1. Pendahuluan
Indonesia saat ini memiliki potensi besar di bidang pertanian. Potensi tersebut bukan hanya didukung oleh ketersediaan sumber daya alam yang melimpah saja, tetapi juga keberadaan
tenaga kerja dalam jumlah besar. Hal ini terlihat dari komposisi tenaga kerja secara nasional masih didominasi oleh sektor pertanian sekitar 42,76 % (BPS 2010), selanjutnya sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 20.05 %, dan industri pengolahan 12,29 %.
Keberadaan sektor pertanian erat kaitannya dengan wilayah perdesaan. Banyak desa di Indonesia yang menjadikan sektor pertanian sebagai sektor utama bagi perekonomian desanya. Akan tetapi kini perkembangan pertanian selalu memiliki berbagai macam trade off mulai dari sempitnya lahan pertanian karena berubahanya guna lahan, ketidakpastian harga pada komoditas pertanian yang ada, mahalnya proses produksi, dan lain sebagainya. Petani sebagai produsen yang berada pada mata rantai produksi dan penjualan berada di paling bawah seringkali mendapatkan pendapatan yang sangat rendah.
Berbagai masalah di atas tentunya dipecahkan dengan solusi sistem pertanian agribisnis yang mampu menghubungkan antara sektor hulu, sub sistem produksi, dan hilir, yang tentunya harus didukung oleh beberapa hal. Adanya inovasi teknologi dalam produksi, manajemen produksi yang efisien, ketersediaan modal, dan sistem penjualan merupakan hal mutlak yang harus dipenuhi. Pemilihan komoditas dengan prospek pasar yang bagus karena besarnya permintaan namun supply yang masih sedikit merupakan salah satu strategi yang dapat dilakukan juga dengan membuat nilai tambah pada produk yang dihasilkan. Sistem ini tentunya harus didukung dengan kemampuan sumber daya manusia yang baik, sehingga sistem dapat berjalan dengan baik dan akan berdampak pada kesejahteraan petani yang menjalankannya.
Berbagai macam inovasi dan teknologi dalam sistem pertanian agribisnis tentunya harus didifusikan kepada petani karena petanilah yang menjadi subyek atau pelaku utama dari agribisnis. Oleh karena itu keberhasilan dari berkembangnya pertanian adalah berkembangnya komunitas petani karena adanya peningkatan kapasitas kominitas dengan berhasilnya proses difusi inovasi pertanian agribisnis. Menurut Chaskin (2001)
pengembangan manusia berbasis komunitas mengedepankan komunitas sebagai pelaku utama dari pembangunan. Hal yang dikembangkan adalah kapasitas komunitas.
Pembangunan SDM berbasis komunitas merupakan bentuk pengorganisasian dan mobilisasi modal individu dan organisasi sehingga kapasitas komunitas merupakan kemampuan mengelola modal kapasitas lokal seperti individu dan organisasi untuk mencapai tujuan komunitas. artinya terdapat hubungan asosiatif dimana modal individu dan organisasi bergerak dan dikelola menjadi kapasitas komunitas dalam pertanian dan mampu menjawab kebutuhan untuk menjalankan sistem agribisnis.
Salah satu contoh yang ada pada petani saat ini adalah pada komoditas paprika. Paprika merupakan produk non lokal yang mempunyai prospek pasar yang baik karena merupakan produk pertanian yang eksklusif dengan permintaan yang tinggi dan supply yang masih rendah. Saat ini para petani paprika memang jarang, untuk Jawa Barat saja hanya ada di wilayah Cibodas lembang, Cisarua dan Garut. Hal itu menjadi potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Terlebih permintaan dari negara Singapura cukup tinggi.Permintaan dari Singapura cukup tinggi bahkan mencapai hingga 4 ton perhari. Namun demikian, para petani sendiri belum bisa memenuhinya (Kompas, 2010). Keadaan ini tentunya harus diimbangi dengan potensi kapasitas yang memadai, baik dari sisi petani maupun organisasi petani itu sendiri.
Berdasarkan hal tersebut maka terdapat pertanyaan dari penelitian ini yaitu bagaimanakah hubungan antara potensi kapasitas petani dan organisasi dalam memenuhi kapasitas komunitas. untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka penilitian ini bertujuan untuk :
- 1) Menilai potensi kapasitas petani dan potensi kapasitas organisasi petani
- 2) Menilai hubungan antara potensi kompetensi petani dan potensi organisasi dalam memenuhi kapasitas komunitas dalam menjalankan sistem agribisnis
Penelitian ini terdiri dari lima bagian utama. Bagian pertama membahas latar belakang dan tujuan penelitian. Bagian kedua membahas tinjauan literature terkait sistem pertanian agribisnis, teknologi dan inovasi dalam pertanian, difusi inovasi, dan kapasitas komunitas petani. Bagian ketiga membahas metodologi penelitian. Bagian keempat berisi analissi proses difunsi dan adopsi inovasi serta dampaknya terhadap kapasitas komunitas petani. Bagian terakhir berisi kesimpulan.
2. Tinjauan Literature
2.1 Sistem Pertanian Agribisnis
Potensi Indonesia saat ini adalah bidang pertanian yang sebagian besar tersebar di wilayah perdesaan. Pembangunan pedesaan sendiri diartikan sebagai sebuah perubahan sosial di wilayah pedesaan. Sementara itu, Hansen (1981) mengartikan pembangunan pedesaan sebagai usaha untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Dari berbagai definisi tersebut, pembangunan pedesaan merupakan usaha yang dilakukan untuk memajukan perdesaan dengan cara mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya untuk mencapai kesejahteraan masyarakatnya.
