1. Home
  2. Archives
  3. Vol 24 (2013) Issue 3
  4. Articles

Hubungan Antara Potensi Kompetensi Komunitas dengan Kapasitas Komunitas pada Kelompok Usaha Tani Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat

Abstract

Pembangunan agribisnis berawal dari kualitas petani sebagai pelaku utama, dan kapasitas komunitas harus dibangun untuk menunjang kualitas SDM. Dalam kapasitas komunitas potensi individu dan organisasi harus mempunyai hubungan asosiatif sebagai satu kesatuan kapasitas komunitas untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk menilai potensi kapasitas petani dan potensi kapasitas organisasi petani dan menilai hubungan antara potensi kapasitas petani dan potensi kapasitas organisasi dalam memenuhi kapasitas komunitas dalam menjalankan sistem agribisnis. Objek penelitian ini adalah 27 anggota kelompok petani MTJ dengan komoditas utama adalah paprika. Analisis yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan analisis kualitatif. Dari hasil analisis didapatkan bahwa kelompok ini mempunyai potensi kompetensi dari sisi kegiatan budidaya, niaga, dan penunjang pertanian. Perubahan struktur organisasi dan pembuatan sistem supply chain dibuat untuk mendukung jalannya agribisnis. Namun, dari sisi kapasitas komunitas tidak didapatkan hubungan asosiatif antara potensi yang dimiliki dengan kapasitas komunitas, sehingga kelompok ini hanya mampu mengakses modal saja. Saran yang diberikan adalah penguatan pada sisi komitmen dan keterikatan anggota juga penguatan kelembagaan dalam kemampuan administrative dan perencanaan pengembangan kelompok.Kata Kunci: hubungan, kompetensi, kapasitas komunitasAgribusiness development begins with the quality of farmers as the main actors, and the capacity of communities to be built to support the quality of human resources. In the community of the potential capacity of individuals and organizations must have an associative relationship as a whole community capacity to meet community needs and achieve goals. This study aimed to assess the potential capacity of farmers and potential capacity of farmer organizations and assess the relationship between potential capacity and potential capacity of farmer organizations in meeting community capacity in running the agribusiness system. Object of this study is the 27-member group of farmers MTJ with the main commodities are peppers. The analysis used descriptive statistical analysis and qualitative analysis. From the analysis wefound that this group has the potential competence of the cultivation, trade, and agricultural support. Changes in the organizational structure and the manufacturing supply chain system is made to support the course of agribusiness. However, in terms of community capacity is not obtained associative relationship between the potential of the capacity of the community, so that this group is only able to access the capital alone. The advice given is to strengthen the commitment and attachment to the side members are also strengthening the institutional and administrative capabilities development planning group.Keywords: relationship, competence, community capacity

Keywords

1. Pendahuluan

Indonesia saat ini memiliki potensi besar di bidang pertanian. Potensi tersebut bukan hanya didukung oleh ketersediaan sumber daya alam yang melimpah saja, tetapi juga keberadaan

tenaga kerja dalam jumlah besar. Hal ini terlihat dari komposisi tenaga kerja secara nasional masih didominasi oleh sektor pertanian sekitar 42,76 % (BPS 2010), selanjutnya sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 20.05 %, dan industri pengolahan 12,29 %.

Keberadaan sektor pertanian erat kaitannya dengan wilayah perdesaan. Banyak desa di Indonesia yang menjadikan sektor pertanian sebagai sektor utama bagi perekonomian desanya. Akan tetapi kini perkembangan pertanian selalu memiliki berbagai macam trade off mulai dari sempitnya lahan pertanian karena berubahanya guna lahan, ketidakpastian harga pada komoditas pertanian yang ada, mahalnya proses produksi, dan lain sebagainya. Petani sebagai produsen yang berada pada mata rantai produksi dan penjualan berada di paling bawah seringkali mendapatkan pendapatan yang sangat rendah.

Berbagai masalah di atas tentunya dipecahkan dengan solusi sistem pertanian agribisnis yang mampu menghubungkan antara sektor hulu, sub sistem produksi, dan hilir, yang tentunya harus didukung oleh beberapa hal. Adanya inovasi teknologi dalam produksi, manajemen produksi yang efisien, ketersediaan modal, dan sistem penjualan merupakan hal mutlak yang harus dipenuhi. Pemilihan komoditas dengan prospek pasar yang bagus karena besarnya permintaan namun supply yang masih sedikit merupakan salah satu strategi yang dapat dilakukan juga dengan membuat nilai tambah pada produk yang dihasilkan. Sistem ini tentunya harus didukung dengan kemampuan sumber daya manusia yang baik, sehingga sistem dapat berjalan dengan baik dan akan berdampak pada kesejahteraan petani yang menjalankannya.

Berbagai macam inovasi dan teknologi dalam sistem pertanian agribisnis tentunya harus didifusikan kepada petani karena petanilah yang menjadi subyek atau pelaku utama dari agribisnis. Oleh karena itu keberhasilan dari berkembangnya pertanian adalah berkembangnya komunitas petani karena adanya peningkatan kapasitas kominitas dengan berhasilnya proses difusi inovasi pertanian agribisnis. Menurut Chaskin (2001)

pengembangan manusia berbasis komunitas mengedepankan komunitas sebagai pelaku utama dari pembangunan. Hal yang dikembangkan adalah kapasitas komunitas.

Pembangunan SDM berbasis komunitas merupakan bentuk pengorganisasian dan mobilisasi modal individu dan organisasi sehingga kapasitas komunitas merupakan kemampuan mengelola modal kapasitas lokal seperti individu dan organisasi untuk mencapai tujuan komunitas. artinya terdapat hubungan asosiatif dimana modal individu dan organisasi bergerak dan dikelola menjadi kapasitas komunitas dalam pertanian dan mampu menjawab kebutuhan untuk menjalankan sistem agribisnis.

