1. Home
  2. Archives
  3. Vol 24 (2013) Issue 2
  4. Articles

Evaluasi Keberhasilan Taman Lingkungan di Perumahan Padat Sebagai Ruang Terbuka Publik Studi Kasus: Taman Lingkungan di Kelurahan Galur, Jakarta Pusat

Abstract

Taman lingkungan memiliki peran penting dalam perumahan, tidak hanya sebagai ruang terbuka hijau tapi juga sebagai ruang terbuka public dimana masyarakat dapat beraktifitas aktif, berekreasi, dan berinteraksi. Mengingat pentingnya taman lingkungan sebagai ruang terbuka public, khususnya di perumahan padat dimana ruang terbuka public tidak memenuhi standar, baik dari luasan maupun jumlah manusia yang dilayani, maka taman lingkungan harus optimal dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Oleh karenanya studi ini dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat keberhasilan taman lingkungan di perumahan padat sebagai ruang terbuka public. Kelurahan Galur sebagai salah satu kelurahan perumahan padat memiliki tiga taman lingkungan, yaitu taman Kewista, Taman Komando, dan Taman Safari yang akan dievaluasi tingkat keberhasilannya sebagai ruang terbuka public.Evaluasi didasarkan pada persepsi masyarakat terhadap taman lingkungan dengan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif yang selanjutnya dievaluasi dengan metode checklist. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Taman Kewista dan Taman Safari tidak berhasil sebagai ruang terbuka public sementara Taman Komando kurang berhasil sebagai ruang terbuka public.Kata Kunci: evaluasi, taman lingkungan, ruang terbuka public, Kelurahan Galur Neighborhood parks have an important role in the housing, not only as a green open space but also as a public open space where people can work on, recreation, and interact. Given the importance of neighborhood parks as public open space, particularly in dense housing where public open space does not meet the standards, both in area and number of people served, the neighborhood park should be optimal in meeting the needs of society. Therefore, this study was conducted to determine how far the success rate of dense residential neighborhood parks as public open space. Strain the Village as one of the dense residential village has three neighborhood parks, the Kewista Park, Komando Parks and Safari Park to be evaluated for its success as an open space public. Evaluasi based on public perception of the park environment by using a questionnaire and analyzed using descriptive analysis were subsequently evaluated with the checklist method. The results showed that Kewista Parks and Safari Park does not succeed as a public open space, while Komando Park is less successful as a public open space.Keywords: evaluation, neighborhood parks, public open space, Galur Village

Keywords

1. Pendahuluan

Ruang terbuka publik merupakan ruang yang penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan kenyamanan, rileksasi, dan melakukan kegiatan aktif atau kegiatan pasif di luar aktivitas sehari-hari yang biasa dilakukan

masyarakat (Carr et al, 1992). Sementara itu, taman lingkungan merupakan bagian ruang terbuka publik yang dibangun dan dikembangkan di lingkungan perumahan atau permukiman, yang diperuntukkan bagi masyarakat umum dan diatur sebagai ruang terbuka kota atau sebagai bagian dari pembangunan perumahan oleh pengembang swasta misalnya taman bermain, fasilitas olahraga, dan lainnya (Carr et al, 1992). Sherer (2003), menunjukkan bahwa taman lingkungan merupakan ruang terbuka publik, tempat masyarakat beraktifitas aktif, seperti olahraga, kegiatan-kegiatan fisik lainnya, memberikan ruang bagi penduduk untuk berekreasi dan berinteraksi, dan akan menimbulkan sense of community pada lingkungan permukiman.

Selama hampir sepuluh tahun ini, Pemerintah DKI Jakarta mengembangkan taman lingkungan dengan skala pelayanan kelurahan hingga RT yang merupakan bagian RTH publik dan fasilitas sosial. Taman lingkungan ini memiliki peran sebagai ruang sosial yang berfungsi sebagai tempat rekreasi, ruang interaksi sosial, ruang edukasi, bahkan hingga sarana evakuasi di perumahan padat (Dinas Pertamanan DKI Jakarta, 2008). Data Dinas Pertamanan dan Permakaman DKI Jakarta tahun 2010, luasan RTH di DKI Jakarta hanya sekitar 9,8% dan tentunya luasan tersebut sangatlah kurang jika mengacu pada UU 26 tahun 2007 tentang RTRW yang mengharuskan luasan 20% RTH Publik. Luasan RTH 9,8% tersebut tidak semuanya merupakan kawasan hijau binaan yang fungsinya lebih cenderung sebagai ruang terbuka publik termasuk RTH lingkungan. Dari pernyataan di atas diketahui bahwa DKI Jakarta mengalami keterbatasan luasan RTH termasuk di dalamnya RTH lingkungan yang berfungsi sebagai ruang terbuka publik. Keterbatasan luasan tersebut semakin terlihat pada lingkungan perumahan padat dimana ruang terbuka merupakan barang mahal bagi masyarakat di lingkungan tersebut. Dengan melihat luasan RTH dengan fungsi sebagai ruang terbuka publik yang sempit, maka sudah seharusnya area tersebut dapat berfungsi secara optimal, terlebih di perumahan padat dimana ruang terbuka publik tidaklah sebanding dengan jumlah orang yang dilayani.

Sampai dengan tahun 2008, Dinas Pertamanan dan Permakaman DKI Jakarta pernah melakukan evaluasi mengenai perencanaan taman di perumahan padat namun lebih diarahkan pada penetapan strategi unuk pengembangan taman-taman sejenis untuk tahun-tahun berikutnya. Namun demikian evaluasi yang mengukur keberhasilan taman lingkungan sebagai fasilitas sosial ataupun ruang sosial di perumahan padat belum pernah dilakukan. Hal tersebut perlu dilakukan terkait dengan pentingnya sebuah ruang terbuka publik untuk melayani kebutuhan masyarakat terutama lingkungan di perumahan padat dimana ruang terbuka merupakan sebuah barang mahal.

Dari hal-hal yang telah diungkapkan sebelumnya taman lingkungan memiliki peran penting dalam perumahan tidak hanya sebagai ruang terbuka hijau namun juga sebagai ruang terbuka publik. Terlebih lagi di perumahan padat dimana ruang terbuka tidaklah memenuhi standar ditinjau dari luasan lahan maupun jumlah manusia yang dilayani berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan. Dengan kata lain ruang terbuka publik merupakan 'barang mahal' di perumahan padat. Terkait keterbatasan tersebut maka taman lingkungan di perumahan padat haruslah dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara optimal akan ruang terbuka publik. Maka dari itu studi ini dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh keberhasilan taman lingkungan di perumahan padat sebagai ruang terbuka publik yang tentunya dapat meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat di perumahan padat.