Pertanian sebagai bagian dari perdesaan, merupakan tumpuan dari pembangunan perdesaan. Pertanian memegang peranan penting karena sebagian besar sumber daya
utama wilayah perdesaan merupakan sumber daya pertanian. Pertanian mulai dipandang sebagai suatu sistem terintegrasi dari proses pra-usaha tani, budidaya, pasca panen, pengolahan, dan niaga yang secara struktural diperlukan untuk memperkuat posisi tawar petani dalam kegiatan niaga. Teken dalam Hanafie (2010) menyempurnakan model sistem pertanian yang diajukan oleh Mosher, Milikan dan Hapgood, serta Halcrow dengan memberikan sebuah model pertanian yang saat ini disebut sebagai agribisnis.
Agribisnis adalah pertanian organisasi dan manajemennya secara rasional dirancang untuk mendapatkan nilai tambah komersil yang maksimal dengan menghasilkan barang dan jasa yang diminta pasar. Titik tekan pada sistem ini adalah kemampuan dari petani untuk menghasilkan produk yang mempunyai nilai tambah dan kompetitif. Saat ini pertanian kita dituntut untuk bisa mengoptimalkan lahan yang ada, menghasilkan produk berkualitas yang mempunyai daya saing dengan produk lainnya dan produk impor, permintaan tinggi , dan tentunya memberikan keuntungan yang besar untuk petani.
2.2 Teknologi dan Inovasi dalam Pertanian
Menurut Alkadri (1999), konsep pengembangan wilayah yang paling relevan pada abad ke 21 adalah konsep pengembangan berbasis teknologi yang salah satu indikatornya adalah kemampuan sumber daya manusia.Teknologi dan inovasi menjadi sebuah kekuatan utama agar terjadi efisiensi dalam pertanian yang dilihat dari perbandingan input dan output (Mosher, 1966). Teknologi merupakan sistem yang berhubungan dengan rekayasa dari beberapa ilmu pengetahuan tepat guna untuk meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan. Sementara inovasi menurut Rogers (2003) dipandang sebagai
sebuah ide, metoda atau praktek, dan produk (barang dan jasa) yang dinilai baru oleh unit adopsinya.
Adanya teknologi dan inovasi di atas, tentunya membutuhkan sebuah penerapan yang mumpuni oleh komunitas yang menggunakannya. Di sisi lain, kondisi sosial masyarakat petani saat ini yang cenderung masih konservatif dan tradisional, sehingga membutuhkan usaha lebih. Mosher (1966) dalam Getting Agriculture Moving menyatakan bahwa efisiensi dalam pertanian dapat dicapai dengan penggunaan teknologi yang lebih canggih dan selalu berubah. Sangat sulit bagi petani mendapatkan hasil yang banyak jika menggunakan tanaman, tanah dan cara yang ituitu saja. Dengan kata lain, pertanian selalu membutuhkan inovasi-iovasi baru agar pertaniannya dapat maju dan berkembang. Salah satu bentuk intervensi perubahan pada masyarakat adalah proses transfer inovasi dimana Rogers (2003) menyebutnya sebagai sebuah proses difusi inovasi, proses dimana sebuah inovasi dikomunikasikan melalui berbagai saluran dalam jangka waktu tertentu dalam sebuah sistem sosial. Dengan adanya difusi inovasi diharapkan terjadi adopsi inovasi sehingga kapasitas dan kompetensi masyarakat meningkat seiring dengan kemampuan untuk mengadopsi inovasi yang diperkenalkan.
2.3 Difusi Inovasi
Difusi inovasi adalah suatu proses bagaimana suatu inovasi disampaikan melalui saluran komunikasi pada waktu tertentu terhadap sekelompok masyarakat dalam suatu sistem sosial. Difusi inovasi dilihat sebagai proses yang akan menghasilkan peingkatan kapasitas komunitas melalui adopsi inovasi. Dengan adanya proses ini, maka di dalamnya terdapat suatu tahapan pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan terhadap inovasi
sendiri adalah proses dimana seorang individu mendapatkan pengetahuan awal dari suatu inovasi, untuk membentuk sikap terhadap inovasi, membuat keputusan untuk mengadopsi atau menolak, pelaksanaan ide baru, dan mengkonfirmasi dari keputusan adopsinya.
Terdapat lima tahapan yang dikemukakan oleh Rogers (2003) dalam proses pengambilan keputusan inovasi, yaitu :
- 1. Tahap Pengenalan (Knowledge), terjadi ketika seseorang atau pembuat keputusan lainnya membuka diri terhadap keberadaan inovasi dan memperoleh beberapa pengertian mengenai bagaimana inovasi tersebut berfungsi. Informasi yang diterima bersifatumum
- 2. Tahap persuasi (Persuasion), terjadi ketika individu atau pengambil keputusan lainnya membentuk sikap senang atau tidak senang terhadap inovasi. Pada tahap ini seorang lebih terlibat secara psikologis dengan inovasi dan giat mencari keterangan atau informasi mengenai inovasi.
- 3. Tahap keputusan (Decision), terjadi ketika individu atau pembuat keputusan lainnya dalam situasi menentukan pilihan apakah akan menerima atau menolak inovasi
- 4. Tahap implementasi (Implementation), terjadi ketika individu atau pembuat keputusan lainnya mencoba memperkuat keputusan inovasi atau sebaiknya menarik keputusan inovasi dengan menerapkan inovasi.
- 5. Tahap konfirmasi (Confirmation), terjadiketika individu memutuskan untuk melanjutkan menerapkan inovasi atau menghentikannya. Penolakan atau penarikan keputusan yang sudah dibuat sebelumnya terjadi apabila seseorang dihadapkan pada informasi-informasi yang bertentangan mengenai inovasi yang telah diterapkan atau penah ditolaknya.
Terdapat beberapa elemen penting yang mempengaruhi proses keputusan inovasi dalam difusi inovasi. Elemen tersebut akan mempengaruhi di setiap tahapan pada proses keputusan inovasi. Rogers (2003) mengatakan setidaknya terdapat empat elemen penting dalam difusi inovasi, yaitu inovasi, saluran komunikasi, waktu, dan karakteristik sosioekonomi.
