Pendahuluan
Alih fungsi lahan yang semakin meningkat menyebabkan semakin berkurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan berkurangnya area resapan air khususnya di daerah perkotaan. Hal ini disebabkan oleh pesatnya peningkatan jumlah penduduk di perkotaan yang mengakibatkan semakin meningkatnya kebutuhan ruang dan sumberdaya. Berkurangnya area resapan air akan mempercepat terjadinya aliran permukaan (run-off) dan memicu terjadinya banjir (Kodoatie, 2002). Daerah perkotaan yang dekat dengan sungai dapat memicu terjadinya banjir. DAS (Daerah Aliran Sungai) Belik termasuk salah satu DAS yang berada di daerah perkotaan. Banjir berasal dari aliran limpasan yang mengalir melalui sungai atau menjadi genangan. Limpasan air yang mengalir pada permukaan tanah disebabkan oleh tingkat infiltrasi air telah terlampaui, dengan kata lain tanah telah jenuh sehingga air mengalir menjadi limpasan permukaan. Proses hujan menjadi aliran yang sebenarnya terjadi di alam sangat rumit, sehingga sulit untuk disimulasikan seluruh kejadiannya ke dalam sebuah model. Model hujan aliran sederhana, penggunaanya mudah, yang sampai saat ini masih dipergunakan yaitu model Rasional. Model ini berorientasi pada banjir dengan keluaran berupa debit puncak dan penerapan model ini terbatas pada DAS kecil (Subarkah, 1980).
Aliran permukaan (run off) adalah bagian dari air hujan yang mengalir di atas permukaan tanah (Murtiono, 2008). Air hujan yang menjadi run off sangat bergantung kepada intensitas hujan, penutupan tanah, dan ada tidaknya hujan yang terjadi sebelumnya (kadar air tanah sebelum terjadinya hujan). Kadar air tanah sebelum terjadinya hujan biasa disebut AMC (Antecedent Moisture Content) (Rahim, 2006). Konsep periode ulang seharusnya tidak boleh diartikan bahwa suatu kejadian hujan atau banjir besar dengan periode ulang misalnya 20 tahun akan berlangsung setiap 20 tahun, melainkan apabila kejadian terjadi pada tahun ini, maka probabilitas kejadian tersebut akan terulang lagi tahun depan adalah 5%. Besarnya periode ulang menunjukkan interval tahun rata-rata berlangsungnya kejadian ekstrem dalam kurun waktu yang sangat panjang (Asdak, 2002).
Menurut Asdak (2002) model SCS dikembangkan berdasarkan hasil pengamatan bertahuntahun yang melibatkan banyak daerah pertanian di Amerika Serikat. Model ini berlaku untuk daerah dengan luas kurang dari 13 km2 dengan kemiringan lahan kurang dari 30%. Model SCS berusaha mengaitkan karakteristik DAS seperti tanah, vegetasi, dan tataguna lahan dengan CN yang menunjukkan potensi volume aliran permukaan untuk curah hujan tertentu. Metode SCS-CN dikembangkan Victor Mockus tahun 1950. Hidrograf ini menggunakan fungsi hidrograf tanpa dimensi untuk menyediakan bentuk standar hidrograf satuan. Dan juga koordinat hidrograf ini telah ditabelkan, sehingga mempersingkat waktu untuk perhitungan hidrograf dengan rumus–rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
\[t_{l} = \frac{L^{0.8} (2540 - 22.86 \, CN)^{0.7}}{14.104 \, CN^{0.7} \, S^{0.5}} (1)\]\[t_{p} = \frac{tr}{2} + tl \, (2)\]
Dan untuk persamaan debit puncak:
\[Qp = 2.08 \text{ A/tp } (3)\]
(Ponce, 1989)
Asdak (2002) berpendapat bahwa intensitas hujan terbesar dalam suatu DAS ditentukan dengan memperkirakan waktu konsentrasi dalam suatu DAS tersebut, serta intensitas hujan maksimum untuk periode ulang tertentu dan untuk lama waktu hujan sama dengan waktu konsentrasi.
Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan per satuan waktu. Sifat umum hujan adalah semakin singkat hujan berlangsung, intensitasnya cenderung semakin tinggi dan semakin besar periode ulangnya, semakin tinggipula intensitasnya. Dalam perhitungan intensitas curah hujan, metode yang digunakan adalan Metode Mononobe, dengan persamaan berikut:
\[T = \frac{R_{24}}{24} \left(\frac{24}{t_c}\right)^{\frac{2}{8}}\]. (4) (Suripin, 2003)
Metode rasional banyak digunakan untuk memperkirakan debit puncak yang ditimbulkan oleh hujan deras pada daerah tangkapan (DAS) kecil. Suatu DAS disebut DAS kecil apabila distribusi hujan dapat dianggap seragam dalam suatu ruang dan waktu dan biasanya durasi hujan melebihi waktu konsentrasi (Triatmodjo, 2008).
Metode rasional dalam menentukan laju puncak aliran permukaan (debit puncak) mempertimbangkan waktu konsentrasi, yaitu waktu yang dibutuhkan air yang mengalir di permukaan tanah dari tempat yang terjauh sampai tempat keluarnya (outlet) di suatu daerah aliran (Arsyad 2010).
Persamaan dalam menghitung debit puncak dengan model rasional (United State Soil Conservation Service 1987) adalah sebagai berikut (Asdak 2002; Arsyad 2010):
\[Q_p=0,278 CIA (5)\]
Koefisien pengaliran adalah persentase jumlah air yang dapat mengalir melalui permukaan tanah dari keseluruhan air hujan yang jatuh pada suatu daerah. Semakin kedap suatu permukaan tanah, maka semakin tinggi nilai koefisien pengalirannya (C).
\[C = \frac{\sum c_n A_n}{A_{total}} (6)\]
(Kamiana, 2010).
Menurut Rahim (2006), koefisien pengaliran merupakan kombinasi dari tiga faktor, yaitu topografi, penggunaan lahan, dan tekstur tanah. Nilai C umumnya sudah diklasifikasikan berdasarkan penelitian-penelitian yang sudah ada.
Agroforestri
Daerah perkotaan yang padat akan memiliki tingkat kerentanan terhadap banjir yang besar, sehingga diperlukan upaya untuk mengurangi dan mengendalikan banjir yang terdapat di daerah perkotaan. Salah satu konsepnya yaitu Agroforestri dan Konsep Zero Run-off. Agroforestri dikenal dengan istilah Wanatani yaitu menanam pohon di lahan pertanian. Sistem ini telah
dipraktikkan oleh petani di berbagai tempat di Indonesia selama ber abad-abad. Menurut De Foresta et al (1997), agroforestri dapat dikelompokkan menjadi dua sistem yaitu system agroforestry sederhana dan system agroforestry kompleks. Sistem agroforestri sederhana yaitu menanam pepohonan secara tumpang sari dengan satu atau beberpa jenis tanaman semusim. Jenis- jenis pohon yang ditanam bisa bernilai ekonomi tinggi misalnya kelapa, karet, cengkeh, dan jati. Sistem agroforestri komplek merupakan suatu sistem pertanian menetap yang berisi banyak jenis tanaman yang ditanam dan dirawat dengan pola tanam dan ekosistem menyerupai hutan. Dalam sistem ini tercakup beraneka ragam jenis komponen seperti pepohonan , perdu, tanaman musiman, dan rerumputan dalam jumlah yang banyak.
Gambar 1. Agroforestri Perkebunan (a); Agroforestri Area Sawah dan Hutan (b)
Zero Run-off
Berdasarkan Pergub DKI Jakarta No. 43 Tahun 2013 tentang Pelayanan Rekomendasi Peil Lantai Bangunan pasal 1 ayat 16, yang dimaksud dengan zero delta Q (run off) adalah: "Kebijakan prinsip keharusan agar tiap bangunan tidak boleh mengakibatkan bertambahnya debit air ke sistem saluran drainase atau sistem aliran sungai".
