1. Home
  2. Archives
  3. Vol 2 (2017) Issue 1
  4. Articles

Analisis Efektivitas Zumba Dan Belly Dance Terhadap Vo2max, Indeks Massa Tubuh, Dan Persentase Lemak Tubuh

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak yang diberikan oleh zumba dan belly dance terhadap VO2max, Indeks Massa Tubuh, dan Persentase Lemak Tubuh. Populasi dalam penelitian ini adalah member aktif S Fitness Center Bandung, dengan total sampel 14 orang yang terbagi menjadi dua kelompok, 7 orang untuk kelompok zumba dan 7 orang untuk kelompok belly dance. Desain penelitian menggunakan One Group Prestest-Postest Design. Satu kelompok menggunakan eksperimen latihan zumba dan satu kelompok lain menggunakan eksperimen latihan belly dance. Penelitian dilakukan selama 12 minggu, dengan tiga kali latihan dalam seminggu. Data yang diolah pada penelitian ini adalah data pretest dan post-test untuk mengetahui seberapa besar peningkatan dari program penelitian yang telah dilaksanakan. Dari data yang telah diolah menghasilkan kesimpulan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan pada kelompok zumba dan belly dance terhadap VO2max VO2max (p < 0.05), untuk indeks massa tubuh pun terjadi penurunan yang signifikan baik di kelompok zumba dan belly dance VO2max (p < 0.05), dan terjadi penurunan juga pada persentase lemak tubuh untuk kelompok zumba dan belly dance VO2max (p < 0.05). Penulis menyimpulkan bahwa zumba dan belly dapat dijadikan metode latihan inti maupun selingan untuk meningkatkan VO2max, dan memperbaiki Indeks Massa Tubuh serta Persentase Lemak Tubuh.

Keywords

Pendahuluan

Aktifitas fisik merupakan sesuatu yang dapat berdampak pada kesehatan, semakin hari semakin banyak

masyarakat yang sedikit melakukan aktifitas fisik. Seiring dengan majunya teknologi semakin meminimalisir para pengguna teknologi untuk bergerak. Selain itu dengan kesibukan di dunia kerja membuat banyak yang aktifitas fisiknya diam di meja kerja. WHO mengungkapkan kurang aktifitas fisik menjadi salah satu penyebab kematian terbesar, setelah tekanan darah tinggi dan rokok [3], pernyataan tersebut mendorong berbagai pihak untuk meningkatkan derajat sehat dan kebugaran melalui olahraga. Di Inggris, pada tahun 2007 setelah pemerintah menerapkan kebijakan untuk menyediakan fasilitas dan promosi olahraga secara menyeluruh terlihat adanya perbaikan yang signifikan terhadap peningkatan kebugaran dan kesehatan [19]. Selain pemerintah, perusahaan asuransipun semakin giat untuk mempromosikan berbagai kegiatan olahraga [10]. Di Indonesia, riset serupa dlakukan pada tahun 2010 oleh Riset Kesehatan Dasar, menyatakan bahwa 21% masyarakat Indonesia terkena penyakit dan mengalami obesitas [17].

Dengan berbagai kegiatan yang digencarkan oleh WHO untuk meningkatkan derajat kebugaran, menunjukan bahwa kebugaran fisik seseorang sangat penting untuk menunjang kesehatan. Kebugaran fisik seseorang tidak dapat dilihat dari satu komponen, terdapat beberapa komponen di dalamnya. Komponen dasar dari kebugaran fisik adalah daya tahan kardiorespiratori, dimana ambilan oksigen maksimal atau VO2max menjadi standar emas untuk menilainya [13]. VO2max yang paling sering digunakan sebagai patokan kebugaran aerobik atau daya tahan kardiorespiratori [6]. VO2max merupakan volume oksigen maksimal yang dapat dikonsumsi seseorang dalam hitungan satu menit dan biasanya di relevansikan dengan massa tubuh. Karenanya, unit ukuran VO2max adalah ml/kg/menit.