- 1. Inovasi: merupakan suatu gagasan, praktek, atau objek yang dianggap baru oleh individu atau unit adopsi lainnya. Hal yang berpengaruh terhadap keputusan inovasi adalah karakteristik inovasi, yaitu keuntungan relatif (relatif adventage), kompatibilitas (compatibility), kompleksitas, kemudahan untuk dicoba (triability), dan kemudahan untuk diamati (obsevability).
- 2. Saluran komunikasi: merupakan cara-cara dimana sebuah pesan disampaikan dan kemudian diterima oleh penerima sumber. Saluran komunikasi dibedakan ke dalam dua hal, yaitu saluran interpersonal dan media massa. Saluran interpersonal lebih efektif membangun dan merubah sikap, sedangkan saluran media massa efektif memberikan pengetahuan tentang inovasi
- 3. Waktu : Rogers mengatakan bahwa tidak semua orang mengadopsi suatu inovasi disaat yang bersamaan melainkan dalam kurun waktu yang berbeda-beda dan akan mebentuk kurva "S" yang disebut sebagai tingkat kecepatan adopsi.
- 4. Karakteristik Sosial Ekonomi : Karakteristik sosial ekonomi sangat berpengaruh terhadap kategori adopter. Beberapa karakteristik sosial yang akan dilihat adalah umur, pengalaman, tingkat pendidikan, dan kepemilikan sumber daya ekonomi yaitu luas lahan yang diusahakan. Petani yang muda cenderung lebih berani mengambil
keputusan untuk mangadopsi (Soekartawi, 1991).
2.4 Kapasitas Komunitas Petani
Komunitas adalah sekelompok orang yang hidup bersama pada lokasi yang sama, sehingga mereka telah berkembang menjadisebuah kelompok hidup yang diikat oleh kesamaan kepentingan (common interest) (Syahyuti, 2005). Komunitas dipandang efektif sebagai suatu kelompok sasaran yang harus dikembangkan kapasitasnya sehingga akan berdampak baik kepada individu anggotanya juga kepada wilayahnya. Hal ini tentunya menempatkan komunitas sebagai subjek utama atau pelaku utama dari pembangunan, di mana kemandirian dan kesejahteraan merupakan output dan outcomes yang diharapkan akan lahir dari proses peningkatan kapasitas komunitas.
Pembangunan agribisnis berawal dari kualitas petani sebagai pelaku utama. Petani dipandang sebagai suatu komunitas. Chaskin (2001) dalam Building Community Capacity mengatakan bahwa komunitas adalah interaksi modal manusia, sumber daya organisasi, dan modal sosial yang ada dalam masyarakat tertentu yang dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah bersama-sama dan meningkatkan kesejahteraan masarakat atau komunitas tersebut. Kemampuan individual merupakan hal yang penting dalam membentuk kapasitas komunitas, akan tetapi kapasitas individual tersebut harus disambungkan dan dipertukarkan dalam komunitas. Kapasitas komunitas yang dibutuhkan tidak hanya dilihat dari kemampuan individual saja, tetapi juga kemampuan komunitas memecahkan masalah secara bersama-sama. Chaskin (2001) mendefinisikan empat hal yang dapat memperlihatkan kapasitas komunitas, yaitu:
- 1. Sense of community: merupakan tingkat keterhubungan secara mutualisme antar individu dan dengan komunitasnya juga degan lingkunganya.
- 2. Commitment (komitmen terhadap komunitas) merupakan kesadaran akan pengaruh individu terhadap nasib komunitas secara keseluruhan.
- 3. Ability to solve problem (kemampuan memecahkan masalah) merupakan kemampuan untuk mengubah komitmen menjadi sebuah aksi nyata untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam komunitas.
- 4. Access to resources (akses terhadap sumber daya). Akses terhadap sumber daya dapat dilihat dalam berbagai bentuk (ekonomi, manusia, fisik, dan politik) dan dimanapun (di dalam dan diluar komunitas).
Dalam bidang pertanian, kapasitas komunitas petani didefinisikan sebagai kemampuan petani untuk dapat meningkatkan produktivitas pertanian, baik secara kuantitas (volume produksi), kualitas, maupun nilai produksi, sehingga mampu menyejahterakan petani. Upaya meningkatkan produktivitas pertanian ini dinilai sebagai upaya komunitas petani untuk menyelesaikan masalah mereka secara bersama-sama melalui tindakan kolektif, dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimilik, yang pada akhirnya tecapai peningkatan kesejahteraan petani. Penilaian kapasitas komunitas dimulai pada saat komuitas petani mulai menerapkan inovasi pertanian sampai dengan tahap konfirmasi di mana aspek keberlanjutan dari penerapan inovasi saling
bepengaruh terhadap kapasitas komunitas petani.