Artinya debit air akibat pembangunan (run off tambahan akibat pembangunan) harus ditahan sehingga tambahan debit (ΔQ) nya adalah nol. Hal ini diupayakan dengan membuat 3 komponen utama, yaitu:
- 1) Sistem Penampungan Air Hujan (SPAH) / Rain Water Tank (RWT),
- 2) Kolam resapan/ kolam konservasi
- 3) Sumur resapan.
Kolam konservasi adalah kolam-kolam yang ada di daerah perkotaan, pemukiman, pertanian, dan daerah Perkebunan (Maryono, 2005). Desain kolam konservasi disajikan pada Gambar 2.
Gambar 2. Kolam Konservasi di daerah permukiman
Kolam pengumpul air hujan (PAH) merupakan kolam atau wadah yang dipergunakan untuk menampung air hujan yang jatuh di atas bangunan (rumah, degung perkantoran, atau industri) yang disalurkan melalui talang. Berikut adalah Gambar PAH yang disajikan pada Gambar 3 dan Gambar 4.
Gambar 3. Penampungan Air Hujan (Sumber: Maryono, 2006)
Terdapat 2 manfaat dari kolam tampungan air hujan yang digabungkan dengan penampungan air hujan yaitu:
- 1. Menampung air larian
- 2. Menyimpan air untuk musim kemarau dan bisa dimanfaatkan
Gambar 4. SPAH yang diterapkan di perkotaan
Sumur resapan adalah salah satu prasarana untuk menampung dan meresapkan air hujan. Berbeda dengan cara konvensional dimana air hujan dibuang/dialirkan ke sungai kemudian diteruskan ke laut. Sumur resapan ini merupakan sumur kosong dengan kapasitas tampung yang cukup besar sebelum air meresap ke dalam tanah. Dengan adanya tampungan, maka air hujan mempunyai cukup waktu untuk meresap ke dalam tanah. Berikut adalah gambar sumur resapan pada Gambar 5.
Gambar 5. Sumur Resapan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui debit banjir pada salah satu saluran Sungai Belik, membandingkan nilai debit menggunakan metode Rasional dan metode debit SCS-CN yang memiliki parameter tersendiri di tiap metode yang perlu diuji keakuratannya pada saluran yang dikaji, dan rencana penerapan konsep zero run-off dan agroforestri dalam upaya mengurangi banjir di daerah perkotaan.
Metodologi
Penelitian dilakukan di saluran Sungai Belik. Metode penelitian ini dibagi menjadi 3 tahap yaitu pra survei, tahap survei dan tahap pengolahan data.
- 1. Pra Lapangan
- Kajian Pustaka
- Interpretasi sub-DAS Belik melalui Citra dan Peta RBI
- Pembuatan Peta Sub-DAS Belik
- Pembuatan Peta Tentatif Penggunaan Lahan Sub-DAS Belik
- 2. Lapangan
- Pengukuran debit metode slope area method
- Pengamatan Penggunaan Lahan Lapangan
- Pengamatan kondisi Daerah sekitar sub DAS Belik
- Data Curah Hujan (Sekunder)
- 3. Pengelolaan Data
- Perhitungan debit puncak Sub DAS Belik dengan 2 metode:
- 1. Rational Method
- 2. SCS CN Method
- Analisis mengenai konsep Zero Runoff dan Agroforestri berdasarkan peta penggunaan lahan Sub DAS Belik
- 1. Sistem penampungan air hujan (SPAH) / Rain Water Tank (RWT),
- 2. Kolam resapan
- 3. Sumur resapan.
- 4. Agroforestri
- Perhitungan debit puncak Sub DAS Belik dengan 2 metode:
Perhitungan yang dilakukan:
Metode Rasional
Berdasarkan curah hujan dan Penggunaan Lahan.
