1. Home
  2. Archives
  3. Vol 24 (2013) Issue 3
  4. Articles

Dukungan Modal Sosial dalam Kolektivitas Usaha Tani untuk Mendukung Kinerja Produksi Pertanian Studi Kasus: Kabupaten Karawang dan Subang

Abstract

Perkembangan sektor industri yang secara intens dikhawatirkan semakin mengancam keberadaan lahan pertanian, terutama di kawasan lumbung padi nasional seperti Kabupaten Subang dan Karawang. Kondisi semakin diperburuk oleh banyaknya petani gurem yang berskala usaha kecil, pendapatan yang rendah, dan kinerja produksi yang tidak dapat bersaing di pasar modern. Dalam menghadapinya, petani harus melakukan suatu revolusi manajemen usaha yang menyatukan petani-petani gurem ke dalam bentuk usaha kolektif. Penggabungan ke dalam usaha kolektif tersebut memerlukan adanya dukungan modal sosial yang kuat antar masyarakat petani, yang meliputi jejaring sosial dan kepercayaan satu sama lain. Berdasarkan hasil analisis, disimpulkan bahwa kondisi modal sosial kalangan masyarakat petani di kedua wilayah studi tidak dapat mendukung kinerja kolektifitas usaha tani akibat adanya trauma finansial. Ketiadaan kolektifitas tersebut membuat kapasitas, kualitas, dan kontonuitas produksi yang diharapkan dapat bersaing di apsar modern tidak dapat terjadi. Biaya produksi pun menjadi tidak efisien dan kesejahteraan petani sangat rendah.Kata Kunci: Industri, kinerja produksi, kolektifitas usaha tani, modal sosial, masyarakat petaniThe development of the industrial sector that is increasingly threatening the existence of an agricultural land, particularly in areas such as the national granary Subang and Karawang. The condition is further aggravated by the many small farmers, low income, and production performance can not compete in the modern market. In the deal, farmers must undertake a business management revolution that brings together farmers in the collective effort. Incorporation into the collective effort requires the support of strong social capital among the farming community, which includes social networking and trust each other. Based on the analysis, it was concluded that the conditions of social capital among the farmers in the two study areas could not support farming collectivity performance due to financial trauma. The absence of such collectivity making capacity, quality, and production kontonuitas are expected to compete in the modern Apsar can not happen. The cost of production becomes inefficient and welfare of farmers is very low.Keywords: Manufacture, production performance, collectivity farming, social capital, community farmers

Keywords

1. Pendahuluan

Sektor pertanian merupakan sektor strategis dan potensial dalam pembangunan ekonomi nasional. Sebagai negara agraris, sektor ini mampu menberikan konstribusi sebesar 25,74% terhadap PDB nasional pada tahun 2011. Sektor ini juga mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, bahkan tercatat hingga tahun 2011 41% tenaga kerja Indonesia bergerak

dalam sektor ini (Buletin PDB Sektor Pertanian, 2004). Namun, posisi sektor tersebut dikhawatirkan mulai bergeser oleh adanya sektor industri yang secara intens mulai mendesak masuk dan mengancam keberadaan lahan pertanian, terutama di kawasan lumbung padi nasional seperti Kabupaten Subang dan Karawang.

Pendapatan petani yang rendah membuat petani tidak mampu menahan desakan industri dan menjadi salah satu faktor pendorong bagi mereka untuk menjual lahannya kepada para investor industri yang masuk ke wilayahnya. Kondisi ini diperburuk dengan banyaknya jumlah petani gurem yang unit pengelolaan lahannya sangat kecil, yaitu hanya berkisar 0,25-0,5 Ha dan kinerja produksi yang tidak memadai untuk bersaing di pasar modern. Skala usaha yang kecil dan pengelolaan yang individualis membuat biaya produksi menjadi tidak efisien dan pendapatan petani selalu rendah, sedangkan di satu sisi petani harus dapat bersaing di tengah gempuran pasar modern. Untuk dapat bersaing dalam pasar modern dengan skala usaha yang kecil tersebut, dibutuhkan adanya suatu gerak kolektifitas petani untuk dapat memperbesar skala usahanya mencapai economies of scale yang diinginkan pasar modern (Rizal, 2003). Adanya kolektifitas juga dapat mengefisiensikan biaya produksi, meningkatkan produktivitas, memperluas kesempatan kerja, dan tentunya meningkatkan pendapatan petani (Yusdja dkk, 2004).

Secara umum usaha pertanian kolektif yang dikemukakan dalam penelitian ini berupaya untuk menghimpun petani ke dalam suatu gerakan kolektif untuk meningkatkan kinerja produksinya, yaitu terdiri dari kolektifitas produksi, pengolahan, dan pendukung/penunjang. Namun, upaya kerja sama tersebut tidak serta merta dapat terjadi dengan sendirinya. Perlu diingat bahwa pertanian bukan sekedar merupakan sebagai mata pencahariaan bagi para petani, tetapi sudah merupakan cara hidup atau way of life yang membuat sistem nilai, tradisi, dan kepercayaan menjadi pedoman mereka dalam bertindak dan mengambil keputusan. Oleh karena itu, konsep modal sosial yang mengedapankan hubungan relasi sosial dan kepercayaan antar masyarakat dianggap dapat memberikan dukungan bagi perwujudan kolektifitas tersebut.

Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana dukungan modal sosial dalam mendukung kinerja kolektifitas pertanian untuk meningkatkan kinerja produksi, tepatnya di Kabupaten Karawang dan Subang yang menjadi tempat bertumbuhnya sektor industri, namun di sisi lain memiliki peran sebagai kawasan Lumbung Padi Nasional. Selain itu, dilihat pula bagaimana kondisi dukungan modal sosial terhadap kolektifitas dalam mewujudkan kinerja produksi perrtanian ditinjau dari kulitas, kapasitas, dan kontinuitas produksi yang dihasilkan

Penelitian ini terdiri dari lima bagian utama. Bagian pertama membahas latar belakang dan tujuan penelitian. Bagian kedua membahas tinjauan literature terkait kolektivitas usaha tani sebagai basis pengembangan ekonomi lokal. Bagian ketiga membahas metodologi penelitian. Bagian keempat berisi analisis pengaruh modal sosial terhadap kolektifitas usaha tani di Kabupaten Subang dan Karawang. Bagian terakhir berisi kesimpulan.

2. Kolektivitas Usaha Tani Sebagai Basis Pengembangan Ekonomi Lokal

2.1 Kolektifitas Usaha Tani dalam Pengembangan Ekonomi Lokal dan Keberlanjutan Pertanian

Perkembangan suatu wilayah melibatkan hubungan dan interaksi antar kegiatan industri hulu dan hilir di dalam sistem perekonomian secara luas. Wilayah yang memiliki komoditas ekspor andalan bernilai tinggi dan memiliki keterkaitan yang tinggi dengan sektor ekonomi lainnya akan berpotensi besar dalam

pengembangan ekonomi lokal sekaligus dapat meminimalisasi terjadinya kebocoran. Dalam konteks pengembangan wilayah di Indonesia yang merupakan negara agraris, sektor yang dinilai dapat memberikan peranan positif dalam pengembangan ekonomi lokal di Indonesia adalah sektor pertanian (Rizal, 2003). Sektor pertanian tidak hanya dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sehingga mampu mengurangi angka kemiskinan di perdesaan (Mubyarto, 1995), tapi juga akan mendorong masuknya investasi ke wilayah perdesaan. Oleh karennaya, dapat disimpulkan bahwa peran pertanian dapat menjadi sumber daya utama dalam pengembangan ekonomi lokal, khususnya di wilayah perdesaan.