Untuk menilai kapasitas dapat dilihat dengan menilai kompetensi. Dalam penilaian kompetensi hal yang mudah diamati adalah pengetahuan dan kemampuan. mampu menerapkan berarti sudah memiliki pengetahuan (Spencer &Spencer, 1993). Kompetensi dalam pertanian tanaman sayuran telah dibuat oleh Pemerintah melalui KEP.196/MEN/VIII/2005 memberikan SKKNI Pertanian Sub Sektor Tanaman Sayuran selanjutnya harus terdapat asosiasi antar poteni kompetsni komunitas dengan kapasitas komunitas. Asosiasi dalam komunitas memperlihatkan adanya sebuah pengorganisasian dalam kehidupan komunitas. Dengan adanya asosiasi ini, kepentingan dan kebutuhan individu disatukan sebagai kebutuhan komunitas untuk kemudian diorganisasikan untuk mencapai tujuan. Bentuk asosiasi dalam kapasitas komunitas terlihat melalui aspek sustainability, yaitu kemampuan untuk dari komunitas mempertahankan atau menjalankan program untuk mencapai tujuan. Sustainability dari kapasitas komunitas dapat dinilai dari ketersediaan SDM, kemampuan dalam menjalankan program lama, fleksibilitas dalam menjalankan struktur dan program, juga kemampuan untuk menjalankan program baru ( Bush et.al, 2002)
Berdasarkan dasar teori di atas, didapatkan variabel penilaian potensi kompetensi petani, organisasi, dan penilaian terhadap kapasitas komunitas petani sebagai berikut
Tabel 1. Variabel Potensi Kompetensi Petani dan Organisasi Kelompok Tani
| Potensi Kompetensi | Kompetensi | |||
|---|---|---|---|---|
| Petani | ||||
| Kompetensi Budidaya | Sanitasi lahan, mebangun greenhouse, membangun sistem irigasi hidroponik, membuat media pembenihan, membuat media pembesaran, menyortir bibit unggul, menanam benih unggulan, merawat media tanam, memberi pupuk, menilai kondisi paprika, mengobati tanaman yang sakit, mengobati serangan hama, mengendalikan gulma, mengajir tanaman, mewiwil tanaman, memilih paprika siap panen memanen degan gunting steril, mengurangi kerusakan panen, menyortir hasil panen, membersikan hasil panen, dan memberikan pengemasan dan pelabelan | |||
| Kompetensi Tata niaga | Mencari jaringan baru untuk penjualan paprika non tengkulak dan pasar tradisional, Menjual paprika berdasarkan gradenya | |||
| Kompetensi Penunjang | Mencari Mitra kerjasama dengan berbagai pihak dalam bidang permodalan, membina kerjasama dengan berbagai pihak non tengkulak dan rentenir dalam bidang permodalan (seperti bank, kredit mikro, dll ) | |||
| Potensi Kompetensi Adanya perubahan pada struktur kelompok tani yang memperihatkan penambahan fungsi kerja | ||||
| Organisasi Adanya perubahan pada sistem kerja berupa alur supply chain yang mengacu pada sistem agribisnis | ||||
Tabel 2. Penilaian Kapasitas Komunitas
| Checklist data kelompok / organisasi | Sustainability | Kapasitas komunitas |
|---|---|---|
| Terpenuhinya kebutuhan sumber daya manusia dalam menjalankan | Ketersediaan investasi sdm | Komitmen |
| sistem kerja | ||
| Membina kerjasama dengan berbagai pihak non tengkulak dan rentenir | Ketersediaan investasi finansial | Akses terhadap sumber |
| dalam bidang permodalan (seperti bank, kredit mikro, dll ) | daya | |
| Mampu memenuhi tuntutan kerjasama yang disepakati dengan pihak | Kemampuan dalam menjalankan | Memecahkan masalah |
| lain | program | |
| Berjalannya perangkat organisasi | Fleksibilitas kerja dan kemampuan | Memecahkan masalah |
| dalam menjalankan program | ||
| Berjalannya sistem supply chain | Fleksibilitas kerja dan kemampuan | Akses terhadap sumber |
| dalam menjalankan program | daya | |
| Berjalannya spo dari budidaya sampai pemasaran | Fleksibilitas kerja dan kemampuan | Memecahkan masalah |
| dalam menjalankan program | ||
| Mempunyai perencanaan pengembangan bisnis dan organisasi | Menjalankan program baru | Memecahkan masalah |
| kelompok tani | ||
| Mempunyai cahsflow keuangan yang baik | Ketersediaan investasi finansial | Memecahkan masalah |
Sumber: Hasil Analisis, 2012
3. Metode Penelitian
Responden utama adalah 30 petani kelompok tani MTJ, organisasi binaan dan organisasi pelatihan swadaya yang menanam paprika di desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan untuk mempelajari literature terkait dengan penelitian ini, pengumpulan data primer dengan penyebaran wawancara dan checklist data kompetensi petani di Kelompok Tani Mekar Tani Jaya untuk penilaian kompetensi petani dan organisasi serta kapasitas pertanian, dan pengumpulan data
sekunder untuk mengumpulkan data dari kantor desa setempat dan Kelompok Usaha Tani Mekar Tani Jaya untuk terkait kependudukan, lahan, potensi ekonomi, jumlah tenaga kerja, dan produksi pertanian.
Metode analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif dengan menggunakan checklist data sebagai alat untuk menilai potensi kompetensi petani. Tahap selanjutnya adalah analisis kualitatif untuk menghubungkan potensi yang dimiliki oleh petani dan organisasi dengan kapasitas komunitas. Data maupun informasi yang didapatkan dalam penelitian akan dibandingkan dan diuji dengan berbagai kionsep dan teori yang ada melalui prosedur
analisis kualitatif yang ditempuh yaitu reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan.
4. Analisis
Penilaian kapasitas dinilai dari kolaborasi modal individual, oganisasi, dan sosial (Chaskin, 2001). Kapasitas komunitas berdasakan kolaborasi modal individu dinilai berdasarkan kompetensi yang dimiliki oleh komunitas dari sisi kemampuan budidaya, pemasaran, dan penunjang. Penilaian Kapasitas komunitas berkaitan dengan dua hal utama yaitu potensi kompetensi komunitas yang merupakan penilaian dari potensi individu dan organisasi, selanjutnya adalah keberlanjutan dalam penerapan inovasi.
4.1 Potensi Kapasitas Petani
Potensi kapasitas petani meliputi tiga kegiatan utama yaitu kegiatan budidaya, tata niaga, dan penunjang. Berdasarkan analisis penelitian dengan metode data checklist kompetensi, diapatkan dua penilaian yaitu nilai dengan persentase lebih dari 50% dikatakan kompetensi tersebut dimiliki oleh mayoritas individu dalam komunitas dan nilai di bawah 50% dikatakan bahwa kompetensi tersebut jarang dimiliki oleh individu dalam komunitas. Dalam penilaian kegiatan budidaya, potensi kompetensi dinilai sangat baik karena hanya pada kegiatan pengemasan dan pelabelan produk paprika yang jarang dimiliki karena pada kegiatan ini petani jarang terlibat langsung di bagian pengepakan. Selain itu dalam penilaian pembuatan greenhouse dan sistem irigasi hidroponik, walaupun masih terkategori dimiliki oleh banyak individu namun hal ini hanya terdistribusi di kalangan petani laki-laki saja.