Limpasan Maksimum,
Q = 0.278 C.I.A
Ket:
Q: Debit aliran permukaan (m³/s)
C: Koefisien aliran
I: Intensitas Hujan (mm/jam)
A: Luas daerah drainase (m<sup>2</sup>)
Waktu Konsentrasi (Tc)
Persamaan yang umum digunakan ialah yang dikembangkan oleh Kupich:
\(Tc = 0.0195 L^{0.77} S^{-0.385}\)
Ket:
Tc: waktu konsentrasi (menit)
L:panjang maksimum aliran (m)
S: Beda tinggi titik pengamatan dengan lokasi terjauh saluran dibagi panjang saluran.
Koefisien Aliran
C = C1A1 + C2A2 + C3A3 + ... + CnAn / A1 + A2 + A3 + ... + An
Ket:
C: Koefisien aliran
Cn: Koefisien aliran pada masing-masing penggunaan lahan
An:Luas lahan dengan jenis penggunaan lahan
Intensitas Hujan
Curah hujan yang digunakan dalam perhitungan ini berupa curah hujan tahunan yang didapatkan dari data sekunder. Data curah hujan yang digunakan yaitu selama 10 tahun dari tahun 1989-1998.
Hasil dan Pembahasan
Lokasi penelitian dilakukan di selatan Kota Yogyakarta tepatnya di Desa Tamanan Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul. Panjang saluran drainase adalah 85,725 m dengan penggunaan lahan dominan berupa sawah irigasi dengan tekstur tanah geluh berpasir. Saluran drainase dimanfaatkan sebagai sumber air untuk pengairan sawah artinya saluran drainase tersebut diambil dari Sungai Belik dan outletnya juga berakhir di Sungai Belik.
Perhitungan debit puncak di lokasi kajian tersebut menggunakan metode hidrograf SCS-CN dan menggunakan metode rasional untuk periode ulang 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, dan 20 tahun. Perhitungan debit puncak setiap metode disajikan dalam tabel sebagai berikut:
a. Metode Hidrograf SCS-CN
| Drainase | Luas (m²) A | Tekstur Tanah | Kelas SCS Tanah | Penggunaan Lahan | CN (II) | CN (III) | CN x A |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 21000 | Geluh Pasiran | В | Sawah Irigasi | 75 | 87 | 1834177,125 |
| CN | L (meter) | S (derajat) | tl (jam) | tp (jam) | Qp (m3/s) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Drainase | 87 | 85,725 | 0,002 | 18,8842 | 19,3842027 | 0,000217202 |
(Hasil analisis, 2015)
Berikut ditampilkan hidrograf satuan pada kala ulang 2, 5, 10, dan 20 tahun pada Gambar 6.

Gambar 6. Hidrograf SCS-CN Drainase DAS Belik Sumber: Hasil analisis, 2015
b. Metode Rasional
| Penggunaan Lahan | C | A (km2 ) |
|---|---|---|
| Sawah irigasi | 0,75 | 0,021000000 |
| Periode Ulang | I Rainbow | I Mononobe | Qp |
|---|---|---|---|
| 2 | 166,6 | 22,9075 | 0,1003 |
| 5 | 291,8 | 40,1225 | 0,175676 |
| 10 | 357,2 | 49,115 | 0,21505 |
| 20 | 411,3 | 56,55375 | 0,247621 |
Tabel Perbandingan Nilai Debit Puncak (Qp) Metode SCS-CN dan Metode Rasional
| Periode Ulang (PU) | Qp Rasional (m3 /s) | Qp SCS-CN (m3 /s) |
|---|---|---|
| 2 | 0,100 | 0,036 |
| 5 | 0,176 | 0,063 |
| 10 | 0,215 | 0,078 |
| 20 | 0,248 | 0,089 |
Sumber: Hasil analisis, 2015
Berikut perbandingan antara hidrograf metode SCS- CN dan metode rasional, pada Gambar 7.