Salah satu contoh yang ada pada petani saat ini adalah pada komoditas paprika. Paprika merupakan produk non lokal yang mempunyai prospek pasar yang baik karena merupakan produk pertanian yang eksklusif dengan permintaan yang tinggi dan supply yang masih rendah. Saat ini para petani paprika memang jarang, untuk Jawa Barat saja hanya ada di wilayah Cibodas lembang, Cisarua dan Garut. Hal itu menjadi potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Terlebih permintaan dari negara Singapura cukup tinggi.Permintaan dari Singapura cukup tinggi bahkan mencapai hingga 4 ton perhari. Namun demikian, para petani sendiri belum bisa memenuhinya (Kompas, 2010). Keadaan ini tentunya harus diimbangi dengan potensi kapasitas yang memadai, baik dari sisi petani maupun organisasi petani itu sendiri.

Berdasarkan hal tersebut maka terdapat pertanyaan dari penelitian ini yaitu bagaimanakah hubungan antara potensi kapasitas petani dan organisasi dalam memenuhi kapasitas komunitas. untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka penilitian ini bertujuan untuk :

  • 1) Menilai potensi kapasitas petani dan potensi kapasitas organisasi petani
  • 2) Menilai hubungan antara potensi kompetensi petani dan potensi organisasi dalam memenuhi kapasitas komunitas dalam menjalankan sistem agribisnis

Penelitian ini terdiri dari lima bagian utama. Bagian pertama membahas latar belakang dan tujuan penelitian. Bagian kedua membahas tinjauan literature terkait sistem pertanian agribisnis, teknologi dan inovasi dalam pertanian, difusi inovasi, dan kapasitas komunitas petani. Bagian ketiga membahas metodologi penelitian. Bagian keempat berisi analissi proses difunsi dan adopsi inovasi serta dampaknya terhadap kapasitas komunitas petani. Bagian terakhir berisi kesimpulan.

2. Tinjauan Literature

2.1 Sistem Pertanian Agribisnis

Potensi Indonesia saat ini adalah bidang pertanian yang sebagian besar tersebar di wilayah perdesaan. Pembangunan pedesaan sendiri diartikan sebagai sebuah perubahan sosial di wilayah pedesaan. Sementara itu, Hansen (1981) mengartikan pembangunan pedesaan sebagai usaha untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Dari berbagai definisi tersebut, pembangunan pedesaan merupakan usaha yang dilakukan untuk memajukan perdesaan dengan cara mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya untuk mencapai kesejahteraan masyarakatnya.

Pertanian sebagai bagian dari perdesaan, merupakan tumpuan dari pembangunan perdesaan. Pertanian memegang peranan penting karena sebagian besar sumber daya

utama wilayah perdesaan merupakan sumber daya pertanian. Pertanian mulai dipandang sebagai suatu sistem terintegrasi dari proses pra-usaha tani, budidaya, pasca panen, pengolahan, dan niaga yang secara struktural diperlukan untuk memperkuat posisi tawar petani dalam kegiatan niaga. Teken dalam Hanafie (2010) menyempurnakan model sistem pertanian yang diajukan oleh Mosher, Milikan dan Hapgood, serta Halcrow dengan memberikan sebuah model pertanian yang saat ini disebut sebagai agribisnis.

Agribisnis adalah pertanian organisasi dan manajemennya secara rasional dirancang untuk mendapatkan nilai tambah komersil yang maksimal dengan menghasilkan barang dan jasa yang diminta pasar. Titik tekan pada sistem ini adalah kemampuan dari petani untuk menghasilkan produk yang mempunyai nilai tambah dan kompetitif. Saat ini pertanian kita dituntut untuk bisa mengoptimalkan lahan yang ada, menghasilkan produk berkualitas yang mempunyai daya saing dengan produk lainnya dan produk impor, permintaan tinggi , dan tentunya memberikan keuntungan yang besar untuk petani.

2.2 Teknologi dan Inovasi dalam Pertanian

Menurut Alkadri (1999), konsep pengembangan wilayah yang paling relevan pada abad ke 21 adalah konsep pengembangan berbasis teknologi yang salah satu indikatornya adalah kemampuan sumber daya manusia.Teknologi dan inovasi menjadi sebuah kekuatan utama agar terjadi efisiensi dalam pertanian yang dilihat dari perbandingan input dan output (Mosher, 1966). Teknologi merupakan sistem yang berhubungan dengan rekayasa dari beberapa ilmu pengetahuan tepat guna untuk meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan. Sementara inovasi menurut Rogers (2003) dipandang sebagai

sebuah ide, metoda atau praktek, dan produk (barang dan jasa) yang dinilai baru oleh unit adopsinya.

Adanya teknologi dan inovasi di atas, tentunya membutuhkan sebuah penerapan yang mumpuni oleh komunitas yang menggunakannya. Di sisi lain, kondisi sosial masyarakat petani saat ini yang cenderung masih konservatif dan tradisional, sehingga membutuhkan usaha lebih. Mosher (1966) dalam Getting Agriculture Moving menyatakan bahwa efisiensi dalam pertanian dapat dicapai dengan penggunaan teknologi yang lebih canggih dan selalu berubah. Sangat sulit bagi petani mendapatkan hasil yang banyak jika menggunakan tanaman, tanah dan cara yang ituitu saja. Dengan kata lain, pertanian selalu membutuhkan inovasi-iovasi baru agar pertaniannya dapat maju dan berkembang. Salah satu bentuk intervensi perubahan pada masyarakat adalah proses transfer inovasi dimana Rogers (2003) menyebutnya sebagai sebuah proses difusi inovasi, proses dimana sebuah inovasi dikomunikasikan melalui berbagai saluran dalam jangka waktu tertentu dalam sebuah sistem sosial. Dengan adanya difusi inovasi diharapkan terjadi adopsi inovasi sehingga kapasitas dan kompetensi masyarakat meningkat seiring dengan kemampuan untuk mengadopsi inovasi yang diperkenalkan.

2.3 Difusi Inovasi

Difusi inovasi adalah suatu proses bagaimana suatu inovasi disampaikan melalui saluran komunikasi pada waktu tertentu terhadap sekelompok masyarakat dalam suatu sistem sosial. Difusi inovasi dilihat sebagai proses yang akan menghasilkan peingkatan kapasitas komunitas melalui adopsi inovasi. Dengan adanya proses ini, maka di dalamnya terdapat suatu tahapan pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan terhadap inovasi

sendiri adalah proses dimana seorang individu mendapatkan pengetahuan awal dari suatu inovasi, untuk membentuk sikap terhadap inovasi, membuat keputusan untuk mengadopsi atau menolak, pelaksanaan ide baru, dan mengkonfirmasi dari keputusan adopsinya.