Namun, hal yang menjadi perhatian besar adalah hingga saat ini sektor pertanian di Indonesia belum mampu berdaya saing dalam dunia bisnis nasional maupun global yang merupakan awal dari upaya pengembangan ekonomi lokal. Banyaknya petani gurem di Indonesia dengan penguasaan lahan yang kecil serta pola manajemen yang individual dan tradisional menyebabkan usaha tani di Indonesia tidak mencapai skala ekonomi yang diinginkan (Setiawan, 2008). Keterkaitan dengan sektor ekonomi lainnya menjadi sulit dilakukan karena usaha tani yang ada tidak memiliki kontinuitas, kualitas, dan kuantitas seperti yang diharapkan oleh pasar modern (Rakhma, 2010). Akibatnya, petani di Indonesia terus berkubang dalam jeratan kemiskinan dan perekonomian perdesaan tidak berkembang. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menerapkan suatu kerja sama (kooperatif) antar petani dalam pengelolaan usaha tani dengan mengubah struktur manajemen usaha tani dari yang semua individual menjadi manajemen bersama. Kerja sama tersebut akan membuat usaha tani menjadi lebih efisien dan memiliki akses ke pasar yang lebih luas (Yusdja dkk, 2004 dan Akhmad, 2007). Penggabungan unit-unit ekonomi ini juga akan memberikan hasil yang lebih besar, lebih baik, atau lebih bermutu dibandingkan jika dilaksanakan secara terpisah (Mutis (1992) dalam Rizal (2003)). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kolektifitas usaha tani akan mampu mendukung pengembangan wilayah, khususnya di wilayah perdesaan. Kolektifitas mampu membuat usaha tani Indonesia yang didominasi oleh petani gurem berlahan kecil mencapai skala ekonomi yang diharapkan oleh pasar modern sehingga dapat berdaya saing dan mendorong masuknya investasi ke wilayah perdesaan.

2.2 Sistem Agribisnis

Untuk membuat produk pertanian mampu berdaya saing dalam pasar modern, petani harus dapat meninggalkan pola pengelolaan yang subsisten dan beralih menuju agricultural enterpreneur (Saragih, 2009). Pada konsep ini, dalam menjalankan usaha taninya, petani seharusnya tidak lagi berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sendiri, tetapi untuk memperoleh profit sebesar-besarnya. Konsep agricultural entrepreneur atau selanjutnya disebut dengan agribisnis, merupakan pengembangan industri-industri yang mengolah hasil pertanian dan mengembangkan industriindustri hulu pertanian yang secara keseluruhan dikenal sebagai pembangunan sistem agribisnis (Saragih, 2009). Sistem agribisnis tidak sama dengan sektor pertanian. Sistem agribisnis jauh lebih luas daripada pengertian pertanian yang dikenal selama ini. Soeharjo (1987) dalam Hernanto (1999) menyatakan bahwa agribisnis (bisnis pertanian) mencakup semua kegiatan mulai dari pengadaan sarana produksi sampai pada tata niaga produk pertanian yang dihasilkan usaha tani atau olahannya.

Berdasarkan definisi-definisi mengenai subsistem agribisnis, dapat disimpulkan bahwa

secara umum sistem agribisnis terdiri dari empat subsistem, yaitu:

  • a. Subsistem Produksi, terdiri dari kegiatan farm supplies atau penyediaan sarana produksi pertanian, pelaksanaan budidaya pertanian (on farm), hingga proses produksi hasil-hasil pertanian.
  • b. Subsistem Pengolahan, mengolah produk pertanian primer menjadi produk bernilai tambah hingga siap diterima konsumen
  • c. Subsistem Pemasaran, meliputi kegiatan/usaha yang terkait dalam proses penyampaian barang dari produsen ke konsumen
  • d. Subsistem Pendukung/Penunjang, yang meliputi kegiatan/usaha yang mendukung seluruh atau sebagian dari empat subsistem agribisnis, seperti dalam hal investasi dan permodalan.

2.3 Konseptualisasi Usaha Tani Kolektif

Agar mampu bersaing di pasar modern, petani harus meninggalkan pola subsisten dan beralih menjadi petani yang memiliki paham entrepreuner atau dikenal dengan istilah agribisnis (Saragih, 2009). Berdasarkan subsistem yang ada dalam konsep agribisnis, maka kolektifitas yang dilakukan harus sesuai dengan masing-masing tahapan subsistem tersebut, yaitu kolektifitas produksi, kolektifitas pengolahan, dan kolektifitas pendukung (Hernanto, 1999; Saragih, 2000, dan Nuhung, 2003). Adapun konsep dari masing-masing subsistem tersebut dapat dilihat dalam Tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Konseptualisasi Kolektifitas Usaha Tani

KolektivitasDefinisiIndikator
ProduksiPenyediaan, penggunaan, danPengadaan saprotan secara kolektif
perawatan faktor produksi,Penggunaan saprotan secara bersama-sama
pengendalian hama penyakit, danPerawatan saprotan yang dimiliki dan digunakan bersama secara kolektif
pelaksanaan produksi secara kolektifKeikutsertaan dalam perencanaan produksi
(Akhmad, 2007; Yusdja dkk, 2004)Pelaksanaan produksi dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama
Pengendalian hama dilakukan secara serempak dengan kuantitas penanganan
yang sama
Kesediaan untuk menangani hama di luar lahan garapan
PengolahanKegiatan dari perontokan,Keikutsertaan dalam pengadaan teknologi pengolahan secara kolektif
pembersihan, pengeringan,Penggunaan teknologi pengolahan secara kolektif
penyimpanan, hingga penggilinganPerawatan alat pengolahan yang dimiliki bersama secara kolektif
padi secara kolektif menggunakan
mesin mekanik modern (Purwanto,
2005).
PemasaranUpaya pemasaran secara kolektifKeikutsertaan dalam pemasaran kolektif
melalui suatu wadah lembaga atauKepemilikan akses langsung terhadap konsumen dan informasi harga pasar
sejenisnya untuk mengkis jaringPenitipan hasil panen kepada pengelola yang terpercaya/berkredibilitas
jaring tengkulak (Hellin dkk (2007)
dan Akhmad (2007))
PendukungPengumpulan atau pemenuhan modalKeikutsertaan dalam pemasaran kolektif
secara kolektif melalui wadah simpanKesediaan dalam menitipkan uangnya kepada pihak pengelola untuk diputar
pinjam bagi petani (Akhmad, 2007)kembali
Keteraturan dalam membayar tabungan dan pinjaman

Sumber: Hasil Sintesis, 2012

2.4 Konseptualisasi Modal Sosial

Banyaknya pertentangan mengenai defnisi modal sosial membuat konseptualisasi mengenai hal tersebut dapat disesuaikan dengan konteks penelitian yang sedang dilakukan, asalkan dengan terlebih dahulu membahas

konsep, dasar intelektual, keragaman aplikasi, dan berbagai macam definisi yang dikemukakan para ahli (Claridge, 2004). Berdasarkan hal tersebut, definisi modal sosial dalam penelitian ini dirumuskan dengan mengkaji definisi-definisi modal sosial berikut komponen-komponennya dari Coleman (1990),

Putnam (1993), Fukuyama (1995), Cox (1995), Cohen&Prusak (2001), Lin (2001), Carpenter (2004), dan Hasbullah (2006). Modal sosial kemudian didefinisikan sebagai sumber daya yang muncul dari adanya relasi sosial dan dapat digunakan sebagai perekat sosial untuk menjaga kesatuan anggota kelompok dalam mencapai tujuan bersama. Ditopang oleh adanya kepercayaan dan norma sosial yang dijadikan acuan bersama dalam bersikap, bertindak, dan berhubungan satu sama lain.