Selain kardiorespiratori, komposisi tubuh pun menjadi salah satu penunjang kebugaran seseorang, karena komposisi tubuh yang baik dapat menghindarkan kita dari berbagai penyakit. Obesitas merupakan contoh dari tidak baik dan tidak seimbangnya komposisi tubuh, beberapa hasil penelitian mengungkapkan dengan bertambahnya orang obesitas semakin besar juga penderita penyakit jantung dan diabetes [4]. Persentase lemak salah satu faktor penyebab terjadinya obesitas, penderita obesitas pasti memiliki persentase lemak yang tinggi. Indeks Massa Tubuh menjadi salah satu patokan seseorang berada di kategori komposisi tubuh yang ideal, kurang (under weight), lebih (obesitas). Olahraga menjadi salah satu cara untuk memperbaiki komposisi tubuh yang kurang baik menjadi lebih ideal [5].

Zumba metode latihan yang sedang ramai di dunia penyedia jasa kebugaran, hal itu ditunjukan dengan ramainya kelas zumba di berbagai tempat penyedia jasa kebugaran. Zumba jenis olahraga yang sangat populer dan banyak digemari masyarakat luas, gerakannya menggembirakan, efektif, mudah diikuti, membakar banyak kalori. [16]. Dibarengi dengan alunan lagu yang terkini dan gerakannya yang cepat karena dibarengi dengan alunan lagu rata-rata 150 bpm membuat mayoritas penggemar zumba adalah anak muda. Beberapa manfaat dari zumba seperti perbaikan terhadap komposisi tubuh dan kebugaran fisik [5]. Selain itu latihan Zumba juga menggabungkan unsur kekuatan, keseimbangan, daya tahan, dan musik.[9].

Belly dance bisa menjadi salah satu metode latihan olahraga dengan menggunakan bantuan musik, berawal dari kebudayaan dan akhirnya kini menjadi populer di dunia jasa kebugaran. Banyak gerakan terfokus pada area perut dan pinggul membuat belly dance banyak digemari oleh wanita. Selain itu belly dance pun bentuk latihan yang mampu meningkatkan kondisi fisik, terlebih para peserta harus bergerakan cepat, bergoyang konstan di area perut, dan terus bergerak mengikuti alunan musik [1]. Belly dance pun

menjadi tarian yang mampu membakar kalori setara dengan berlari, berenang atau naik sepeda [12]. Beberapa peneliti juga mengungkapkan belly dance termasuk jenis tarian yang dapat mengurangi lemak dan memperbaiki indeks massa tubuh. [15].

Pentingnya VO2max yang menjadi salah satu barometer kebugaran, dan komposisi tubuh yang terdiri dari indeks massa tubuh, dan persentase lemak tubuh menjadi patokan ideal tidaknya tubuh seseorang. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, belum adanya perbandingan seberapa besar efektifitas zumba dan belly dance yang sedang populer terhadap beberapa faktor kebugaran seperti VO2max, indeks massa tubuh, dan persentase lemak tubuh. Dengan demikian diharapkan masyarakat luas dapat mengetahui perbandingan seberapa besar perbedaan efektifitas kedua jenis latihan tersebut.

Percobaan

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Eksperimen. Dan desain penelitian yang digunakan adalah One Group Pretest-Posttest Design. [8] Populasi dalam penelitian ini adalah member aktif S Fitness Center Bandung sebanyak 14 orang, kemudia dibagi menjadi dua kelompok, 7 orang untuk kelompok zumba dan 7 orang lagi untuk kelompok belly dance.

Langkah-langkah penelitian yang disusun sebagai berikut: a) Menetapkan populasi, b) Menetapkan sampel , c) Melakukan tes awal, d) Melakukan Treatment, e) Melakukan tes akhir, f) Pengolahan data dan analisis data, dan g) Menentukkan kesimpulan.

Adapun instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cooper test 2,4 km untuk tes VO2max, Bioelectrical Impedance Analysis untuk Indeks Massa Tubuh dan Persentase Lemak Tubuh.

Prosedur Penelitian

Seluruh sampel dinyatakan sehat menurut pemeriksaan dokter, kemudian sampel harus mengisi informed consent yang telah disediakan.

Cara pelaksanaan tes awal dan tes akhit untuk tes VO2max yaitu testee bersiap di garis start, setelah mendengar aba-aba tester berlari secepat-cepatnya sejauh 2,4 km. Lalu catatan waktu yang diraih dimasukan kedalam rumus cooper test 2,4 km. Untuk tes indeks massa tubuh dan persentase lemak tubuh, testee berdiri diatas alat Bioelectrical Impedance Analysis, kemudia testee harus memasukan data tinggi badan, usia dan jenis kelamin, setelah itu testee memegang gagang yang telah disediakan lalu tahan selama 10 detik, setelah itu alat akan menghasilkan

data berat badan, indeks massa tubuh, persentase lemak tubuh.