Terdapat lima tahapan yang dikemukakan oleh Rogers (2003) dalam proses pengambilan keputusan inovasi, yaitu :

  • 1. Tahap Pengenalan (Knowledge), terjadi ketika seseorang atau pembuat keputusan lainnya membuka diri terhadap keberadaan inovasi dan memperoleh beberapa pengertian mengenai bagaimana inovasi tersebut berfungsi. Informasi yang diterima bersifatumum
  • 2. Tahap persuasi (Persuasion), terjadi ketika individu atau pengambil keputusan lainnya membentuk sikap senang atau tidak senang terhadap inovasi. Pada tahap ini seorang lebih terlibat secara psikologis dengan inovasi dan giat mencari keterangan atau informasi mengenai inovasi.
  • 3. Tahap keputusan (Decision), terjadi ketika individu atau pembuat keputusan lainnya dalam situasi menentukan pilihan apakah akan menerima atau menolak inovasi
  • 4. Tahap implementasi (Implementation), terjadi ketika individu atau pembuat keputusan lainnya mencoba memperkuat keputusan inovasi atau sebaiknya menarik keputusan inovasi dengan menerapkan inovasi.
  • 5. Tahap konfirmasi (Confirmation), terjadiketika individu memutuskan untuk melanjutkan menerapkan inovasi atau menghentikannya. Penolakan atau penarikan keputusan yang sudah dibuat sebelumnya terjadi apabila seseorang dihadapkan pada informasi-informasi yang bertentangan mengenai inovasi yang telah diterapkan atau penah ditolaknya.

Terdapat beberapa elemen penting yang mempengaruhi proses keputusan inovasi dalam difusi inovasi. Elemen tersebut akan mempengaruhi di setiap tahapan pada proses keputusan inovasi. Rogers (2003) mengatakan setidaknya terdapat empat elemen penting dalam difusi inovasi, yaitu inovasi, saluran komunikasi, waktu, dan karakteristik sosioekonomi.

  • 1. Inovasi: merupakan suatu gagasan, praktek, atau objek yang dianggap baru oleh individu atau unit adopsi lainnya. Hal yang berpengaruh terhadap keputusan inovasi adalah karakteristik inovasi, yaitu keuntungan relatif (relatif adventage), kompatibilitas (compatibility), kompleksitas, kemudahan untuk dicoba (triability), dan kemudahan untuk diamati (obsevability).
  • 2. Saluran komunikasi: merupakan cara-cara dimana sebuah pesan disampaikan dan kemudian diterima oleh penerima sumber. Saluran komunikasi dibedakan ke dalam dua hal, yaitu saluran interpersonal dan media massa. Saluran interpersonal lebih efektif membangun dan merubah sikap, sedangkan saluran media massa efektif memberikan pengetahuan tentang inovasi
  • 3. Waktu : Rogers mengatakan bahwa tidak semua orang mengadopsi suatu inovasi disaat yang bersamaan melainkan dalam kurun waktu yang berbeda-beda dan akan mebentuk kurva "S" yang disebut sebagai tingkat kecepatan adopsi.
  • 4. Karakteristik Sosial Ekonomi : Karakteristik sosial ekonomi sangat berpengaruh terhadap kategori adopter. Beberapa karakteristik sosial yang akan dilihat adalah umur, pengalaman, tingkat pendidikan, dan kepemilikan sumber daya ekonomi yaitu luas lahan yang diusahakan. Petani yang muda cenderung lebih berani mengambil

keputusan untuk mangadopsi (Soekartawi, 1991).

2.4 Kapasitas Komunitas Petani

Komunitas adalah sekelompok orang yang hidup bersama pada lokasi yang sama, sehingga mereka telah berkembang menjadisebuah kelompok hidup yang diikat oleh kesamaan kepentingan (common interest) (Syahyuti, 2005). Komunitas dipandang efektif sebagai suatu kelompok sasaran yang harus dikembangkan kapasitasnya sehingga akan berdampak baik kepada individu anggotanya juga kepada wilayahnya. Hal ini tentunya menempatkan komunitas sebagai subjek utama atau pelaku utama dari pembangunan, di mana kemandirian dan kesejahteraan merupakan output dan outcomes yang diharapkan akan lahir dari proses peningkatan kapasitas komunitas.

Pembangunan agribisnis berawal dari kualitas petani sebagai pelaku utama. Petani dipandang sebagai suatu komunitas. Chaskin (2001) dalam Building Community Capacity mengatakan bahwa komunitas adalah interaksi modal manusia, sumber daya organisasi, dan modal sosial yang ada dalam masyarakat tertentu yang dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah bersama-sama dan meningkatkan kesejahteraan masarakat atau komunitas tersebut. Kemampuan individual merupakan hal yang penting dalam membentuk kapasitas komunitas, akan tetapi kapasitas individual tersebut harus disambungkan dan dipertukarkan dalam komunitas. Kapasitas komunitas yang dibutuhkan tidak hanya dilihat dari kemampuan individual saja, tetapi juga kemampuan komunitas memecahkan masalah secara bersama-sama. Chaskin (2001) mendefinisikan empat hal yang dapat memperlihatkan kapasitas komunitas, yaitu:

  • 1. Sense of community: merupakan tingkat keterhubungan secara mutualisme antar individu dan dengan komunitasnya juga degan lingkunganya.
  • 2. Commitment (komitmen terhadap komunitas) merupakan kesadaran akan pengaruh individu terhadap nasib komunitas secara keseluruhan.
  • 3. Ability to solve problem (kemampuan memecahkan masalah) merupakan kemampuan untuk mengubah komitmen menjadi sebuah aksi nyata untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam komunitas.
  • 4. Access to resources (akses terhadap sumber daya). Akses terhadap sumber daya dapat dilihat dalam berbagai bentuk (ekonomi, manusia, fisik, dan politik) dan dimanapun (di dalam dan diluar komunitas).