Berdasarkan definisi tersebut, maka dapat dikatakan modal sosial terdiri dari beberapa komponen, yaitu Relasi Sosial, Kepercayaan, dan Norma. Relasi sosial yang dimaksud antara lain partisipasi, kerja sama, saling peduli, dan hubungan timbal balik. Berikut merupakan konsep dari masing-masing komponen tersebut

Tabel 2. Konseptualisasi Modal Sosial

Komponen Modal SosialDefinisiParameter
PartisipasiKeikutsertaan/keterlibatan seseorang dalamKeikutsertaan dalam program/kegiatan yang ada
Keikutsertaan berdasarkan kesadaran dan tanpa
kegiatan tertentu secara mental dan
emosionalpaksaan/tekanan pihak tertentu (bersifat sukarela)
KepercayaanDorongan/perasaan positif untuk berbuatHubungan kekerabatan yang erat satu sama lain
baik kepada orang lain dengan atau tanpaKetiadaan akan perasaan trauma terhadap orang lain
mengharapkan balasan. Dipengaruhi olehKemauan untuk meminjamkan uang kepada orang lain
pengetahuan/pengalaman terhadap orang lain
Keberadaan suatu perasaan aman untuk menitipkan suatu
dan keyakinan akan adanya goodwill dalamamanah kepada orang lain
diri setiap individu
KerjasamaKemauan dan kemampuan untuk bergerakKesadaran akan adanya tujuan yang perlu dicapai bersama
bersama mencapai tujuan bersama secaraKeterbukaan terhadap kondisi satu sama lain
kooperatif dan menjadi bagian dariKesediaan untuk bertukar informasi/pengalaman satu sama
kelompok, bukan terpisah atau salinglain
berkompetensiPemahaman akan perannya di dalam kelompok
Kemampuan untuk menjaga komitmen di dalam kelompok
Saling PeduliPerhatian terhadap keadaan sekitar danPengetahuan tentang keadaan kerabat di sekitarnya yang
diwujudkan ke dalam bentuk tingkah lakusedang mengalami kesulitan
Keinginan yang kuat untuk membantu meringankan beban
orang lain
Hubungan Timbal BalikHubungan saling membalas kebaikan satuAdanya balasan terhadap suatu kebaikan seseorang, baik
sama lainberupa hal yang sama maupun berbeda secara sukarela
Adanya komunikasi dua arah antara pihak-pihak yang
berkomunikasi dan berlangsung tanpa tekanan

Sumber: Hasil Sintesis, 2012

Kepercayaan dan norma dalam modal sosial dianggap sebagai komponen sangat penting karena menopang hubungan relasi sosial yang ada. Dalam hal ini dapat diartikan jika tidak ada kepercayaan, maka hubungan relasi sosial yang ada tidak dapat dikatakan sebagai modal sosial.

Namun, norma sendiri tidak disertakan dalam penelitian ini karena norma menyangkut nilai budaya yang telah diturunkan dari sejak zaman nenek moyang dan melebur bersama masyarakat sehingga sifatnya menjadi sangat abstrak dan sulit untuk ditangkap gejalanya.

Untuk melihat bagaimana dukungan antara komponen-komponen modal sosial terhadap masing-masing subsistem kolektifitas usaha tani, maka disusunlah proposisi yang merupakan pernyataan bagaimana modal sosial dapat mendukung kolektfitas. Dalam hal ini, kolektifitas dianggap memerlukan masingmasing komponen modal sosial untuk keberjalannya yang akan dijelaskan dalam Tabel 3.

Tabel 3. Proposisi Hubungan Kolektifitas dan Modal Sosial

SubsistemModal Sosial yang Dibutuhkan
Partisipasi, kerja sama, saling peduli,
Produksikepercayaan
PengolahanPartisipasi, kerja sama, keeprcayaan
Kerja sama, saling peduli, hub. Timbal balik,
Pendukungkepercayaan

Sumber: Hasil Sintesis, 2012

3. Metode Penelitian

Proses pengumpulan data dilakukan melalui survei data primer. Survei data primer sendiri merupakan metode pengumpulan data secara langsung atau tatap muka antara peneliti dengan objek yang diteliti. Metode pengumpulan data secara primer dilakukan karena modal sosial termasuk ke dalam ranah fenomena sosial yang menyangkut hubungan atau interaksi antar masyarakat sehingga dibutuhkan adanya interaksi langsung antara peneliti dan objek yang diteliti. Alasan tersebut juga menjadi alasan digunakannya teknik wawancara mendalam (in-depth interview) dalam penelitian ini. Wawancara mendalam (in-depth interview) merupakan suatu teknik wawancara yang bertujuan untuk mengeksplorasi perspektif informan mengenai situasi tertentu. Teknik ini tepat digunakan ketika peneliti ingin menggali informasi rinci mengenai pikiran dan perilaku seseorang atau mengeksplorasi lebih banyak temuan (Boyce dan Neale, 2006). Dalam penelitian ini, informan sengaja dipilih untuk kepentingan atau tujuan tertentu. Teknis ini dikenal dengan istilah purposive sampling. Secara spesifik, informan yang diwawancarai ditelusuri dengan menggunakan metode snowball. Dalam metode snowball ini, informan yang akan diwawancarai merupakan rekomendasi dari informan sebelumnya. Dalam proses pengumpulan data yang dilakukan, proses snowball terus berlanjut hingga jawaban dirasa konvergen, kredibel, dan dapat dianggap "jenuh".

Metode analisis kualitatif dilakukan sebagai instrumen analisis dalam penelitian ini. Hal tersebut dikarenakan fokus penelitian berupa kondisi modal sosial yang ada di dalam masyarakat merupakan suatu kajian mengenai fenomena- fenomena sosial yang membutuhkan analisis mendalam dan hubungan yang luwes antara peneliti dan responden. Sugiyono (2009) mengatakan bahwa metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek secara alamiah dimana peneliti bertindak sebagai instrumen kunci dan dapat memperoleh makna yang lebih mendalam dibandingkan hanya sekedar generalisasi.

4. Analisis

4.1 Kondisi Modal Sosial

Pada bagian ini akan membahas kondisi modal sosial yang terjadi di Kabupaten Karawang dan Kabupaten Subang. Modal sosial ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu relasi sosial yang memiliki komponen modal sosial partisipasi, kerja sama, saling peduli, dan hubungan timbal balik serta kepercayaan. Berikut adalah karakteristik modal sosial di dua kabupaten tersebut.