Setelah selesai melakukan tes awal, testee akan mendapatkan perlakuan sesuai kelompoknya masingmasing 3kali seminggu selama 12 minggu berturutturut. Setelah treatment selesai, seluruh testee akan menjalani tes akhir.. Setelah didapat data tes awal dan tes akhir akan dicari tahu sejauh mana signiikansi peningkatan VO2max, penurunan Indeks Massa Tubuh, dan penurunan Persentase Lemak Tubuh dengan menggunakan SPSS.

Hasil dan Pembahasan

Sebelum melakukan tes awal dan treatment, seluruh sampel dilakukan tes antropometri secara keseluruhan untuk melengkapi data yang diperlukan. Tabel 1 menunjukan antropometri dari seluruh subjek penelitian berdasarkan kuesioner dan hasil pengukuran fisik masing-masing individu untuk mengetahui variasi fisik yang ada pada sampel penelitian ini.

Tabel 1 Antropometri Sampel Penelitian

KategoriZumba
(n=7)
Belly Dance
(n=7)
Umur (tahun)23 ± 1.0723.14 ± 1.12
Tinggi Badan (cm)160.57±3.70156.86 ±2.10
Berat Badan (kg)58.57±5.0154.57 ±3.70
VO2max (ml/kg/menit)27±2.3428 ±2.97
Indeks Masa Tubuh22.39±1.7721.70±1.11
(kg/m2)
Persentase Lemak Tubuh26.20±2.8026.14 ±3.36
(%)

Dapat dilihat tabel 1 merupakan hasil pengukuran antropometri dari seluruh sampel penelitian. Rata-rata usia sampel zumba 23 ± 1.07 tahun dan rata-rata usia belly dance 23.14 ± 1.12. Rata-rata tinggi badan sampel penelitian zumba adalah 160.57±3.70 cm dengan berat badan rata-rata 58.57±5.01 kg, sedangkan rata-rata tinggi badan sampel penelitian belly dance adalah 156.86 ±2.10 cm dengan berat

badan rata-rata 54.57 ±3.7 kg. Rata-rata VO2max sampel zumba adalah 27±2.34 ml/kg/menit dimana nilai tersebut masuk kedalam kategori kurang, untuk rata-rata VO2max 28 ±2.97 ml/kg/menit dan nilai tersebut masuk kedalam kategori kurang. Untuk ratarata indeks massa tubuh kelompok zumba 22.39±1.77, rata-rata kelompok belly dance ada pada 21.70±1.11, nilai tersebut masuk dalam kategori normal. Dan ratarata persentase lemak tubuh kelompok zumba 26.20±2.80 %, rata-rata persentase lemak tubuh belly dance ada pada angka 26.14 ±3.36 %, nilai kedua kelompok tersebut masuk ke dalam kategori sedang (Healthy Range).

Pada awal penelitian ini setiap sampel dihitung seberapa besar denyut jantung dan seberapa besar kalori yang digunakan saat latihan zumba dan belly dance, pengambilan data menggunakan alat heart rate monitor Polar FT7. Hasil dari pemantauan denyut jantung dan kalori dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Denyut Jantung (detik) dan Kalori

Denyut
KelompokJantungKalori
Zumba159±3.14361 ±3.46
Belly Dance153±3.56357±3.37

Pada kelompok zumba rata-rata denyut jantung sampel mencapai 159±3.14 (bpm), sedangkan untuk kelompok belly dance rata-rata denyut jantung mencapai 153±3.56 (bpm). Untuk kelompok zumba mencapai 80% dari denyut jantung maksimal, sedangkan untuk kelompok belly dance mencapai 77% dari denyut jantung maksimal, maka kedua kelompok tersebut masuk dalam kategori olahraga kesehatan, seperti yang diungkapkan oleh Katch dan Mc Ardle yang ditulis oleh Harsono [8].