Penelitian ini terdiri dari lima bagian utama. Bagian pertama membahas latar belakang dan tujuan penelitian. Bagian kedua membahas dasar evaluasi keberhasilan taman lingkungan di perumahan padat sebagai tinjauan literature dalam penelitian ini. Bagian ketiga membahas metodologi penelitian. Bagian keempat berisi analisis persepsi dan evaluasi keberhasilan taman lingkungan di perumahan padat. Bagian terakhir berisi kesimpulan.

2. Dasar Evaluasi Keberhasilan Taman Lingkungan Di Perumahan Padat Sebagai Ruang Terbuka Publik

2.1 Definisi Ruang Terbuka, Taman Lingkungan, dan Perumahan Padat

Ruang Terbuka

Carmona et al (2003) menyatakan ruang terbuka publik sendiri merupakan ruang yang dapat memberikan kesempatan rekreasi, lingkungan alamiah, tempat untuk mengadakan acara khusus dan ruang untuk kota bernafas. Pada skala yang lebih besar ruang terbuka publik harus dapat menciptakan hubungan antara manusia dengan alam. Untuk skala yang lebih kecil biasanya standar ruang terbuka publik ditetapkan oleh pemerintah setempat. (Carmona et al, 2003).

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan, ruang terbuka adalah adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur dimana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. Ruang terbuka terdiri atas ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non hijau. Ruang terbuka hijau sendiri merupakan area yang penggunaannya lebih terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh alami maupun sengaja ditanam. Sementara ruang terbuka non hijau merupakan ruang terbuka di wilayah perkotaan yang tidak

termasuk RTH, berupa lahan yang diperkeras maupun badan air.

Taman Lingkungan

Marcus dan Francis (1998) berpendapat taman lingkungan adalah taman yang didominasi lanskap rumput, pohon, dan tanah untuk tanaman, biasanya terletak di lingkungan perumahan dan dilengkapi untuk berbagai fasilitas penunjnag kegiatan aktif (olahraga, bermain, berjalan) dan pasif (duduk, berjemur, istirahat), penggunaan bervariasi sesuai kepadatan dan lokasi dari lingkungan. Taman lingkungan dapat pula diartikan unit dasar (terkecil) dari sistem taman yang ditujukan untuk rekreasi dan fungsi sosial dan difokuskan pada rekreasi informal (American Planning Association, 2007). Sementara definisi taman lingkungan menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau Di Kawasan Perkotaan adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif, edukasi atau kegiatan lain pada tingkat lingkungan.

Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum disebutkan bahwa taman lingkungan merupakan bagian dari RTH yang terdiri dari:

  • 1. RTH Rukun Tetangga, melayani satu RT dengan luas minimal 250 m2 dan berada pada radius kurang dari 300 m dari rumah penduduk yang dilayani
  • 2. RTH Rukun Warga, melayani satu RW dengan luas minimal 1250 m2 dan berada pada radius kurang dari 1000 m dari rumah penduduk

Perumahan Padat

Pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman juga disebutkan bahwa permukiman kumuh adalah permukiman yang tidak layak huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat

kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat. UN Habitat mengkriteriakan permukiman kumuh dengan beberapa kondisi seperti di bawah ini:

  • Memiliki kekurangan pelayanan dasar
  • Permukiman terbuat dari struktur berkualitas buruk dan bobrok
  • Permukiman sangat ramai dan ditandai dengan perumahan dan populasi yang berkepadatan tinggi
  • Memiliki lingkungan hidup yang tidak sehat
  • Penghuninya tidak memiliki jaminan kepemilikan lahan
  • Penghuninya mengalami kemiskinan tingkat tinggi dan pengucilan sosial

Terkait dengan karakteritik perumahan padat, Sherer (2003) menyatakan bahwa taman lingkungan memberikan ruang bagi penduduk untuk berekreasi dan berinteraksi, terutama untuk masyarakat golongan menengah ke bawah. Keberadaan ruang tersebut akan menimbulkan sense of community pada lingkungan permukiman pada penduduk golongan menengah ke bawah.

2.2 Kriteria Keberhasilan Ruang Terbuka Publik

Berdasarkan studi literature yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa ada kriteria yang memiliki kesamaan satu dengan lainnya. Kriteria tersebut adalah:

1. Aksesibilitas, Project for Public Spaces, 2004, menyatakan akses merupakan hal yang penting dalam keberhasilan ruang terbuka publik, yaitu kemudahan ruang terbuka publik untuk didatangi dan mudah dilihat. Carr, et al, (1992) menyatakan ruang terbuka publik haruslah demokratis, ruang tersebut dapat diakses semua golongan, mudah diakses secara fisik maupun visual. Miller (2009), menyatakan

  • bahwa ruang tersebut aman, yang ditandai dengan mudahnya penglihatan dari luar ataupun ke dalam taman, mudah didatangi, terbuka.
  • 2. Kesenangan dan menarik pengguna, Carr et al (1992) menyatakan ruang publik haruslah responsif, yaitu dapat menjawab kebutuhan pengguna dalam hal ini aktivitas aktif dan pasif yang dapat memberikan kesenangan. Project for Public Spaces (2004) menjadikan aktivitas dan penggunaan menjadi kriteria ruang terbuka publik yang berhasil, tentunya dengan adanya aktivitas maka ruang tersebut dapat memberikan kesenangan dan akan menarik pengguna. Miller (2009) menyatakan ruang tersebut dapat memenuhi kebutuhan pengunjungnya dalam beraktivitas yang dapat memberikan kesenangan.
  • 3. Keamanan dan kenyamanan, Miller (2009), ruang publik haruslah aman, dengan amannya sebuah ruang maka ruang tersebut dapat terus dikunjungi dan berfungsi dengan baik. Carr et al (1992) menyatakan ruang publik haruslah responsif yaitu dapat memberikan kenyamanan kepada masyarakat. Project for Public Spaces (2004), menjadikan kenyamanan sebagai kriteria yang penting bagi sebauah ruang, ruang ayng nyaman ditandai dengan ruang yang bersih dan aman.
  • 4. Mengikat masyarakat, Carr et al (1992), menyatakan ruang publik harus memiliki makna dan keterkaitan bagi masyarakat, ruang yang bermakna dan memiliki keterikatan akan ditandai dengan adanya rasa kepedulian dari masyarakat pada ruang tersebut. Project for Public Spaces (2004) menyatakan keramahan merupakan hal yang penting ada pada ruang terbuka publik yang ditandai dengan adanya keterikatan masyarakat dengan ruang publik tersebut.

2.3 Teknik Evaluasi Keberhasilan Taman Lingkungan Sebagai Ruang Terbuka Publik Berdasarkan Persepsi Masyarakat

Evaluasi dapat disamakan dengan penaksiran (appraisal), pemberian angka (rating) dan penilaian (assessment), kata-kata yang menyatakan usaha untuk menganalisis hasil kebijakan dalam arti satuan lainnya (Dunn, 2008).