Gambar 7. Grafik Perbandingan Debit Puncak Metode SCS-CN dan Metode Rasional Sumber: Hasil analisis, 2015
Besar debit puncak dari setiap metode menunjukkan perbedaan secara tegas dengan selisih besar nilai debit puncak berkisar puluhan hingga ratusan liter per detik. Perbedaan hasil diakibatkan oleh parameter dan lokasi pengembangan masing-masing metode. Metode SCS-CN dikembangkan di Amerika Serikat yang secara regional beriklim subtropis hingga dingin. Parameter yang digunakan terdiri atas jenis tanah, vegetasi, tata guna lahan dengan CN yang menunjukkan potensi volume aliran permukaan untuk curah hujan tertentu. Sedangkan metode rasional digunakan untuk memperkirakan debit puncak yang ditimbulkan oleh hujan deras pada daerah tangkapan DAS. Artinya sumber air yang berpotensi menjadi debit puncak berasal dari sistem DAS. Metode ini mempertimbangkan waktu konsentrasi yaitu waktu yang dibutuhkan air yang mengalir di permukaan tanah dari tempat masukan air hingga terjauh sampai tempat keluarnya, metode ini cocok diterapkan pada DAS kecil (Triatmodjo, 2008).
Grafik debit puncak metode SCS-CN dan metode rasional menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan dimana nilai debit puncak yang diperoleh dengan metode SCS-CN lebih kecil dibandingkan dengan metode rasional. Hal ini disebabkan oleh penggunan rumus mononobe dalam hal penetapan nilai Intensitas curah hujan dan juga pengukuran langsung parameterparameter yang dibutuhkan di lapangan. Hasil perhitungan debit secara langsung diperoleh sebesar 0,0026 m³/s sedangkan berdasarkan perhitungan menggunakan metode SCS-CN dan metode rasional jauh lebih besar. Hal ini berarti bahwa daerah kajian akan mengalami banjir.
Hasil grafik menunjukan terjadi peningkatan debit puncak untuk periode ulang 2, 5, 10, dan 20 tahun. Hasil ini tidak mempertimbangkan perubahan penggunaan lahan. Peningkatan debit puncak bisa dikurangi dengan menambah daerah resapan air hujn dan mengatasi terjadinya pembangunan pemukiman dan perumahan yang mengakibatkan semakin kecilnya daerah resapan air. Untuk itu perlu dilakukan beberapa konsep yang digunakan untuk mengendalikan banjir genangan di perkotaan yang memiliki sedikit ruang terbuka. Berikut adalah peta Penggunaan lahan dan peta tekstur tanah DAS Belik, Daerah Istimewa Yogyakarta yang disajikan pada Gambar 8 dan Gambar 9.

Gambar 8. Peta Tekstur Tanah DAS Belik

Gambar 9. Peta Penggunaan Lahan DAS Belik
Berikut adalah peta rencana penerapan konsep zero run-off dan agroforestri pada DAS Belik yang disajikan pada Gambar 10.
Gambar 10. Peta Rencana Penerapan Konsep di DAS Belik
Tekstur tanah sangat berpengaruh terhadap tingkat infiltrasi tanah. Tekstur tanah pasiran memiliki sifat mudah meloloskan air, yang disebabkan oleh pori-pori tanah yang besar, sehingga saat diberikan hujan air akan mudah terinfiltrasi ke dalam tanah. Namun, ketika kemampuan tanah menyerap air terlampaui dan tanah jenuh, maka air akan bergerak secara horisontal menjadi aliran permukaan (run-off). Sebaliknya, jika tekstur tanah lempung maka kemampuan tanah dalam meloloskan air kecil sehingga run-off terjadi lebih besar daripada infiltrasi. Peranan penggunaan lahan dalam parameter terjadinya banjir berkaitan dengan luasan area yang digunakan diatas permukaan tanah dan peruntukkannya. Besar kecilnya infiltrasi sangat ditentukan oleh jenis penggunaan lahan. Jenis penggunaan lahan pada Sub DAS Belik merupakan hasil dari data penggunaan lahan RBI skala 1:25.000 tahun 2011.