Dalam bidang pertanian, kapasitas komunitas petani didefinisikan sebagai kemampuan petani untuk dapat meningkatkan produktivitas pertanian, baik secara kuantitas (volume produksi), kualitas, maupun nilai produksi, sehingga mampu menyejahterakan petani. Upaya meningkatkan produktivitas pertanian ini dinilai sebagai upaya komunitas petani untuk menyelesaikan masalah mereka secara bersama-sama melalui tindakan kolektif, dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimilik, yang pada akhirnya tecapai peningkatan kesejahteraan petani. Penilaian kapasitas komunitas dimulai pada saat komuitas petani mulai menerapkan inovasi pertanian sampai dengan tahap konfirmasi di mana aspek keberlanjutan dari penerapan inovasi saling

bepengaruh terhadap kapasitas komunitas petani.

Untuk menilai kapasitas dapat dilihat dengan menilai kompetensi. Dalam penilaian kompetensi hal yang mudah diamati adalah pengetahuan dan kemampuan. mampu menerapkan berarti sudah memiliki pengetahuan (Spencer &Spencer, 1993). Kompetensi dalam pertanian tanaman sayuran telah dibuat oleh Pemerintah melalui KEP.196/MEN/VIII/2005 memberikan SKKNI Pertanian Sub Sektor Tanaman Sayuran selanjutnya harus terdapat asosiasi antar poteni kompetsni komunitas dengan kapasitas komunitas. Asosiasi dalam komunitas memperlihatkan adanya sebuah pengorganisasian dalam kehidupan komunitas. Dengan adanya asosiasi ini, kepentingan dan kebutuhan individu disatukan sebagai kebutuhan komunitas untuk kemudian diorganisasikan untuk mencapai tujuan. Bentuk asosiasi dalam kapasitas komunitas terlihat melalui aspek sustainability, yaitu kemampuan untuk dari komunitas mempertahankan atau menjalankan program untuk mencapai tujuan. Sustainability dari kapasitas komunitas dapat dinilai dari ketersediaan SDM, kemampuan dalam menjalankan program lama, fleksibilitas dalam menjalankan struktur dan program, juga kemampuan untuk menjalankan program baru ( Bush et.al, 2002)

Berdasarkan dasar teori di atas, didapatkan variabel penilaian potensi kompetensi petani, organisasi, dan penilaian terhadap kapasitas komunitas petani sebagai berikut

Tabel 1. Variabel Potensi Kompetensi Petani dan Organisasi Kelompok Tani

Potensi KompetensiKompetensi
Petani
Kompetensi BudidayaSanitasi lahan, mebangun greenhouse, membangun sistem irigasi hidroponik, membuat media pembenihan,
membuat media pembesaran, menyortir bibit unggul, menanam benih unggulan, merawat media tanam,
memberi pupuk, menilai kondisi paprika, mengobati tanaman yang sakit, mengobati serangan hama,
mengendalikan gulma, mengajir tanaman, mewiwil tanaman, memilih paprika siap panen memanen degan
gunting steril, mengurangi kerusakan panen, menyortir hasil panen, membersikan hasil panen, dan
memberikan pengemasan dan pelabelan
Kompetensi Tata niagaMencari jaringan baru untuk penjualan paprika non tengkulak dan pasar tradisional, Menjual paprika
berdasarkan gradenya
Kompetensi PenunjangMencari Mitra kerjasama dengan berbagai pihak dalam bidang permodalan, membina kerjasama dengan
berbagai pihak non tengkulak dan rentenir dalam bidang permodalan (seperti bank, kredit mikro, dll )
Potensi
Kompetensi
Adanya perubahan pada struktur kelompok tani yang memperihatkan penambahan fungsi kerja
Organisasi
Adanya perubahan pada sistem kerja berupa alur supply chain yang mengacu pada sistem agribisnis

Tabel 2. Penilaian Kapasitas Komunitas

Checklist data kelompok / organisasiSustainabilityKapasitas komunitas
Terpenuhinya kebutuhan sumber daya manusia dalam menjalankanKetersediaan investasi sdmKomitmen
sistem kerja
Membina kerjasama dengan berbagai pihak non tengkulak dan rentenirKetersediaan investasi finansialAkses terhadap sumber
dalam bidang permodalan (seperti bank, kredit mikro, dll )daya
Mampu memenuhi tuntutan kerjasama yang disepakati dengan pihakKemampuan dalam menjalankanMemecahkan masalah
lainprogram
Berjalannya perangkat organisasiFleksibilitas kerja dan kemampuanMemecahkan masalah
dalam menjalankan program
Berjalannya sistem supply chainFleksibilitas kerja dan kemampuanAkses terhadap sumber
dalam menjalankan programdaya
Berjalannya spo dari budidaya sampai pemasaranFleksibilitas kerja dan kemampuanMemecahkan masalah
dalam menjalankan program
Mempunyai perencanaan pengembangan
bisnis dan
organisasi
Menjalankan program baruMemecahkan masalah
kelompok tani
Mempunyai cahsflow keuangan yang baikKetersediaan investasi finansialMemecahkan masalah

Sumber: Hasil Analisis, 2012

3. Metode Penelitian

Responden utama adalah 30 petani kelompok tani MTJ, organisasi binaan dan organisasi pelatihan swadaya yang menanam paprika di desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan untuk mempelajari literature terkait dengan penelitian ini, pengumpulan data primer dengan penyebaran wawancara dan checklist data kompetensi petani di Kelompok Tani Mekar Tani Jaya untuk penilaian kompetensi petani dan organisasi serta kapasitas pertanian, dan pengumpulan data

sekunder untuk mengumpulkan data dari kantor desa setempat dan Kelompok Usaha Tani Mekar Tani Jaya untuk terkait kependudukan, lahan, potensi ekonomi, jumlah tenaga kerja, dan produksi pertanian.

Metode analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif dengan menggunakan checklist data sebagai alat untuk menilai potensi kompetensi petani. Tahap selanjutnya adalah analisis kualitatif untuk menghubungkan potensi yang dimiliki oleh petani dan organisasi dengan kapasitas komunitas. Data maupun informasi yang didapatkan dalam penelitian akan dibandingkan dan diuji dengan berbagai kionsep dan teori yang ada melalui prosedur

analisis kualitatif yang ditempuh yaitu reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan.