Dalam penelitian ini, evaluasi yang dilakukan adalah Post Occupancy Evaluation karena evaluasi dilakukan setelah objek dibangun dan sudah digunakan cukup lama. POE merupakan proses evaluasi yang dilakukan setelah dihuni atau dimanfaatkan oleh pengguna dan berkaitan dengan pengukuran fungsional sehingga berkenaan dengan kesesuaian antara bentuk dan pemanfaatan, persepsi pada lingkungan maupun kenyamanan fisik.

Pendekatan evaluasi yang digunakan adalah evaluasi semu (pseudo evaluation) karena kriteria-kriteria dari evaluasi dibuat oleh evaluator sendiri. Evaluasi ini bersifat sumatif yaitu yaitu evaluasi yang dilakukan di akhir program dalam hal ini setelah taman lingkungan selesai dibangun. Selain itu evaluasi yang dilakukan di studi ini berorientasi pada masa lampau atau evaluasi ex-post. Hal ini dikarenakan objek yang akan dievaluasi merupakan hasil dari kebijakan yang sudah dilakukan dalam hal ini taman lingkungan.

Untuk melakukan teknik evaluasi, harus berorientasi tidak hanya pada persepsi masyarakat, tapi juga pada kriteria dan variabel yang telah ditentukan sebelumnya. Kriteria utama ini merupakan tolak ukur dalam evaluasi keberhasilan taman lingkungan sebagai ruang terbuka public di perumahan padat, yakni aksesibilitas, kemampuan memberikan kesenangan dan menarik pengguna, kemampuan memberikan rasa aman dan nyaman, serta kemampuan mengikat masyarakat.

Pemenuhan indikator keberhasilan ruang terbuka publik ini didasarkan pada ukuran ketercapaian masing-masing variabel yang didapatkan dari kuesioner. Pengukuran variabel yang dijadikan indikator keberhasilan ruang terbuka public ini didapatkan dari persepsi masyarakat yang diukur dengan modus masingmasing variabel. Modus merupakan nilai variabel yang paling sering muncul (Healey, 2008), sehingga harus mempertimbangkan indeks variasi kualitatif (IQV)nya yakni rasio jumlah variasi yang diamati secara nyata dalam suatu distribusi nilai pada variasi maksimum yang dapat terjadi dalam distribusi tersebut (Healey, 2008). IQV yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai IQV yang lebih kecil sama dengan 0,5.

Berikut adalah kriteria, variabel, dan indikator keberhasilan taman lingkungan sebagai ruang terbuka public.

Tabel 1. Evaluasi Keberhasilan Taman Lingkungan Sebagai Ruang Terbuka Publik

1abel 1. Evaluasi Rebelliasilali ii aman Emgkungan Sebagai Kiuang rerouka ruonk
KriteriaVariabelIndikator Keberhasilan Variabel
AksesibelKemudahan akses untuk mencapai tamanTaman lingkungan mudah diakses oleh masyarakatModus responden menyatakan taman lingkungan mudah dicapai dengan IQV ≤ 0,5
Kemampuan
taman
memberikan
Frekuensi kunjungan taman oleh masyarakatKunjungan yang tinggi oleh
masyarakat ke taman lingkungan
\[\begin{array}{ccccc} Modus & responden & menyatakan & sering \\ mengunjungi & taman & lingkungan & dengan \\ IQV \leq 0.5 & \end{array}\]
kesenangan
dan menarik
pengguna
Tingkat keberagaman aktivitas yang dilakukan di taman oleh masyarakatTerdapat banyak jenis kegiatan yang
dapat dilakukan di taman
Modus responden melakukan sedikitnya tiga kegiatan di taman dengan \(IQV \le 0.5\)
KemampuanTingkat keterawatan taman menurut persepsi masyarakatTaman lingkungan dalam kondisi yang terawatModus responden menyatakan taman dalam kondisi terawat dengan \(IQV \le 0.5\)
taman
memberikan
rasa aman dan
Tingkat kebersihan taman menurut persepsi masyarakatTaman lingkungan dalam kondisi yang bersihModus responden menyatakan taman dalam kondisi bersih dengan \(IQV \le 0.5\)
nyamanTingkat keamanan taman menurut persepsi masyarakatTaman lingkungan amanModus responden menyatakan taman lingkungan aman dengan IQV ≤ 0,5
Kemampuan
taman dalam
mengikat
masyarakat
Tingkat frekuensi partisipasi
masyarakat pada acara komunitas di
taman (RT/RW)
Partisipasi masyarakat yang tinggi
pada acara RT/RW di taman
Modus responden menyatakan sering berpartisipasi pada acara RT/RW di taman dengan \(IQV \le 0.5\)
Tingkat frekuensi partisipasi
masyarakat dalam perawatan taman
(kerja bakti) yang dilakukan
masyarakat
Partisipasi masyarakat yang tinggi
dalam kerja bakti/merawat taman
Modus responden menyatakan sering berpartisipasi dalam kerja bakti merawat taman dengan \(IQV \le 0.5\)

Sumber: Hasil Analisis, 2011

3. Metode Penelitian

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey data sekunder dan survey data primer. Survey data sekunder dilakukan dengan studi literature untuk menyusun kerangka evaluasi dari studi ini. Selain itu, survey instansional pada Dinas Pertamanan dan Permakaman DKI Jakarta, Kelurahaan Galur, BPS DKI Jakarta juga dilakukan untuk mengetahui gambaran mengenai ruang terbuka. hijau, wilayah studi, dalam mendukung studi ini.

Survey data primer dilakukan dengan observasi untuk mengetahui kondisi ketiga taman lingkungan di Kelurahan Galur serta kuesioner. Metode pengambilan sampel kuesioner dengan menggunakan cluster proportional sampling dengan mempertimbangkan masyarakat yang dilayani taman lingkungan yakni jumlah KK dari 3 RW (RW 04, RW 06, dan RW 07). Pembatasan populasi ini dilakukan dengan asumsi satu taman lingkungan melayani satu RW tanpa adanya kedekatan taman pada batas RW lainnya. Dengan tingkat kepercayaan 90%, maka dari 1431 KK di 3 RW dapat direduksi

menjadi 130 KK. Untuk menentukan jumlah sampel pada tiap RW digunakan proportional sampling, sehingga jumlah sampel pada RW 03 (Taman Kewista) sebanyak 48 responden, RW 06 (Taman Komando) sebanyak 37 responden, dan RW 07 (Taman Safari) sebanyak 45 responden.

Beberapa metode analisis yang digunakan dalam studi ini adalah:

• Analisis Konten

Dalam studi ini, analisis konten digunakan untuk mendapatkan kriteria, indikator, dan tolak ukur mengenai keberhasilan ruang terbuka dari literatur mengenai ruang terbuka publik maupun evaluasi.

