapatan8.338(df.=5)0.1390.289-
Persepsi42.2982.7055400.650
Sampah42.270(df. = 1)00.050
Jenis10.4952.705540.001_0.324
Sampah
Manfaat
(df. = 1)
Manfaat
Milah
31.1582.7055400.558
Sampah31.130(df. = 1)0.556
Jenis2.2062.705540.0650.104
Kelamin3.396(df. = 1)0.065-0.184

Faktor yang memiliki korelasi paling kuat

Faktor yang tidak berkorelasi

Faktor yang berpengaruh paling kuat terhadap partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah di Kecamatan Cimahi Utara dalah persepsi responden tentang sampah. Namun ini tidak bersifat mutlak karena pemahaman responden yang benar tentang sampah tidak bahwa sepenuhnya mengindikasikan responden telah memilah sampah di rumah, sangat mungkin terdapat faktor lain yang berpengaruh lebih kuat tehadap responden. Hubungan antara faktor internal dan eksternal responden terhadap partisipasi pemilahan sampah dirangkum dalam Tabel 16 berikut.

Tabel 16 Keterkaitan Faktor Internal dan Eksternal terhadap Partisipasi dalam Pemilahan Sampah

terhadap Partisipasi dalam Pemilahan Sampah
Faktor PenelitianKeterkaitan
Sosialisasi berperan membuka
Sosialisasiwawasan dan pengetahuan
pemerintahmasyarakat serta membentuk
kesadaran terhadap suatu hal.
Jika sistem pengangkutan masih
Pengang-disatukan maka memilah sampah
kutandi rumah menjadi pekerjaan yang
sampahsia-sia dan responden beranggapan
terpilahbahwa memilah sampah bukan lagi
terpitaritanggung jawab rumah tangga
Tempat sampah terpilah pada
prinsipnya dapat disediakan secara
individu, namun tentunya
FaktorKeterse-diperlukan kesediaan pribadi. Bagi
Eksternaldiaanresponden yang belum memilah,
tempatkeputusan berpartisipasi
sampah
terpilahdipengaruhi juga ketersediaan
tempat sampah terpilah dari
pemerintah mengingat belum
adanya kesadaran pribadi.
Kader lingkungan berperan
** 1.10sebagai motivator dan fasilitator
Keaktifanbagi responden dalam proses
kaderpendampingan masyarakat secara
lingkunganberkesinambungan untuk
membentuk kebiasaan yang benar
dalam mengelola sampah
Perempuan bertanggung jawab
Jenis
Kelamin
lebih besar dalam mengatur rumah
tangga termasuk dalam mengelola
sampah, sehingga dapat menjadi
Kelalillitarget utama dalam penerapan
pemilahan sampah pada level
rumah tangga.
Responden dengan tingkat
pendidikan rendah (SD) memiliki
kecenderungan lebih tinggi untuk
tidak menerapkan pemilahan
Pendidikansampah di rumah dibandingkan
responden dengan tingkat
pendidikan yang lebih tinggi
(SMP, SMA atau Perguruan
Tinggi)
Persepsi responden tentang
Persepsisampah sangat mendasari
Faktortentangkeputusan responden untuk
Internalsampahmemilah sampah di rumah.
Responden yang tidak mengetahui
jenis sampah organik dan
Pengeta-anorganik, kecenderungan untuk
huantidak memilah sangat tinggi karena
tentangpengetahuan jens sampah sangat
Cmendasar bagi penerapan perilaku
memilah sampah.
Responden yang tidak mengetahui
Jenis
sampah
dan memahami manfaat memilah
memiliki kecenderungan sangat
tinggi untuk tidak berpartisipasi
dalam pemilahan karena responden
belum sepenuhnya memahami
bentuk nyata manfaat sampah bagi
mereka sehingga menganggap
pemilahan sampah adalah
pekerjaan yang merepotkan dan
membutuhkan waktu lebih
L
Hasil Analisi

Sumber: Hasil Analisis

Dari hasil perolehan data melalui kuisioner, diketahui beberapa alasan responden yang belum memilah sampah meskipun memiliki persepsi yang benar tentang sampah.