4. Analisis

Penilaian kapasitas dinilai dari kolaborasi modal individual, oganisasi, dan sosial (Chaskin, 2001). Kapasitas komunitas berdasakan kolaborasi modal individu dinilai berdasarkan kompetensi yang dimiliki oleh komunitas dari sisi kemampuan budidaya, pemasaran, dan penunjang. Penilaian Kapasitas komunitas berkaitan dengan dua hal utama yaitu potensi kompetensi komunitas yang merupakan penilaian dari potensi individu dan organisasi, selanjutnya adalah keberlanjutan dalam penerapan inovasi.

4.1 Potensi Kapasitas Petani

Potensi kapasitas petani meliputi tiga kegiatan utama yaitu kegiatan budidaya, tata niaga, dan penunjang. Berdasarkan analisis penelitian dengan metode data checklist kompetensi, diapatkan dua penilaian yaitu nilai dengan persentase lebih dari 50% dikatakan kompetensi tersebut dimiliki oleh mayoritas individu dalam komunitas dan nilai di bawah 50% dikatakan bahwa kompetensi tersebut jarang dimiliki oleh individu dalam komunitas. Dalam penilaian kegiatan budidaya, potensi kompetensi dinilai sangat baik karena hanya pada kegiatan pengemasan dan pelabelan produk paprika yang jarang dimiliki karena pada kegiatan ini petani jarang terlibat langsung di bagian pengepakan. Selain itu dalam penilaian pembuatan greenhouse dan sistem irigasi hidroponik, walaupun masih terkategori dimiliki oleh banyak individu namun hal ini hanya terdistribusi di kalangan petani laki-laki saja.

Tabel 3. Hasil Penilaian Potensi Kompetensi Petani di Bidang Budidaya

KompetensiNilai (%)KeteranganKompetensiNilai (%)Keterangan
Sanitasi lahan96.29DimilikiMengobati tanaman yang70,37Dimiliki
sakit
Membangun greenhouse51.85DimilikiMengobati serangan hama66.66Dimiliki
Membangun
sistem
irigasi
55.55DimilikiMengendalikan gulma92.59Dimiliki
hidroponik
Pembenihan awal88.88DimilikiMengajir tanaman92.59Dimiliki
Membuat media pembenihan88.88DimilikiMewiwil tanaman92.59Dimiliki
Membuat media pembesaran88.88DimilikiMemilih paprika siap panen96.29Dimiliki
Menyortir bibit unggul88.88DimilikiMemanen dengan gunting96.29Dimiliki
steril
Menanam benih unggulan88.88DimilikiMengurangi
kerusakan
96.29Dimiliki
panen
Merawat media tanam88.88DimilikiMenyortir hasil panen100Dimiliki
Memberikan pupuk74.07DimilikiMembersihkan hasil panen96.29Dimiliki
Menilai kondisi paprika81.488DimilikiMemberikan
pengemasan
29,62Jarang Dimiliki
dan pelabelan

Sumber: Hasil Analisis, 2012

Kompetensi tata niaga berkaitan dengan kemampuan dalam mencari pasar dan jaringan baru sebagai mitra yang mampu menyerap berbagai produk. Kompetensi dalam bidang niaga dan pemasaran sangat jarang dimiliki oleh anggota kelompok, berbeda dengan kompetesni pada bidang budidaya, bidang tata niaga hanya dikuasai sedikit dari anggota komunitas. Hal ini terjadi karena dalam mengusahakan pertanian paprika, sistem yang dibuat adalah sistem kerjasama sebagai suatu kelompok, sehingga

kepemilikan kebun yang diusahakan akan dibagi keuntungannya.

Kemampuan dalam memasarkan produk sebenarnya terpenuhi dalam kelompok walaupun secara kuantitas, anggota komunitas tidak semuanya tahu dan mampu

menerapkannya. Tetapi dengan adanya kemampuan ini, kelompok tani sudah bisa membuat satu unit usaha khusus dan menjadi satu bagian dalam kelompok yang sudah dijelaskan sebelumnya pada sistem supply chain dan organisasi di dalam kelompok.

Tabel 4. Hasil Penilaian Potensi Kompetensi Petani di Bidang Tata Niaga

KompetensiNilai (%)KeteranganKompetensiNilai (%)Keterangan
Mencari
jaringan
baru
untuk penjualan paprika
non tengkulak dan pasar
tradisional
22.22Jarang DimilikiMampu
bernegosiasi
dengan pelanggan/ klien
dan lainnya
14.81Jarang Dimiliki
Menjual
paprika
berdasarkan gradenya
22.22Jarang DimilikiMelaksanakan
sistem
pemasaran sesuai dengan
Sistem dalam
kelompok
tani
29.62Jarang Dimiliki

Sumber: Hasil Analisis, 2012

Kompetensi bidang penunjang meliputi kemampuan dalam mencari sumber permodalan dan mampu membina kerjasama. Kondisi pada bidang penunjang tidak jauh berbeda dengan bidang tata niaga dan pemasaran. Pada bidang penunjang, modal besar yang dibutuhkan oleh petani dalam bertani paprika lebih banyak dijalankan melalui kelompok. Sehingga, orangorang yang mempunyai kemampuan dan pengetahuan ini bekerja untuk kelompok dalam

mencari modal. Sistem yang dipakai dalam bertani paprika adalah sistem kelompok di mana pemilik lahan adalah bagian dari kelompok yang sekaligus dapat mengelola kebunnya. Pengetahuan mengenai penunjang diketahui oleh pengurus kelompok dan orang yang bergerak pada bagian pemasaran saja, untuk petani yang bergerak pada bidang budidaya, tidak mengetahui sama sekali.