Tabel 3. Hasil Penilaian Potensi Kompetensi Petani di Bidang Budidaya
| Kompetensi | Nilai (%) | Keterangan | Kompetensi | Nilai (%) | Keterangan |
|---|---|---|---|---|---|
| Sanitasi lahan | 96.29 | Dimiliki | Mengobati tanaman yang | 70,37 | Dimiliki |
| sakit | |||||
| Membangun greenhouse | 51.85 | Dimiliki | Mengobati serangan hama | 66.66 | Dimiliki |
| Membangun sistem irigasi | 55.55 | Dimiliki | Mengendalikan gulma | 92.59 | Dimiliki |
| hidroponik | |||||
| Pembenihan awal | 88.88 | Dimiliki | Mengajir tanaman | 92.59 | Dimiliki |
| Membuat media pembenihan | 88.88 | Dimiliki | Mewiwil tanaman | 92.59 | Dimiliki |
| Membuat media pembesaran | 88.88 | Dimiliki | Memilih paprika siap panen | 96.29 | Dimiliki |
| Menyortir bibit unggul | 88.88 | Dimiliki | Memanen dengan gunting | 96.29 | Dimiliki |
| steril | |||||
| Menanam benih unggulan | 88.88 | Dimiliki | Mengurangi kerusakan | 96.29 | Dimiliki |
| panen | |||||
| Merawat media tanam | 88.88 | Dimiliki | Menyortir hasil panen | 100 | Dimiliki |
| Memberikan pupuk | 74.07 | Dimiliki | Membersihkan hasil panen | 96.29 | Dimiliki |
| Menilai kondisi paprika | 81.488 | Dimiliki | Memberikan pengemasan | 29,62 | Jarang Dimiliki |
| dan pelabelan |
Sumber: Hasil Analisis, 2012
Kompetensi tata niaga berkaitan dengan kemampuan dalam mencari pasar dan jaringan baru sebagai mitra yang mampu menyerap berbagai produk. Kompetensi dalam bidang niaga dan pemasaran sangat jarang dimiliki oleh anggota kelompok, berbeda dengan kompetesni pada bidang budidaya, bidang tata niaga hanya dikuasai sedikit dari anggota komunitas. Hal ini terjadi karena dalam mengusahakan pertanian paprika, sistem yang dibuat adalah sistem kerjasama sebagai suatu kelompok, sehingga
kepemilikan kebun yang diusahakan akan dibagi keuntungannya.
Kemampuan dalam memasarkan produk sebenarnya terpenuhi dalam kelompok walaupun secara kuantitas, anggota komunitas tidak semuanya tahu dan mampu
menerapkannya. Tetapi dengan adanya kemampuan ini, kelompok tani sudah bisa membuat satu unit usaha khusus dan menjadi satu bagian dalam kelompok yang sudah dijelaskan sebelumnya pada sistem supply chain dan organisasi di dalam kelompok.
Tabel 4. Hasil Penilaian Potensi Kompetensi Petani di Bidang Tata Niaga
| Kompetensi | Nilai (%) | Keterangan | Kompetensi | Nilai (%) | Keterangan |
|---|---|---|---|---|---|
| Mencari jaringan baru untuk penjualan paprika non tengkulak dan pasar tradisional | 22.22 | Jarang Dimiliki | Mampu bernegosiasi dengan pelanggan/ klien dan lainnya | 14.81 | Jarang Dimiliki |
| Menjual paprika berdasarkan gradenya | 22.22 | Jarang Dimiliki | Melaksanakan sistem pemasaran sesuai dengan Sistem dalam kelompok tani | 29.62 | Jarang Dimiliki |
Sumber: Hasil Analisis, 2012
Kompetensi bidang penunjang meliputi kemampuan dalam mencari sumber permodalan dan mampu membina kerjasama. Kondisi pada bidang penunjang tidak jauh berbeda dengan bidang tata niaga dan pemasaran. Pada bidang penunjang, modal besar yang dibutuhkan oleh petani dalam bertani paprika lebih banyak dijalankan melalui kelompok. Sehingga, orangorang yang mempunyai kemampuan dan pengetahuan ini bekerja untuk kelompok dalam
mencari modal. Sistem yang dipakai dalam bertani paprika adalah sistem kelompok di mana pemilik lahan adalah bagian dari kelompok yang sekaligus dapat mengelola kebunnya. Pengetahuan mengenai penunjang diketahui oleh pengurus kelompok dan orang yang bergerak pada bagian pemasaran saja, untuk petani yang bergerak pada bidang budidaya, tidak mengetahui sama sekali.