Tabel 17 Alasan Responden Belum Memilah Sampah

No.Alasan belum memilahJumlah
1.Tidak ada waktu luang4
2.Tidak ada pengangkutan terpilah6
3.Tidak ada sosialisasi1
4.Volume sampah sedikit2
5.Anggapan memilah sampah merepotkan3
16

Sumber: Hasil Analisis

Tabel 16 menginformasikan alasan-alasan yang dikemukakan oleh responden yang tidak memilah sampah di rumah meskipun memiliki persepsi yang benar tentang sampah. Keputusan responden untuk tidak memilah dalam kasus ini dapat dikarenakan responden belum sepenuhnya memahami bentuk nyata manfaat sampah bagi mereka sehingga menganggap pemilahan sampah tidak penting serta tidak mengetahui langkah apa yang dapat diupayakan oleh responden agar dapat memperoleh kemanfaatan tersebut. Keengganan responden untuk memilah sampah juga dipengaruhi pengangkutan sampah yang belum terpilah sehingga tidak terbentuk kepercayaan publik terhadap pengelolaan sampah pada tahap selanjutnya dan responden merasa memilah sampah menjadi pekerjaan yang sia-sia.

5. Kesimpulan

Secara umum, dengan meninjau karakteristik pemilahan sampah di Kecamatan Cimahi Utara dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah masih rendah. Pemilahan masih terbatas pada tingkat individu dengan inisiatif berasal dari kesadaran pribadi, belum terbentuknya kesadaran komunitas serta belum adanya kegiatan pemilahan yang lebih terorganisasi pada tingkat komunitas. Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat tersebut, perlu adanya peningkatan kualitas pada aspek-aspek yang berpengaruh terhadap keputusan rumah tangga dalam memilah sampah.

Dari 9 faktor yang berkorelasi, faktor persepsi responden terhadap sampah adalah faktor yang berpengaruh paling kuat terhadap keputusan responden dalam memilah sampah. Perilaku memilah sampah pada tahap rumah tangga yang saat ini dilakukan oleh 26% responden di Kecamatan Cimahi Utara lebih didasarkan pada kesadaran dan persepsi pribadi terhadap sampah. Responden yang memiliki persepsi salah tentang sampah serta tidak memiliki kesadaran pribadi dalam upaya pelestarian lingkungan memiliki kecenderungan yang sangat tinggi untuk tidak memilah karena menganggap pekerjaan tersebut tidak bermanfaat baginya.

Dari hasil analisis secara umum dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan motif dasar bagi responden dalam berpartisipasi memilah sampah. Bagi responden yang telah memilah sampah, kesadaran individu adalah faktor yang paling mendasari keputusan dalam memilah sampah. Memilah tidak didasarkan dari tersedianya sarana tempat sampah, sistem pemilahan sampah terpilah ataupun faktor eksternal lain yang belum tersedia. Sementara bagi responden yang belum memilah, ketersediaan faktor-faktor eksternal menjadi stimulus yang sangat dibutuhkan karena belum terbentuk kesadaran individu yang mendorong pembentukan perilaku memilah sampah.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Sri Maryati, ST., MIP., Dr. untuk arahan dan bimbingan sehingga artikel ini dapat ditulis. Terima kasih juga kepada dua mitra bestari yang telah memberikan komentar yang berharga.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

22
Citations
0.55
FWCIfield-weighted
79th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20251
20241
20232
20225
20213
20204
20182
20173
20151