• Analisis Deskriptif Kualitatif

Analisis ini digunakan untuk menjabarkan hasil observasi lapangan terhadap objek studi. Hasil observasi tersebut diorganisasikan lalu dikodingkan untuk mendapatkan penyajian data yang penting untuk studi ini (Patilima, 2005)

• Analisis Deskriptif Kuantitatif

Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk mendapatkan hasil persepsi masyarakat mengenai taman lingkungan

sebagai ruang terbuka publik yang berhasil berdasarkan variabel yang dipertimbangkan sebagai indikator-indikator keberhasilan taman lingkungan sebagai ruang terbuka publik. Analisis deskriptif kuantitatif yang digunakan pada studi ini adalah nilai modus beserta dengan indeks variasi kualitatif dari modus tersebut.

• Metode Evaluasi Checklist (daftar periksa)

Metode checklist adalah metode yang membantu desainer menggunakan pengetahuan mengenai persyaratan yang telah ditentukan untuk menjadi relevan dalam situasi serupa (Jones, 1979). Metode evaluasi ini digunakan untuk memeriksa atau menilai pemenuhan indikatorindikator keberhasilan taman lingkungan berdasarkan kriteria dan variabel dari ruang terbuka publik yang berhasil.

4. Analisis

4.1 Analisis Persepsi Masyarakat

Aksesibilitas

Analisis ini dilakukan untuk mengukur variabel yaitu aksesibilitas ke taman-taman di Kelurahan Galur

Pada Taman Kewista, 48 responden mewakili KK yang dijadikan sampel. Dapat diketahui bahwa modus terpenuhi yang berarti Taman Kewista mudah dicapai, sehingga nilai IQV sebesar 0,06, lebih kecil dari syarat terpenuhinya indikator keberhasilan yang mensyaratkan IQV kurang dari sama dengan 0,5 artinya indikator ini terpenuhi.

Pada Taman Komando, modus dari persepsi adalah Taman Komando RW 06 mudah dicapai dan memiliki IQV lebih kecil sama dengan 0,5. Artinya indikator aksesibilitas ini tercapai.

Sama dengan dua taman sebelumnya, indikator keberhasilan dari variabel aksesibilitas di Taman Safari terpenuhi dengan syarat modus dari persepsi terhadap aksesibilitas adalah Taman Safari RW 07 mudah dicapai dan dengan IQV lebih kecil sama dengan 0,5 yakni sebesar 0.

Tabel 2. Pemenuhan Indikator Aksesibilitas Taman Kewista, Taman Komando, dan Taman Safari Kelurahan Galur

Keturahan Gatur
Tingkat AksesibilitasFrekuensi
Jawaban
ModusIQVPemenuhan
Indikator
Taman Kewista
Sulit Dicapai0Tr.
Kurang mudah dicapai1Taman
Mudah
0.06Terpenuhi
Mudah dicapai47Mudah 0,06 Dicapai Taman Mudah 0 Dicapai
Total Responden48Dicapai
Taman Komando
Sulit Dicapai0Т
Kurang mudah dicapai0Terpenuhi
Mudah dicapai37Dicapai0reipenum
Total Responden37Dicapai
Taman Safari
Sulit Dicapai0
Kurang mudah dicapai0Taman
Mudah
0Terpenuhi
Mudah dicapai45Dicapairerpenum
Total Responden45Dicapai

Sumber: Hasil Analisis, 2011

Kemampuan Taman Memberikan Kesenangan dan Menarik Pengguna

Analisis ini dilakukan untuk mengukur dua variabel yaitu tingkat frekuensi kunjungan taman oleh masyarakat dan tingkat keberagaman aktivitas yang dilakukan di taman oleh masyarakat.

1. Taman Kewista

Pada tingkat frekuensi kunjungan ke taman, dari total sampel 48 KK, seharusnya terdapat 144 frekuensi kunjungan jika satu keluarga lengkap terdiri dari anak, ayah/suami, dan ibu/istri atau 3 anggota keluarga pada satu KK. Namun, terdapat 9 KK yang anggota keluarganya tidak lengkap sehingga hanya menjadi 135 responden untuk pertanyaan tingkat kunjungan taman. Pada variabel ini, modus jawaban tidak terpenuhi, sehingga tidak perlu dilakukan IQV untuk mendukung keberhasilan taman lingkungan. Selain itu, dapat pula diketahui bahwa 44% pendapat positif mengenai taman dengan proporsi terbesar adalah kunjungan ke taman disebabkan adanya kegiatan yang dilakukan di taman. Sementara 56% pendapat negatif mengenai taman yang dapat mempengaruhi kunjungan yang tidak berbeda jauh proporsinya.

Dari sisi tingkat keberagaman aktivitas, hanya ditanyakan pada anggota keluarga yang mewakili KK dan pernah mengunjungi taman yaitu sebanyak 37 responden. Indikator keberhasilan variabel ini terpenuhi dengan syarat modus dari tingkat keberagaman aktivitas adalah lebih dari sama dengan tiga kegiatan. Indikator keberhasilan tidak terpenuhi karena modus keberagaman aktivitas hanya 2 kegiatan. Kegiatan yang sering dilakukan di taman adalah menghadiri atau mengikuti kegiatan RT/RW.

2. Taman Komando

Pada tingkat frekuensi kunjungan taman, dari total sampel sebesar 37, seharusnya terdapat 111 frekuensi kunjungan jika satu keluarga lengkap terdiri dari anak, ayah/suami, dan ibu/istri atau 3 anggota keluarga pada satu KK. Namun, terdapat 4 KK yang anggota keluarganya tidak lengkap sehingga hanya terdapat 107 responden untuk pertanyaan tingkat kunjungan taman. Nilai IQV dari variabel ini adalah 0,82 untuk responden utama dan 0,84 untuk anggota keluarga lain, sehingga indikator untuk variabel ini tidak tercapai. Selain itu, dapat pula diketahui 85% pendapat positif mengenai taman dengan proporsi terbesar dengan 64% adalah kunjungan ke taman disebabkan adanya kegiatan yang dilakukan di taman. Sementara 15% pendapat negatif mengenai taman yang dapat mempengaruhi kunjungan yang tidak berbeda jauh proporsinya.

Pada tingkat keberagaman kegiatan yang ada di Taman Komando, dapat diketahui bahwa modus sebesar 3 kegiatan atau lebih dengan nilai IQV sebesar 0,83 yang artinya indikator keberhasilan untuk keberagaman kegiatan tidak terpenuhi. Hal lain yang dapat diketahui adalah kegiatan yang paling banyak diketahui adalah duduk/santai/rileks dengan proporsi 34%.