Setelah dilakukan tes awal, maka seluruh sampel mendapatkan perlakuan, kemudian tes akhir dan tes awal serta tes akhir akan menjadi acuan perbeaan yang terjadi setelah mendapatkan perlakuan. Berikut data untuk tes VO2max.

1

Gambar 1. Rata-rata Tes VO2max Zumba dan Belly Dance

3

Gambar 2. rata-rata Tes Indeks Massa Tubuh Zumba dan Belly Dance

1

Gambar 3. Rata-rata Tes Persentase Lemak Tubuh Zumba dan Belly Dance

Dari grafik diatas menunjukan terjadi peningkatan yang lebih efektif pada latihan zumba, yang tes awal 27±2,37 saat tes akhir menjadi 32±2,21 atau 19% peningkatan yang terjadi. Untuk belly dance terjadi peningkatan yang pada tes awal 28±2,97 menjadi 32±2,67 pada tes akhir, peningkatan yang terjadi 14%. Persentase peningkatan didapatkan dari selisih tes awal dan tes akhir dibagi tes awal.

Terjadinya peningkatan VO2max disebabkan karena latihan zumba dan belly dance adalah kategori latihan dengan intensitas latihan yang tinggi (70 - 89% HRmax), zumba 80% dari denyut jantung maksimal dan belly dance 77% dari denyut jantung maksimal. Latihan untuk meningkatkan kapasitas VO2max dengan latihan 64 – 94% dari denyut jantung maksimal [13]. Menurut Antoni (2007) intensitas terbagi menjadi 4 bagian, yaitu: sangat tinggi (>90% HRmax), tinggi (70 - 89% HRmax), sedang (55 -69% HRmax), dan rendah (35 - 54% HRmax). Kemudian, latihan yang dilakukan 3 kali seminggu selama 12 minggu sejalan dengan penelitian sebelumnya tentang jumlah intensitas latihan yang mampu meningkatkan VO2max [7]. Peningkatan yang lebih besar terjadi pada kelompok zumba disebabkan karena rata-rata denyut jantung yang terjadi selama latihan lebih tinggi pada kelompok zumba dibandingkan dengan kelompok belly dance, hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan pada zumba dan belly dance yang menunjukan peningkatan lebih banyak terhadap

kelompok yang menghasilkan denyut jantung lebih besar [2].

Telah dilakukan penelitian tentang zumba yang menggambarkan pengaruh terhadap VO2max, tetapi belum ada yang meneliti perbandingan efektifitas zumba dan belly dance terhadap VO2max. Selanjutnya data dan hasil dari tes Indeks Massa Tubuh dijelaskan pada tabel 4.

Dari grafik diatas menunjukan terjadi penurunan yang lebih efektif pada latihan zumba, yang tes awal 22,39±1,77 saat tes akhir menjadi 20,87±1,31 atau - 7% peningkatan yang terjadi. Untuk belly dance terjadi penurunan yang pada tes awal 21,7±1,11 menjadi 21,11±1,19 pada tes akhir, peningkatan yang terjadi -3%. Persentase peningkatan didapatkan dari selisih tes awal dan tes akhir dibagi tes awal.

Terjadinya penurunan indeks massa tubuh disebabkan karena latihan zumba dan belly dance adalah kategori latihan dengan intensitas latihan yang tinggi (70 - 89% HRmax), zumba 80% dari denyut jantung maksimal dan belly dance 77% dari denyut jantung maksimal. Latihan yang memakan waktu hingga 50 menit ini menghabiskan kalori rata-rata 361 untuk kelompok zumba dan 357 untuk kelompok belly dance. Pengeluaran kalori dan denyut jantung yang besar membuat penurunan indeks massa tubuh, sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Krustrup, Jackman, Brekke, dan Holtermann (2013)

yang menyatakan pengeluaran kalori yang besar dan intensitas latihan satu minggu tiga kali membuat penurunan terhadap indeks massa tubuh [14]. Peningkatan yang lebih besar terjadi pada kelompok zumba disebabkan karena rata-rata denyut jantung yang terjadi selama latihan lebih tinggi pada kelompok zumba dibandingkan dengan kelompok belly dance, hal ini sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan menunjukan penurunan lebih banyak terhadap kelompok yang menghasilkan denyut jantung dan kalori yang lebih besar[2].