Hasil dari klasifikasi penggunaan lahan (Gambar 9) antara lain permukiman, rumput, sawah irigasi, tegalan, kebun, gedung, semak atau belukar, dan air tawar. Hasil yang diperoleh bahwa untuk daerah hulu sub DAS Belik, banyak terdapat pemukiman dan topografinya lebih tinggi dari daerah hilir. Permukiman di daerah hulu yang cukup padat karena termasuk daerah perkotaan sehingga sering terjadi banjir jika curah hujan yang cukup tinggi dan terletak di kota Yogyakarta. Daerah tengah berupa permukiman dan sawah irigasi yang hampir seimbang. Daerah hilir lebih didominasi oleh sawah irigasi dan berada di kabupaten Bantul. Kasus banjir di Sub DAS Belik ini merupakan banjir yang terjadi di daerah hulu dan berada di daerah perkotaan. Untuk itu diperlukan rencana penanggulangan yang baik untuk mengurangi banjir di daerah hulu. Berdasarkan analisis bahwa peta rencana penerapan zero run off terbagi menjadi tiga zona. Zona untuk daerah hilir dapat digunakan penerapan sumur resapan, zona tengah dengan menerapkan PA, kolam resapan dan sumur resapan, sedangkan untuk zona hilir dapat menggunakan agroforestry sederhana.
Setelah melakukan kajian terhadap debit sungai di DAS Belik maka dibutuhkan analisis untuk penerapan suatu konsep yang bisa dilakukan di DAS Belik. Suripin (2004) menjelaskan bahwa
dalam perencanaan drainase, bagian air hujan yang menjadi perhatian adalah aliran permukaan surface run-off, sedangkan untuk pengendalian banjir tidak hanya aliran permukaan tetapi juga limpasan (run-off). Faktor-faktor meteorologi yang berpengaruh pada limpasan terutama adalah karakteristik hujan, seperti intensitas hujan, durasi hujan, dan distribusi curah hujan. Sedangkan karakteristik DTA yang berpengaruh diantaranya adalah luas dan bentuk DTA, topografi, dan tata guna lahan.
Konsep dasar sistem ini pada hakekatnya adalah memberi kesempatan pada air hujan untuk meresap ke dalam tanah dengan cara menampung air tersebut pada suatu sistem resapan. Diperlukan bangunan juga suatu sistem penampungan dan peresapan air hujan dalam proses pembangunan dan pengembangan lahan. Sistem penampungan dan peresapan air hujan merupakan suatu sistem drainase untuk mengurangi aliran permukaan akibat hujan. Beberapa sistem penampungan dan peresapan air hujan diantaranya adalah sumur resapan (berupa sumur resapan individu, kolam resapan dan parit berorak) atau lubang biopori (Ridhoatmaji, 2013). Konsep ideal suatu Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada dalam program P2KH (Program Pengembangan Kota Hijau) yang dicanangkan oleh Kementerian PU menyatakan bahwa komposisi yang tepat antara hardscape dan softscape adalah 30 : 70 (Gambar 11).
Konsep zero run off merupakan salah satu isu utama yakni suatu RTH mampu secara mandiri menyerap air buangan tanpa mengalirkannya ke luar site. Dengan persentase 30 : 70 diharapkan area-area softscape mampu menyerap air dengan efektif. Peningkatan efektifitas penyerapan air bisa dibantu dengan biopori dan sumur resapan. Di sisi lain hardscape-nya itu sendiri disarankan memakai material dengan zero run-off, artinya material yang secara mandiri mampu menyerap air tanpa mengalirkan ke area lain. Contoh material yang diharapkan mampu berfungsi sebagai material dengan zero run-off adalah seperti paving block dan grassblock.