Tabel 5. Hasil Penilaian Potensi Kompetensi Petani di Bidang Penunjang
| Kompetensi | Nilai (%) | Keterangan |
|---|---|---|
| Mencari Mitra kerjasama dengan berbagai pihak dalam bidang permodalan | 22.22 | Jarang Dimiliki |
| Membina kerjasama dengan berbagai pihak non tengkulak dan rentenir dalam bidang | 22.22 | Jarang Dimiliki |
| permodalan (seperti bank, kredit mikro, dll ) |
Sumber: Hasil Analisis, 2012
4.2 Potensi Kompetensi Organisasi
Potensi kompetensi organisasi dinilai dari kemampuan organisasi melakukan penyesuaian dalam bentuk sistem kerja dan struktur kerja organisasi. Karena organisasi adalah wadah bagi individu untuk berakivitas mencapai tujuan bersama. Dari kelompok tani ini
didapatkan bahwa kelompok tani MTJ sudah melakukan penyesuaian untuk menunjang berjalannya sistem agribisnis dalam kelompok ini dalam bentuk perubahan struktur organisasi dan perubahan sistem kerja berupa sistem supply chain
Tabel 6. Hasil Penilaian Potensi Kompetensi Petani di Bidang Penunjang
| Kompetensi Organisasi | Ya/tidak | Keterangan |
| Perubahan struktur organisasi | Ya | Struktur ditambahkan fungsi pemasaran, pencatatan panen, dan bagian |
| pembukuan untuk memantau administrasi laporan keuangan, produk, dan | ||
| anggota | ||
| Perubahan pada sistem supply | Ya | Sistem pemasaran tergabung dalam kelompok sehingga menggabungkan |
| chain | subsektor agribisnis dalam satu proses dan siklus. |
Berdasarkan data di atas, komunitas dinilai memiliki potensi keunggulan utama pada bidang budidaya karena mayoritas angota adalah petani yang memang sudah lama melakukan kegiatan pertanian. Walaupun penilaian pada kompetensi tata niaga dan penunjang dinilai jarang dimiliki namun hal potensi ini tetap ada dalam kelompok. Sebagai satu kesatuan kelompok, tiga potensi petani harus disatukan untuk menjalankan sistem yan telah dibentuk oleh organisasi baik berupa penambahan fungsi kerja maupun sistem supply chain agar agribisnis bisa diterapkan dalam kelompok ini.
4.3 Kapasitas Komunitas Petani
Kapasitas komunitas dinilai dari kemampuan organisasi menggunakan aset atau potensi yang dimilikiya untuk digunakan secara bersamasama dalam menjalankan, mempertahankan, dan mengembangka inovasi yang diadopsi. Keberlanjutan penerapan dari inovasi memperlihatkan terpenuhinya kapasitas komunitas. Keberjalanan organisasi dilihat dari dua hal, yaitu SDM yang menjalankannya dan sistem yang terdiri dari perangkat organisasi juga sistem kerja organisasi (Spector, 2006). Adapun hasil dari kapasitas komunitas yaitu :
a. Dari sisi komitmen keberlanjutan SDM untuk bisa menjalankan inovasi dikatakan
- rendah, berhentinya anggota dalam mengadopsi inovasi tidak dipengaruhi oleh opini dan keterikatan kelompok. Ketersediaan SDM kurang mencukupi dengan tidak adanya bagian pemasaran yang melanjutkan sistem. Selain itu ketua kelompok pada akhirnya lebih memfokuskan untuk banyak membantu petani lain di luar komunitasnya.
- b. Dari sisi akses terhadap sumber daya, akses terhadap sumber daya keuangan bisa dikatakan baik, namun akses terhadap pasar tidak baik karena tidak berjalanya sistem supply chain dan tida adanya bagian pemasaran yang melanjutkan sebagai anggota kelompok.
- c. Dari sisi kemampuan memecahkan masalah kelompok ini kurang baik dalam menjalankan dan mepertahankan inovasi yang ada, walaupun secara potensi baik perorangan maupun organisasi bisa dikatakan banyak memiliki potensi namun dalam konteks penerapan jauh dari kesinambungan. Sistem supply chain tidak berjalan, perangkat organisasi tidak berjalan, SPO tidak berjalan, tidak mempunyai pencatatan cash flow yang baik, dan tidak mempunyai rencana pengembangan bisnis dan kelompok
Tabel 7. Kapasitas Komunitas
| Kemampuan | Kondisi Lapangan | Ya | Tidak | Aspek Keberlanjutan | Kapasitas Komunitas |
|---|---|---|---|---|---|
| Terpenuhinya | Dari hasil observasi dan wawancara didapatkan | v | Tidak memiliki investasi | Komitmen dalam | |
| kebutuhan | hanya ada sembilan orang saja yang saat ini | SDM yang cukup akibat | komunitas dinilai kurang | ||
| sumber daya | aktif untuk bertanggung jawab dan bertani | banyak anggota yang tidak | baik karena jumlah SDM | ||
| manusia dalam | paprika dan dibantu oleh 4 orang sebagai | melanjutkan bertani | yang bertahan tidak banyak | ||
| menjalankan | pekerja tidak tetap. Hal yang perlu dicerrmati | paprika | dan keterikatan dengan | ||
| sistem kerja | juga adalah kelompok ini kehilangan sumber | kelompok tidak | |||
| daya penting yang memiliki kapasitas yang | mempengaruhi keputusan | ||||
| baik dalam bertani, selain itu sumber daya vital | untuk berhenti mengadopsi | ||||
| yang hilang adalah bagian pemasaran. | |||||
| Kelompok ini tidak memiliki investasi SDM yang baik dengan kehilangan SDM penting | |||||
| dan tidak terpenuhinya aspek komitmen dalam | |||||
| kapasitas komunitas karena ketersediaan SDM | |||||
| menunjukkan adanya keterikatan dan | |||||
| komitmen individu terhadap kelompok. | |||||
| Membina | Kelompok tani MTJ mempunyai peran berupa | v | Memiliki investasi | Akses terhadap sumber | |
| kerjasama | mencari akses permodalan bagi keberjalanan | finansial yang cukup akibat | daya tetap terpenuhi | ||
| dengan berbagai | kelompok tani, dalam hal ini adalah modal | banyak anggota yang tidak | dengan baik melalui | ||