Telah dilakukan penelitian tentang zumba serta belly dance yang menggambarkan pengaruh terhadap indeks massa tubuh, tetapi belum ada yang meneliti perbandingan efektifitas zumba dan belly dance terhadap indeks massa tubuh.

Kemudian data yang terakhir tentang Persentase Lemak Tubuh, yang akan dijelaskan pada Gambar3

Dari grafik diatas menunjukan terjadi penurunan yang lebih efektif pada latihan zumba, yang tes awal 26,2±2,80 % saat tes akhir menjadi 23,94±1,98 % atau -10% peningkatan yang terjadi. Untuk belly dance terjadi penurunan yang pada tes awal 26,14±3,36 % menjadi 23,67±2,54 % pada tes akhir, peningkatan yang terjadi -9%. Persentase peningkatan didapatkan dari selisih tes awal dan tes akhir dibagi tes awal.

Tidak jauh berbeda dengan indeks massa tubuh, terjadinya penurunan persentase lemak tubuh disebabkan karena latihan zumba dan belly dance adalah kategori latihan dengan intensitas latihan yang tinggi (70 - 89% HRmax), zumba 80% dari denyut jantung maksimal dan belly dance 77% dari denyut jantung maksimal. Latihan yang memakan waktu hingga 50 menit ini menghabiskan kalori rata-rata 361 untuk kelompok zumba dan 357 untuk kelompok belly dance. Perbedaan hasil lebih baik terjadi pada persentase lemak tubuh dibandingkan dengan indeks massa tubuh karena latihan zumba merupakan gabungan dari latihan kekuatan, daya tahan dan kelincahan yang dapat memberikan efek berkurangnya lemak tubuh dan memperkuat otot, sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Hagberg, Jenkis dan Spangenburg [9]. Pengeluaran kalori dan denyut jantung yang besar membuat penurunan indeks massa tubuh, sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Krustrup, Jackman, Brekke, dan Holtermann (2013) yang menyatakan pengeluaran kalori yang besar dan intensitas latihan satu minggu tiga kali membuat penurunan terhadap indeks massa tubuh [14]. Peningkatan yang lebih

besar terjadi pada kelompok zumba disebabkan karena rata-rata denyut jantung yang terjadi selama latihan lebih tinggi pada kelompok zumba dibandingkan dengan kelompok belly dance, hal ini sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan menunjukan penurunan lebih banyak terhadap kelompok yang menghasilkan denyut jantung dan kalori yang lebih besar [2].

Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis skor dari latihan zumba dan belly dance terhadap VO2max, Indeks Massa Tubuh, dan Persentase Lemak Tubuh, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut:

  • 1. Terjadi peningkatan VO2mx yang signifikan terhadap kelompok zumba 17%, dan kelompok belly dance 14%.
  • 2. Terjadi penurunan Indeks Massa Tubuh yang signifikan terhadap kelompok zumba -7% dan kelompok belly dance -4%.
  • 3. Terjadi penurunan Persentase Lemak Tubuh yang signifikan terhadap kelompok zumba -10% dan kelompok belly dance - 9%.
  • 4. Zumba dan belly dance bisa dijadikan variasi latihan untuk meningkatkan VO2max, Indeks Massa Tubuh, dan Persentase Lemak Tubuh.

Untuk penelitian selanjutnya disarankan adanya kontrol yang lebih ketat terhadap asupan makanan serta minuman yang dikonsumsi oleh sampel, serta penentuan jumlah sampel yang lebih banyak.

Pustaka

  • 1. Agarwal, Abhisbek "Complete Body Fitness". Medecine and Science in Sport, 2011.
  • 2. Barene, Krustrup, Jackman. Do Soccer and Zumba exercise improve fitness and indicators of health among female hospital employess? A 12-week RCT: European Jurnal of Sport Science, 2013
  • 3. Bauman A, Craig CL. The place of physical acticity in the WHO Global Strategy on Diet and Physical Acticity: American Collage of Sport Medicine. 2005.
  • 4. Blair, S. N. Is Physical Activity or Physical Fitness more Important in Definiting Health Benefit. Med Sci Sport Exercise, 33, 379-399, 2001.
  • 5. Donath, Ralf Roth. The effect of zumba training on cardiovascular and neuromuscular function in female collage student: European Jurnal of Sport Science. 2015
  • 6. Fernhall B, Millar AL, Tymeson GT. Maximal exercise testing of mentally retarded