Tabel 4. Karakteristik Modal Sosial Masyarakat Pertanian

ParameterKarawangSubang
Partisipasi
Keikutsertaan dalam
program/kegiatan yang
ada
Keg. Ekonomi: Partisipasi dalam kegiatan ekonomi
hanya terbatas pada kegiatan-kegiatan pendukung
pertanian dan hanya dalam lingkup petani penggarap
lahan kecil atau kuli tani. Faktor kesibukan akibat
pekerjaan sampingan dan usia lanjut menghambat
tingkat partisipasi dalam kegiatan/program yang ada
Kegiatan Ekonomi: Faktor kemalasan, kesibukan akibat
pekerjaan sampingan, dan faktor usia petani yang sudah
memasuki usia lanjut menghambat tingkat partisipasi
dalam kegiatan/program yang ada
Keg. Sosial: Partisipasi tinggi dalam kegiatan-kegiatan
sosial kemasyarakatan, seperti pengadaan sarpras umum
Kegiatan Sosial: Petani berpartisipasi dalam kegiatan
sosial kemasyarakatan, terutama yang bersifat tradisi
tetapi lingkup partisipan semakin menyempit
Motivasi keikutsertaan
berdasarkan kesadaran
dan tanpa
Keg. Ekonomi: Dibutuhkan adanya insentif atau iming
iming tertentu untuk meningkatkan semangat partisipasi
petani
Kegiatan Ekonomi: Keikutsetaan harus didasari oleh
adanya iming-iming tertentu berupa makanan atau
bantuan pemerintah
paksaan/tekanan pihak
tertentu (bersifat
sukarela)
Keg. Sosial: Diikat oleh adanya tradisi atau budaya turun
temurun dan kebutuhan bersama akan sarana prasarana
Kegiatan sosial: Dilatarbelakangi oleh adanya suatu
tradisi turun temurun yang telah dilakukan bertahun
tahun
Kerja Sama
Kesadaran akan tujuan
yang perlu dicapai
bersama
Kegiatan Ekonomi: Hanya terjadi dalam lingkup
kegiatan tertentu, seperti kerja bakti saluran air. Belum
ada kesadaran dalam kolektifitas keseluruhan
Kegiatan Ekonomi: Bentuk kerja sama hanya terjadi
pada kegiatan "Goropyok", itupun dengan jumlah
partisipan yang dinilai semakin menurun.
Kegiatan Sosial: Kesadaran masih ada ditunjukkan dari
masih adanya partisipasi dalam kegiatan sosial dan
motivasi menjalankannya
Kegiatan Sosial: Sifatnya lebih kepada kegiatan-kegiatan
tradisi, seperti "Gantangan', "Ngadeugkeun Bumi", dan
"Hajat Bumi".
Keterbukaan terhadap
kondisi satu sama lain
Terbatas pada hal-hal seputar teknik budidaya pertanian.
Adanya perasaan malu untuk bercerita kepada petani
lainnya jika memiliki kesulitan akan hal keuangan atau
permodalan
Terbatas pada hal-hal seputar teknik budidaya pertanian.
Adanya perasaan malu untuk bercerita kepada petani
lainnya jika memiliki kesulitan akan hal keuangan atau
permodalan.
Kesediaan untuk
bertukar
informasi/pengalaman
satu sama lain
Terdapat kesediaan bertukar informasi yang baik antara
para petani seputar teknik budidaya pertanian secara
informal
Terdapat kesediaan bertukar informasi yang baik antara
para petani seputar teknik budidaya pertanian, program
program baru yang ada dari Dinas Pertanian dan ilmu
ilmu baru yang diperoleh secara informa
Pemahaman akan
perannya di dalam
kelompok
Kegiatan Ekonomi: Banyak perbuatan tidak
bertanggungjawab yang pada akhirnya merugikan
petani-petani lain secara tidak langsung.
Kegiatan Ekonomi: Tidak memiliki pemahaman yang
baik dilihat dari menurunnya partisipan dalam kegiatan,
adanya perbuatan tidak bertanggungjawab yang
merugikan petani lain, dan keinginan bergerak bersama
yang muncul jika terdapat bantuan pemerintah saja.
Kegiatan Sosial: Kegiatan-kegiatan sosial berjalan
dengan konsisten selama bertahun-tahun tanpa ada
permasalahan berarti
Kegiatan Sosial: Pemahaman akan perannya di dalam
kelompok terjadi dalam kegiatan-kegiatan sosial, namun
hanya diikat oleh tradisi semata
Kemampuan untuk
menjaga komitmen di
dalam kelompok
Kegiatan Ekonomi: Menurunnya partisipasi petani
semenjak pergantian PPL dan adanya sikap ingin
menang sendiri dalam perolehan air.
Kegiatan Sosial: Konsistensi pada pelaksanaan kegiatan
Kegiatan Ekonomi: Kurangnya partisipasi dalam
kegiatan kelompok tani yang sebenarnya merupakan
kepentingan bersama.
Kegiatan Sosial: Kegiatan sosial mulai berjalan tidak
kegiatan sosial yang adakonsisten
Saling Peduli
Pengetahuan tentang
keadaan kerabat di
sekitarnya yang sedang
mengalami kesulitan
Keinginan yang kuat
untuk membantu
meringankan beban
Adanya pengetahuan tentang keadaan kerabat
disekitarnya yang sedang mengalami kesulitan
berdasarkan informasi antar tetangga. Hal tersebut
menandakan adanya komunikasi yang baik antar warga.
Keinginan untuk membantu hanya terbatas pada hal-hal
tertentu saja, seperti bantuan tenaga atau bahan
makanan, terutama untuk orang yang sakit. Keinginan
Adanya pengetahuan tentang keadaan kerabat
disekitarnya yang sedang mengalami kesulitan
berdasarkan informasi antar tetangga. Hal tersebut
menandakan adanya komunikasi yang baik antar warga.
Telah berkurangnya budaya menjenguk warga yang sakit
dan tidak adanya inisiatif warga untuk bergotongroyong
membantu tetangga yang sangat miskin atau sedang
orang lainmembantu dalam hal finansial dapat dikatakan tidak ada.mengalami kesulitan lainnya
Hubungan Timbal Balik
Adanya balasan
Adanya balasan terhadap suatu kebaikan seseorang, baikAdanya balasan hal yang sama secara sukarela dalam
terhadap kebaikan
seseorang, baik berupa
hal yang sama maupun
berbeda secara
sukarela
antar petani ataupun antar warga secara keseluruhan.
Hal-hal yang merusak hubungan tersebut biasanya
disebabkan oleh kegiatan hutang-piutang yang akhirnya
sering membuat hubungan antar warga menjadi
renggang.
kegiatan ekonomi dan sosial. Hal-hal yang merusak
hubungan tersebut adalah adanya watak untuk tidak
mengembalikan pinjaman uang di kalangan masyarakat
petani
Adanya komunikasi
dua arah antara pihak
pihak yang
berkomunikasi dan
berlangsung tanpa
tekanan
Konflik tidak pernah dibiarkan hingga berlarut-larut dan
berusaha diselesaikan dengan damai. Komunikasi yang
berlangsung dengan tekanan terjadi dalam lingkup
pemilik-penggarap lahan milik Pak H. Enoh
Petani biasa menyampaikan keluhan atau uneg-uneg
dengan menggerutu walaupun konflik-konflik biasanya
dapat diatasi dengan cara damai sehingga tidak berlarut
larut.
Kepercayaan
ParameterKarawangSubang
Hubungan kekerabatanMasyarakat petani saling mengenal satu sama lain,Masyarakat petani saling mengenal satu sama lain,
yang erat satu samaterutama karena jarak sawah dan tempat tinggal yangterutama karena jarak sawah dan tempat tinggal yang
lainberdekatan dan masih memiliki hubungan pertalianberdekatan dan masih memiliki hubungan pertalian darah
darah
Ketiadaan akanMemiliki trauma finansial besar karena manajemenKeberadaan trauma disebabkan oleh beberapa hal, yaitu
perasaan traumaKUD/KUT/ BIMAS pada masa lalu dan perilaku sulitbangkrutnya KUD/KUT pada masa lalu, konflik
terhadap orang lainmengembalikan pinjaman uang, terutama uang bantuanpinjaman uang yang tidak kunjung dikembalikan, sawah
dari pemerintahyang digadaikan secara sepihak oleh penggarap, dan
gabah basah yang dibawa kabur oleh tengkulak.
Kemauan untukHanya kepada orang-orang terdekat, biasanya dalamHanya berlangsung dalam lingkup keluarga atau kerabat
meminjamkanlingkup keluarga dekat. Dikarenakan perilaku sulitsaja atau kepada pemilik kios saprotan dan dapat dibayar
uang/barang kepadamengembalikan hutang dan alat-alat pertanian yangketika panen.
orang lainsering rusak setelah dipinjam
Keberadaan suatuTidak terjadi jika menyangkut urusan finansialTerjadi kecurigaan terhadap orang-orang yang menjabat
perasaan aman untukdikarenakan adanya trauma di masa lalu dan kecurigaansebagai aparat desa atau pemimpin kelompok tani.
menitipkan suatuterhadap pihak-pihak yang dahulu dijadikan panutan.Kepercayaan hanya diberikan kepada orang-orang yang
amanah kepada orangKepercayaan hanya diberikan kepada orang-orang yangtergolong berada.
laintergolong berada.