3. Taman Safari

Pada tingkat frekuensi kunjungan taman, total sampel KK untuk penilaian Taman Safari RW 07 adalah 45. Seharusnya terdapat 135 frekuensi kunjungan jika satu keluarga lengkap terdiri dari anak, ayah/suami, dan ibu/istri atau 3 anggota

keluarga pada satu KK. Namun, terdapat 10 KK yang anggota keluarganya tidak lengkap sehingga hanya terdapat 125 responden untuk pertanyaan tingkat kunjungan taman. Modus dari frekuensi kunjungan baik dari responden utama maupun anggota keluarga tidak adalah pernah, sehingga keberhasilannya tidak terpenuhi. Selain itu, dapat pula diketahui bahwa 51% pendapat positif mengenai taman dengan proporsi terbesar dengan 28% adalah kunjungan ke taman disebabkan adanya kegiatan yang dilakukan di taman. Sementara 49% pendapat negatif mengenai taman yang dapat mempengaruhi kunjungan dimana lebih dari 20% responden menyatakan taman kurang menarik.

Dari sisi tingkat keberagaman kegiatan yang dilakukan di Taman Safari, tidak memiliki modus karena jumlah responden yang melakukan dua kegiatan sama besar dengan yang melakukan tiga kegiatan atau lebih, sehingga indikator keberhasilan tidak terpenuhi. Adapun jenis kegiatan dominan yang sering dilakukan di Taman Safari adalah menghadiri atau mengikuti kegiatan RT/RW dan mengasuh atau menjaga anak.

Tabel 3. Pemenuhan Indikator Kemampuan Taman Memberikan Kesenangan dan Menarik Pengguna Taman Kewista, Taman Komando, dan Taman Safari Kelurahan Galur

V7ariabelFrekuensi JawabanModusIQVPemenuhan
Indikator
Taman Kewista
Frekuensi kunjungan taman olehResponden
Utama
Sering Kadang-kadang Tidak Pernah11
23
14
Tidak
Pernah
-Tidak
terpenuhi
masyarakatAnggota
keluarga
lainnya
Sering Kadang-kadang Tidak Pernah22
40
25
Kadang-
kadang
-Tidak
terpenuhi
Total Responden135
Tingkat keberagaman aktivitas yar di taman olehıg dilakukan≥3 Kegiatan 2 Kegiatan 1 Kegiatan12
16
9
2
Kegiatan
-Tidak
Terpenuhi
Total Responden37
Taman KomandoResponden
Utama
Sering Kadang-kadang Tidak Pernah21
13
3
Sering0,8Tidak
terpenuhi
Frekuensi kunjungan taman oleh masyarakatAnggota
keluarga
lainnya
Sering Kadang-kadang Tidak Pernah39
23
8
Sering0,8Tidak
terpenuhi
Total Responden107
Tingkat keberagaman aktivitas yang dilakukan
di taman oleh
≥3 Kegiatan 2 Kegiatan 1 Kegiatan19
12
3
≥30,83Tidak
Terpenuhi
Total Responden34
Taman Safari
Frekuensi kunjungan taman olehResponden
Utama
Sering Kadang-kadang Tidak Pernah14
13
18
Tidak
Pernah
-Tidak
terpenuhi
masyarakatAnggota
keluarga
lainnya
Sering
Kadang-kadang
Tidak Pernah
23
22
35
Tidak
Pernah
-Tidak
terpenuhi
Total Responden1251
Tingkat keberagaman aktivitas yang dilakukan
di taman oleh
≥3 Kegiatan 2 Kegiatan 1 Kegiatan10
10
7
--Tidak
Terpenuhi
Total Responden,34

Sumber: Hasil Analisis, 2011

Kemampuan Taman dalam Memeberikan Rasa Aman dan Nyaman

Analisis ini dilakukan untuk mengukur tiga variabel yaitu tingkat keterawatan taman, kebersihan, dan keamanan taman dari ketiga taman di Kelurahan Galur.

1. Taman Kewista

Syarat terpenuhinya indikator keberhasilan dari variabel ini adalah modus keterawatan tanaman yang lebih rendah dari 0.5. Dalam tabel 4, dapat diketahui bahwa modus jawaban sudah terpenuhi. Sementara nilai IOV = 0.7 yang artinya indikator keberhasilan tidak terpenuhi. Dari sisi tingkat kebersihan, memperlihatkan bahwa modus dari jawaban responden adalah bersih, tapi nilai IQV sebesar 0,7 yang indikator keberhasilan artinva memenuhi. Dari sisi tingkat keamanan, meskipun modus dari variabel ini adalah aman, tapi indikator keberhasilan tidak terpenuhi karena iQV lebih besar dari 0,5.

2. Taman Komando

Pada tingkat keterawatan Taman Komando, dapat diketahui bahwa modus jawaban responden sudah terpenuhi dengan 31 dari 37 responden menyatakan taman dalam

kondisi terawat. Nilai IQV yang dihasilkan pada variabel keterawatan taman adalah 0.4 lebih kecil dari syarat pemenuhan indikator keberhasilan yaitu 0,5 sehingga indikator keberhasilan pada variabel ini terpenuhi. Pada tingkat keberhihan di Taman Komando, nilai IOV lebih dari 0,5 yakni 0,28 yang artinya indikator untuk variabel ini terpenuhi. Sementara pada variabel tingkt keamanan Taman Komando, dengan modus jawaban aman, IQV-nya lebih kecil dari 0,5 vang artinya indikator untuk variabel ini terpenuhi.

3. Taman Safari

Pada variabel tingkat keterawatan Taman Safari, modus jawaban responden sudah terpenuhi dengan 25 dari 45 responden mengatakan taman terawat. Nilai IQV untuk variabel ini sebesar 0,86 yang artinya indikator keberhasilan tidak terpenuhi. Pada variabel tingkat kebersihan Taman Safari, IQV-nya lebih besar dari 0,5 yakni sebesar 0,76 yang artinya indikator keberhasilan dari variabel ini tidak terpenuhi. Sementara pada tingkat keamanan di Taman Safari dapat diketahui bahwa nilai IQV sebesar 0,29 yang artinya indikator keberhasilan dari tingkat keamanan ini telah memenuhi persyaratan.