  • adolescents and adult: Arch Phys Med Rehabil; 71:1065-1068. 1990.
  • 7. George P. Nassis, Aerobic exercise training improves insulin sensitivity without changes in body weight, body fat, adiponectin, and inflammatory markers n overweight and obesse girls. 2005
  • 8. Harsono, Perencanaan Program Latihan, Edisi Kedua, Bandung. 2004
  • 9. Hegberg, J. M Jenkins. Exercise Training Genetic and Type 2 Diabetes Related, 205, 456- 471. 2012
  • 10. Hill. J. O. Obesty Etiology in Modern Nutition in Health and Disease. USA. 2005
  • 11. Hyerang Kim. Metabolic Responses to High Protein Diet in Korean Elite Body Builders with High-Intensity Resistence Exercise. 2011
  • 12. Jones, Peja. Moving and Shaking: The Benefit of Zumba.
  • 13. Kenney, WL., editor. ACSM's Guidelines for Exercise Testing and Prescription. 6. Baltimore

  • (MD): American College of Sport Medicine;p.73. 1995.
  • 14. Kyung Do Kim, Effect of Belly dance on Body Composition: Journal of Korea. 2015
  • 15. Lee SJ. The Effect of Belly Dance Exercise on Body Composition, Health Fitness an Metabolic. 2011.
  • 16. Leuttgen M, Foster C, Doberstein S, Mikat R. Zumba is the "fitness-party" a good workout. 2012.
  • 17. Riset Kesehatan Dasar, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2013.
  • 18. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta, 2013.
  • 19. Warburton DE, Nicol CW, Bredin SS. Health benefit of physical activity: European Jurnal of Sport Science. 2010.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
35th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

Physics 0.28
level 0

Institution Network

References

  1. Agarwal, Abhisbek "Complete Body Fitness" . Medecine and Science in Sport, 2011.
  2. Barene, Krustrup, Jackman. Do Soccer and Zumba exercise improve fitness and indicators of health among female hospital employess? A 12-week RCT: European Jurnal of Sport
  3. Science, 2013
  4. Bauman A, Craig CL. The place of physical acticity in the WHO Global Strategy on Diet and Physical Acticity: American Collage of
  5. Sport Medicine. 2005.
  6. Blair, S. N. Is Physical Activity or Physical Fitness more Important in Definiting Health Benefit. Med Sci Sport Exercise, 33, 379-399, 2001.
  7. Donath, Ralf Roth. The effect of zumba training on cardiovascular and neuromuscular function in female collage student: European Jurnal of Sport Science. 2015
  8. Fernhall B, Millar AL, Tymeson GT. Maximal exercise testing of mentally retardedadolescents and adult: Arch Phys Med Rehabil;
  9. :1065-1068. 1990.
  10. George P. Nassis, Aerobic exercise training improves insulin sensitivity without changes in body weight, body fat, adiponectin, and inflammatory markers n overweight and obesse girls. 2005
  11. Harsono, Perencanaan Program Latihan, Edisi Kedua, Bandung. 2004
  12. Hegberg, J. M Jenkins. Exercise Training Genetic and Type 2 Diabetes Related, 205, 456- 471. 2012
  13. Hill. J. O. Obesty Etiology in Modern Nutition in Health and Disease. USA. 2005
  14. Hyerang Kim. Metabolic Responses to High Protein Diet in Korean Elite Body Builders with High-Intensity Resistence Exercise. 2011
  15. Jones, Peja. Moving and Shaking: The Benefit of Zumba.
  16. Kenney, WL., editor. ACSM
  17. Medicine;p.73. 1995.
  18. Kyung Do Kim, Effect of Belly dance on Body Composition: Journal of Korea. 2015
  19. Lee SJ. The Effect of Belly Dance Exercise on Body Composition, Health Fitness an Metabolic. 2011.
  20. Leuttgen M, Foster C, Doberstein S, Mikat R. Zumba is the "fitness-party" a good workout. 2012.
  21. Riset Kesehatan Dasar, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2013.
  22. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta, 2013.
  23. Warburton DE, Nicol CW, Bredin SS. Health benefit of physical activity: European Jurnal of Sport Science. 2010