| pihak non | untuk bertani paprika. Membina kerjasama | melanjutkan bertani | kelompok, walaupun pada | ||
| tengkulak dan | dengan berbagai pihak yang memberikan | paprika | kenyataannya hal ini | ||
| rentenir dalam | modal dilakukan dengan memanfaatkan P4S | dilaksanakan oleh satu | |||
| bidang | sebagai wadah kelompok memberikan | ketua kelompok | |||
| permodalan | pelatihan teknis bertani kepada masyarakat | ||||
| (seperti bank, | umum yang ingin belajar bertani. Dari sini | ||||
| kredit mikro, dll | kelompok ini mendapatkan modal dan | ||||
| ) | kerjasama dengan mitra pemberi modal. | ||||
| Kecukupan financial dan akses terhadap | |||||
| sumberdaya untuk kelompok ini dinilai mudah | |||||
| dan terpenuhi. | |||||
| Mampu memenuhi | Dalam hal memenuhi tuntutan kerjasama yang disepakati dengan pihak lain, kelompok ini | v | Kemampuan untuk melaksanakan dan | Kurangnya kemampuan memecahkan masalah | |
| tuntutan | tidak bisa memenuhinya. Faktor buruknya | mempertahankan inovasi | berupa kurang baiknya | ||
| kerjasama yang | laporan admisnitrasi dan akuntabilitas | yang diadopsi dimiliki oleh | sistem menejemen | ||
| disepakti | keuangan menjadi penyebabnya. Kelompok ini | kelompok ini | pelaporan dan pencatatan | ||
| dengan pihak | tidak dapat menjalankan program atau sistem | administrasi menjadi | |||
| lain | yang telah dibentuk sehingga kemampuan | penyebab utama | |||
| memecahkan masalah dinilai kurang dan | |||||
| membuat masalah baru dalam kelompok | |||||
| Berjalannya | Perangkat organisasi yang dibentuk tidak | v | Perangkat yang dibentuk | Kurangnya kemampuan | |
| perangkat | berjalan dengan baik. Berdasarkan hasil | mencerminkan adanya | memcahkan masalah | ||
| organisasi yang | observasi bagian pmbukuan, pelaksana panen, | fleksibiltas dalam | karean sumber daya yang | ||
| sudah dibentuk | absensi, dan pemasaran tidak berjalan. bagian | kelompok, namun | mempunyai potensi yang | ||
| pemasaran tidak berjalan akrena adanya | ketidakmampuan dalam | baik tidak menjalankan | |||
| kekecewaan dengan kelompok akibat posisinya | mempertahankan | tugasnya untuk mengerjaan | |||
| sebagi mitra kerja yang kemudian bergabung dengan kelompok. Kondisi ini menimbulkan | perangkat yang ada menunjukkan tida ampu | tugas kelompok. | |||
| tidak berjalannya fungsi kontrol terhadap | mempertahankan sebuah | ||||
| pekerja, aliran keuangan, dan hasil panen. | program | ||||
| Perangkat yang dibuat tidak bertahan | |||||
| danberjalan dan membuat maslah baru bagi | |||||
| kelompok ini. | |||||
| Berjalannya | Dengan tidak berjalannya perangkat organisasi | v | Sistem yang dibentuk | Kegagalan dalam | |
| sistem rantai | yang dibentuk, keberjalanan supply chain juga | memperlihatkan | penerapan sistem menjadi | ||
| pasok yang | tergangu. Keluarnya bagian pemasaran dari | fleksibilitas namun tidak | masalah baru bagi | ||
| sudah dibentuk | kelompok ini membuat kelompok ini tidak lagi | ada keberlanjutan karena | kelompok karena tidak | ||
| mampu memasarkan sendiri hasil produk | sistem pasok tidak berjalan | adanya bagian pemasaran | |||
| paprikanya. Akibat tidak berjalanya fungsi | dan memberikan masalah | ||||
| kerja dalam perangkat organisasi, sistem ini | bagi kelompok, akses | ||||
| tidak bertahan lama dan menimbulkan maslah | terhadap pasar semakin | ||||
| bagi kelompok. | berkurang |
| Kemampuan | Kondisi Lapangan | Ya | Tidak | Aspek Keberlanjutan | Kapasitas Komunitas |
|---|---|---|---|---|---|
| Berjalannya | Dari sisi keberjalanan sistem penanaman | v | SPO merupakan alat yang | Tidak berjalannya SPO | |
| SPO dari | sampai pemasaran didapatkan hanya ada satu | memudahkan sistem rantai | membuat kurang baiknya | ||
| budidaya | buah dokumen SPO yang pernah dijalankan | pasok, namun | sistem monitoring dari | ||
| sampai | pada tahun 2010 dan tidak berlanjut saat ini, | penerapannya tidak | rantai produksi sampai | ||
| pemasaran | selain itu dari sisi cashflow keuangan, | dilanjutkan | penjualan dalam kelompok | ||
| pencatatan cashflow keuangan kurang | dan memebrikan masalah | ||||
| dilakukan dengan baik dan tidak dipindahkan | |||||
| ke dalam sistem yang lebih rapih. Tidak | |||||
| berjalannya SPO dan pencatatan aliran modal | |||||
| pendapatan keuangan juga menimbulkan | |||||
| masalah bagi kelompok | |||||
| Mempunyai | Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua | v | Pengembangan bisnis | Tidak adanya rencana | |
| perencanaan | kelompok dikatakan bahwa tidak ada | menjamin adanya | pengembangan bisnis dan | ||
| pengembangan | perencanaan khusus terkait pengembangan | pengembangan inovasi dan | kelompok merupakan | ||
| bisnis dan | usaha, yang sedang dikerjakan saat ini lebih | juga pengembangan | acuan pengembangan dan | ||
| organisasi | banyak membantu petani di luar kota. Tidak | kelompok, hal ini tidak | tujuan bersama dalam | ||
| kelompok tani | adanya rencana pengembangan bisnis dan | didapatkan dalam | kelompok memperlihatkan | ||
| kelompok merupakan acuan pengembangan | kelompok ini. | pemecahan permasalahan | |||
| dan tujuan bersama dalam kelompok | tidak menjadi prioritas | ||||
| memperlihatkan pemecahan permasalahan | utama kelompok atau | ||||
| tidak menjadi prioritas utama kelompok atau | hanya dilakukan oleh oleh | ||||