Tabel 5. Pemenuhan Indikator Kriteria Kemampuan Taman Memberikan Rasa Aman dan Nyaman Taman Kewista, Taman Komando, dan Taman Safari Kelurahan Galur

Taman Kewista, Taman Komando, dan Taman Salari Keluranan Galur
VariabelFrekuensi
Jawaban
ModusIQVPemenuhan
Indikator
Taman Kewista
Tidak Terawat2
Tingkat Keterawatan TamanKurang Terawat14Terawat0.7Tidak
Terawat32Terawat0,7Terpenuhi
Total Responden48
-Tidak Bersih3
Fingkat Kebersihan TamanKurang Bersih13Bersih0,7Tidak
Terpenuhi
-Bersih32
Total Responden48
_Tidak aman2
Tingkat Keamanan TamanKurang Aman90.55Tidak
Terpenuhi
Aman37Aman0,55
Total Responden48_
Taman Komando
Timelest Veterovysten TemenTidak Terawat0Tomoviot0.4Tomonuhi
Tingkat Keterawatan TamanKurang Terawat6Terawat0,4Terpenuhi
VariabelFrekuensi
Jawaban
ModusIQVPemenuhan
Indikator
Terawat31
Total Responden37
Tidak Bersih0
Tingkat Kebersihan TamanKurang Bersih4Bersih0,28Terpenuhi
Bersih33Dersin0,28rerpenum
Total Responden37
Tidak aman0
Tingkat Keamanan TamanKurang Aman2Aman0,15Terpenuhi
Aman35
Total Responden37
Taman Safari
Tidak Terawat60,86Tidak
Tingkat Keterawatan TamanKurang Terawat14TerawatTerpenuhi
Terawat25Terawat
Total Responden45
Tidak Bersih50,86 Tidak Terpeni
Tingkat Kebersihan TamanKurang Bersih11Bersih0.76TIdak
Bersih29Deisiii0,70Terpenuhi
Total Responden45
Tidak aman0
Tingkat Keamanan TamanKurang Aman5Aman0.20Tarpanuhi
Aman40Ailiali0,29rerpenum
Total Responden45

Sumber: Hasil Analisis, 2011

<u>Kemampuan Taman dalam Mengikat</u> <u>Masyarakat</u>

Total sampel KK untuk penilaian Taman Kewista RW 04 adalah 48. Seharusnya terdapat 144 frekuensi kunjungan jika satu keluarga lengkap terdiri dari anak, ayah/suami, dan ibu/istri atau 3 anggota keluarga pada satu KK. Namun, terdapat 9 KK yang anggota keluarganya tidak lengkap sehingga hanya terdapat 135 responden untuk frekuensi partisipasi masyarakat pada kegiatan komunitas. Pemenuhan indikator keberhasilan dari variabel ini adalah modus dari jawaban responden berupa sering mengikuti kegiatan RT/RW di taman. Nilai IQV dari modus tersebut haruslah lebih kecil sama dengan 0,5 untuk menilai tingkat variasi dari jawaban responden. Oleh karennaya di taman ini, indikator keberhasilan untuk taman ini tidak terpenuhi. Hal ini juga diikuti dengan ketidakberhasilan indikator tingkat frekuensi dalam perawatan taman di Taman Kewista yang tidak terpenuhi karena nilai indeks lebih kecul dari 0,5.

Pada Taman Komando, dengan total sampel KK seharusnya terdapat 111 kunjungan jika satu keluarga lengkap terdiri dari anak, ayah/suami, dan ibu/istri atau 3 anggota keluarga pada satu KK. Namun, terdapat 4 KK yang anggota keluarganya tidak lengkap sehingga hanya menjadi 107 responden untuk frekuensi partisipasi masyarakat pada komunitas.Dengan kegiatan modus kegiatan di Taman Komando tidak pernah maka keberhasilan untuk indikator frekuensi partisipasi masyarakat pada acara komunitas tidak tercapai. Hal yang sama juga terjadi pada partisipasi masyarakat indikator perawatan taman yang mana sebagian besar masyarakat mengatakan tidak pernah ada kerja bakti, sehingga keberhasilan indikator ini tidak terpenuhi.

Pada Taman Safari, dengan total sampel KK sebanyak 45 KK, seharusnya terdapat 135 frekuensi kunjungan jika satu keluarga lengkap terdiri dari anak, ayah/suami, dan ibu/istri atau 3 anggota keluarga pada satu KK. Namun, terdapat 10 KK yang anggota keluarganya tidak lengkap sehingga hanya menjadi 125 responden untuk frekuensi partisipasi masyarakat pada kegiatan komunitas. Oleh karennya, keberhasilan dalam indikator ini tidak terpenuhi. Sementara pada indikator frekuensi partisipasi dalam perawatan taman, niali IQVnya lebih kecil dari 0,5 yang artinya masih banyak masyarakat yang tidak pernah ikut dalam perawatan taman, sehingga keberhasilan indikator ini tidak terpenuhi.

Tabel 6. Pemenuhan Indikator Kriteria Kemampuan Taman Mengikat Masyarakat Taman Kewista, Taman Komando, dan Taman Safari di Kelurahan Galur

Variabel Taman KewistaIQVPemenuhan
Indikator
DescriptionSering5TP: 4-1-T: 4-1-
Kadang-kadang21-Tidak
Torpopubi
utamaTidak Pernah22PernanTerpenuhi
AnggotaSering14TC: 1 1TC: 1.1
keluargaKadang-kadang23-Tidak
lainnyaTidak Pernah50PernanTerpenuhi
135
DescriptionSering2TP: 4-1-Tidak
Kadang-kadang12-
utamaTidak Pernah32PernanTerpenuhi
AnggotaSering5TC: 1 1TC: 1.1
Kadang-kadang11-Tidak
lainnyaTidak Pernah38PernahTerpenuhi
TSering9m: 1 1TT: 1.1
utama -Kadang-kadang9Tidak
Pernah
-Tidak
19Terpenuhi
keluarga KadaTidak
Pernah
-m: 1 1
Tidak
Terpenuhi
1Troux Terriur
SeringTidak
Pernah
-Tidak
Terpenuhi
utama
Anggota|
Tidak_Tidak
PernahTerpenuhi
- Iuliin yuTroux Terriur
01
TSering3
_Tidak
utamaPernahTerpenuhi
Anggota
_Tidak
PernahTerpenuhi
- amingu11dak i Ciliali
TSering
RespondenTidak_Tidak
utamaTidak Pernah36Pernah-Terpenuhi
TIUAN I CIIIAIIļ|
AngestsSoring5
AnggotaSering
Kadang kadang
5TidakTidak
Anggota
keluarga
lainnya
Sering
Kadang-kadang
Tidak Pernah
5
3
41
Tidak
Pernah
-Tidak
Terpenuhi
Responden utama Anggota keluarga lainnya Responden utama Anggota keluarga lainnya Responden utama Anggota keluarga lainnya Responden utama Anggota keluarga lainnya Responden utama Anggota keluarga lainnya Responden utama Anggota keluarga lainnyaResponden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Sering Kadang-kadang Tidak Pernah Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Res| Responden utamaResponden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Responden utama Respon| Responden | Hama

Sumber: Hasil Analisis, 2011

4.2 Evaluasi Keberhasilan Taman Lingkungan Sebagai Ruang Terbuka Publik

Evaluasi ini dilakukan dengan metode checklist atau daftar periksa. Metode ini digunakan untuk memeriksa pemenuhan indikator dari masingmasing variabel yang sudah dibahas sebelumnya. Prosentase keberhasilan taman lingkungan sebagai ruang terbuka public dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

\[\% \textit{Keberhasilan} = \frac{\textit{Indikator Terpenuhi}}{8} \times 100\%\] Penilaian keberhasilan pemenuhan indikatorindikator tersebut dikategorikan sebagai

berikut:

  • Taman lingkungan dikatakan berhasil sebagai ruang terbuka publik jika seluruh indikator keberhasilan terpenuhi yang meliputi kriteria-kriteria dari sebuah ruang terbuka publik.
  • Taman lingkungan dikatakan kurang berhasil sebagai ruang terbuka publik jika lebih dari sama dengan 50% indikator variabel terpenuhi.
  • Taman lingkungan dikatakan tidak berhasil sebagai ruang terbuka publik jika kurang dari 50% indikator keberhasilan variabel terpenuhi.