Tabel 5. Hasil Penilaian Potensi Kompetensi Petani di Bidang Penunjang

KompetensiNilai (%)Keterangan
Mencari Mitra kerjasama dengan berbagai pihak dalam bidang permodalan22.22Jarang Dimiliki
Membina kerjasama dengan berbagai pihak non tengkulak dan rentenir dalam bidang22.22Jarang Dimiliki
permodalan (seperti bank, kredit mikro, dll )

Sumber: Hasil Analisis, 2012

4.2 Potensi Kompetensi Organisasi

Potensi kompetensi organisasi dinilai dari kemampuan organisasi melakukan penyesuaian dalam bentuk sistem kerja dan struktur kerja organisasi. Karena organisasi adalah wadah bagi individu untuk berakivitas mencapai tujuan bersama. Dari kelompok tani ini

didapatkan bahwa kelompok tani MTJ sudah melakukan penyesuaian untuk menunjang berjalannya sistem agribisnis dalam kelompok ini dalam bentuk perubahan struktur organisasi dan perubahan sistem kerja berupa sistem supply chain

Tabel 6. Hasil Penilaian Potensi Kompetensi Petani di Bidang Penunjang

Kompetensi OrganisasiYa/tidakKeterangan
Perubahan struktur organisasiYaStruktur ditambahkan fungsi pemasaran, pencatatan panen, dan bagian
pembukuan untuk memantau administrasi laporan keuangan, produk, dan
anggota
Perubahan pada sistem supplyYaSistem pemasaran tergabung dalam kelompok sehingga menggabungkan
chainsubsektor agribisnis dalam satu proses dan siklus.

Berdasarkan data di atas, komunitas dinilai memiliki potensi keunggulan utama pada bidang budidaya karena mayoritas angota adalah petani yang memang sudah lama melakukan kegiatan pertanian. Walaupun penilaian pada kompetensi tata niaga dan penunjang dinilai jarang dimiliki namun hal potensi ini tetap ada dalam kelompok. Sebagai satu kesatuan kelompok, tiga potensi petani harus disatukan untuk menjalankan sistem yan telah dibentuk oleh organisasi baik berupa penambahan fungsi kerja maupun sistem supply chain agar agribisnis bisa diterapkan dalam kelompok ini.

4.3 Kapasitas Komunitas Petani

Kapasitas komunitas dinilai dari kemampuan organisasi menggunakan aset atau potensi yang dimilikiya untuk digunakan secara bersamasama dalam menjalankan, mempertahankan, dan mengembangka inovasi yang diadopsi. Keberlanjutan penerapan dari inovasi memperlihatkan terpenuhinya kapasitas komunitas. Keberjalanan organisasi dilihat dari dua hal, yaitu SDM yang menjalankannya dan sistem yang terdiri dari perangkat organisasi juga sistem kerja organisasi (Spector, 2006). Adapun hasil dari kapasitas komunitas yaitu :

a. Dari sisi komitmen keberlanjutan SDM untuk bisa menjalankan inovasi dikatakan

  • rendah, berhentinya anggota dalam mengadopsi inovasi tidak dipengaruhi oleh opini dan keterikatan kelompok. Ketersediaan SDM kurang mencukupi dengan tidak adanya bagian pemasaran yang melanjutkan sistem. Selain itu ketua kelompok pada akhirnya lebih memfokuskan untuk banyak membantu petani lain di luar komunitasnya.
  • b. Dari sisi akses terhadap sumber daya, akses terhadap sumber daya keuangan bisa dikatakan baik, namun akses terhadap pasar tidak baik karena tidak berjalanya sistem supply chain dan tida adanya bagian pemasaran yang melanjutkan sebagai anggota kelompok.
  • c. Dari sisi kemampuan memecahkan masalah kelompok ini kurang baik dalam menjalankan dan mepertahankan inovasi yang ada, walaupun secara potensi baik perorangan maupun organisasi bisa dikatakan banyak memiliki potensi namun dalam konteks penerapan jauh dari kesinambungan. Sistem supply chain tidak berjalan, perangkat organisasi tidak berjalan, SPO tidak berjalan, tidak mempunyai pencatatan cash flow yang baik, dan tidak mempunyai rencana pengembangan bisnis dan kelompok