Semantic Profile AI-classified research signals

Reuse 0.43
level 2
Business 0.34
level 0
Humanities 0.33
level 1

References

  1. Ach. Wazir Ws., et al., ed. (1999). Panduan Penguatan Menejemen Lembaga Swadaya Masyarakat. Jakarta: Sekretariat Bina Desa dengan dukungan AusAID melalui Indonesia HIV/AIDS and STD Prevention and Care Project.
  2. Anschutz, Justine. 1996. Community-Based Solid Waste Management and Water Supply Projects : Problems and Solutions Compared A Survey Of The Literature. Netherland : Community-Based Solid Waste Management and Water Supply Project.
  3. Damanhuri, Enri. 2004. Diktat Kuliah Pengelolaan Persampahan, Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan FTSP ITB. Bandung : Penerbit ITB.
  4. Derksen, Linda dan John Gartrell. 1993. The Social Context of Recycling. American Sociological Review Vol 58 Issue 3, 434-442.
  5. Ekere W, Mugisha and J, Drake L. 2009. Factors Influencing Waste Separation and Utilization Among Households in The Lake Victoria Crescent., Uganda. Uganda : Makerere University, Department of Agricultural Economics and Agribusiness.
  6. Gamba RJ, Oskamp S. 1994. Factors influencing community residents
  7. Huraerah, Abu. 2008. Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat, Model dan Strategi Pembangunan Berbasis Kerakyatan. Bandung : Humaniora.
  8. Jakus, P. M., K. H. Tiller, and W. M. Park. 1996. Generation of recyclables by rural households. Journal of Agricultural and Resource Economics 21(1): 96-108.
  9. Kementrian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia dan (Japan International Cooperation Agency). 2008. Statistik Persampahan Indonesia 2008.
  10. Kementrian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia dan JICA (Japan International Cooperation Agency). 2008. Panduan Praktis Pemilahan Sampah. Jakarta.
  11. Kementrian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia dan JICA (Japan International Cooperation Agency). Tanpa tahun. Pedoman Mapping 3R. Jakarta.
  12. Matsumoto, Shigeru. 2011. Waste Separation at Home: Are Japanese Municipal Curbside Recycling Policies Efficient?. Resources, Conservation, and Recycling 55, Elsevier D.V., page 325-334.
  13. Moningka, Laura. 2000. Community Participation in Solid Waste Management: Factors Favouring the Sustainability of Community Participation, A Literature Review. Netherland: UWEP Occasional Paper.
  14. Morrissey A. dan Browne J.. 2004. Waste Management Models and Their Application to Sustainable Waste Management. Waste Management 24: 297-308.
  15. Oskamp S, Harrington MJ, Edwards TC, Sherwood DL, Okuda SM, Swanson DC. 1991. Factors influencing household recycling behavior. Environment and Behavior 23:494-519
  16. Owens, J., Dickerson, S. & Macintosh, D.L.. 2000. Demographic Covariates Of Residential Recycling Efficiency. Recycling and Behavior, 32(5), pp. 637-650. DOI: 10.1177/00139160021972711
  17. Rencana Tata Ruang Kota Cimahi Tahun 2003-2012.
  18. Saribanon, Nonon dan Pranawa, Sigit. 2008. Strategi dan Mekanisme Perencanaan Sosial Partisipatif dalam Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat di DKI Jakarta. Jakarta : Jurnal Poelitik Volume 4/No.2/2008, hal 337-353.
  19. Saphores JM, Nixon H, Ogunseitan OA, Shapiro AA. 2006. Household Willingness to Recycle Electronic Waste: An Application to California. Environ Behav 38: 183-208.
  20. Sidique, Shaufique F., Satish V. Joshi. Frank Lupi. 2010. Factors Influencing the Rate of Recycling: An Analysis of Minnesota Counties. Elsevier Resourves, Conservation and Recycling 54: 242-249.
  21. Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat (1). http://www.lp3b.or.id/ sampah/Sistem%20Pengelolaan%20Terinteg rasi.htm. Diakses pada tanggal 12 Mei 2011
  22. SNI 3242:2008 tentang Pengelolaan Sampah di Permukiman.
  23. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
  24. Utami, Beta Dwi dkk. 2008. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Komunitas : Teladan dari Dua Komunitas di Sleman dan Jakarta Selatan. Sodality : Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi Manusia, Vol.02 No. 01, hal 49-68
  25. Vining, J. Ebreo A. 1990. What Makes A Recycler? A Comparison of Recyclers and Nonrecyclers. Environment and Behaviour
  26. : 55-73.
  27. Wiranto, Prasetyo. 2004. Evaluasi Tingkat Wilayah dan Kota Program Pasca Sarjana Partisipasi Warga dalam Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Secara Partisipatif: Studi Kasus Penyusunan RDTR Majalayan 2002-2012. Bandung: Thesis Program Pasca Sarjana ITB.