Sumber: Hasil Analisis, 2012

Secara umum, kondisi relasi sosial di Kabupaten Karawang dinilai sedikit lebih baik dibandingkan di Kabupaten Subang, tetapi mayoritas hanya terjadi dalam hal sosial kemasyarakatan, bukan kegiatan ekonomi. Dalam hal ekonomi, masyarakat petani di Kabupaten Karawang masih melakukan kerja bakti untuk membersihkan saluran air karena menyadari adanya kepentingan bersama dan perasaan kasihan atas pekerjaan Ulu-Ulu yang sangat berat. Hal tersebut berbeda dengan yang terjadi di Kabupaten Subang dimana kegiatan tersebut tidak ada karena masyarakat petani memilih menyerahkan urusan tersebut kepada Ulu-Ulu dengan alasan telah membayar dengan harga yang pantas. Kondisi yang berbeda juga ditunjukkan dalam kegiatan sosial yang ada. Di Kabupaten Karawang, masyarakat petani masih memiliki kepedulian terhadap kesulitan orang lain. Walaupun tidak memberikan bantuan secara finansial, tetapi masyarakat di sana masih mau bergerak untuk membantu janda miskin atau meminjamkan mobilnya untuk mengantar jemput orang yang sakit tanpa meminta imbalan. Masyarakat juga masih bergotong royong untuk mendirikan bangunan masjid atau jalan desa dengan melakukan iuran secara swadaya tanpa bantuan pemerintah. Sebaliknya, di Kabupaten Subang, kegiatankegiatan tersebut sudah tidak terjadi lagi. Janda

miskin dibiarkan hidup meminta-minta tanpa ada inisiatif warga setempat untuk membantu tanpa diminta, orang yang sakit pun jarang dibantu baik secara tenaga ataupun finansial. Kegiatan-kegiatan sosial yang ada pun hanya sebatas pada kegiatan tradisi, sedangkan pada kegiatan pembangunan sarana prasarana umum, masyarakat pertani di Kabupaten Subang lebih banyak mengandalkan bantuan pemerintah.

Perbedaan kondisi relasi sosial tersebut dikarenakan terdapat faktor pengikis dan penumbuh modal sosial yang ada di kedua wilayah studi. Di Kabupaten Karawang, kondisi modal sosial yang cenderung berbeda dalam artian positif tersebut dikarenakan adanya faktor kepemimpinan aparat atau tokoh masyarakat setempat yang dinilai cukup baik dalam hal kinerja dan perilaku sehingga masyarakat percaya dan lebih mudah dimobilisasi untuk kegiatan-kegiatan sosial. Selain faktor kepemimpinan, aksesibilitas di Kabupaten Karawang yang cenderung lebih terpencil membuat aliran informasi antar individu menjadi lebih erat dan adanya kesamaan kebutuhan untuk mengakses sumber daya yang dibutuhkan. Hal tersebut membuat masyarakat petani di daerah tersebut cenderung lebih solid dalam hal-hal sosial kemasyarakatan dibandingkan dengan di Kabupaten Subang yang aksesibilitasnya cenderung sangat mudah. Di Kabupaten Subang, adanya aksesibilitas yang baik menjadikan masyarakat setempat sangat mudah menerima budaya-budaya baru, terutama yang terkait dengan modernisasi, seperti televisi dan budaya monetis. Hal tersebut membuat petani cenderung lebih malas untuk berpartisipasi dalam program/kegiatan yang ada dan lebih individualistis dibandingkan dengan masyarakat petani di Kabupaten Karawang.

Dalam hal kepercayaan, terdapat persamaan antara kedua wilayah studi. Persamaan tersebut dikarenakan adanya penyebab trauma yang sama terjadi di masyarakat petani Kabupaten Karawang dan Subang. Mayoritas, trauma disebabkan karena adanya kasus kerugian finansial KUD di masa lalu dan perilaku kurang bertanggungjawab petani yang malah merugikan petani lainnya dan akhirnya membuat hubungan menjadi renggang. Adanya trauma tersebut membuat petani sulit dilibatkan dalam kegiatan atau program yang melibatkan investasi finansial. Rusaknya kepercayaan satu sama lain tersebut juga pada akhirnya membatasi keberjalanan relasi sosial yang ada di kedua wilayah studi. Adanya partisipasi dan kerja sama dalam kegiatan ekonomi di kedua wilayah studi semata-mata hanya dilandaskan pada keinginan untuk mempertahankan keberjalanan usaha taninya, sedangkan dalam kegiatan sosial hanya dilandaskan oleh adanya tradisi semata dan kebutuhan bersama yang sangat mendesak, bukan dari adanya kesadaran akan pencapaian tujuan bersama. Tidak adanya kepercayaan juga menyebabkan keinginan untuk membantu orang lain sebagai cerminan dari perasaan peduli satu sama lain seakan-akan menjadi terbatas dimana masyarakat petani tidak akan memberikan bantuan secara finansial. Hubungan timbal balik yang ada pada dasarnya juga hanya berlaku dalam konteks kegiatan-kegiatan tradisi semata.

Kondisi modal sosial di Kabupaten Karawang dan Subang yang ternyata tidak jauh berbeda menandakan bahwa pesatnya industrialisasi tidak mempengaruhi kondisi modal sosial di suatu wilayah menjadi lebih buruk. Hal ini terlihat dari kondisi modal sosial di Kabupaten Karawang yang ternyata tidak jauh berbeda dengan kondisi di Kabupaten Subang walaupun industri yang masuk ke wilayah mereka cenderung jauh lebih pesat. Hal-hal yang mempengaruhi kondisi modal sosial di kedua wilayah studi lebih dikarenakan kondisi nilainilai sosial yang dianut oleh masyarakat itu sendiri.