Gambar 11. Hardscape dan softscape 30 : 70
Model simulasi zero runoff system dibuat berdasarkan analisis kesetimbangan air. Simulasi ZROS perlu dilakukan untuk mengetahui perubahan kadar air tanah di lokasi penelitian tanpa perlakuan penampungan dan peresapan air hujan (rorak dan saluran pengumpul). Parameter yang digunakan sebagai input yaitu aliran permukaan (Qr), curah hujan (P) dan evapotranspirasi (ETc). Perhitungan aliran permukaan menggunakan metode SCS Curve Number. Pada simulasi ini, penentuan nilai koefisien limpasan CN dihitung menggunakan sistem komposit. Lokasi penelitian memiliki lima jenis tutupan lahan yang berbeda dengan luas lahan yang berbeda pula. Dengan sistem komposit, nilai CN yang diperoleh lebih akurat dan representatif. Run-off dihitung secara harian dengan input berupa CN dan curah hujan (P). Syarat terjadinya run-off menurut metode SCS-CN yaitu curah hujan melebihi 20% dari nilai S (kondisi tutupan lahan berdasarkan nilai CN (Wirasembada, 2014).
Secara umum tiga komponen zero run-off yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 12.
Gambar 12. Komponen Zero run-off
Zero run-off merupakan salah-satu konsep dalam upaya mengendalikan banjir yang diakibatkan oleh air hujan dan run-off. Konsep zero run off sudah pernah diterapkan di DKI Jakarta dalam upaya mengendalikan banjir di daerah hilir DKI Jakarta. Untuk DAS Belik, kriteria sumur resapan yang direncanakan adalah sebagai berikut:
- 1. Setiap luas bangunan 50 m2 memiliki 1 sumur resapan dengan kedalaman 3 m dan dengan diameter 90 cm. Sumur resapan ini di disain untuk curah hujan 30 ml/jam dengan asumsi, ketika curah hujan kurang dari 30 ml/jam, maka air akan sepenuhnya masuk dan meresap ke dalam tanah sehingga tersimpan menjadi air tanah.
- 2. Sumur resapan dilengkapi dengan filter untuk mencegah pencemaran air tanah. Filter bisa berupa tanaman-tanaman organik.
- 3. Biopori baik untuk peresapan air atau mempercepat infiltrasi air, namun kurang cocok untuk mengendalikan banjir. Hal yang lebih efisien yaitu dengan membangun embung, waduk, atau situ. Pembangunan embung sudah pernah dilaksanakan dalam upaya mengendalikan banjir di Kota Yogyakarta.
- 4. Pembuatan kolam retensi di halaman yang masih terdapat tanah. Kolam retensi bisa berupa taman atau ledoan untuk jalur masuknya air ke dalam tanah
- 5. Membuat area resapan dengan agroforestri sederhana, dimana setiap rumah memiliki taman yang ditanami tanaman bertingkat sehingga akan membantu dalam upaya menahan laju aliran air permukaan.
Konstruksi sumur resapan dapat dilihat pada Gambar 13.
Gambar 13. Model sumur resapan berdasarkan analisis, 2015
Setiap 50 m2 bangunan memiliki1 sumur resapan. Sumur resapan bisa dilengkapi dengan filter yang berfungsi sebagai penyaring bahan pencemar yang berpotensi mencemari air tanah. Salah satu filter yaitu tanaman-tanaman yang bisa menyerap bahan pencemar dan batuan-batuan yang bisa menahan sampah dan bahan pencemar. Kedalaman sumur 3m (Kedalaman muka air tanah) dan efektivitas sumur resapan dengan diameter sumur 19 cm.
Agroforestri yaitu sistem pertanaman campuran antara tanaman semusim dengan tanaman tahunan berkayu (pohon), dalam suatu tapak yang sama (Suprayogi et. al, 2013). Penerapan agroforestri cocok dilakukan pada daerah yang tidak Memiliki cukup ruang untuk ditanami pohon atau ruang terbuka hijau. Prinsip dari agroforestri adalah menghailkan humus yang berasal dari tanaman sehingga menghasilkan tanah yang memiliki tingkat kesuburan yang baik. Tanah memiliki pori-pori yang baik sehingga membantu dalam proses infiltrasi air, sehingga dapat mengurangi run-off.