Tabel 7. Kapasitas Komunitas

KemampuanKondisi LapanganYaTidakAspek KeberlanjutanKapasitas Komunitas
TerpenuhinyaDari hasil observasi dan wawancara didapatkanvTidak memiliki investasiKomitmen dalam
kebutuhanhanya ada sembilan orang saja yang saat iniSDM yang cukup akibatkomunitas dinilai kurang
sumber dayaaktif untuk bertanggung jawab dan bertanibanyak anggota yang tidakbaik karena jumlah SDM
manusia dalampaprika dan dibantu oleh 4 orang sebagaimelanjutkan bertaniyang bertahan tidak banyak
menjalankanpekerja tidak tetap. Hal yang perlu dicerrmatipaprikadan keterikatan dengan
sistem kerjajuga adalah kelompok ini kehilangan sumberkelompok tidak
daya penting yang memiliki kapasitas yangmempengaruhi keputusan
baik dalam bertani, selain itu sumber daya vitaluntuk berhenti mengadopsi
yang hilang adalah bagian pemasaran.
Kelompok ini tidak memiliki investasi SDM
yang baik dengan kehilangan SDM penting
dan tidak terpenuhinya aspek komitmen dalam
kapasitas komunitas karena ketersediaan SDM
menunjukkan adanya keterikatan dan
komitmen individu terhadap kelompok.
MembinaKelompok tani MTJ mempunyai peran berupavMemiliki investasiAkses terhadap sumber
kerjasamamencari akses permodalan bagi keberjalananfinansial yang cukup akibatdaya tetap terpenuhi
dengan berbagaikelompok tani, dalam hal ini adalah modalbanyak anggota yang tidakdengan baik melalui
pihak nonuntuk bertani paprika. Membina kerjasamamelanjutkan bertanikelompok, walaupun pada
tengkulak dandengan berbagai pihak yang memberikanpaprikakenyataannya hal ini
rentenir dalammodal dilakukan dengan memanfaatkan P4Sdilaksanakan oleh satu
bidangsebagai wadah kelompok memberikanketua kelompok
permodalanpelatihan teknis bertani kepada masyarakat
(seperti bank,umum yang ingin belajar bertani. Dari sini
kredit mikro, dllkelompok ini mendapatkan modal dan
)kerjasama dengan mitra pemberi modal.
Kecukupan financial dan akses terhadap
sumberdaya untuk kelompok ini dinilai mudah
dan terpenuhi.
Mampu
memenuhi
Dalam hal memenuhi tuntutan kerjasama yang
disepakati dengan pihak lain, kelompok ini
vKemampuan untuk
melaksanakan dan
Kurangnya kemampuan
memecahkan masalah
tuntutantidak bisa memenuhinya. Faktor buruknyamempertahankan inovasiberupa kurang baiknya
kerjasama yanglaporan admisnitrasi dan akuntabilitasyang diadopsi dimiliki olehsistem menejemen
disepaktikeuangan menjadi penyebabnya. Kelompok inikelompok inipelaporan dan pencatatan
dengan pihaktidak dapat menjalankan program atau sistemadministrasi menjadi
lainyang telah dibentuk sehingga kemampuanpenyebab utama
memecahkan masalah dinilai kurang dan
membuat masalah baru dalam kelompok
BerjalannyaPerangkat organisasi yang dibentuk tidakvPerangkat yang dibentukKurangnya kemampuan
perangkatberjalan dengan baik. Berdasarkan hasilmencerminkan adanyamemcahkan masalah
organisasi yangobservasi bagian pmbukuan, pelaksana panen,fleksibiltas dalamkarean sumber daya yang
sudah dibentukabsensi, dan pemasaran tidak berjalan. bagiankelompok, namunmempunyai potensi yang
pemasaran tidak berjalan akrena adanyaketidakmampuan dalambaik tidak menjalankan
kekecewaan dengan kelompok akibat posisinyamempertahankantugasnya untuk mengerjaan
sebagi mitra kerja yang kemudian bergabung
dengan kelompok. Kondisi ini menimbulkan
perangkat yang ada
menunjukkan tida ampu
tugas kelompok.
tidak berjalannya fungsi kontrol terhadapmempertahankan sebuah
pekerja, aliran keuangan, dan hasil panen.program
Perangkat yang dibuat tidak bertahan
danberjalan dan membuat maslah baru bagi
kelompok ini.
BerjalannyaDengan tidak berjalannya perangkat organisasivSistem yang dibentukKegagalan dalam
sistem rantaiyang dibentuk, keberjalanan supply chain jugamemperlihatkanpenerapan sistem menjadi
pasok yangtergangu. Keluarnya bagian pemasaran darifleksibilitas namun tidakmasalah baru bagi
sudah dibentukkelompok ini membuat kelompok ini tidak lagiada keberlanjutan karenakelompok karena tidak
mampu memasarkan sendiri hasil produksistem pasok tidak berjalanadanya bagian pemasaran
paprikanya. Akibat tidak berjalanya fungsidan memberikan masalah
kerja dalam perangkat organisasi, sistem inibagi kelompok, akses
tidak bertahan lama dan menimbulkan maslahterhadap pasar semakin
bagi kelompok.berkurang
KemampuanKondisi LapanganYaTidakAspek KeberlanjutanKapasitas Komunitas
BerjalannyaDari sisi keberjalanan sistem penanamanvSPO merupakan alat yangTidak berjalannya SPO
SPO darisampai pemasaran didapatkan hanya ada satumemudahkan sistem rantaimembuat kurang baiknya
budidayabuah dokumen SPO yang pernah dijalankanpasok, namunsistem monitoring dari
sampaipada tahun 2010 dan tidak berlanjut saat ini,penerapannya tidakrantai produksi sampai
pemasaranselain itu dari sisi cashflow keuangan,dilanjutkanpenjualan dalam kelompok
pencatatan cashflow keuangan kurangdan memebrikan masalah
dilakukan dengan baik dan tidak dipindahkan
ke dalam sistem yang lebih rapih. Tidak
berjalannya SPO dan pencatatan aliran modal
pendapatan keuangan juga menimbulkan
masalah bagi kelompok
MempunyaiBerdasarkan hasil wawancara dengan ketuavPengembangan bisnisTidak adanya rencana
perencanaankelompok dikatakan bahwa tidak adamenjamin adanyapengembangan bisnis dan
pengembanganperencanaan khusus terkait pengembanganpengembangan inovasi dankelompok merupakan
bisnis danusaha, yang sedang dikerjakan saat ini lebihjuga pengembanganacuan pengembangan dan
organisasibanyak membantu petani di luar kota. Tidakkelompok, hal ini tidaktujuan bersama dalam
kelompok taniadanya rencana pengembangan bisnis dandidapatkan dalamkelompok memperlihatkan
kelompok merupakan acuan pengembangankelompok ini.pemecahan permasalahan
dan tujuan bersama dalam kelompoktidak menjadi prioritas
memperlihatkan pemecahan permasalahanutama kelompok atau
tidak menjadi prioritas utama kelompok atauhanya dilakukan oleh oleh
hanya dilakukan oleh oleh individu sajaindividu saja
MempunyaiPencatatan keuangan masih belum baik danvPencatatan keuangan yangTidak baiknya pencatatan
cahsflowtidak ada monitoring terhadap keuntungan ataubaik merupakan cirrikeuangan menimbulkan
keuangan yangpun kerugian yang didapatkan oleh komunitas.baiknya organisasi, hal inimasalah bagi kelompok
baiktidak berangsung dalamyaitu tidak adanya
kelompok ini.monitoring terhadap
perkembangan untung rugi
yang jelas selain itu
laporan keuangan terhadap
klien juga kurang baik

Berdasarkan hasil tersebut didapatkan hasil dari kapasitas komunitas sebagai berikut:

Tabel 8. Hasil Penilaian Kapasitas Komunitas

Kapasitas KomunitasKeterangan
KomitmenKomitmen berkaitan erat dengan terpenuhinya kebutuhanSDM. Degan adaay komitmen ada
keterikatan individu terhadap kelompok. Hal ini tidak terpenuhi dalam kelompok tani MTJ
Akses terhadap sumberdayaAkses terhadap sumberdaya keuangan sangat baik, namun apabila tidak ada perbaikan dalam
pelaporan keuangan yang baik hal ini akan membuat kelompok ini susah mengakses modal. Dari sisi
akses pasar, kelompok ini tidak mampu mengakses pasar akibat kehilangan bagian pemasaran.
Kemampuan
memecahkan
Gagalnya sistem yang dibentuk baik dari struktur, SPO, dan supply chain membuat masalah baru bagi
masalah
kelompok, selain itu kelompok ini tidak memiliki acuan perencanaan pengembangan kelompok.