4.2 Kondisi Kolektivitas Usaha Tani

Pada dasarnya, kolektifitas yang ada di kedua wilayah studi dapat dikatakan tidak terjadi. Petani menjalankan usaha taninya secara individual, sejak pemenuhan modal, proses produksi, hingga pemasaran. Pada proses produksi dan pemenuhan modal, individualitas petani menyebabkan peningkatan kinerja pertanian tidak merata, petani juga tidak melakukan kolektiftas pengolahan dan pemasaran karena masih adanya pola pikir subsisten dan tradisional sehingga petani kesulitan menerima teknologi atau gagasan baru dalam menjalankan usaha taninya. Petani juga masih menjual hasil panen kepada tengkulak sehingga mata rantai yang terjadi tidak efisien. Secara umum, kondisi kolektifitas di Kabupaten Subang dan Karawang tidak jauh berbeda. Perbedaan hanya terjadi pada kolektifitas produksi dimana masyarakat petani di Kabupaten Karawang masih melakukan kerja bakti untuk membersihkan saluran air setiap menjelang awal tanam. Hal tersebut dikarenakan adanya kesadaran akan kepentingan bersama dan perasaan kasihan akan beban pekerjaan Ulu-Ulu yang terlampau berat. Selebihnya, kondisi kolektifitas di kedua

wilayah studi dapat dikatakan sama atau tidak memiliki perbedaan berarti.

Tabel 5. Karakteristik Kolektivitas Usaha Tani

ParameterKarawangSubang
Kolektifitas Produksi
Keikutsertaan dalamTidak ada keikutsertaan berdasarkan inisiatif masingTidak ada keikutsertaan berdasarkan inisiatif masing
program pengadaanmasing petani. Partisipasi dilakukan hanya jikamasing petani. Partisipasi dilakukan hanya jika
saprotan secara kolektifterdapat bantuan modal atau saprotan dari pemerintahterdapat bantuan modal atau saprotan dari pemerintah
Penggunaan saprotan secara
bersama-sama
Tidak terdapat bentuk kolektifitas penyediaan saprotan
aatu faktor produksi. Penggunaan saprotan bersama
Tidak terdapat bentuk kolektifitas penyediaan saprotan
atau faktor produksi. Penggunaan saprotan bersama
sama pernah ada pada masa lalu dan tidak berjalansama pernah ada pada masa lalu dan tidak berjalan
dengan baik dan kerap terjadi konflik rebutan air antardengan baik dan kerap terjadi konflik rebutan air antar
petanipetani
Perawatan saprotan yangTerdapat kerja bakti membersihkan saluran air secaraTidak ada bentuk perawatan faktor produksi secara
dimiliki dan digunakanrutin. Petani lebih memilih untuk mengusahakankolektif. Kerja bakti membersihkan saluran air tidak
bersama secara kolektifsaprotan secara individual karena saprotan bersamadilakukan dengan alasan itu hanya tugas ulu-ulu yang
yang pernah diberikan pemerintah rusak karena tidaktelah dibayar dengan harga yang pantas.
dirawat dengan baik
Keikutsertaan dalamWaktu produksi dan jenis benih disebarkan secaraWaktu produksi dan jenis benih disebarkan secara
perencanaan produksiinformal/dari mulut ke mulut antar petaniinformal/dari mulut ke mulut antar petani.
Keseragaman jenis benih yang akan ditanam hanya
dilakukan jika terdapat bantuan benih dari pemerintah.
Pelaksanaan produksiTidak dilakukan secara kolektif/serempak karenaTidak dilakukan secara kolektif/serempak karena
dilakukan berdasarkankurangnya tenaga kerja, traktor, dan preferensi petanikurangnya tenaga kerja, traktor, dan preferensi petani
kesepakatan bersamayang berbeda-beda terhadap jenis benih yang akanyang berbeda-beda terhadap jenis benih yang akan
ditanam.ditanam.
Pengendalian hamaTidak dilakukan secara serempak karena kondisiPartisipan dalam Goropyokan semakin menurun.
dilakukan secara serempakkeuangan petani yang berbeda-beda untuk membeliBeberapa petani menggunakan alat proteksi tambahan
dengan kuantitasobat yang memadai.berupa plastik. Pengendalian hama non tikus dilakukan
penanganan yang samamasing-masing sesuai dengan kemampuan petani
dalam membeli obat hama
Kesediaan untuk menanganiTidak ada karena menganggap urusan pertanian adalahTidak ada karena menganggap urusan pertanian adalah
hama di luar lahan garapanurusan masing-masing petani untuk menanganinyaurusan masing-masing petani untuk menanganinya.
Kolektifitas Pengolahan
Keikutsertaan dalamPetani enggan ikut serta karena kapasitas kemampuanPetani enggan ikut serta karena kapasitas kemampuan
pengadaan teknologipetani yang masih rendah, pola pikir yang masihpetani yang masih rendah, pola pikir yang masih
pengolahan secara kolektifsubsisten dan tradisional, serta keberadaan modal yangsubsisten dan tradisional, serta keberadaan modal yang
tidak memungkinkan untuk membeli alat-alattidak memungkinkan untuk membeli alat-alat
pengolahan pasca panen. Faktor usia petani yangpengolahan pasca panen.
sudah lanjut juga menjadi penghambat petani untuk
melakukan inovasi dalam kegiatan usahanya
Penggunaan teknologiTidak ada penggunaan teknologi pengolahan secaraTidak ada penggunaan teknologi pengolahan secara
pengolahan secara kolektifkolektif. Penanganan pasca panen dilakukan masingkolektif. Penanganan pasca panen dilakukan masing
masing dengan cara tradisional.masing dengan cara tradisional.
Perawatan alat pengolahanTidak ada karena memang tidak ada bentukTidak ada karena memang tidak ada bentuk
yang dimiliki bersamakolektifitas pengolahan apapunkolektifitas pengolahan apapun
secara kolektif
Kolektifitas Pemasaran
Keikutsertaan dalamTidak ada upaya pemasaran secara kolektif melaluiTidak ada upaya pemasaran secara kolektif melalui
pemasaran kolektifsuatu wadah lembaga atau sejenisnya disebabkan olehsuatu wadah lembaga atau sejenisnya disebabkan oleh
belum adanya pemahaman atau kesadaran dan polabelum adanya pemahaman atau kesadaran dan adanya
pikir yang masih tradisional.trauma.
Kepemilikan akses langsungTidak adanya akses yang memadai tentang hargaBelum memiliki akses langsung terhadap konsumen,
terhadap konsumen danproduksi pertanian. Informasi mengenai harga pasarmasih melalui calo dan tengkulak. Tidak adanya akses
informasi harga pasarhanya diketahui petani secara informal melaluiyang memadai tentang harga produksi pertanian.
pertukaran informasi antar petani.Informasi mengenai harga pasar hanya diketahui
petani secara informal melalui pertukaran informasi
antar petani.
Penitipan hasil panenTidak ada penitipan hasil panen kepada suatuTidak ada penitipan hasil panen kepada suatu
kepada pengelola yangpengelola lembaga dan sejenisnya. Hasil panenpengelola lembaga dan sejenisnya. Hasil panen
terpercaya/berkredibilitaslangsung dijual kepada tengkulak.langsung dijual kepada tengkulak.
Kolektifitas Pendukung
Keikutsertaan dalamTidak ada bentuk simpan pinjamTidak ada bentuk simpan pinjam
program simpan pinjam
secara sukarela
Kesediaan dalamTidak ada karena kurangnya kesadaran serta rasaTidak ada karena kurangnya kesadaran serta rasa
menitipkan uangnya kepadasaling percaya antara petani kepada pengelola dansaling percaya antara petani kepada pengelola dan
sebaliknya. Wadah sejenis simpan pinjam ada dalamsebaliknya. Wadah sejenis simpan pinjam ada dalam
ParameterKarawangSubang
pihak pengelola untukbeberapa dusun, tetapi hanya untuk kebutuhanbeberapa dusun, tetapi hanya untuk kebutuhan
diputar kembalikonsumtif, bukan untuk memajukan pertaniankonsumtif, bukan untuk memajukan pertanian
Keteraturan dalamPetani terkenal sering tidak mengembalikan pinjaman,Petani terkenal sering tidak mengembalikan pinjaman,
membayar tabungan danterutama pinjaman yang berasal dari program bantuanterutama pinjaman yang berasal dari program bantuan
pinjamanpemerintah.pemerintah