Tabel 7. Evaluasi Keberhasilan Taman Kewista, Taman Komando, dan Taman Safari Kelurahan Galur Sebagai Ruang Terbuka Publik

NoKriteriaVariabelIndikator Keberhasilan VariabelTingkat
Keberhasil
an
Taman Kewista
1AksesibelKemudahan akses untuk
mencapai taman
Taman lingkungan
mudah diakses oleh
masyarakat
Modus responden
menyatakan taman
lingkungan mudah dicapai
dengan IQV ≤ 0,5
Terpenuhi
2Kemampuan
taman
memberikan
Frekuensi kunjungan
taman oleh masyarakat
Kunjungan yang
tinggi oleh
masyarakat ke
taman lingkungan
Modus responden
menyatakan sering
mengunjungi taman
lingkungan dengan IQV ≤
0,5
Tidak
Terpenuhi
kesenangan
dan menarik
pengguna
Tingkat keberagaman
aktivitas yang dilakukan
di taman oleh
masyarakat
Terdapat banyak
jenis kegiatan yang
dapat dilakukan di
taman
Modus responden
melakukan sedikitnya tiga
kegiatan di taman dengan
IQV ≤ 0,5
Tidak
Terpenuhi
12,5%
Kemampuan
taman
memberikan
rasa aman dan
nyaman
Tingkat keterawatan
taman menurut persepsi
masyarakat
Taman lingkungan
dalam kondisi yang
terawat
Modus responden
menyatakan taman dalam
kondisi terawat dengan
IQV ≤ 0,5
Tidak
Terpenuhi
3Tingkat kebersihan
taman menurut persepsi
masyarakat
Taman lingkungan
dalam kondisi yang
bersih
Modus responden
menyatakan taman dalam
kondisi bersih dengan IQV
≤ 0,5
Tidak
Terpenuhi
Tidak
Berhasil
Tingkat keamanan taman
menurut persepsi
masyarakat
Taman lingkungan
aman
Modus responden
menyatakan taman
lingkungan aman dengan
IQV ≤ 0,5
Tidak
Terpenuhi
Kemampuan
taman dalam
Tingkat frekuensi
partisipasi masyarakat
pada acara komunitas di
taman (RT/RW)
Partisipasi
masyarakat yang
tinggi pada acara
RT/RW di taman
Modus responden
menyatakan sering
berpartisipasi pada acara
RT/RW di taman dengan
IQV ≤ 0,5
Tidak
Terpenuhi
4mengikat
masyarakat
Tingkat frekuensi
partisipasi masyarakat
dalam perawatan taman
(kerja bakti) yang
dilakukan masyarakat
Partisipasi
masyarakat yang
tinggi dalam kerja
bakti/merawat
taman
Modus responden
menyatakan sering
berpartisipasi dalam kerja
bakti merawat taman
dengan IQV ≤ 0,5
Tidak
Terpenuhi
NoKriteriaVariabelIndikator Keberhasilan VariabelPemenuhan
Indikator
Presenta
se
Tingkat
Keberhasil
an
Taman Komando
1AksesibelKemudahan akses untuk
mencapai taman
Taman lingkungan
mudah diakses oleh
masyarakat
Modus responden
menyatakan taman
lingkungan mudah dicapai
dengan IQV ≤ 0,5
Terpenuhi
2Kemampuan
taman
memberikan
Frekuensi kunjungan
taman oleh masyarakat
Kunjungan yang
tinggi oleh
masyarakat ke
taman lingkungan
Modus responden
menyatakan sering
mengunjungi taman
lingkungan dengan IQV ≤
0,5
Tidak
Terpenuhi
kesenangan
dan menarik
pengguna
Tingkat keberagaman
aktivitas yang dilakukan
di taman oleh
masyarakat
Terdapat banyak
jenis kegiatan yang
dapat dilakukan di
taman
Modus responden
melakukan sedikitnya tiga
kegiatan di taman dengan
IQV ≤ 0,5
Tidak
Terpenuhi
Tingkat keterawatan
taman menurut persepsi
masyarakat
Taman lingkungan
dalam kondisi yang
terawat
Modus responden
menyatakan taman dalam
kondisi terawat dengan
IQV ≤ 0,5
Terpenuhi
3Kemampuan
taman
memberikan
rasa aman dan
Tingkat kebersihan
taman menurut persepsi
masyarakat
Taman lingkungan
dalam kondisi yang
bersih
Modus responden
menyatakan taman dalam
kondisi bersih dengan IQV
≤ 0,5
Terpenuhi50%Kurang
Berhasil
nyamanTingkat keamanan taman
menurut persepsi
masyarakat
Taman lingkungan
aman
Modus responden
menyatakan taman
lingkungan aman dengan
IQV ≤ 0,5
Terpenuhi
Kemampuan
taman dalam
mengikat
masyarakat
Tingkat frekuensi
partisipasi masyarakat
pada acara komunitas di
taman (RT/RW)
Partisipasi
masyarakat yang
tinggi pada acara
RT/RW di taman
Modus responden
menyatakan sering
berpartisipasi pada acara
RT/RW di taman dengan
IQV ≤ 0,5
Tidak
Terpenuhi
4Tingkat frekuensi
partisipasi masyarakat
dalam perawatan taman
(kerja bakti) yang
dilakukan masyarakat
Partisipasi
masyarakat yang
tinggi dalam kerja
bakti/merawat
taman
Modus responden
menyatakan sering
berpartisipasi dalam kerja
bakti merawat taman
dengan IQV ≤ 0,5
Tidak
Terpenuhi
Taman Safari
1AksesibelKemudahan akses untuk
mencapai taman
Taman lingkungan
mudah diakses oleh
masyarakat
Modus responden
menyatakan taman
lingkungan mudah dicapai
dengan IQV ≤ 0,5
Terpenuhi
2Kemampuan
taman
memberikan
Frekuensi kunjungan
taman oleh masyarakat
Kunjungan yang
tinggi oleh
masyarakat ke
taman lingkungan
Modus responden
menyatakan sering
mengunjungi taman
lingkungan dengan IQV ≤
0,5
Tidak
Terpenuhi
kesenangan
dan menarik
pengguna
Tingkat keberagaman
aktivitas yang dilakukan
di taman oleh
masyarakat
Terdapat banyak
jenis kegiatan yang
dapat dilakukan di
taman
Modus responden
melakukan sedikitnya tiga
kegiatan di taman dengan
IQV ≤ 0,5
Tidak
Terpenuhi
KemampuanTingkat keterawatan
taman menurut persepsi
masyarakat
Taman lingkungan
dalam kondisi yang
terawat
Modus responden
menyatakan taman dalam
kondisi terawat dengan
IQV ≤ 0,5
Tidak
Terpenuhi
25%Tidak
Berhasil
3taman
memberikan
rasa aman dan
nyaman
Tingkat kebersihan
taman menurut persepsi
masyarakat
Taman lingkungan
dalam kondisi yang
bersih
Modus responden
menyatakan taman dalam
kondisi bersih dengan IQV
≤ 0,5
Tidak
Terpenuhi
Tingkat keamanan taman
menurut persepsi
masyarakat
Taman lingkungan
aman
Modus responden
menyatakan taman
lingkungan aman dengan
IQV ≤ 0,5
Terpenuhi
4Kemampuan
taman dalam
mengikat
masyarakat
Tingkat frekuensi
partisipasi masyarakat
pada acara komunitas di
taman (RT/RW)
Partisipasi
masyarakat yang
tinggi pada acara
RT/RW di taman
Modus responden
menyatakan sering
berpartisipasi pada acara
RT/RW di taman dengan
IQV ≤ 0,5
Tidak
Terpenuhi
Tingkat frekuensi
partisipasi masyarakat
Partisipasi
masyarakat yang
Modus responden
menyatakan sering
Tidak
Terpenuhi
NoKriteriaVariabelIndikator Keberhasilan VariabelPemenuhan
Indikator
Presenta
se
Tingkat
Keberhasil
an
dalam perawatan taman
(kerja bakti) yang
dilakukan masyarakat
tinggi dalam kerja
bakti/merawat
taman
berpartisipasi dalam kerja
bakti merawat taman
dengan IQV ≤ 0,5