Sumber: Hasil Analisis, 2012

4.4 Hubungan Potensi Kompetensi dengan Kapasitas Komunitas

Tahap selanjutnya adalah pembandingan antara potensi kompetensi yang dimiliki oleh petani dan organisasi dengan pemenuhan kapasitas komunitas kelompok tani. Dari data in akan

telihat ada atau tidak adanya asosiasi antar potensi dengan kaasitas komunitas

Potensi KompetensiHubungan asosiatifKapasitas Komunitas
Kompetensi PetaniBaik dalam kompetnsiDalam menilai kapasitasKapasitas
komunitas
budidaya. Kompetensi tata niagakomunitas,
harus
terdapat
yang terpenuhi oleh kelompok
dan penunjang jarang dimilikihubungan asosiatif dimana potensiini
adalah
akses
terhadap
oleh anggota kelompok taniyang dimiliki oleh komunitas baiksumberdaya keuangan berupa
KompetensiSudah
terdapat
potensi
individu
maupun
akses
modal.
Dari
sisi
Organisasipenyesuaian dari kelompok agarorganisasi, diorganisasikan untukkomitmen,
kelompok
ini
agribisnis dapat berjalan yaitumencapai tujuan bersama.kekurangan jumlah SDM untuk
perubahan
pada
struktur
menjalankan sistem agribisnis
organisasi
yang
merupakan
Potensi kompetensi petanidan tiak mampu mengakses
penambahan fungsi kerja ndaharus dikolaborasikan agar sistempasar. Masalah pun muncul
perubahan pada sistem supplyyang dibentuk oleh kelompok tanikarena tidak berjalannya fungsi
chaindapat berjalan dan memenuhiorganisasi
karena
perangkat
kebutuhan
kelompok
juga
organisasi tidak bekerja dengan
memecahkan masalah kelompokbaik. Sistem supply chain yang
tanimengacu pada agribisnis tidak
berjalan.

Tabel 9. Hubungan Potensi Kompetensi dengan Kapasitas Komunitas

Bersasarkan tabel di atas, hubungan asosiatif antara potensi kompetensi yang dimiliki oleh anggota dalam kelompok dengan potensi organisasi tidak terjadi. Hal inin terlihat dari pemenuhan kapasitas komunitas yang hanya mampu mengakses sumberdaya keuangan karena fungsi organisasi tidak berjalan dengan baik ntuk memecahkan masalah dan menjaga komitmen anggotanya.

Dengan tidak adanya hubungan asosiatif sistem agribisnis yang harus dijalankan oleh kelompok ini tidak terjadi. Kelompok tani ini hanya bergerak pada subsektor produksi dan tidak mampu mengintegrasikan subsektor perdagangan

5. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Dari sisi potensi kompetensi individu dalam komunitas petani hal yang banyak dimiliki adalah kompetensi budidaya. Kompetensi tata niaga dan penunjang jarang dimiliki karena ke dua potensi ini dibenbankan kepada kelompok tani. Potensi organisasi terlihat dengan adanya perubahan pada struktur organisasi dengan

  • menambahkan fungsi pencatan, pemasaran, dan pembukuan. Dari sisi sistem kerja terdapat sistem supply chain yang mengacu pada sistem pertanian agribisnis.
  • 2. Kapasitas komunitas yang terpenuhi hanya pada akses terhadap sumberdaya keuangan saja. Pemenuhan fungsi kerja organisasi tidak terjadi karena sistem dan fungsi kerja yang dibentk dan dibebankan pada kelompok ini tidak berjalan dengan baik dan tidak berlanjut. Sistem agribisnis yang dicoba diterapkan oleh kelompok ini gagal dijalankan.
  • 3. Dengan rendahnya kapasitas komunitas yang dipenuhi oleh kelompok tani MTJ maka tidak ada hubungan asosiatif antara potensi yang dimiliki oleh individu dan organisasi tehadap kapasitas komunitas.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Tubagus Furqon Sofhani, MA., Ph.D untuk arahan dan bimbingan sehingga artikel ini dapat ditulis. Terima kasih juga kepada dua mitra bestari yang telah memberikan komentar yang berharga.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

3
Citations
1.19
FWCIfield-weighted
89th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20251
20181
20151

Semantic Profile AI-classified research signals

level 0
Humanities 0.39
level 1
level 1

References

  1. Alkadri, dkk. 1999. Tiga Pilar Pengembangan Wilayah. Jakarta: BPPT.
  2. Badan Pusat Statistik Nasional. 2010. Indonesia Dalam Angka 2009. Jakarta: Badan Pusat Statistik
  3. Bush, Robert, Jo Downer dan Allyson Mutch. 2002. Community Index Manual. Queensland: University of Queensland.
  4. Chaskin, Robert. 2001. Building Community Capacity. New York: ALDINE DE GRUYTER.
  5. Hanafie, Rita. 2010. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: Andi
  6. Hansen. N. M.. 1981 "Development from above: The Centre-down Development Paradigm", in Stohr. W. B.. and Taylor, D. R. F.,( 1981), Development From Above or Below? The Dialectic of Regional Planning in Developing Countries, Chichester: John Wiley.
  7. Kompas, "Lahan Terbatas, Ekspor Paprika Terhambat" . Kompas, Juli 26, 2007. http://nasional.kompas.com/read/2007/07/26/13063414/ (Accessed 2012).
  8. Mosher, A. T. 1966.Getting Agricultural Moving. New York: Free Press.
  9. Rogers, Everett. 2003. Diffusion of Innovation. New York: Free Press.
  10. Soekartawi, dkk. 1996. Pembangunan Pertanian. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
  11. Spector, Paul. 2006. Industrial and Organizational Psychology. Florida: John Wiley & Sons.
  12. Spencer, Lyle dan Signe Spencer. 1993. Competence at Work. New York: Wiley & Sons.
  13. Syahyuti. 2005. Pembangunan Pertanian dengan Pendekatan Komunitas:Kasus Rancangan Program Prima Tani. Dalam: Forum Penelitian Agro Ekonomi. Volume 23 No. 2, hal.102-115. Maret.