Sumber: Hasil Analisis, 2012

4.3 Dukungan Modal Sosial Terhadap Kolektivitas Usaha Tani dan Keberlanjutan Pertanian

Kondisi kolektifitas di kedua wilayah studi dinilai sama padahal terdapat kondisi modal sosial yang berbeda. Hal tersebut dikarenakan adanya faktor kepercayaan yang sama di kedua wilayah studi. Jika merujuk pada proses pembentukkan modal sosial yang telah dijelaskan sebelumnya mengenai Kolektifitas sebagai Basis Pengembangan Ekonomi Lokal, pembentukkan modal sosial ditopang oleh adanya kepercayaan dan norma yang berlaku di kalangan masyarakat. Dalam hal ini, kondisi kepercayaan di kedua wilayah studi dinilai sama dimana masyarakat memiliki trauma besar dalam hal investasi finansial. Sedangkan di satu sisi, hampir seluruh tahapan subsistem kolektifitas sangat membutuhkan kepercayaan berupa investasi finansial secara kolektif, dari mulai pengadaan saprotan hingga tabungan simpan pinjam bersama. Ketika trauma tersebut dibenturkan dengan program yang mengharuskan petani melakukan investasi untuk memulai kolektifitas, maka otomatis kolektifitas juga menjadi sulit untuk diwujudkan.

Adannya faktor kepemimpinan atau ketokohan memang seharusnya dapat membuat kondisi kolektifitas yang berbeda, tetapi sayangnya peran kepemimpinan dan ketokohan tersebut belum diarahkan untuk program/kegiatan yang sifatnya memajukan pertanian. Arisan-arisan atau iuran yang dilakukan dan diinisiasi oleh tokoh-tokoh di Kabupaten Karawang hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan konsumtif dan bukan untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang pertanian sehingga kondisi kolektifitas di kedua wilayah studi tetaplah sama. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan modal sosial dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan tidak berpengaruh terhadap kegiatan-kegiatan ekonomi pertanian yang ada. Kondisi kolektifitas yang dapat dikatakan tidak ada membuat pendapatan petani selalu rendah. Hal tersebut membuat pertanian dianggap tidak dapat menjadi mata pencaharian yang dapat menyejahterakan keluarga. Bagi petani golongan tua yang sudah memasuki usia lanjut, pertanian dipandang sebagai way of life yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka. Namun, bagi petani muda, pertanian dianggap tidak lagi dapat menyejahterakan kehidupan keluarga sehingga mereka harus mencari pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan. Lebih buruk lagi, anak-anak petani yang sudah memasuki usia produktif untuk bekerja tidak mau meneruskan usaha tani orang tuanya. Menjadi petani dianggap sebagai pekerjaan kotor yang berat dengan pendapatan tidak seberapa sehingga mereka lebih memilih untuk bekerja di sektor non pertanian, seperti menjadi buruh pabrik atau pekerjaan lainnya yang menjanjikan kehidupan lebih baik.

Tabel 6. Dukungan Modal Sosial dalam Kolektivitas Usaha Tani

NoProposisiKarawangSubangKesimpulan
1Partisipasi, kerja sama,
saling peduli, kepercayaan
akan mendukung
kolektifitas Produksi

Terdapat kerjasama dan paritsipasi
dalam kegiatan sosial. Tolong
menolong hanya dalam bentuk
tenaga. Adanya trauma membatasi
relasi sosial

Kolektifitas produksi tidak ada

Kerjasama dan paritsipasi dalam
kegiatan sosial menurun. Tidak
ada bentuk tolong menolong.
Adanya trauma membatasi relasi
sosial

Kolektifitas produksi tidak ada
Proses produksi dilakukan
oleh maisng-maisng petani.
Kolektifitas hanya ada jika
terdapat bantuan pemerintah
2Partisipasi, kerja sama,
keeprcayaan akan
mendukung kolektifitas
pengolahan

Terdapat kerjasama dan paritsipasi
dalam kegiatan sosial. Adanya
trauma membatasi relasi sosial di
bidang ekonomi

Kolektifitas pengolahan tidak ada

Kerjasama dan paritsipasi dalam
kegiatan sosial menurun.
Adanya trauma membatasi relasi
sosial di bidang ekonomi

Kolektifitas pengolahan tidak
ada
Tidak ada bentuk
pengolahan kolektif. Petani
masih menggunakan cara
tradisional, nilai tambah
produk kecil
3Kerja sama, saling peduli,
hub. Timbal balik,
kepercayaan akan
mendukung kolektifitas
pendukung

Adanya trauma membatasi relasi
sosial di bidang ekonomi.Petani
tidak mau terlibat dalam

Kolektifitas pendukung tidak ada

Adanya trauma membatasi relasi
sosial di bidang ekonomi.Petani
tidak mau terlibat dalam
investasi finansial

Kolektifitas pendukung tidak
ada
Tidak ada bentuk tabungan
kolektif. Petani bergngtung
kepada rentenir

Sumber: Hasil Analisis, 2012

5. Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal yang ada di kedua wilayah studi tidak dapat mendukung kinerja kegiatan pertanian. Adanya trauma finansial di masa lalu dan kecurigaan satu sama lain membuat petani enggan untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan kolektif pertanian, terutama yang berkaitan dengan investasi keuangan. Di satu sisi, setiap tahapan kolektifitas, dari produksi hingga pendukung membutuhkan adanya kepercayaan para petani karena menyangkut investasi finansial. Adanya trauma tersebut membuat hubungan relasi sosial berupa partisipasi dan kerja sama dalam kegiatan sosial di kedua wilayah studi tidak memiliki pengaruh terhadap keberlangungan kegiatan ekonomi. Petani pun menjadi sulit untuk dimobilisasi kepada gerakan-gerakan yang sifatnya memajukan pertanian. Pada akhirnya, ketiadaan kolektifitas usaha tani tersebut membuat produk pertanian tidak mampu bersaing di pasar modern dari segi kapasitas, kualitas, dan kontinuitas, pendapatan petani pun tetap rendah. Lebih buruk lagi, pertanian dianggap tidak dapat menjanjikan kehidupan lebih baik bagi para generasi muda masyarakat petani sehingga mereka lebih memilih untuk bekerja di sektor non pertanian.

Dikhawatirkan, petani akan semakin berpotensi menjual lahannya kepada sektor industri. yang menyebabkan alih guna lahan akan semakin pesat dan mengancam keberlanjutan kegiatan usaha tani.