| hanya dilakukan oleh oleh individu saja | individu saja | ||||
| Mempunyai | Pencatatan keuangan masih belum baik dan | v | Pencatatan keuangan yang | Tidak baiknya pencatatan | |
| cahsflow | tidak ada monitoring terhadap keuntungan atau | baik merupakan cirri | keuangan menimbulkan | ||
| keuangan yang | pun kerugian yang didapatkan oleh komunitas. | baiknya organisasi, hal ini | masalah bagi kelompok | ||
| baik | tidak berangsung dalam | yaitu tidak adanya | |||
| kelompok ini. | monitoring terhadap | ||||
| perkembangan untung rugi | |||||
| yang jelas selain itu | |||||
| laporan keuangan terhadap | |||||
| klien juga kurang baik |
Berdasarkan hasil tersebut didapatkan hasil dari kapasitas komunitas sebagai berikut:
Tabel 8. Hasil Penilaian Kapasitas Komunitas
| Kapasitas Komunitas | Keterangan | ||
|---|---|---|---|
| Komitmen | Komitmen berkaitan erat dengan terpenuhinya kebutuhanSDM. Degan adaay komitmen ada | ||
| keterikatan individu terhadap kelompok. Hal ini tidak terpenuhi dalam kelompok tani MTJ | |||
| Akses terhadap sumberdaya | Akses terhadap sumberdaya keuangan sangat baik, namun apabila tidak ada perbaikan dalam | ||
| pelaporan keuangan yang baik hal ini akan membuat kelompok ini susah mengakses modal. Dari sisi | |||
| akses pasar, kelompok ini tidak mampu mengakses pasar akibat kehilangan bagian pemasaran. | |||
| Kemampuan memecahkan Gagalnya sistem yang dibentuk baik dari struktur, SPO, dan supply chain membuat masalah baru bagi | |||
| masalah kelompok, selain itu kelompok ini tidak memiliki acuan perencanaan pengembangan kelompok. | |||
Sumber: Hasil Analisis, 2012
4.4 Hubungan Potensi Kompetensi dengan Kapasitas Komunitas
Tahap selanjutnya adalah pembandingan antara potensi kompetensi yang dimiliki oleh petani dan organisasi dengan pemenuhan kapasitas komunitas kelompok tani. Dari data in akan
telihat ada atau tidak adanya asosiasi antar potensi dengan kaasitas komunitas
| Potensi Kompetensi | Hubungan asosiatif | Kapasitas Komunitas | ||
| Kompetensi Petani | Baik dalam kompetnsi | Dalam menilai kapasitas | Kapasitas komunitas | |
| budidaya. Kompetensi tata niaga | komunitas, harus terdapat | yang terpenuhi oleh kelompok | ||
| dan penunjang jarang dimiliki | hubungan asosiatif dimana potensi | ini adalah akses terhadap | ||
| oleh anggota kelompok tani | yang dimiliki oleh komunitas baik | sumberdaya keuangan berupa | ||
| Kompetensi | Sudah terdapat | potensi individu maupun | akses modal. Dari sisi | |
| Organisasi | penyesuaian dari kelompok agar | organisasi, diorganisasikan untuk | komitmen, kelompok ini | |
| agribisnis dapat berjalan yaitu | mencapai tujuan bersama. | kekurangan jumlah SDM untuk | ||
| perubahan pada struktur | menjalankan sistem agribisnis | |||
| organisasi yang merupakan | Potensi kompetensi petani | dan tiak mampu mengakses | ||
| penambahan fungsi kerja nda | harus dikolaborasikan agar sistem | pasar. Masalah pun muncul | ||
| perubahan pada sistem supply | yang dibentuk oleh kelompok tani | karena tidak berjalannya fungsi | ||
| chain | dapat berjalan dan memenuhi | organisasi karena perangkat | ||
| kebutuhan kelompok juga | organisasi tidak bekerja dengan | |||
| memecahkan masalah kelompok | baik. Sistem supply chain yang | |||
| tani | mengacu pada agribisnis tidak | |||
| berjalan. | ||||
Tabel 9. Hubungan Potensi Kompetensi dengan Kapasitas Komunitas
Bersasarkan tabel di atas, hubungan asosiatif antara potensi kompetensi yang dimiliki oleh anggota dalam kelompok dengan potensi organisasi tidak terjadi. Hal inin terlihat dari pemenuhan kapasitas komunitas yang hanya mampu mengakses sumberdaya keuangan karena fungsi organisasi tidak berjalan dengan baik ntuk memecahkan masalah dan menjaga komitmen anggotanya.
Dengan tidak adanya hubungan asosiatif sistem agribisnis yang harus dijalankan oleh kelompok ini tidak terjadi. Kelompok tani ini hanya bergerak pada subsektor produksi dan tidak mampu mengintegrasikan subsektor perdagangan
5. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Dari sisi potensi kompetensi individu dalam komunitas petani hal yang banyak dimiliki adalah kompetensi budidaya. Kompetensi tata niaga dan penunjang jarang dimiliki karena ke dua potensi ini dibenbankan kepada kelompok tani. Potensi organisasi terlihat dengan adanya perubahan pada struktur organisasi dengan
- menambahkan fungsi pencatan, pemasaran, dan pembukuan. Dari sisi sistem kerja terdapat sistem supply chain yang mengacu pada sistem pertanian agribisnis.
- 2. Kapasitas komunitas yang terpenuhi hanya pada akses terhadap sumberdaya keuangan saja. Pemenuhan fungsi kerja organisasi tidak terjadi karena sistem dan fungsi kerja yang dibentk dan dibebankan pada kelompok ini tidak berjalan dengan baik dan tidak berlanjut. Sistem agribisnis yang dicoba diterapkan oleh kelompok ini gagal dijalankan.
- 3. Dengan rendahnya kapasitas komunitas yang dipenuhi oleh kelompok tani MTJ maka tidak ada hubungan asosiatif antara potensi yang dimiliki oleh individu dan organisasi tehadap kapasitas komunitas.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Tubagus Furqon Sofhani, MA., Ph.D untuk arahan dan bimbingan sehingga artikel ini dapat ditulis. Terima kasih juga kepada dua mitra bestari yang telah memberikan komentar yang berharga.