Penerapan konsep Zero Run off dan agroforestri di Sub DAS Belik dilakukan dengan melihat berdasarkan penggunaan lahan, jarak dengan sungai, dan kondisi luas daerah RTH
- 1. Penggunaan lahan permukiman padat tanpa RTH diterapkan Zero run-off dengan komponen PAH dan sumur resapan
- 2. Penggunaan lahan Permukiman dengan sedikit halaman di sekitar rumah menggunakan zero run-off dengan komponen PAH, sumur resapan, kolam resapan, dan kolam penampungan air hujan di bawah tanah
- 3. Penggunaan lahan pemukiman dengan halaman cukup luas diterapkan kolam sumur resapan, kolam konservasi, dan agroforestri sederhana
- 4. Pertanian dan perkebunan diterapkan agroforestri sederhana.
Agroforestri sederhana dapat membantu dalam mengurangi limpasan permukaan. Beberapa syarat penerapan konsep agroforestri:
| Metode | Peran atau fungsi | Syarat | Gambar |
|---|---|---|---|
| Agroforestri sederhana | Agroforestri yaitu sistem pertanaman campuran antara tanaman semusim dengan tanaman tahunan berkayu (pohon), dalam suatu tapak yang sama dan dapat dikombinasikan dengan kegiatan peternakan, atau perikanan. Menanam pohon secara tumpang sari dengan satu atau beberapa jenis tanaman semusim (karet, kelapa, cengkeh, jati, kaliandra). Jenis tanaman semusim (padi, jagung, palawija, sayur-mayur, pisang, dan kakao) Fungsi: 1. Memelihara dan mempertahankan kualitas air 2. Mengatur jumlah air dalam kawasan 3. Menyeimbangakan jumlah air dan sedimentasi dalam kawasan DAS (widianto et al., 2003) 4. Menjaga kemantapan dan kontinuitas ruang pori sehingga infiltrasi lebih cepat 5. Mempertahankan dan meningkatkan ketersediaan air dalam lapisan perakaran (Suprayogi et al, 2013) | 1.Lahan kritis atau sangat kritis 2. Areal di luar kawasan hutan 3. Penggunaan lahan semak, tegalan, atau tanah terbuka kosong 4. Kemiringan lereng >8% |
Upaya pembuatan komponen-komponen Zero run-off dan Agroforestri adalah salah satu bentuk mitigasi terhadap bencana banjir genangan yang lebih besar pada daerah sekitar kali Belik khususnya di Kota Yogyakarta. Upaya untuk mengendalikan dan mengurangi banjir di perkotaan tidak hanya dengan menggunakan konsep yang telah ada, namun upaya untuk mengurangi alih fungsi lahan menjadi lahan terbangun harus dikendalikan guna untuk melindungi ekosistem dan siklus hidrologi dalam sebuah DAS. Pembagian zonasi mempertimbangkan penggunaan lahan yang ada di daerah Sub DAS Belik dan mempertimbangkan konsep yang bisa diterapkan disana.
Kesimpulan
Penerapan konsep zero run-off dan agroforestry dipertimbangkan setelah pembuktian kajian debit banjir di DAS Belik. Penerapan konsep zero-run off yang direncanakan di sub DAS Belik yaitu dengan membangun sumur resapan dangkal. Sumur resapan dangkal berupa sumur resapan individu tidak dapat diterapkan di setiap rumah yang ada, melainkan hanya di beberapa rumah yang memiliki lahan pekarangan yang cukup luas. Untuk kolam resapan dapat dibangun di sepanjang saluran drainase utama. Sistem resapan lainnya yaitu berupa lubang resapan biopori yang dapat menjadi salah satu pilihan alternatif dalam mengurangi genangan karena konstruksinya yang sangat sederhana dan tidak memerlukan banyak biaya. Penerapan konsep zero-run off di Sub DAS Belik akan cukup efektif dalam upaya mengendalikan banjir di Kota Yogyakarta. Pengelolaan limpasan seharusnya tidak hanya dilakukan di daerah hilir aja, namun juga di daerah hulu. Dengan demikian penanggulangan banjir yang sering terjadi di daerah perkotaan Sub DAS Belik dapat lebih efektif.