Mempertimbangkan bahwa krisis kepercayaan menjadi pengikis modal sosial dan penghambat utama terwujudnya kolektifitas usaha tani, maka diperlukan suatu upaya untuk memperbaiki kondisi tersebut. Modal sosial bukan hal yang mudah untuk serta merta diperbaiki atau dibentuk secara tiba-tiba. Modal sosial terbentuk secara perlahan-lahan, bertahap, dan memerlukan jangka waktu lama. Oleh karena itu, rasanya tidak mungkin jika kita berharap dapat memperbaiki kondisi tersebut secara instan, apalagi jika berharap masyarakat petani dapat memperbaiki kondisi tersebut dengan sendirinya. Dengan demikian, dibutuhkan adanya gerakan atau dorongan dari pihak luar untuk membantu memperbaiki hal tersebut, terutama bagi para penyusun kebijakan di bidang pertanian. Hal pertama yang harus dilakukan adalah pemerintah harus dapat memperbaiki citra dan kredibilitas di mata para petani. Hal ini dilakukan agar program-program yang ada dapat memobilisasi petani dengan penuh antusiasme tanpa adanya

rasa tidak aman dalam diri masing-masing petani. Beberapa metode yang dapat dilakukan antara lain:

  • 1. Pengaktifan kembali badan-badan pemasaran yang dapat memberikan jaminan harga minimum yang stabil pada petani, bahkan lebih tinggi dibanding harga yang ditetapkan oleh tengkulak agar petani terhindar dari permainan harga oleh tengkulak
  • 2. Pengaktifan kembali Koperasi Unit Desa namun dengan revolusi sistem manajemen, yaitu memberlakukan manajemen pengelolaan yang transparan, adil, dan melibatkan partisipasi petani secara penuh
  • 3. Pemerintah sebaiknya memberlakukan sistem monitoring yang kontinyu dan cermat dalam setiap bantuan yang disalurkan untuk menghindari para ketua-ketua kelompok yang disinyalir menyalahgunakan bantuan pemerintah dan pada akhirnya menimbulkan rasa saling curiga di masyarakat. Pemerintah seharusnya tidak hanya memperhatikan output dari bantuan tersebut, tetapi juga harus mengetahui outcome yang dihasilkan. Artinya, pemerintah harus mengetahui apakah bantuan itu sampai ke masyarakat dan digunakan sebagaimana mestinya oleh para pengelola bantuan di tingkat lokal
  • 4. Mengaktifkan kembali peran PPL dan kader-kader pertanian desa sebagai perpanjangan tangan pemerintah. PPL seharusnya bukan hanya berperan sebagai tenaga penyuluh yang sifatnya hanya menangani masalah-masalah insidental seperti pengendalian hama saja, tetapi juga bertugas sebagai inisiator pembaharu masyarakat yang berperan dalam meningkatkan kapasitas petani. Oleh karena itu, dibutuhkan PPL yang komunikatif, aktif, mengayomi, dan berkomitmen dalam menjalankan tugasnya. Keberadaan dan keaktifan PPL sangat penting untuk dalam upaya memobilisasi petani mengingat

tingkat pendidikan dan kemandirian petani yang rendah membuat petani harus senantiasa dibimbing

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Dr. Dewi Sawitri Tjokropandojo, MT. untuk arahan dan bimbingan sehingga artikel ini dapat ditulis. Terima kasih juga kepada dua mitra bestari yang telah memberikan komentar yang berharga.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

11
Citations
1.25
FWCIfield-weighted
89th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20241
20221
20211
20206
20191
20161

Semantic Profile AI-classified research signals

level 1
Business 0.37
level 0
Humanities 0.33
level 1

References

  1. Akhmad, S. Membangun Gerakan Ekonomi Kolektif dalam Pertanian Berkelanjutan; Perlawanan Terhadap Liberalisasi dan Oligopoli Pasar Produk Pertanian. Tegalan Purwokerto. Jawa Tengah: BABAD, 2007.
  2. Boyce, C. and Neale, P. 2006. Conducting InDepth Interview: a guide for designing and conducting In-Depth Interviews for evaluation input. Pathfinder International Tool Series, monitoring and evaluation-2. USA. http://www.pathfind.org/site
  3. /DocServer/m_e_tool_series_indepth_interviews.pdf?docID=6301.
  4. Buletin PDB Sektor Pertanian Volume 3 Nomor 1, Maret 2004. Pusat Data dan Informasi Pertanian Departemen Pertanian, 2004.
  5. Buletin PDB Sektor Pertanian Volume 3 Nomor 1, Maret 2004. Pusat Data dan Informasi Pertanian Departemen Pertanian, 2004.
  6. Claridge Tristan. Social Capital and Natural Resource Management. Unpublished Thesis, Brisbane: University of
  7. Queensland Australia, 2005.
  8. Cohen, Don, dan Laurence Prusak. In Good Company: How Social Capital Makes Organizations Work. Boston: Harvard Business Scholl Press, 2001
  9. Coleman, J, Foundations of Social Theory. Cambridge Mass: Harvard University Press. 1990.
  10. Fukuyama, Francis. Trust: The Social Virtues and The Creation of Prosperity. London: Hamish Hamilton, 1995
  11. Hasbullah, J, Sosial Kapital: Menuju Keunggulan Budaya Manusia Indonesia. Jakarta: MR-United Press. 2006. Heliin, Jon, Mark Lundy, dan Madelon Meijer. Farmers Organization, Collective Action and Market Access in Meso-Americas. CAPRi Working Paper No. 67, October, 2007. Cali, Columbia: International Food Policy Research Institute. 2007.
  12. Hernanto, Fadholi. Ilmu Usaha Tani. Jakarta: Penerbit Swadaya. 1999.
  13. Lin, Nan, Karen Cook, dan Ronald S. Burt. Social Capital: Theory and Research. New York : Aldine De Gruyer, 2001.
  14. Mubyarto. 1995. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: PT. Pustaka LP3ES Indonesia.
  15. Mubyarto. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: LP3ES. 1995.
  16. Nuhung, Iskandar Adi. Membangun Pertanian Masa Depan: Suatu Gagasan Pembaharuan. Demak: Aneka Ilmu. 2003.
  17. Purwanto, Aris. "Kehilangan Pasca Panen Kita Masih Tinggi" dalam Majalah Inovasi, Volume 4/XVII/4 Agustus 2004. PPI Jepang.2004. Diunduh dalah http://ppijepang.org pada 20 Maret 2012.
  18. Rakhma, Fildya. Potensi Manfaat Kawasan Industri terhadap Perkembangan Kegiatan Pertanian di Kabupaten Karawang. Bandung: Institut Teknologi Bandung, 2010
  19. Rizal, Yose. Dampak Usaha Pertanian Kolektif terhadap Perkembangan Ekonomi Lokal. Bandung: Institut Teknologi Bandung, 2003.
  20. Saragih, Bungaran. Agribisnis sebagai Landasan Pembanguan Ekonomi Indonesia dalam Era Millienium Baru, dalam Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan, dan Lingkungan, Volume 2 No. 1/Feb 2009 (1-9) Setiawan, Iwan. Collective Farming sebagai Alternatif Strategi Pemberdayaan Petani (Studi Kasus di Desa Rancakasumba Kabupaten Bandung). Laporan Penelitian. Bandung: Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, 2008.
  21. Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: CV.Alfabeta.
  22. Yusdja, Yusmichad, Edi Basuno, Mewa Ariani, dan Tri Bastuti Purwantini. Analisis Peluang Peningkatan Kesempatan Kerja dan Pendapatan Petani Melalui Pengelolaan Usaha Tani Bersama. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian dalam Jurnal Agro Ekonomi Volume 22 No.1 Mei 2004 (1-25)