Sumber: Hasil Analisis, 2011

5. Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh dari studi ini adalah sebagai berikut:

  • 1. Taman Kewista di RW 04 tidak berhasil sebagai ruang terbuka publik pada perumahan padat. Hal ini disebabkan taman tersebut hanya memenuhi 12,5% indikator keberhasilan atau hanya satu dari delapan variabel. Indikator yang terpenuhi adalah taman lingkungan mudah diakses oleh masyarakat sedangkan yang tidak terpenuhi adalah tingkat kunjungan, keberagaman aktivitas, tingkat keterawatan, tingkat kebersihan,tingkat keamanan, tingkat frekuensi partisipasi masyarakat pada acara komunitas di taman, dan tingkat partisipasi masyarakat pada perawatan taman
  • 2. Taman Komando di RW 06 kurang berhasil sebagai ruang terbuka publik pada perumahan padat. Hal ini dapat diketahui dari terpenuhinya 50% variabel indikator keberhasilan atau empat dari delapan variabel yang ada.. Indikator yang terpenuhi adalah kemudahan akses mencapai taman, tingkat keterawatan, tingkat kebersihan, dan tingkat keamanan taman. Indikator yang tidak terpenuhi adalah tingkat kunjungan, tingkat keberagaman aktivitas, tingkat partisipasi masyarakat pada acara komunitas di taman, dan tingkat partisipasi masyarakat pada perawatan taman.
  • 3. Taman Safari di RW 07 tidak berhasil sebagai ruang terbuka publik di perumahan padat. Hal ini didasarkan pada jumlah terpenuhinya indikator keberhasilan pada variabel. Jumlah variabel yang terpenuhi sebagai indikator keberhasilan ruang terbuka

publik hanya dua dari delapan atau 25%. Indikator yang terpenuhi adalah kemudahan akses dan tingkat keamanan taman. Indikator yang tidak terpenuhi adalah tingkat kunjungan, tingkat keberagaman aktivitas, tingkat keterawatan, tingkat kebersihan, tingkat partisipasi masyarakat pada acara komunitas di taman, dan tingkat partisipasi masyarakat pada perawatan taman.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Denny Zulkaidi, MUP untuk arahan dan bimbingan sehingga artikel ini dapat ditulis. Terima kasih juga kepada dua mitra bestari yang telah memberikan komentar yang berharga.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

7
Citations
2.99
FWCIfield-weighted
94th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20241
20221
20202
20192
20161

Semantic Profile AI-classified research signals

Forestry 0.48
level 1
Humanities 0.46
level 1
level 2

Institution Network

References

  1. American Planning Association. (2006). Planning and Urban Design Standards. New Jersey: John Wiley and Son.
  2. Carmona, M; Heath, T;Oc, T & Tiesdall, S. 2003. Public Places Urban Spaces: The Dimension of Urban Design. Oxford: Architectural Press.
  3. Carr, S., Francis, M., Rivlin, L. G., & Stone, A. M. (1992). Public Space. New York: Cambridge University Press.
  4. Dunn, W. N. (2008). Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  5. Habitat, U. (2008). Perumahan bagi Kaum Miskin di Kota-kota Asia. Nairobi: United Nations Office.
  6. Healey, J. F. (1996). Statistics, A Tool for Social Research. California: Wadsworth Publishing Company.
  7. Jakarta, B. D. (2011). Jakarta dalam Angka Tahun 2010. Jakarta: BPS DKI Jakarta.
  8. Jones, J. C. (1979). Design Methods, Seeds of Human Futures. New York: John Wiley and Sons.
  9. Kriteria Pengembangan Taman Interaksi Sosial di Permukiman Kumuh Dinas Pertamanan dan Permakaman DKI Jakarta Tahun 2008
  10. Marcus, C. C., & Francis, C. (1998). People Places Design Guideline for Urban Space. New York: Van Nostrand Reinhold.
  11. Miller, L. B. (2009). Parks, Plants, and People Beautifying the Urban Landscape. New York: W.w. Norton and Company.
  12. Patilima, H. (2005). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Alfabeta.
  13. Peraturan Daerah Daerah Khusus Ibukota Jakarta nomor 6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta 1999-2010
  14. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor : 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan Dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau Di Kawasan Perkotaan
  15. Project For Public Spaces. (2004). What Makes a Successful Place? Retrieved May 26, 2011, from ttp://www.pps.org/articles/grplacefeat/
  16. Sherer, P. M. (2003). The Benefits of Parks:Why America Needs More City Parks and Open Space. Retrieved Mey 30, 2011, from Conservation Tools: http://conservationtools.org/libraries/1/ library_items/729-The-Benefits-ofParks-Why-America-Needs-MoreCity-Parks-and-Open-Space
  17. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman
  18. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang